"Hyung, boleh kupinjam ponselmu?" tanyaku pada Yesung hyung yang barusan dipanggil oleh Jung Il Woo, manager kami, untuk melakukan pemotretan khusus dirinya sendiri di album terbaru kami. Yesung hyung langsung memberikan ponselnya begitu saja padaku. Padahal biasanya, dia paling sulit untuk dipinjami barangnya.

Aku tersenyum penuh arti, lalu langsung mengobrak-abrik kontak ponsel laki-laki berjari pendek itu. Mana namamu Sungmin? Aha! Ini dia. Secepat mungkin kusalin nomornya sebelum ponsel ini kembali pada pemilik sahnya.

"Heh, Evil Magnae, kau tidak mengapa-apakan ponselku, kan? Nggak dibajak, kan?" tanya Yesung hyung sambil merebut ponsel itu kembali. Lalu mengecek semua jejaring sosial yang masih dalam keadaan login. Ah… kenapa tidak sekalian saja kubajak tadi? Kan jarang-jarang boleh memegang barang Yesung hyung.

"Nggak. Aku kan anak baik," kataku meniru Tobi dalam anime Naruto sambil menunjukkan cengiran lima jari.

Yesung hyung mengangguk-angguk setelah mengecek semua jejaring sosialnya masih belum tersentuh magnae-nya ini. Dia lalu menepuk-nepuk kepalaku.

"Ya! Kenapa kalian semua senang sekali menepuk-nepuk kepalaku ini, hah?" tanyaku emosi. Bukan cuma Yesung hyung saja, tapi Donghae hyung, dan semuanya sampai manager kami Si Jung Il Woo juga gemar sekali memegang-megang kepalaku. Padahal aku sendiri tidak suka dibegitukan.

"Habis rambutmu membal seperti kapas," jawab Leeteuk hyung disambut tawa yang lainnya.

"Kepalaku bukan bantal!" teriakku lalu berjalan meninggalkan studio foto. Kuabaikan saja panggilan mereka dan terus berjalan tanpa tentu arah. Rasa kesalku pada mereka telah melebihi ubun-ubun yang selalu mereka sentuh ini.

Aku berjalan keluar. Ke dalam lingkungan masyarakat. Tanpa penyamaran sedikitpun. Di musim semi ini, yang kugunakan hanya kemeja hitam polos dan celana panjang, juga sneakers. Bisa dibilang, bajuku yang serba hitam ini seperti orang yang ingin ke pemakaman.

Beberapa wanita saling berbisik di belakangku. Aku akan menanggapinya dengan masa bodo kalau tidak mendengar teriakan itu. "Ya! Bukannya itu Cho Kyuhyun? Member Super Junior itu?" seru seorang perempuan.

Aku menoleh ke bekalang. Segerombolan wanita saling berbisik dengan wajah sumringah. Aku hanya nyengir tertahan, lalu berlari secepat mungkin sebelum mereka menangkapku dengan tatapan penuh nafsu mereka dan kuku-kuku panjang hasil perawatan yang lancip seperti singa.

"AAAAAAAAAA!"

.

.

Paparazzi © Kazuma B'tomat

Warning : KyuMin GS

Kazuma House Production present…

.

.

"Eonni, apa kau tidak ada libur sehari saja, eh?" tanya Ryeowook padaku. "Padahal ini hari Sabtu." Dia lalu memasukkan lauk lagi ke dalam mulutnya.

Aku hanya makan sedikit dan sedang bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Aku menoleh padanya. "Kalau aku tidak bekerja, bagaimana kita bisa membayar sewa rumah ini? Lagipula aku libur hari Senin, kan?"

Aku, Lee Sungmin, lebih tua lima menit dari Lee Ryeowook. Sudah tiga tahu aku, Ryeowook, dan Kibum tinggal di rumah mungil ini. Sejak itu pula, kami membanting tulang untuk menutupi biaya sewa rumah ini. Oke, sebenarnya hanya aku dan adikku yang banting tulang.

Kibum bisa saja meminta appa-nya yang orang China itu mengirim uang banyak, atau bahkan dia bisa tinggal di rumahnya yang mewah. Tapi gadis berwajah dingin itu malah lebih memilih untuk tinggal bersama kami dan bekerja freelance menjadi penerjemah komik. Entah belajar dari mana, gadis yang kukenal dari jaman SMP itu bisa menguasai empat bahasa secara fasih.

"Lebih baik kau berhenti saja dari pekerjaan itu," kata Kibum yang mulai berbicara. "Cari pekerjaan lain yang punya waktu istirahat. Badanmu lama-lama hancur juga kalau diperas untuk kerja paksa dengan boss-mu yang galak itu. Siapa namanya? Hee… Hee…" Kibum mengingat-ingat.

"Heechul," aku memberi tahunya. Kadang Kibum yang dingin bisa berubah cerewet kalau menyangkut tentang kesehatan kami. Aku jadi berpikir, seharusnya dia masuk jurusan kedokteran saja, atau bahasa, daripada masuk design. "Dia ajumma yang baik, kok. Hanya kadang galaknya keterlaluan." Aku tertawa sendiri mengingat bossku yang amat mencintai kucingnya, Heebum. "Ne, aku berangkat."

"Apa perlu kami antar atau jemput?" tanya Ryeowook yang mengkhawatirkan aku yang mengidap anemia.

Aku menggeleng. "Ani, aku bisa sendiri. Annyeong…."

Keluar dari rumah, aku menyusuri jalan menurun depan rumahku. Tinggal berjalan lurus, lalu berbelok sedikit, aku akan menemukan halte bus yang akan mengantarku sampai di depan café tempatku bekerja. Namanya Café Beans, dan lebih banyak didominasi oleh hal-hal berbau kopi, karena selain mencintai Heebum, bossku itu juga seorang penggila kopi akut. Dia bisa minum lebih dari lima cangkir kopi setiap harinya.

"Annyeong haseyo!" sapaku pada teman-teman sepekerjaanku yang sudah datang dan sedang membersikan café. Mereka membalas sapaanku, ada juga yang hanya mengangguk sekilas, lalu kembali pada pekerjaannya. Aku berjalan menuju ruang khusus staff dan menaruh tasku di dalam loker milikku, lalu memakai topi merah muda yang menjadi bagian dari seragam kami. Aaa… aku cinta merah muda.

Pekerjaan pertamaku hari ini adalah membuang sekantung besar sampah yang dibiarkan terongok begitu saja di sudut dapur. Tanpa rasa jijik, aku membawanya keluar melalui pintu belakang café, dan membuangnya pada tempat sampah besar yang berada di samping café yang memiliki gang kecil.

Tiba-tiba, seorang menabrakku dan membekap mulutku dari belakang. "HMPH!" Aku mencoba melihatnya, tapi tidak bisa.

Dia berdesis dengan napas yang tidak teratur. "Diamlah..." Tangannya yang lain merengkuh pinggangku.

Tuhan, apa ini akhir hidupku?

.

.

.

.

.

Setelah cukup lama dan dirasa aman, kulepaskan gadis yang sejak tadi kubekap mulutnya. Aku masih menoleh ke belakang, melihat jalan tikus yang kujadikan tempat pelarianku dari para fansku yang menamakan diri Sparkyu. Aku menoleh menatap gadis yang kubekap itu. Aku kaget. Gadis bertopi merah muda dan rambut lurus sepunggung yang dibiarkan tergerai ini adalah Sungmin!

"Aa… itu, maaf. Bukan maksudku bertindak seperti itu," kataku sambil terus mengatur napas yang masih ngos-ngosan. Aku menunduk dengan tangan yang menopang berat badanku pada lutut.

Mata foxy gadis berambut hitam di depanku ini seakan marah, meski tidak berhasil dan malah terlihat lucu. "Apa maksudmu melakukan itu? Pakai bekap-bekap orang segala, pula!"

"Mian… Aku dikejar gadis-gadis itu." Aku menunjuk jalan di belakangku yang sepi. Hanya ada kami berdua di gang ini.

Sungmin mengerjapkan matanya berkali-kali, menatap wajahku. Seketika ekspresi yang berusaha marah tadi berubah menjadi ekspresi kelinci lucu. "Memangnya kau siapa sampai-sampai mereka mengejar-ngejarmu hingga di sini?" tanyanya polos.

Aku melongo. "Ha? Kau tidak mengenalku?" Dia mengangguk masih dengan wajah innocent. "Aku Kyuhyun, anggota boyband Super Junior itu!" kataku membeberkan identitasku yang sebenarnya. Dan kalau Il Woo ajumma, managerku, tahu tentang hal ini, maka habislah aku di tangannya.

Sungmin masih mengerjap-ngerjapkan matanya. "Aku tidak tahu." Dia memasang pose berpikir, lalu tersenyum tiba-tiba seakan mendapat ilham. "Oh! Boyband yang satu personilnya suka pamer badan six pack kalau lagi tampil itu ya?" tanyanya.

Six pack? Aku memutar otak.

"Maksudmu Choi Siwon?" tanyaku karena setahuku hanya Siwon hyung yang suka memakai baju terbuka bila sedang perform.

Dia malah menggedikkan bahu. "Entahlah. Aku tidak hafal nama-nama mereka," jawabnya yang lagi-lagi ingin membuatku tertawa. Padahal adiknya, Ryeowook, itu pacar Yesung hyung yang adalah member Super Junior juga. Bagaimana bisa ia tidak ingat?

"Ah! Sebentar!" perintahnya, lalu buru-buru masuk ke bangunan ruko di samping kiriku dengan melalui pintu hijau yang terbuka. Begitu kembali, dia membawa segelas air putih dan menyodorkannya padaku. "Ini, minumlah."

Lagi-lagi aku melongo karenanya. Bisa-bisanya dia langsung baik padaku, padahal dia bilang sendiri kalau dia tidak mengenalku, dan tadi memasang tampang sok garang. Tidak kusia-siakan hal ini dan menerimanya lalu menandaskannya dalam beberapa kali tegukkan. "Terima kasih," kataku sambil menyodorkan kembali gelas yang tadi kupakai minum.

"Sama-sama." Dia tersenyum. Oh Tuhan… lama-lama umat-Mu yang ganteng-imut-imut ini bisa benar-benar meleleh dalam arti sebenarnya kalau terus-terusan melihat wajah innocent dan senyum manis dari gadis di depanku ini. "Kau mau kembali?"

Ah, hampir saja aku lupa dengan kenyataan yang satu itu. Akupun mengangguk. Tiba-tiba dia memakaikanku topi merah mudanya. Aku menunduk menatapnya yang lebih pedek dariku. Kira-kira hanya sehidungku. Lagi-lagi dia tersenyum.

"Kenapa?" Hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulutku dari sekian banyak pertanyaan yang bisa kuajukan pada gadis manis ini.

"Supaya kau tidak dikejar-kejar lagi," jawabnya. Aku mengangguk kaku. Dia menunduk sambil memainkan jarinya. "Kalau begitu, aku kembali bekerja ya, Kyuhyun-ssi?" pamitnya lalu buru-buru masuk ke dalam. Aku masih memperhatikannya sampai dia menutup pintu hijau itu.

Aku tertawa pelan. Lalu melihat topi merah muda yang ada di atas kepalaku ini, dan kembali memakainya. Aku berjalan menuju jalan raya yang ada di ujung gang ini sambil memegangi dadaku yang berdetak berkali-kali lebih cepat, bukan karena habis berlari. Tapi karena seorang Lee Sungmin.

Hei, Lee Sungmin, jika kau kelinci, maka akulah serigalanya.

.

.

.

.

.

"Aku pulang!" seru Eonni yang baru sampai, membuatku kembali terbangun, padahal aku baru mau tidur. Aku bangkit dari kasurku dan menghampiri dia di ruang tamu yang berhadapan dengan dapur.

Aku melihat pada jam. Jam sebelas malam, dan dia baru pulang. Seharusnya dari dulu sudah kularang dia untuk bekerja di café itu. Boss-nya selalu menyuruhnya untuk bekerja dari pagi sampai malam kalau sedang malam minggu seperti ini. Katanya, wajah Sungmin banyak menarik pengunjung. Heh, memangnya Eonni-ku ini apaa?

"Lagi-lagi jam segini baru pulang," kataku sambil duduk bersila di dekat meja makan. Eonni melangkah menuju kamar mandi sambil mengambil handuk. "Eonni bisa rematik kalau mandi air dingin setiap malam," aku memeringatkan dia. Tapi dia malah tertawa saja.

"Kau jadi terlihat seperti Kibum, Wookie," katanya.

Aku menggelembungkan pipiku, bisa-bisanya aku disamakan denam Kibum. "Aku bukan manusia berwajah datar seperti dia, Eonni!"

"Siapa yang kau maksud 'manusia berwajah datar' itu, Wookie?" tanya sebuah suara lembut, namun dapat membuat bulu kudukku berdiri. Siapa lagi kalau bukan Kim Kibum yang baru pulang. Kedua tangannya dipenuhi plastik-plastik belanjaan. Ke mana saja gadis ini?

Eonni menunda niatnya untuk mandi, dan malah mendekati aku dan Kibum yang duduk di dekat meja makan. "Memangnya seharian ini kau kemana saja, Kibum?" tanya Eonni sambil mengintip isi plastik-plastik itu, sama seperti yang aku lakukan sekarang. Isinya kurang lebih sama dengan belanjaan perempuan seusia kami. Hanya saja dua plastik di antaranya berisi bahan makanan dari supermarket.

Aku menyerngit. "Untuk apa kau membeli roll rambut, alat makeup, dan kuteks sebanyak ini?" tanyaku sambil mengeluarkan satu persatu barang-barang kecantikan yang ada dalam sebuah tas kertas yang berukuran cukup besar.

Kibum tidak menjawab, malah menunduk. Tapi aku sempat melihat semburat kemerahan di wajah putih tanpa makeupnya itu. Dia meremas-remas ujung jaket putih yang masih dia pakai. "Kibum…" panggilku.

"I… itu…" Dia diam sesaat. "A-aku hanya mau seperti perempuan lainnya," katanya lirih.

Seketika suasana di sekeliling kami menjadi hening. Eonni duluanlah yang membuka pembicaraan dengan senyum jahil di wajahnya. Dia menyenggol pundak Kibum. "Kau tidak sedang menyukai seseorang, kan? Kibum?" tanya Eonni masih dengan cengiran jahil.

Aku terbelalak dan langsung mendekati Kibum yang sedikit memundurkan tubuhnya dariku. "Kau menyukai seseorang? Siapa? Kenapa tidak pernah bilang?" cecarku. Jarang-jarang, bahkan tidak pernah, aku mendengar kalau Kibum, manusia yang nyaris tanpa ekspresi itu menyukai seseorang.

Wajah Kibum semakin merah. "Itu… Dia…"

To Be Continue…

1.730 words

Ah… akhirnya saya bisa update tiap hari seperti fic Shadow dulu. Rasanya kaya jatuh cinta lagi sama FFn.

Terima kasih untuk syubidubidu, Hyugi Lee, nahanakyu, KyuLoveMin, lee min young. Ini udah update.

Dan, sekalipun saya bukan ELF, tapi saya ini Clouds dan Sparkyu. Kok bisa? Bisalah! Saya gitu. Hahahaha…

Finished at:

Tuesday, 19 June 2012

00.48 A.M.

Published at:

Tuesday, 19 June 2012

11.00 A.M.

Paparazzi © Kazuma House Production ® 2012