chapter duaaaaa.
:D
mau jawab review dulu...
dilia shiraishi :
hheu. iyah, jadi multichap...
wah! fans Sai bertambah!
XP
hhaa. di fic ini, sasusaku OOC banget deh...
siap siap syok ajaa.
;p
lil-ecchan : ini naruhina-nya...
waaw juga..
Inuzumaki Helen :
oh no oh yes...!
XP
hha. betul...!
XD
pleiboi manis manja tapii (apa siiih??)
hmm, narget?? liat aja yaa.
:P
emang tuh, saskay suka ga ngontrol kalo kelebihan duit.
T3T
oraits..., ino update-nya...
Kosuke Gege : iya..., ino fic terakhir Yvne...
thanks...
5 sekawan : ah! kalo disebutin nama-nama mantannya, bisa 12 chapter nih!
thanks...
-lebaaaai-
oke! fic ini emang ada ShikaTema-nya... (lumayan banyak juga, tapi ga sekarang...)
hho, OOC beraaat yaa??
:P
ini naruhina dan update-nya...
Faika Araifa : ini update-nya...
YESS! XDD
wah..., thank you...
.momoshiro :
ha? emang selama ini ga 'indonesia'?? :S
hho, iyaa. dia player...
ankokakashizu-nya belum dulu ya...
segini udah 'soon' belum...?
:)
Dhieenn Glocyanne : oke oke.
iya..., dasor Sai tuh...
ini udah cepet belum...?
Yuuichi93 : samaa. sasu yang kaya gini baru namanya fanFICTION...
hheu. iyaa SaiIno...
ahahaa.
ayoo!
XD
kawaii-haruna : iya..., ini fic terakhir...
emang tuh...!
ahahaa.
ini update-nya...
Heri the Weird : hho. syok yaa??
seru?? aminn...
:P
I'm so sorry... tapi akatsuki ga muncul di sini...
Dx
ini update-nya...
kakkoii-chan : hubungan ShikaIno...??
aduh, jangan sedih...
kan masih banyak author yang lain (yang lebih hebat pastinya...)
hhe. baca aja terus, yaa.
:P
kaya'nya ke depannya ini fic banyak mengadaptasi serial/film yang Yvne tau deh...
such as; Mars, GG (teteup...), Sassy Girl, They Kiss, They Kiss again,
dan beberapa dari kehidupan remaja Indo sehari-hari... (apa coba?? T-T)
standard disclaimer applied
WARNING
OOCness,
fluff,
teen stuff,
dan kekurangan lain yang susah ditulis di sini...
MULAIIII !
XD
A Naruto fanfiction ; 2008 by Yvne F.S. Devolnueht
"L.O.V.E"
Romance/Humor
Main pairing : SaiInoShika
(L)
(O)
(V)
(E)
Love is like a pair of socks; you must have two of them, and it have to be match. – anonymous
Ino's POV
Ya Tuhan, saya tau saya banyak dosa dan kesalahan.
Dan saya mengerti, Engkau berhak menghukum saya atas kesalahan itu.
Tapi, Tuhan,
KENAPA HARUS SEKARANG???!!
Oke.
Oke oke oke.
Stay cool, calm, and confidence, Ino...
"Sori..."
Gue ngeliat sosok cowo dengan seragam item-vest putih PLUS senyum charming.
Ibaratnya cingcau, gue mungkin udah termasuk yang paling ancur saat ini.
"Ma...kanya!!! Jangan nglaksonin sembarangan!! Budek ni kuping...!", gue berusaha terlihat ngambek.
"Kan aku udah bilang..., sori...", si manusia penyebab alergi itu ngomong lagi.
Yuck. Sai dan segala atribut yang udah bikin idung gue gatel. Dengan mulut yang gue usahain tetep seksoy meski manyun, gue jalan ke bangku tunggu.
And guess what?
Si manusia penyebab alergi turun dari mobilnya.
Normal POV
Gadis itu menyibukkan diri dengan memasang earphone iPod ke telinganya. Jelas ia sedang tidak ingin bicara.
Tapi toh si pemuda duduk di sebelahnya juga.
"Sendirian aja?", si pemuda – atau singkatnya Sai—bertanya pada Yamanaka Ino.
Si gadis tidak bereaksi.
"Iya, ya. Ga ada orang laen kok.", Sai menjawab sendiri pertanyaannya. "Rumahnya di mana??"
Ino tetap diam. Sesekali kepalanya mengangguk pelan mengikuti alunan musik yang hanya ia yang bisa dengar.
Sai mencabut salah satu earphone Ino, "Woi!!"
Ino – berbalik cepat—menatapnya dengan marah, "Apaan sih?!"
"Aku tanya..., rumah kamu di mana...????", Sai masih terlihat tenang.
Ino terlihat akan membentak, tapi ia menahan. Setelah menghela nafas, ia menjawab dengan 'senyuman'.
"Maaf, ya... Tapi gue ga biasa ngasih tau alamat aku ke cowo ga jelas yang ga gue kenal...", di akhirnya, Ino berpaling. Bergeser menjauhi Sai yang tersenyum—merasa tertantang.
"Kalo gitu kenalan dulu dong...?", Sai mendekatkan diri lagi. "Aku Sai... Kamu Ino ya...?"
Ino menatapnya sebentar sebelum menjawab dingin, "Iya."
"Kamu pulang ke arah mana...?", Sai bertanya cepat.
Helaan nafas lainnya, "Bukan urusan lo."
"Loh? Ya urusan aku dong..., masa cewe cantik aku biarin pulang sendiri..."
(A/N : HHHOOOOOEEEEEKKKK!!!!! INI DISURUH TEMEN AKUUUU~! DDDXX)
Ino memutar matanya, "Ga nyambung."
Sai tertawa kecil, merasa Ino sudah tidak bisa membalas kata-katanya.
Tepat ketika Sai akan bicara lagi, satu suara membuat Ino mendongak.
"Ino...??"
"Naruto????"
Ino's POV
THANKS GOD ADA SI NARUTOOOO!!!!!
"Naruto????"
"Wei! Ngapain lo di sini??", Naruto nanya.
"Saku ga bawa mobil, dia ke rumah Sasuke. Jadi gue ga bisa nebeng."
Naruto ngangguk, dan dia ngeliat ke arah si manusia penyebab alergi. "Temen lo??"
Kalo ada orang di sekolah yang ga tau soal Sai, orang itu adalah Naruto—sepupu jauh gue. Seberapa jauh? Well, gue punya tante yang baru menikah, suaminya itu punya keponakan, keponakannya punya sepupu, sepupunya punya kakek, kakeknya punya anak, anaknya punya istri, istrinya punya anak, naaaaaaaah, anaknya itu si Naruto.
Oke, itu sangat tidak penting.
"Bukan.", gue jawab dengan berusaha menduplikasi deathglare-nya Sasuke. "Lo ga bawa mobil, Nar??"
Naruto ngegeleng, "Lagi diservis."
"Oh..."
"Aku bawa mobil...!", si manusia penyebab alergi ngomong tanpa diminta.
Sekali lagi, gue nge-deathglare, "...terus...?"
"Ya berarti aku bisa nganterin kamu..., dan mungkin temen kamu juga...", dia ngeliat Naruto.
"Ga usah. Gue naek bis sama dia aja.", gue berdiri dan siap-siap narik tangan Naruto.
Dan oh-so-smartly, Naruto ngomong, "Eh! Tapi gue beda bis! Gue mau ke rumah Hinata-chan...!"
Monyet.
"Sori...", si Naruto nyengir kuda. "Eh, bis gue udah dateng! Duluan yaaa!", dia naek ke bis dan dadah-dadah dengan muka tanpa dosa.
Monyet rabies.
Gue berusaha tetep jaga image. Dengan muka yang udah kaga tau segimana nekuknya, gue duduk jauh jauh dari si manusia penyebab alergi.
Dan hujan tiba-tiba turun.
Doger monyet rabies!!!
"Jadi..., mau dianter...?", si manusia penyebab alergi nanya dengan muka yang bikin gue kebelet pengen nonjok.
"Engga!"
-
-
"HUAATCHIIIHH!!!!!!!!", gue ngelap idung gue yang merahnya udah sebelas-duabelas sama lampu lalu lintas.
"Aduh..., muncrat sampe sini, bund...", Saku ngomong di telefon.
"Sori, Sak...", gue bersuara serak.
"Lagian bunda juga sih..., pake acara ujan-ujanan... Langsung ice skate pula..."
"Daripada dianter sama 'dia'...", gue masih lemes. "Eh, gimana tante Mikoto??"
Saku langsung berubah girang, "Ih... Ternyata Mamanya Sasu-chan ga sakit...! Sasu-chan bilang gitu supaya aku mau bolos latihan aja... Blablabla—"
Gue muter mata.
Kadang-kadang, gue mikir kalo si Sakura sama Sasuke tuh robot pasangan. Perasaan ga ada berantem-berantemnya. Tiap hari gawenya pacaran mulu...
Bukannya sirik sih, tapi plis deh. Si Hinata sama Naruto aja ada lah, ngambek-ngambekannya. Lha ini?? Beuuh, berasa Tarzan ketemu Jane setelah berpisah sebulan dua malem. (??) TEMPEL TERUS!!!
"Halo?? Bund??"
"Hah? Yes, I'm here, I'm here.", gue ngegelengin kepala. Hampir aja gue tidur. "Duh, sori ya, Sak. Cape banget nih gue... Ntar lo ceritain lagi aja ya??"
Saku sempet ngomel-ngomel, tapi akhirnya nutup telefon juga.
Sedetik gue mau tidur, pintu kamar gue kebuka.
"Oi."
"Urgh..!", gue nenggelemin kepala ke bantal.
"Heh. Udah baek nih, gue nyamper...!", gue ngerasain bantal dilempar ke punggung gue.
"Yayayayaaa, gue bangun nih...!", begitu gue duduk, gue ngeliat Shika duduk di sofa telor gue.
"Nih, obat.", Shika ngelempar kantong kecil yang gue tangkep.
"Thanks.."
"Inooo!!", gue ngebalik ke pintu—lagi.
"Hei, big bro...", gue senyum lemes ke arah Chouji.
"Hei, sist!", dia duduk di sebelah gue. "Nih, aku bawain keripik low-fat..."
Gue senyum lagi, "Thanks, Cho..."
"Tadi si Sai bilang, dia udah nawarin nganter lo. Kenapa ditolak??", Shika nanya.
Gue ngeliat dia dengan tampang, 'plis deh'.
"Apa?? Seenggaknya dia bawa mobil.", Shika ngejawab (pura-pura) bego.
"Ogah aja.", gue ngebuka keripik dari Chouji.
"Gara-gara –munch- dia player, ya –munch- , sist?", Chouji nanya dengan mulut nyembur serbuk keripik.
Shika keliatan nunggu jawaban gue. "Menurut loo???", gue makan segenggam gede keripik seudahnya.
"Ya, -munch- pasti gara-gara dia player.", Chouji ngangguk yakin. "Ya ga, bro??"
Shikamaru ngangkat bahu, "Apa salahnya? Lo berdua cocok."
Gue ngelempar bantal, "Goblok lo."
Normal POV
"Pagi, beib...", seorang pemuda dengan tatanan rambut spike-messy memberi kecupan cepat pada seorang gadis.
"Pagi, Sasu-chan...!", si gadis mengalungkan tangannya pada lengan si pemuda—atau jelasnya Sasuke.
"Bujug... Mesra bener... Masih pagi, non...!", Yamanaka Ino memperhatikan sahabatnya yang terus berpegangan pada sang pacar. Sesekali ia harus membenarkan posisi coat dan jaketnya, atau sekadar mengambil tisu baru. Ia masih sakit.
"Yee, bunda Ino sirik! Bosen menjanda ya, bund?? Hahaa.", sahabat Ino –yang tidak lain; Sakura—mengejek pirang.
Ino hanya merengut. Kalau ditanggapi, bisa makin jadi love-bird di hadapannya itu, membuat sakitnya semakin parah.
"Paaaagi, semuaaaa!!!", sepupu jauh Ino menghampiri kerumunan kecil tadi.
"Pagi, Naruto...!"
"Hn."
Ketika Ino berbalik mau membalas ucapan selamat pagi, ia sudah keburu merasa kesal.
"Kenapa sih, pagi-pagi orang pada pacaran semua?!", ia menyentakkan tasnya ke pundak. Naruto terlihat merangkul Hinata yang menunduk malu.
"'Misi! Gue masih banyak urusan yang lebih penting daripada pacaran!", Ino mendorong dua pasangan itu untuk memberinya jalan.
"Kenapa tu anak??", Naruto bertanya pada Sasuke dan Sakura.
Sakura mengangkat bahu, "Bosen ngejanda kali."
Ino's POV
Doger monyet budug rabies semua!!!
Gue bener-bener harus struggling nyeimbangin semua bawaan gue. Dengan tas diselempang, jaket dan coat yang tebel supaya pilek gue ga menjadi, buku perpustakaan di tangan kiri, dan tisu di tangan kanan, jalan lurus aja udah jadi cobaan naik-turun gunung deh buat gue. Dan seperti biasa; gue ga bisa memulai hari tanpa final check-up penampilan gue di restroom cewe. Jadii, sebelum belok ke tangga perpus, gue sempetin ke restroom di lantai '2,5' yang biasanya sepi dan pewe buat ngaca lama-lama.
Sumpah, tinggal semeter lagi gue nyampe restroom.
Doger monyet budug rabies kutilan!!!
"Heh!! Ga punya mata lo, ya??!", gue ngumpat-ngumpat ke orang yang nubruk gue secara tidak berkepricantikan.
"Aduh, sori... Gue...- Loh?? Ino??"
Gue ngedongak. Kampret!
"Aduh, maaf banget ya! Sini aku bantuin!"
Oh Tuhan. Kenapa Engkau begitu 'sayang' padaku??????
"Ga usah! Gue bisa-"
"Udah... Segini banyak bawaannya! Sini...!", si cowo yang tidak lain tidak bukan adalah Sai ngambilin barang-barang yang gue bawa.
Dan akhirnya, gue cuma bawa tas gue sendiri dan tisu di tangan.
"Kamu mau kemana??", dia nanya.
"Perpus. Terus ruang seni."
"Ya udah, aku anter.", Sai jalan duluan.
Gue ngehela nafas.
Sekali ini, sekali ini aja gue dibantun sama dia.
-
-
"Thanks ya.", gue ngomong pelan pas udah nyampe ruang seni. Musik klasik kedenger pelan banget, dan semua hening.
"Iya, sama-sama...", Sai ngejawab dengan senyum charming-nya. I swear, ada cewe yang pingsan di barisan ketiga dari kanan.
Gue senyum singkat dan cepet ngambil tempat biasa gue; spot deket jendela.
Begitu gue selesai ngeluarin alat-alat lukis, Shizune-sensei masuk.
"Pagi, anak-anak.", beliau nyapa, dan dibales 'pagi sensei' yang pelan dari kelas.
"Hari ini saya ga bisa ngawasin kalian, begitu juga selama sebulan ke depan.", anak-anak mulai teriak-teriak girang.
"Mau ke mana, sensei??! Bulan madu kedua sama Kakashi-sensei yaaaa???!", Naruto teriak dari belakang kelas. Tumben tuh anak ga bolos.
Semua mulai makin ribut, apalagi pas Shizune-sensei mulai blushing. "Sa-saya ditugaskan ke seminar seni di luar kota!"
Kelas tenang lagi, "Dan supaya kalian tetap belajar, saya akan memberikan tugas buat kalian!"
"HUUUU~!!!!!!", sekelas kompak nyorakin.
"Shush! Tenang! Tugasnya ga susah kok!", Shizune-sensei nulis di papan tulis.
LUKIS BEBAS
tema : natural beauty
deadline : 09-12-2008
PERKELOMPOK ; 1 kelompok 2-3 orang
nilai sangat berpengaruh pada laporan akhir semester
hasil terbagus akan dipakai untuk themes festival tahun baru
Gue langsung lemes. Lukis diarahin aja gue ga bener, apalagi lukis bebas!
Kelas bubar begitu Shizune-sensei keluar ruangan. Gue ngeliat sekeliling.
Sakura lagi jalan keluar sama Sasuke. Naruto ngelukis asal, dan apapun lukisan itu, Hinata ketawa. Murid-murid yang lain ngobrol, atau keluar juga.
Gue mandangin kanvas kosong di hadapan gue. Mampus...
"Ino...??", gue ngedongak ga niat.
Sai.
Helaan nafas, "Apa...?"
"Kamu belum ngasih balesan buat bantuan aku tadi pagi loh...", dia seenaknya duduk di spot samping gue.
"O iya ya...?", gue jawab sinis. Dia ngangguk. Dan terus ngulurin tangan.
Gue naikin sebelah alis, "Apa??"
"Balesannya."
"Wah. Ga disangka, pelukis yang udah kaya masih pamrih banget, ya??", gue ngerogoh ke tas gue, ngeluarin permen. "Nih. Puas??"
Dia merengut ke permen yang gue kasih, "Ya ga lah...! Gini aja deh...", dia ngembaliin permen itu ke tangan gue, "Gimana kalo aku aja yang nentuin balesannya??"
Feeling gue ga enak nih.
Tapi dia emang udah bantuin gue sih...
Oke. Sekali ini aja...
"Mau lo apa...??"
Dia senyum charming lagi, "Satu, ga mau gue-lo. Harus aku-kamu.", gue ngangguk. Worth it lah...
"Dua, aku mau kamu."
Gue ngangguk lagi.
Worth it- EH?! APA??!!
"HAH?!!", gue teriak begitu sadar. "LO MAU APA???!!"
Dia masih senyum charming, "Ka-mu."
tbc—
EHAHAH.
syok beraaat~!
:P
ketebak banget ya..., lanjutannya kaya apa...?
hheu.
maaf yaa, kalo ga sebagus yang diharapkan...
DDx
review, please...?
xo xo,
Yvne F.S. Devolnueht
