Ditulis untuk menjawab tantangan Infantrum: Black and White
Set: Romance/White
Fandom: His Hark Materials
Pairing: Marisa Coulter/Lord Asriel
disclaimer: Phillip Pullman
di bagian ini, POV Marisa Coulter yang bicara.
selamat membaca^^
BENIH
Author: Konohafled
.
Chapter 2
Tema: Eyes
Memandang Jiwamu
.
.
Ada kalanya kau harus membuat pilihan praktis. Aku melakukan itu sepanjang hidupku. Idealisme? Jangan tanyakan soal itu padaku. Bukan berarti aku tak punya. Bukannya aku tak punya cita-cita dan tujuan besar. Aku punya. Tapi jalanku belum sampai ke sana.
Aku bisa membuat pilihan ideal. Aku punya itu. Tepat di depanku.
Lelaki ini tidak seperti Edward. Lihat saja sosoknya, daemonnya. Bicaralah padanya. Tatap matanya. Tak diragukan lagi, dialah lelaki yang layak untukku.
Oh, lihatlah sikapnya sekarang. Saat dia bersamaku, di dalam kamar, berdua saja tanpa manusia lain, dia sungguh berbeda. Dia seperti tidak peduli padaku. Seolah bukunya lebih penting daripada aku. Jauh berbeda dengan saat kami bertemu di pesta-pesta membosankan itu. Matanya seolah ingin menelanjangiku. Seolah dia ingin menunjukkan setiap borok di kulitku. Seolah dia ingin menunjukkan setiap jengkal kesucian di jiwaku. Tapi dia tahu, dia tak akan menemukannya. Tidak satu pun. Aku tahu itu.
Aku juga tahu dia menginginkan aku lebih dari apapun saat ini. Daemonnya tidak bisa berbohong sebaik dia.
Sejak tadi dia mendekati daemonku, membelai bulu-bulu keemasan itu dengan lidahnya. Daemonku pasti sesak nafas kalau macan betina itu menindih tubuhnya. Bobot monyet sekecil itu mungkin hanya sepersepuluh bobotnya. Tapi lihatlah daemonku tercinta itu. Dia bergeming saja dengan segala sentuhan penuh kasih si macan betina. Hm, mungkin kini saatnya aku yang ambil kendali.
"Mungkin sebaiknya aku kembali ke pesta gala," kataku.
Dia hanya menatapku sekilas, lalu menatap halaman-halaman buku lagi. Daemonnya menjilat tengkuk daemonku. Oh, betapa munafiknya lelaki itu. Serasa menemukan kembaranku.
Aku melangkah mendekati pintu. Daemonku mengikuti.
"Perlu kuantar?" tanya dia.
Aku menoleh padanya. "Anda baik sekali, Lord Asriel, mengingat Anda sudah repot-repot menyeret saya ke kamar ini untuk percakapan yang bisa dilakukan di ballroom."
"Aku tidak menyeretmu ke sini, Marisa."
"Tapi Anda tadi memohon pada saya dengan amat sangat, Tuan Asriel."
"Hentikan omong kosong sok formal ini, Marisa," dia melempar bukunya begitu saja ke lantai. Lalu dia menarik pinggangku ke pinggangnya. Daemonnya menjilat pantat daemonku.
"Anda tahu, tindakan Anda ini bisa mengakibatkan suatu kejadian yang … tidak diharapkan," kataku. Daemonku menyurukkan kepalanya ke kaki besar macan betina itu.
"Tidak diharapkan? Apa itu buruk?"
"Sangat buruk," kataku. Daemonku menyentuh cakar-cakar kucing besar itu. Mengelusnya.
"Seberapa buruk?" bisiknya.
"Seburuk ini," jawabku. Jari telunjukku menelusuri tulang punggungnya, dari pinggang ke atas hingga menyentuh tengkuknya.
Aku mendengar auman lirih.
"Kalau begitu, harus kita cegah kan?" bisiknya, dekat sekali dengan telingaku.
"Ya. Tapi bagaimana caranya, Tuan Asriel?"
Aku mendengar auman yang lebih keras, panjang dan menggelitik. Daemonku sedang menjilati kaki macan betina itu.
"Seperti ini," jawabnya. Aku merasakan kecupan di leherku. Lembut awalnya, makin lama makin keras dan ganas. Edward pasti akan curiga pada bekasnya.
"Saya tahu cara yang lebih baik, Tuan Asriel," kataku sambil mendorong tubuhnya. Dia tercengang.
Oh, mengapa kau jadi bodoh begini, Asriel? Kau kira aku menolakmu? Kau tidak lihat apa yang dilakukan daemonku? Dia membelai-belai leher daemonmu dan menjilati dagunya.
Aku menjatuhkan diriku ke ranjang. Dia ikut menjatuhkan tubuhnya ke atas tubuhku.
"Minggir kau, Asriel. Kau menghalangi pemandangan," kataku. Aku mendorong tubuhnya ke samping. Nah, sekarang aku bisa leluasa melihat daemonnya, memandang jiwa-
"Marisa!" Dia menangkap tubuhku. Dua lengan kokohnya mendekap dadaku. Erat.
Daemonnya merebahkan diri. Daemonku menjauh. Dia berdiri dan mengelus-elus kakinya sendiri. Lebih tepatnya, selangkangannya.
"Katakan, kenapa kau memilihku," bisiknya. Aku bisa merasakan bibirnya menyentuh daun telingaku.
"Apa itu penting?"
Daemonnya berguling-guling sambil mengerang lirih. Daemonku tetap pada kegiatannya.
"Apa kau memilihku karena aku seorang Lord?" bisiknya lagi. Lidahnya menyentuh belakang telingaku.
Daemonku berhenti mengelus selangkangannya. Dia sekarang berjongkok, siap menerkam si macan betina yang sedang berahi.
"Apa kau memilihku karena aku seorang Coulter?" aku balik bertanya padanya.
Daemonku sekarang sudah menerkam macan betina itu.
"Kau bukan seorang Coulter, Marisa," bisiknya. Tangannya meremas payudaraku. "Suamimu yang Coulter."
Daemonku menjilati payudara si macan betina.
"Kau juga bukan Lord bagiku," jawabku. Tanganku meraih tengkuknya. Mencengkeramnya, menusukkan kuku-kuku jariku ke dagingnya. Meninggalkan bekas yang sama jelasnya dengan yang ditinggalkannya di leherku.
Dia mengerang. Daemonnya mengaum penuh nafsu.
Tubuhku dilepasnya, lalu dibalikkan di atas ranjang. Kami berhadapan sekarang. Aku bisa merasakan panas nafasnya menyentuh wajahku. Detak jantungnya di dadaku.
Daemonku mengangkang di atas daemonnya. Suara auman tertahan semakin jelas terdengar.
"Daemonmu punya nama?" tanyaku di tengah kesibukannya membuka ritsleting gaunku.
"Stelmaria," jawabnya terburu-buru.
Aku mendorong wajahnya, lalu menangkupkan kedua telapak tanganku ke pipinya.
"Senang bertemu denganmu, Stelmaria," kataku pada wajah itu.
Kami saling menatap sejenak. Lalu aku kembali memandang Stelmaria mengerang di bawah tindihan daemonku. Sesekali aku melirik Asriel, yang ternyata juga tengah melihat tingkah daemonku.
Aku tak pernah melakukan ini dengan Edward. Aku tak pernah menatap daemonnya yang sesekali saja mendekatkan tubuhnya ke daemonku. Aku pun tak berminat menatap mata Edward yang lebih sibuk melihat dada dan di antara kedua pahaku. Dengan Edward, itu tidak lebih dari kegiatan pengisi akhir pekan.
Dengan Asriel, banyak yang harus kutatap. Matanya, wajah daemonnya, dan senyumnya yang tak pernah ditunjukkan di muka umum.
Dengan Asriel, aku kehabisan dusta. Denganku, Asriel kehabisan misteri.
.
~ Memandang Jiwamu ~
.
"Ini tak akan terjadi lagi," katanya sambil mengaitkan kancing terakhir kemejanya. "Marisa, kau dengar aku?"
"Ya, Asriel. Ini tidak akan terulang lagi," jawabku.
Stelmaria mendekap dan menjilat-jilat tengkuk daemonku. Dia membalas dengan jilatan di kaki kucing besar itu.
Kau selalu ucapkan itu. Dan aku selalu katakan hal yang sama, setiap kali kita mengakhiri malam-malam penuh desah, saat tubuh kita saling merambah dan menjajah. Kita tidak pandai berbohong saat kita berdua saja, Asriel. Kau pun tahu itu.
.
~ Memandang Jiwamu ~
.
"Kau seharusnya berkabung, Marisa," katanya.
"Kau menawarkan diri untuk menghiburku?" balasku.
Dia mengusap rambutku. "Aku tidak pandai menghibur," katanya.
"Tidak perlu. Cukuplah kau saja yang merasa terhibur," balasku.
Dahinya mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Jangan pura-pura tak tahu, Asriel," jawabku. "Tak ada yang melakukannya selicin kau. Bahkan aku pun kalah."
"Oh," balasnya singkat. Dia merangkul pundakku. Dari jauh, dia pasti tampak seperti seorang sahabat sejati yang sedang menghibur janda yang sangat berduka.
"Kau pezina," katanya.
"Kau pembunuh," balasku.
"Kita pendosa," sahutnya, menyembunyikan senyum.
"Aku hamil," kataku.
Dia melepaskan rangkulan. Memandangku tak percaya.
"Suamimu sudah meninggal," katanya, membeberkan fakta yang tak berguna.
"Oh, tak perlu kau ganggu tidurnya di alam baka. Dia bayimu," kataku datar.
"Aku tidak akan mengakuinya," sahutnya cepat. Tapi aku sempat melihat senyum kecil sebelum dia mengatakan itu.
"Tak masalah, Asriel. Ini urusan perempuan," kataku sambil memandang Stelmaria. Daemonnya itu sedang mengelus daemonku dengan lembut.
Dia tak berkata apa-apa lagi. Tapi kulihat dia beberapa kali melirik ke perutku, bibirnya menahan senyum.
.
- akhir dari bagian DUA -
.
sekali lagi, makasih buat bloominpoppies yang sudah memberi panduan bagi 'kebinatangan' saya dan menyelamatkan saya dari judul sinetron^-^
A/N
Err… agak beda dikit dari yang ada di buku (baca Golden Compass. Lord Asriel membunuh Edward Coulter setelah Marisa Coulter jelas-jelas hamil.) Jangan rajam saya karena hal itu ya ^^
.
Belum tahu daemon? Daemon berwujud binatang dan biasanya berbeda jenis kelamin dengan manusianya. Daemon adalah insting, akal, bawah sadar dan jiwa manusia. Jadi boleh dibilang, sifat-sifat asli manusia bisa dinilai dari wujud daemonnya. Karena tokoh-tokoh di fanfic ini adalah orang dewasa, maka bentuk daemonnya sudah tetap.
daemon Lord Asriel adalah macan tutul salju betina yang bernama Stelmaria.
daemon Marisa Coulter adalah monyet berbulu emas jantan, tidak mempunyai nama.
spoiler: chapter selanjutnya kembali ke POV Lord Asriel. tema: Mirror
review ya? pretty please? ;)
