Going Home
Disclaimer: The plot is mine. Characters belongs to themselves, God, their parents, their company and whoever they wants.
Warnings: RE-PUBLISH, typo(s), misstype(s), yaoi, mpreg w/ scientific analysis, contains time travel, some OOCness, etc.
.
.
Excerpt: Jaejoong yang bandel, beringas, dan suka berkelahi, dipertemukan oleh takdir dengan seorang namja seumuran dengannya yang mengaku sebagai... anaknya?
.
.
"Ehem!"
Dengan sedikit menggunakan kekuatannya, Jaejoong menekan dada orang yang sedang memeluknya itu dengan kedua telapak tangannya. Alhasil dekapan erat itu langsung terlepas sementara orang yang mengaku bernama Max tersebut terpental ke belakang, nyaris terjungkang jika saja tidak bisa ia menjaga keseimbangannya.
Sembari menepuk-nepuk blazer hitamnya, Jaejoong melirik sekilas pada orang yang masih ada di balik tembok sana, yang kepalanya masih saja menyembul serta kedua mata yang serasa menusuknya.
"Hei, Kim Jaejoong, sebenarnya aku sudah malas mengurusimu. Kenapa kau selalu saja membuat masalah?" tanya sang Master Kedisiplinan tersebut sambil melompat dan beberapa detik kemudian sudah duduk tepat di atas tembok, membuat Jaejoong mau tidak mau merasa kagum meski enggan ditunjukkannya. Harga dirinya bisa jatuh jika harus dengan polosnya memuji tuan muda tersebut.
Ia berkelit. "Siapa suruh terus mengawasiku hah, Siwon-sshi?" kemudian mendorong sosok berwajah hangus yang hendak memeluknya lagi, mendapat sekali lagi tatapan heran sekaligus tidak suka dari Siwon. Terus terang, ia tidak suka atau lebih tepatnya... benci. Ia benci setiap kali ada namja atau yeoja lain yang menyentuh namja cantik tersebut...
Seolah-olah ia menyukai Kim Jaejoong. Dan dilihat dari keseriusan tatapan matanya, mungkin sekitar 75% persepsi tadi adalah benar.
Siwon melompat dari tembok sekali lagi dan kali ini mendarat tanpa cacat sedikitpun pada penampilannya yang sempurna. Sangat sempurna atau bahkan terlalu sempurna. Siapa yang tidak kenal Choi Siwon, anak dari salah satu orang terpenting di Korea yang orang tuanya masuk jajaran 10 orang terkaya di negeri ini. Selain itu Siwon adalah model terkenal yang wajahnya acapkali menghiasi cover majalah dari majalah anak-anak sampai majalah dewasa. Siapa coba yang tidak terpesona padanya?
Siwon yang selama ini dikenal merupakan sosok religius, ramah, dan murah hati itu mampu memikat siapa saja dalam satu kedipan matanya. Hanya saja tidak semua yang manusia inginkan bisa terwujud, bukan?
Sudah menjadi rahasia umum jika tuan muda Choi ini jatuh cinta pada berandalan sekolah, Kim Jaejoong sejak ia memergoki pria manis itu berkelahi di belakang sekolah tanpa luka sedikitpun. Pada dasarnya Siwon memang tidak menyukai orang yang lemah, dan saat itu juga ia memutuskan akan membuat Jaejoong jatuh cinta padanya.
Jika menjilat ujung hidung itu mudah, mungkin sekarang ini Siwon dan Jaejoong sudah menjadi pasangan paling hot seantero dunia. Sayangnya apa yang mudah di pikiran kita berbanding sebaliknya dengan kenyataan yang terpaksa dihadapi.
Padahal Siwon sudah menjatuhkan harga dirinya yang setinggi Tokyo Tower itu di hadapan banyak orang ketika upacara mingguan selesai. Di hadapan teman-teman dan guru-gurunya itulah Choi Siwon menyatakan rasa cintanya pada Jaejoong, yang hanya bisa dibalas dengan tatapan tidak mengerti dari sang namja cantik. Dan kemudian berujung dengan penolakan, karena Jaejoong dengan jujur mengatakan bahwa ia tidak merasa mencintai Siwon.
Well, perasaan tidak mungkin dipaksakan, bukan? Karena itulah Siwon merubah dirinya dari dalam. Jika ia menginginkan sesuatu, ia harus mendapatkannya. Ia mengajukan dirinya menjadi Master Kedisiplinan agar bisa lebih sering bertemu dengan Jaejoong yang dikenal selalu melanggar peraturan. Siwon akan bergerak secara pelan-pelan, sampai namja cantik itu lengah dan ia akan mengambil kendali semuanya.
Yeah, semuanya...
"Kenapa kau tersenyum sinis seperti itu?" tanya Jaejoong sambil memasukkan kembali kedua tangannya ke dalam saku celana.
Siwon hanya menggelengkan kepala pelan dan meraih lengan kiri Jaejoong. "Kau harus ikut aku, dihukum atas dasar membolos, berkeliaran dengan baju seragam di luar sekolah pada jam pelajaran tanpa izin dan..." Siwon menatap tajam pada sesosok lain yang ada selain dirinya dan Jaejoong dengan tatapan meremehkan. "...sudah, ikut saja!"
Tetapi sebelum Jaejoong sempat terseret, ia ditarik kembali dengan kuatnya oleh orang yang mengaku bernama 'Max' tersebut. Ia maju ke depan Jaejoong sehingga berhadapan dengan Siwon. Untuk beberapa alasan, ia seperti tidak suka dengan pria macho tersebut.
Sebelum Siwon sempat mengeluarkan sepatah kata pun, sosok paling tinggi di antara mereka tersebut sudah mengambil alih pembicaraan.
Ia tersenyum, dengan terpaksa, meskipun tak terlihat jelas karena wajahnya yang masih amburadul. Siapapun yang melihatnya sekarang tak akan mengira bahwa di balik kegosongan itu ada wajah yang... sulit dideskripsikan.
"Jangan bicara dulu, Siwon-sshi. Biar kuluruskan hal ini..." Ia mengedipkan sebelah matanya pada Jaejoong, yang langsung membuat namja itu merinding. Sementara Siwon sudah hampir tidak tahan ingin menghajar pria di hadapannya yang sok bertingkah cute pada Jaejoongie-NYA. "Jangan salahkan Jaejoong-sshi. Dia terlambat karena aku yang kebetulan melihatnya berangkat ke sekolah, memintanya untuk mengantarkanku juga ke sekolah ini. Aku murid pindahan dadakan, annyeong. Max Changmin imnida."
Changmin tersenyum lebar, memperlihatkan deret gigi putih indahnya yang bersinar di tengah hitam wajahnya. Tentu saja Siwon tidak langsung percaya. Dilihat dari penampilan yang sangat tidak wajar seperti itu, sulit untuk mengetahui apakah ada wajah orang normal di sana. Jaejoong semakin tidak mengerti dengan hal yang didengarnya, ia bingung, tetapi selama anak bernama Max Changmin itu mau membantunya, sepertinya ia bisa bernafas lega sebentar.
"Kau pasti bingung kenapa penampilanku seperti ini?" ucap Changmin cempreng, mengagetkan Siwon yang baru saja kepikiran dengan hal itu. "Ceritanya panjang, pesawat yang membawaku ke Seoul terkena kecelakaan dan nyaris seluruhnya terbakar tetapi aku bisa sampai di sini dengan selamat meskipun tidak semua barang-barangku berhasil diselamatkan..."
Tiba-tiba saja aura Changmin menjadi suram. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan selama beberapa kali. Siwon yang tadinya merasa ingin menonjok anak itu berbalik menjadi prihatin. Sosok religius dan penyayang masih melekat sedikit di hatinya, dan menyingkirkan setan yang selama ini telah membuat mata hatinya buta akan pesona Jaejoong.
Changmin menunduk dalam, masih menarik-menghembuskan nafas sedalam-dalamnya. Sampai akhirnya Siwon membuka mulutnya. Nada suaranya terdengar lebih baik dari yang sebelum ini.
"Ya, aku mengerti. Maafkan aku Changmin-sshi, Jaejoong-sshi. Lebih baik sekarang kalian masuk. Aku akan meminta satpam untuk membukakan gerbang untuk kalian," ucap Siwon sambil tersenyum. Senyum yang jarang sekali Siwon tunjukkan setelah bertahun-tahun. Kemudian ia pergi dengan melompati dinding lagi. Tidak heran, ia juara lompat tinggi nasional.
Selang beberapa lama kemudian, Changmin menarik tangan Jaejoong, mengajaknya kembali menuju gerbang depan. Tapi Jaejoong menepisnya langsung, membuat Changmin merengut.
"Terima kasih sudah menyelamatkan hariku, tapi kau tidak perlu dekat-dekat denganku," tukas Jaejoong cuek sambil menjaga jarak dengan Changmin. Mereka berjalan beriringan dengan pelan.
"Kenapa?" tanya Changmin dengan sedih. "Kenapa aku tidak boleh dekat-dekat dengan ummaku sendiri?"
Jaejoong terantuk batu begitu mendengar penuturan Changmin, untung saja tidak sampai jatuh... bisa malu jika dilihat orang-orang. Ia berhenti berjalan, membuat Changmin turut berhenti dan entah karena insting, keduanya bertatapan.
"Aku tidak mengerti denganmu, apa kau ini terkena gangguan jiwa atau sebenarnya kau amnesia sehingga menganggapku sebagai ummamu? Kalau kau tersasar, sebaiknya kau pergi ke kantor polisi saja!" Jaejoong langsung berjalan kembali, mempercepat langkahnya.
Tak lama kemudian langkah Changmin terdengar di belakangnya, hingga menyamai langkahnya. "Aku tidak berbohong! Aku bukan anak hilang, amnesia, maupun orang yang terkena gangguan jiwa! Aku bisa buktikan padamu, ayo kita ke rumah sakit dan tes DNA!"
Mata lebar Jaejoong makin melebar saja mendengar penuturan yang makin ngawur dari Changmin. Biasanya jika ada orang yang mengganggu moodnya seperti ini, ia akan langsung menyerangnya. Tapi ia merasa jika ia tidak ingin melakukannya untuk saat ini. Padahal moodnya sedang baik sekali untuk berkelahi.
Greeek.
Dari pada ditarik oleh Changmin, Jaejoong memilih untuk menarik Changmin ke dalam area sekolah saat gerbang sudah dibuka oleh satpam yang makin tercengang saat yang masuk bukan hanya Jaejoong tetapi orang asing dengan warna tubuh hangus yang hanya mengenakan tank top serta boxer.
.
.
"Kenapa aku harus menunggumu di sini?" teriak Jaejoong kesal dari depan ruang ganti pria. Ia sedang menunggui Changmin yang baru saja mandi dan baru mendapatkan seragamnya tersebut. Dengan terpaksa sedari tadi ia hanya duduk di kursi kayu panjang dengan pemandangan lapangan basket.
Kelasnya sedang pelajaran olahraga saat itu dan ia terpaksa izin dan kali ini merupakan izin paling normal yang pernah ia berikan pada sang guru, berhubung ia ditunjuk oleh Siwon yang kedudukannya di atas ketua OSIS, untuk menemani Changmin mengenal sekolah barunya.
Bahkan Siwon merasa jika Jaejoong sangat cocok dengan Changmin, meskipun ia nyatakan secara amat terpaksa. Dalam hati.
'Basket, ya?' batin Jaejoong sambil melihat di kejauhan teman-temannya sedang saling berebut bola untuk dimasukkan ke ring. Matanya tertuju pada sesosok namja tinggi yang sedang menguasai bola, mendribblenya dengan langkah dan gerakan tangan yang seirama. Tidak ada yang bisa menghentikan lajunya... sampai pada akhirnya namja tersebut melompat tinggi... tinggi sekali. Dan dalam satu sentakan, ia memasukkan bola ke ring tanpa hambatan, dan mendarat sempurna di tanah dengan senyum penuh rasa bangga mengembang di bibirnya.
Tanpa sadar Jaejoong turut tersenyum, meskipun tipis. Pantas saja namja tampan di sana itu selalu dibanggakan dalam urusan basket. Di sekolah ini hanya ada satu orang yang bisa melakukan slam dunk seperti tadi, hanya satu. Dan namja itu adalah...
"Jung Yunho, kan?"
"Eh?" Jaejoong sontak menoleh ke samping, sedikit terperangah melihat sosok dengan seragam sama seperti yang dipakainya, yang tampangnya beda 180 derajat dengan orang mirip suku pedalaman yang ditemuinya beberapa waktu yang lalu. Agaknya ekspresi Jaejoong kali ini wajar mengingat banyak orang yang melewati mereka kini telah menatap kagum pada Changmin yang telah berubah ke wujud aslinya.
Changmin hanya membalas pandangan-pandangan itu dengan ekspresi bingung. "Mwo? Ada yang salah denganku?" tanyanya pada Jaejoong yang sedang menatap lekat wajahnya. Aigoo... tampan? Tunggu! Imut? Bukan! Keren? Tidak!
"Tidak, tidak ada apa-apa!" sanggah Jaejoong, ia selalu merasa gengsi jika harus memuji seseorang. Apalagi seseorang yang pada kenyataan lebih tampan darinya. BIG NO!
Changmin tersenyum-senyum dan memperhatikan penampilannya sendiri, merasa nyaman dan cocok dengan seragam barunya. Tanpa izin ia duduk di samping Jaejoong yang masih kosong, memperhatikan arah pandang namja itu ke lapangan basket yang ramai.
"Kenapa memperhatikan Jung Yunho terus?" tanya Changmin penasaran.
"Dari mana kau tahu namanya?" Ia balik bertanya dengan nada yang sedikit banyak berisi penekanan.
Changmin hanya mengedikkan bahu, sebelum tersenyum penuh misteri. "Aku datang dari masa depan, jadi aku bisa tahu segalanya."
Lagi-lagi anak itu berbicara hal-hal nonsense. Jaejoong memutar kedua bola matanya karena merasa agak terganggu. Ia memang tidak pernah menganggap serius omongan orang, terlebih lagi yang ini! Maaf saja, dari pada diseriusi, lebih baik ditertawakan. Right?
"Datang dari masa depan?" tanya Jaejoong balik sambil menahan tawa. "Apa doraemon sudah tidak diproduksi lagi di masa depan sehingga kau yang dikirimkan ke sini?"
"Tidak, aku yang mengirimkan diriku sendiri ke masa ini! Waktu ini!" Changmin bersikeras. Ia mengeluarkan sebuah kertas lusuh dan melebarkannya, menunjukkan dengan paksa isi surat tersebut pada Jaejoong. "Lihatlah ini baik-baik."
Sebenarnya Jaejoong tidak tertarik dengan apapun penjelasan tidak masuk akal yang dikoar-koarkan namja jangkung di sampingnya ini, tetapi melihat wajah super memelas di hadapannya itu membuatnya sedikit... kasihan. Oke, kasihan! Mulai sekarang Jaejoong memutuskan bahwa setiap ekspresi yang ditunjukkannya pada Changmin adalah semata-mata karena ia kasihan.
Dengan setengah hati Jaejoong pun membaca kertas lusuh yang benar-benar lusuh dan robek pada bagian bawah tersebut.
Birth Certificate yang sudah dilegalisir.
Di sana tertulis Changmin dengan nama depan a.k.a marga yang dicorat-coret sehingga tidak terbaca sama sekali, lahir pada tanggal 18 Februari 2015, dari seseorang bernama Kim Jaejoong.
Kim Jaejoong?
KIM JAEJOONG?
"Mwo!" Jaejoong melemparkan surat itu begitu saja ke tanah. Changmin langsung memungutnya, takut seseorang secara tidak sengaja membacanya, bisa gawat ini.
Jaejoong memegang dadanya yang naik turun tak beraturan, masih shock atas apa yang barusan dibacanya.
"Kan, sudah kubilang aku tidak bercanda..." ucap Changmin sambil tersenyum lebar. "...aku juga merupakan murid terpandai di sekolahku di masa depan. Sudah banyak alat-alat canggih yang kuciptakan dengan tanganku sendiri dan aku juga orang pertama yang mengawinsilangkan rusa dengan badak! Hebat, kan? Anak hasil perkawinannya itu kuberi nama Garos!"
Changmin terus saja bercerita dengan bangga dan bahagia tanpa menyadari dan mempedulikan tatapan bosan dari Jaejoong. Sumpah ia tidak tertarik dengan kehidupan pribadi seorang Max Changmin, mungkin yeoja-yeoja yang sedari tadi berseliweran mencoba menarik perhatian Changmin akan sangat senang mendengarkan cerita aneh tersebut, tapi tidak dengan Jaejoong. Terima kasih.
"...lalu saat aku menonton Minute Man, dari sanalah aku mulai tertarik dan mencari semua data tentang Time Machine buatan Charlie. Dan apa? Ternyata semua itu ada! Rumah produksi menyembunyikan data dari Time Machine tersebut tetapi aku berhasil membobolnya. Kurakit benda itu semampuku dan langsung kucoba sendirian. Semuanya benar-benar terjadi kecuali bahwa mesin itu memberi efek gosong padaku bukannya efek udara dingin seperti di film."
Tiba-tiba saja Jaejoong tertawa kecil saat Changmin merengut mengingat masa-masa kegosongannya selama menempuh waktu ke waktu. Ia menepuk-nepuk punggung Changmin.
"Hahaha, dari mana kau bisa mengarang cerita selucu itu?"
Raut wajah Changmin yang sudah mirip anak kecil tadi, berubah kembali menjadi sedih bercampur sedikit kesal dan gemas. "Kenapa Umma tidak mempercayaiku? Aku tidak mengarang, aku mengatakan kebenaran!"
Jaejoong mendesah. "Kau mengatakan terus-terusan hal yang tidak masuk akal. Ini bukan kaset film, ini kehidupan di Bumi. Kau harus bangun dari khayalanmu dan menghadapi kenyataan, Changmin. Lagi pula Birth Certificate itu tidak membuktikan apa-apa. Kebetulan mungkin kau memiliki seorang ibu yang namanya mirip denganku. Dan lagi ada apa dengan nama margamu?"
"Aaa..." Changmin menunduk, sebelum ini ia sudah mengira bahwa Jaejoong pasti akan mempertanyakan soal nama marganya yang dicoret-coret itu. "Aku..."
Dan mendongak saat Jaejoong tengah berlari ke lapangan basket, meninggalkan Changmin sendirian di sana. "Tunggu aku Um-eh, Jae-hyung!" teriak Changmin sebelum berlari menyusul Jaejoong.
Terdengar riuh suara anak-anak lain yang sedang menonton pertandingan basket persahabatan antara kelas 2 melawan kelas 3. Pinggiran lapangan basket outdoor terasa sesak karena banyaknya orang yang ingin menonton. Siapa juga yang tidak ingin melihat aksi jagoan basket Hannyoung yang berkali-kali menyumbang medali emas untuk sekolah ini?
"Yunho-oppa! Yunho-oppa!" Bahkan yeoja-yeoja kelas 2 pun menyoraki Yunho, tanpa mempedulikan tatapan-tatapan kecewa para namja teman-teman mereka yang tidak dianggap.
Jaejoong menatap Yunho dari luar pagar, lekat-lekat. Sampai-sampai ia tidak berkedip saat memperhatikan namja itu mengambil pemanasan, berlari-lari kecil di sekeliling lapangan sembari menebar senyuman yang sepertinya tidak ingin lepas dari wajah lelahnya yang berkeringat. Jaejoong mencengkeram pagar kawat, meskipun sebenarnya yang ingin ia sentuh adalah Jung Yunho. Tapi... tidakkah itu terlalu jauh untuknya?
"Um-eh, Jae-hyung!" panggil Changmin sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak begitu gatal. Ia gemas pada dirinya sendiri, terutama pada lidahnya yang tidak bisa diajak kompromi untuk memanggil Jaejoong dengan panggilan yang tidak mencurigakan.
Jaejoong menoleh dengan malas pada Changmin yang sudah ada di sampingnya. Kini beberapa pandangan yeoja di sana terutama yang sedari tadi melekat pada Yunho mulai beralih ke arah Changmin yang tentu saja tidak menyadari hal itu. Ya, yang ia inginkan hanya berada di samping Jaejoong. Kenapa?
"Kenapa?" tanya Jaejoong, tatapannya melembut. Dalam sekejap ia bisa memastikan bahwa Changmin orang yang keras kepala, percuma saja mengasarinya.
"Apanya?" Changmin balik bertanya, tidak tahu ke mana arah pembicaraan ini.
Jaejoong menghela nafas pelan. "Kenapa kau selalu mengikutiku?" Air mukanya berubah serius, membuat Changmin bergeming. Ia hanya membalas tatapan itu tanpa menjawab. Tepatnya, ia tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Tidak bisakah ia berada di dekat Jaejoong tanpa harus memberikan alasan?
Jaejoong masih menunggu jawaban, sementara air muka Changmin mulai berubah. Seakan-akan... sedang merasa sedih.
"Priiit!"
Suara peluit kencang tanda dimulainya pertandingan berbunyi, segera mengalihkan perhatian Jaejoong dari Changmin pada lapangan basket. Tidak, tepatnya pada namja yang namanya sedang dielu-elukan di udara. Seperti biasa, permainannya tidak pernah mengecewakan.
Entahlah, Jaejoong sendiri tidak tahu apa yang membuatnya menaruh perhatian lebih pada Jung Yunho. Ia hanya merasakan perasaan yang lain padanya, mungkin itu yang dinamakan cinta. Hanya mungkin, karena Jaejoong tidak pernah berharap lebih. Ia yang berandalan tidak pantas bersanding dengan namja baik-baik di sana. Terlalu jauh baginya, terlalu sulit...
"Priiit!" Jerit peluit terdengar kembali, saat Yunho mencetak lagi angka untuk timnya. Ia berhighfive dengan partner kepercayaannya, Yoochun, yang juga jagoan basket tetapi masih belum bisa melakukan slam dunk yang selama ini hanya bisa dilakukan Yunho seorang.
Sementara ini tim dari kelas 3 masih memimpin jauh di depan dengan jeda angka yang jauh antara mereka dengan sang lawan.
Changmin yang sedari tadi berada di samping Jaejoong, merasa sedikit kesal saat namja cantik itu terlihat tersenyum-senyum sendiri saat memperhatikan aksi Yunho. Terlebih acapkali Yunho melakukan slam dunk, Jaejoong akan menatapnya meskipun dengan wajah datar, namun cahaya matanya tak berbohong. Ia sangat mengagumi Yunho, dan hal itu membuat Changmin tidak suka, sangat tidak suka!
"Aduuh!"
Tiba-tiba pertandingan dihentikan sesaat ketika ada pemain yang tumbang. Jaejoong sempat menggigit jarinya sebentar, namun kemudian menghela nafas lega saat mengetahui yang cedera ternyata anak kelas dua. Beberapa petugas UKS datang membawa tandu karena anak tersebut mengalami kram di kakinya. Orang-orang yang tadinya berkerumun cemas sekarang sudah menyebar kembali ke tempat mereka semula.
Pertandingan tidak lantas dilanjutkan, mereka sedang berdiskusi hendak melanjutkan pertandingan atau tidak karena tim dari kelas dua kekurangan orang. Banyak penonton yang meminta untuk berhenti saja karena sudah ketahuan siapa yang menang. Dan hal itu membuat Yunho tersenyum bangga dan penuh dengan kemenangan mutlak.
Mengetahui pertandingan pasti akan dihentikan, Jaejoong mulai menjauh dari lapangan yang masih ramai. Sekarang sudah waktunya istirahat pagi. Ia ingin menyepi sendirian, entah di halaman belakang, atap sekolah, atau kalau perlu di dalam gudang peralatan olahraga yang sangat sepi.
Tapi kemudian ia teringat Changmin.
Jaejoong berhenti melangkah, bingung harus mencari anak itu atau tidak. Aissh, sejak kapan ia peduli dengan Changmin? Namja itu hanya benalu serta parasit yang kerjanya hanya menempel dengannya.
"Mau hilang atau apa terserah lah, aku tak peduli," gumam Jaejoong sembari melanjutkan langkahnya... yang hanya beberapa langkah saja sudah harus terhenti.
"Priiit!" Saat terdengar kembali suara peluit dari arah lapangan. Ia berbalik dan matanya membesar ketika melihat Changmin berada di antara pemain-pemain tersebut. Ia masuk ke dalam tim kelas 2 hanya dengan mengenakan seragam sekolahnya yang membuatnya amat mencolok. Kini perhatian yeoja-yeoja Yunho lovers mulai terbagi-bagi, karena ternyata Changmin bisa bermain menyamai kemampuan Yunho!
"Heh, boleh juga kau," ucap Yunho sambil menghalang-halangi Changmin yang hendak memberikan umpan pada temannya.
Changmin hanya tersenyum, masih mendribble bolanya, mencari celah kosong. Dengan cekatan matanya menemukan satu titik di antara orang-orang yang sedang menggunakan taktik men to men. Dengan cepat ia melemparnya.
Sedetik lebih lambat, Yunho sadar bahwa anak di hadapannya bukan lawan biasa.
"Terkejut?" tanya Changmin dengan wajah polos. "Itu kan salahmu juga."
Yunho yang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Changmin hanya mengerutkan dahi. Ia kembali fokus pada permainan basketnya. Bola sekarang dibawa Yoochun. Namja itu mengisyaratkan Yunho untuk mencari tempat kosong. Yunho mengangguk dan mencari ruang tanpa pengganggu.
Setelah dirasa aman, Yoochun yang melindungi bola basket tersebut dengan mudahnya melemparkan dengan membumbung. Yunho tersenyum menunggu bola tersebut jatuh ke kedua tangannya.
Tap.
"Hap!"
Tetapi senyumnya pudar seketika saat itu juga sosok Changmin mendahuluinya dan mengambil alih bola tersebut. "Jangan santai, kau pikir cuma kau yang hebat di sini?" ujarnya sambil berlalu, mendribble bola ke arah ring. Untuk beberapa detik Yunho tertegun. Ia merasa sedikit termakan dengan ucapan Changmin.
"Yaa, Yunho! Kenapa kau diam saja di sana?" teriak Yoochun yang berada beberapa meter di belakangnya. Yunho tersadar dan segera mengejar Changmin.
Teriakan-teriakan yang mengelu-elukan Yunho mulai ramai dengan turut sertanya elu-eluan untuk Changmin. Bahkan untuk masalah seperti ini keduanya sudah mulai bersaing.
Changmin menatap kiri kanannya yang sudah tidak ada orang. Ia memang sengaja berputar-putar untuk membuat lawannya lemas. Untung saja ia terbiasa melakukan jogging, jadi lari adalah hal yang biasa untuknya.
"Kesempatan emas," bisik Changmin pada bola basket di dekapan tangannya. Ia berhenti sepersekian detik sebelum mengangkat tangannya tinggi-tinggi, melompat dengan bertumpu kuat pada kakinya... membuat para pemain, penonton, serta guru olahraga yang ada di sana terperangah ketika tubuh itu melayang di udara.
Bahkan Yunho ikut berhenti dan memandang takjub saat melihat dengan mata kepalanya sendiri namja itu mengangkat bolanya, memasukkan dengan luwes ke dalam ring, dan bergelantungan selama beberapa detik di sana. Ia berhasil membuat semua orang terperangah dengan melakukan slam dunk. Changmin tersenyum puas... sebelum pada akhirnya jatuh ke tanah.
Bruk.
Pendaratan yang tidak sempurna, sepertinya.
"Appoo..." Changmin mendesis sakit saat tubuhnya jatuh dengan pantat yang mencium lantai lapangan terlebih dahulu. Seketika terdengar riuh para yeoja yang mulai sekarang akan mengabdikan diri mereka menjadi fans Max Changmin. Mereka menjerit-jerit dan mengatakan bahwa permainannya tadi sangat keren.
Yunho masih tidak bisa bergerak saat mengetahui bahwa ternyata di sekolah ini ada seseorang yang bisa menyamainya. Bahkan saat melompat tadi dalam melakukan slam dunk, ia mengakui namja bernama Changmin itu melakukannya dengan amat bagus.
Ia mendekati Changmin yang masih terjatuh dan mengulurkan tangannya. "Berdirilah."
Tanpa segan diraihnya tangan itu dan ia mulai berdiri, menyeimbangkan tubuhnya. "Gomawo."
"Tak masalah," balas Yunho. "Ngomong-ngomong permainanmu bagus sekali."
Changmin tiba-tiba mengusap belakang kepalanya dengan raut wajah aneh. Ia punya kebiasaan berbesar kepala saat dipuji. Itu adalah kebiasaannya yang paling menyebalkan.
"Terima kasih," jawabnya pendek.
Yunho yang entah mengapa begitu tertarik dengan kemampuan Changmin sudah berniat sekali hendak menginterogasinya dengan berbagai pertanyaan, termasuk bagaimana caranya Changmin bisa melakukan slam dunk dengan gerakan super smooth. Namun tiba-tiba seseorang datang dengan wajah kesal dan mengomeli Changmin.
Yang tidak lain adalah Kim Jaejoong.
"Apa yang kau lakukan? Bertindak seenaknya tanpa berpikir! Coba kulihat pantatmu, jatuh seperti tadi bisa membuat tulang ekormu patah!" omel Jaejoong sambil memukul kepala Changmin. Ia memutar-mutar tubuh Changmin dan memperhatikan pantat anak itu yang tentu saja tertutup celana.
"Yah, yah, yah, aku baik-baik saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan," ucap Changmin sambil mengeluarkan senyuman 100 watt yang mampu membutakan setiap pasang mata yang memandangnya.
Jaejoong memukul kepalanya sekali lagi dengan lebih keras, membuat Changmin meringis kembali sambil memegangi kepalanya yang terasa nyut-nyutan setelah menerima jitakan maut namja cantik itu.
Yunho yang menyaksikan kejadian itu hanya diam sambil kemudian tersenyum. Kalau dipikir-pikir Jaejoong dan Changmin lucu juga.
"Mirip ibu dan anak," gumam Yunho tanpa sadar. Ia terkekeh pelan sambil mengusap-usap dagunya.
Jaejoong tersentak kaget begitu mendengar suara Yunho, yang ternyata sosoknya sudah ada persis di hadapannya. "Mwo? Siapa yang ibu dan anak?"
Yunho terkekeh kembali, "Tentu saja kau dan Changmin."
Kalau Changmin adalah sebuah boneka ajaib mirip Pinokio, pasti sekarang kepalanya sudah membesar sendiri dengan sombongnya. Tangan panjangnya itu menyilang di depan dada dengan pose sok.
"You have no idea how... AAAH!" Tetapi sebelum ia sempat berbicara macam-macam, Jaejoong keburu menariknya kasar menjauh sejauh-jauhnya dari Yunho. Ia tidak ingin namja itu menemukan wajahnya yang mendadak semerah buah naga sekarang.
Meninggalkan Yunho yang kebingungan.
"Kalau kau bicara macam-macam, kubunuh sekarang!" ancam Jaejoong pada namja yang lebih tinggi darinya itu.
Changmin kewalahan menyamakan langkah Jaejoong yang secepat burung unta tersebut. Ia berusaha membela diri. "Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa kau dan aku benar-benar ibu dan anak."
"Ya, ya, ya," seru Jaejoong yang mulai bosan dengan ocehan Changmin. Sepertinya hari ini ia harus mengawasi anak itu seharian agar tidak mengatakan hal yang aneh-aneh tentang dirinya. Apa yang dikatakan orang-orang jika Changmin berkoar-koar tentang status mereka yang (menurut Changmin) adalah ibu dan anak?
Yeah, and pigs can fly...
.
.
"Ge, apa menurutmu Joongie akan memaafkanku?" tanya Heechul yang sibuk memanggang BBQ favorit anak satu-satunya tersebut. Hangeng yang sedang menyetrika jas yang harus dipakainya ke kantor sebentar lagi itu hanya menganggukkan kepalanya pelan. "GEGE!"
"Aiish, lengkinganmu itu, Yeobo... err..." Hangeng bingung harus mendeskripsikan seperti apa lengkingan yang hampir setiap hari merusak gendang telinganya tersebut. Ia tidak paham bahasa puitis Korea karena sejatinya ia merupakan orang asli China. Tapi mau dibuat puitis pun... memangnya ada kata-kata puitis yang dapat menggambarkan seramnya nada tinggi milik Kim Heechul?
"Apa? Kau mau bilang lengkinganku kenapa?" tanya Heechul dengan tatapan menusuk, membuat Hangeng menggeleng-gelengkan kepala dan menciut seketika. Namja cantik itu mematikan panggangan dan mulai menata BBQ dengan cantik di atas piring.
Meja ruang makan sudah dipenuhi makanan yang ditata dengan amat cantik hasil dari kerja Ny. Heechul yang dibantu oleh Tn. Hangeng. Tinggal menunggu Jaejoong pulang saja maka acara makan malam keluarga yang so sweet (menurut pendapat Heechul) ini pun dapat terselenggara.
Heechul menatap jam di dinding. Pukul tujuh lebih sepuluh malam. Ia dan Hangeng tidak terkejut mengetahui Jaejoong sering pulang malam, asalkan ia masih kembali hidup-hidup.
Dan mengenai perampasan kaset Kill Bill 2 kemarin yang membuat Jaejoong kesal, Heechul malah berniat untuk menghadiahi anak kesayangannya itu dua keping DVD seri terbaru South Park dan Happy Tree Friends, yang tentu saja membuat Hangeng hanya bisa terperangah sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Seingat Heechul, Jaejoong sudah menonton South Park dan HTF sejak ia kecil, bahkan sejak Heechul mengandung pun... ia sering ngidam menonton dua acara psycho tersebut. Makannya jangan heran begitu mengetahui seperti apa perkembangan Jaejoong dewasa.
"Aku pulang!"
Terdengar teriakan dari depan pintu yang dikunci. Heechul yang mendengarnya segera berlari ke pintu utama dengan semangat, diikuti oleh sang suami tercinta yang sedang terheran-heran dalam hati.
'Untuk apa Jaejoong pulang lewat pintu depan selama jendela kamarnya masih ada?' Tapi sebentar kemudian namja berumur yang terlihat macho tersebut hanya tersenyum, tidak ingin berburuk sangka. Yah, siapa tahu Jaejoong sudah terbuka pintu hatinya.
Dengan dua keping DVD di tangan kirinya, Heechul langsung memutar kunci dan membuka pintunya semangat. Kedua tangannya sudah melebar hendak memeluk erat anak kesayangannya.
"Joongie baby, maafkan Um-"
Bruk.
Sebuah tubuh terhempas ke pelukan Heechul dan memeluknya erat, kemudian sebuah suara cempreng yang asing membahana di dalam rumah keluarga Kim.
"HALMONI...!"
Heechul mematung, sementara dua buah kaset digenggamannya jatuh bebas ke lantai keramik. Beberapa detik kemudian ia membelalakan matanya, kaget bukan main melihat anak yang dipeluknya adalah entah anak milik siapa. Dan... tunggu! Halmoni?
DIA BELUM SETUA ITU!
.
.
Author's Note: Next aja yaah~
Love, love, love,
Hareth.
