Tittle : Bonded By Food

Pairing : ChangKyu, EunHae, dll (akan bertambah sesuai alur cerita)

Rate : T

Genre : BoysLove, Fantasy, Romance, Comedy

Lenght : Chapter

Summary : Changmin dan Kyuhyun selalu saja bertengkar. Hingga kemudian mereka meminum Love Me, air mineral ajaib yang membuat mereka terikat satu sama lain.

.

.

.

ENJOY IT!

.

.

.

"Hahahaha...!"

Minho sontak menoleh ke pintu yang baru saja terbuka. Dilihatnya sang kakak, Changmin, tengah tertawa riang.

"Apakah ada sesuatu yang lucu di sekolah, hingga kau tertawa begitu keras, hyung?" tanyanya.

"Hahaha... Ne! Ini saaaaaangat lucu! Hahaha..." jawab Changmin masih dengan tertawa.

Minho lebih memilih mengacuhkan tingkah Changmin yang aneh itu, dan kembali menaruh atensinya pada majalah sport yang tadi dibacanya.

Sementara Changmin masih saja tertawa. Rasanya begitu geli melihat Kyuhyun kebingungan menahan pedas.

Ya, ialah yang menuang cabai bubuk satu botol penuh ke dalam kimchi yang dimakan Kyuhyun. Dan itu jugalah yang menyebabkan Yunho mengejar-ngejarnya –dengan penuh kemarahan kalau perlu ditambahkan– tadi siang.

Haaah... dasar evil...

Tiba-tiba tawa Changmin terhenti ketika dirasakannya perutnya berbunyi.

"Minho-ya, Umma masak apa hari ini?" tanya Changmin seraya berjalan ke meja makan.

"Kau lihat saja sendiri." jawab Minho acuh.

Changmin segera membuka tudung saji di meja makan. Matanya berbinar-binar mendapati begitu banyak makanan tersaji disana.

"Huaaah! Itadakimasu!"

Tanpa berlama-lama, Changmin langsung menyantap makanan yang dijamin lezat itu.

Satu piring...

Dua piring...

Tiga piring...

Empat piring...

E-ehm... Li-lima piring...

Selesai dengan piring kelimanya, Changmin menatap bingung pada perutnya.

"Kenapa tidak kenyang-kenyang juga, sih?! Aish!" diacak-acaknya rambutnya dengan kesal.

"Omo! Hyung, kau makan lima porsi?!" Minho yang baru saja mau makan, terkejut mendapati lima tumpuk piring bekas makanan Changmin di meja makan.

Changmin mendesah gusar. Rasanya tadi pagi ia sudah sarapan kok! Ditambah tadi siang ia makan cukup banyak di sekolah. Tapi kenapa malam ini, ketika ia merasakan lapar, lima porsi pun tak cukup?!

"Huaaa...! Minho-ya...! apa yang terjadi padakuu?! Huaaa...!"

Minho sweatdrop melihat hyungnya bertingkah OOC seperti itu. Namun tetap saja ia ikut bingung. Serakus-rakusnya Changmin, lima porsi itu minimal untuk sehari. Bukan sekali makan seperti ini!

"Mungkin kau sedang sakit, hyung." tebak Minho.

"Sakit? Aku sehat-sehat saja kok!" bantah Changmin.

"Hmm... Coba kau pikir-pikir lagi. Mungkin... terjadi sesuatu padamu hari ini?"

Changmin terdiam, berpikir.

"Ah!" pekik Changmin kemudian. Membuat Minho menoleh ke arahnya.

"Sepertinya aku tau sesuatu!" lanjutnya. Ia pun segera berlari keluar rumah.

'Ya. Pasti karena itu!'

.

Sementara itu, di kediaman keluarga Cho...

.

"Appa... Cepat pimpin do'anya... Aku sudah tak sabar ingin mencicipi masakan Umma..." rengek Kyuhyun ketika Tn Cho baru saja duduk di kursi makan.

"Hahaha... Baiklah, mari kita mulai do'anya." ucap Tn. Cho, kemudian dilanjutkan dengan lantunan do'a.

"Selamat makan!"

Keluarga Cho makan dengan tenang. Namun tidak dengan Kyuhyun. Ia terlihat sangat kelaparan.

"Umma, aku mau tambah." ujarnya seraya menyodorkan piringnya yang kini sudah tandas.

"Eh... Tumben sekali kau minta tambah." Ny. Cho meraih piring Kyuhyun dan mulai mengisinya dengan nasi dan lauk.

"Hehehe... Aku lapar sekali, Umma..." jawab Kyuhyun dan kembali melanjutkan makannya.

Sama seperti Changmin. Hingga porsi keempat, Kyuhyun belum juga merasa kenyang.

Tn. Cho, Ny. Cho, dan Cho Ahra, menatap heran pada si bungsu yang masih memakan makanannya dengan lahap.

Setelah piring keempatnya habis, Kyuhyun mengetuk-ketukkan telunjuknya pada piring yang telah kosong di depannya. Menimbulkan bunyi 'tuk-tuk' kecil. Kyuhyun bingung. Ia berpikir...

"Ini aneh... Ada apa dengan perutku?" gumamnya pelan. Hingga yang lain tak dapat mendengarnya.

"Sejak kapan uri Kyu jadi food monster seperti ini?" dahi Ahra berkerut heran.

"Mungkinkah terjadi sesuatu pada perutmu? Perlukah kita pergi ke dokter?" tanya Ny. Cho khawatir.

"Hmmf... Aniya, Umma. Nan gwenchana..." jawab Kyuhyun. "Mungkin aku memang sedang lapar berat. Hehehe..."

Tok! Tok! Tok!

Mendengarnya, Ahra segera beranjak untuk membukakan pintu, namun Kyuhyun menahannya.

"Biar aku saja, Noona."

Kyuhyunpun pergi ke ruang tamu. Dibukanya pintu itu.

"Shim Changmin?"

"Kyuhyun-ah, aku perlu bicara denganmu." ucap sang tamu yang ternyata Changmin itu.

"Eung... Sepertinya aku juga perlu bicara denganmu."

Kyuhyun segera keluar dan menutup pintu di belakangnya. Ia melangkah menuju sebuah taman kecil di samping rumahnya. Changmin mengikuti dari belakang. Mereka duduk di sepasang ayunan biru yang cat nya mulai mengelupas disana-sini.

"Sesuatu yang aneh terjadi padaku." ucap Kyuhyun. Sepasang kakinya bergerak pelan. Membuat ayunan itu ikut bergerak maju-mundur.

Changmin hanya diam. Membiarkan Kyuhyun melanjutkan ucapannya.

"Malam ini perutku terasa sangat lapar. Bahkan sampai sekarang masih saja lapar."

Changmin tersentak. "Eh?! Jadi kau juga seperti itu?!"

Kyuhyun menoleh. "Kau juga?!"

"Sepertinya memang telah terjadi sesuatu pada kita!"

"Iya! Aku tau! Tapi apa yang membuat kita menjadi monster makanan seperti ini?!"

Keduanya terdiam.

"Apakah ada hubungannya dengan air minum tadi?" ucap Changmin akhirnya. Mengeluarkan pemikirannya sejak dari rumah tadi.

"Air minum?" tanya Kyuhyun bingung.

"Ne. Air minum yang aku dapat darimu tadi siang. Disana tertulis : Dua orang yang meminum masing-masing botol akan terikat satu sama lain." Changmin menjelaskan. "Apakah kau juga meminum air minum yang sama?"

"Ah! Jadi itu... Ne, aku juga meminum air itu sebelumnya! Lagipula di kedai penjualnya hanya tersisa dua."

"Dua...?"

'Hanya tersedia di toko tertentu, dan hanya terdapat dua botol di setiap toko.'

"Ne. Hanya ada dua. Ada apa?"

"Ah! Pasti karena itu! Ayo kita cari botolnya! Siapa tau disana ada petunjuk!" Changmin beranjak dan menggandeng tangan Kyuhyun dengan refleks. Namun Kyuhyun menahannya.

"Kemana kita mencari botol itu?"

"Aku membuang botolnya di tempat sampah tempat parkir sekolah."

"Eum! Baiklah!"

Dan merekapun segera berlari menuju sekolah yang berjarak 30 meter dari sana...

... Masih dengan tangan yang saling bertautan.

.

"Hyukie... Mereka berdua namja!"

"Lalu kenapa kalu mereka namja, Hae-ya?"

"Eeung... Tidak sih. Tapi kalau itu bereaksi pada mereka, bagaimana?"

"Hmm... Kurasa itu tak masalah. Ramuan itu hanya akan bereaksi jika benar ada cinta di antara mereka. Tapi bila mereka memang tidak berjodoh, tidak akan terjadi masalah apapun kok! Kau tenang saja, ne..."

"Baiklah. Aku akan coba untuk percaya padamu. Tapi kalau Choi songsaenim tau, aku tidak ikut-ikut ya!"

"Hmmf... Iya deh..."

.

"Aku yakin, kok, tadi kubuang disini!"

"Coba kau ingat-ingat lagi!"

"Aku yakin sekali, Kyu!"

Kyuhyun mendesah putus asa. Ia dan Changmin telah mencari di seluruh tempat sampah di sekolah –karena tak mendapati botol yang dicari di tempat sampah parkiran. Dan mereka akhirnya kembali lagi ke parkiran.

Changmin menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya melalui mulut. Mencoba membuat pikirannya tenang.

"Meow... meow..."

Klontang!

Kedua namja tinggi itu menoleh serempak ke belakang. Terdapat seekor kucing berwarna abu-abu gelap disana. Juga sesuatu yang sedang dimainkan oleh sang kucing, yang membuat mereka memekik senang.

"Botolnya!"

Segera saja Changmin mengambil botol kosong itu. Botol yang kini dipenuhi goresan –akibat cakaran sang kucing.

Kyuhyun ikut bergabung untuk melihat botol tersebut.

'Customer Service : NO CALLING! Langsung datang ke tempat produksi : Prof. Dr. Hyukjae Lee., Jl. Ros Sharon, Nowon, Korea Selatan.'

"Apa? Tidak ada nomor telepon yang bisa dihubungi?! Gila! Apa perusahaan air minum itu terlalu miskin untuk membeli sebuah ponsel bekas?!" seru Kyuhyun dengan mata melotot.

"Haah... Sepertinya tidak ada cara lain. Kita harus kesana!" Changmin pasrah.

"Tapi ini sudah malam, Min. Dan perutku masih terasa lapar!" Kyuhyun mengelus pelan perutnya, yang semenit yang lalu kembali berbunyi.

Changmin berdecak sebal. "Memangnya hanya kau?! Aku juga, tau! Aish! Ini menyebalkan! Kenapa aku harus terikat denganmu, sih?! Tidak level sekali!"

"Yah! Memangnya aku mau terikat dengan namja menyebalkan sepertimu!" Kyuhyun berkacak pinggang.

Sesaat mereka hanya diam.

"Sudahlah!" ucap Changmin akhirnya. "Tidak ada gunanya kita bertengkar saat ini!"

"Hng... Kau benar. Jadi bagaimana? Kita harus menunggu sampai besok?"

"Sepertinya tidak ada pilihan lain. Sudah setengah sepuluh. Dan Nowon itu cukup jauh dari sini."

"Setengah sepuluh?! Jadi kita menghabiskan waktu dua jam hanya untuk mencari botol minuman aneh itu?!" Kyuhyun mencak-mencak(?)

"Sebaiknya kita pulang sekarang. Kita butuh istirahat untuk pencarian kita besok." Changmin hampir melangkah pergi ketika dirasakannya tangan Kyuhyun menahannya. Ditatapnya Kyuhyun dengan penuh tanya.

"Eum... Ada baiknya kita memiliki nomor masing-masing."

Changmin mengangguk. "Yah... Kurasa kau benar. Kemarikan poselmu!"

Kyuhyun segera mengambil ponselnya dari saku celananya, lalu menyerahkannya pada Changmin.

Selesai mengetikkan nomornya di ponsel Kyuhyun, Changmin pun mengembalikan ponsel pintar itu pada pemiliknya.

"Aku tidak bawa ponsel. Nanti saja kirimi aku pesan atau misscall."

"Hm, baiklah. Hoahm... Ayo pulang! Aku lelah. Dan..."

Kruyuk...

"...lapar."

"Ugh... Perutku juga sangat lapar." keluh Changmin, mengelus perutnya.

"Besok kita harus menemukan obatnya!"

"Ya! Harus!"

.

"Darimana saja, Kyu? Dan tamu tadi siapa?" tanya Ny. Cho setelah Kyuhyun memasuki pintu.

"Hmm... Hanya pergi sebentar ke suatu tempat. Dan yang barusan... ugh, bolehkah aku tak menjawabnya saja?" jawab Kyuhyun malas.

Ny. Cho mengangkat sebelah alisnya.

"Oke... Lalu, apakah perutmu amsih terasa lapar?"

"A-ah... itu... sudah tidak lapar lagi, kok, Umma. Hehehe..." Kyuhyun tersenyum paksa.

"Baiklah. Kalau terjadi sesuatu denganmu, jangan sungkan untuk membicarakannya dengan Umma, ne? Kau sudah menjadi anakku selama 17 tahun 6 bulan."

"Umma! Umurku baru 16 tahun lebih 9 bulan!"

"Tapi ketika kau ada di perut Umma, kau sudah menjadi anak Umma, Kyuhyun-ah..."

Kali ini Kyuhyun tersenyum tanpa terpaksa.

"Gomawo, Umma. Aku pasti akan menceritakan masalahku pada Umma kok!"

'Tapi tidak untuk saat ini.' lanjutnya dalam hati.

"Ne. Cepat masuk ke kamarmu dan pergi tidur!"

"Ne, arraso..."

Menuruti perintah sang Umma, Kyuhyunpun segera masuk ke kamarnya. Setelah mencuci wajahnya dan menyikat gigi, ia merebahkan tubuhnya ke ranjang.

Baru saja kedua kelopak matanya akan terpejam, ia segera ingat sesuatu.

Diambilnya ponselnya dari bawah bantal, lalu mulai mengetikkan sesuatu disana.

"Max... Changmin? Hah, apakah tidak ada nama lain yang lebih konyol dari ini?" gumamnya.

Setelah menekan 'send', Kyuhyun meletakkan kembali ponselnya. Hingga tak lama kemudian ponselnya bergetar.

...

From : Max Changmin! B)

Ne.

...

"Apa? Hanya begini balasannya? Ugh... Dasar jerapah afrika!"

.

.

.

Pagi yang ramai namun damai.

Terdengar cicitan burung-burung gereja yang bertengger di dahan pepohonan, suara bel sepeda tua milik tukang pos, teriakan riang anak-anak yang tengah bermain bersama, dan gemericik air yang mengalir dari pancuran yang terletak di halaman rumah .

Namun semua kedamaian itu tak berlaku untuk seorang namja yang masih tertidur dengan bergelung selimut tebal.

Ah, ia tak tidur rupanya. Tepatnya, ia ingin tidur. Dan sejak tadi malam perutnya tak berhenti berbunyi.

Disibaknya selimut buatan Turki itu dengan kasar. Lalu ia mendudukkan dirinya, dan bersandar pada bedboard.

Ia mengusap kasar wajahnya. Frustasi.

Andai saja ia tak membeli –dan meminum– dan Changmin tak merebut salah satu dari air mineral aneh itu, mungkin semua tak akan seperti ini.

Dan andai saja ia tak menerima kimchi pedas dari yeoja culun kemarin, ia tak akan meminum air mineral bermerk Love Me itu.

Ia mengerang kesal memikirkannya.

"Kyuu! Ireona! Cepat mandi atau kau akan terlambat!"

Terdengar suara Ummanya yang melengking. Membuat namja bernama Cho Kyuhyun itu memutuskan untuk pergi mandi.

.

"Kyu!" sekali lagi Henry mengguncang bahu Kyuhyun. Kyuhyun nampak tak fokus seharian ini. Namja itu hanya duduk dengan menopang dagu, sementara pikirannya entah berkelana kemana.

Hingga terdengar bunyi bel tiga kali, pertanda bahwa seluruh pelajaran pada hari ini selesai sudah.

"Kau ada masalah, Kyu?" tanya Henry pada Kyuhyun ketika keduanya berjalan bersama di koridor sekolah.

"Hng? A-ani. Nan gwenchanayo." Kyuhyun tersenyum menutupi.

"Kau itu... Kalau ada masalah, bicarakanlah denganku. Mungkin aku bisa membantu."

Kyuhyun hanya mengangguk. Pandangannya beralih ke arah lapangan outdoor. Para pemain basket tengah melakukan latihan untuk mempersiapkan pertandingan esok hari.

Tatapan Kyuhyun langsung tertuju pada seorang namja jangkung yang sedang berlari-lari, mencoba merebut bola. Namun selalu saja gagal.

'Changmin kelihatan lelah. Dia jadi tidak fokus dengan latihannya.' gumam Kyuhyun dalam hati.

"Henry-ya, kau duluan saja, ne! Aku masih ada urusan disini."

"Ah, gurae? Baiklah, hati-hati, Kyu!"

Selepas kepulangan Henry, Kyuhyun segera berlari kecil ke pinggir lapangan.

"Shim Changmin!" panggilnya.

Sontak sang pemilik nama langsung menoleh.

"Kyuhyun-ah?"

Changmin terlihat berbicara dengan Yunho, lalu menghampiri Kyuhyun.

"Apa masih lama latihannya?" tanya Kyuhyun.

"Hm... Yunho hyung bilang latihan akan selesai dua jam lagi." jawab Changmin seraya menyeka keringat yang meluncur dari pelipisnya.

"Apa? Selama itu? Lalu bagaimana dengan rencana kita kemarin?!"

Changmin menggaruk kepalanya. "Aku... akan mencoba membicarakannya dengan yang lain. Mungkin pangkatku sebagai ketua tim, bisa membantu."

"Ya sudah. Cepat sana!"

Changmin mendengus. Tak bisakah namja Cho ini berkata dengan nada biasa ketika berbicara dengannya?

Tanpa berlama-lama, Changmin kembali ke lapangan.

"Hmm... Yeorobun, bisakah aku pergi sekarang?" tanyanya pada anggota yang lain.

"Memangnya ada apa, Min? Kau mau kemana?" tanya Yunho menwakili.

"Eung... Itu... aku dan Kyuhyun harus..." bola mata Changmin bergerak-gerak gelisah, bingung harus mengatakan apa. Kalau dijelaskan tentu mereka tak akan percaya.

Mereka semua saling berpandangan penuh arti.

"Aah... Gurae... Tentu kau boleh pergi sekarang, Kapten! Selamat bersenang-senang!"

Changmin mengernyit melihat teman-temannya tersenyum seperti sedang –dan memang– menggodanya. Tapi ia memutuskan untuk mengabaikannya dan pergi mengambil tasnya.

"Dasar anak itu. Kenapa tidak pernah bilang kalau dia sudah punya pacar?" pikir para anggota tim basket.

"Kajja! Kita pergi sekarang!" ajak Changmin setelah sampai di depan Kyuhyun.

"Badanmu bau, Min. Kau yakin ingin pergi dengan seperti itu?" Kyuhyun menutup hidungnya.

"Ck! Kau itu! Baik... baik... Aku akan ganti baju dulu di toilet. Kau mau ikut?" ucap Changmin sambil memainkan alisnya.

"Yah! Apa-apaan kau?! Aku tunggu di parkiran saja! Lima menit!" Kyuhyun segera pergi dengan semburat merah membias di kedua pipinya.

~ Lima menit kemudian~

"Hm... Tepat waktu." ucap Kyuhyun sambil melirik jam tangannya.

Changmin yang baru saja kembali dari toilet untuk mengganti seragam basket dengan seragam sekolah, memutar bola matanya malas.

"Kau bawa botolnya?" tanyanya.

Tanpa menjawab, Kyuhyun merogoh tasnya untuk mengambil botol 'terkutuk' itu, lalu diberikannya pada Changmin.

"Nowon... Okay! Kita pergi sekarang!" Changmin segera menghampiri motornya. Dipakainya helm fullface berwarna merah miliknya. Tak lupa ia menyodorkan helm lain dengan warna biru pada Kyuhyun.

"Ready?" tanya Changmin dari balik helmnya.

"Of course YES!" jawab Kyuhyun berseru.

"LET'S GOOOO!"

.

"Kau yakin ini tempatnya?"

Changmin menatap sekitar. Hanya ada tanah kosong disana. Kecuali sebuah rumah sederhana bercat cream di sisi kiri jalan.

"Eum! Menurut alamatnya, ini benar rumah produksinya kok!" Kyuhyun kembali membaca bagian informasi di botol kosong itu.

"Baiklah. Ayo kita masuk!"

Mereka berdua pun berjalan menuju rumah yang nampak sepi itu. Changmin mengetuk pintu dari kayu jati itu dengan pelan, takut tepatnya.

"Ne! Chamkaman!" seru suara dari dalam.

CKLEK!

"Ah, ne, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang namja berambut pirang yang diperkirakan merupakan sang pemilik rumah.

"Nngg... Apa benar ini rumah produksi air mineral merk Love Me?" tanya Changmin lirih.

"Ah! Exactly! Selamat datang di rumah produksi air mineral Love Me!"

Kyuhyun sweatdrop melihat namja aneh itu.

"Eung, jadi... Anda Lee Hyukjae-ssi?" tanya Changmin lagi. Kali ini sudah lebih berani.

"Ne, joneun Hyukjae imnida." Sang namja yang ternyata adalah Lee Hyukjae itu tersenyum lebar. Hingga menampilkan gusi merah muda miliknya.

"Joneun Changmin imnida. Dan yang disebelahku ini Cho Kyu-"

"Kau terlalu lama, Changmin-ah! Yaa! Hyukjae-ssi! Cepat beritahu kami bagaimana cara menghilangkan kutukan ini!" Kyuhyun memotong dengan bentakannya.

Changmin dan Hyukjae menciut dibuatnya.

"A-ah... Ku-kutukan?" Hyukjae bertanya takut-takut.

"Ne. Jadi begini, setelah meminum air mineral produk anda, setiap kami makan, berapa kalipun itu, kami tak bisa merasakan kenyang." jelas Changmin.

Walau sebenarnya ia juga sangat ingin 'menghabisi' namja berambut blonde di depannya ini –yang bahkan tak menyuruh tamunya masuk dan membiarkannya berdiri di depan pintu– dengan lidah tajamnya yang tak jauh berbeda dari Kyuhyun, namun ia rasa berbuat ramah mungkin bisa lebih membantu.

"Y-yeah... Lalu?" Hyukjae membenarkan.

"Lalu bagaimana cara menghilangkannya? Kami tidak bisa terus-terusan merasa lapar."

"Umumnya hal ini hanya akan berlangsung dalam semalam. Tapi sepertinya kalian mengalami hal yang tidak umum. Hehehe..."

"Maksud anda?"

"Begini... Pada beberapa produk kami, memang kadang terjadi kecacatan yang menyebabkan suatu hal yang... yeah, seperti yang kalian alami ini. Namun itu bisa dihilangkan, kok!"

"Caranya?!" kali ini Kyuhyun menyahut antusias.

Hyukjae menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Efek samping ini akan hilang setelah kurang lebih dua sampai empat minggu..."

"Maksudmu kami harus terus kelaparan sampai satu bulan, begitu?! Yang benar saja!"

Hyukjae mendelik ke arah Kyuhyun. "Aku belum selesai, bodoh! Ah, maksudku, Cho Kyu-ssi. Untuk menghilangkan rasa lapar itu, kalian harus makan dengan saling menyuapi."

"Setiap makan kami harus saling menyuapi?!" pekik Kyuhyun dan Changmin dengan mata membulat sebulat-bulatnya.

"Begitulah..."

"Kau bercanda?! Pasti ada obatnya, kan?! Katakan! Cepat katakan!" Kyuhyun mengguncang kedua bahu Hyukjae.

"Kyu! Hentikan!" Changmin melepaskan tangan Kyuhyun dari Hyukjae. "Maaf, tapi kami tidak percaya pada anda, Hyukjae-ssi. Pasti ini hanya keisengan anda saja, bukan? Kyuhyun-ah, Kajja, kita pulang! Pasti ada sesuatu yang logis yang dapat menjelaskan keadaan kita!"

Kyuhyun memicing tajam pada Hyukjae sebelum ikut pergi bersama Changmin.

Sedangkan Hyukjae hanya mengangkat bahunya acuh.

.

"Bagaimana, Hyukie?"

"Kurasa mereka benar-benar jodoh. Efek minuman itu terjadi pada mereka. Dari enam botol yang kita sebarkan, baru mereka berdua saja yang berhasil."

"Tapi... bagaimana kalau efek itu tak dapat dihilangkan?"

"Hmm... Molla. Semoga saja percobaan sihir kita berhasil. Karena sampai sekarang aku belum menemukan mantra atau ramuan yang cocok sebagai penangkalnya."

"Yah! Kau itu! Ya sudahlah. Terserahmu saja! Kalau Choi songsaenim tau, aku tidak ikut-ikutan!"

"Hae chagi-ya... Kau kejam~"

"Biarin! Memangnya aku peduli...?!"

.

Malam ini terasa teramat sangat sulit bagi Cho Kyuhyun –dan juga Shim Changmin– untuk memejamkan matanya. Perutnya terus-terusan berbunyi minta diisi. Dan yang menyebalkannya, walaupun diisi satu truk penuh donatpun, perutnya masih saja keroncongan.

"Ugh... Lapar... Umma..."

Dielusnya perut ratanya dengan sedikit frustasi.

"Kalau kelaparan seperti ini, bagaimana aku bisa fokus dengan sekolahku besok? Ugh... Lapar..."

Eh? Tunggu sebentar!

"Besok... Bukankah Changmin ada pertandingan basket besok? Kalau lapar begini bagaimana dia bisa bermain dengan benar?! Aish...!"

"Untuk menghilangkan rasa lapar itu, kalian harus makan dengan saling menyuapi."

Kembali terngiang ucapan Hyukjae tadi siang.

"Hmmf... Baiklah. Tidak ada salahnya mencoba."

.

.

.

Esok paginya...

"Min-ah? Apa kau sedang sakit?" tanya Yunho khawatir karena melihat wajah sang kapten tim basket itu terlihat pucat. Bahkan ketika yang lainnya sedang melakukan pemanasan dengan antusiasme tinggi, Changmin hanya melakukannya dengan malas-malasan dan lemas.

"Ani, aku hanya lapar." jawab Changmin jujur. Membuat Yunho tertawa mendengarnya.

"Aaah... Aku tau! Pasti kau sedang ada masalah dengan Kyuhyun-ssi setelah kencan kalian kemarin!" tebak Yunho, terlihat sangat pasti.

"Mwo?! Yaa, Hyung! Kemarin kami tidak– "

"Changmin-ah!"

Kedua namja tinggi itu menoleh pada asal suara. Terlihat Kyuhyun tengah berlari ke arah mereka dengan sebuah kotak bekal makanan di tangannya.

"Hey! Ada apa?" tanya Changmin bingung.

Kyuhyun masih berusaha menetralkan nafasnya yang terengah-engah, kamudian menjawab.

"Sudah! Jangan banyak bicara! Kau ikut aku sekarang juga!"

"Yah!"

Changmin tak jadi melontarkan protesnya karena Kyuhyun segera mengajaknya berlari saat itu juga.

Meninggalkan Yunho yang tengah menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Semoga mereka kembali sebelum pukul sepuluh."

.

"Yaa, bodoh! Apa-apaan kau manarikku seperti itu, hah?!" Changmin mengelus pergelangan tangannya yang memerah akibat tarikan Kyuhyun barusan.

"Aku tidak bodoh dan berhenti berteriak seperti yeoja, jerapah!"

Kyuhyun memeriksa keadaan sekitarnya, memastikan kalau hanya ada mereka berdua di tempat ini.

"Kenapa kau menarikku ke laboratorium Fisika?"

"Diamlah!" Kyuhyun mendudukkan dirinya di lantai lab. Fisika yang sedang kosong ini.

Changmin dengan penuh tanda tanya di otaknya, ikut duduk di depan Kyuhyun.

Kyuhyun segera membuka kotak bekalnya. Menampakkan nasi goreng beijing yang nampak lezat dan dua buah sendok yang dibungkus tisu. Kyuhyun mengambil salah satu sendok itu dan menyendok nasi gorengnya.

"Buka mulutmu!" perintahnya dengan tangan memegang sendok –yang mengambang di udara.

"A-apa?" Changmin mengangkat kedua alisnya bingung.

"Kubilang, buka mulutmu, jerapah afrika dungu!"

"Yaa hmmp! Nyam... nyam... nyam..." Changmin mengunyah nasi goreng yang disuapkan Kyuhyun secara paksa ke mulutnya.

'Ayolah... Semoga ini berhasil...' batin Kyuhyun harap-harap cemas.

Glek.

Changmin terdiam setelah menelan nasi gorengnya. Sedangkan Kyuhyun menatapnya dengan tatapan menunggu.

"Hey! Aku merasakan makanan ini masuk ke perutku!" ujar Changmin senang. Membuat Kyuhyun ikut senang.

"Kalau begitu, sekarang giliranku!" Kyuhyun membuka mulutnya, mengisyaratkan pada Changmin agar menyuapinya. Namun Changmin malah memiringkan sedikit kepalanya, bingung.

Kyuhyun merengut dibuatnya. "Yaa! Suapi aku!"

"H-hah? O-oke..." Changmin mengambil sendok lainnya, dan menyuapkan nasi goreng ke mulut Kyuhyun dengan sedikit segan –atau grogi?

Kyuhyun mengunyah makanannya dan menelannya perlahan.

"Kau benar! Makanan ini terasa masuk ke dalam perutku! Berbeda dengan makanan yang kumakan kemarin!"

Kembali disendoknya makanan buatan ayahnya itu, lalu menyuapkannya pada Changmin. Begitu juga dengan sebaliknya. Hingga akhirnya makanan itu tandas dalam dua menit.

"Hey, bukankah sebaiknya kau kembali melanjutkan pemanasanmu?" tanya Kyuhyun setelah meneguk air minumnya. Kali ini air biasa -_-

"Ah, kau benar. Sebaiknya aku kembali ke lapangan." Changmin beranjak. Kyuhyun mengikuti.

"Kau akan ke kelas?" tanya Changmin.

"Hmm... Molla. Saat ini kelasku harusnya sedang jam pelajaran olahraga. Tapi mengingat Kang songsaenim akan mengawasi jalannya pertandingan basketmu itu, kurasa aku tak akan membuat diriku bosan di kelas."

"Gurae? Bagaimana kalau kau melihat pertandinganku saja?"

Mungkin sebelumnya ia akan langsung menolak dengan tegas permintaan itu. Namun melihat Changmin sangat antusias, Kyuhyun mulai menimang-nimang.

"Baiklah... Kurasa melihat para jerapah afrika berlari-lari sambil mendribble bola, itu cukup menarik!" Kyuhyun berlari kencang setelah mengucapkan sederet kalimat itu. Menghindari Changmin yang mulai mengejarnya dengan aura membunuh. Keduanya tertawa lepas kemudian.

"Kau... hah... hah... cepat masuk dan beri aku kemenangan! hah... hah..." ucap Kyuhyun ngos-ngosan.

"Hah... hah... tentu! memangnya... hah... hah... aku pernah kalah?!" sahut Changmin.

"Kalau begitu buktikan padaku!" tantang Kyuhyun sambil menyilangkan tangan di dadanya.

"Fine! Tapi kalau aku menang, kau harus memberiku hadiah!" Changmin ikut menyilangkan tangannya.

"Hadiah?" Kyuhyun memiringkan sedikit kepalanya. "Memangnya apa yang ingin kau minta?"

"Eum..." Changmin bergumam dengan pose berpikir. " Bagaimana kalau... ciuman?"

"Hah?!" sontak Kyuhyun kaget mendengarnya. "Kau gila?! Lagipula untuk apa kau minta kucium?!"

"Hahaha... Aniya! Aku hanya bercanda! Mana mau bibirku yang seksi ini berciuman dengan bibir keritingmu! Eew... Tidak level!"

"Aish! Kau ini!"

Kyuhyun hampir saja menganiaya kepala Changmin kalau saja Changmin tak cepat-cepat masuk ke dalam lapangan.

.

Seperti biasa, team basket SMA Dongju menang telak atas pertandingannya.

Di antara teman-temannya yang tengah bersorak merayakan kemenangan mereka, Changmin memandang ke seluruh bangku penonton.

Tidak ada Kyuhyun di sana.

Dan rasanya... Ia kecewa.

"!" Changmin tersentak dengan pemikirannya barusan.

Apa?! Ia kecewa karena Kyuhyun tak menonton pertandingannya?!

'Ada apa denganmu, Shim Changmin? Apakah ini juga termasuk efek samping dari air minum aneh itu?'

"Yeorobun, aku mau ke UKS saja. Kurasa aku butuh istirahat." ucapnya pada yang lain.

"Ah, ne! Kau butuh istirahat, Kapten!"

"Baiklah! Aku duluan!"

Changmin berjalan dengan gontai ke UKS sekolah. Efek dari rasa lelahnya dan sebersit rasa kecewa yang masih terasa di hatinya –mungkin.

Sampai di UKS, segera direbahkannya tubuh tingginya itu di ranjang, setelah sebelumnya menyapa Ryeowook sang dokter jaga.

Ia sengaja memilih tempat yang paling pojok, tak lupa menutup tirai di sampingnya. Ia butuh privasi dan ketenangan saat ini.

Tak lama kemudian kedua kelopak matanya mulai menutup. Diikuti hembusan nafas pelan dan teratur.

"Ryeowook uisanim, aku butuh obat penghilang rasa pusing. Apakah ada?"

"Ah, tentu saja ada, Kyuhyun-ah. Kau ambil sendiri saja di tempat obat biasanya. Kali ini siapa yang sakit, hm?"

"Junsu-ie..." Kyuhyun, menjawab sambil berjalan ke arah tempat obat di bagian yang paling ujung.

"Hmm... Obat penghilang rasa pusing..." gumamnya. Tatapannya menelusuri satu persatu label obat yang ada di sana.

"Ah! Ketemu!" pekiknya –dengan berbisik– setelah menemukan obat yang dicarinya.

Kyuhyun berbalik dan akan mulai melangkah, kalau saja ujung matanya melihat seseorang yang tertidur pulas di atas ranjang.

Ia melangkah mendekat pada orang itu. Ujung bibirnya tertarik ke atas. Membentuk sebaris senyuman tipis.

"Hey, kudengar kau menang telak lagi hari ini."

Kyuhyun memandangi wajah orang tersebut, Changmin, sedikit lama dan dalam. Entah mengapa dirasakannya organ penunjang hidupnya berdegup lebih kencang dari normal.

Dan sesaat kemudian bibir merahnya telah mendarat sempurna di bibir tebal milik Changmin. Hanya kecupan singkat.

"Selamat atas kemenanganmu, Kapten!" bisiknya pelan sebelum pergi dari sana.

Tak lama setelah kepergian Kyuhyun, kedua iris hitam itu terlihat setelah bersembunyi di balik kelopaknya.

Tangan kanannya terangkat. Jari-jari panjangnya menyentuh bibirnya perlahan.

Tadi itu, terasa lembut.

Changmin menghela nafasnya pelan. Kembali memejamkan kedua matanya dengan lengan tangan kanannya yang kini ia letakkan di atas dahi. Berusaha menetralkan aliran darahnya yang tiba-tiba saja mengalir begitu cepat.

.

To Be Continued~

.

Chapter dua datang! :D

Hehehe... upadatenya lama ya? Mianhae, readerdeul! Habisnya JejeKyu disibukkan dengan acara silaturahmi –plus nyari angpao– ke rumah saudara ._.v Jadinya baru bisa update hari ini...

Bagaimana chapter dua-nya? Yang ini lebih panjang, 17 page Ms. Word -_- Mengecewakan kah? Semoga saja tidak T.T

Dan gomawo untuk reviewer di chap. satu kemarin! Love you so much!

Ini balasan review untuk kalian^^ :

Changmin loppie : ya lucu-lah... ChangKyu gitu,,, :3 ne, ini sudah dilanjut!^^

KimYcha Kyuu : he'em! bersatu dalam sebuah couple bernama ChangKyu!

SeenaPark : ne, ini sudah dilanjut!^^

bee Kuikui : hahaha! gomawo sudah mereview-minta-dilanjut!^^

FiWonKyu0201 : iya nih! semua yang ada disini memang gak jelas semua! *kabuurrr* ne, ini sudah dilanjut!^^

CHyun : ne, ini sudah dilanjut!^^

Yuuka Shim : iya! seru! apalagi nontonnya sambil makan popcorn! XD Bias JejeKyu bukan Changmin, tapi JejeKyu akan tetap membakar Yuu! :P ne, ini sudah dilanjut!^^

Blackyuline : sekarang udah nggak penasaran, kan? kekeke... dan biarlah Kyuhyun tidak mengetahui bahwa Changmin lah pelakunya! XD ne, ini sudah dilanjut!^^

Raina94 : ne, ini sudah dilanjut!^^

rikha-chan : kan JejeKyu adalah seorang pelawak di bidang perfanfict-an *apadeh -_-* ne, ini sudah dilanjut!^^

aninkyuelf : yang terjadi pada ChangKyu sudah diketahui di kan? hahaha... ne, gomawo. ini sudah dilanjut!^^

frosyita : sama kayak JejeKyu dong! *plak!*

rdhanar31 : ne, ini sudah dilanjut!^^

kyunda chan : jerapah afrika paling kece sedunia! XD ne, ini sudah dilanjut!^^

Kyunie ima : gomawo, ne, ini sudah dilanjut!^^

Nony : di chapter ini efeknya sudah keliatan kok! kekeke...

ratnasparkyu : tom yang jadi siapa? jerry yang jadi siapa? :P

Jmhyewon : di chap. ini udah ada banyak ChangKyu moment nya! ne, ini sudah dilanjut!^^

yoo : mian, klo JejeKyu updatenya lama T.T ne, ini sudah dilanjut!^^

wonkyufa : hahaha! ya! mereka terikat satu sama lain! *senyum evil* ne, ini sudah dilanjut!^^

Maknaelovers : yeah, air ajaib bikinannya Hyukjae... -_- nempel terus kayak perangko! wkwkwkw... ne, ini sudah dilanjut!^^

MySuperWon407 : penasaran tingkat tiangMin? XD ne, ini sudah dilanjut!^^

Kyuhyuk07 : ne, ini sudah dilanjut!^^

ShiXian Choi : di chap. ini udah banyak moment ChangKyu nya kan? Sebenernya sih FF ChangKyu gak bisa dibilang sedikit. Tapi sekarang udah mulai jarang ada yang buat. Maka dari itu, mari kita lestarikan FF CHANGKYU! :D ne, ini sudah dilanjut!^^

chandola : iya, nih. tumben JejeKyu punya ide bagus -_-+

somepeople : mungkin udah full chapter one kali ya? tau deh! XD *plakduaghbugh!* ne, ini sudah dilanjut!^^

.

Akhir kata,

Review ne?!^^

.