Segala permulaan pasti akan ada akhir. Segala cerita pasti akan ada akhir. Tapi, akhir akan kselalu menjadi suatu permulaan yang tak akan pernah terduga. Baik akhir yang indah atau pernah berkata bahwa jika aku memulai suatu permulaan aku pasti juga akan mendapat akhir dari permulaan itu. Dalam menjalaninya jangan pernah mencoba tuk menyerah. Seperti jika aku ingin menggapai impian di langit, ku juga harus di langit. Jangan sampai terjatuh,
I'll be up in the sky,
Sora ni Iru
Disclaimer: Tite Kubo
Chapter 2
Ichigo terbangun dari tidurnya. Ichigo sangat bersyukur bahwa dia masih hidup. Itu semua berkat gadis bermata violet itu. Memang dia bukanlah gadis yang lemah lembut seperti banyak gadis. Tapi, itulah yang membuat Ichigo sedikit tertarik pada seorang gadis. Padahal, selama ini Ichigo dikenal sebagai pangeran yang cuek. Berkali-kali kerajaan mengadakan pesta, tapi selalu membuat Ichigo diam dan tak peduli. Padahal banyak gadis yang mengajaknya menari maupun berdansa. Walau Ichigo selalu mau diajak menari gadis-gadis dari kalangan bangsawan itu, tetapi, tetap saja Ichigo tak peduli. Tapi, sifatnya itu tak menghalangi para gadis menyukai Ichigo.
Ichigo bangkit dari ranjangnya yang nyaman itu dan memutuskan untuk mandi. Sebelum itu dibukanya jendela besar yang biasanya ia gunakan untuk portal keluar masuk istana. Ichigo melihat sejenak kota dari kerajaan Garuma. Sungguh besar dan makmur. Selama pemerintahan ayahnya, belum pernah terjadi perang. Damai rasanya pagi itu.
Ichigo keluar dari kamar dan mengatakan pada pelayan bahwa dia mau mandi. Semua pelayan pun bergegas menyiapkan segala keperluan untuk mandi sang pangeran. Selama menunggu para pelayan menyiapkan keperluan mandinya, Ichigo berjalan-jalan sekitar kamarnya.
"Hei, aku dengar kabar pagi ini. Seorang gadis berpakaian biru tua dan berambut hitam dibunuh bandit setelah diperkosa. Sungguh malang gadis itu," kata seorang pelayan yang sedang bergosip ria dengan para penjaga di dekat tangga turun.
"Benarkah? Sungguh malang… " kata penjaga yang berjaga di tangga turun. Ichigo ingat bahwa gadis bermata violet itu mengenakan pakaian berwarna biru tua dan berambut hitam. Segera Ichigo berlari menuju kamarnya. Tapi, ketika dia hendak masuk, pelayan pun memanggilnya.
"Pangeran Ichigo, semua keperluan mandi anda sudah siap!" kata salah satu pelayan. Apa boleh buat, Ichigo harus mandi terlebih dahulu. Sangat memalukan jika seorang pangeran keluar Istana tanpa mandi.
"Baiklah." kata Ichigo sambil menuju tempat dia mandi. Di sana sudah disiapkan segala keperluan untuk mandi Ichigo. Tempat mandi seorang pangeran sangatlah luas dan mewah. Dihiasi dengan ukiran-ukiran artistik di dinding. Dinding yang terbuat dari batu yang berkualitas tinggi.
"Ahh, aku harus cepat mandi! Aku khawatir jika gadis itu yang diperkosa dan dibunuh karena aku. Itu semua salahku terlalu sombong memberi bandit itu uang!" Ichigo khawatir jika gadis kemarin adalah yang dibunuh. Ichigo akan merasa bersalah sekali jika gadis itu mati karenanya.
"Putraku! Ayo kita mandi bersama!" teriak sang yang mulia tiba dengan telanjang bulat.
"Ayah! Kenapa ayah mandi disini! Bukankah sudah punya tempat mandi sendiri!"
"Tak usah malu-malu, nak!" kata Isshin sambil berjalan lalu masuk ke bak mandi super besar.
"Terserah lah, aku juga ingin cepat-cepat. Ada hal yang harus kulakukan…"
"Sudah lama kita tidak mandi bersama seperti ini. Hei bagaimana, kau sudah siap menikah 3 bulan lagi?" tanya Ayahnya. Ichigo hanya terdiam. Ichigo melanjutkan mandinya.
Beberapa menit kemudian…
"Ayah, aku sudah selesai. Aku mau pergi dulu," kata Ichigo sambil meninggalkan ayahnya. Ayahnya menatap Ichigo dengan sedih. "Maafkan ayah, Ichigo," lirih ayahnya yang masih ada di tempat mandi.
Ichigo segera mengenakan pakaiannya. Dipakainya jubah sederhana. Dipanggilnya kuda putih ke sayangannya lalu loncatlah Ichigo dari jendelanya. Dengan hati-hati Ichigo melewati gerbang depan istana tanpa diketahui para penjaga. Setelah keluar, kini saatnya Ichigo menuju pusat kota.
Saat ini kota sangat ramai. Apa lagi di bagian alun-alun kota dan pasar. Banyak sekali pengunjung dari negeri lain yang berkunjung ke kota perdagangan ini. Karena begitu sesaknya, Ichigo memutuskan membawa kudanya kesuatu tempat untuk ditinggal karena tak mungkin ditengah kota sesesak itu dia harus membawa kudanya yang terlihat memang besar. Setelah menemukan suatu tempat yang tersembunyi dari kerumunan orang.
"Hichigo, kau tunggu disini, aku akan mencari gadis itu," kata Ichigo.
"Tentu King! Tapi, jika kau tak segera kembali, aku akan kembali sendiri ke istana!"
"Terserah, aku pergi!" Ichigo pun pergi.
Hichigo adalah kuda putih Ichigo. Memang suatu yang sangat aneh jika ada kuda yang bisa berbicara. Hichigo sudah bersama Ichigo sejak kecil. Dia seperti diciptakan untuk melindungi Ichigo. Yah, seperti itulah kehidupan Hichigo, sang kuda kerajaan yang harus setia. Dulu di Garuma ada legenda yang diwariskan turun temurun tentang seekor kuda yang dapat menjelma menjadi manusia dan selalu mengawasi tuannya. Nenek moyang bilang jika kuda yang ada di legenda itu sebenarnya adalah dewa yang dikutuk karena telah membuat manusia menderita. Dia dikutuk menjadi kuda yang harus setia pada majikannya, manusia. Bisa saja Hichigo adalah kuda dalam legenda itu. Kuda legenda itu dapat di panggil Hollow of the dark.
Ichigo mencari di kerumunan orang yang sedang tawar menawar. Tanpa Ichigo sadari, kantung penuh uangnya yang terlihat jelas sedang diincar para pencopet. Seorang anak laki-laki berambut merah mengawasi kantong Ichigo dengan awas. Saat itu Ichigo memang dalam keadaan tak waspada karena mencari gadis itu. Ichigo sudah bertanya-tanya tapi tak ada seorang pun yang tahu tentang gadis bermata violet.
Anak laki-laki itu berlari dan dengan cepatnya mengambil kantung Ichigo. Ichigo yang sadar kantungnya dicuri langsung mengejar anak laki-laki berambut merah itu. Ichigo berlari sampai-sampai menubruk setiap orang yang ada didepannya. Jubah yang dikenakannya berkibar-kibar seiring Ichigo berlari.
Tanpa sengaja, jubah Ichigo tersangkut paku. Kemudian, Ichigo terjatuh dan berusaha berpegangan pada sebuah gerobak yang penuh buah-buahan seperti semangka dan yang lainnya. Sayangnya gerobak yang tak mampu menahan Ichigo pun kehilangan keseimbangannya. Semua isi gerobak itu terlempar kemudian jatuh pecah diatas tanah. Lalu, Ichigo tersungkur dan kehilangan anak laki-laki berambut merah.
"Sial!"
"Hei!" terdengar suara seorang gadis yang dikenalnya.
"Heh?" Ichigo menengok kearah suara gadis itu.
"Kau tak apa-apa? Kau masih hidup! " tanya Ichigo pada gadis yang ternyata Rukia.
"Aku tak apa-apa, tapi lihat semua dagangan ayahku yang kau hancurkan!" teriak Rukia. Ichigo pun melihat sekelilingnya. Semangka-semangka pecah dan berceceran. Buah-buahan lainnya juga rusak. Sedikit sekali yang masih utuh.
"Kau harus ganti!" teriak Rukia.
"Baik! Aku akan menggantinya!" Ichigo merogohi sekeliling pinggulnya. Dia baru ingat jika kantungnya telah dicuri. Betapa buruknya hari ini bagi Ichigo. Lalu, bagaiman cara Ichigo untuk mengganti semuanya. Ichigo merasa ada yang memberikannya death glare.
"Mana? Katanya kau mau menggantinya?" Rukia kelihatannya kesal.
"Uangku tadi dicuri! Makanya aku tadi berlari untuk mengejar pencurinya!" semua orang mengerubungi Ichigo dan Rukia.
"Lalu, sekarang bagaimana kau mengganti semuanya? Kalau kau tak menggantinya kau akan dipukuli seluruh orang di-" kata Rukia terpotong. Ichigo yang jatungnya sudah berdetak kencang pun ketakutan.
"Rukia," panggil seseorang. Seseorang yang memanggilnya adalah ayahnya, Byakuya.
"Iya ayah?" jawab Rukia.
"Jika dia tak mempunyai uang, kita tak bisa memaksanya. Biarkan dia bekerja tanpa upah selama seminggu atau lebih sampai semua bisa digantinya," kata Byakuya tenang walaupun sebenarnya dia marah sekali pada pemuda berambut orange.
"Apakah ayah yakin?" tanya Rukia. Byakuya hanya mengangguk.
"Kau dengar itu pria orange? Kau masih untung tidak dipukuli seluruh orang di pasar ini," kata Rukia yang berjalan sambil memunguti buah-buahan yang masih utuh.
SORE HARI
"Hei, bantu aku mengangkat semua ini!" teriak Rukia yang sedang mengangkat box kayu.
"Iya, iya," kata Ichigo yang kemudian membantunya.
'Harusnya aku tidak mencarinya tadi!' teriak Ichigo dalam hati. Ichigo dengan lesu mengangkat semuanya. Tadi saja sang pangeran disuruh berteriak-teriak agar ada yang membeli buah. Semua usaha pangeran berhasil. Banyak ibu-ibu yang membeli buah karena ketampanan Ichigo. Walau sebelumnya sudah banyak ibu-ibu yang membeli karena ketampanan Byakuya, sekarang malah tambah banyak yang membeli buah Byakuya. Tapi, itu belum cukup untuk mengganti kerugian Byakuya.
Setelah sampai, Hisana yang keadaannya mulai membaik pun menyambut Rukia dan Byakuya.
"Siapa itu Byakuya?" tanya Hisana yang melihat Ichigo.
"Dia adalah orang yang merusak daganganku," kata Byakuya dingin.
'Pasti wanita ini juga akan bersikap buruk padaku…' kata Ichigo dalam hatinya. Ichigo menunggu reaksi Hisana.
"Makan malam telah siap, kalian berdua makan dulu atau mandi terserah kalian," kata Hisana sambil tersenyum. Byakuya dan Rukia pun pergi menuju kamar masing-masing.
"Siapa namamu, anak muda?" tanya Hisana dengan ramah. Ichigo kaget dengan reaksi Hisana. Sangat ramah dan lembut, pikir Ichigo. Sangat berbeda dengan anaknya.
'Mungkin sifat anaknya menurun dari ayahnya.' batin Ichigo.
"Namaku Ichigo, Kurosa- maksudku Kurosiwa Ichigo," kelihatannya Ichigo tak mau jika pangkatnya sebagai pangeran diketahui.
"Aku Hisana, Ibu Rukia. Apa yang dikatakan suamiku dan anakku yang menyingungmu jangan dimasukan hati, ya? Kau tinggal dimana Ichigo?" tanya Hisana yang ingin tahu asal usul Ichigo.
"Aku tinggal di negeri jauh yang bernama Lunare," Ichigo berbohong lagi.
"Sudah mandi Ichigo? Kalau belum silahkan mandi di belakang rumah. Setelah itu makan bersama-sama kami," Hisana tersenyum kembali.
"Tapi, aku tidak membawa satu pun pakaian Nona Hisana," kata Ichigo.
"Tenang, aku akan pinjamkan ke Byakuya," kata Hisana.
"Bagaimana jika dia tidak mau meminjamkan pakaiannya Nona Hisana? Tidak usah, biar aku memakai pakaian ini lagi," kata Ichigo yang menolak dipinjamkan pakaian Byakuya.
"Aku yakin dia mau meminjamkan, Ichigo disini dulu, akan kucarikan pakaian," kata Hisana yang meninggalkan Ichigo.
"Sungguh aku tak percaya, anaknya galak seperti harimau tapi kenapa bisa ibunya sebaik itu?" kata Ichigo pada dirinya sendiri. Ichigo melihat-lihat setiap sudut rumah Rukia yang sederhana. Mungkin jika dibandingkan dengan istana, seluruh rumah Rukia hanya sebesar ruang penyimpanan alat kebersihan, mungkin lebih kecil lagi dari ruangan itu.
"Kenapa? Mau membandingkan rumahmu dengan rumahku?" terdengan suara seorang gadis yang datang. Ichigo pun melihat kearah suara itu.
"Tidak kok. Kenapa kau mempunyai pikiran seperti itu, Cebol?"
"Hei! Jangan lagi memanggilku dengan panggilan seperti itu pria orange! Nih, ibu menyuruhku memberikan pakaian ini untukmu!" teriak Rukia sambil melemparkan sebuah pakaian untuk Ichigo.
"Kamar mandi ada di belakang rumah ini. Cepat mandi! Kau sudah bau!" kata Rukia sambil meninggalkan Ichigo.
"Galak," kata Ichigo sambil meninggalkan tempat itu.
Ichigo kini telah selesai mandi. Agak kedinginan sih karena Ichigo tak terbiasa mandi dengan air dingin. Apalagi, Ichigo sempat bingung cara mandi dengan alat-alat mandi di rumah Kuchiki. Untung saja, sebelum mandi Hisana datang dan menunjukan bagaimana cara mandi.
Ichigo disuruh tidur di loteng. Sebelumnya memang loteng itu kotor sekali. Tapi, untung saja Hisana mau membersihkan sebentar. Sikap Hisana kepada Ichigo sempat membuat Byakuya kesal. Istrinya yang harusnya istirahat malah harus melakukan hal yang bisa membuatnya lelah hanya untuk tamu yang membuat dagangannya hancur. Tapi, untung saja Hisana memarahi Byakuya dan membuatnya diam walau dia sempat mengucapkan kata,"Merepotkan,".
Ichigo dan seluruh anggota keluarga Kuchiki kini sedang makan di ruang makan yang sederhana. Byakuya masih bersikap dingin. Rukia hanya diam dan makan. Hisana dengan ramah menyuruh Ichigo menganggap seperti rumahnya sendiri.
Setelah makan Rukia pamit pada keluarganya untuk bekerja di restoran. Ichigo hanya cuek dan tidak mempedulikan Rukia karena Ichigo di suruh Byakuya mengangkuti box-box dari belakang rumah ke dalam grobak di depan rumah untuk dagangan besok.
Sementara di Istana
Istana sedang ribut karena pangeran Ichigo tak kunjung kembali. Seluruh pelayan di kerahkan untuk mencari Ichigo di seluruh sudut Istana. Yang mengagetkan, hanya kuda sang pangeran yang pulang ke Istana. Adik pangeran, Putri Yuzu hanya menangis karena kakaknya tak segera pulang. Sedangkan adik pangeran yang satunya, Putri Karin hanya bersikap biasa seolah tak terjadi apa-apa. Karin tahu jika kakaknya akan baik-baik saja. Tapi, sang Raja juga bersikap biasa saja. Sang Raja juga pasti tahu jika putranya akan baik-baik saja. Akan tetapi, penasihat Istana lah yang khawatir. Yang mengerahkan seluruh pelayan dan penjaga adalah Penasihat Yamamoto.
Chad yang tahu Ichigo bisa berbicara dengan kudanya pun berusaha menanyai kuda Ichigo.
"Dimana pangeran Ichigo…?" tanya Chad. Kuda itu hanya diam dan mengacuhkan pertanyaan Chad. Chad terus menunggu jawaban dari kuda itu. Hening disana.
"Baik, jika kau tidak menjawabku… Silahkan menikmati jerami segar ini. Ichigo tidak ada di sini. Daging segar, susu, makanan lainnya akan kau dapatkan setelah Ichigo kembali," kata Chad yang menunjukan sebuah tumpukan jerami lalu beranjak pergi dari kandang kuda Hichigo yang sebenarnya seperti bukan kandang. Terlalu bagus untuk disebut kandang.
"HEI! Ichigo baik-baik saja! Entahlah aku tidak tahu dia ada dimana! Tapi, dia bilang akan kembali seminggu lagi! Berikan aku masakan enak!" teriak Hichigo. Chad pun mendengarnya kemudian pergi menyuruh pelayan untuk memasakan makanan untuk Hichigo.
Hichigo memiliki kemampuan membaca pikirkan walau jarak yang begitu jauh atau dekat. Seperti telepati, orang-orang menyebutnya begitu. Hichigo seperti kembaran Ichigo. Hichigo seperti bayangan Ichigo yang mengetahui segala arah yang dituju tuannya. Tapi, yang hanya mengetahui bahwa Ichigo dapat berbicara dengan kudanya adalah Chad atau Yasutora Sado.
Rukia kini dalam perjalanan menuju restoran. Rukia berjalan di jalanan yang sepi. Rukia tak sadar jika ada seseorang yang mengikutinya. Tiba-tiba kedua tangan Rukia dicengkram tangan kekar. Rukia yang terkejut langsung menolehkan wajahnya kebelakang. Ternyata tangan itu adalah tangan para bandit kemarin. Rukia sudah berusaha lepas dari pria yang mencengkram tangannya. Tapi, usahanya gagal.
"Hei, kita bertemu lagi gadis sialan," ucap pria bertubuh besar yang membuat onar kemarin.
Bersambung…
A/N: Hi Minna! Udah updet! Senangnya! Terimakasih telah membaca Sora ni Iru~ Sebenarnya judul Nica dapet dari Ending Bleach Anima Rossa. Trims banget! Yaaa~
Reply:
Violeta-Haru: Tetep IchiRuki dong! Hahahaha! Wah Haru~ thanks dah Fav, jadi terharu*nangis gaje*
'Ruki-chan' Epta Gay: Hehehe, maksudnya I'll be up in the sky, lagunya Anima Rossa ituw, Yup!
sarsaraway20: Gomen~ Byakkun jadi pedagang buah~ Tapi, tenang, wajahnya tetep cakep kok*di lemparin sandal*
Zheone Quin: Kita ketemu lagi! Iya, betul banget! Gomen kalau neng Ruki jadi miskin huhuhuhu
rukiahinata: Hehehe thx, tapi Orihime ga jadi antagonis... Gomen...
Hira-Hikashi Dark Butterfly: Makasih dah nambah hehehehe. Nanti ga jadi nikah ma Hime kok, jadi tenang aja^^
So-Chand 'Luph Plend': Arigatou Gozaimasu!
Thx and See Ya Next Chap! Have nice day!
