Penyatuan Dua Hati

Hallo minna-san... gimana nieh chapter yang pertama, garing gak? Jelek gak? Ngecewain gak?.. Moga jha gak!^^ btw, makasih yah yang udah baca fic yang satu ini, terimakasih juga yang udah ngeriview, #kalau ada#..^^ngarep bangetzzz!

Ywgh kawan, Sophia udah menghadirkan lagi nieh, *Penyatuan Dua Hati* chapter 2, langsung jh yah,, nie diaaa^^

^^sealamat membaca^^

Chapter 2

"sayang sekali mereka bertanding di kandang lawan, kita jadi tidak bisa mendukung mereka," ujar Sakura,"

"apa hebatnya pertandingan basket?" Cetus Hinata.

"kau ini Hinata," ujar Ten Ten, "kau tidak mau melihat sepupu mu Neji, dia keren sekali saat memasukan bola ke ring basket, banyak gadis yang bersorak kegirangan dan aku membenci hal itu,"

"kau benar Ten Ten, saat pacar pacar kita disoraki seperti itu, ingin rasanya aku yang bersorak lebih kencang dari mereka," ujar Ino kesal.

"tapi hal itu," tambah Sakura, "tidak masalah bagi Naruto," semua tertawa kecuali Hinata, "ada dengannya?" Tanya Hinata, "karena dia tidak punya pacar, tentu saja," sahut Ino. mereka tertawa kembali, "saat dia memasukan bola," tambah ino, "teriakan para wanita lebiih keras dari pada saat Sasuke, Sai atau pun Neji yang memasukan bola, karena dia satu-satunya yang tidak punya pacar, oleh karena itu semua gadis ingin mencari perhatian Naruto, berharap salah satu diantara mereka menjadi kekasihnya,"

Hinata tersenyum sinis, "siapa yang mau dengan orang seperti dia," mereka bertiga terkejut, "apa yang kau katakan Hinata," ujar Ten Ten, "kau bisa saja tiba tiba jatuh cinta padanya, dengan pesona, kepintaran dan kekayaan yang dia miliki, gadis mana yang tidak mau dengannya," Hinata mendengus, "lalu kenapa kalaian tidak menjadi kekasih Naruto?" tanya Hinata.

"karena kami sudah memiliki cinta kami sendiri Hinata," ujar Sakura dengan lembut, "Naruto adalah orang yang baik Hinata, aku sudah lama mengenalnya, kau bisa tanyakan semua tentang Naruto padaku atau Sasuke," untuk apa Hinata menanyakan Naruto, lagi pula mereka saling membenci, mana mungkin mereka menjadi sepasang kekasih, "aku pergi dulu," ujar Hinata.

teman-temannya menghela napas panjang, "ada apa sih Hinata dengan Naruto?" Tanya Ino, Ten Ten dan Sakura hanya mampu menggelengkan kepala.

Hinata berjalan lurus ke depan tanpa menengok kanan kiri, saat akan berbelok mendadak dia bertabrakan dengan seorang gadis, sepertinya di senior, pikir hinata, "kalau jalan liat liat dong, kamu itu... tunggu, aku belum pernah melihat mu, apa kau murid baru?" Hinata mengangguk, "dia itu murid yang berselisih dengan Naruto," ujar salah satu teman gadis itu.

"kau tidak perlu khawatir Shion, sepertinya mereka saling membenci, jadi itu tidak masalahkan," Hinata hanya menyipitkan matanya, "mereka memang saling membenci, tapi aku sadar, kalau ada kebencian pasti ada kegelisahan," teman teman Shion tidak mengerti apa maksudnya, "dengar, kalau kau berani mendekati Naruto, aku tidak akan segan segan menghajar mu," Hinata terkekeh. "kalau aku mendekatinya, itu berarti aku yang akan menghajarnya," dengan suara lantang Hinata mengatakanya, lalu dia pun berlalu meninggalkan sang senior.

Shion mendengus, "kita liat saja nanti, jika kau berani mendektinya," ancam Shion.

Sejak Hinata pindah ke Konoha hidupnya terasa begitu berat, satu musuh yang menyebalkan, senior yang jahat, teman teman yang tidak mengerti akan isi hatinya, "kenapa mereka semua membicarakan tentang cinta, aku ingin meledak saat ini, aku tidak mengerti akan hal semacam itu, cinta, dan... aku bingung, apa yang aku rasakan saat aku melihanya waktu itu, dia menarikku hingga terjatuh, mengintimidasiku, dan..." Hinata terlalu bingung memikirkan semua itu. Sejak bertemu Naruto, ada sesuatu yang tidak dia mengerti.

###

"kalian tahu?" Ujar Sakura, "festival musim panas tahun lalu adalah festival paling romantis yang pernah aku rasakan."

"ya ya, aku tahu, waktu itu kau dan sasuke, makan malam berdua di puncak bukit bukan? Aku iri sekali, Sai tidak pernah romantis."

Hinata datang dan bergabung dengan mereka, sakura bertanya dari mana saja dia, saat istirahat, "aku ada di rooftop," ujar Hinata, "kau tahu Hinata, tim basket kita masuk babak final," ujar Ino, "dan pada babak final nanti, mereka akan main disini, sekolah kita," ujar Ten Ten dengan semangatnya. Saat ini mereka tengah berada di taman sekolah, mereka sedang menunggu tim basket yang sebentar lagi akan datang.

"aku ingin," mulai Hinata, "bertanya tentang sesuatu," mereka semua terdiam sesaat, dan tampak bertanya tanya, apa yang akan ditanyakan Hinata, "aku..." mereka bertiga tegang, "aku ingin tahu, apa ada sesuatu yang lebih besar melebihi cinta?" mereka bertiga mengernyit dan tertawa terbahak bahak. Hinata tertunduk lesu.

Sakura berhenti tertawa, "ada!" Hinata berharap harap cemas, "gairah!" Hinata melongo, "apa maksud mu Sakura, gairah?" Sakura mengangguk, Ino dan Ten Ten hanya terdiam melihat Hinata menjadi bingung. "apa yang sebenarnya kau pikirkan Hinata?" tanya Ten Ten, "iya, kenapa tiba tiba kau berbicara tentang cinta, bukankah selama ini kau tidak suka kalau kita berbicara hal itu?" sahut Ino.

Itu memang benar, Hinata hanya sedikit syok dengan kata gairah, "apa pemicu gairah itu Sakura? Tanya Hinata lagi, "karena saling tertarik, karena saling menyukai!" ino menggeleng, "bukan hanya itu saja Sakura, dengar yah Hinata, kau akan tahu jika kau menyadarinya sendiri, suatu gairah bukan hanya saling menyukai, tapi juga saling menginginkan, bahkan kalau kau tidak menyukai lawan jenis mu, bisa saja kau tertarik akan gairahnya," ino bicara dengan berbisik, hampir tidak terdengar.

Hinata bergidik, wajahnya memerah dan tiba tiba saja dia berdiri lalu pergi meninggalkan mereka bertiga, "kenapa sih Hinata? Ten Ten bertanya, Sakura dan Ino hanya menggeleng. Hinata berlari dengan hati yang gelisah, dan pikiran yang bingung, dia terus brlari hingga menabrak seseorang, brugghhh! "M-maafkan aku, aku..." Hinata mendongak dan melihat laki-laki didepannya, seorang senior bernama Kankuro, "kalau kau sedang terburu-buru, jangan terlihat panik seperti itu, itu akan membuat mu repot kalau saja orang yang kau tabrak tidak menerima permintaan maaf mu," kata-kata itu mengingatkan akan kejadian saat Hinata menabrak Naruto.

"iyah, aku akan berhati-hati," lalu Kankuro pun pergi meniggalkan Hinata, Hinata terdiam dan tiba-tiba terduduk lemah.

Dia hanya bengong sambil memijat mijat kepalanya sendiri, tidak sadar akan kehadiran orang lain, dia masih tetap terduduk. Saat orang itu berdehem, Hinata mendongak dan wussssshhh... Hinata melihat Naruto yang menjulang tinggi dihadapannya, tentu saja, karena sekarang dia masih terduduk, "apa yang sedang kau lakukan?" tanya Naruto. Suara itu menyadarkannya, "tidak ada," Hinata menggelang dengan cepat.

"mau ku bantu berdiri?" hinata menggeleng dengan cepat dan langsung berdiri sendiri. "selamat atas kemenangan mu," ujar Hinata. Naruto terkekeh, "maksud mu, kemenangan kita! Kau kira hanya aku yang menang? Tentu saja sekolah kita yang menang," Hinata tersipu malu.

"ah yah, maaf aku harus pergi." Dan disaat itu pula, jantungnya berdetak dengan damai kembali.

###

Hinata termenung saat ini, dia tengah melihat binang-bintang dan bulan, malam yang indah dan hari yang membingungkan. Apakah besok akan menjadi hari yang indah? Hari dimana selalu ia impikan seumur hidupnya, dia tidak pernah merasakan cinta, tapi perasaan itu perlahan datang dan membuat hatinya bergelung akan gairah. Dimana tadi siang hal itu sudah dibicarakan dengan teman-temannya, "Hinata," suara itu mengagetkan Hinata, Hinata turun ke lantai bawah dan mendapati ayah dan sepupunya tengah duduk diruang tengah. Saat itu juga, dia melihat dua orang yang tersenyum ramah, bahkan terkesan mencurigakan, pikir hinata.

"mereka siapa ayah? "Tanya hinata.

"mereka berdua adalah bodyguard mu, ayah harap kau tidak menolak keputusan ayah untuk mempercayakan kau pada mereka."

Hinata menggeleng lemah, "aku tidak butuh bodyguard ayah,"Hiashi menyipitkan matanya.

"ayah akan sangat tenang jika mereka menjaga mu, tolong Hinata, kau tau sendiri, sepupu mu Neji tidak akan berlama-lama disini, dia secepatnya akan pindah ke apartement," Hinata mengernyit, "kenapa seperti itu?" Tanya hinata pada Neji, "karena aku ingin mencoba hidup mandiri, biarlah di sekolah aku yang menjaga mu, tapi saat pulang, main, atau pun sesuatu yang ingin kau lakukan, mereka berdua bisa menjaga mu," Hinata hanya mengangguk pasrah, "baik, sudah diputuskan, Yahiko dan Nagato akan menjadi bodyguard mu mulai saat ini." Hinata berlalu dari hadapan mereka dan kembali ke kamarnya.

Pagi yang cerah di Konoha High School saat ini tengah ramai dengan siswa dan siswi yang sedang berolah raga, salah satu olahraga yang sedang mereka praktikan adalah bola basket. Guru Gaitengah mengajari siswa yang belum menguasai dribble, sedangkan anggota tim basket membantu guru Gai mengajari para siswi. Sang kapten Neji tengah mempraktikannya, para siswi tersebut hanya memperhatikan wajah Neji saja, tapi tidak melihat dia melakukan cara dribble, hal itu membuat Ten Ten sedikit gusar. Akhirnya, "aku sudah mengerti, saatnya mempraktikan," ujar Ten Ten, Neji hanya mengangkat bahu, mulailah para siswi itu mendribble bola. Neji dan kiba tengah mengamati para sisiwi, Sai dan Sasuke hanya mengajari pacar mereka, sedangkan Hinata hanya menghentak-hentakan bola saja ke tanah.

"kau harus mempraktikannya, bukan malah bermain-main," suara itu mengganggu Hinata, "urus saja urusan mu sendiri," ketus Hinata,

"hah, iya juga yah, kau hanya seorang perempuan, mana bisa kau melakukan hal seperti kami, perempuan memang lemah," Hinata mulai kesal, "jaga ucapan mu," Naruto mengangkat bahu, "perempuan memang lemah, dan kau juga lemah," cukup sudah, Hinata mendidih, dia mencari akal untuk membalasnya. Akhirnya, dia melemparkan bola yang ada ditangannya ke arah Naruto, prannngg! Bola itu tepat mengenai kepala naruto, Hinata tertawa, "awas kau," Naruto membalas Hinata, dia melemparakan bola yang ada didalam keranjang bola, bola itu juga mengenai kepalanya, Naruto pun tertawa terbahak-bahak.

Tidak menerima perlakuan itu, mereka saling melempar bola, bola-bola itu kini berhamburan dilapangan. Para siswa dan siswi yang melihatnya pun hanya menghindar dan berlari kesana kemari agar tidak terkena lemparan. Teman-teman Naruto dan Hinata protes, tapi Naruto dan Hinata tetap tidak mau berhenti, melihat hal itu guru Gai meniup pluit agar mereka berdua berhenti. Dan saat itu juga praktik pun berakhir dengan kekacauan yang dibuat Naruto dan Hinata, "ini keterlaluan, kalian berdua, setelah pulang sekolah nanti kalian harus mengumpulkan bola-bola itu, kalian mengerti?" Naruto dan Hinata hanya mengangguk pasrah.

Tiba waktunya pulang sekolah, teman-teman mereka melenggang pergi melewti pintu gerbang, Hinata melihat kedua bodyguardnya tengah menunggu digerbang. Dia memanggil kedua orang itu untuk mengumpulkan bola, melihat hal itu Naruto memprotes, "hey, ini tidak adil, kita yang harus memungut bola itu, bukan mereka berdua," Hinata tersenyum sinis.

"kita? Kamu ajah kali, aku sudah ada yang membantu." Karena merasa tidak diadil, Naruto melempar satu bola kearah Hinata yang tengah duduk, "yess, kena kau," Hinata merintih kesakitan, karena tidak terima dia juga melempar bola ke arah Naruto yang memunggunginya dan langsung melempar bola itu dengan kuatnya, gubbrrakk! Dan seketika itu dia terjatuh dan kepalanya membentur bantu dan berdarah.

Naruto terasa pusing dan tiba-tiba saja pingsan. Hinata menyuruh bodyguard mereka menunggu diluar setelah memungut bola. Sementara itu dia ada di uks tengah menunggu Shizune, saat Shizune sampai, dia meminta tolong pada Hinata untuk mengobati Naruto karna dirinya tengah terburu-buru ada tugas yang harus diselesaikan.

Hinata hanya mendesah, dia mengambil kotak p3k, ini juga kesalahannya, melemparkan bola itu, tapi sungguh Hinata benar-benar tidak sengaja melukainya. Saat mengolesi luka itu dengan obat merah, Naruto terbangun dan menyentuh tangan Hinata, Hinata terkejut, dan Naruto langsung terduduk dan masih memegang tangan Hinata.

Naruto ersadar sepenuhnya dan langsung melepaskan tanga Hinata, "aku minta maaf, aku benar-benar tidak sengaja mencelakakan mu," dengan wajah menyesalnya Naruto sama sekali tidak terpengaruh, "untung aku tidak gegar otak, kalau saja aku hilang ingatan, bagaimana kau akan bertanggung jawab hah?" Hinata terdiam, "ya sudah, cepat obati lukaku!"

Hinata hanya menganguk lemah. Seru juga ternyata bisa mengerjai gadisi ini, pikir Naruto. tapi soal mengerjai, itu hanya pemikiranya yang sekilas, saat ini ia tengah mengamati Hinata yang sedang mengobatinya. Jadi rasanya seperti ini yah saat aku dekat dengannya, rasanya ada sesuatu yang bergetar, entah apa itu, pikir Naruto, dia sedang mengingat saat ia bertemu dengan Hinata untuk pertama kalinya.

Ingatan itu tidak pernah hilang dari pikirannya, entah mengapa ada sesuatu yang salah dengan hatinya, dia tidak pernah merasakan hal ini sebelumya, apakah ini cinta? Apakah tanda-tanda cinta adalah sebuah getaran, tapi mengapa dia harus jatuh cinta pada Hinata, disamping dia mencintainya, dia juga membencinya. Tapi cinta akan memenangkan hatinya, bukan kebenciannya. Mereka berdua sepenuhnya sadar bahwa mereka saling jatuh cinta, hanya karena sebuah getaran dan keinginan untuk saling memiliki, tapi mereka berdua tidak mau mengakuinya, malah saling membenci, sungguh kehidupan yang rumit.

Padahal butuh waktu yang lama untuk menumbuhkan cinta diantara dua hati yang saling memebenci, tapi mereka berbeda, walau dengan satu pertemuan yang tidak mengenakan, mereka sudah mulai menunjukan taringanya. SAAT WAKTU itu Naruto menyentuh tangan Hinata dan sentuhan yang Naruto rasakan saat Hinata menyentuhnya, itu adalah sentuhan yang tak pernah ia lupakan, ia akan selalu mengenali sentuhan itu.

Hinata sudah selesai mengobati Naruto, dia membereskan kotak itu dan menaruh kembali ke tempatnya. Hinata lalu kembali kerah Naruto dan mereka berdua saling menatap, "aku sekali lagi minta maaf," ujar Hinata dengan tulus, Naruto tersenyum, "baiklah, aku akan memaafkan mu kali ini, tapi aku juga berterima kasih padamu karena kau telah mengobatiku."

Mereka berdua saling mengerti, kini saatnya untuk mereka pulang ke rumah masing-masing. Saat Hinata menaiki mobil, ia melihat senior jahat itu, Shion, tengah mendekati Naruto, "apa yang terjadi Naruto, aku degar kau dihukum gara-gara gadis sialan itu yah, apa kau tidak apa-apa?" gadis sialan, apa yang Shion maksud itu Hinata, pikir naruto, kenapa Shion memanggilnya gadis sialan, ini tidak bisa dibiarkan.

"gadis sialan, siapa maksud mu? Dia bukan gadis seperti itu, kau jangan memanggil Hinata dengan sebutan sialan, itu keterlaluan Shion!" Shion mengernyit.

"kau kenapa sih? Kau membelanya yah, kau tahu kan, dia itu membenci mu, lebih baik kau jangan dekat-dekat dengan dia!" Naruto terkekeh, "kenapa aku tidak boleh dekat dengannya,?" tanya Naruto sinis, "karena aku tidak mau melihat kau dekat dengannya, aku akan cemburu nantinya," ujar Shion to do point.

"cemburu? Lagi pula aku ini bukan siapa siapa mu Shion, kau adalah seniorku, apa kau tidak malu jika berpacaran denganku?" pertanyaan bagus, pikir Shion, "tentu saja tidak, karena aku menyukai mu, aku mencintaimu Naruto, cinta tidak mengenal usia dan status, aku tulus mencintai mu."

Naruto menggeleng lemah, "lebih baik kau mencintai seseorang yang mencintai mu Shino, maaf aku tidak bisa membalas cinta mu, aku benar benar minta maaf. Masih ada seseorang diluar sana yang menycintai mu sepenuhnya," setelah mengatakan hal itu, Naruto berlalu meninggalkan Shion, sungguh itu membuat hati Shion terluka dan menyayat hati. Tapi apaun yang terjadi Shion tidak akan menyerah untuk mendapatkan Naruto. Shion hampir pergi dari tempat itu tapi seseorang memegang tangannya, saat ia menengok ia melihat Kankuro, "kau sudah ditolak, untuk apa kau tidak berhenti mengejarnya shion, aku ada disini selalu setia mencintaimu, apakah kau tidak mau memberiku kesempatan?"

"kalau kau ingin kesempatan, maka kau harus membantuku, jika memang mencintai ku, maka kau harus melakukan apapun yang perintahkan, apakah kau mau?" Kankuro hanya mengangguk setuju, dia mencium tangan Shion, Shion hanya tersenyum penuh kepalsuan. Dia akan memanfaatkan Kankuro untuk melukai Hinata.

###

"aku pulang!" Naruto disambut dengan ramah oleh kedua orang tuanya, Kushina khawatir dengan luka yang ada dikening Naruto. tapi Naruto mejelaskan semuanya pada mereka sehingga mereka tidak khawatir lagi. Saat tengah malam tiba Naruto merasa lapar dan ingin memakan ramen, tapi karena persediaan ramennya habis dia pergi keluar untuk membeli ramen, saat sudah membelinya dia melihat seseorang yang mencurigakan, orang itu tengah mengikuti seorang gadis, kenapa gadis itu tengah malam masih diluar rumah, pikir Naruto.

orang itu ternyata mau berbuat jahat, dia menghadang gadis itu. Saat naruto mendekat ternyata gadis itu adalah Hinata, Hinata terkejut tiba-tiba saja pria bertopeng itu menghadangnya, saat pria itu maju dan ingin menangkap Hinata, Naruto datang dengan cepat. Naruto menghajar orang itu dengan sungguh-sungguh, berani-beraninya dia menghadang Hinata, dia terus menghajar orang itu, tapi tidak sempat membuka topengnya, orang itu kabur dan meninggalkan Naruto dan Hinata.

Lalu apa yang akan terjadi nanti?"

BERSAMBUNG...^^