"Disturbance"
.
.
Main Cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol, and others.
Genre : Romance, Friendship
Disclaimer: Semua cast bukan punya saya
Rating : T
Warning : YAOI, OOC (maybe), typo bertebaran (harap dimaklumi). Bacanya pelan-pelan aja ya, jangan terburu-buru.
Summary: Baekhyun hanya anak remaja biasa. Dia hanya ingin hidup dengan biasa-biasa saja. Walaupun dia anak yang pemalas dan pendiam, tapi dia juga mempunyai masalah. Masalahnya adalah Park Chanyeol. seseorang yang membuat hidupnya penuh dengan warna abu-abu.
.
.
.
-Author pov-
Setelah pulang sekolah, Baekhyun berjalan kaki dengan malas pulang menuju rumahnya. Begitu tiba di rumah, tidak ada seorang pun yang menyambut kepulangannya di rumah karena Umma pergi bekerja di kantor, sedangkan Appanya yang pergi dinas di luar kota. Baekhyun pun segera masuk ke kamarnya dan mengganti seragamnya dengan baju rumah. Kemudian dia segera berbaring di tempat tidurnya yang terasa nyaman. Awalnya dia berniat untuk tidur sebentar sambil menunggu kepulangan Ummanya, tapi pikirannya selalu terganggu oleh kejadian-kejadian yang baru saja terjadi di sekolah. Dia terus terngingat wajah Park Chanyeol yang tersenyum menyebalkan dan berhasil mengerjai dirinya dengan hal yang yang sangat menyebalkan. Dan itu membuat Park Chanyeol menjadi berkali-kali lipat lebih menyebalkan dari sebelumnyadi mata Baekhyun .
Baekhyun sangat kesal memikirnya. Tanpa sadar, dia menggiit bantalnya untuk melampiaskan amarahnya. Kemudian Baekhyun kembali menghempaskan tubuhnya di kasurnya sambil memikirkan cara bagaimana supaya dia bisa balas dendam pada Chanyeol brengsek itu.
Tidak lama setelahnya, Baekhyun bangkit terduduk di kasurnya sambil tersenyum penuh kemenangan.
.
.
.
Dari teras rumahnya, Baekhyun terus memandangi rumah besar keluarga Park yang berada persis di sebelah rumahnya. Rumah keluarga Park memang sangat besar, terlihat mewah dan berkesan elegan persis seperti di cerita-cerita dongeng kerajaan Disney. Belum lagi dengan halamannya yang sangat luas dan terdapat banyak tanaman hias dan dipenuhi bunga-bunga cantik dan berwarna-warni-yang menurut Baekhyun itu sangat memuakkan, karena membuat rumah itu benar-benar seperti kerajaan Disney dan terlihat imut-. Baekhyun benci sesuatu yang imut. Karena itu berlebihan sekaligus menjijikkan. Dan tentu saja rumah Disney kediaman keluarga Park terlihat kontras dengan rumah Baekhyun yang tampak sederhana. Walaupun sebenarnya rumah Baekhyun cukup besar, tapi kalah jauh jika dibandingkan dengan rumah keluarga Park.
Baekhyun berjalan ke luar rumahnya, kemudian segera membuka gerbang besar rumah keluarga Park dan masuk ke dalamnya.
Sejauh mata memandang, yang dapat dilihat oleh mata Baekhyun adalah tanaman hias semak-semak yang dibentuk sedemikian rupa agar terlihat menarik, bunga-bunga bermekaran yang menari-nari oleh tiupan angin, dan burung-burung yang berterbangan sambil bercicit menyanyi dengan riang menyambut kedatangan Baekhyun. Yang tak lama setelahnya, salah satu burung itu terkapar di tanah dengan sukses karena lemparan sepatu Baekhyun.
Baekhyun kembali mengambil sepatunya dan mengendus kesal menatap sekelilingnya. Baekhyun benar-benar merasa seperti orang tolol berada di tempat mengerikan seperti ini. Dan dalam hati merasa prihatin pada orang tolol yang tinggal di tempat seperti ini. Bukannya bermaksud untuk mengejek keluarga Park-karena dia sangat menghormati suami-istri Park-, namun yang dimaksud tolol oleh Baekhyun yang tak lain dan tak bukan adalah Park Chanyeol.
Walaupun Baekhyun sadar bahwa sebenarnya Chanyeol sama sekali tidak tolol.
Setelah memasang sepatunya kembali dengan benar dan menatap burung yang terkapar mengenaskan di depannya, Baekhyun kembali berjalan lurus menuju rumah keluarga Park. Dan setelah menempuh perjalanan yang menurut Baekhyun cukup jauh dan membuang-buang waktu, akhirnya dia tiba di depan pintu rumah yang besar. Beberapa maid di luar rumah yang berpapasan dengan Baekhyun menundukkan kepalanya dengan sopan yang dibalas Baekhyun dengan anggukan sambil tersenyum sopan.
Baekhyun membuka sedikit pintu rumah tersebut dan memasukkan kepalanya untuk mengintip ke dalam ruangan rumah yang cukup luas itu. Dan setelah menemukan objek yang dicarinya, Baekhyun segera memasukkan seluruh tubuhnya dan menutup kembali pintunya. Dia duduk pada sebuah sofa mewah yang bergaya eropa di sebelah seorang namja yang sedang sibuk dengan sebuah benda bernama PSP di tangannya tanpa menyadari kehadiran Baekhyun.
"ehem," Baekhyun berdeham pelan untuk menarik perhatian dari namja di sebelahnya.
Orang itu berdecak kesal karena permainannya terganggu oleh orang lain sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya sepenuhnya pada Baekhyun.
Tak lama setelahnya, dia tersenyum lebar "Hyung!" pekik namja itu senang kemudian memeluk tubuh Baekhyun.
Baekhyun yang merasa belum siap langsung jatuh dengan posisi tidur pada sofa yang didudukinya. Sedangkan yang memeluknya terus berjingkrak-jingkrak kesenangan. Baekhyun tertawa geli melihat tingkah laku orang di hadapannya.
"hentikan, Sehun. Kau ini benar-benar ya. Memangnya berapa usiamu?" kata Baekhyun menghentikan tawanya kemudian mendorong namja yang telah menerjangnya dengan kasar.
"Kau yang benar-benar! Kenapa baru menemuiku sekarang? Kemarin-kemarin kemana saja?" tanya namja yang bernama Sehun itu sambil mengecutkan bibirnya.
Namja yang dihadapan Baekhyun ini adalah Park Sehun, adik kandung dari Park Chanyeol. Sehun adalah seorang anak remaja yang tinggi, tampan, pintar, dan sebagainya. Seseorang yang pantas untuk menyandang gelar 'sempurna'. Tidak seperti Chanyeol yang menyebalkan, Sehun sangat menyenangkan. Dulu, Baekhyun sering sekali bermain ke rumah keluarga Park-dan bermain dengan Sehun tentunya-karena dia hanyalah seorang anak tunggal yang kesepian dan tidak memiliki seorang pun untuk diajak untuk bermain di rumahnya. Umur Sehun pun hanya setahun lebih muda dari Baekhyun, sehingga Baekhyun dan Sehun saling terbuka satu sama lain. Baekhyun selalu bisa menjadi dirinya sendiri di hadapan Sehun, sama seperti saat dia bersama Kyungsoo. Namun, semakin beranjak remaja, Baekhyun lebih banyak menghabiskan waktu di rumah untuk bermalas-malasan atau bersenang-senang keluar rumah bersama teman-teman sepermainannya.
"Aku sibuk, serius deh" jawab Baekhyun menatap Sehun dengan tampang datarnya.
"Sibuk bermalas-malasan maksudmu?" sahut Sehun sambil memutar bola matanya.
"Begitulah," kata Baekhyun sambil terkekeh-kekeh. "Ngomong-ngomong, dimana hyungmu itu?" tanya Baekhyun menatap sekelilingnya. Sejauh matanya memandang, dia belum menemukan sosok yang menyebalkan itu.
"Chanyeol hyung sedang pergi ke tempat bimbel," sahut Sehun kembali berkutat dengan PSP-nya yang sempat tertunda karena kehadiran Baekhyun.
"ck, rajin sekali si idiot itu," gumam Baekhyun sambil menggeleng-geleng.
"Sebenarnya, hyung," Sehun melirik Baekhyun sebentar. "dia tidak idiot", lanjutnya.
Bagus. Adik yang baik hati sedang membela kakaknya tersayang.
"benar. Dia tidak idiot," sahut Baekhyun. "tapi benar-benar idiot," kata Baekhyun tidak mau kalah.
Sehun mendesah pasrah. "terserah,"gumamnya. "Ngomong-ngomong, silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi pip. Piiiippp," kata Sehun tidak melepaskan perhatiannya dari PSP-nya.
Baekhyun menjitak kepala Sehun pelan. "Aku tidak ada urusan dengannya, bodoh! Cih, aku tidak akan pernah sudi repot-repot seperti ini untuk menemuinya," kata Baekhyun mendengus sebal.
Sehun meletakkan PSP-nya di sofa sambil ngelus kepalanya yang baru saja dijitak Baekhyun dan tersenyum senang. "Jadi, kau ada urusan denganku? Ada apa?," kata Sehun menatap Baekhyun dengan bersemangat. "Apa kita akan bermain dokter-dokteran seperti dulu lagi?" lanjut Sehun tersenyum senang.
"Tentu tidak, anak bodoh! Kita sudah cukup umur untuk mengetahui bahwa jarum suntik konyol itu tidak selalu digunakan untuk menyembuhkan pasien," kata Baekhyun jengkel. Sudah beberapa lama tidak bertemu, Sehun memang semakin tinggi dan tampan dan juga semakin bodoh.
"Lalu ada perlu apa menemuiku sampai kau harus meninggalkan kasurmu yang nyaman itu dan repot-repot datang ke rumahku yang selalu kau sebut dengan istana konyol ini?" kata Sehun dengan malas karena Baekhyun terus-terusan menyebutnya bodoh.
Baekhyun hanya nyengir. "Jangan marah begitu, adik manis. Aku hanya ingin meminta tolong padamu," kata Baekhyun mengelus rambut Sehun dengan lembut.
Sehun menarik tangan Baekhyun dari kepalanya. "Cukup bermanis-manisnya, hyung. Sekarang cepat katakan apa yang bisa kubantu?" kata Sehun dengan tidak sabaran.
Dan sebuah senyum jahil terukir di bibir mungil Baekhyun.
.
.
.
.
Chanyeol memasang sepatunya dengan terburu-buru kemudian menatap jam tangannya dengan gelisah. Dia membelakkan matanya saat melihat jarum jam yang menunjukkan ke arah yang menjelaskan bahwa bel sekolah akan berdering beberapa menit lagi. tanpa menunggu lagi, Chanyeol segera mengambil langkah seribu secepat mungkin.
Hingga akhirnya dia tiba di depan gerbang sekolahnya dengan keringat yang memenuhi tubuhnya. Chanyeol menopang kedua tangannya pada lutut dan mulai mengatur nafasnya pelan-pelan. dia menatap gerbang sekolah yang sudah tertutup dengan rapat sambil memaki-maki dengan kesal.
"Terlambat lagi, eoh?" tiba-tiba seorang namja sudah berdiri persis di samping Chanyeol entah sejak kapan. "Park Chanyeol?" kata namja itu menatapnya sambil tersenyum meremehkan.
Dan selama bertahun-tahun dalam hidupnya, Park Chanyeol menyadari satu hal.
Ini pertama kalinya namja di hadapannya ini menampilkan senyum seperti itu padanya.
Chanyeol segera membenarkan posisinya dan berdiri dengan tegak kemudian berdeham namun tidak menjawab pertanyaan Baekhyun.
"Aku baru tahu kalau Park Chanyeol si murid teladan ternyata hobi terlambat," lanjut Baekhyun melancarkan aksinya untuk mengejek Chanyeol sampai puas.
Chanyeol mengalihkan pandangannya pada Baekhyun. "maaf, bung. Apa katamu barusan? hobi terlambat? Tolong jangan samakan aku dengan dirimu, Byun Baekhyun," sahut Chanyeol menatap Baekhyun dengan pandangan jijiknya seperti biasa.
Baekhyun hanya mengangkat bahunya malas, sama sekali tidak tersinggung oleh perkataan Chanyeol. "Mungkin aku harus memberikan jam alarm sebagai kado ulang tahunmu nanti," kata Bakhyun sambil terkekeh jahat. Dalam hati dia tertawa bahagia karena telah berhasil memojokkan Chanyeol.
Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan yang sulit diartikan. Bisa-bisanya Baekhyun membalikkan kata-kata yang diucapkan Chanyeol kemarin.
"Sebenarnya Byun Baekhyun, hari ini adikku yang manis tiba-tiba bersikap menyebalkan. Dia mematikan set alarmku dan tidak mengijinkan para maid untuk membangunkanku kemudian berangkat ke sekolahnya tanpa memperdulikan diriku yang masih tertidur dengan anggun di kamarku," ucap Chanyeol yang kemudian menatap Baekhyun tajam.
"Benarkah? Wow, itu keren," kata Baekhyun agak terkejut mendengar perkataan Chanyeol kemudian tersenyum tipis. Mungkin Baekhyun harus mengucapkan terima kasih pada Sehun setelah pulang sekolah nanti dan mengajaknya keluar dari istana konyolnya. Karena pada akhirnya, Sehun lebih memilih berdiri di pihak Baekhyun dan bukannya di pihak kakak tersayangnya.
"Dan kupikir," Chanyeol menyipitkan matanya menatap Baekhyun dan mendekatkan wajahnya pada Baekhyun "aku tahu siapa pelaku sebenarnya," lanjutnya menatap Baekhyun dengan tatapan menuduh.
Baekhyun membalas tatapan Chanyeol. "Bingo!" kata Baekhyun menjentikkan jarinya di depan wajah Chanyeol sambil terkekeh pelan.
Chanyeol menggeram kesal dan tidak melepaskan tatapan tajamya pada Baekhyun, sebelum akhirnya Guru Penjaga datang menghampiri mereka dan meneriaki mereka untuk segera masuk ke ruang Konseling.
.
.
.
.
-Baekhyun pov-
Pada akhirnya, di tempat inilah aku dan Park idiot ini berakhir. Tempat yang dimana selalu aku yang jadi pengunjung setianya.
Ruang Konseling.
Aku duduk di sebuah kursi, sedangkan si Idiot duduk di sebelahku. Kursi kami berhadapan langsung dengan meja Guru Konseling. Aku bersandar malas pada kursi itu dan melipat tanganku di dada. Sedangkan si Idiot duduk dengan tegak dengan-berpura-pura-bersikap sopan. Aku memutar bola mataku dengan jengkel lalu menatap sekelilingku dengan malas, menunggu Guru Konseling yang akan menasihati kami memasuki ruangan. Dan aku sangat yakin, bahwa omong kosong ini akan memakan waktu yang sangat lama.
"Jaga etikamu, Byun Baekhyun," kata Park Chanyeol menatapku dengan tatapan merendahkan.
Dan semakin dia bicara seperti itu, maka aku semakin bersikap tidak sopan.
"Masa bodo," gumamku malas.
Dia hanya mendecak kesal dan mengalihkan pandangannya ke arah depannya.
Tidak lama setelahnya, pintu ruangan terbuka. Aku dan si Idiot memalingkan kepala kami ke arah Guru Konseling yang sudah memasuki ruangan. Dia berjalan ke arah kami dan duduk di kursi miliknya, berhadapan dengan kami. Dia menatapku dengan pandangan pasrah dan kemudian mengalihkan pandangannya pada si Idiot. Matanya melotot kaget saat melihat Park Chanyeol berada di ruangannya. Dia menatapku dan Chanyeol bergantian seakan sedang meneliti.
"Byun Baekhyun," katanya sambil mengambil sebuah buku yang tebal. Aku menatap buku itu kesal. Hell yeah, itu adalah buku kasusku. Dan aku tidak pernah sadar bahwa akan setebal itu. padahal menurutku, aku tidak sering membuat ulah selama bersekolah di tempat ini. Yah, selama terlambat, bolos palajaran, dan tidur di kelas bukan termasuk dalam sebuah kata yang bernama ulah.
"Jadi, ini yang keberapa kalinya kau terlambat?" tanyanya dengan nada tidak suka sambil menatapku lekat-lekat.
Aku mengangkat bahu. "Tidak tahu," kataku sambil menggeleng pelan.
Dia mengalihkan pandangannya dariku ke buku kasusku sambil membolak-balikkannya. Lalu menuliskan sesuatu di sana. Setelah selesai, dia beralih menatap Chanyeol.
"Park Chanyeol," katanya. Sedangkan si Idiot menundukkan kepalanya seakan-akan terlihat merasa bersalah. "Aku tidak tahu ada apa dengan dirimu, Nak. Tapi kau terlambat dalam dua hari berturut-turut," lanjutnya sambil tersenyum lembut.
Oh, bagus! Bersikaplah manis pada si murid teladan yang sempurna.
Dan Chanyeol memandangnya dengan tatapan rasa bersalah seakan-akan dia baru saja melakukan pembunuhan.
Aku menggeram kesal. Dasar idiot! Itu kan hanya masalah terlambat.
Aku menggeleng-geleng kepala pelan melihat sikapnya yang menurutku sangat berlebihan.
"Aku tidak tahu apakah ini karena kau bergaul dengan Byun Baekhyun," katanya sambil melirikku. Aku hanya memutar bola mataku dengan malas. "Aku harap kau tidak mudah terpengaruh oleh sikapnya yang urakan," lanjutnya.
Urakan. Oke, aku akan mengingat kata-kata itu.
Dan setelah itu, Guru Konseling itu tidak henti-hentinya menjelek-jelekkan diriku di depan Chanyeol seakan berusaha mempengaruhi Chanyeol untuk berusaha menjauhiku.
Asal dia tahu saja, aku juga tidak sudi dekat-dekat dengan si Idiot itu.
Setelah puas dengan perkataannya yang panjang lebar itu, dia mengambil buku-maksudku selapis kertas-kasus milik Park Chanyeol dan menuliskan sesuatu di sana. Bisa kulihat, Park Chanyeol di sebelahku sedang menahan nafasnya sambil menatap setiap huruf yang dituliskan oleh Guru Konseling.
Oh yeah! Dasar murid teladan sialan.
Dan setelahnya, Guru Konseling mempersilahkanku dan si Idiot untuk keluar dari ruangannya dan menyuruh kami memasuki kelas.
.
.
.
.
-Author pov-
Chanyeol membuka pintu ruang konseling dan membiarkan Baekhyun keluar terlebih dahulu. Setelah pintu di tutup oleh Chanyeol, Baekhyun segera membalikkan tubuhnya ke arah kiri sedangkan Chanyeol ke arah kanan.
Belum sempat melangkahkan kakinya, tangan Baekhyun dicengkram dengan keras oleh Park Chanyeol. Baekhyun membalikkan tubuhnya menghadap Chanyeol dan menatapnya dengan datar.
"Aku rasa ruang kelas kita bukan ke arah sana," kata Chanyeol tanpa melepaskan cengkramannya.
"Memang bukan," sahut Baekhyun malas. "Aku hanya ingin ke kantin untuk mengisi perutku yang lapar," lanjut Baekhyun.
"Mengisi perutmu yang lapar dan tidak akan kembali ke kelas," kata Chanyeol. Itu adalah sebuah pernyataan dan bukannya pertanyaan.
Baekhyun hanya diam tanpa berniat membalas perkataan Chanyeol.
Dan kemudian, Chanyeol menarik tangan Baekhyun dan menyeretnya ikut bersama Chanyeol memasuki ruang kelas. Dan Baekhyun sama sekali tidak memberontak dan mengikuti Chanyeol dengan pasrah.
Setelah memasuki kelas yang sudah memulai pelajaran dengan tertib, Chanyeol dan Baekhyun-atau lebih tepatnya hanya Chanyeol-tidak hentinya menundukkan kepala dan meminta maaf kepada Kim Songsaenim yang sedang mengajar karena telah mengganggu pelajarannya. Dan setelah diijinkan untuk duduk oleh Kim Songsaenim, Baekhyun menghempaskan tasnya di atas mejanya dan duduk dengan kesal. Dia menopang dagunya di atas meja dan mendesah pasrah. Setelah cukup lama sibuk dengan pikirannya sendiri, dia melirik Chanyeol dari sudut matanya dan tersenyum tajam tanpa sepengetahuan Chanyeol.
Sedangkan Chanyeol duduk di kursinya sambil menatap Baekhyun dengan tajam seakan menuduhnya atas insiden pagi ini. Setelah berdecak kesal, dia berniat membuka tasnya untuk mengambil buku dan alat tulisnya untuk mencatat setiap kata yang dilontarkan oleh Kim Songsaenim.
"HYAAAA!" pekik Chanyeol kaget dengan suara bassnya. Tanpa sadar karena terlalu kaget, dia sampai terjungkal dari kursinya dan jatuh terduduk di lantai.
Dan karena aksi konyolnya barusan, semua penghuni kelas mengalihkan pandangan mereka pada Chanyeol yang jatuh terduduk di lantai. Kemudian gelak tawa meledak seketika sambil menunjuk-nunjuk Chanyeol yang terjatuh. Chanyeol hanya mengaduh pelan dan kemudian menatap seluruh kelas dengan tajam.
Kim Songsaenim menenangkan kembali suasana kelas yang ricuh akibat ulah Chanyeol dan kemudian menghampiri tempat duduk Chanyeol.
"Ada apa ini, Park Chanyeol?" tanya Kim Songsaenim dengan nada kesal karena acara mengajarnya kembali terganggu.
Chanyeol menatap Kim Songsaenim kemudian menunjuk ke arah tasnya. Dan seekor tikus berlari keluar dengan langkah-langkah kecil dari dalam tas Chanyeol.
"KYAAA!"
Otomatis, seluruh yeoja di dalam kelas memekik ketakutan dan menjauh dari tikus mungil yang berlarian di atas meja Park Chanyeol.
BRAKKK
"Diam semuanya!" teriak Kim Songsaenim menggebrak meja salah satu murid. "Tolong jangan ribut," lanjutnya. Semua murid segera menutup mulut mereka rapat-rapat dan menatapnya takut.
"Sekarang cpat jawab, siapa pelaku dari semua ini?" kata Kim Songsaenim dengan tajam sambil menatap satu persatu muridnya seakan mengintrogasi pelaku kejahatan.
Dan Chanyeol pun melakukan hal yang sama. Dia menatap tajam semua murid di dalam kelas satu persatu, mencari tahu siapa yang berani mencari masalah dengannya.
Hingga tatapannya berhenti pada Byun Baekhyun yang sedang tersenyum dengan penuh kemenangan.
.
.
.
.
"Ah, balas dendam itu memang menyenangkan," desah Baekhyun kemudian duduk di sebuah tempat duduk di kantin sambil menatap Kyungsoo dengan senang. Ini pertama kalinya Baekhyun merasa senang seperti ini.
Do Kyungsoo mengalihkan pandangannya pada Baekhyun. "Apa yang kau lakukan terhadapnya?" tanya Kyungsoo menatap Baekhyun tidak suka.
Awalnya Baekhyun bingung harus menjawab apa. "Hanya mencoreng sedikit buku kasusnya," kata Baekhyun mantap sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Kyungsoo menaikkan alisnya sebelah alisnya. "Hanya itu?" tanyanya lagi.
Baekhyun kembali menatap Kyungsoo dengan ekspresi datarnya namun hanya terdiam. Dia sama sekali tidak mengangguk ataupun menggeleng.
"Aku dengar ada yang menaruh tikus ke dalam tasnya," lanjut Kyungsoo menatap Baekhyun penuh selidik.
Baekhyun membelakkan matanya. "Darimana kau tahu?" tanya Baekhyun.
"Seluruh sekolah membicarakannya," jawab Kyungsoo masih menatap Baekhyun. Menunggu Baekhyun untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
"Baiklah," desah Baekhyun kesal. Dia merasa kalah. "Memang aku yang menaruh tikus itu ke dalam tasnya," lanjut Baekhyun sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia tidak berani menatap mata Kyungsoo.
Sementara Kyungsoo mendesah kecewa. "Baekhyun," Kyungsoo sengaja memberi jeda. "Membuatnya terlambat datang ke sekolah mungkin ide yang bagus. Tapi menaruh tikus dalam tasnya? Itu benar-benar keterlaluan," kata Kyungsoo sambil menggeleng kecwa.
.
.
.
-Baekhyun pov-
Keterlaluan katanya?
Aku tidak bisa dimana letak kata 'keterlaluan' dengan menaruh tikus di dalam tasnya Chanyeol. Masih untung aku hanya menaruh tikus dan bukannya bangkai tikus. Coba bayangkan bagaimana dia memperlakukanku dengan buruk selama bertahun-bertahun? Dia bahkan melakukan hal yang lebih dari 'keterlaluan'!
"Tidak juga," gumamku kesal. "Lagipula tikus itu miliknya sendiri," kataku masih mencoba membela diri.
Benar, aku tidak sepenuhnya bohong.
Kemarin saat aku bermain ke istana konyol miliknya, aku melihat seekor tikus yang berkeliaran di sekitar ruang tamunya. Dan karena terbawa emosi balas dendamku, tanpa ragu-ragu aku memasukkan tikus yang malang itu ke dalam tas sekolah Park Chanyeol yang tergeletak di salah satu sofa ruang tamunya. Jadi secara tidak langsung, tikus itu memang miliknya kan? Tadinya aku sempat berharap agar tikus itu buang air besar di dalam tas Chanyeol.
Oke, itu keterlaluan. Aku bersyukur tikus itu tidak melakukan itu.
Kyungsoo menatapku dengan ragu.
"Serius deh," kataku sambil mengangguk pasti berusaha meyakinkan Kyungsoo.
Kyungsoo hanya terdiam, menungguku menjelaskan alasan dari perkataanku barusan. Namun, aku juga ikut terdiam. Aku jelas-jelas tidak mungkin mengatakannya. Itu sama saja bunuh diri, bukannya membela diri.
Kyungsoo mendesah pasrah. "Setidaknya kau tidak-atau belum-menaruh benda atau binatang yang lebih buruk dari itu," katanya.
"Kau benar!" sahutku tersenyum lebar. "Mungkin besok aku harus menaruh sekantung darah segar ke dalam tasnya," kataku sambil terkekeh pelan.
Dan Kyungsoo hanya memutar bola matanya.
Tapi kemudian dia menatapku dengan ragu. Dari ekspresi di wajahnya, aku tahu bahwa dia sedang memastikan aku tidak akan melakukan hal itu.
"Aku tidak sejahat itu," jawabku dengan nada tersinggung.
.
.
.
.
-Author pov-
Chanyeol melangkahkan kakinya dengan perasaan kesal. Seumur hidupnya, ini pertama kalinya Chanyeol dipermalukan seperti ini di kelasnya. Chanyeol tidak tahu persis bagaimana. Yang jelas, seluruh penghuni sekolah mengetahui hal itu dan tidak henti-hentinya menertawakannya. Dan itu jelas membuat Chanyeol merasa sangat konyol. Dan ini gara-gara bocah sialan itu. Chanyeol akan memberikan pelajaran pada anak itu sepulang sekolah ini.
Begitu keluar dari gedung sekolah, Chanyeol menatap sekelilingnya. Mencari-cari keberadaan si kecil pembuat onar itu. Dan begitu menemukan keberadaan mangsanya yang sedang berjalan di trotoar yang tidak jauh dari pandangannya, dia segera berlari menghampirinya.
"Jadi setelah berhasil mengacaukan hariku, kau pikir bisa pulang dengan selamat?" kata Chanyeol berdiri di depan Baekhyun dan memblokir jalannya.
"Kuharap begitu," kata Baekhyun menunduk dengan malas sambil melangkahkan kakinya melewati Chanyeol.
"Jangan harap," gumam Chanyeol kesal. Chanyeol segera menarik tangan Baekhyun dan membawanya menjauh dari trotoar. Awalnya, Baekhyun yang kaget langsung memberontak dengan keras. Namun karena ukuran tubuh yang tidak sepadan, Chanyeol berhasil membawa dirinya dengan paksa.
Setelah tiba di sebuah gang sempit, Chanyeol mendorong tubuh Baekhyun ke tembok dan dia mengunci tubuh Baekhyun dengan kedua tangannya di tembok.
Chanyeol menundukkan kepalanya agar dapat melihat wajah Baekhyun dengan jelas.
"Jelaskan apa maksud semua ini!" kata Chanyeol kesal. Matanya berkilat-kilat marah menatap Baekhyun lekat-lekat.
Sedangkan Baekhyun hanya menyeringai senang. Dia merasa sangat puas telah menaikkan puncak amarah Chanyeol. Dan ini pertama kalinya dia menyeringai seperti itu, karena ini pertama kalinya dia melihat Chanyeol semarah ini.
"Jawab aku!" bentak Chanyeol di depan wajah Baekhyun.
Bukannya merasa takut, Baekhyun malah mengalungkan kedua tangannya pada leher Chanyeol. Dia memajukan wajahnya hingga dagunya menempel pada bahu Chanyeol.
Chanyeol merasa kaget dengan perlakuan Baekhyun. Dia menatap Baekhyun dari sudut matanya dengan ekspresi yang tidak terbaca.
"Balas dendam," bisik Baekhyun tepat di depan telinga Chanyeol.
Bahkan, Chanyeol dapat merasakan gerak bibir Baekhyun yang menempel pada telinganya. Dan sebuah sensasi aneh menjalar dengan cepat pada seluruh tubuh Chanyeol.
Baekhyun melepaskan kedua tangannya dari leher Chanyeol dan menjauhkan wajahnya dan kembali bersandar ke tembok. Sebuah seringai kembali terukir di wajahnya.
Chanyeol terpaku sejenak. Belum siap dengan semua perlakuan Baekhyun yang menurutnya terlalu intim. Sebenarnya, bukan reaksi ini yang diharapkan Chanyeol. Yang diharapkannya adalah umpatan kesal dari mulut Baekhyun seperti biasa. Atau Baekhyun yang akan melakukan perlawanan fisik-mungkin-. Atau mungkin isak tangis ketakutan. Baiklah, yang terakhir tidak mungkin terjadi. Mengingat hati Baekhyun sekeras baja hingga membuat anak itu tak pernah sekali pun menitikkan air mata.
Tapi reaksi yang diterimanya jauh dari yang diharapkan Chanyeol.
Baekhyun benar-benar berbeda sekarang.
Dia tahu caranya membuat Chanyeol tak berkutik sama sekali.
Dia tahu caranya membuat Chanyeol menjadi salah tingkah.
Dan dia tahu caranya membuat seluruh wajah Chanyeol merona merah.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Hai^^
Terima kasih buat dukungannya! Pada akhirnya ff-nya TBC deh nggak jadi END.
*sengaja di capslock biar greget*
.
.
aliviaayounaulia: sudah dilanjut. Kira-kira pengen pembalasan seperti apa? *naik turunin alis*
sholaniadinara: ih, tau aja kalo Chanyeol gak suka dicuekin sama Baekki. ini udah C gak pake TB lagi.
Blacknancho: TBC? Siapa yang TBC?
SHY Fukuru: dilanjut
Chanbaekisseu: chanyul emang iseng. siksa yg membawa berkah buat chanyul, hehehe. Makasih udah suka sama ceritanya
AzzelyaBara: dilanjut
ByunnieKou: aku gak tau kalo bagian itu lucu, tapi makasih loh. Tapi kan baekhyun gak tau kalo ada tulisan kayak gitu di punggungnya, jadi gak mungkin nginjek donk? Hahaha. Makasih udah muji, ah jadi (gak) enak XD aku gak tau bagian ini ada romancenya atau nggak. Karena aku gak tau perbedaannya-_- pokoknya ini udah dilanjut. Menurut kamu ada romancenya gak?
baekyeolssi: iya, pada akhirnya nggak end
Imeelia: dilanjut. Biasalah, suka caper sama gebetan yang suka ngacangin.
Vicky98Amalia: dilanjutkan!
Jaylyn Rui: yah, jangan kesel sama Chanyeolku donk? Udah dilanjut ya.
12Wolf: namanya juga caper, biasalah. Ini udah dilanjut.
Jung Eunhee: nemu? Kenapa ceritaku disamain sama duit koin di tengah jalan? Ini udah dilanjut kok.
Totomato: ini udah dilanjut, udah se-ppali mungkin. Serius deh._v
Aheechanbaek: tapi chanyeol maunya diapa-apain sama baek, gimana donk? Ini percakapannya udah dipanjangin. Nggak tau deh kurang panjang atau udah cukup panjang (?) please, jangan ambigu. Makasih udah support
Shim Yeonhae: sudah dilanjut!
.
.
.
Makasih buat reviewnya.
Review again?^^
