Disclaimer : Kuroshitsuji punya Yana Toboso, saya cuma minjem chara"nya
Warning : AU, OOC, OC, aneh, typo(s) and mistypo(s), dll, masih shounen-ai, DLDR~
"Kau sudah siap, Ciel?"
"Ya, Sebastian," jawab anak lelaki berambut kelabu dengan senyum tipis.
Wajah stoicnya itu sudah digantikan dengan wajah yang lumayan ceria. Selama beberapa hari sejak kedatangan tak diundang nya ke pulau ini, ia mendapat perhatian penuh dan merasakan hangatnya kasih sayang dari Sebastian.
"Baiklah, ayo semuanya naik ke kapal."
Sementara itu...
BRAKK (suara pintu dibanting)
"Shi..e..ruuuuuuuuuuuuu, kau sudah pulang?" panggil(baca:teriak) Lizzy dengan senyum lebar.
"La-dy El-li-lizabeth," sapa Maylene dengan gugup. Ia dan dua idiot lainnya sebenarnya sedang merancang kata-kata yang baik tentang ketidakselamatan Ciel kepada keluarga Midford, namun Lady Elizabeth datang secara tiba-tiba—seperti biasa.
"Ciel?"
"..."
"Di mana Ciel?"
"Umm.. bocchan.. bocchan..ano bo—"
"Di mana Ciel?" Elizabeth mengubah ekspresi cute nya jadi 'mengerikan'.
"Maafkan kami Lady, Ciel jatuh ke laut dalam perjalanan mencari Earl Trancy," balas Bard dengan tundukkan dalam.
"..."
"Kami ingin menyelamatkan bocchan, tapi badai semakin kencang," jawab Finny.
"..."
"Huweeeee... Alois belum kunjung kembali, sekarang Ciel hilang hiks..hiks.. .Umm berhubung hari ini cuaca nya cerah, ayo kita cari Ciel, Paula kau ikut aku ya?" perintah Lizzy kepada para pelayan.
"Aye, Lady Elizabeth."
xxx
Beberapa jam kemudian, mereka semua sampai ke pelabuhan. Sebastian merapikan make up nya dan Richard memberi topi pada Ciel untuk sedikit penyamaran, walaupun Ciel bingung tetap saja diterima. Mereka lalu turun dan segera menaiki mobil jemputan yang sudah standby cukup lama
Di kejauhan ada seorang anak laki-laki berambut pirang sedang memperhatikan mereka. Anak itu adalah Finny, dia merasa mengenali keempat orang yang tadi naik mobil Lamborghini hitam dan ia segera memberitahu yang lain, "Hei semuanya tadi aku merasa melihat Bocchan tapi aku juga tidak yakin. Ia bersama satu orang bertubuh atletis berbalut hitam yang mirip Sebastian dan bersama 2 anak kecil(?) lainnya."
"Ah, mungkin kau salah lihat. Tapi Bard, Finny aku minta kalian ikuti mobil tadi. Aku, Paula, Maylene dan Pak Tanaka akan mencari Ciel di laut.
"Baiklah nona, kami permisi."
Tak lama kemudian mereka—termasuk Bard dan Finny sampai di mansion Sebastian. Mansion megah yang di cat putih, bersih dan sangat terawat. Pohon-pohon di sekitar mansion tersebut memberi kesan segar. Dari dalam mansion, keluar seorang maid berambut hitam menyambut kedatangan Sebastian dkk dan membawa masuk barang-barang.
"Hmm ternyata ini rumahnya, tak kalah ya sama mansion Bocchan. Baiklah, besok kita ke sini lagi untuk menelusuri lebih lanjut," komentar Finny
"Finny, setelah kuperhatikan kurasa itu memang bocchan,"kata Bard.
xxx
"Sebastian, jangan lupa tugasmu besok, jaga kesehatanmu. Kami pergi dulu," kata Edward setelah meminum Ceylon Tea buatan maid.
"Sampai jumpa besok."
Setelah sosok Edward dan Richard menghilang di balik pintu, Sebastian mengajak Ciel keliling mansion. Setelah cukup lama berjalan, Sebastian menghentikan langkahnya di depan sebuah kamar.
"Ciel, kau beristirahatlah di sini. Mulai sekarang ini adalah kamarmu."
Ciel mengangguk pelan.
"Dan yang disana adalah kamarku," lanjut Sebastian sambil menunjuk pintu kamar tepat di sebelah kamar baru Ciel.
"Bersiap-siaplah, sebentar lagi waktunya untuk makan malam."
"Baiklah Sebastian."
Ciel memutar knop pintu bersamaan dengan Sebastian. Ciel masuk dan memerhatikan kamar barunya yang bernuansa biru. Mulai dari bed, spring bed, lemari, wallpaper, meja, dan jendela kamar yang terbuka? Ah mungkin hanya lupa ditutup. Lalu ia membuka lemari. Di sana banyak terdapat baju bernuansa biru yang anehnya sesuai dengan ukuran tubuhnya. Ciel memilih baju yang paling sederhana dan membawanya ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi, pintunya diketuk pelan
Tok tok tok
"Ciel, apa kau sudah selesai?" tanya Sebastian sambil memasuki kamar.
"Sebentar Sebastian."
"Kau kesulitan memakai pakaianmu ya?" tanya Sebastian, lalu senyumnya merekah lebar saat Ciel keluar dari kamar mandi dengan baju berantakan. Ciel sebenarnya tidak ingin dibantu tapi sepertinya ia memang tidak bisa memakainya.
"Umm..sepertinya iya Sebastian." semburat merah terlihat wajah Ciel.
"Sini biar ku bantu."
Sebastian mengancingkan baju Ciel dan merapikan celananya.
"Ayo, sekarang kita makan malam."
Mereka berjalan berdampingan dalam keheningan. Tak tahu mengapa perjalanan menuju ruang makan begitu lama. Akhirnya Sebastian memecah keheningan.
"Ciel, apa ada yang kurang di kamarmu?
"Tidak. Dan boleh aku bertanya mengapa kamarku seperti sangat diperuntukkan untukku. Maaf aku bertanya begitu..., aku hanya sedikit bingung saja"
"Um itu karena...
Flashback
Sekitar 4 jam yang lalu Sebastian mengambil handphonenya dan menyuruh pelayannya untuk segera mendekorasi kamar yang berada tepat di sebelah kamar Sebastian menjadi bernuanasa biru. Dan juga menelepon para desainer baju untuk membuat baju bagi anak yang fotonya Sebastian kirimi, hanya berbekal informasi tinggi badan dan lebar pinggang, selebihnya desainer tersebut perlu mencari dengan skala. Ia berjanji akan membayar dua kali lipat dari biasanya untuk pekerjaan 4 jam ini. Dan selama 4 jam itu keadaan rumah Sebastian cukup hancur, pekerja-pekerja berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan semuanya—dan harus sesempurna mungkin. Setelah terlihat mobil Sebastian sudah terparkir apik di halaman rumah, mereka segera menyelesaikan langkah terakhir. Para pekerja menambah barang-barang seperti televisi, kursi, meja dan lain lain yang berwarna biru, begitu juga dengan desainer-desainer baju yang memasukkan baju-baju siap pakai ke dalam lemari. Setelah semuanya siap dan rapi mereka segera melopat dari jendela dan turun ke taman belakang dengan tidak elit.
End of flashback
...aku memang menyukai warna-warna yang boyish," jawab Sebastian tidak nyambung.
"Ohh"
Beberapa saat kemudian mereka berdua sampai ke ruang makan.
"Ciel, silakan duduk dan makanlah yang kau suka."
"Tuan, makanan malam ini adalah Japanese Spiny Lobster Saute, serta Roasted Turkey, selamat menikmati."
"Baiklah."
Saat mereka sudah mulai makan terdengar musik berjudul Bird-Yuya Matsushita mengalun indah. Rupanya ringtone handphone Sebastian karena ada yang menelepon. Sekali...dua kali... tiga kali.. tak digubris oleh nya. Tapi handphonenya terus berdering dan karena merasa terganggu ia melihat sekilas sang penelepon. Mendadak terpasang raut muka tak suka. Ciel yang melihatnya jadi bingung.
"Sebastian, sepertinya ada yang menelepon?"
Sebastian menatap Ciel dingin, membuatnya bungkam dan melanjutkan makannya kembali. Lalu setelah makan Sticky Toffee Pudding sebagai dessert, mereka kembali ke kamar.
"Ciel, besok aku harus kerja. Kau di rumah saja ya?"
"Ok."
"Baiklah, selamat tidur Ciel."
"Selamat tidur Sebastian."
Keesokan paginya, setelah makan pagi Ciel mengantar Sebastian sampai halaman depan. Dibalik pepohonan rindang, 'para mata-mata' sedang memerhatikan mereka.
"Lady, benarkah itu Sebastian Michaelis?"
"Aku juga tidak yakin, dan apakah itu Ciel? Kalau yang itu Sebastian mengapa Ciel ada bersama selebriti terkenal itu?"
"Saya juga kurang tau."
Mendengar suara yang cukup menganggu dari pepohonan, Sebastian berjalan ke arah tempat itu. Di sana ia menemukan puntung rokok yang terlihat seperti digigiti dan masih basah. Tentunya itu milik Bard, terjatuh karena terburu-buru mencari tempat sembunyi. Sebastian kembali ke Ciel bersama puntung tersebut dan memanggil Pluto.
"Pluto, aku minta kau mencari tau pemilik puntung rokok ini."
"Baik Tuan."
"Ciel, aku pergi dulu ya. Jaga dirimu baik-baik dan jangan izinkan siapapun masuk."
"Baiklah Sebastian."
Setelah Sebastian pergi, maid berambut hitam misterius itu segera memaksa Ciel masuk ke dalam. Ciel setuju saja dan berencana untuk menonton televisi seharian ini.
Sementara itu di balik semak-semak pembicaraan seru yang terputus disambung kembali.
"Ternyata dia memang Sebastian, tak salah lagi." Bard berkata dengan yakin.
"Ya benar. Suara maskulin, rambut hitam, berkilau, mata berwarna crimson red, kulit porselen, tubuh atletis, bla bla bla bla bla..."
Sementara Maylene masih di angan-angan yang lain tetap sibuk bicara.
"Dan tadi ia menyebut nama anak itu. Ciel namanya,"kata Paula.
"Kalau begitu kita serang saja sekarang,"putus Finny.
"Lebih baik jangan dulu. Apa kau tidak lihat maid yang misterius tadi dan juga pria aneh tanpa baju? Rumah sebesar ini pasti memiliki penjaga-penjaga hebat seperti kita."kata Bard dengan pdnya.
"Ehem..sebenarnya aku mengenali wanita itu. Dia teman seperkerjaku sebagai assassin dulu. Namanya Airashi Kuro Yuki,"timpal Maylene setelah sadar dari angan-angannya.
"Ok, semuanya. Lebih baik kita tunda dulu keinginan untuk membawa Ciel kembali. Kita pikirkan dulu caranya baik-baik,"kata Lizzy pada akhirnya. Dan mereka pun kembali ke mansion Ciel.
.
.
.
TBC
.
Maaf apdetnya lama, bukan hanya itu alurnya juga kelamaan (mungkin)
Makasi banget buat yang ngereview; Gia-XY, xxVitaxx, michaelis yuki,voly ichi yama, dan juga silent readers~
Akhir kata,
Mind to R&R? Flames are welcome ^-^
Tertanda,
One hell of a fujoshi
