Rating: T

Disclaimer: Kuroshitsuji by Toboso Yana

This story by me.

Genre: Angst, Romance, Hurt

Oke ini adalah chapter 1,Sebernanya chapter ini belum selesai tapi berhubung hari senin aku akan masuk sekolah dan tidak tahu bisa mengupdate lagi atau tidak maka aku post sekarang dan mungkin kurang memuaskan karena cuma sedikit. aku tidak tahu apakah ada yang melihat fanficku tapi tolong di comment ya! Or anythink.. happy reading..

125 years later….

Aroma teh ini sungguh enak…

"BRAK!" terdengar suara pintu ditendang. Dan aku tahu siapa orang yang melakukannya.

'1,

2,

3,' "Ciel!" terdengar suara melengking dan terlihat seorang pria setengah entahlah, berambut merah panjang dengan gigi taringnya yang aneh dan tidak lupa kacamata merahnya…

Aku hanya diam melihat lelaki itu berlari ke arahku. Saat sudah dekat aku melangkah ke samping 1 langkah yang sukses membuat lelaki itu memeluk benda lain. Aku jadi teringat Se… 'Tidak… lalu kusingkirkan pikiranku itu agar tidak membuatku merasa sedih atau entahlah'

"Ada apa kau kesini grell" tanyaku sambil duduk kembali dan meminum teh. Merasakan aroma teh yang membuat tenang.

"Ah! Kau jahat sekali…" gumamnya sambil melakukan gerakan yang aneh.

Aku hanya menatap dengan tatapan Ada-Apa-Kau-Kesini.

"jangan melihatku dengan tatapan seperti itu…" "Aku punya berita bahwa Sebastian hidup"

"Apa!" "Bagaimana bisa itu terjadi aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri bahwa Sebastian mati dengan cara ditusuk dengan pedang iblis. Karena diriku yang menjadi iblis" teriakku dengan kemarahan, dan bingung yang terlihat jelas.

"hei tenang…" gumam grell ketakutan sambil membuka buku aneh berisi list orang mati dan hidup.

"Aku juga tidak tahu apakah ini benar atau tidak" "tapi disini tertulis bahwa Sebastian Micahelis berenkarnasi dan hidup kembali dengan nama Jack Wolfgarm"

"Dimana dia sekarang?" 'aku merasa harus bertemu dengannya'

"mmm… masalahnya…." gumamnya grell sambil menutup buku tersebut.

"masalahnya?" kataku tidak sabaran sambil mengangkat sebelah alisku.

"masalahnya ini sudah 17 tahun yang lalu jadi aku tidak tahu dimana Sebi sekarang. Karena aku baru memeriksa bukunya tadi dengan cermat dan menemukan nama… nyya" gumamnya dengan gemetar sambil melihat ke arahku.

Aku hanya terdiam sambil melihat ke arahnya dengan tatapan tidak bisa dijelaskan.

"ah.. tapi Sebi belum mati karena namanya tidak terdaftar dalam buku kematian. Yang aku sudah mengeceknya.." gumamnya sambil masih menatapku.

Setelah mendengar perkataan greel itu, nafas yang tidak sadar kutahan akhirnya kulepaskan.

"Baiklah terima kasih grell. Dan sekarang pergilah" gumamku sambil meminum teh.

"Ahh… Ciel jahat sekali" manjanya dengan gaya yang aneh.

Aku hanya meminum teh ,tidak melihatnya sama sekali.

"Dan ada juga surat di depan pagarmu ini. Sepertinya surat ancaman" lalu melemparkan surat itu ke meja kerjaku.

Aku tetap meminum teh dengan tenang, dan sama sekali tidak melihat kearah surat yang sekarang berada di meja kerjaku.

"Baiklah sekarang aku akan pergi. Bye Phanthomize" lalu pergi dengan gergaji besinya dan membuat tembok ruang kerjaku menjadi rusak.

Aku tetap saja meminum teh meskipun teh yang tadinya penuh mengisi cangkir sekarang sudah tidak terlihat lagi. 'Sebastian, akankah aku bisa bertemu denganmu kembali. Aku ingin sekali bisa bertemu denganmu lagi.' Mataku melihat kearah cangkir kosong yang berada di tanganku selama beberapa detik lalu meletakkannya di meja kerjaku. Berdiri dan berjalan menuju jendela melihat kearah bulan purnama yang malam itu menerangi malam yang gelap. Berharap bisa bertemu dengannya.

########

Memakai baju tidurku aku berjalan lurus mengikuti pikiranku. Semakin lama aku berjalan semakin banyak orang berkumpul. Orang yang berkumpul memiliki mata yang merah menyala menyaksikan hal yang sedang berlangsung di kerumunan itu, dan juga memiliki tangan dengan jari kuku berwarna hitam. Anehnya hal itu tidak membuatku risau dan curiga. Aku terus melangkah, melewati kerumunan melihat apa yang sedang terjadi di depan. Sampai di depan aku melihat seorang lelaki berlutut, kedua tangannya diikat dibelakang dengan tali yang menyerupai tali tambang hanya saja lebih tipis. Lelaki tersebut berambut hitam, berkulit putih pucat tapi tidak sampai membuatnya seperti orang sakit. Matanya sama seperti orang-orang yang berkumpul di belakangku. Matanya merah menyala seperti batu rubi yang baru di asah dan dilumuri darah, darah segar. Tapi ada yang berbeda di matanya dengan yang lain, matanya menyiratkan ketenangan yang mendalam.

Lalu terlihat di sampingnya ada seseorang dengan wajah ditutup kain hitam yang bagian matanya terdapat lubang agar bisa melihat. Orang tersebut membawa suatu pedang dengan ukiran yang aneh dengan warna pedang yang hijau atau ungu. Aku tidak terlalu bisa melihat jelas karena gelapnya saat itu. Sepertinya itu keduanya. Orang tersebut mulai mengangkat pedang tersebut lalu dengan cepat menusukkannya ke dalam tubuh lelaki tersebut dibagian dadanya. Lelaki tersebut mulai memuntahkan darah, darah yang berwarna hitam dan juga merah. Dia lalu mengangkat kepalanya, menatapku. Mataku selama beberapa detik terpaku dengan wajahnya sebelum akhirnya, dia tergeletak di panggung kayu dengan darahnya yang berwarna merah dan hitam mengalir, membasahi panggung kayu tersebut dan lama kelamaan mengenai kakiku.

Aku lalu berjalan mengikuti darah tersebut membuat kakiku berlumuran darah. Aku berjalan sampai akhirnya, sampai di panggung tersebut. Aku menunduk lalu menangis, menangis karenanya. Dengan perlahan aku berusaha untuk memegangnya tapi sebelum sampai di ujung jariku lelaki itu berubah menjadi debu. Aku berusaha meraihnya tapi debu tersebut sudah terhempas angin. "Sebastian" kata tersebut kuucapkan berharap dia kembali.

Tiba-tiba mataku terbuka dengan lebar. Aku terbangun dari mimpi "Hah.. hah.. hah" nafasku tidak terkendali. Keringat terlihat mengalir deras membasahi tubuhku.

"Sebastian sampai kapan kau akan membuatku menderita?" air mataku mengalir membasahi pipiku.

"Sampai kapan kau akan membuatku menderita?" Air mataku mengalir semakin deras membasahi pipiku. Ku halangi air mataku dengan tanganku berharap akan berhenti. Tapi tetap saja mengalir.

"Sebastian dimana kau sekarang?" gumamku sambil terus menghalangi air mata yang terus berjatuhan. Tanganku yang lain meremas bantal disampingku mencoba membuat perasaanku lebih tenang.

Tapi tidak 'Sebastian dimana kau?'

nb: ini kuaplod setelah aku pulang sekolah. di kelas ipa. fuhh... tidak ada teman kelas 1 yang berada di kelasku... Ah... sorry! depresi berkepanjangan... just read and comment... thankyou