CHAPTER 2 (UJIAN)


Suara gong yang disertasi bedug sebanyak tiga kali terdengar ke seluruh penjuru Istana Joseon. Hari ini adalah hari dilaksanakannya boksi. Ujian pemilihan pegawai kemiliteran ini sangat menegangkan bagi Luhan. Ada banyak pesaing yang datang dari berbagai penjuru Joseon. Total pesertanya adalah 350 orang dan hanya akan dipilih sebanyak 36 orang untuk mengikuti junsi[12] yang akan dinilai langsung oleh Yang Mulia Raja Seonjo.

Sudah pasti tekad Luhan untuk menjadi peringkat pertama di ujian awal ini, begitu pula saat junsi. Bukan, bukan maksud Luhan untuk bisa membanggakan dirinya di depan Yang Mulia Raja, tetapi ia sangat ingin menyelidiki kasus Park Chanyeol yang mengganggunya sejak beberapa hari terakhir. Jika ia bisa lulus ujian dengan nilai terbaik, mungkin Luhan akan lebih cepat ditugaskan secara resmi.

Seorang pengawal kerajaan mengibarkan bendera berwarna merah. "Ujian akan segera dimulai." katanya lantang dengan suara yang berwibawa.

Luhan menarik napasnya. Walaupun agak gugup, ia tidak bisa membiarkan kegugupannya itu membawanya kembali pulang ke rumah. Luhan menyiapkan busur panah dan anak panahnya, tes awal adalah cara menggunakan panah dengan benar. Luhan paling ahli dalam hal ini, jadi dia tidak akan gagal untuk tes yang pertama ini.

Luhan melirik ke kiri. Ia terkejut sesaat. Ia melihat pemuda yang sangat dikenalnya sedang menyiapkan busur panah juga anak panah miliknya. Ia tak menyangka pemuda yang ditemuinya beberapa hari yang lalu adalah salah satu saingan Luhan di ujian pemilihan pegawai kemiliteran yang baru.

"Kim—Kim Minseok." gumam Luhan kemudian.

Kim Minseok—pemuda yang dilihat Luhan tadi menoleh ke arah Luhan ketika Luhan menyebutkan namanya. Minseok hanya membalas Luhan dengan senyuman tipisnya, kemudian kembali berkutat dengan busur dan anak panah miliknya.

"Selanjutnya!" teriak seorang pengawal memanggil peserta selanjutnya.

Luhan menarik napasnya panjang kemudian menghembuskan napasnya pelan. Ia tak boleh goyah hanya gara-gara pemuda yang ditemuinya kemarin itu. Ia harus membuktikan, kemampuannya jauh berada di atas Minseok.

Barisan Luhan dan Minseok yang satu barisnya terdiri dari sepuluh orang maju ke depan. Mereka bersiap-siap dengan busur dan anak panahnya masing-masing. Posisi Luhan dan Minseok bersebelahan. Luhan mengambil ancang-ancang begitu pula dengan Minseok dan yang lainnya. Luhan menarik anak panah terhadap busurnya. Ia berkonsentrasi penuh agar tepat pada sasarannya.

"Tembak!" teriak seorang pengawal memberi aba-aba.

Kesepuluh peserta menembakkan anak panahnya. Mereka mengulangi hal tersebut hingga tiga kali. Pengawal yang berdiri di masing-masing sasaran peserta yang berbentuk persegi dengan lingkaran merah di dalamnya memeriksa ketepatan dari tembakan mereka.

"Tepat sasaran." teriak pengawal yang memeriksa ketepatan tembakan dari Luhan dan Minseok kemudian mengibarkan bendera berwarna merah.

Para pejabat yang menjadi juri segera menulis nilai untuk mereka kemudian mengumumkan peringkat pertama dari tes memanah ini.

Shi Luhan mendapat peringkat pertama, diikuti oleh Kim Minseok di peringkat kedua.

Rupanya Minseok memang saingan terberat Luhan, namun di tes pertama, Luhan sudah membuktikan kalau dirinya memang memiliki kemampuan di atas Minseok.

Tes kedua, kemampuan menggunakan pedang. Di dalam ujian kedua ini, masing-masing dari peserta ujian akan dipasangkan kemudian saling menyerang menggunakan pedang. Peraturan lain, masing-masing peserta tidak boleh melukai peserta lain yang menjadi lawannya. Mereka hanya di perbolehkan untuk membuat peserta yang menjadi lawannya menyerah dan tak dapat berkutik lagi.

Luhan kembali melirik Minseok. Dia tampak sangat tenang. Luhan masih terheran dengan anak pemilik toko buku yang dikunjunginya beberapa hari yang lalu. Bahkan saat Luhan bertemu dengannya, Minseok tak tampak seperti orang yang terlatih dalam menggunakan panah ataupun pedang.

"Selanjutnya!" teriak pengawal memanggil peserta selanjutnya. Itu adalah barisan Luhan dan Minseok.

Luhan berhadapan dengan peserta lain dan membelakangi Minseok. Untung saja Minseok tak menjadi lawannya saat tes menggunakan pedang karena Luhan belum tahu pasti apa kelemahan Minseok saat menggunakan pedang. Pengawal yang menjadi wasit mempersilahkan mereka untuk saling membungkuk.

"Mulai!" katanya memulai dengan aba-aba.

Luhan mengangkat pedangnya. Dia memperhatikan gesture dari lawannya. Luhan tersenyum dengan salah satu sudut bibir yang dinaikkan ke atas. Luhan menemukan titik kelemahannya. Luhan melihat caranya memegang pedang. Tangan kanan yang berada di atas tangan kiri dan menggenggam pedang dengan erat. Ya, Luhan tahu orang yang menjadi lawannya adalah seseorang yang pandai dalam menggunakan pedang, namun dari sorot matanya Luhan tahu dia tak tahu tak-tik untuk mengalahkan lawan. Ya, kelemahannya dalam menggunakan tak-tik.

Orang itu menyerang Luhan dengan raut berapi-api. Luhan menghindar. Ia membiarkan orang itu menyerangnya Ketika orang itu mulai lengah, saat itu Luhan akan menyerangnya. Luhan mengangkat pedangnya dan berusaha menghindar.

Sret!

Luhan menghindar ketika pundaknya akan terkena serangan pedang tersebut. Orang itu terjatuh karena sasarannya menghindar. Luhan mulai menyerangnya dan sepertinya orang itu tak mampu bertahan. Hingga akhirnya Luhan mengarahkan pedang itu tepat ke lehernya. Luhan tersenyum penuh kemenangan.

Tes kedua menggunakan pedang, Kim Minseok di peringkat pertama diikuti Shi Luhan di peringkat kedua.

Tes ketiga pemanah menggunakan anak panah berbahan besi.

Luhan menarik anak panahnya lagi. Ia sempat melirik Kim Minseok yang sangat berkonsentrasi pada panahnya. Sejauh ini Luhan dan Minseok memiliki kedudukan yang sama. Sama-sama berada di peringkat pertama dan peringkat kedua pada masing-masing tes pertama dan kedua.

Luhan menembakkan anak panahnya. Luhan berdecak kesal karena panahnya tak tepat pada sasaran. Luhan menarik anak panahnya lagi dan kembali tak tepat pada sasaran.

Tes ketiga pemanah dengan anak panah besi, Kim Minseok di peringkat pertama. Shi Luhan pada peringkat keempat.

Tes selanjutnya adalah tes pemanah dan melempar tombak sambil berkuda. Luhan tersenyum. Mungkin ini kesempatannya untuk menyusul Minseok yang sepertinya berada satu tingkat di atasnya. Setidaknya setelah melakukan perjalanan sebulan dari Anseong ke Hanyang, Luhan dapat melatih kemampuan berkudanya saat di perjalanan.

Luhan menaiki kuda yang sudah disiapkan dan bersiap dengan busur dan anak panah yang berada di belakang punggungnya sedangkan tombak ia genggam di tangan kanannya. Luhan menarik tali kekang kuda itu kemudian menggerakkan kakinya di sisi kiri dan kanan kuda. Kuda itu berlari mengelilingi sasaran yang telah disediakan. Luhan berancang-ancang akan melempar tombak itu. Ia berkonsentrasi penuh.

Sret!

Luhan melempar tombak itu dan tepat mengenai dada orang-orangan yang terbuat dari jerami. Selanjutnya Luhan meraih busur dan anak panah dari belakang punggungnya. Luhan mengincar kepala orang-orangan itu dan…

Sret!

Tepat sasaran lagi.

Luhan menahan tali kekang kuda itu. Ia kemudian turun dari kuda. Para pejabat yang menjadi juri berdecak kagum dengan kehebatan Luhan. Giliran Minseok sekarang.

"Ku harap peringkatmu berada di bawahku sekarang." kata Luhan sambil melewati Minseok.

"Ku harap semuanya tak seperti yang kau harapkan, Tuan Shi Luhan." jawab Minseok dengan nada meremehkan.

Tes terakhir, Shi Luhan di peringkat pertama dan Kim Minseok di peringkat ketiga.

[Bow and Arrow]

Pria tua itu memetik senar ketiga dari dua belas senar gayageum[13] miliknya. Tangannya yang sudah renta tampak cekatan memetik senar-senar itu dan membentuk alunan musik yang sangat merdu.

Kim Joonmyeon, pria tua yang merupakan seorang sarjana di bidang perdagangan yang kemudian ia bekerja sebagai pegawai biro musik karena keahliannya dalam bermain gayageum. Ia adalah salah satu bagian dari Fraksi Barat. Walaupun bukan seorang bangsawan, namun prestasi yang ia raih selama bekerja di biro musik cukup memuaskan. Sekarang ia membuka sebuah toko buku di pasar Hanyang dan menjadi salah satu pemasok kertas terbesar di Hanyang.

"Tuan, Kim Minseok telah berhasil lulus di ujian awal dan mendapat posisi kedua." jelas seorang yang merupakan pelayan Kim Joonmyeon. Ia berpakaian seperti seorang pengelana dengan pedang yang mencuat di sisi kanannya.

"Bagus." sahutnya berhenti memainkan gayageum miliknya, "Walaupun bukan anakku, dia selalu membuatku bangga." sambungnya sambil tertawa khas seperti laki-laki tua.

[Flashback]

Joonmyeon mengangkat gayageum miliknya dan membungkusnya dengan kantung yang cukup besar berwarna putih agak pucat. Joonmyeon mengangkat gayageum miliknya dan beranjak meninggalkan istana setelah bang-bang eui[14] selesai dilaksanakan.

Joonmyeon melirik ke kanan dan ke kiri, ia merasakan seseorang sedang mengikutinya. Joonmyeon yang awalnya menoleh ke belakang berbalik dan terkejut. Ia terjungkal ke belakang begitu pula dengan gayageum miliknya yang terjatuh.

Dua orang dengan penutup mulut dan kepala—jadi hanya bagian mata yang tampak—menyerangnya. "Siapa kalian?" tanyanya dengan nada gemetar dan takut.

Joonmyeon memundurkan tubuhnya bermaksud menghindar, namun kakinya terasa kaku hingga tak mampu untuk berdiri, apalagi berlari. Satu orang diantara mereka mengangkat pedangnya, siap untuk menyerang Joonmyeon.

Sret! Bruk!

Seorang anak seumuran dengan anak 8 tahun menyerang kedua orang itu dengan gayageum milik Joonmyeon. Anak itu memukul-mukul mereka dengan gayageum milik Joonmyeon. Anak itu juga menyingkirkan kedua pedang mereka. Mereka menghindar dan memilih untuk melarikan diri.

Anak itu melirik gayageum milik Joonmyeon yang ada dalam genggaman tangannya. Ia membuka pembungkusnya, tampak bagian ujung gayageum itu retak dengan beberapa senar yang putus. Anak itu menghampiri Joonmyeon dengan wajah agak sedih.

"Maafkan aku, Tuan. Aku merusak gayageum milik anda." katanya dengan nada menyesal.

Joonmyeon menghela napasnya. Lelaki parubaya itu kemudian tersenyum dan berdiri, "Suatu hari nanti aku dapat membelinya lagi. Tetapi, nyawaku inilah yang tak dapat dibeli. Terima kasih karena sudah menyelamatkan nyawaku anak kecil." Joonmyeon mengusap kepala anak itu.

"Apa aku harus mengganti benda itu?" tanya anak itu lagi.

"Tidak usah. Mau pergi bersama kerumahku?" tawar Joonmyeon.

Senyum anak itu mengembang, "Benarkah? Apa aku bisa menjadi pelayan anda, Tuan?"

Joonmyeon melihat anak itu dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Penampilannya tampak lusuh dan tidak terawat, sama seperti penampilan seorang budak.

"Siapa namamu?" tanya Joonmyeon.

"Kim Minseok." jawab anak itu, "Sebenarnya aku baru saja dari perbatasan. Aku adalah seorang budak yang melarikan diri."

"Budak?" Joonmyeon memperjelas.

Minseok mengangguk, "Ya. Seorang makelar budak illegal akan menjualku ke Qing dan aku berusaha melarikan diri. Hingga aku sekarang aku kembali ke Hanyang. Aku harap anda tidak menceritakan hal ini kepada siapapun."

Joonmyeon mengangguk. Ia pikir Kim Minseok adalah anak yang hebat. Walaupun dia seorang budak, namun ia berhasil melarikan diri dari mekelar budak illegal yang rata-rata kejam. Joonmyeon sangat kagum dengan Minseok. Joonmyeon memutuskan untuk mengajak Minseok ke rumahnya. Bukan untuk memperkerjakan Minseok, tetapi mengangkatnya sebagai anak. Joonmyeon juga melatih Minseok menggunakan panah, pedang dan senapan. Semuanya Joonmyeon siapkan jika suatu saat ia berbisnis, ia dapat menggunakan Minseok sebagai tameng untuk melindungi dirinya.

Joonmyeon kira dua orang yang menyerangnya tadi adalah pelayan yang ditugaskan salah satu pedagang besar di Hanyang. Joonmyeon memang terkenal sebagai sarjana perdagangan yang pintar. Mungkin pedagang itu takut jika suatu saat Joonmyeon sudah tak menjadi pegawai biro musik kemudian Joonmyeon membuka bisnis, Joonmyeon akan menggeser posisinya dan membuatnya bangkrut.

[Flashback End]

Joonmyeon kembali memetik senar-senar gayageum miliknya. Jika ia mengingat hal itu, mungkin tak ada harga yang bisa membayar jasanya kepada Minseok, namun menurutnya sudah cukup Joonmyeon membayar jasa Minseok saat menyelamatkannya. Untuk itu Joonmyeon bisa memanfaatkan Minseok seenak hatinya. Walaupun sekarang Minseok berstatus sebagai anaknya, namun Minseok tetaplah seorang budak. Bahkan jika Minseok lulus pada junsi dan resmi menjadi pegawai kerajaan, Minseok tetaplah seorang budak yang derajatnya tak sengaja diangkat oleh Joonmyeon.

[Bow and Arrow]

Junsi telah usai. Yang Mulia Raja Seonjo pun telah kembali ke istananya. Bang-bang eui akan diadakan seminggu lagi, kemudian para peserta yang telah lolos akan ditetapkan sebagai kwonji[15] untuk masa uji coba.

Panglima pengawal istana berdiri di depan para peserta yang lulus dalam boksi, dan sekarang ia akan mengumumkan 26 orang yang lolos dalam junsi.

"Sesuai perintah Yang Mulia, dengan ini saya akan mengumumkan 26 orang yang lulus dalam junsi tahun ini." katanya dengan suara lantang.

Panglima itu membuka sebuah gulungan kertas berwarna hijau yang di dalamnya sudah tertulis nama-nama orang yang lolos dalam junsi yang ditulis oleh Yang Mulia Raja sendiri.

"Choi Myung Han." katanya menyebutkan nama orang pertama yang lolos.

Luhan melirik orang yang bernama Choi Myung Han, ia tampak tersenyum seperti mendapat sebuah kemenangan. Luhan memegang dadanya. Jantungnya berpacu dengan cepat. Darahnya mengalir deras. Jangan sampai ia adalah 10 orang yang tidak lulus dalam junsi.

"Ahn Dae Gum." kata Panglima itu menyebutkan nama orang ke 15, "Baek Tae Joon. Min Young Ha."

Luhan menarik napasnya lagi. Sudah tujuh belas nama yang disebutkan. Sejauh ini namanya dan juga nama saingan terberatnya, Kim Minseok belum disebutkan.

"Kim Minseok." Panglima menyebutkan nama ke 25.

Luhan menunggu dan masih berharap namanya akan disebutkan. Ini adalah nama terakhir yang akan diumumkan.

"—dan yang terakhir adalah Shi Luhan." kata Panglima itu menyebutkan nama terakhir, "Datanglah ke bang-bang eui yang diadakan minggu depan. Jika salah satu dari kalian tidak datang, maka posisi kalian akan digantikan oleh salah satu dari sepuluh orang yang tidak lolos dalam junsi." jelasnya. Panglima pengawal istana berlalu diikuti oleh beberapa pengawal yang levelnya sedikit ada di bawahnya.

Minseok tampak menghampiri Luhan yang sedang tersenyum menang. Luhan sangat senang dan akan segera memberitahu ayahnya yang berada di Anseong untuk segera menuju ke Hanyang.

"Selamat." ujar Minseok mengulurkan tangannya pada Luhan.

Luhan menjabat tangan Minseok agak ragu, "Terima kasih." jawab Luhan, "Selamat juga atas kelulusanmu." kata Luhan.

Minseok melepas tautan tangannya. Ia segera berlalu dari hadapan dan akan pulang ke rumahnya.

Luhan berbalik melihat Minseok yang makin menjauh dari pandangan matanya. "Tunggu!" teriak Luhan menahan langkah Minseok.

Minseok berbalik, "Ada apa?" tanya Minseok.

"Mau pulang bersamaku?" tawar Luhan sambil tersenyum.

Minseok membalas dengan senyuman dan mengangguk. Luhan menghampiri Minseok, "Aku mentraktirmu hari ini. Anggap saja untuk merayakan kelulusan kita berdua." katanya.

[Bow and Arrow]

Luhan baru saja selesai menulis surat yang akan ditujukan untuk Ayahnya yang berada di Anseong. Luhan melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam sebuah amplop berwarna coklat. Rencananya ia akan mengirim surat itu besok. Setidaknya setelah selesai masa menjadi kwonji, Ayahnya sudah sampai di Hanyang.

Luhan merapikan alat tulis menulisnya, termasuk tinta dan beberapa lembar kertas kosong yang tersisa. Luhan merentangkan kasur lipat miliknya dan merebahkan tubuhnya di atasnya. Ia teringat dengan Minseok saat Luhan mengajaknya untuk minum di sebuah kedai soju[16].

[Flashback]

"Cara memanahmu tadi sangat hebat." puji Luhan sambil menuang soju ke gelas kecil milik Minseok.

Minseok meminum soju yang ada di gelasnya yang baru saja dituangkan oleh Luhan, "Terima kasih. Aku juga suka caramu menggunakan pedang. Kau pasti sudah mengenali lawanmu yang tak menggunakan tak-tik itu." sahut Minseok sambil balik memuji Luhan.

"Eh? Kau tahu kalau lawanku tadi tak menggunakan tak-tik?"

Minseok mengangguk, "Aku memperhatikanmu sejak tes pertama dilakukan."

"Woahh kau hebat sekali." Lagi-lagi Luhan memuji Minseok, "Bagaimana bisa kau memperhatikanku sedangkan kau sendiri sedang menghadapi musuh. Sangat hebat. Kau benar-benar di luar dari di dugaanku."

"Memangnya dugaanmu terhadapku sebelumnya bagaimana?"

"Ku pikir kau hanya seorang anak pemilik toko buku biasa. Aku tak menyangka kau seorang pemanah dan pengguna pedang yang sangat hebat."

"Hahaha, Abeoji-ku yang mengajarkan semua itu." sahut Minseok sambil tertawa kecil.

Luhan mengingat sosok lelaki tua yang duduk di belakang meja kerjanya saat di toko buku itu. Luhan juga sangat mengingat saat Minseok menyebutnya dengan sebutan Abeoji. "Dia Abeoji-mu? Hei, ku kira dia itu majikanmu. Kau itu sama sekali tak mirip dengannya." gumam Luhan tanpa sadar.

"Dulunya dia memang majikanku." jawab Minseok.

Luhan hampir tersedak mendengar jawaban Minseok, "Maaf, tadi aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu." Luhan baru menyadari hal yang ia tanyakan sebelumnya. Luhan pikir Minseok tersinggung dengan pertanyaannya itu.

"Tidak, kau tidak menyinggung perasaanku sama sekali."

"Lalu?"

"Aku memang bukan anak pemilik toko buku itu. Aku hanya seorang budak beruntung yang diangkat menjadi anaknya." cerita Minseok.

"Lalu, kenapa dia mengajarkanmu memanah dan menggunakan pedang hingga kau sangat mahir akan hal itu?" tanya Luhan penasaran. Luhan memang tak dapat memungkiri kehebatan Minseok dan harus ia akui, kemampuannya berada di atas Luhan.

"Ada satu alasan yang tidak bisa ku ceritakan padamu." jawab Minseok sambil menuang soju ke gelas milik Luhan.

"Kalau boleh tahu, nama Abeoji angkatmu itu siapa?" tanya Luhan.

"Namanya Kim Joonmyeon. Dia itu salah satu mantan pegawai biro musik."

"Lalu alasanmu ikut ujian pemilihan pegawai kemiliteran apa?" tanya Luhan lagi.

"Untuk mendapatkan uang. Kupikir dengan melayani Yang Mulia Raja aku akan dapat lebih banyak penghasilan daripada sekedar membantu Abeoji di toko." jelas Minseok, "Aku hanya ingin terlepas darinya." sambung Minseok kemudian.

Luhan hanya mengangguk mengerti. Ia tak bermaksud menanyakan Minseok ingin terlepas karena apa, yang jelas saat itu Luhan terlalu banyak bertanya sejak mereka duduk di kedai tersebut.

[Flashback End]

Luhan membalik tubuhnya hingga posisinya menyamping. Luhan masih tak mengerti apa yang dimaksud Minseok. Terlepas? Terlepas karena apa? Apa mungkin Joonmyeon memperlakukannya semena-mena?

Luhan membalik tubuhnya lagi. Ia juga masih memikirkan kasus kematian Park Chanyeol yang sampai hari itu masih menjadi sebuah misteri dan sangat menghantui pikiran Luhan.


To Be Continued…


Glosarium (Chapter 2):

[12] Junsi: ujian akhir yang di hadiri oleh Raja.

[13] Gayageum: alat musik tradisional Korea yang menyerupai kecapi, memiliki 12 buah senar.

[14] Bang-bang eui: upacara pemanggilan nama yang lulus ujian, disertai dengan pelantikan.

[15] Kwonji: pegawai magang yang belum ditempatkan atau ditugaskan secara resmi.

[16] Soju: minuman distilasi/fermentasi khas Korea yang terbuat dari beras atau bahan lain yang menyerupai beras.


A/N: Okelah kembali dengan chapter 2. entah kenapa aku ngerasa cerita ini lelet banget -_- yup karena banyak yang mesti dijelaskan secara detail dan aku juga ga mau setiap chap itu nyampe 4rban kata, biasanya kalau kaya gitu aku bakal cepet kehilangan feel atas ff itu.

Terima kasih buat kalian yang komen, banyak banget lah itu xD soalnya kalau cerita bertema saeguk gini jarang yang suka :D dan apa cuma aku aja ya yang suka drama saeguk xD karena lumayan banyak koleksi drama saeguk di laptop #oke ini ngelantur# ya… dihitung hitung ngebantu jalan cerita ff ini lah ya :D

aku mau balesin komentarnya satu-satu yup…

okky sukmaningrum : hehehe ya… udah dilanjut kok ^^ Thank's komennya…

HamsterXiumin : Hong Gil Dong? aku belum pernah nonton drama itu xD ya… soalnya aku pas buat ini juga kebayang drama korea saeguk hehehehe…. Thank's komennya…

Genieaaa : O.O udah dilanjut… Thank's komennya…

hanachoco : hehehe aku juga pertama kali buat ff saeguk xD ah terima kasih :D Thank's komennya…

shinta lang : harus dibaca dong next nya biar tau siapa yang bakal mati selanjutnya #plakk #modus Thank's komennya…

twentae : hohoho terima kasih :D udah dilanjutkan ini :) Thank's komennya…

savitri : ini udah dilanjut kok :D Thank's komennya…

Kin Ocean : mungkin nanti ada pair yang lain :) soalnya baru part 1, belum apa-apa juga :D Thank's komennya…

s dian savitri : sip… udah dilanjutkan… Thank's komennya…

casproduction : ya masih berlanjut kok… hehehe seneng banget kalau dapet komentar kaya gini. Thank's komennya…

s dian s : sip udah dilanjutkan… Thank's komennya…

Chonurullau40 a.k.a Miss Zhang : salam kenal juga… hwaa kebetulan update kilat ini.. emhh sebenernya Minseok protagonist sih,,, Cuma dia ngikut antagonis dulu #bocorin dikit … sebenernya bapaknya dia tuh yang jd antagonis utamanya…

onyx sky : sip udah dilanjutkan :D Thank's komennya…

terima kasih atas komentarnya semuanya, jadi makin semangat buat nulisnya dapet bonus komen sebanyak ini :D mungkin setelah chapter 2 ini ga bakal bisa update kilat :D semoga masih ada yang nunggu ini ff :D hehehehe pamit dulu ya… bye bye :D