Masalah Gaara
Lanjut!! :D
Disclaimer: ya ya Naruto milik Masashi Kishimoto sensei, saya hanyalah penggemar yang suka memakcomblangkan para tokohnya dengan senang. XD
Pairing: GaaIno
Ino berpegangan lebih erat saat Gaara melaju dengan motornya. Ia tidak tahu kemana Gaara akan membawanya, apa mungkin tempat-tempat seram seperti bar, atau tempat perkumpulan mafia seperti di film action yang sering Ino nonton bersama Sakura?
Apa pun itu yang jelas ia tidak menduga Gaara akan memilih cafe yang tenang dan imut yang lebih cocok dengan para cewek remaja daripada cowok seserius Gaara. Ino memandangnya dengan tidak percaya.
"Aku tidak tahu tempat seperti apa yang kamu suka, tapi aku tahu kamu mungkin mau makan strawberry… jadi kubawa kesini," Gaara tidak memandang Ino. Ia hanya memandang pintu cafe itu seperti ingin meyakinkan dirinya untuk masuk ke tempat sefeminin itu.
"Gaara…" Ino ingin mengatakan sesuatu. Sesuatu yang manis untuk membuat Gaara senang. Ia memenggam tangan Gaara dengan lembut, sangat terharu dengan betapa perhatiannya Gaara sebenarnya. Cowok itu sedikit terkejut atas sentuhan itu dan ia berpaling ke arah Ino.
Ino tersenyum, "Gaara aku-"
"Eh bukankah itu si panda Gaara?" suara tawa memecah di samping pasangan itu. Mata Gaara tidak hanya menyimpit tajam, tetapi juga menyala dengan sinar bahaya. Ia sekarang berdiri di depan Ino, seperti ingin menjauhkannya dari gerombolan cowok yang memakai seragam sekolah yang Ino tidak kenali.
"Mau apa kalian? Apa minggu yang lalu aku tidak cukup menghajar kalian?"
Ino ingin melihat para cowok itu dengan saksama, tetapi Gaara tidak membiarkannya melangkah lebih ke depan.
"Biasalah, kami cuma jalan-jalan. Ini kan bukan wilayah kamu Gaara, tapi kami cukup kaget kamu mau masuk…" cowok dengan rambut paling berantakan melemparkan pandangannya ke cafe itu lalu ke arah Gaara. Kemudian ia tertawa keras. Semua teman-temannya ikut tertawa.
"Kalau kalian tidak segera pergi jauh dariku karena kalian pikir kalian membuat diri kalian pintar dengan membuntuti aku kemana-mana, aku akan membuat ambulans menjemput kalian," sekarang Gaara mengepalkan kedua tangannya.
"Santai saja Gaara. Kami hanya ingin memberikanmu sebuah pesan dari ketua kami," cowok itu nyengir lalu memberikan Gaara sebuah amplop. Sebelum Ino bisa membaca nama yang tertulis di amplop itu, Gaara sudah memasukkannya ke kantongnya.
"Eh ngomong-ngomong, siapa sih cewek cantik ini? Pintar juga kamu memilih mainan baru Gaara," cowok itu nyengir lebih lebar lalu mencoba menyentuh rambut Ino yang panjang, tetapi Gaara sudah meninjunya jauh-jauh.
Cowok itu terkapar, memuntahkan darah sedikit sambil berguman kata-kata kasar. Tetapi karena Gaara memandangnya dengan tatapan yang lebih ganas, ia dan teman-temanya melarikan diri.
Gaara memandang kepergian mereka dengan wajah puas, lalu ia berbalik ke arah Ino, tetapi gadis itu sudah tidak ada di belakangnya.
Gaara menutup mata lalu menggerutu dengan kesal. Kenapa Ino dengan begitu mudahnya percaya omongan para musuhnya? Ia mengeluarkan ponselnya dan menekan nomernya Ino. Setelah lima kali mencoba menghubunginya gadis itu mengangkat ponselnya juga.
"Halo…"
"Ino dimana saja kamu?"
"Aku sedang pulang."
"Kamu sedang sakit, beraninya kamu pulang tanpa kasih tahu aku. Kalau ada satu hal yang aku tidak suka dari para cewek itu adalah, kalau mereka terlalu mendramatisir. Setidaknya kamu menanyakan aku sebelum kamu percaya omongan orang lain."
"Kamu tadi tidak membantah."
Gaara terdiam sebentar. Hal ini membuat Ino tambah marah. Ia sudah tidak peduli kalau Gaara akan lebih marah lagi padanya. Biar saja dia datang dan mencincangnya hidup-hidup!
"Aku memang sering berjalan dengan para cewek. Sebelum kenal kamu tentunya. Tapi yang baru kuanggap sebagai pacarku adalah kamu. Sekarang katakan kamu ada dimana."
Ino sebenarnya bisa saja luluh setelah mendengar penjelasan Gaara itu. Tapi entah kenapa ia justru tambah marah mendengarnya. Ada perasaan kesal di hatinya yang tidak mau hilang juga. Ia membayangkan para cewek itu memeluk punggung Gaara yang begitu nyaman…
"Gak mau. Aku mau pulang sendiri. Aku tidak harus selalu mendengar kamu."
Gaara sekarang sudah tidak tahan lagi, "Bilang dimana kamu sekarang atau aku akan datang, dan percayalah aku akan menemukanmu!!"
"Lalu apa?! Mau menghajarku begitu?!"
"Jangan menguji kesabaranku!"
"Ayolah! Datang saja! Aku bisa kungfu kok!"
Sesaat Gaara terdiam, lalu kemarahannya hilang. Ino kedengarannya begitu lucu sampai Gaara tersenyum. Lalu ia menghela napas.
"Kumohon Ino. Aku bisa cemas sekali kalau aku membiarkan kamu pulang sendirian…"
Ino tidak menjawab. Ia malah menutup ponselnya. Gaara memandang ponselnya dengan heran, tetapi saat mencoba menghubungi Ino kembali dengan kedua kalinya, ia datang dari arah kiri jalan. Ia menghampiri Gaara sambil memegang tasnya dengan malu.
Gaara bisa melihat Ino menunggu hukumannya, tetapi ia tidak menginginkan hal itu. Ia mengelus kepala Ino.
"Jangan membuatku cemas," nada Gaara menjadi serius sekali.
Ino mengangguk sambil melihat ke bawah. Gaara lalu mengajaknya masuk ke cafe. Ino mengikutinya dengan gugup. Sepertinya sore ini akan berakhir dengan cukup baik. Saat Gaara memanggil seorang pelayan, Ino ingat kalau sebenarnya ia ingin memutuskan Gaara. Ia mencoba mengumpulkan seluruh keberaniannya, tetapi saat Gaara membaca menu cafe itu, ia mengurungkan niatnya. Ia ingin sedikit lagi mengenali Gaara...
Oke deh, saya mau istirahat dulu, sudah jam setengah lima pagi. ^^! Dadaahhh. Oh ya guys, kasih tahu dong lagu Indonesia yang sekarang sedang keren-kerennya. DX Saya mau tetap ikuti trend lagu Indonesia yang terbaru dengan youtube. Makasih!
