Dandelion Flower
Genre : Friendship, Adventure
Rating : T
Main cast :
Member EXO with all their powers
Annyeong, ini FF pertamaku disini. Warning! Typo bertebaran, OOC.
EXO milik SM Entertainment, Cerita ini milik saya.
At last but not the least, Happy reading!
Review reply :
Sabrina Lia Aisyah : semoga kamu suka dengan FF ini ya? Thanks to review
Chapter 2 – Kai, The Precious Sacrifice–
~Kris PoV
Kai tergeletak disana. Di aula sekolah, dengan luka gores yang masih mengeluarkan darah di pipinya. Dadanya juga mengeluarkan darah. Sepertinya dia masih tidak sadar. Ku harap Ia baik-baik saja.
"Jongin-ah! Kris-ah, Jongin kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Chanyeol yang baru datang. Lay membuka kancing bajunya, lalu memegang dadanya yang penuh darah. Chanyeol terlihat terkejut. Lay pun mencoba menyembuhkan Kai. Wajahnya menunjukkan hal buruk sedang terjadi pada Kai.
"Lukanya sangat dalam… nyaris membunuhnya. Sangat sulit untuk disembuhkan, karena pasti akan menyakitkan." Sahut Lay. Seluruh member melihat keadaan Kai yang kritis, dan sekarang, dari pelipisnya keluar darah sedikit. Lay langsung menyembuhkannya. "Luka di pipi dan pelipis masih bisa disembuhkan, yang paling parah adalah luka ini…" sahut Lay memegang dada Kai.
"Apakah ada alternative lain untuk menyembuhkannya?" Tanyaku prihatin, karena ku tahu, Centaur itu pasti akan menyerang lagi, dalam waktu yang tidak dapat ditentukan. "Kami akan membutuhkan Kai… jebal… beritahu aku, Lay…"
"Ada, tapi kita harus menunggu Kai sadar… dan kita mungkin akan membuat Kai kesakitan, karena itulah satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa dia masih hidup saat kita tutup lukanya." Sahut Lay.
-oOo-
"Kai…?" tanyaku setelah melihat reaksi Kai yang menggerakkan jarinya. "Kai… kau sudah sadar, eoh?" tanyaku lagi. Kai membuka matanya perlahan, Ia meringis kesakitan.
"K-Kris…h-hyuungg…" lirih Kai. Aku tak kuat mendengar suaranya. Penuh dengan keputusasaan. "h-hyuungg… ahh!" teriak Kai, karena Ia tak sengaja menyentuh luka di pelipisnya.
"Kai, jangan bergerak dulu… biar kupanggilkan Lay…" Aku pun berlari memanggil Lay dan kembali membawa Lay.
"L-layyy… h-hyuungg…" lirih Kai dengan suara yang semakin sayup-sayup. Lay menatapku, seakan menanyakan "apa-kau-yakin-untuk-melakukannya". Aku pun mengangguk dengan gugup. Lay langsung menekan dada Kai dengan keras.
"AARRGGHHH! H-hyuuungggg! A-Aigooo! H-hentikaaannn! J-jebaaalll!" teriak Kai pada Lay. Lay memejamkan matanya, seakan mengerti rasa sakit Kai, Ia pun menitikkan air mata.
"K-Kai… maaf, kita harus melakukannya, demi kesembuhanmu…" sahut Lay terisak. Aku pun menangis, melihat magnae ku menderita… Tetapi perlahan lukanya mulai menutup karena tekanan dari Lay.
"O-Omonaa…! J-jebaalll! H-hentikaaannn! S-saaakkitttt…" Teriak Kai. Aku pun memegang bahu Lay.
"C-cukup Lay! J-jangan diteruskan… Aku tak kuat melihatnya…" sahutku pada Lay.
"T-tapi… lukanya tidak akan menutup jika diberhentikan sekarang, hyung…" sahut Lay setengah menangis.
"H-hyuuungg… s-sakiitt…" teriak Kai. Aku semakin tak kuat.
"Lay! Stop! Hentikan Lay!" teriakku kepada Lay. Lay hanya berkonsentrasi. Dan beberapa menit kemudian, luka Kai yang berada di dada pun tertutup.
"Kai, kau tak apa?" Tanya Lay, mendapati Kai kelelahan menahan sakit, dan badannya dingin.
"G-gwaenchanha yo… H-hanya sedikit sakit tadi…" lirih Kai. Aku pun memanggil Suho utnuk datang.
"Waeyo, hyung?" Tanya Suho. Aku pun memperlihatkan kondisi Kai yang pucat dan tidak ada tenaga. "Omona... Kai-ah… Gwaenchanha?" Tanya Suho. Kai pun menjawab dengan lemas.
"G-gwaenchanha… hyung… a-aku haus, hyung…" sahut Kai. Suho langsung membuat air dan memberikannya pada mulut Kai.
"Minumlah, Kai…" sahut Suho dengan penuh kasih.
~Kai PoV
Dadaku terasa sesak, sakit… Aku pun meminum air dari Suho hyung.
"uhuk! Uhuk!" aku batuk. Lay hyung langsung memeriksa dadaku.
"Ah, ini hanya efek dari penutupan luka Kai. Tak apa, Kai-ah… ayo minum lagi…" Suho hyung langsung menuangkan air di mulutku, aku pun tersedak.
"Uhuk! Uhuk!" Suho tetap memberiku air, tetapi sekarang dengan lebih perlahan. "Gomawo…hyungg…" sahutku. Suho hanya tersenyum. Tiba-tiba, semua member masuk ke Aula. Tetapi aku tidak melihat Luhan hyung. Hampir semua member menanyakan keadaanku. Luhan hyung masuk dengan tergopoh-gopoh.
"L-Lee Seongsaengnim! Seongsaengnim diculik oleh Centaur!" teriak Luhan. Aku pun panik. Dengan susah payah, aku bangun dan sudah kuduga, dadaku masih belum menutup secara rapat.
"Arrgghh…!" teriakku. Luhan hyung langsung menyuruhku supaya diam, dan tetap beristirahat dan dijaga dengan Kris hyung, Lay hyung dan Chen hyung.
"Kau…beristirahatlah. Kami tak mau kamu terluka lagi, eoh?" jawab Lay Hyung dengan nada sedikit membentak. Aku pun membalas dengan anggukkan tanda mengerti.
~Lee Seongsaengnim PoV
"Lepaskan aku! Jebal!" teriakku dengan sekuat tenaga.
"Tak akan pernah." Sahut seorang Centaur terbesar dan terkuat dari kelompok itu.
"Jebal yo! Sebagai gantinya, Aku akan memberikan nyawa dia, aku berjanji!" sahutku dengan gugup. Aku tak mau Kim Jong In mati tergeletak di tangan para Centaur.
"Kau pikir aku dapat mempercayai janjimu?" tanya Centaur itu.
"Percayalah…Jongin setidaknya akan datang kemari dengan teman-temannya." Sahutku, yang langsung kusambar dengan "maaf, aku seharusnya tidak mengatakan itu"
"Kwang Jae, percayalah dengan manusia itu. Si penerus Teleport akan kembali kepada Dewa Agung." Sahut seekor Centaur.
"Semoga Ia diterima oleh Dew Agung..." Sahut Kwang Jae, yang kupikir, Dia akan mengucapkan Tuhan. Tunggu! Jongin akan mati?!
~Kai PoV
"Hyung, aku sudah tak apa…biarkan aku berteleportasi kepada Lee Seongsaengnim. Tolong…" sahutku. Chen hyung memegang tanganku.
"No, didi (namdongsaeng)… kau tidak boleh beranjak kemana-mana." Sahut Chen hyung dengan wajah cemasnya.
"Tapi, hyung…Seongsaengnim diculik disana. Dia kesepian, bagaimana jika dia dibu-"
"Percayalah, didi… Lee laoshi (seongsaengnim) tidak akan apa-apa…"
"Tidak!" lalu, blast! Aku menghilang dari pandangan Chen hyung yang kebingungan. 'maafkan aku, hyung… Aku harus pergi'
~Author PoV
Kris terbang dengan membawa D.O, Baekhyun, Chanyeol, dan Sehun ke arah persembunyian Centaur. Tanpa basa basi, mereka melabrak centaur yang berada di dekat Lee seongsaengnim.
"Hey kau! Lepaskan Lee Seongsaengnim!" teriak Kris. Centaur bernama Kwang Jae itu pun membalas dengan lantang.
"Serahkan dahulu si penerus Teleport kepada kami!" Kris pun kebingungan. Tetapi…
Blast! Kai tiba di sana dengan luka goresan di wajah, dan baju memerah karena darah (see chapter 1). "Aku disini. Kau mencariku?" tanya Kai. Chen berlari ke tempat itu. Kris menatap Kai dengan tatapan "mereka-ingin-membunuhmu-pabo".
"Kai. Jebal… jangan datang kemari!" sahut Lee Seongsaengnim yang langsung dibekap oleh centaur yang lain.
"Kris, bawa Kai pergi dari tempat ini!" sahut Chen panik.
"Gurumu sedang sengsara, dan kau ingin membawa kabur barang taruhanku?" tanya Kwang Jae yang langsung ditertawai oleh Centaur.
"Barang taruhan? Seongsaengnim, apa maksudnya?" tanya Kai dengan wajah tak mengerti.
Pasukan Kwang Jae melepaskan 17 ekor Centaur. Dan 4 ekor centaur dapat membawa Kai dengan sigapnya.
"Andwae! Mau apa kau?!" teriak Kai.
"Inilah, tubuh yang kau inginkan, Dewa Agung…" Kwangjae mengeluarkan pedangnya yang tajam dan…
TBC
Reviewnya?
