Author: Akhirnya chapter 2 menyusul minna-san~! Inilah petualangan mereka dimulai hohohoho~! Dan kayaknya cerita ini semakin nyeleweng dan abal zzz _ _) *gunting melayang*.
Akashi: cerewet. Cepet lanjutin ngetik ceritanya!
Author: ampun makkk!
Akashi: emak emak. Aku bukan emakmu!
*hujan gunting*
Author: *terkapar* *ngesot* se-se-selamat membaca mi-minna-san…! *sekarat*
"Hohoho hehehe hahaha hihihi (?) Ayo kita mulai Halloween Night pada jam 10 malam ini, minna-san~!" seru Momoi yang tiba-tiba sudah memakai kostum nenek sihir ala sailor moon (hah?). Mereka memasuki gedung sekolah tua yang banyak sarang laba-laba, dan tentunya sarang setan. Setelah sampai di suatu ruangan kosong, mereka duduk melingkar dan memasang satu lilin di tengah-tengah.
"Oh, ya ngomong-ngomong, kenapa Akashi-kun tak mengajak teman SMA-mu?" Tanya Momoi tiba-tiba.
"Aku sudah mengajak kok," jawabnya.
"Lalu, kenapa tak ada yang ikut satupun?"
Flashback.
"Ada yang mau ikut Halloween Night bersamaku?" Akashi menggerak-gerakan gunting rumput yang masih kinclong.
"E-enggak deh. Lain kali saja ya," sahut Kotarou.
"A-Aku banyak urusan! Ja-jaa na!" Reo ngibrit entah ke mana.
Aku masih sayang nyawa…. Batin Mayuzumi sambil kabur diam-diam.
Nyawaku terlalu berharga untuk dicincang menggunakan gunting rumput itu! Batin Kotarou sambil lari secepat-cepatnya.
Aku tak mau nyawaku melayang sia-sia gara-gara gunting rumput itu…. Batin Reo sambil manjat pohon kelapa saking sayangnya sama nyawa tercinta.
Sedangkan yang lainnya…. "Ka-kami duluan ya!" ngibrit tunggang langgang kayak habis ngeliat setan bergunting rumput (?).
End.
"Kalau cara mengajaknya saja begitu, siapa juga yang mau ikut?!" respon Aomine.
"Tak kusangka mereka terlalu pengecut seperti itu," Akashi sweatdrop.
Gara-gara gunting sakralmu tahu! Batin beberapa di antara mereka.
"Yosh! Lebih baik kita langsung mulai saja! Mulai dari cerita horror dulu ya!" sahut Momoi. Mereka pun hompimpa. Sepertinya mereka bakal apes pangkat tiga karena Akashi mendapat giliran pertama. Cuaca yang awalnya cerah menjadi mendung dan hujan badai, tak lupa petir dan kilat menyambar-nyambar. Dan… sepertinya Furihata akan menjadi santapan empuk bagi Akashi malam ini, karena dia yang paling penakut.
"Jadi… pada suatu hari…," Akashi menggerak-gerakan gunting rumput tercinta. Sontak semua orang yang melihat Akashi langsung merinding tanpa dikomando. Eh? Tapi, sepertinya ada yang janggal. Kenapa di gunting rumputnya Akashi ada bercak-bercak merah?
"A-Ano… Akashicchi…," Kise buka suara. "Itu… kenapa guntingmu ada bercak-bercak merahnya?"
"Oh ini? Beberapa hari yang lalu aku sedang potong rumput pakai gunting rumput ini, lalu tiba-tiba ada tikus lewat. Karena aku kaget, tikus itu mengenai guntingku dan dia tewas seketika. Dan aku malas mencuci gunting ini," jelas Akashi.
"Bukannya guntingnya yang mengenai tikus?" Kise sweatdrop.
"Bukannya sama aja?" Akashi membela diri. Kise lebih memilih untuk diam karena dia masih sayang nyawa. Kalau aku mati, gak ada cewek yang mau naksir sama aku lagi nanti…, batin Kise.
"La-lanjutkan saja, Akashi-kun…," Momoi berusaha melerai.
"Jadi… pada suatu hari ada seorang anak perempuan yang lagi main di tengah hutan malam-malam sedang mencari kayu bakar. Lalu, ada seorang perempuan berambut panjang yang misterius tiba-tiba muncul.
'sedang apa kamu di sini? Ini kan sudah malam.' Kata sosok misterius itu.
'aku mencari kayu bakar, onee-san. Onee-san sendiri ngapain ada di sini?' Tanya anak perempuan itu kebingungan.'
'entahlah hanya ingin mencari angin malam.'
'angin gak usah di cari emang udah ada di bumi nee-san.' Anak perempuan itu garuk-garuk pan— kepala iya kepala maksudnya.
'nyari udara segar maksudnya.'
'bukannya di hutan udaranya sudah segar dari jaman jebot?' ternyata kepolosan anak perempuan itu membuat sosok misterius itu marah.
'sebenarnya, aku mencari anak kecil hmm…,'
'anak kecil? Di kampung sini banyak anak kecil. Anak kecil yang mana yang one-san cari? Tolong sebutkan secara detail!' anak perempuan itu menyodorkan mic yang entah darimana ia dapatkan.
'anak ketjil yang nyebelin seperti kamoe cayang (maksa -_-).' Dan sosok misterius itu mengeluarkan gunting rumput dan menarik tangan anak itu.
'o-onee-san mau ngapain?' Tanya anak itu takut-takut. Perempuan misterius itu menyeringai dan memotong jari-jari tangan anak itu dan setelah itu ia memotong lengannya dengan sadis. Dan rumornya sampai sekarang, hantu gunting rumput itu pun masih suka keliaran di hutan-hutan mencari anak nakal yang tak mau nurut perintahnya," ujar Akashi. Semuanya diam dan merasa tersindir atas kalimat sebelumnya, Hantu gunting rumput itu pun masih suka keliaran di hutan-hutan mencari anak nakal yang tak mau nurut perintahnya. Mereka membayangkan jika hantu itu Akashi, pasti anak itu akan mati lebih sadis. Atau jangan-jangan, itu ancaman Akashi kalau mereka tak mau menurut kepadanya? Mereka menepis jauh-jauh pikiran itu ke Segitiga Bermuda dan berpikir positif. Tapi, tetap saja semuanya mematung dan… Furihata sepertinya sudah benar-benar menjadi patung karena kehabisan oksigen –seolah-olah Akashi merebut semua oksigen di tempat itu dan menghipnotis mereka.
"Se-se-lanjutnya..?" Momoi mengambil kesempatan dalam kegelapan (Pembaca: ambigu -_-. Author: karena kalau dalam kesempitan terlalu mainstream *wink*), yaitu memeluk Kuroko yang ada di sebelah kanannya.
"Sepertinya Kise, ya?" Tanya Aomine.
"E-eh? Kau salah mungkin… pasti bukan aku!" Kise tersenyum lebar sok tegar dan sok berani alias memasang tampang 'aku rapopo' ( efek ceritanya Akashi).
"Kalau begitu, aku ingat betul yang menang kedua ketika hompimpa tadi, Ryouta," kata Akashi sambil menggerakan gunting rumputnya. Matanya terlihat sedikit bercahaya karena cahaya yang sangat minim di sini (lu kira kucing? -_-). Kise malah siul-siul tak peduli apa yang dikatakan Akashi.
"Kalau siul-siul itu sama saja dengan manggil setan, lho. Apalagi di tempat seperti ini, Ryouta," Akashi tersenyum licik. Reflek, Kise langsung berhenti bersiul.
"DEMI APAAA?!" Kise bergidik ngeri.
"Demi Kulit Kerang Ajaib," celetuk Akashi sambil memegang kulit kerang ajaib yang tiba-tiba ada dengan sendirinya (?). Kise menangis dengan indahnya.
"Atau aku harus mengumpanmu dulu?" Tanya Akashi tersenyum sinis sambil memegang setoples cacing tanah.
"GAAAHH!" spontan Kise berteriak."Sejak kapan— ugh—" Kise merasa agak enek ketika melihat puluhan –atau bahkan ratusan cacing tanah menggeliat di dalam toples.
"Sudahlah cepat cerita saja Kiseeee!" teriak semua orang –kecuali Akashi, Kise, Kuroko, dan Furihata tentunya.
"Kasihani nyawa kami," mata Hyuga berkaca-kaca.
"Nyawa gue juga keles," Kise masih nangis dengan dramatisnya sambil menutupi mulutnya.
"Ryouta." Suara itu menggetarkan hati jantung Kise (eaakk /bukanwoi). Kise menelan air liurnya.
"O-oke… pada suatu hari… ada seorang –eh seekor kucing berjalan-jalan keliling komplek (?) lalu ketika akan menyebrang jalan, ada truk besar yang juga akan lewat. Si kucing tak menyadari hawa keberadaan si truk. Dan terjadilah tabrakan. Kucingnya mati deh… huaaaa," Kise menangis tersedu-sedu ketika menceritakan hal itu.
"Hoi, Kise. Temanya horror, bukan dramatis begitu, tahu!" keluh Aomine.
"Bagian sadisnya belum aku ceritakan!"
"Memangnya bagian sadisnya apa?" Tanya Aomine penasaran.
"Kedua mata kucing itu hilang!" Kise mengatakan hal itu dengan wajah konyolnya. Bukannya takut, teman-temannya malah jijik (ya iyalah -_-).
"Aku jadi ingat kucing peliharaanku dulu yang mati kecemplung got," tiba-tiba Midorima jadi galau.
"Aku jadi ingat peliharaanku yang mati gara-gara kena flu anjing H4N9 (?)," tiba-tiba Kiyoshi buka suara.
"Sungguh tidak bermutu," timpal Aomine.
"Kupikir tidak apa-apa. Kunyatakan cerita Kise lolos uji sensor (?)," timpal Akashi sambil melipat kedua tangannya di dada. Yang harusnya disensor itu ceritamu, batin beberapa orang di situ.
"Yeah!" Kise berorak dengan mata gemerlapan.
"Selanjutnya Mukkun~!" seru Momoi.
"Eh? Tapi, aku tak ada inspirasi cerita horror," kata Murasakibara sambil mengunyah snack. Tiba-tiba Kise menepuk pundaknya.
"Tolong… kasihani nyawa kami!" mata Kise berkacamata dan ekspresi wajahnya sangat melas lebih melas daripada tukang las (?). Seketika gunting pun melesat dengan kecepatan cahaya menancap di punggung Kise.
"Ka-kau jahat se-sekali Aka-Akashicchi—" Kise terjatuh dengan gaya elit yang biasanya (?). Maklum model.
"Jangan pedulikan dia Atsushi. Cepat cerita!" seru Akashi. Ya, ya, semua mendapat pelajaran hari ini dan mereka menyimak dengan baik agar mereka tidak seperti Kise. Kok aku tidak ditolong sih? Jahat banget… batin Kise yang masih sekarat –seperempat sadar (karena setengah sadar sudah terlalu mainstream).
"Hmmm… tunggu aku berfikir sebentar…," ujar Murasakibara yang masih sibuk makan snack. "Beberapa tahun yang lalu, di sekolah ini banyak kasus penindasan. Dan tentu saja banyak yang bunuh diri. Ada salah satu anak yang mati bunuh diri, tapi gentayangan di sini. Tamat."
Walaupun singkat, padat dan jelas, tetap saja membuat mereka merinding! Terlihat beberapa di antara mereka wajahnya memucat. Yah, bagaimana pun…. Itu kan kisah horror di sekolah ini!
"Aku nguping dari tetangga (plak)," jelas Murasakibara. Semua mengambil nafas lega. "Eh, tapi juga tidak tahu sih…." Gubrak!
"Selanjutnya… eng… Tetsu-kun!" ucap Momoi sambil gemetaran.
"Di toilet sekolah ini katanya ada hanako… lalu—" perkataan Kuroko terputus.
"STOP!" semua berseru kecuali Furihata, Akashi, dan Kise yang masih agak sekarat akibat gunting maut milik Akashi.
"U-uhh… aku tidak kuat…," Momoi hampir menangis. Tanpa sadar ia malah lari ke toilet.
"Barusan diceritakan ada Hanako di toilet sekolah ini, eh dia malah lari ke toilet," timpal Aomine.
"Sumimasen, sumimasen, sumimasen, sumimasen! Seandainya aku tak ada di sini takkan jadi begini! Sumimasen, sumimasen, sumi—," Tiba-tiba Aomine menjitak Ryou.
"Sumimasen, sumimasen!" Ryou masih saja mengulang latahnya tersebut. Aomine mendekatkan dirinya ke Ryou sesata dan berbisik, "Kau tak mau menjadi korbannya Akashi kan?" Ryou menangguk sambil gemetaran.
"Makanya diam!" bisik Aomine lagi. Tapi, sepertinya mereka tak sadar. Itu lho, gunting— Tepat sekali melintas di atas kepala Aomine dan Ryou.
"AAAAHHH!" Ryou langsung histeris.
"Tuh kan! Apa kubilang!"
"Sumimasen! Sumimasen! Sumimasen! Sumima— hmmmppff—" mulut Ryou disumbat dengan kaos kaki bau jigong –eh ketiak –eh keringat maksudnya. Otomatis Ryou langsung mabuk dan ambruk seketika seperti Kise.
"Kita memang sehati, sejiwa, senasib, seraga (gak gitu juga -_-) ya…," ujar Kise dengan wajah K O yang tampangnya benar-benar mirip zombie yang kelaparan akan otak.
"Tapi, ngomong-ngomong, senpai-mu itu ke mana, Kise?" Tanya Aomine.
"Eh? Entahlah…."
Di jalan raya.
Kasamatsu mengambil langkah seribu dari tempat maut itu.
"Yeah! Aku be—" tiba-tiba ada truk melesat menabrak Kasamatsu. Sehingga Kasamatsu nyangkut di pohon cabe (kok bisa?).
Di kamar mandi.
"Hah… hah… aku tak kuat…. Lagi…," kata Momoi."Eh? tunggu? Kenapa aku berada di kamar mandi berhantu begini?"
Tiba-tiba munculah spspk hantu anak perempuan kecil dari pintu nomor 3.
"HEH?! AHHH!" Momoi berteriak sekeras mungkin sampais-sampai memecahkan kaca ( ketularan Riko).
"Konbanwa, onee-san~" sapa Hanako yang bangga sebagai hantu di sini
"PERGI! PERGI! AMPUN! JANGAN GANGGU AKU!" Momoi masih histeris. "KALAU AKU MATI AKU TIDAK JADI MENIKAH DENGAN TETSU-KUN! (hah? -_-)"
Di ruangan semula.
"Tuh kan, pasti dia ketemu sama Hanako," tebak Aomine.
"Gadis yang malang," kali ini Kiyoshi buka suara.
"Ja-jangan mati Momocchi…," kata Kise yang masih terkapar di lantai dengan dramatis (sound effect: Kagome Kagome). "Salah sound effect…." Kise nangis kejer. (sound effect: Ichiban no Takaromono. Mumpung author lagi normal gunakan kesempatan dalam kegelapan). Tapi, tiba-tiba Akashi melempar gunting rumput menuju asalnya sound effect tersebut.
(Auhtor: kok dimatiin sih? -_-)
"Bodo amat," balas Akashi dengan dinginnya.
Di lorong.
Momoi berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
"Selamat deh…," Momoi menghapus keringatnya. Tapi… ada seseorang yang menepuk pundaknya. Momoi menoleh, dan wajahnya langsung memucat ketika melihat sosok wanita tanpa wajah. Momoi tak bisa begerak ataupun berbicara.
To-tolong… siapapun… tolong aku! Batin Momoi.
Takkan ada yang menolongmu, nona manis~ sang hantu bisa membaca pikiran Momoi. Oke, mereka mulai telepati.
Di tempat semula.
"Dan nopperabou (hantu muka rata) itu sangat menyukai tempat-tempat sepi dan sukamenakut-nakuti orang yang sendirian~" Takao mengakhiri ceritanya sambil menyetel alunan nada Fur Elise dari kotak music yang di atasnya terdapat miniature (?) Tinker*piip*. Dan alunan itu mengusik keberanian orang-orang yang mendengar alunan nada itu. Seketika batu nisan jatuh tempat di atas kotak music itu.
"Yah, kok malah hancur begini sih?" Takao mengelus-ngelus kotak music yang baru saja diambil diam-diam dari kamar sepupunya (?). Dan pelaku dibalik penghancuran kotak music yang imoet ini adalah tak lain Ahomine.
"Teganya kau!" Takao bersimbah air mata.
"Giliran selanjutnya? Eng… Furihata…kun?" Riko terkejut melihat makhluk terkapar tak berdaya di lantai saking takutnya.
"Kalau Furihata K O gitu… gue selanjutnya dong?" Kagami merinding. Tapi, aku mau cerita apaan? Ah, serba salah nih! Kalau tak cerita gue bisa mampus kena gunting si rambut merah itu, Kagami komat-kamit seperti kambing yang baru makan rumput ekspor (?). Tapi, ngomong-ngomong… Kagami kan rambutnya merah juga…. Tapi, rambutku heterogen, tuh warna atas sama bawahnya saja beda, Kagami mulai telepati dengan sang author.
Oke—lupakan adegan di atas dan kita kembali ke acara utama—Kagami akan bercerita—yang sebenarnya dia udah merinding tak keruan gara-gara melihat cahaya kinclong dari gunting rumput di depan sana. Kagami menelan air liurnya.
"O-okelah kalau begitu," mendadak Kagami jadi nge-rap karena nge-fans sama Ajiz Ga*piip*, jadi bermaksud menirukan (seketika Kagami nyabet author).
"Ja-jadi… pada suatu hari…"
.
.
.
Chapter 3 masih dalam perjalanan ya… Berhubung ini udah jam 1 malam dan mata saya sudah perih gara-gara kelilipan bola voli (gak gitu -_-), saya mau tidur dan beristirahat sejenak. Saya tahu ini garing sangat, gaje, dan abal. Fict-nya memang kurang bermutu /pundung.
Ano… bagi review boleh? Terima kasih /cipok pembaca/ *dihajar massa*
