Runnin On Empty
.
.
Pairing:
Jung YunHo X Shim ChangMin a.k.a HoMin
Genre:
Romance
Rate:
T
Warning:
AU, Yaoi, Typos, OOC, membosankan, mengandung bahasa santai, senjang umur yang panjang, alur gak jelas dan blahblahblah.. DLDR!
Bayangin Changmin jaman HUG/Mimi *baru inget* untuk Chap ini, ne! ^^
Kalau Yunho terserah anda..
Maaf telat update.. telat banget malah.. T^T soalnya ada masalah dengan modem saya.. jadi harus ke warnet.. sedangkan warnet gak ada yang deket rumah.. OTL
Tentang Chap 1:
#di BBM
Temen: Kok lo post FF gak bilang2 gue?
Me: hehe._.
Temen: Btw, Yunho tahu nama Changmin darimana?
Me: *brb nge-check ff n review* Anj*r gw lupa! O.o" *headbang*
Mohon dimaafkan ke kurang telitian saya TuT
HAPPY READING ^.^
.
.
Dia anak lelaki yang manis.
Bagai malaikat.
Bidadari.
Mataku selalu mengikutinya.
Aku sudah mengenalnya sejak lama.
Tapi ia tak mengenalku.
Cinta butuh waktu.
Kau tahu?
.
.
Kemarin.
Mungkin hari yang paling indah untukku. Kau tahu? Akhirnya aku berinteraksi dengannya. Hanya aku dan dia. Hanya aku dan dia duduk berdua di bawah teduhan dari hujan deras yang mengguyur. Mengobrol santai seakan kita sudah saling kenal lama sekali. Aku bisa melihat mata bulatnya yang bersinar walau mendung menemani. Mendengar degup jantungnya yang merdu. Juga suara lembutnya yang mengalun indah bagai melodi harmoni. Menatap wajah manis yang senantiasa muncul dalam benakku. Merasakan hangatnya pelukan dari lengan mungil miliknya yang menyelimuti bagai selimut dalam kedinginan.
Ya, dia.
Shim Changmin namanya. Seorang namja yang sekarang mau lulus sekolah menengah atas. Namja manis dan imut yang telah menarik perhatianku semenjak aku mengunjungi sekolahnya dua tahun lalu, dan menemukannya sedang makan sendirian di meja kantin. Sudah lama sekali. saat itu dia masih kelas satu. Langsung kepincut oleh wajah lugunya yang membuat siapa saja ingin menculiknya. Termasuk aku.
Kenapa aku bisa ke sekolahnya? Hmm. Itu karena pekerjaanku. Pekerjaanku adalah seorang Dancer. Memang belum terbilang Profesional. Tapi gerakanku masih bisa dibilang 'lumayan' lah untuk pemula. Dancer pendatang baru. Datang ke sekolah itu untuk mengikuti pameran berbagai unsur kesenian yang digelar di Aula sekolah itu. aku diundang bersama para seniman pemula yang lain. Lalu memberi sambutan-sambutan inspiratif bagi para murid yang mencintai seni, maupun yang biasa-biasa saja. Kalau mengingatnya aku jadi merasa bangga. Haha.
Nah.. saat pameran itu selesai digelar, tepat saat pulang sekolah, aku melarikan diri ke kantin sekolah. Aigoo.. rasa haus dan lapar sudah ganas-ganasnya menyerangku saat itu. Tidak tertahankan. Mengingat aku hanya melahap makanan ringan saja selama pameran. Untung saja masih buka kantinnya.
Dan.. saat itulah aku melihat malaikatku. Sinar pesonanya sempat membuatku buta sejenak. Ah.. lebay. Tapi itu yang kurasakan. Cinta pada pandangan pertama. Ya. Dan dia mungkin First Love-ku yang tak akan mungkin tercapai. Tega sekali. bahkan dia tak melirikku yang masuk ke kantin saat itu. hanya fokus dengan makanannya. Ia makan dengan lahap. Mungkin tak sadar jika aku melihatnya setiap menit. Mulutnya menggembung dan senyum tipis yang mengembang. Ia tersenyum pada layar PSP. Aku terkikik sendiri jadinya. Dia lucu.
Aku Gay. Dan aku tidak peduli. Keluargaku juga mendukung. Demi kebahagiaanku.
Rasa laparku seakan hilang. Aku sangat terpana. Sampai akhirnya ia menghilang. Dan ia tak melirikku barang sedetik saja. Terlalu cuek dengan sekitar. Penilaianku setelah melihatnya. Setelah itu, aku selalu mendatangi sekolahnya. Tentu jika aku ada waktu luang. Sempat beberapa kali mengajar ekskul menari. Karena itu keahlianku. Sayangnya, ia malah ikut ekskul nyanyi. Ugh.. menyebalkan. Aku kan belum melatih vocal-ku. jadi aku hanya melihat dan mendegarkannya dari jauh. Dan ia tak pernah melihatku.
Okelah aku mengaku jika aku adalah penggemar rahasianya mungkin. Selalu memperhatikannya sembunyi-sembunyi. Tanpa sadar sudah banyak anak remaja wanita sekolah itu yang mengantri di belakangku. Pekerjaan mereka sama denganku. Bedanya di objek. Objekku adalah Shim Changmin. dan objek mereka adalah aku. Yah.. risiko berwajah tampan. Hehe..
Aku tahu namanya. Tentu saja. Aku dan kepala sekolahnya kan saling kenal. Alias sang kepala sekolah adalah teman dari ayahku dulu. Jadi ia suka membantuku. Saat aku bertanya nama Changmin, ia langsung dengan girang menjawabnya. Katanya murid dengan IQ tertinggi satu sekolah. Aku hanya ber-Wow ria setelahnya.
Setelah menunggu bertahun-tahun. Yah.. siapapun tahu cinta itu butuh waktu. Terjadilah saat itu. Aku sedang beristirahat sehabis latihan di siang bolong. Saking capeknya sampai tertidur di halte. Saat bangun, tiba-tiba sudah hujan. Deras sekali. hanya bising hujan yang terdengar. namun di tengah kebisingan suara hujan, ada suara lain. Suara itu. suara Changmin yang sangat kukenal. Kukira hanya mimpi. Ternyata saat aku menengok..
Tadaaa... sang malaikat yang basah berada tepat 1 meter di sampingku. Jadilah aku hanya diam sambil melongo. Tapi tertawa juga akhirnya. Ia memang lucu. Tingkahnya menggemaskan. Ia sibuk menghindari bocoran-bocoran itu. Aku menyuruhnya duduk di sampingku. Kesempatan dalam kehujanan. Okelah..
Rasanya bagai berenang ke surga setelah aku bisa berbicara dengannya. Bercanda ria dengannya yang agak cuek tapi sebenarnya penakut ini. Over-Thinking. Kayak cewek. Aku sering mengatai-nya begitu. Haha. Dia lucu sih. Juga takut mati. Konyol. Lama-lama juga dia makin cantik. Wajahnya tak selugu kelas satu, tapi yang sekarang aku suka.
Mungkin aku aneh. Tapi rasanya menatap dari jauh dengan sedekat ini itu sangat berbeda. Kalau dari jauh yang menatap tidak menyadari dan kita bebas menatapnya, kalau dari dekat itu sangat gugup. Sudah baguskah aktingku yang berpura-pura terlihat Cool tapi sebenarnya berdebar? Pura-pura asing tapi sebenarnya aku mengenalnya?
Degupan jantungku bertambah ketika ia mendekat padaku. Aku tahu suhunya dingin. Bahkan aku memberikan jaket kesayanganku untuknya. tapi kalau ia semakin mendekat begini kan aku jadi gugup. ia semakin mendekat. Lalu tiba-tiba kepalanya sudah jatuh dengan indahnya di bahuku. Teriakanku tertahan. Mungkinkah Tuhan menjatuhkan malaikatnya di bahuku?
Lihatlah wajah polosnya. Hidungnya mancung, kulitnya bagai porselen yang dirawat setiap hari, bibir tipis namun lebar yang terpahat dengan sempurna, bulu mata panjang dan lentik yang sanggup menggelitikimu sampai merinding. Lebih dari malaikat. Dia bidadari.
Jadi aku hanya mematung di sini bagai patung Buddha yang diam dengan damainya. Hatiku menangis gembira. Aku niat membangunkannya. Tapi biarkanlah dia tertidur. Mengingat kepulangannya pada sore hari yang tak biasanya. Sepertinya ia lelah mengerjakan sesuatu. Dan tiba-tiba otakku berjalan. Kuambil sebuah Handphone pintar dari kantung celanaku. Membuka aplikasi kamera dan membidik objek dengan tepat. Setelah mengatur fokus... Snap! Dapatlah foto Shim Changmin yang tengah tertidur. Kusimpan di suatu folder khusus di Handphone-ku. Folder tercinta yang kuberi nama, "Chwang-dollie~".
Tak terasa sudah hampir malam. Hujan sudah mereda. Pukul 6 kalau tidak salah. Aku segera membangunkan Changmin. Sampai tak sadar memanggil nama-nya. Untung aku punya alasan kalau ia bertanya tahu darimana namanya. Lihat saja tasnya. Di sana tertulis dengan tulisan rapi, "ChoiKang ChangMin". Nama apa itu yang ia pakai? Ah.. tidak penting.
Ia bangun dengan lucu. Tak sadar jika sedang di halte. Ingin kucium saja rasanya. Lalu aku memboncengi-nya ke rumah, setelah merayu-nya. Sial. Memang nampaknya jodoh nggak kemana. Rumahnya satu Kompleks dengan rumahku yang baru aku tempati. Senang sekaligus terkejut. Selama perjalanan ia memelukku. Bukan. Lebih tepatnya ia berpegangan denganku. Rasanya nyaman. Degup jantungnya bisa aku rasakan dengan mudah. Setara dengan degupanku. Melodi-nya seakan mengiringi perjalanan.
Dan akhirnya ia bertanya darimana aku tahu namanya, aku menjawab dari tas-nya. Bohong tak apa kan? Aku memaksanya untuk memanggil hyung saja. Dan ia menyuruhku memanggil-nya Minnie. Namanya se-imut wajahnya.
Ketika sampai, ia membawa jaket kesayanganku. Katanya mau dicuci dulu, besok di kembalikan. Yasudah deh. Jadi cucianku tidak menumpuk. Hey.. tentu aku tidak memanfaatkannya. Hanya saja menghargai kebaikannya. Memang begitu bukan? Akupun pulang dengan wajah dan cengiran sumringah. First Love yang bisa tercapai ternyata.
Dan hari ini...
Apa yang akan terjadi?
.
.
"Jung Yunho! hentikan gerakanmu!"
Teriakan berat yang menggema mengagetkanku dari lamunan. Aku langsung berdiri tegap. Peluh mengantri untuk terjun dari sekujur tubuhku yang lelah. Aku menengok ke asal suara. Seorang namja berumur 30 tahunan yang tengah menatapku dengan bengis. Matanya melotot dengan seram. Ia menghampiriku. Memberikan satu tepukan kuat di bahuku sampai aku meringis. Semua pasang mata yang berada di ruangan berkaca ini memandangiku bingung.
"Sempat-sempatnya kau melamun saat latihan?" teriak namja itu tepat di wajahku.
Aku menunduk, menatap sepatu usang yang sudah terlepas talinya. "M-mianhae, Pelatih,"
"Kumohon hanya sekali ini saja. Kau tahu konser BoA sudah bulan depan? Dan kau Dancer utama!"
Aku mengangguk cepat.
"Oke! Sekarang latihan diulang! Mulai dari lagu pertama!" ia menjauh, meneriaki anak lain yang mendesah pasrah, ada yang sampai memandangiku dengan pandangan membunuh.
Dimulailah latihanku hari ini. Latihan Dance. Pekerjaanku. Sebagai penari latar untuk konser-konser artis terkenal. Sekarang ini aku sedang berlatih untuk konser BoA, artis Go International itu. Dan bisa-bisa-nya di saat penting seperti ini aku malah memikirkan Changmin. Hmm.. tadi aku mengantarnya ke sekolah. Mungkin aku bisa menjemputnya juga sepulang latihan. Semoga cepat selesai.
Brukk!
"Yunho!"
Sial. Aku lupa mengikat tali sepatuku.
.
.
Kini aku berada di depan gerbang sekolah Changmin. Sepertinya ia belum keluar. masih sepi sih. Tentu saja. aku datang 10 menit lebih awal dari jam pulang sekolahnya. Eh.. aku sampai hafal jadwalnya kan. Aku kan Stalker handal.
Aku bolak balik tak tentu arah. Inginnya ngadem di ruang kepala sekolah. Tapi aku malas. Nanti digoda melulu dengannya. Dasar orang tua. ikut campur urusan anak muda saja. dia nggak pernah muda apa?
Langit mendung. Aku masih mondar-mandir dengan tidak jelasnya. Lama sekali sih 10 menit itu? dan kesalnya sekarang sudah mau hujan. Gerimis. Aku tidak bawa payung maupun jas hujan. Aku kan bawa mobil. Tapi ternyata benda itu berguna juga kalau saat ini. Benar kata ramalan cuaca di radio tadi. Sayangnya aku tidak percaya ramalan. Instingku kuat. Mengatakan kalau siang ini akan cerah. Ternyata tidak.
"Maaf tuan,"
Aku menoleh. Ada suara serta tarikan di lengan bajuku.
"Cari siapa ya? Mondar-mandir begitu dari tadi?" seorang anak berwajah culun namun tampan dengan cengiran hangatnya menyapaku. Ia sepertinya baru selesai mem-fotocopy di luar.
"A-ah.. nyari Shim Changmin. Dia sudah keluar belum yah?" tanyaku sambil menggaruk telinga.
Ia membulatkan mulutnya, berbentuk 'O'. "Sebentar lagi keluar kok, nanti kalau ketemu di sampaikan deh," ia membenarkan letak kertas-kertas di dekapannya. "Ngomong-ngomong, siapanya ya? Pacar?"
Aku tersipu. "Bilang saja padanya aku mencarinya. Jung Yunho,"
Ia tertawa dengan suara khas. "Ah.. arraseo. Yasudah. Sampai jumpa," ia membungkuk lalu pergi.
Kubiarkan dia pergi. Huh. Dasar. Jangan-jangan nanti dia menyampaikan ke Changmin kalau pacarnya sedang menunggu di luar kehujanan. Aduh.. malu aku.
Ting.. Tong..
Suara bel yang sudah menjadi Favorite-ku terdengar. Bersamaan dengan turunnya hujan yang lumayan deras. Aku meneduh di bawah pohon kecil di samping gerbang. Menunggu Changmin. Aku tidak mau masuk sekolah. Takutnya ada wanita-wanita Fangirls-ku itu yang sudah diambang batas kewarasan.
Tak lama kemudian, datanglah Changmin. Ia mencari-cari sesuatu di gerbang sekolah. Sepertinya si anak culun itu menyampaikan amanat dengan baik. Aku mendekatinya pelan-pelan. Wajah kebingungannya itu menggemaskan. Ia menggigit bibir bawahnya lucu. Aku jadi mau mengageti-nya. mau tahu ekspresi kagetnya untuk sekali saja.
"Booo!"
Aku menepuk bahunya. Ia menjerit tapi tertahan. Aku tak tahu kenapa. Saat ia berbalik, ia memarahiku, pakai memukul kepalaku segala lagi, benjol nggak ya? Katanya kenapa aku menjemputnya segala. Aku kan sudah mengantarnya, jadi aku juga yang harus menjemputnya. Jadi akhirnya ia melembek. Yasudah aku menyelimutinya dengan jaket kesayanganku yang baru dicuci olehnya sampai wangi. Tadi pagi sih sudah aku pakaikan Parfum favorite-ku, jadi wanginya berbeda.
Tapi tiba-tiba ia menolak jaketku. "Iya kita lari. Tapi kamu aja yang pakai," katanya. Tentu saja aku menolaknya. Sebagai 'lelaki' di sini, aku harus menunjukkan kejantanan-ku. namun ternyata, ia memilih cara lain. Dengan melebarkannya, dan menempatkan jaket itu di atas kepala kami berdua. Romantis. Memang.
"1.. 2.. 3!"
Dengan hitungan ketiga kami berlari. Menembus hujan dan berbagai pandangan dari semua orang. Aku menggenggam erat tangannya. Rasanya hangat. Juga hatiku. Ternyata aku baru menyadari kekosongan hatiku setelah melihatnya. Malaikat di sampingku. Cinta di sampingku. Selama ini aku tidak pernah peduli akan kekosongan ini. Tapi Changmin membuatku peduli. Aku butuh cinta di hatiku. Dan bolehkah aku berharap ia bisa mengisi kekosongan ini? ah.. Daripada memikirkan itu, aku terus menikmati genggaman erat ini.
Dan dalam waktu yang terasa sangat lama tadi, akhirnya kami memasuki mobilku. Napas yang ngos-ngosan memang menjengkelkan. Tapi tadi seru juga. Jantungku berdegup kencang. Entah antara bersama Changmin atau karena berlari. Kurasa semua sama saja. Karena dua-duanya berkaitan dengan Changmin di dalamnya.
Aku menatapnya dengan senyuman. Dan ia menatapku juga, dengan senyuman cerah. Bahagianya. Akhirnya ia menatapku dan tersenyum. Aku sadar. Ternyata instingku yang mengatakan siang ini akan cerah itu tepat. Karena siang ini aku mendapatkan senyuman dari Changmin yang cerahnya mengalahkan siang secerah apapun itu.
Namun senyumku memudar. Tatapanku jatuh pada bibirnya. Sambil menatap bibirnya, aku mengulurkan tangan, jemari panjangku menari di wajahnya yang sangat halus dan lembut. Tidak. Aku tidak sedang bernapsu. Tapi aliran merah gelap di bibirnya membuatku takut. Itu darah. Kenapa ia bisa terluka seperti itu? padahal tadi ia tidak apa-apa kan? Apa mungkin karena..
"O-oh! Tadi kegigit saat kamu ngagetin," ucapnya salah tingkah.
Aku terbelalak. Karena aku. Ya Tuhan.
Tiba-tiba bayangan saat aku kecil terbayang di benakku. Aku yang sedang menggerakkan badan menari meniru Michael Jackson terjatuh. Telapak tanganku tergores ujung meja yang tajam. Lalu ibuku meraih tanganku. Ia memberikannya kecupan penuh kasih, kemudian menjilatnya, menghisap darahnya. Dan lukaku hilang. Walau masih sakit. Jadi..
Aku mendekat. "Karena aku penyebabnya.." aku terus mendekat. Ia mundur sedikit. "Biar aku yang obati,"
Aku menutup mataku. Sungguh aku tak berani menatap mata indahnya. Perlahan aku mendekat dan mendekat. Maju sedikit sampai terdengar suara 'Duk' kecil. Perutku menciptakan sensasi anehnya. Bagai kupu-kupu yang beterbangan dengan bebasnya saat bibirku menyentuh bibirnya. Aneh. Tapi nyaman. Aku menyukainya. Lalu kukeluarkan lidahku. Menyapu lukanya yang terasa besi. Kini beralih menyesap bibirnya. Rasanya besi, namun ada rasa lain. Manis. Aku ketagihan. Sampai-sampai tak berhenti menghisapnya walau darahnya sudah tak ada. Seperti Vampire saja. Ia mengeluarkan suara aneh yang tak mampu kuungkapkan dalam kata-kata. Sampai akhirnya aku sadar..
Tindakanku ini..
Ciuman?
Suara kecipak pelan terdengar saat tautan bibir kami terlepas. Aku menjauhkan diri lalu menunduk. Berkali-kali aku memohon maaf padanya karena telah melakukan yang tadi itu. sungguh aku tidak sadar akan apa yang aku lakukan. Aku hanya menganggap itu sebagai pengobatan. Ugh.. aku telah merusak kepolosan Changmin.
Ia menyeka bibirnya. Aku terdiam. Rasa sakit menjalar di dadaku. Apakah ia tidak menyukainya? Lalu ia bilang tidak apa-apa. Apa maksudnya? Jelas-jelas aku menciumnya tanpa izin. Mati aku. Apakah aku akan dibencinya?
Chu~
Rasa panas membakar sekujur wajahku. Ia menciumku di pipi. Lalu mengucapkan terimakasih karena telah mengobatinya dengan imutnya. Apakah ia sadar yang telah aku lakukan padanya tadi? Kalau tidak, sepolos apakah malaikatku ini?
"Ayo pulang! Nanti main ke rumahku, ne~ terimakasih sudah diobati~"
Oke.. aku mulai melajukan mobilku menuju rumahnya. Wajahku masih merah. Semoga aku konsentrasi menyetirnya. Dan aku terus memikirkan. Sepertinya seru kalau aku berkunjung ke rumah Changmin.
.
.
"Eum.. Yunho-hyung, silahkan masuk,"
Changmin membungkuk di depan pintu rumahnya. Tangannya menunjuk ke dalam rumah, mempersilahkanku masuk. Ia tersenyum manis. Aku menganggukkan kepala kemudian masuk dengan perlahan. pandanganku memutar ke segala sudut ruangan. Rumah yang sederhana.
"Maaf kalau rumahku kecil, hyung," Changmin kembali membungkuk.
Aku mengibaskan tangan. Tidak peduli.
"Hyung, kamu mau duduk di sini dulu atau ke kamarku?"
Aku tersedak liur. Apakah ini suatu undangan? "E-ah.. ke kamar kamu juga boleh, hehe," aku malah cengengesan tak jelas. Apa sih yang ada di otak kecilku ini? kenapa selalu negatif?
"Oh! Okay! Ayo ikutin aku!" serunya senang. Ia menarik tanganku dan berjalan menuju tangga.
Aku hanya tersenyum melihatnya segembira ini. Kami berdua menaikki tangga dengan terburu-buru. Sebenarnya sih cuma Changmin yang terburu-buru. Kalau aku karena tanganku ditarik olehnya, makanya aku ikutan terburu-buru. Apa dia tak takut tersandung atau apa? Tapi kalau ia jatuh aku siap menangkapnya kok. haha.. apa itu yang disebut Modus? Aku tidak peduli.
Setelah menaikki tangga dan sampai pada lantai atas, kami berjalan di koridor rumahnya. Di lantai atas ini sepertinya lebih rapi dan luas. Mengingat hanya ada kamar-kamar di sini. Kalau kuhitung-hitung ada 5 kamar dengan nama masing-masing anggota keluarga di masing-masing pintu. Satu kamar yang tak tertulis namanya mungkin kamar tamu.
"Hyung, yang ini," ucap Changmin. Ia membuka pintu kamarnya.
Betapa takjubnya aku. Kamar Changmin ini beda degan kamar-kamar para lelaki rata-rata. Jelas sekali. kamar Changmin rapi serapi-rapinya. Sangat berbeda dengan kamarku yang berantakkan. Apakah maid di sini sangat rajin membersihkan kamarnya sampai serapi ini?
"Kamar kamu rapi banget," komentarku.
Ia menatapku bingung. "Emang kamar kamu nggak kayak gini?"
"Nggak. Kamarku berantakkan. Hehe,"
"Emang nggak pernah di rapiin?" ia berkata sambil membuka tasnya, menggantungnya di belakang pintu.
Aku menggeleng. "Aku punya pembantu. Tapi dia jarang ke kamarku sih. Aku yang ngelarang sebenarnya. Kan takut dia ngapa-ngapain," aku duduk dengan tidak sopan di tepi kasurnya.
Ia ber-oh ria, ikutan duduk disampingku.
"Kamarmu siapa yang rapiin? Ibu?" tanyaku.
"Aku sendiri. Eomma sudah nggak ada," jawabnya.
Aku kaget. Antara ia yang merapikan kamarnya sendiri dan ibunya yang telah tiada. "M-maaf, Changdol,"
"Nggak apa-apa, kok, hyung. Panggilan apaan tuh? Changdol?" ia mengernyitkan alis.
Duh.. dasar mulut ember. Selalu bocor. Suka keceplosan sendiri. "Eh? Nggak kok, lucu aja kalau manggil kamu itu," aku nyengir maksa.
"Hiih.. oke deh. Terserah,"
Aku cengengesan nggak jelas lagi. "Ngomong-ngomong, kok bisa sih rapiin sendiri?"
Ia berdiri, seperti teringat sesuatu. "Aku udah biasa," ia menengok jam dinding. "Aduh.. Sebentar lagi adik-adikku pulang. Aku belum masak makan siang. Hyung bisa bantu nggak?"
Aku ikut berdiri. "Masak?" tanyaku ragu. Jadi Changmin bisa masak?
"Iya. Kalau hyung nggak mau nggak apa-apa kok. Hyung tunggu aja di meja makan. Makan siang bareng. Aku belum buatin kamu minum juga,"
"Eh? Kalau bantu sih aku mau. Tapi masalahnya aku nggak bisa masak. Nanti kalau dapurmu hancur gimana?"
Ia berjalan ke lemarinya. "Hahaha! Yaudah deh kamu tungguin aja," mengambil beberapa lembar baju. "Aku ganti baju dulu ne, hyung. Kalau kamu mau ganti baju aku bisa ambilkan di kamar tamu. Di sana kan ada beberapa baju untuk tamu," ucapnya.
Aku menggeleng. "Nggak usah repot kok. Aku biasa bawa baju ganti kalau pergi. Ada di mobil. Aku ganti di mobil aja,"
Ia mengangguk paham. Lalu melambai dan masuk ke kamar mandinya.
Aku turun menuju mobilku. Untung sih aku bawa ganti. Biasanya baju itu untuk latihan Dance kalau sudah keringat basah. Sampai di mobil ganti baju dengan kaos yang kering, lalu mengambil dompet dan Handphone.
Ketika selesai aku masuk kembali ke dalam rumah Changmin. Aku tidak tersesat. Rumahnya ini gampang diingat letak-letaknya. Wajahku tiba-tiba sudah panas bagai di panggang di kompor saat melewati dapur hendak menaikki tangga. Rupanya Changmin sudah berada di sana. Dengan memakai Sweater longgar lengan panjang V-Neck warna Baby Blue bergambar Bambi di tengahnya dan Denim Skinny Jeans. Surai madu-nya yang agak panjang terjepit manis kebelakang. Aku gemas tiada tara.
"Hyung udah selesai," ia tersenyum manis.
"Hehe," aku menggaruk belakang kepala kemudian berjalan ke arahnya.
Ia mengambil sesuatu dari Buffet. Apakah itu Apron merah jambu dengan motif polkadot putih dan renda? Ternyata benar. Apakah Changmin akan memakainya untuk memasak? Tepat sekali. Apakah aku akan tahan untuk tidak memakannya saat ini juga? Akan kucoba.
"Hyung mau bantu?" tanyanya dengan suara yang imut dan mata bambi mengerling.
Bolehkah aku menampar diriku sendiri saat ini?
Silahkan.
Plakk!
"Yunho hyung?!"
.
.
"Aaa~ satu suapan lagi Jiyeonie~"
Aku memperhatikan Changmin yang sedang menyuapi mulut-mulut lapar kedua adik perempuannya. Sesekali tersenyum geli. Kedua adiknya sangat mirip dengan Changmin. Cantik dan lucu-lucu. Namanya Sooyeon, kelas 6 SD dan Jiyeon, baru TK umur 5 tahun. Aku tidak menyangka Changmin yang menyuapi mereka setiap hari.
"Hyung! Makan makanannya! Nanti dingin kan nggak enak!" omelnya.
Aku segera menutup mulut dan mulai melahap hidangan dengan perlahan. Masakannya enak. Changmin cerita sebenarnya ia tidak bisa masak, tapi semenjak ibunya meninggal ia jadi belajar dengan sepupunya. Ia tidak mau beli makanan jadi, takut kurang sehat dan tidak hemat uang. Juga tidak mau nyewa pembantu, takut keluarganya jadi ketergantungan. Tidak mandiri.
"Fyuuh~ akhirnya habis! Jiyeonie hebat! Ayo cuci piringnya~" ia merapikan piring-piring kotor.
Adik bungsunya menggeleng. "Nggak mau!"
"Eh? Waeyo?" tanya Changmin.
"Jiyeonie capek, Changminnie oppa~ mau bobok~" jawab Jiyeon lucu. Bibirnya merengut sambil mengucek mata. Tanda ngantuk.
Aku tergelak melihat wajah cemberut Changmin.
"Hmm.. yasudah deh. Kalau Sooyeonie? Mau bantu oppa?"
Sooyeon menatap sang kakak. Kemudian berpose seperti memikirkan sesuatu. "Maaf, oppa, tapi Sooyeon mau beresin kamar dulu. Kamar Sooyeon berantakan. Sekalian aja deh bobok-in si Jiyeon," ia menghampiri adik kecilnya, menggendong sang adik. "Paipai, oppa," Sooyeon naik tangga dengan Jiyeon di gendongannya. Aku tak tahu kenapa kedua kakak-beradik itu tertawa-tawa sendiri sambil melihatku dan mengedip.
Changmin berkacak pinggang. "Dasar mereka!"
"Hahaha.. biarin aja lah,"
Ia melihatku. "Tapi nanti mereka jadi malas, hyung,"
"Nanti kalau sudah besar sadar sendiri, kok,"
"Ehm.. iya juga. Yasudah. Hyung udah makannya belum? Aku mau cuci piringnya,"
Aku memberikan piring dan gelasku yang sudah kosong, berdiri, lalu membungkuk sedikit. "Kamshahamnida, makan siangnya," ucapku diiringi dengan cengiran ceria.
Ia terkikik. "Ne, ne,"
Changmin mengambil dan menata kumpulan piring-piring kotor. Mengangkatnya menuju wastafel. Mencucinya dengan telaten dan bersih, tak menyisakan satu titik noda pun di piring. Aku berjalan mendekatinya. Ada rasa ingin memeluk ketika melihat pinggang rampingnya yang terbalut Apron. Aku jadi merasa punya istri muda. Hey.
"Hyung ingin pulang kapan?" tanyanya sambil tetap mencuci.
Aku bersender pada meja dapur. "Eung.. beberapa jam lagi mungkin?"
"Oh.." ia mengelap piring yang basah. "Hyung ke kamarku saja duluan. Aku sebentar lagi selesai kok,"
Kutegakkan badanku. "Okay.."
.
.
Aku memasuki kamar Changmin. Sedikit mengitari kamar Changmin dan menjelajahnya. Tenang saja, aku tidak akan mencuri. Apa Changmin sebegitu percayanya padaku ya sampai-sampai mengijinkanku masuk kamarnya? Tadinya kan ia selalu mencurigai-ku. Ah.. sudahlah. Lagipula daripada mencuri barang Changmin, aku lebih baik mencuri hatinya. Iya kan? Haha.
Aku melihat sebuah pigura foto. Terdapat Changmin kecil dengan senyuman manisnya yang lugu. Aku tertawa. Dari kecil saja sudah manisnya bukan main, pantas saja besarnya lebih manis. Aku menyentuh foto itu, sedikit berdebu. Mungkin jarang tersentuh.
Ada sebuah rak buku di pojok ruangan. Ketika melihat isi rak itu, aku menemukan banyak sekali buku-buku pelajaran, Ensiklopedia, dan Novel-novel serta beberapa manga, juga banyak buku panduan Vocal. Ia benar-benar suka menyanyi ya? Apakah cita-citanya menjadi penyanyi?
"Hyung,"
Aku kaget. Suara Changmin terdengar dari pintu. Kepalanya menyembul kemudian disusul badannya yang masuk ke kamar. Ia menggaruk kepalanya dan menghampiriku.
"Ne?"
"Sedang apa? Kamu nggak nyuri kan?"
"Nggak. Cuma liat-liat,"
"Jinjjayo?"
"Iya! Kamu mau periksa?" aku mengangkat tangan.
"Eh? Ng-nggak,"
Changmin menunduk malu. Aku mengacak surai madunya yang terjepit dengan gemas. Ia merengut dan berusaha merapikan ikatan rambutnya. Surai madu yang agak panjang itu tergerai berantakan. Aku tersenyum. Ia memang cantik. Ketika rambutnya ingin dijepit lagi, aku menahannya.
"Nggak usah dijepit,"
Ia menaikkan alisnya.
"Cakepan digerai tahu,"
"Iya kah?"
"Hu'um.. lebih Sexy,"
Ia memukul tanganku pelan, kemudian menjepit rambutnya. "Jangan aneh-aneh deh,"
Aku tertawa keras. Namun berhenti karena ia tiba-tiba menarikku duduk di tempat tidur.
"Duduk aja, capek berdiri terus," katanya, meregangkan badan. "Ngomong-ngomong, hyung kerjanya apa sih? Kuliah?" tanyanya To The Point.
"Hmm.. apa ya? Kasih tahu nggak ya?"
"Huft.. ayo dong kasih tahu,"
"Hehe.. tebak!"
Ia memikirkan sesuatu sambil cemberut. "Kerja kantoran ya?"
"Salah!"
"Pedagang?"
"Salah juga!"
"Montir?"
"Nggak lah,"
"Tukang parkir?"
"Masa aneh-aneh,"
"Tukang gali kubur?"
"Stop-stop! Makin aneh!"
Ia tertawa geli dan lepas. Aku terkesima. Baru pertama aku melihatnya tertawa seperti itu. "Lalu?" tanyanya. Penasaran ya.
"Dancer," jawabku sambil nyengir.
Ia menutup mulutnya. "Woow, hyung bisa nari?"
Aku mengangguk. "Belum profesional sih, baru jadi penari latar,"
"Tapi sama aja bisa nari kaaan?" ia menangkupkan tangannya. "Ajarin aku dong," pintanya dengan wajah memelas.
"Eh? Gimana ya?" aku jadi grogi. "Ah! Gimana kalau kamu nyanyi dulu, baru aku ajarin Dance!" ajuku.
Ia mengerutkan alis. "Kok hyung tahu aku bisa nyanyi?"
Aku terdiam. Memikirkan sesuatu. Untung aku tidak lemot, jadi aku langsung menunjuk sebuah rak buku tadi. "Itu banyak buku panduan Vocal dan nyanyi. Pasti kamu bisa nyanyi kan? Hehe.. ayodong nyanyi. Nanti hyung ajari Dance dasar deh,"
Ia menutup wajahnya. "Malu ah,"
"Masa di depan kelas nggak malu di depan aku malu sih,"
Ia menatapku bingung. Oops! Lagi-lagi keceplosan.
"Eehm.. m-maksudku, pasti kamu biasa nyanyi di depan sekolah kan kalau bisa nyanyi,"
"Ooh.. tapi kan kalau nyanyi di depan kelas itu beda dengan nyanyi di depan satu orang, hyung," ia menutup wajahnya lagi. Telinganya merah. Imut.
'Huft..' helaku dalam hati. "Kalau gitu hyung pulang deh," aku pura-pura ngambek, siap-siap berdiri.
Changmin menahanku. "K-kajima, Yunho-hyung. A-aku nyanyi deh," ucapnya akhirnya.
Aku tersenyum, kembali duduk. Aku diam-diam mengambil Handphone-ku dari kantung celana bagian belakang. Kemudian membuka aplikasi Voice Recorder setelah berpura-pura menge-check pesan. Ia hanya melihatku dengan tatapan polosnya. Aduh.. ingin kuculik saja.
"Ayo mulai,"
"Tapi aku tutup mata ya, hyung,"
"Eum.. iya deh,"
Saat ia mulai mengeluarkan suara emasnya, aku merinding. Handphone-ku selalu siap merekam. Kupejamkan mata, menikmati suara merdunya yang terhias nada-nada tinggi yang sulit terjangkau. Melodi indah yang mebuat hatiku bergetar dan dada-ku berdesir. Bagai suara Siren yang siap menghantarkanmu ke pintu maut. Aku bisa mendengar suaranya dengan jelas saat ini, tidak samar-samar seperti waktu dulu.
Keheningan dan kekosongan dalam kamar yang mencekam berubah menjadi harmoni. Nada dan melodi yang mengalun indah mengisi penuh keheningan ini, sampai tak ada celah sedikit pun. Kalau boleh, aku ingin berlari dalam suatu jalan berkelok. Jalan yang terbentuk oleh suara itu. Mengikuti tuntunan nada-nada lalu sampai ke hatinya. Mengosongkan semua dan mengisinya dengan aku. Hanya aku yang berlari dalam kekosongan hatinya.
.
.
"Changmin-ah, bukan begitu,"
Aku memegang tangannya dari belakang, memutarnya hingga menjadi posisi yang tepat. Lalu kutendang kecil lututnya agar sedikit lemas. Setelah dirasa posisinya sudah tepat, aku mulai melanjutkan gerakanku. Ia mengikuti dengan lancar. Kami mulai berlatih dari satu jam yang lalu dan Changmin sudah menguasai 7 gerakan dasar. Otaknya memang berjalan cepat sesuai dengan gerak tubuhnya yang gemulai walau masih sedikit kaku. Aku mengajarinya dengan sabar. Ia terkadang terlalu malu untuk bergerak. itu yang membuat waktu jadi terbuang.
"Hyuung~"
"Ne?"
"Istirahat dulu, yuk! Aku ambil minum dulu,"
"Ah.. Yasudah,"
Aku memberhentikan gerakanku. Begitu pula dengan Changmin. Napasku masih teratur. Changmin sepertinya sudah capek. Ia turun untuk mengambil minum. Begitu naik, napasnya tambah tidak beraturan. Aku jadi kasihan. Lebih baik aku hentikan saja. daripada Changmin mati konyol kehabisan napas seelah latihan Dance? Kan nggak lucu. Lagipula aku sudah harus pulang. Walau hati tak ingin berpisah dengan belahannya.
"Changmin-ah, udahan yuk, capek," kataku kemudian duduk di kasurnya sambil kipas-kipas.
"Hmm.. okay. Aku juga capek. Hyung mau pulang?" tanya. Ia menenggak air putih dengan sangat Sexy-nya.
"Ne," jawabku. Bukannya minum, aku malah memerhatikannya yang sedang minum.
"Hyung diminum lah kalau capek," ia tertawa manis walau bulir keringat menghiasi.
Aku tertawa canggung, lalu menyesap air putih di gelasku sedikit-sedikit sampai habis. Setelahnya, kami berdiri. Aku mengambil dompet dan Handphone-ku yang tergeletak lemah sedari tadi di kasur Changmin. menge-check jam di HP walau ada jam dinding. Kebiasaan yang tak akan pernah terlepas.
Aku melihat Changmin. "Hyung pulang ne,"
Ia mengangguk cepat. "Ne, hyung. Silahkan,"
Kami berdua turun lalu keluar. hendak membuka pagar, bertemu dengan Jiyeon yang sedang membuang sampah. Ia mengucapkan salam kepadaku lalu masuk kemali ke dalam. Hari sudah sore. Dan hari ini pertemuanku yang kedua dengan Changmin. singkat sekali. kenapa panjang bagiku ya?
Aku masuk mobil. "Bye, Changmin," lambaiku.
"Bye, hyung. Besok jangan antar-jemput aku ya,"
"Wae?" pura-pura cemberut.
"Nanti kamu dikira tukang ojek aku lagi," katanya tertawa.
"Ah.. bisa aja. Tapi aku boleh main ya,"
"Iya kok. nanti ketemu Appa-ku, ne. Aku juga mau main ke rumahmu sekali-sekali,"
"Tentu. Aku akan memperlakukan sang Putri dengan baik,"
Ia menjitak dahiku. "Dasar aneh!"
"Changmin-ah itu nggak sopan!"
"Biarin! Sudah sana pergi! Hush hush.."
Aku tergelak kembali. Bukan hanya aku. Changmin juga. Aku menyalakan mesin mobil dan mulai melaju. Lalu yang lambat. Agar aku bisa tetap melihat Changmin. eh.. senangnya aku hari ini. tak bisa membayangkan bagaimana mimpiku nantinya. Tapi sepertinya aku akan kurang tidur malam ini.
Jung Yunho!
Jangan menengok Spion terus. Mentang-mentang senyumannya sangat manis di belakang sana. Konsentrasi menyetir.
.
.
Cara yang indah untuk mengakhiri hari yang indah.
Hariku bersamamu.
Penantian terbalaskan.
Tak bisa melepas pandangan darimu.
Walau singkat.
Waktu cinta tlah tiba.
Suara simfoni yang mengalun.
Suara dan tarian yang apik.
Bolehkah aku berlari?
Menuju hatimu yang akan aku kosongkan.
Kosong yang akan penuh dengan Aku.
.
.
Aduh.. maaf juga kalau ngebosenin dan bahasanya yang alay -3-
Sebenarnya udah jadi chap 3 tapi masih perlu di edit..
Mepet waktu UH :3
Terimakasih banget bagi yang sudah review di chap 1... #nangisbahagia
Ela JungShim, melqbunny, MimiTao, niyalaw, Dead Hands *peluk*, HoMin 'EL *makasih sarannya *, homin lover, nanachan, missa, Guest, shin min yo, bearnya jung, Sweetukemin, junox, mun, Hominnn, Glo-Wings *peluk*, Kim, .id, ia tania
Arigatou Gozaimasu!
