SOUNDLESS VOICE

-Yunho Side-

Aku menatap langit-langit kamarku dengan masih setengah sadar. Cuaca yang dingin membuatku terbangun dari tidurku yang nyenyak. Wajar saja... Hari ini adalah musim dingin.

"Kenapa bisa sedingin ini?" gerutuku.

Mataku beralih pada jendela kamarku. aku beranjak dari tempat tidurku dan mulai menyeret kaki-kakiku dengan malas menuju jendela dan menyibak tirainya. Pantas saja... Bisa kulihat salju mulai turun perlahan jatuh ke halaman rumahku. kini pemandangan yang kulihat dari sini bernuansa putih tertutup salju.

"Yunnie..."

Samar-samar aku mendengar suaranya... Ya suara orang yang sangat kukenal. Segera saja aku merapikan rambutku dengan tangan dan berlari kecil menuju sebuah ruangan yang ada di sebelah kamarku. Aku membuka pintu dengan pelan kemudian tersenyum manis menyambut seseorang yang berada di dalamnya.

"Selamat pagi, joongie..." sapaku ramah sambil duduk di sisi tempat tidurnya.

"Pagi?" tanyanya sambil melirik ke arah jam dinding. Diapun tertawa kecil "Kurasa ini terlalu siang untuk mengucapkan 'selamat pagi'..."

Aku hanya tersenyum lebar dan mengusap kepalanya.

"Joongie, apa kau kedinginan?" tanyaku agak cemas.

"Ya, sedikit..."

"Kalau begitu tunggu sebentar, biar kuambilkan kau coklat panas... Bagaimana?" tawarku. Namja cantik didepanku ini hanya mengangguk sambil tersenyum manis. jujur, aku sangat suka senyum yang terukir dari bibir merah cherry-nya itu.

Kim... ah tidak, Jung Jae Joong adalah adik tiriku. Saat usiaku 8 tahun, ibuku meninggal dalam sebuah kecelakaan. ayahku kemudian menikah lagi dengan ibu Jae Joong sehingga kami akhirnya bersaudara. Aku dinobatkan sebagai kakak karena aku lahir 3 menit lebih dulu darinya. Sejak dulu, joongie memang sakit-sakitan sehingga aku harus menjaga dan merawatnya selama orang tua kami kerja di luar negeri. Tapi itu bukanlah beban buatku... aku sangat menyayanginya lebih dari apapun. Bisa dibilang... aku menyukainya... sebagai kakaknya dan sebagai seorang Jung Yunho.

Saat aku kembali ke ruangan itu, aku melihat jae sedang berdiri didepan jendela sambil menerawang keluar.

"Joongie..." panggilku dengan nada lembut. bisa kulihat, ia tersentak kaget dan menoleh cepat kearahku sambil tersenyum tipis.

"Ah, gomawo yunnie..." katanya saat menerima secangkir coklat panas yang kusodorkan padanya. Ia pun mengirup coklat panas itu dan tersenyum "hangat..."

"Tentu... tapi hati-hati, masih panas!" seruku memperingatkan.

Jae hanya tersenyum. "Yunnie..."

"Ya?"

"Apa kau masih ingat tentang apa yang kita lakukan saat natal 9 tahun yang lalu?" tanyanya sambil mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

Aku mengangguk pelan. "Ya... waktu itu kita bermain salju di taman kota didekat danau itu kan? kita bermain di tepi danau sampai sore sehingga umma memarahi kita habis-habisan."

"Ya... Kupikir saat itu... Menyenangkan sekali..." jawab Jae sambil tertawa kecil.

"Benarkah? Kau suka dijewer oleh umma?" candaku sambil tertawa.

Kamipun larut dalam tawa.

PRAANGG

Tiba-tiba sebuah suara menghentikan tawa kami. gelas yang dipegang oleh jae jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.

"Joongie! Kau tidak apa-apa?! Kau terluka?!" tanyaku panik sambil memegang pundaknya dan memperhatikan sekujur tubuhnya.

Sesaat, Jae hanya memperhatikan kedua tangannya dengan pucat dan kemudian dia tersenyum tipis.

DEG

Aku mengerti. Dia tidak pernah mau mengungkit soal penyakitnya. Akupun menghela nafas panjang. "Tanganmu licin karena uapnya, ya? Biar kuambilkan sapu dan lap untuk membersihkannya... Kau diam saja disitu, arraseo?"

"Arraseo..." jawabnya sambil tersenyum tipis.

Setelah menutup pintu kamarnya dari luar, aku berdiri mematung. Sebenarnya aku tahu... Jae menderita sakit keras... aku sangat tahu hal itu... seberapa pun aku berusaha merawatnya... aku takkan bisa menyembuhkan penyakitnya... tapi... setidaknya aku bisa menjaganya dan membuatnya tersenyum... selama sisa hidupnya. Perlahan air mataku yang kutahan sejak tadi menetes dengan deras. aku terduduk lemas didepan kamar jae.

"Kenapa? Kenapa Tuhan memberi kami takdir begini kejam..." umpatku dalam hati. Setelah aku menumpahkan seluruh kesedihanku, aku bergegas mengambil barang-barang yang kuperlukan dan berlari kecil menuju kamar jae.

"Joongie..." sahutku yang telah memasuki kamarnya.

Dia tidak bergeming...

"Joongie, kau baik-baik saja?" tanyaku cemas sambil mendekat ke arahnya yang terlentang di atas tempat tidur.

Dia masih tak bergeming.

Kepanikan mulai menjalar di sekujur tubuhku. "JO-JOONGIE!?"

Tiba-tiba ia membuka matanya. ia melihat ke arahku sambil memasang wajah keheranan. "kenapa kau..." aku langsung menghambur ke arahnya dan memeluknya erat. "Jangan lakukan hal seperti itu lagi!"

"Me-memangnya kenapa?"

"Kau membuatku sangat cemas! kupikir kau..." kata-kataku tersendat saat aku mencerna kata-kata apa yang hampir aku lontarkan dari mulutku. Sial... aku benar-benar kalut... aku mendesah pelan " kupikir kau sakit lagi..."

"A-aku baik-baik saja, sungguh!" jawabnya sambil mengibaskan kedua tangannya.

"Syukurlah… kalau memang begitu…" jawabku sambil melepaskan pelukanku dan mengusap kepala jae pelan.

Jae hanya tertunduk. Dan dapat kulihat sekilas… wajahnya merona…

"Yunnie…"

"Ne?"

"Aku ingin main di luar…"

Tanganku yang sedang menyuapi bubur untuk Jae terhenti mendengar kata-katanya barusan.

"Andwae! Di dalam saja dinginnya sudah seperti ini! Apalagi diluar…" jawabku sambil melihat ke luar jendela.

"Tapi aku bosan berada di kamar terus, yunnie… lagipula… yunnie akan menemaniku, ya kan?" pintanya memelas.

Ini dia. Hal yang paling tidak bisa kuhadapi… wajah jae yang memelas… jika aku mengijinkannya… penyakitnya akan tambah parah… tapi… bukankah ini hanya sekali?

"Hmm… baiklah… habiskan bubur ini dulu, lalu minum obatmu dan kita akan jalan-jalan keluar sebentar…" jawabku pasrah.

Sebenarnya aku tak akan pernah mengijinkannya keluar di cuaca sedingin ini. Aku yang sudah memakai jaket 3 lapis saja masih merasa dingin. Kamipun akhirnya pergi ke tepi danau tempat kami bermain dulu.

"Joongie… jangan lama-lama, ne?"

"Ne…" jawabnya sambil berlari-lari kecil kearah sebuah tumpukan salju dan mulai membentuk sesuatu.

Aku berjalan mendekatinya dan berjongkok disebelahnya.

"Apa itu?" tanyaku sambil mengambil sebuah bola salju.

"Ah ini… ini kelinci… bagaimana? Lucu kan?" tayanya dengan mata berbinar-binar dan menyodorkan kelinci salju itu padaku.

" ne, kawaii… aku bahkan tidak bisa membuat yang seperti itu." Jawabku sambil membuat sebuah bentuk pada bola salju yang kugenggam.

"Lalu kau akan membuat apa?"

Akupun menunjukkan hasil karyaku padanya. "ini kotoran sapi…" jawabku sambil tersenyum lebar.

Jae pun tertawa lebar. "Kau ini benar-benar lucu, yunnie… aku tidak pernah bosan bersamamu… aku benar-benar sayang padamu…" kemudian dia memelukku lembut.

Aku hanya terdiam. Aku tidak berani bergerak. Aku takut kalau aku bergerak kehangatan ini akan hilang. Aku hanya memejamkan mata. Merasakan kehangatan ini menjalar ke seluruh tubuhku.

"Yunnie… kau tertidur?"

Pertanyaan itu membuatku tersadar. Akupun segera menggeleng cepat.

"A-anni… aku masih terjaga. Aku bisa mati kalau tertidur di tengah salju begini…"

Diapun melepaskan pelukannya dan berdiri. "Aku mau melihat bunga itu sebentar…"

Aku hanya terduduk sambil memperhatikan sekelilingku. Semuanya bernuansa putih. Seperti… surga yang diceritakan ibu kandungku dulu…

PRUKK

Tiba-tiba sebuah benda bulat berwarna putih yang dingin sukses mendarat di punggungku. Akupun langsung menoleh ke sumber dari benda itu. Namja yang sedang kupandangi itu hanya tertawa jahil.

"Joongie… kau mau mengajakku perang bola salju ya?" kataku sambil tersenyum jahil.

"Tentu kalau kau tak keberatan…" jawabnya dengan senyum tak kalah jahil.

Akhirnya kami bermain perang bola salju selama 1 jam dan kini hari sudah mulai gelap. Permainan itu selesai dengan hasil seri karena Jae tiba-tiba sesak nafas. Kami yang sudah kelelahanpun duduk di sebuah bangku taman dan menghela nafas panjang.

"Kau hebat juga, joongie…"

"….."

Akupun menoleh kearahnya. "Joongie?"

"Hari ini aku benar-benar senang… aku bisa bermain denganmu disini…. Di taman ini lagi…"

Aku hanya diam. Aku hanya bisa memandangi wajah Jae yang mulai memucat.

"Aku benar-benar sangat bahagia… kalau bisa… aku ingin melakukannya lagi tahun depan… bersamamu… bermain bola salju… berjalan-jalan di taman… seperti sekarang ini…"

Aku tersentak mendengar kalimatnya barusan. Aku ingin membalas… tapi aku tidak tahu harus berkata apa… suaraku tidak mau keluar.

"Kau adalah kakak yang paling baik sedunia… kau mau merawatku dan menjagaku meski kau tahu… aku pasti akan mati…" kali ini aku bisa melihat air mata mulai menetes dari matanya.

Tidak! Kumohon hentikan!

"Kalaupun sekarang aku harus pergi… apakah… kau bisa merelakanku pergi?"

"HENTIKAN! Pembicaraan macam apa itu!? Kau pasti akan sembuh! Jadi, berhentilah mengatakan hal-hal seperti itu!" bentakku kasar. Aku mengambil nafas panjang dan berdiri membelakanginya.

"Cuacanya semakin dingin… wajahmu juga sudah memucat… ayo kita pulang…" kataku sambil berjalan pelan.

"Yunnie…"

Langkahku terhenti.

"Aku benar-benar sayang pada appa, umma dan kau… aku sangat sayang pada kalian semua… bagiku… kalian lebih berarti dari apapun…"

Aku hanya terpaku disitu. Tanpa sadar, air mataku mulai menetes.

"Maaf aku tidak bisa menjadi adik yang baik… aku selalu menjadi beban untukmu… aku selalu menghalangimu untuk bermain bersama teman-temanmu di sekolah… aku tahu kau sangat ingin pergi… tapi kau malah lebih memilih untuk menjagaku di rumah…"

Tidak! Bukan seperti itu… aku tidak pernah menganggapmu beban!

"Aku… benar-benar berterima kasih padamu yang selalu ada disisiku… dan selalu menjaga dan melindungiku…" Air mataku menetes semakin deras.

"Saranghae… Yunnie…"

BRUUK

Aku menoleh cepat begitu mendengar suara itu. Aku benar-benar shock melihat Jae yang sudah tergeletak di atas tumpukan salju.

In the night every sound was put on mute, everything was quiet

The white snow floats gently down

Hands raised up towards my face

The snow that was flowing, melts in an instance as more falls

"Joongie?" panggilku sambil berjalan pelan menuju tubuh Jae yang tergeletak disana.

What a sad way it all ends

Soundlessly the snow falls to the ground

You play with them in piles and sweetly smile in the white

" I wonder what my voice sounds like now...? "

It won't matter if I say something, it's not like you could hear anything

"Kurasa salju bukanlah tempat tidur yang enak saat ini… ayo… bangunlah…" kataku sambil berdiri di sebelah tubuhnya.

Tell me if you're in any pain, tell me if you're feeling lonely

No matter what, I'll always find you someplace

" Joongie, bangunlah… ayo kita pulang… aku akan membuatkan coklat panas untukmu…" kataku sambil menggenggam tangannya yang sudah mendingin.

Don't leave me like this, please, I beg you, don't go

I thought that we shared only one soul together?

The snow covers every bit of anything and you slowly disappear

There's nothing I could possibly do besides embrace you

Air mataku mulai menetes deras. "Tanganmu sudah sampai dingin begini…"

I ask you one thing, if you could, let me hear your voice, one more time

(Maybe just this once, maybe just this one time)

Please speak to me...

"Joongie… bicaralah… jangan diam begitu…"

Glazed over eyes that don't work anymore, it's not like they can see a thing now

The dark world is motionless

Everything's gone

Everything doesn't move or make a sound, unless it be the snow

You're body has now become cold, you're voice is long gone

I can't do anything, I can't even melt away with you

Please hear all of my words, please smile at me again

Aku memeluk tubuh dingin Jae. Aku hanya bisa terduduk pasrah. Aku tahu… suatu saat ini akan terjadi… aku sangat tahu… senyum itu… suara merdu itu… suatu saat aku akan kehilangannya… tetap saja… sangat sulit bagiku untuk kehilangannya… sangat sulit bagiku untuk menerima kenyataan bahwa orang yang sangat penting untukku telah pergi…

"Joongie... Nado Saranghae… jadi jangan tinggalkan aku… kumohon…" kataku lirih.

My tears no longer exist, I can't use them to make you melt away

I ask you one thing, if you could, take my voice away from me

And give it to the person I hold dear to my heart

If I'm left all alone in this huge world without your presence here

(Let me disappear)

Along side your body...

Aku memeluknya semakin erat. Tangisanku akhirnya pecah. Percuma saja… dia yang kucintai telah pergi… tak ada yang

bisa kuperbuat…

~FLASHBACK~

9 tahun yang lalu…

"Yunnie!" seru seorang namja cantik sambil berlari kearahku.

"Jae! Syukurlah… kupikir kau hilang tadi…"

"Pabo! Kau yang hilang! Sudah kubilang, jangan pernah melepaskan genggaman tanganku saat di tempat ramai! Nanti

bisa-bisa kau hilang!" omel Jae sambil mem-poutkan bibirnya.

Aku hanya memandanginya sambil tersenyum.

"Ya! Aku sedang marah! Kenapa kau malah tersenyum aneh begitu?!" bentaknya kesal.

"Tidak… hanya wajahmu terlihat… manis…" jawabku sambil nyengir.

Wajahnya seketika itu juga langsung merona. "Po-pokoknya jangan pernah meninggalkanku lagi! Arasseyo?"

"Arasseyo…"

~FLASHBACK END~

"Benar… aku sudah berjanji padamu… aku takkan pernah meninggalkanmu sedetikpun… tidak akan…" akupun melepas 3 jaketku dan menyelimutkannya pada Jae. "Aku akan menemanimu…"

I love you with my being, and now there's no way to tell you

This world of ours is slowly crashing down, it's all fading

Even if I scream with everything I have, you nor your voice will return to me

Aku menggendong Jae dan mendudukannya di kursi taman. Setelah itu, aku yang hanya memakai kaus tipis dan celana jins duduk disebelahnya sambil menggenggam tangannya. Sekujur tubuhku mulai membeku. Air mataku terus mengalir. Suaraku pun mulai menghilang.

Falling snow that is ever so gentle, I beg for you to never stop falling

I want you to take me with that person I hold dear

Please allow everything to wither away by my voice deepened by sadness

(I hope to make it all)

Turn to white...

"Sayonara, Jae…"

-END—