Chapter 2 : Kehilangan
Semilir angin berhembus menggoyangkan surai indingonya. Sedari tadi angin terus bermain dengannya. Dibiarkannya itu. Sambil memejamkan matanya, ia meresapi kesejukan yang ditimbulkan oleh angin.
Perempuan itu tengah duduk di sebuah pinggiran kolam. Airnya begitu jernih, dan membiru indah. Entah kenapa, didalam hatinya, ia seolah tak asing dengan warna biru itu. Dasar kolamnya terlihat jelas, ikan-ikan berkerumun di dasar mencari makanan. Pemandangan yang indah.
Sengaja ia datang kemari, untuk menenangkan pikirannya. Hanya disinilah, ia merasa tenang. Di tempat inilah, ia bisa menerawang jauh pikirannya dan berkonsentrasi. Ia kemari, sekadar untuk membayangkan, kira-kira apa yang terjadi pada masa lalunya. Apa yang terjadi selama itu hingga dirinya kehilangan ingatan. Walaupun suaminya sudah menceritakan apa yang terjadi padanya, tapi tetap saja, namanya manusia pasti takkan pernah puas.
PUKK
Tepukan tangan seseorang menepuk bahu gadis itu. Seakan menginterupsi lamunannya. "Disini kau rupanya. Apa yang kau lakukan?" tanya seorang pria berambut putih kepada sang wanita.
Wanita itu menundukkan kepalanya, menatap tanah dudukannya. "Ti-tidak ada. Aku hanya ingin bermain di sini," Bibirnya melengkung membentuk senyuman kecil, mendengar ucapan polos perempuan itu. Segera ia ulurkan tangannya, mengajak perempuan itu agar berdiri.
"Kebetulan sekali. Aku ingin jalan-jalan. Kau mau ikut denganku?" ajakan itu disambut dengan menerima uluran tangannya, disertai dengan anggukan pelan.
"Ayo kita pergi..."
"... Hinata,"
.
.
.
PLEASE, COME BACK!
CHAPTER 2 : KEHILANGAN
A NARUTO FANFICT
DISCLAIMER : KISHIMOTO MASASHI
FICT BY : SASSHI KEN
WARNING : TIME SETTING CANON, ALTERNATIVE REALITY, GAJE, ABAL, TYPO, AMATIRAN, DE EL EL
BANYAK YANG KUROMBAK DARI THE LAST :3
HOPE U LIKE IT AND GIVE A REVIEW ^^
.
.
.
.
Gerbang adalah pemandangan pertama yang pemuda itu lihat. Tak ada yang berubah dari gerbang Konoha ini sejak ia masih di gendongan punggung kakaknya. Meskipun sudah tua, tapi gerbang ini tak pernah usang. Bagai disegel untuk tetap awet muda.
Lupakan tentang gerbang. Bukan gerbanglah tujuannya untuk sampai ke Konoha. Tapi untuk mengetahui kabar teman-temannya, setelah insiden meteorid itu. Bagaimana keadaan mereka sekarang? Berapa tinggi Naruto sekarang? Apa dada Sakura masih rata? Apa... Tunggu! Kenapa ia jadi berpikiran mesum tentang Sakura?
Sasuke, nama pemuda itu, berlari melompati atap demi atap rumah penduduk. Tujuan pertamanya adalah mengunjungi rumah sahabat pirangnya, Uzumaki Naruto. Ah, ia penasaran dengan kondisi tangan sahabatnya itu. Apa ia sudah mendapat tangan pengganti? Kalau begitu, seperti apa bentuknya?
Sampailah keturunan terakhir Uchiha itu di depan pintu sahabatnya. Membuka gagang pintu, namun tak terkunci. Berarti sahabatnya ada di dalam. Iapun berjalan memasuki rumah Naruto tanpa mengetuk pintu ataupun mengucapkan salam. Memang tak sopan.
Seharusnya ia ke kantor Hokage dulu. Tapi, entah kenapa hatinya tergerak ke sini.
"Dimana dia?" gumamnya pelan. Mengedarkan matanya ke sekeliling ruangan, ia akhirnya menemukan si Uzumaki. Berbaring telengkup di ranjang. 'Sudah siang tapi masih tidur juga?' Kira-kira seperti itulah batin Sasuke melihat sobatnya.
"Hoi," panggilnya pelan, sambil menggoyangkan bahu si Uzumaki. Menyadari ada seseorang, Naruto segera menoleh, mendapati Sasuke yang sedang berusaha membangunkannya. Heh? Sasuke sudah pulang? Kenapa Uchiha itu datang ke rumahnya? Dan, kenapa gaya pakaian Sasuke betul-betul terlihat seperti seorang penggemba..., ah maksudnya pengembara.
"Oh, hei Sasuke," sapanya sebentar lalu tidur lagi. Menarik selimut, ia tidur kembali. Melanjutkan mimpinya.
"Kau.." panggil adik Uchiha Itachi itu. "Apa yang terjadi?"
"..." Hening, tak ada jawaban dari Naruto. Sasuke menyerngitkan dahinya. Aneh sekali, padahal ia pikir dengan kepulangannya ke Konoha, temannya itu akan berteriak kencang dan meloncat kegirangan. Bisa saja. Tapi kini mereka telah dewasa, tentu mereka takkan melakukan hal konyol lagi.
Lama tak mendapat jawaban, membuat Sasuke geram. Ia tarik selimut yang menutupi Naruto. "Hoi Baka! Jika ada sesuatu ceritakanlah! Kau terlihat tidak seperti biasanya!"
"Seperti biasanya apa? Kau bahkan tak berada di desa selama 2 tahun sejak perang itu. Memangnya kau tahu apa yang terjadi padaku?" bentak si jinchuriki Kyuubi. Lama tak dibalas, ia tertidur lagi.
.
.
.
.
Sakura menggerutu kesal selama perjalanan pulangnya. Bagaimana tidak? Naruto melolak misi berdua mereka, otomatis, Sakura harus menjalani misi ini sendirian. Memang tak masalah ia menjalani misi sendirian, misi ini tak terlalu sulit, dan juga ia seoran Jounin. Tapi, tak memiliki teman bicara saat misi adalah hal yang paling membuatnya tak suka menjalani misi. Tapi bagaimanapun juga ia harus profesional. Misi sendiripun, harus dilakukannya dengan ikhlas, walau tak enak menjalankannya.
GREB
Sebuah tangan kekar tiba-tiba menariknya. Menariknya ke lorong kecil antar kios-kios toko di pinggir jalan. Meronta ingin agar tangannya dilepaskan, namun apa daya, kekuatan orang itu lebih besar, dan juga, ia sedang tak mengaktifkan chakranya.
Langkah mereka berhenti. Segera, orang yang menarik tangan Sakura membuka suara. "Sakura..."
'!'
Sakura kenal suara itu. Suara itu, suara orang yang dicintainya, sekaligus suara yang dirindukannya selama bertahun-tahun. Suara itu... "Sa..Sasuke-kun?"
Seketika suasana menjadi hening, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sakura, yang masih berusaha menenangkan dirinya setelah lama tak melihat pria pujaannya. Dan Sasuke, yang masih memikirkan pertanyaan di pikiran abstraknya.
"Sakura..." panggil pemuda itu. "Ceritakan semuanya,"
"Eh?"
"Ceritakan semua yang terjadi!" jelas Sasuke. "Tentang apa yang terjadi selama dua tahun ini, tentang kau, tentang Konoha, dan tentang Naruto..."
.
.
.
.
Ootsutsuki Toneri dan Hyuuga Hinata, berjalan menapaki jalan yang sama. Belum ada yang membuka pembicaraan. Keduanya saling diam, membiarkan angin melewati mereka.
"Hinata," panggil pria disana. "Apa yang kau pikirkan selama di kolam tadi?"
"Eh.." Hinata langsung gelagapan mendengar pertanyaan itu. "Ngg... Ano.. A..aku hanya... mencoba memikirkan masa laluku,"
Perasaan tak suka segera hinggap di hati Toneri. Untuk apa wanitanya memikirkan masa lalunya jika ia sudah memiliki masa depan? "Hinata, aku sudah pernah bilang kan kalau..."
"Ah ya," potong putri Hyuuga itu. "Yah, masa laluku memang menyakitkan. Di satu sisi, aku ingin melupakannya. Namun, disisi yang lain, aku selalu berandai-andai jika keluarga dan hidupku masih seperti dulu,"
Yah, Ootsutsuki Toneri pernah menceritakan 'dongeng' masa lalu istrinya. Ia mengatakan, saat kecil seluruh keluarga Hinata dibunuh. Ayah, Ibu, adik, kakak, nenek,kakek, semuanya. Hal itu membuat Hinata hidup sebatang kara selama beberapa tahun. Dan untunglah, saat itu Toneri datang menyelamatkan dirinya dari penderitaan hidup. Lama kelamaan, ada perasaan aneh yang muncul di masing-masing mereka. Perasaan suka. Menyadari kalau mereka saling menyukai, merekapun menikah dan akan hidup bersama selamanya.
Setidaknya itulah yang Hinata percayai.
-Dan seandainya saja Hinata tahu, kalau itu hanyalah karangan palsu belaka.-
"Tapi..." gumamnya. "Mungkin ucapanmu benar. Sebaiknya aku tak perlu mengingat masa laluku. Mungkin, itulah mengapa aku ditakdirkan untuk hilang ingatan. Mungkin, jika aku tetap mengingat masa-masa yang pahit itu, aku malah akan semakin sedih,"
Tersentum tipis, lalu tangan mungilnya melingkari pinggang suaminya dari belakang. "A.. aku...berterima kasih besar padamu. Karena Toneri-kun telah berbaik hati untuk menolongku. Jika saja kau tak ada saat itu.. mu..mungkin aku takkan pernah menjadi istrimu. Aku.. mungkin tak pernah sebahagia ini. Terima kasih telah menyukai dan menikahiku. A... aku akan berusaha menjadi istri dan ibu yang baik bagi anak kita nanti. Awalnya aku merasa asing dengan Toneri-kun, tapi aku berpikir mungkin itu efek dari hilang ingatan. Ta.. tapi aku akan..."
"Sssttt.." desis pelan pria yang dipeluk Hinata, meninta agar Hinata berhenti berbicara. "Kita memang saling menyukai, tapi mungkin perasaan cintamu belum sebesar cintaku. Tak apa, aku tak mempermasalahkannya. Selama kau ada di sisiku, aku akan bahagia, meski kau menganggapku orang asing," ujarnya.
"Teruslah ada di sisiku, Hinata..."
.
.
.
.
Entah sudah keberapa kalinya author sudah bosan menulis dan mendeskripsikan kegiatan si tokoh utama pria kita ini. Dibalik selimut, matanya terpejam. Mencoba untuk memimpikan sesuatu, yang entah bisa terjadi di kenyataan atau tidak. Ia membalik-balikkan badannya, mencoba mencari posisi yang pas untuk nyenyak terlelap, sambil memeluk guling.
Ia tak tertidur, hanya memejamkan matanya. Berada di antara pikiran sadar dan alam bawah sadar. Pikirannya menerawang jauh, pada belahan jiwanya yang tak ada disini. Ia sangat, sangat, sangat, dan sangat merindukan gadis itu. Ia rindu wajah memerahnya, tatapan lembutnya, suaranya, nada kekhawatirannya, dan semua tentangnya.
"Na..Naruto-kun...,"
Ia jadi teringat suara Hinata saat memanggilnya. Panggilan malu-malu itu saat mereka masih usia 13.
"Naruto-kun,"
Suara Hinata semakin dewasa, setelah 3 tahun tak jumpa.
"Naruto-kun!"
Teriakan Hinata, masih tetap terdengar indah di indra pendengarannya. Teriakan itu, saat pertarungannya di bulan. Tak sanggup mengingat lebih jauh lagi, Naruto bergumam pelan. "Hinata..."
"Ya, Naruto-kun?"
'!'
Su... suara apa itu? Apa seseorang menyahutnya? Ah, tidak mungkin. Mungkin itu hanya ilusinya. Tapi... suara itu terdengar nyata. Ia tahu dengan persis. Itu suara Hinata. Ta.. tapi bagaimana?"
"Naruto-kun..." Seketika ada tangan mungil yang melingkari pinggangnya. Begitu nyaman, dan lembut. Menoleh kebelakang, dan Naruto mendapat hal yang tidak diduga.
"HI... HINATA?" Terlihat olehnya sosok Hinata berada di sebelahnya, dan memeluknya dari belakang. Hinata terlihat begitu manis dengan balutan pajama yang agak terbuka. "BA..BAGAIMANA BISA? KA.. KAU... KENAPA KAU MENINGGALKANKU?"
Tersenyum, lalu menjawab pertanyaan pria itu. "Meninggalkanmu? Tidak. Aku tidak meninggalkanmu kok," jawabnya sambil menyembunyikan wajah di punggung Uzumaki. "Kau yang meninggalkanku,"
"Eh?"
"Naruto-kun..." lirih si gadis Hyuuga. "Aku tak pernah meninggalkanku. Aku selalu bersamamu, walau kau tak menyadarinya. Aku selalu memperhatikanmu, mengawasimu dari jauh, dan berharap suatu saat aku tak lagi berada di belakangmu. Aku selalu berharap kau tersenyum, walau senyuman itu bukan untukku. Aku bahagia, walau kau bersama gadis lain. Tak masalah bagiku, asalkan aku masih bisa melihatmu, itu sudah cukup," Naruto terengo dibuatnya. Sebegitu dalamkah cinta gadis ini kepadanya? "Naruto-kun, aku akan melindungimu, sekalipun nyawaku menjadi taruhannya. Ta-tapi kenapa? Kenapa kau tak mengerti perasaanku? Kenapa kau begitu lemah?"
Entah kenapa, bulu kuduknya merinding. Suasana begitu berubah cepat. "Kenapa?" tangis Hinata. "Kenapa kau meninggalkanku? Kenapa kau membiarkanku sendirian di bulan? Kenapaa? Apa aku tak pantas bagimu? Apa kau membenciku? JAWAB AKU NARUTO!"
Suasana menjadi mencekam. Naruto setengah mati ketakutan melihat Hinata. Hinata yang dilihatnya, bukanlah Hinata sebagai seorang shy girl, tapi sebagai Hinata yang penuh dendam dan kebencian. Wajahnya dan seringainya betul-betul mirip Kaguya, musuhnya di perang lalu. Walau Naruto berhasil menyegel dan mengalahkannya, tetap saja ia selalu merinding mengingat wajah Kaguya. Dibanding Dewi Kelinci, Kaguya lebih cocok disebut sebagai Iblis Wanita, atau mungkin Hantu dari Masa Lalu ; Naruto sangat takut hantu, dan wajah Kaguya juga terlihat seperti hantu.
"Kenapa kau begitu lemah? Melawan dia saja kau tak bisa? Kau... Apa kau mengorbankan diriku demi dunia? Kau mengorbankanku, meninggalkanku sendirian di bulan, bersama seseorang yang asing bagiku. Aku menjalani hidup yang hampa, dan selalu menangis mengingatmu. Tapi kau.. KAU BAHAGIA DI BUMI INI! KAU BAHAGIA TANPA PERNAH MENGINGAT PERASAANKU PADAMU! AKU MEMBENCIMU! AKU KECEWA PADAMU! AKU SUDAH LAMA MENCINTAIMU, DAN... DAN... INIKAH BALASAN CINTAKU DARIMU? KENAPA KAU BEGITU KEJAM!"
"..."
"Jika aku tahu seperti ini akhirnya, seharusnya aku tak mencintaimu dari dulu. Seharusnya aku membiarkanmu sendirian , kesepian dan membiarkan Pain membunuhmu. Aku menyesal!"
"Hi.. Hinata...," lirih pemuda itu. Matanya berkaca-kaca mendengar itu. Begitu menusuk hati. Apa Hinata betul-betul membencinya?
"Tapi... aku tak sepenuhnya menyesali itu," ucap Hinata. "Setidaknya, aku berterima kasih padamu. Karena kau, aku bertemu dengan Toneri. Karenamu, aku menemukan seorang pria yang betul-betul mencintaiku. Dibanding dirimu yang menyedihkan, aku lebih memilihnya. Dia kuat, tak seperti dirimu. Dia mengerti perasaanku, dan selalu ada untuk menemaniku. Dia baik padaku, dan selalu melindungkiku. Itu semua, tak ada di dirimu!
Mulai sekarang, aku akan berhenti mencintaimu. Aku akan mencintai Toneri, dan menyerahkan seluruh milikku padanya. Aku akan menuruti semua keinginannya. Walau dia akan menghancurkan bumi tempat yang kutinggali dulu, aku tak keberatan. Aku akan berada di sampingnya, saat melihat kehancuran kalian, dan terbunuhnya dirimu!"
"Hi... Hinata...,"
"Sayonara,"
"HINATAA!"
- ! -
"Hah.. haahh.. hahhh..." Sialan, lagi-lagi mimpi buruk menghantuinya. Mimpi macam apa itu? Kenapa Hinata seperti itu? Apa itu, benar-benar isi hati 'kekasihnya' yang tersampaikan di dalam mimpi? Lututnya melemas, seolah tak ada tenaga, ketika mengingat kembali semua perkataan Hinata.
Pikirannya betul-betul kacau. Ingin rasanya ia pergi dari dunia yang kejam ini, dan bertemu orang tuanya di alam sana. Dan saat bertemu nanti, ia ingin mencurahkan segala yang terjadi pada orang tuanya. Bisa saja, tapi takkan pernah mungkin terjadi. Kenapa? Karena Kyuubi takkan pernah mengizinkannya.
.
.
.
.
Tak ada yang berubah dari lapangan ini, lapangan tempat dimana tim 8 biasanya berlatih. Masih terlihat sama, sama seperti saat mereka bertemu senseinya pertama kali. Pun kalau ada, hanya lubang-lubang efek dari jurus latihan mereka.
Dan di sinilah mereka berada ; Kiba, Shino, dan seorang anak kecil yang diketahui adalah anak sensei mereka. Kurenai-sensei pergi menjalani misi selama 3 hari di luar desa. Awalnya Kurenai keberatan dengan misi ini, karena ia punya seorang anak kecil yang masih harus diasuhnya. Tapi mau bagaimana lagi, hanya Kurenai yang cocok di misi yang mengutamakan seorang ahli genjutsu. Mau tak mau, sebagai seorang kunoichi, ia harus menjalani misi ini. Ibu Kiba bersedia mengasuh Mirai, buah cinta Kurenai bersama almarhum Asuma, dan Kurenai sangat berterima kasih padanya.
Dan sore ini, Ibu Kiba menyuruh putra bungsunya untuk mengajak Mirai jalan-jalan. Mirai tak rewel, jadi tak butuh penanganan ekstra untuk menjaganya.
"Aaa... uuuu... " ucap Mirai sambil menggapai-gapai tangannya ke Akamaru ; mencoba mengelus kepala anjing ninja itu.
"Hehe, kau mau main dengan Akamaru?" Menggendong Mirai, kemudian mendudukkan balita perempuan itu di atas punggung Akamaru yang sedang tertidur.
Sementara itu, lelaki dengan kacamata hitam dan model rambut yang mirip Takiya Genji di Crows Zero itu merajuk di sebelah Kiba. "Dia mau bermain dengan anjingmu, tapi tak mau bermain dengan seranggaku,"
"Bodoh, anak kecil mana suka serangga! Bukannya senang, malah jadi jijik!" sewot Kiba. "Hanya balita dari klan Aburame saja yang suka serangga!"
BRUUKK
Karena asyik berbicara, Kiba dan Shino kecolongan mengawasi Mirai. Akamaru baru saja bangun dan menggerakkan punggungnya, dan hal itu membuat Mirai terjatuh ke tanah.
"Hu... hueee..."
Mirapun menangis. Dan membuat Kiba dan Shino jadi kebingungan. Baru kali ini Mirai menangis, bagaimana cara menghentikan tangisan seorang anak kecil?
.
.
Dan akhirnya mereka berhasil menenangkan Mirai. "Yah, kita membutuhkan waktu yang lama untuk menenangkannya," ucap Shino.
"Huh... Itu karena kita cowok, mana ngerti cara ngurusin anak. Kalau saja ada Hinata disini, pasti kita membutuhkan waktu yang tidak lama! Dia itu kan tipe cewek Yamato Nadeshiko! Kira-kira, bagaimana ya cara Hinata menenangkan anak kecil?" timpal Kiba.
"Hinata ya...," lirih Shino. "Kau masih mengingatnya..."
Menyadari nada bicara Shino yang melemah, lekaki Inuzuka ini segera menepuk bahu Shino. Sambil tersenyum kecut, ia berbicara pada Shino. "Tentu saja! Dia rekan setim kita! Aku, kau, maupun dia sudah lama bersama! Karena itu, sampai sekarang aku tak bisa melupakannya,"
Pemuda itu jadi teringat saat di Yakiniku Q beberapa hari yang lalu. Lagi, ia keceplosan menyebut nama kunoichi di tim delapan. Yah, dan saat itu juga, ia melihat sahabat pirangnya yang langsung menggalau ria dan meninggalkan mereka di restoran. Ada rasa sedih, iba, benci, dan marah yang berkecamuk di pikirannya.
Sedih. Ia sedih karena melihat temannya bersedih. Ia bisa merasakan bagaimana rasanya Naruto yang kehilangan Hinata. Karena ia juga merasakan hal yang sama.
Marah. Ia marah pada Naruto. Ia benci pada Naruto yang tak bisa melindungi gadis itu. Kiba tahu tentang misi itu, dan ia juga tahu tentang keberadaan Hinata yang tak bisa diselamatkan.
"Bajingan! Beraninya kau membiarkan Hinata! Apa kau tak tahu, selama ini dia mencintaimu bodoh! Dia selalu memikirkanmu dan berharap bisa bersamamu! Brengsek! Kau... kau tak bisa melindungi Hinata! Kau payah!"
Ia jadi teringat pada enam bulan yang lalu. Saat mereka baru saja menyelesaikan misi penyelamatan Hanabi. Ia ingat betul, dirinya yang sepenuhnya dikendalikan emosi menghajar Naruto habis-habisan sampai babak belur. Ia kesal pada Naruto yang gagal. Padahal ia tahu betul kalau Hinata menyukai pemuda Uzumaki itu. Hinata selalu meminta kepada rekannya untuk latihan di lapangan dekat tim 7 berlatih. Alasannya simple, untuk dapat melihat lelaki pujaannya.
Berkali-kali ia mencoba agar Naruto peka pada perasaan Hinata, namun tetap saja, sekali bodoh ya tetap bodoh. Dan saat Naruto mulai menyadari perasaan Hinata, Hinata malah pergi tanpa mendengar jawaban balik perasaannya.
"Haahh...," menghela nafas, lalu berusaha untuk tersenyum lagi. "Kau, juga merindukannnya kan?"
"..." Shino terdiam.
Diam berarti 'iya'. Itu yang disimpulkan Kiba.
.
.
.
.
.
Bulan menemani Hanabi di dalam kesendiriannya di kamar, memandang sendu sebuah potret foto di tangannya. Di foto itu, ada dirinya yang tersenyum lebar, dan kakaknya dengan senyum segaris yang tulus. Jarinya meraba pelan foto yang diambil setahun lalu itu.
"Nee-sama..." melirih, dan dirabanya wajah kakaknya di foto itu.
"Nee-sama..." suaranya menjadi bergetar. Bagai menahan tangisan.
"NEE-SAMAA!" Cukup! Ia tak dapat menahan tangisannya lagi. Segera ia menangis hebat, mengeluarkan semua rasa sedih yang selalu dipendamnya. Dipeluknya foto itu erat-erat.
Hanabi merasa bersalah pada kakaknya. Karenanya, kakaknya harus menanggung beban ini. Apa gunanya ia kembali ke sini, kalau kakaknya harus pergi? Tahu begitu lebih baik ia mati bersama kakaknya saja.
'Baka! Apa yang kupikirkan!?'
Terlepas dari itu, ia sangat merindukan kakak tersayangnya. Baginya, Hinata adalah idola dan panutannya. Kakaknya itu mirip ibunya. Mulai dari rambut, wajah, dan sifatnya. Karena itu, kelembutan Hinata membuat Hanabi merasa memiliki figur seorang ibu yang hanya sebentar ia rasakan ketika masih kecil.
Hanabi menyayangi kakaknya. Sangat menyayanginya. Walaupun hubungan mereka sempat renggang, namun selepas perang hubungannya telah membaik. Memang salahnya memiliki kekuatan yang lebih dibanding kakaknya. Namun, ia memiliki kekuatan itu, bukan untuk menggeser dan merendahkan martabat kakaknya. Ia hanya ingin kekuatan yang lebih dari Hinata, untuk melindungi sang kakak.
"Nee-sama... Kembalilah..."
Dimalam yang sunyi itu, bukan hanya Naruto, Kiba, Shino, ataupun Hanabi yang merasa kehilangan. Namun, semuanya. Semua teman dan kenalan Hinata, merasa kehilangan juga atas insiden itu.
.
.
.
.
Seorang pemuda Uchiha tengah berjalan di jalanan sepi Konoha. Menatap langit hitam, lalu mengingat apa yang dikatakan Sakura tadi.
''Misi itu, kami berhasil membawa Hanabi pulang. Meteorid itu juga berhasil dihentikan,''
Ah, ia memang ingat insiden itu. Ketika meteorid dari bulan mengahantam bumi, dan saat itu pula seingatnya Sakura, Naruto, Hinata, Shikamaru, dan Sai pergi menjalankan misi. Ketika itu, ia muncul ke Konoha sebentar untuk membantu Kakashi.
''Saat itu, Naruto bertarung sendirian dengan Toneri. Sementara aku, Sai, dan Sakura dimintanya untuk mengurangi serangan meteor ke bumi di dalam ruang rahasia. Aku tak tahu apa yang terjadi. Tapi pada akhirnya, ia kalah oleh Toneri. Saat kami menemuinya, ia sudah terluka parah. Bahkan tangan kanan buatan Godaime Hokage nyaris rusak,''
Dan sebuah pertanyaan menghinggap di benaknya. Mengapa Toneri ingin sekali Hinata?
''Ootsutsuki Toneri, dia adalah keturunan Ootsutsuki Hamura. Kau tahu kan?''
Ya, dia tahu itu.
''Klan Hyuuga juga memiliki darah dari Ootsutsuki Hamura. Kekkei Genkai Byakugan adalah warisan dari Ootsutsuki Hamura. Toneri sangat terobsesi pada byakugan Hinata. Karena saat ini, Hinata memiliki mata byakugan yang kuat,''
Waktu semakin berlalu, sebanding dengan ingatannya.
''Naruto selalu merasa bersalah dengan insiden itu. Ia merasa semua karenanya. Naruto menyadari, kalau ia mencintai Hinata. Dan ia tak kuat menerima kenyataan kalau pada akhirnya Hinata menikah dengan pria lain. Ia kehilangan semangat hidupnya. Dan sudah enam bulan ini ia tak menerima misi apapun. Ia menyendiri. Berkali-kali aku mencoba menghiburnya, tapi tak bisa. Sekalipun ia tersenyum, tapi aku tahu kalau itu senyum palsu''
Mengapa Kakashi atau aliansi desa tak membantunya?
''Insiden ini adalah insiden yang melibatkan seluruh dunia. Dan para 5 kage bertanggung jawab akan hal ini. Para kage sepakat untuk menutup dan membiarkan Hinata. Hanya Kakashi-sensei dan Kazekage yang menolak. Mereka ingin mencoba membawa Hinata kembali, tapi dikhawatirkan terjadi hal-hal yang merugikan lagi. Lagipun, hanya sedikit informasi yang kami dapat. Negara lain telah membayar banyak kelima kage untuk hal ini. Sekarangpun, kita tak bisa melakukan semuanya sendirian. Jika Hokage melanggar perjanjian ini, maka kita akan dianggap egois dan pengkhianat. Perang barupun akan muncul lagi. Mengingat perang yang lalu telah banyak Shinobi Konoha yang tewas, dikhawatirkan kalau kita tetap egois, maka kedaulatan Konoha akan hilang dan hancur,''
Hah, dunia sungguh tak adil.
''Saat ini juga, kami berwaspada terhadap serangan baru yang mungkin lebih dahsyat dari ini. Setidaknya, kami sudah meminimalisir serangan itu saat disana''
Dari ingatan itu, timbul sebuah ide di otak cerdasnya.
.
.
.
.
TO BE CONTINUE
.
.
.
.
Bacotan Author
Yow Minna! Akhirnya chap 2 update! Ulala~~ Maaf lama, yah kesibukan seorang pelajar bulan ini. Udah UTS, seleksi tk. kabupaten olim lagi :3
Oh ya, THE LAST NARUTO MOVIE tayang 4 April di Indonesia? Selamat! Good luck buat yang nonton. Wa sih udah biasa aja, bahkan gak sureprised atau berharap banget ini tayang di Indo. You know lah disini, tak ada Blitz, ataupun Platinum Cineplex. Terdekatpun, ya di Batam. Yakali wa naik pesawat di hari sekolah atau nyebrang lewat laut :v Ah, saat ini aku hanya berharap keajaiban datang. Dem Yu XXI! Kenapa gak ditayangin aja sih disana? T.T Sedikit kurang greget gitu kalau nonton donlotan, mending bioskop, kan.. gimanaaa gitu (?)
Anyway, wa mau ngejelasin. Ini fict NaruHinaTone. Mungkin banyakan scene tentang ToneHina, tapi endingnya nanti NaruHina Dan entah kenapa wa akhir-akhir ini lagi demen banget baca fic Tone-Hina, haha... '3' Dan di chapter dua ini, sepertinya belum ada perkembangan yang signifikan ya. Yah, maklumi saja. Seperti inilah Ken. Terlalu memperfeksioniskan(?) sesuatu dari seluruh sisi(?).
Balesan reviewnya..
Napas-san : Jiaaah, sama dong XD. Hehe, ini udah dilanjut, amin. Moga gak discontinue ^^
Akari Yuka-san : Arigatou atas supportnya! Huhu, terharu :'
Mr Obsessive-san : Sudah dilanjut :D
Himarura Kiiromaru-san : Terima kasih atas pujiannya ^^ (seketika ngambang) Ini udah dilanjukan.
Enischan-san : Emmm... rencana sih emang gitu :D
Cahya Uchiha-san : Heheh, lagi naksir berat ini :3
Mell Hinaga Kuran-san : Sudah dilanjut... ^.^
-san : ini sudah...
-san : Ini udah lanjut :3
AngelzVr-san : ...
Hqhqhq-san : Males nonton bajakannya :3 Wah, aku dapat panggilan Tonecchi dari fb juga lho! Is dat yu? :v
Hinami hyuga-san : sudah dilanjut ^^
Miss taurus-san : idenya boleh juga. Hihi makasih, ntar aku pertimbangkan.
Mishima-san : Ini udah dilanjut... walau lama ._. Gomen ne :3
Sarah Hyuzumaki-san : Ini udah :D
selamet. .9-san : Ngggg...
Semuanya wa bales disini, wa lagi males bales lewat Pi Em #plak
Okey, arigatou for your reviews, favorites, and follows. See ya in chapter 3!
Riau, 20 Mar. 15
Menunggu keajaiban
Supaya bisa nonton movie The Last
Sign,
Sasshi Ken
