Sunny Hill

.

.

.

.

.

.


"These aren't coincidence,accident or bad luck, but this is Fate"


.

.

.

.

Sunny Hill

Author: Kjbel

Cast: Kris,Tao, and etc

Rating: T

Lenght: ?

.

.

.

.


Cerita ini milik saya namun tidak untuk cast


.

.

.

.

.


Chapter two

Bad Luck.


Diam.

Itulah yang dilakukan seorang pemuda dengan surai hitam legam bermata panda yang tengah duduk sambil mengaduk-aduk sup yang ada di depannya. Pandangannya kosong, berkali-kali ia mengelap bibirnya dengan tangan lentiknya, bibir kucingnya yang ia jaga selama ini sudah tak suci lagi. Tao tak mempedulikan Baekhyun dan Chanyeol yang berusaha menganggunya dengan mainan tikus–dan tentu saja itu tak berpengaruh baginya.

"Tao, kenapa kau tak memakan supmu?"

"Aku tak berselera makan."

"Oh ya, tadi aku melihat Kris keluar dari kamarmu. Apa mungkin–"

Tao memandang Kai dengan pandangan membunuh, garpu yang ada di tangannya sudah siap untuk meluncur ke arah Kai. Kai yang merasa nyawanya terancam memutuskan untuk berlari ke dapur–ia berniat berlindung dibalik tubuh Kyungsoo. Benar-benar, andai dia tahu apa yang baru saja Tao alami. Andai.

Setelah selesai, ia berniat mencuci piring namun alangkah terkejutnya dia saat melihat seorang namja tan berkulit hitam tengah asik memeluk seorang namja mungil berkulit kontras dengannya dari belakang. Posisi mereka persis seperti seorang pasangan kekasih yang baru saja menikah, Tao yang menganggap matanya sudah tak suci lagi hanya bisa melihat mereka dengan tatapan 'O.O'.

"Ah Tao!"

Kyungsoo langsung berbalik tanpa terganggu dengan keadaan Kai yang masih setia menempel padanya. Tao hanya menggaruk kepalanya walau tidak gatal, ini benar-benar membuat Tao merasa tak nyaman melihatnya.

" hanya ingin mencuci piring."

"Hei, sini biar aku saja."

Kyungsoo menarik mangkuk yang ada di tangan Tao sambil tersenyum lembut, Kyungsoo benar-benar aneh. Ia sama sekali tak merasakan–atau sengaja tak merasakan kehadiran Kai di belakangnya. Sepertinya Kyungsoo dan Kai memiliki hubungan lebih dari teman. Tidak, Tao apa yang kau pikirkan?

"Sekarang kau Hyung, lebih baik kau pergi, aku ingin berdua dengan–"

"Kim Jong In."

Kai meneguk ludahnya keras saat melihat Kyungsoo tengah membawa senjata andalannya–pisau dapur. Tao benar-benar ingin minggat dari sana. Cukup, ia harus pindah dari sini kurang dari seminggu.

.

.

.

"Astaga, kenapa mencari pekerjaan itu susah sekali?"

Tao menggerutu sambil meneguk soda yang ia bawa, keringat terus mengalir dari dahinya, sudah dua jam ia berkeliling untuk mencari kerja sambilan namun ia belum mendapat pekerjaan yang cocok untuknya. Sebenarnya, ia hampir mendapat pekerjaan sebagai badut yang tugasnya memberikan edaran toko mainan pada anak-anak kecil namun sayangnya Tao masih waras dan langsung menolak pekerjaan itu.

"Padahal aku bisa saja sekarang kuliah dan hidup tenang di Beijing, namun kenapa Baba harus mengirimku ke Korea hanya untuk membuat anak tersayangnya menjadi penjaga toko, pengantar surat, dan penjaga kasir?" gumam Tao pelan, padahal selama ia berada di sekolah ia termasuk anak yang pintar dalam pelajaran akademik maupun non-akademik, ia bahkan lulus dengan nilai yang hampir mencapai batas sempurna. Namun kenapa?

'Setelah kau tau apa itu arti hidup yang sebenarnya, kau boleh kembali dan menimba ilmu di sini.' itu kalimat yang terakhir kali Babanya katakan.

Tao memutuskan untuk berjalan lagi, ia ingin segera menemukan tempat kerja sambilan yang cocok untuknya. Ia berputar-putar kesana kemari namun hasilnya tetap nihil. Karena hari mulai beranjak siang dan perutnya mulai keroncongan, ia akhirnya memilih untuk pulang ke Sunny Hill.

Entah ia beruntung atau apa, ia baru menyadari bahwa di sebelah rumah boarding housenya terdapat minimarket. Tao mencoba melamar pekerjaan di sana dan berhasil. Entah Tao harus menangis atau bersyukur, ternyata usahanya mencari pekerjaan selama 2 jam berturut-turut berakhir sia-sia. Naas.

Ia mulai bekerja besok, pukul delapan tepat ia sudah harus berada di sana. Ia mengucapkan terima kasih berkali-kali pada manager minimarket itu, ia benar-benar senang sekarang. Oh tunggu, ia harus menelpon Babanya tentang pekerjaan barunya yang ia cari dengan susah payah.

"Jangan sampai terlambat, Tao-ssi."

"Baik, Terima kasih.."

Sebagai pegawai baru yang baik, sebelum keluar ia memutuskan untuk membeli beberapa snack dan ramyun. Senyum bahagia tercetak jelas di wajahnya yang manis nan tampan. Bisa dilihat banyak gadis terpesona melihat wajah tampannya, Tao yang cuek hanya berlalu tanpa menghiraukan tatapan gadis-gadis itu.

.

.

.

"Aku pulang."

"Oh, selamat datang Tao-er!"

Namja berdimple manis itu tersenyum lebar sambil menonton televisi, dimple di sekitar pipinya tercetak dengan jelas sehingga membuat penampilannya terlihat semakin manis.

"Ah, selamat siang Lay Hyung.." ucap Tao sambil menundukan kepalanya.

"Ya, kau tak usah formal begitu panda~"

Lihat, ternyata dipangkuan Lay terdapat manusia dengan wajah malaikat –jadi-jadian– yang seenaknya saja memanggil Tao denga panggilan menjijikan itu lagi. Tao hanya bisa mendeathglare Suho, namun sepertinya itu tak berpengaruh karena sekarang ia kembali ke kegiatannya yaitu 'mari–tidur–di–paha–Lay–'

"Baiklah, aku ke atas duluan Hyung."

"Hm~"

"Oh ya panda.."

"Kenapa?"

"Aku lupa mengatakan ini padamu tadi pagi, namun kau harus berbagi kamar dengan Kris."

"Baik–tunggu, siapa?"

"Kris, namja bertubuh tinggi dengan rambut jagungnya, katanya kalian teman dekat? Berhubung kamar Kris sedang di renovasi karena tembok dan atapnya rusak jadi kau tak keberatan jika–"

Satu, Tao masih berusaha memahami apa perkataan Suho barusan.

Dua, dia –sengaja– tak paham

Ti–

"Tidak! Suho Hyung, kami bukan teman baik! Aku tak mau sekamar lagi dengan namja aneh itu!"

"Tapi Tao, coba kau pikir."

"Dia tak mungkin bersama Kyungsoo karena sekali dia menginjak kasur Kyungsoo, maka habislah dia. Kai tak akan melepaskannya dengan mudah."

Tao menelan ludahnya takut-takut, ia bisa membayangkan bagaimana jika namja tan itu mengamuk. Cukup, itu sangat mengerikan.

"Dia juga tak mungkin tinggal di kamar Lay, langkahi dulu mayatku baru dia bisa tidur di kamar Lay."

"Xiumin Hyung? Baekhyun? Chanyeol?"

Tao sengaja tak memakai embel-embel 'hyung' pada Baekhyun dan Chanyeol karena dari sifat mereka dapat dipastikan Tao tiga kali lipat lebih dewasa.

"Xiumin Hyung terkenal dengan julukan kincir angin jika sudah menyangkut tempat tidur, karena jika ia tidur, ia tak segan-segan berputar ke segala arah dan menendang-nendang benda apa saja yang ada di kasurnya."

"Sedangkan alasan Chanyeol, sama seperti alasanku dan Kai."

"Kau paham, tuan panda?"

Tao menghela nafas panjang, hatinya menangis membayangkan jika namja pirang,jelek, mesum itu sekamar lagi dengannya. Ia tak ingin mengingat tentang kejadian ciuman pertamanya yang memilukan, itu hanya akan membuat ia sakit jantung.

"Sekarang dimana pemuda jagung sialan itu?"

"Tidur dikamarmu." Ucap Suho polos

"Sepertinya ia sakit makanya ia bolos kerja hari i–"

Sebelum Suho selesai mengucapkan kalimat, bocah panda itu sudah berlari ke kamarnya. Ia harus memastikan jika ia sudah memindahkan kaset-kaset nista milik Kai, namun seingat otaknya ia belum mengembalikan kaset itu ke pemilik aslinya. Matilah dia.

.

.

.

"Hei panda, selamat datang."

Tao membuka matanya lebar-lebar, Kris–namja sialan itu–tengah sibuk tiduran di kasur sambil membuka-buka ponsel miliknya, bisa dilihat terdapan remah-remah keripik kentang yang diberikan Xiumin kemarin di sekitar kasurnya. Dan entah ia bodoh atau apa, ternyata selama ini ia tak membawa ponsel. Pantas sejak tadi ia merasa ada yang kurang dari dirinya.

"Kau–kembalikan ponselku."

"Lihat, kau sangat manis." jelas Kris sambil menunjukan foto Tao dengan seragam sekolahnya, Tao memang sangat manis di foto itu. Rambut hitamnya disisir rapi, bibir mungilnya yang terangkat membentuk sebuah senyuman anggun dan tangan lentiknya yang membawa buket bunga membuatnya terlihat tampan sekaligus manis.

"Siapa kau seenaknya saja membuka ponselku!" seru Tao, ia tak habis pikir jika namja ini benar-benar ingin mengajaknya bertarung. Tanpa pikir panjang, Tao segera melompat menuju kasur dan merebut ponsel miliknya.

Oh, Huang Zi Tao.

Tak sadarkah kau bahwa itu jebakan?

Itu hanya jebakan agar–

"Kena kau, kekekeke~"

"Kris apa yang–hei apa-apaan ini?!"

Posisi mereka sama persis seperti posisi dimana ciuman pertama Tao direnggut secara paksa. Tao sudah tak tahan lagi, ia mengunci kaki Kris dengan gerakan wushu miliknya. Kris mengaduh kesakitan, ia akhirnya mau tidak mau harus melepas cengkraman tangannya pada pergelangan tangan Tao.

"Kau mau mati, huh?!"

"Tidak, pangeran tampan sepertiku tak boleh mati karena–"

Ia memegang dagu lancip Tao lagi.

"–kekasih pangeran itu akan bersedih, benarkan?"

Cup.

Ia kembali melayangkan kecupan kecil pada bibir peach milik Tuan Huang ini.

"MATI KAU, WU YI FAN!"

.

.

.

"Argh–hei, itu sakit!"

"Salah sendiri siapa suruh kau mencium bibir berhargaku ini!"

"Sudah-sudah, kalian jangan ri–"

"Siapa suruh kau memiliki bibir mungil berwarna menggoda seperti itu." ucap Kris tanpa peduli bahwa ia kembali menyulutkan api dalam diri bocah panda yang sekarang sudah siap menghajar Kris lagi.

"Apa kau bilang?!"

"Daripada marah-marah, apa kalian tidak lapar? Kyungsoo sudah pulang, ia bisa memasakan sesuatu yang enak untuk kalian." Xiumin dengan snack yang selalu ia bawa kemana-mana bergidik ketakutan setelah melihat tatapan membunuh dari kedua pasa–maksudku pemuda itu.

"Xiumin Hyung, bolehkah aku tidur dikamarmu malam ini?"

"Tidak!" Seru Xiumin dan Kris bersamaan.

"Kasurku hanya boleh ditiduri oleh snack-snack berhargaku, tak akan kubiarkan kau mengambil kekasihku!"

"Kenapa kau memilih bersama namja pemakan segalanya ini? Kau masih punya aku panda!"

Tao merasa bahwa kepalanya pusing, ia tak sanggup lagi tinggal di sini. Oh Baba, oh Mama, pulangkan anakmu yang malang ini ke Qingdao.

Kyungsoo yang baru saja pulang melihat Tao tengah menunduk dengan background petir menyambar-nyambar hanya memiringkan kepalanya dan mengatakan,

"Apa aku kelewatan sesuatu yang penting?"

.

.

.

"Kyungsoo Hyung~"

Kai, yang baru pulang dari sekolahnya langsung memeluk Kyungsoo dengan manja, namja doe itu sedang membaca resep-resep masakan khas china–ia ingin membuatkannya untuk Tao– Hm, mungkin dimsum cocok untuk Tao.

"Apa?"

"Hyung, kau jutek sekali sih. Manismu nanti hilang Hyung lo~"

"Berapa kali kutegaskan Jong In, aku tampan bukan manis maupun imut." ucap Kyungsoo sambil menutup buku yang ia baca, ia lelah dipanggil 'manis', 'imut', atau semacamnya. Ia namja dan yang penting ia manly. Oh benarkah? Lalu apa itu piyama pororo yang setiap hari kau kenakan Kyungsoo?

"Tampan? Lihat pipimu yang sama gembulnya seperti pipi Xiumin Hyung, kau sangat imut Hyung~"

"Apa? Jadi kau mengataiku gendut?"

Seketika cengiran yang ada di wajah Kai berubah menjadi tatapan horror, ia segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat, ia tak ingin dijauhi Hyung tercintanya itu. Ia pernah dijauhi Kyungsoo selama dua hari dan itu sukses membuatnya seperti mayat hidup.

"Tidak hyung! Kau yang terma–"

"Tampan, titik."

Sudahlah Kai, lebih baik kau mengalah. Walau pada faktanya namja yang kau sukai itu berwajah imut nan manis.

.

.

.

Hening.

Itulah suasana kamar Tao sekarang, namja pirang pembawa bencana itu sudah tertidur pulas. Ia menghela nafas, ini masih sore namun ia sudah sangat mengantuk. Ia ingin tidur, akan tetapi melihat apa yang Kris lakukan padanya tadi membuat nyalinya menciut untuk tidur di sampingnya, bahkan sekedar mendekatinya saja ia tak berani.

Tak ada sofa.

Tak ada karpet.

Mana mungkin Tao tidur di lantai? Ok, dia adalah pemilik sah kamar ini dan ia tidur di lantai sementara Kris yang notabene orang asing tidur dengan nyaman di kasur empuk miliknya?

Hell no!

"Baby panda..?"

Kris yang tiba-tiba saja terbangun segera bangkit dari tidurnya, ia melihat Tao dengan pandangan sangat mengantuk tengah memandanginya di depan pintu, ia tahu bahwa sebenarnya Tao sangat ingin tidur di sampingnya tapi karena kejadian tadi, mungkin ia takut padanya.

"Kau mengantuk,eum?"

"Iya."

"Tidurlah, aku janji tak akan melakukan hal-hal aneh."

"...janji?"

Kris yang gemas dengan sikap panda kecilnya itu akhirnya mengacak-acak surai hitam milik Tao, Tao yang melihatnya hanya terdiam. Ia tak bisa berkata apa-apa.

"Maaf, sepertinya aku terlalu cepat mengambil tindakan." Kris mulai mengelus pipi chubby Tao.

"Tadi malam, atasanku menuduhku menjiplak karya perusahaan milik saingannya, ia merasa kecewa dan malu, bahkan ia mengancam bahwa akan segera memecatku dari perusahaan. Namun pada kenyataannya, teman dekatku yang bekerja di perusahaan itulah yang mengambil dan menyebarluaskan karyaku atas nama dirinya."

"Maka dari itu aku hampir gila dibuatnya."

"Setelah melihat wajahmu yang tertidur manis dalam dekapanku, entah kenapa rasa kesal dan marah yang ada dalam kepalaku seketika hilang."

"Dan dari situlah–"

Kecup.

"Aku menyadari bahwa aku jatuh cinta padamu, Huang Zi Tao."

Tao merasa dirinya membeku, ia tak bisa menggerakan tubuhnya sedikit pun. Kris mengacak rambutnya lagi dan beranjak pergi.

Namun–

"Tunggu.."

"Hm?"

"Aku tau bagaimana perasaanmu saat kau dituduh bahwa menjiplak karya orang lain.."

"Lalu?" Kris mulai mengembangkan senyum kecil.

"Kau mungkin melakukan hal yang terjadi tadi pagi karena masih di bawah pengaruh alkohol, jadi kau boleh tidur di sini.."

"Apa?"

"Aku tak ingin mengulangi hal yang baru saja kukatakan." ucap Tao dengan berberapa garis merah disekitar pipi dan telinganya, oh tuhan, kenapa ia merasa begitu bodoh? Dan untuk apa wajahnya bersemu merah seperti ini? Oh, sepertinya ia mulai gila.

"Terima kasih baby,"

Kris memeluk Tao dari belakang, lalu berbisik tepat di telinga merah Tao,

"Wǒ ài nǐ (aku mencintaimu)."

"Ya! Lepaskan atau aku akan menarik kata-kataku!"

Tao berusaha menyembunyikan wajahnya yang semakin lama semakin memerah, ia bersumpah bahwa ini kali pertamanya wajahnya memerah seperti ini. Dia merasa sangat malu, pertama kali, pertama kalinya seorang namja tampan seperti Kris menyatakan perasaannya pada namja jelek macam dia. Mungkin itu sebabnya ia malu dan dadanya terasa meletup-letup, mungkin karena hal ini adalah hal yang pertama kali baginya.

Ya mungkin itulah sebabnya!

Tak mungkin ia jatuh dalam pesona namja ini!

Baiklah Tuan Huang, mari kita lihat apakah kau bisa menolak pesona seorang Wu Yi Fan.


To Be Continued~


a/n:

Author akan jawab beberapa pertanyaan dari readers:

Amorfati48 & Arvita kim:

Boarding house itu kayak semacam kost gitu ('-')v, jadi intinya member EXO ada yang masih sekolah–contoh Kai–ada yang kerja, nganggur/? dan semacamnya/?.

LVenge:

Tidakk, author ga bisa buat panpic rated lebih dari T(x.x) /abaikan.

Author kayanya ngebet banget buat ini panpic, entah kenapa kalau buat ini gak ngadat kayak yang satunya ('-')-o *tunjuk panpic nonsense* biasanya rasa males dan tugas buat gak mood nglanjutin/? dan makasih buat readers yang udah nge-review maupun fav/follow. Maaf kalau ancur (x.x) tapi boleh minta RnR? :)