My Mine
Author : Jinnie
Cast : Lee Jae Hwan dan Lee Hong Bin VIXX (KenBin)
Rate : T
Genre : Romance
Disclaimer : Cast milik Tuhan dan dirinya sendiri dan cerita milik author sendiri
Warning : Author baru, boys x boys, typo bertebaran, tidak sesuai EYD, alur maksa dll
Don't Like Don't Read.
Chapter 2
Happy reading ~~~
Swiss
Seorang pemuda berparas manis berjalan diantara gerombolan orang-orang yang berlalu lalang di bandara Internasional Cointrin Jenewa, jalannya tampak tergesah-gesah hingga beberapa kali dirinya harus menabrak orang dan mengucapkan kata maaf. Wajahnya menyiratkan kekhwatiran akan sesuatu hal yang belum bisa ia yakini.
Lelah
Hal itu yang ia rasakan tapi untuk sekarang rasa itu harus segera ia tepis karena di dalam pikiranya terus terbayang-bayang akan kata-kata adiknya di Seoul tadi yang memberitahukan kondiri ibu mereka. Sebagai anak tertua dia harus bisa mengangkat beban adik dan ibunya, tapi apa yang ia lakukan di Seoul sementara ibunya dengan sakit parah disini, seharusnya dia pulang dari dulu sebelum hal ini terjadi. Dia takut kehilangan orang yang sangat ia cintai dan hormati didunia ini, dia juga tidak bisa menjadi kakak yang baik untuk Yura karena selama ini, ia selalu diperlakukan dengan manja oleh ayahnya sebelum ayahnya meninggal. Dan sekarang dia harus menghadapi kenyataan bahwa ibunya memiliki anak lain dari suaminya.
"Excuse me, tolong antar saya ke Jenewa International Hospital" kata pemuda itu kepada seorang supir taksi
"Yes sir" jawabnya dan segera melajukan taksinya setelah selesai memasukkan semua barang-barang pemuda itu
Tidak perlu memakan waktu banyak cukup 40 menit perjalanan yang pemuda itu tempuh hingga sampai ketempat yang ia tuju. Segera ia langkahkan kakinya menuju ruangan dimana eommanya dirawat
"Eomma" pekiknya saat dirinya memasuki ruang rawat ibunya
"Oppa" kaget gadis muda bersurai pirang berdiri dari tempat ia duduk tadi
Pemuda itu terus berjalanan menuju ibunya yang terbaring tak berdaya dengan air mata yang jatuh dengan sendirinya tanpa bisa ia cegah, padahal dari tadi dia sudah berusaha untuk menangis tapi apalah daya, jika dia berada diposisi seperti ini siapa saja pasti akan menagis biar dia setegar apapun.
"Eomma" lirihnya sambil memengang tangan kanan ibunya dan menciumnya lembut menghantarkan rasa senang, sedih, rindu bercampur jadi satu. Bahkan ini pertemuan pertamanya setelah sekian lama dia berpisah dengan ibunya "Eomma" lirihnya lagi
Yura mendekati oppanya dan menepuk pundaknya serta berucap "Oppa eomma sedang istirahat, lebih baik oppa pulang dulu dan istirahat baru besok oppa kesini lagi"
"Ne, oppa pulang dulu ne. Jaga eomma, kalau ada apa-apa segera hubungi oppa" tutur pemuda itu yang kita ketahui bernama Hongbin, lalu pergi meninggalkan ruang rawat itu menuju rumah eommanya
.
.
"KONGIE EODIGA" teriak Jae Hwan entah pada siapa dan meobrak-abrik seluruh isi aprtementnya hingga beruba menjadi kapal pecah, dicarinya Hongbin disegala tempat dan sudut apartementnya tapi tidak juga dia menemukan keberadaan Hongbin. Hingga dia lelah untuk memporak-porandakan isi apartementnya, dia putuskan untuk menghubungi Hongbin dengan ponselnya.
"Tutututututt" panggilan pertama tidak tersambung, panggilan kedua juga tidak diangkat dan panggilan yang untuk keseribu kalinya maybe juga tidak tersambung, padahal jam sudah menunjukan pukul 10.00 pagi waktu Seoul dan sudah seharusnya dia berangkat kerja. Lelah menekan tombol panggilan itu berkali-kali dia letakkan sana ponselnya sembarangan tapi tiba-tiba ponselnya berdering, segera saja dia angkat panggilan itu tanpa melihat nama si pemangil
"YA! LEE JAE HWAN, KAU INGIN MATI YA" teriak line diseberang dengan bruntalnya
"YA! LEE HYERI" bentaknya kesal pada line diseberang sana yang tak tau sopan santun itu
"CEPAT KEKANTOR" bentak line diseberang tak kalah kesalnya dan memutuskan panggilannya sepihak
"Haish" gumamnya dan segera bersiap-siap untuk kekantor kalau tidak nyawanya tidak akan selamat dari amukan ayah dan sepupu cerewetnya itu
Swiss
"Hongbin, bagaimana kabarmu nak" tanya eommanya seraya membelai surai anaknya lembut
"Baik eomma, apa keadaan eomma sudah baikkan" tanya Hongbin khawatir
"Ne chagi, dimana adikmu" ujar eomma
"Pulang eomma, eomma Hongbin permisi dulu" pamit Hongbin dan keluar ruangan untuk menghubungi seseorang yang dari semalam mengusik pikirannya
"Yoboseyo" sapanya saat nada sambung tersambung di line seberang sana nang jauh
"Yoboseyo, nugu" tanya line diseberang yang sepertinya kesadaraannya sudah mulai menipis karena semalam dia tidak tidur dan harus bekerja lembur sampai pukul 24.00 waktu Seoul
"Hyung maaf menganggu tidur hyung, Kongie Cuma ingin tau keadaan hyung. Jaljayo hyung saranghae" ucap Hongbin yang tidak enak telah menganggu tidur namjachigunya
"Jaljayo Kong-KONGIE" kaget Jae Hwan setelah sadar sepenuhnya dan bangun dari posisi tidurnya
"Ne, hyung waeyo?" heran Hongbin yang mendengar jerit tertahan Jae Hwan
"Aigoo.. Kongie bogoshipo, kenapa Kongie berangkat tidak bilang sama hyung. Apa Kongie tidak tau hyung tidak tidur semalaman untuk menghubungi Kongie tapi tidak diangkat? Hyung sangat mengkhawatirkan Kongie, Kongie kau baik-baik sajakan, tidak ada yang luka atau lecet sedikitpun. Bagaimana keadaan eomma Kongie? Kapan Kongie pulang, Kong..."
"HYUNG" bentak Hongbin yang tidak kuat lagi mendengar ocehan panjang yang dikeluarkan oleh Jae Hwan
"Ne baby" kata Jae Hwan dengan polosnya
"Dengar ne hyung. Nado bogoshipo hyung, Kongie baik-baik saja tapi untuk sekarang Kongie tidak bisa pulang dulu ne. Kongie masih ingin bersama dengan eomma, eomma keadaannya sudah membaik tidak krisis seperti semalam" jawab Hongbin menjawab semua pertanyaan Jae Hwan yang menurutnya penting di jawab selebihnya I don't know
"Tapi Kongie harus selalu menghubungi hyung ne" kata Jae Hwan
"Ne, jja tidurlah, hyung pasti cape jaljayo ne. Saranghae hyung" ucap Hongbin mengakhiri pangilannya
"Nado saranghae baby" balas Jae Hwan dan memutuskan sambungannya setelah itu dia jatuh kedalam alam mimpinya
.
.
"Eomma pelan-pelan" kata Hongbin menuntun ibunya menuruni anak tangga rumah peninggalan mendiang ayah Kim, suami ibunya dan ayah Yura, Mrs. Kim (eomma Hongbin) hanya tersenyum melihat perhatian anak sulungnya. Setelah hampir satu bulan Mrs. Kim dirawat inap di Rs Jenewa akhirnya hari ini dia bisa pulang dan berakvitas seperti biasanya.
"Eomma selamat datang" kata Yura memeluk tubuh ibunya dan melepaskan pelukannya lalu berucap "Eomma Yura sudah memasakkan makanan kesukaan eomma, kajja" serta menarik tangan eommanya menuju meja makan yang diatasnya sudah tersedia berbagai macam masakan khas korea mulai dari kimchiguk, bibimbap, japchae, jjajangmyeon, dan masih banyak lagi yang menggugah selera
"Jja eomma oppa duduklah" kata Yura mempersilakan ibu dan kakaknya duduk
"Ehm mashita" kata Mrs. Kim setelah mencoba kimchiguk buatan Yura
"Jinjja, gomawoyo eomma. Jja oppa coba cicipi ini" Yura menyodorkan sumpit yang berisi japchae ke arah mulut Hongbin tapi "Huek" Hongbin merasa mual dan segera berlari ke arah toilet yang terletak di samping dapur "Eh oppa kenapa?" heran Yura memiringkan kepalanya kesamping
"Mungkin oppamu sedang tidak enak badan, bukankah belakangan ini dia sering kecapean karena mengurus eomma" kata Mrs. Kim santai dan melanjutkan acara makannya yang di ikuti oleh Yura
Setelah selang beberapa menit akhirnya Hongbin keluar dari toilet lalu duduk di tempatnya tadi tapi tiba-tiba perutnya merasa mual lagi dan segera saja dia kembali ke toilet
"Oppa kau kenapa, wajahmu sangat pucat lebih baik kau istirahat" Yura cemas melihat keadaan kakaknya yang dari tadi bolak-balik meja makan toilet
"Aniyo gwaechanha" tolaknya halus
"Chagi benar apa kata Yura, sebaiknya kamu istirahat atau apa perlu eomma panggilkan dokter" saran Mrs. Kim tak kalah cemas dari Yura saat melihat keadaan anaknya
"Ani eomma, aku istirahat saja tidak usah memangil dokter kemari. Nan gwaechanha eomma" ucap Hongbin menyakinkan eommanya dan berlalu pergi menuju kamarnya
.
.
"Baby kau tidak apa-apa?" tanya line di seberang dengan nada khawatir yang sangat kentara
"Ne hyung" jawab orang yang ditanya lesu
"Benar tidak apa-apa?" tanyanya lagi
"Gwaechanha hyung" jawab orang itu berusaha menyakinkan line diseberang sana
"Arra, tapi Kongie harus istirahat, makan yang bergizi, minum vitamin dan jangan terlalu banyak beraktivitas arrachi" ucap orang line di seberang
"Arrasseo Lee Jae Hwan" jawab Hongbin
"Jaljayo baby saranghae" kata Jae Hwan
"Nado" jawab Hongbin segera memutuskan sambungannya dan mengistirahatkan tubuhnya
Sore berganti malam, malam berganti pagi, pagi berganti siang, dan siang berganti sore hingga seterusnya selama 3 hari ini, keadaan Hongbin tetap sama seperti 3 hari belakangan suka mual-mual dan jarang makan. Hal ini sangat membuat khawatir Mrs. Kim dan Yura bahkan hari ini tepatnya siang tadi Yura menemukan Hongbin pingsan di dekat toilet, segera saja dia menghubungi dokter keluarga Kim untuk memeriksakan oppanya itu, Mrs. Kim jangan ditanya jelas dia sangat khawatir dengan keadaan putranya itu. Ibu mana yang tidak khawatir putranya pingsan bahkan diperparah dengan kondisi tubuhnya yang 3 hari belakangan ini tidak terlalu fit menurut pandangannya.
"Bagaimana dok, keadaan anak saya?" tanya Mrs. Kim cemas saat dokter itu selesai memeriksa keadaan Hongbin
"Saya tidak yakin, tapi saya sarankan anak Anda di bawa kedokter kandungan. Saya permisi dulu Mrs. Kim" tutur dokter itu dan langsung pamit dari kediaman keluarga Kim, Mrs. Kim dia heran dan shock tapi dia tetap harus mengikuti saran dokter itu untuk mengetahui apa yang terjadi pada anaknya
"Yura, kalau oppa mu sudah sadar, segera temui eomma dibawa" kata Mrs. Kim yang dijawab Yura dengan anggukan kepala
Selang beberapa menit Hongbin sadar dari pingsannya, Yura yang melihat itu segera mengambilkan minum untuk diminum Hongbin "Oppa bisa berjalankan, eomma menunggu oppa dibawah" tanya Yura cemas
"Ugh.. bisa" kata Hongbin berusaha turun dari ranjangnya yang dibantu oleh Yura
"Chagi kau sudah sadar, cepat ikut eomma ke RS" kata Mrs. Kim saat dirinya melihat kehadiran Hongbin bersama Yura, lalu berdiri menuju halaman depan yang diikuti oleh keduanya dibelakang.
Mereka bertiga segera memasuk ke dalam mobil dan Mrs. Kim segera melajukan mobilnya menuju Jenewa Hospital. Tidak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai, Mrs. Kim segera menyeret Hongbin menuju bagian kandungan. Dia takut apa yang dia pikirkan akan terjadi kepada putranya, bagaimana kalau putranya termasuk lelaki istimewa yang memiliki rahim, saran dari dokter tadi yang membuatnya berpikiran begitu. Setelah menungu beberapa menit tiba juga giliran Hongbin untuk masuk ke dalam yang didampingi oleh Mrs. Kim.
"Apa keluhan Anda tuan?" tanya dokter Ina kepada pasiennya
"Ehm, begini dok anak saya sering mual-mual saat makan-makanan tertentu dan tadi saya di sarankan oleh dokter Daniel untuk memeriksakannya kedokter kandungan" jelas Mrs. Kim menjawab pertanyaan Dr. Ina
"Baiklah, mari ikut saya tuan" kata Dr. Ina menuntun Hongbin menuju tempat USG yang ditutupi oleh tirai. Dr. Ina mengoleskan cairan khusus ke atas perut Hongbin dan meletakkan alat untuk melihat didalam perutnya ada kehidupannya lain atau tidak.
"Bagaimana dok?" tanya Mrs. Kim
"Selamat anak Anda positif hamil, dia termasuk lelaki istimewa yang memiliki rahim diperutnya, usia kandungannya 3 minggu dan saya sarankan untuk tidak membebani pikirannya dan jangan biarkan melakukan aktivitas berat selama kemahilan karna untuk kehamilan pada pria lebih beresiko daripada wanita pada umunnya" tutur Dr. Ina
JDERRRR
Seperti disambar petir disiang bolong yang dirasakan oleh Mrs. Kim saat ini, bagaimana dia tidak shock, yang hamil anak laki-lakinya dan lebih parahnya hamil diluar nikah. Oke untuk zaman sekarang ini bukanlah kiamat tapi tidak mudah menerima kenyataan ini begitu saja bukan.
"Terima kasih dok, saya permisi dulu" pamit Mrs. Kim dan menyeret Hongbin keluar dari situ
.
.
"Siapa ayah anak itu?" bentak Mrs. Kim
"Eomma" lirik Hongbin
"Jawab eomma Hongbin, eomma tidak habis pikir denganmu bagaimana kamu bisa hamil diluar nikah. Cepat kau bawa ayah anak itu dan nikahi kamu kalau tidak kau harus mengugurkan kandunganmu" putus Mrs. Kim berlalu meninggalkan Hongbin yang menangis menyesali perbuatannya yang membuat eommanya marah
"Hyung" lirihnya mengambil ponselnya disaku celananya dan mendial nomor seseorang yang harus mempertanggungkan semua ini
Terdengar nada sambungan, tak berapa lama menunggu penggilan itu diangkat "Yoboseyo" sapa seorang diseberang sana yang kita ketahui suara perempuan
"Apakah ini nomor ponsel Lee Jae Hwan" tanya Hongbin yang berusaha menahan isak tangisnya
"Ne, ada apa yah?" jawab dan tanya perempuan itu
"Kau siapanya Jae Hwan" bukannya mejawab Hongbin malah bertanya
"Aku calon istrinya, Bang Minah, kau siapanya kenapa diponselnya namamu 'Baby Kongie' " ujar Minah
"Bukankah kau mantan pacarnya yang meninggalkan dia demi lelaki lain" kata Hongbin sinis
"Kau benar tapi sebentar lagi aku akan menikah dengan Jae hwan" jawabnya dengan nada sombong
"Cih, jangan bermimpi nona Bang, aku adalah kekasihnya sekarang, jadi cepat berikan ponselnya kepada Jae Hwan" ucap Hongbin kesal
"Tidak akan pip" ucap Minah dan mengakhiri panggilannya sepihak
"Arghhhhhh.. dasar wanita tak tau malu" marah Hongbin yang melampiaskannya dengan melempar bantal sofa "Tolong tiket penerbangan ke Seoul sekarang juga" katanya pada line di seberang sana
Incheon Airport
Akhirnya sampai juga perjalanan panjang Hongbin Jenewa-Seoul selama 24 jam berada didalam pesawat, tidak juga menyurutkan semangatnya untuk segera menghampiri kekasihnya di apartemennya, padahal waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Bahkan dia ke Seoul tanpa sepengetahuan eomma dan Yura tentunya, bisa kita bayangkan Mrs. Kim dan Yura sedang mencemaskannya sekarang tapi yang ada dipikirannya sekarang menemui kekasihnya dan minta penjelasan kenapa ponselnya bisa ada pada Minah. Setaunya Jae Hwan dan Minah tidak pernah berhubungan lagi setelah insiden ketangkap basah itu.
Langkah kaki Hongbin terasa ringan karna sebentar lagi dia akan bertemu dengan kekasih hatinya Jae Hwan, semakin dekat menuju pintu apartemen Jae Hwan langkahnya semakin saja ringan dan dirinya tidak sabar lagi melepas rindu kepada Jae Hwan tapi langkahnya terhenti saat maniknya menangkap sesosok yang tidak asing lagi dimatanya bahkan sudah sangat dihapalnya, sesosok itu Jae Hwan yang sedang bersama dengan seorang wanita yang dapat kita pastikan Minah. Hongbin terpaku melihat itu semua, posisi itu adalah posisi orang berciuman, di mana Jae Hwan yang terpojong di depan pintu apartemennya yang dihimpit oleh badan Minah dengan bibir Minah yang melumat paksa bibir Jae Hwan, padahal Jae Hwan sudah berusaha melepaskan tautannya tapi tidak bisa.
Tes tes tes
Air mata Hongbin jatuh dengan sendirinya tanpa bisa ia cegah, hatinya sakit dan perih seperti ditusuk oleh belati tak kasat mata melihat adegan live kiss antara Minah dan Jae Hwan, dia langkahkan kakinya pelah-pelan mendekati dua orang itu yang sepertinya belum menyadari keberadaannya
"Hyung" lirih Hongbin yang lebih mirip bisikan tapi masih bisa didengar oleh Jae Hwan, sontak kedua matanya melebar dan mendorong paksa Minah hingga dia terjatuh kebawah. Tidak menghiraukan Minha yang meringkis kesakitan, di dekatinya Hongbin yang sudah berurai air mata lalu didekapnya tubuh ringkih itu yang mulai bergetar
"Hyung" lirihnya lagi
"Ne baby" ucap Jae Hwan sambil mengusap-usap punggung Hongbin yang begetar guna menenangkannya, Jae Hwan tau apa yang dirasakan oleh Hongbin sekarang pasti dia merasa sangat kecewa akan sambutan yang diberikan Jae Hwan kepadanya ini
"Hyung.. hiks...hiks..hyung..nappeun..nappeun..hiks..hiks.." ucap Hongbin sambil memukul dada bidang Jae Hwan untuk melapiaskan kekesalannya kepada kekasihnya ini
"Ne, baby hyung nappeun, mianhaeyo baby" sesal Jae Hwan, Hongbin semakin gencar memukul dada bidang Jae Hwan dan tangisnya semakin terdengar menyayat hati siapa saja yang mendengarnya "Hiks...hisk...hiks..."
Tubuh Hongbin terkulai lemah, tangannya tidak lagi memukul Jae Hwan, tangispun tidak terdengar lagi, Jae Hwan yang panik segera membopong tubuh Hongbin ala bride sytle masuk ke apartemennya. Ya benar, Hongbin jatuh pingsan hingga membuat Jae Hwan khawatir akan keadaan namjachigunya dan segera saja dia menghubungi dokter pribadinya. Setelah melakukan pemeriksaan dokter Cuma mengatakan untuk tidak membebani pikirannya karena tidak baik untuk janin, yang dapat Jae Hwan tangkap dari kata-kata dokter tadi, kalau sekarang Hongbin sedang mengandung dan dia berharap jika janin yang berada di dalam perut Hongbin adalah anaknya. Semoga saja harapannya terkabul
"Ugh" leguh Hongbin yang sadar dari pingsannya, segera saja Jae Hwan membantu Hongbin duduk dan menyandarkannya ke kepala ranjang
"Baby gwaechanha" tanya Jae Hwan
"Gwaechanha" jawab Hongbin "Hyung" lanjutnya
"Ne baby ada apa?" ucap Jae Hwan dan membelai surai pink Hongbin lembut padahal sebelumnya surai Hongbin bewarna madu, mungkin di warnainya lagi saat berada di Swiss
"Hyung Kongie boleh memanggil nama hyung saja, boleh tidak" tanya Hongbin
"Seterah Kongie sukanya memanggil hyung atau Jae Hwan" balas Jae Hwan
"Jae Hwan, ani hyung saja. Hyung masih mencintai Minah noona"
"Ani baby, yang hyung cintai cuma Kongie sekarang dan selamanya akan tetap sama bahkan semakin harinya cinta hyung kepada Kongie berkembang terus" gombal Jae Hwan lalu mengecup pipi Hongbin gemas yang membuat rona merah di wajah putihnya
"Tapi kenapa hyung tadi berciuman dnegan Minah noona dan juga kemarin ponsel hyung dia yang angkat panggilan Kongie" tanya Hongbin yang masih belum percaya sepenuhnya
"Kemarin dia mendatangi hyung untuk minta kembali tapi hyung tidak bisa karena hyung sudah mempunyai tambatan hati dan masalah ciuman tadi itu terjadi tanpa bisa hyung hindari, sepertinya Minah mabuk, dari aroma tubuhnya tercium bau alkohol" jelas Jae Hwan jujur tanpa ada sesuatu yang dia tutup-tutupi
"Jinjjayo"
"Nde nae sarang. Hmm Baby apa tidak ada yang ingin Kongie sampaikan kepada hyung" kata Jae Hwan mengecup puncak kepala Hongbin penuh cinta
"Hm.. apa ya?" pikir Hongbin "Ah iya, eomma menyuruh hyung untuk menemui eomma secepatnya" lanjutnya yang baru mengingat tinta eommanya saat di Swiss
"Itu saja, tidak ada yang lain, misalnya aegya!" kata Jae Hwan lesu
"Aegya" heran Hongbin
"Ne, aegya didalam sini" antusias Jae Hwan dan mengelus perut rata Hongbin
"Mwo"
Tebece
Mian jika ceritanya mulai gaje, entah kenapa dari kemarin min ngak dapat ide buat lanjut nih ff
Jadi harap maklum jika ceritanya tidak memuaskan
Gomawo buat DaeMinJae yang udah baca ff ini dan mereview
Please review
