Chapter 1
(BTS iKON)
"Hyung.."
"Wae?"
"Kookie pindah kesini sekarang saja ya."
Yoongi menghembuskan napas beratnya. Hari masih pagi dan Yoongi sudah harus berhadapan dengan si bungsu bergigi kelinci yang sudah merengek untuk ikut pindah tinggal di apartemennya dan Jinhwan. Bukannya tak mengizinkan, tapi Yoongi memiliki alasan khusus kenapa belum bisa mengajak Jungkook untuk tinggal dengan mereka.
Tahun ini adalah tahun terakhir Jungkook duduk di sekolah menengah atas. Sudah dipastikan jadwal belajarnya akan meningkat karena akan menempuh ujian akhir. Yoongi dan Jinhwan sudah pernah membahas ini dengan Jungkook. Karena jarak sekolah dan apartemen Yoongi lumayan jauh, Yoongi baru akan mengizinkan Jungkook untuk tinggal dengan mereka jika Jungkook sudah masuk dunia perkuliahan. Saat itu, si bungsu menyetujuinya walau dengan berat hati. Apalagi ia hanya diizinkan menginap maksimal tiga kali dalam seminggu. Hal itu dilakukan Yoongi demi kebaikan Jungkook juga. Setidaknya anak itu harus lebih mendekatkan diri dengan keluarganya disaat remaja.
"Hyuuuung.."
"Berhenti merengek, Kookie. Keputusanku tidak akan berubah," tegas Yoongi.
"Kookie sudah tidak betah di rumah, hyung. Eomma dan Appa semakin jarang pulang."
"Hyung tau, tapi jarak sekolah dan apartemen ini lumayan jauh, Kookie. Sedangkan kau akan sangat sibuk nantinya untuk persiapan ujian akhir."
"Tapi hyung.."
"Tidak ada tapi-tapi!"
Jungkook semakin merengut. Yoongi memang manusia batu. Bahkan aegyo terbaiknya pun tak berlaku bagi manusia keras kepala seperti Yoongi. Saat ini hanya ada satu manusia yang mungkin bisa menolong Jungkook. Sosok mungil yang sedari tadi belum menampakkan batang hidungnya. Entah apa yang dilakukannya di dalam kamar hingga terlambat bergabung dalam perdebatan kakak dan adiknya.
Jungkook baru akan melangkah ketika Yoongi memergokinya.
"Mau kemana kau?"
"Aku akan bujuk Jinanie saja."
"Kau tidak akan berhasil, Kookie! Dan panggil Jinanie dengan sebutan hyung."
"Jinanie terlalu imut untuk dipanggil 'hyung'. Tidak seperti Yoongi hyung, menyeramkan."
Yoongi melayangkan pukulan kasih sayang pada kepala belakang Jungkook setelah si bungsu itu mengucapkan kalimat yang membuatnya mendidih. Ia tak habis pikir kenapa si bungsu itu suka sekali membuat emosinya meluap-luap.
Tepat ketika ia akan mengomel, Jinhwan keluar dari kamarnya dengan pakaian lengkap dan ransel yang menggantung di punggungnya.
"Apa yang kalian ributkan pagi ini?" tanyanya sambil jalan mendekat pada dua orang yang masih bersitegang itu.
"Jinanieee..aku mau pindah sekarang dan Yoongi hyung menolaknya," Jungkook mulai merengek pada Jinhwan yang sudah duduk di tengah-tengah mereka.
"Yoongi hyung pasti punya alasan menolaknya. Sabar saja ya, Kookie."
"Tapi aku ingin segera pindah, Jinanie. Aku tak bisa jauh-jauh darimu," ujar Jungkook lengkap dengan aegyonya ke arah Jinhwan.
"Benarkah?" Jinhwan mulai mengerjap-ngerjap dan tersenyum senang.
"Cih! Jangan percaya padanya, Jinanie. Dia hanya ingin memanfaatkanmu saja," ketus Yoongi.
"Aku tidak bicara dengan Yoongi hyung. Jadi, hyung diam saja," ujar Jungkook kesal dan kembali menatap penuh harap pada Jinhwan.
"Bagaimana ini hyung? Aku tidak tega melihat mata kelincinya berkaca-kaca."
Jungkook menyeringai di balik punggung Jinhwan. Benar kan prediksinya. Jinhwan pasti luluh dengan aegyo nya. Si mungil itu takkan pernah bisa tega jika Jungkook sudah mulai memohon padanya.
Tapi seringaian itu hanya bertahan sepersekian detik. Harapan Jungkook musnah sudah. Benar kata Yoongi, percuma saja minta bantuan Jinhwan. Toh keputusan ada di tangan Yoongi. Yoongi hanya menggeleng pada Jinhwan dan Jinhwan mengerti apa artinya dari gelengan itu. Dengan berat hati, Jinhwan hanya bisa mengelus pipi tembam Jungkook dan meminta maaf karena gagal membujuk Yoongi.
"Baiklah. Kookie akan pindah tahun depan. Tapi, jatah menginap Kookie harus ditambah. Kookie mau menginap sebanyak 6 kali dalam seminggu," ucap Jungkook masih dengan bibir mengerucut kesal.
"Kau boleh menginap sebanyak 6 kal-..."
"Sekalian saja kau pindah kalau ingin menginap selama 6 kali," ujar Yoongi memotong perkataan Jinhwan dengan wajah datarnya.
"Boleh hyung?" tanya Jungkook dengan wajah berbinar.
"Tentu saja tidak boleh. Kau bisa saja membodohi Jinanie tapi tidak denganku. Jatah menginapmu hanya kutambah sehari. Jadi, kau boleh menginap sebanyak 4 kali dalam seminggu."
Jungkook semakin mengerucut kesal karena perkataan Yoongi yang sama sekali tak sesuai dengan harapannya.
"Hyung, kenapa kau bilang Kookie membodohiku?" tanya Jinhwan bingung.
"Karena kau mengizinkannya menginap sebanyak 6 kali dalam seminggu, Jinanie."
"Itu kan cuma 6 kali hyung. Apa salahnya," ujar Jinhwan lagi masih dengan ekspresi bingungnya.
Yoongi mengusap wajahnya kasar. Ia tak habis pikir Jinhwan ini sebenarnya lugu atau bodoh. Tapi, melihat wajah polos tak berdosa itu, Yoongi mana tega memarahinya.
"Jinanie, sekarang hyung tanya. Dalam seminggu ada berapa hari?"
"7 hari, hyung."
"Lalu Kookie minta berapa hari?"
"6 hari."
"Lalu apa bedanya Kookie menginap disini atau pindah sekalian. Ya Tuhan! Aku ingin sekali memarahimu, Jinanie."
Jinhwan hanya mengerjap-ngerjap sambil mencerna perkataan Yoongi. Ia masih merasa tak bersalah dengan pendapatnya. Apa yang salah dengan perkataannya. Kookie kan minta 6 kali, sedangkan seminggu ada 7 hari. Lalu, apa yang salah?
"Kau masih bingung?"
"Ne.."
"Yasudah, nanti kita bahas lagi. Sekarang kita berangkat ke kampus," ujar Yoongi sambil berdiri dan menarik lengan Jinhwan.
"Lalu bagaimana denganku, hyung?" tanya Kookie masih dengan raut wajah kesalnya.
"Keputusanku sudah final. Kau boleh menginap sebanyak 4 kali dalam seminggu. Sekarang, berangkatlah ke sekolahmu. Jangan lupa nanti jemput Jinanie di kampus. Aku tak bisa pulang bersamanya karena ada rapat BEM," ujar Yoongi.
"Ne.." ujar Jungkook menghembuskan napas kecewanya.
"Aku bisa pulang sendiri, hyung. Kenapa dijemput segala sih."
"Tidak! Kemarin kau juga bilang begitu. Tapi, bukannya pulang, kau malah ikut dengan Yunhyeong ke butik dan berakhir di jalan buntu saat pulang kesini," ujar Yoongi tegas.
"Tapi hyung.."
"Tidak ada tapi-tapi. Kenapa kalian suka sekali membantahku sih?"
"Ish iya-iya, aku tidak akan membantah."
"Bagus. Begitu baru adikku yang manis. Dan satu hal lagi Jinanie, kalau kau ingin pergi dengan temanmu, kau harus minta diantarkan pulang atau kau minta diantarkan untuk naik taksi. Jangan pulang sendirian dan berjalan kaki. Paham?" ujar Yoongi tegas.
"Kalau jaraknya dekat masa harus naik taksi, hyung?"
"Kalau jaraknya dekat, kau minta antarkan dengan jalan kaki. Ingat! Jangan pulang sendiri!"
"Huu..iya-iya."
Setelah mencapai masing-masing kesepakatan, maka berakhirlah percakapan tiga orang kakak beradik yang berbeda nama keluarga itu.
Kampus hari ini terlihat sangat sibuk dan ramai. Hal itu tidak mengherankan karena hari ini adalah hari pertama perkuliahan bagi mahasiswa baru maupun mahasiswa senior.
Yoongi dan Jinhwan tak luput ikut larut dalam kesibukan itu. Mereka dan unit kegiatan mahasiswa seni musik harus mempersiapkan persentasi bagi mahasiswa-mahasiwa baru yang akan mengikuti kuliah umum di aula hari ini. Tugas mereka adalah memperkenalkan unit kegiatan seni musik pada mahasiswa tersebut agar mereka yang memiliki bakat bermusik bergabung dengan unit kegiatan mahasiswa mereka.
Unit kegiatan mahasiswa seni musik itu terbagi menjadi tiga fokus. Fokus vokal, fokus rap, dan fokus alat musik. Masing-masing fokus memiliki mentor yang ahli dibidangnya masing-masing. Dalam hal ini, Yoongi dan Jinhwan harus berpisah karena Yoongi fokus pada rap sedangkan Jinhwan tergabung pada vokal. Mereka juga memiliki hari dan ruang yang berbeda untuk latihan.
Namun, pada persentasi kali ini semua fokus digabungkan menjadi satu.
Yoongi, Jinhwan, dan kawan-kawan seni musik sedang bersiap-siap di bawah panggung menunggu giliran. Ada 9 mahasiswa yang akan mempresentasikan unit kegiatan mahasiswa seni musik saat itu. Masing-masing 3 orang mewakili setiap fokus.
Yoongi, Namjoon, dan Bobby mewakili fokus rap. Jinhwan, Eungkwang, dan Seungyoon mewakili fokus vokal. Sedangkan fokus alat musik diwakili oleh Minhyuk, Jungshin, dan Jonghyun.
Kesembilan mahasiswa itu menaiki panggung ketika unit kegiatan mahasiswa bagian dance menyelesaikan presentasi mereka.
Namjoon sebagai ketua mewakili teman-temannya untuk membuka presentasi itu. Namjoon dengan teliti menjelaskan mengenai kegiatan yang akan mereka lakukan di dalam kegiatan seni musik. Mulai dari pembagian tiga fokus hingga jadwal latihan tak luput dari penjelasan Namjoon. Hingga tibalah saat perkenalan bagi anggota lain yang ada di belakang Namjoon. Dapat dilihat dengan jelas, terdapat perbedaan postur tubuh diantara para anggota itu. Diantara anggota-anggota yang memiliki tinggi menjulang, terseliplah dua anggota imut-imut diantara mereka.
Perkenalan pertama dimulai dari fokus rap. Namjoon yang merupakan mahasiswa tahun ketiga seperti Yoongi, sudah memperkenalkan dirinya saat membuka presentasi. Ia kemudian mempersilakan dua rekannya yang lain untuk memperkenalkan diri mereka juga. Yang pertama memperkenalkan diri adalah Bobby. Bobby merupakan mahasiswa seni musik semester 3, sama dengan Jinhwan. Bobby yang bernama asli Kim Jiwon merupakan seorang rapper yang cukup terkenal dikalangan mahasiswa dan kampus lainnya. Ia merupakan pemenang kompetisi antarkampus tahun lalu.
Setelah perkenalan Bobby, selanjutnya adalah giliran Yoongi. Pemuda putih pucat itu sebenarnya enggan untuk memperkenalkan diri. Dirinya yang introvert tidak begitu menyukai keadaan ramai seperti ini. Namun, status keanggotaannya dalam unit kegiatan mahasiswa itu mewajibkan Yoongi untuk melakukannya. Yoongi bukanlah sosok yang tidak terkenal di kampus. Sosok mungil dan berkulit putih pucatnya merupakan sosok yang cukup ditakuti di kampus. Tak hanya berstatus sebagai anggota seni musik, Yoongi juga merupakan wakil ketua BEM di kampus itu.
"Annyeonghaseyo, Min Yoongi ibnida."
Kalimat pertama Yoongi membuat satu aula itu hening. Entah mengapa, suara berat dan tampang datar Yoongi membuat seluruh mahasiswa baru itu justru terfokus padanya saat ini. Yoongi yang menyadari suasana menjadi hening menjadi sedikit gugup dan berdebar. Tapi, satu keahlian Yoongi adalah menyembunyikan raut wajah gugupnya. Dengan tenang dan tetap memasang wajah datar andalannya, Yoongi melanjutkan sesi perkenalan itu.
"Saya adalah mahasiswa tahun ketiga di jurusan seni musik. Terimakasih," ujar Yoongi dan kembali ke barisannya.
Seluruh mahasiswa masih terdiam. Pun dengan seluruh anggota yang ada di atas panggung. Namjoon yang berdiri di sebelah Bobby kemudian melirik Yoongi dan mulutnya komat-kamit berkata 'hanya itu?' dan dibalas dengan Yoongi yang mengangkat bahu tak peduli.
Namjoon hanya bisa menghembuskan napas berat atas tingkah temannya itu.
Tak jauh disana, diantara mahasiswa-mahasiswa baru lainnya, terdapat tiga mahasiswa yang ikut fokus melihat ke atas panggung. Tiga mahasiswa yang tergolong tampan itu masih tercengang dengan apa yang baru saja terjadi di atas panggung. Tak ada yang dapat membaca apa yang tengah mereka pikirkan. Dua diantara mereka mulai bercengkrama ketika Yoongi selesai memperkenalkan dirinya.
"Hanbin-ah..sunbae yang pucat itu sombong sekali ya," ujar salah seorang dari tiga pemuda itu.
"Iya, ekspresinya juga dingin sekali," jawab pemuda berhidung bangir yang bernama Hanbin.
"Tapi wajahnya cukup manis kok. Ya kan, Jim," kali ini pemuda yang diketahui bernama Taehyung itu mengajak berbicara teman yang ada di sebelah kanannya.
Tapi, bukan jawaban yang didapat Taehyung. Taehyung dan Hanbin justru mendapat pemandangan Jimin yang masih terbengong dan tersenyum-senyum sendiri ke arah panggung. Matanya tak lepas dari sosok berambut hitam kelam dan berkulit pucat yang baru saja memperkenalkan dirinya.
Taehyung dan Hanbin bergidik ngeri melihat ekspresi memuja dari tatapan mata Jimin pada pemuda mungil itu.
Karena takut temannya menjadi gila, Taehyung dengan kurang ajarnya memukul kepala belakang Jimin.
"Yak! Kenapa kau memukul kepalaku?" teriak Jimin tanpa sadar.
Taehyung segera membekap mulut Jimin dan membungkuk agar mereka tak menjadi tatapan semua orang.
"Jangan berteriak, bodoh!"
"Aku tidak akan berteriak kalau kau tidak memukul kepalaku," ujar Jimin lagi setengah berbisik.
"Bagaimana aku tidak memukulmu, kau seperti orang gila karena tersenyum-senyum sendiri ke arah panggung," jawab Taehyung sama pelannya.
"Ah itu..haha..aku..ehm..suka pada sunbae itu.." ujar Jimin dengan mudahnya.
"Kau ini, mudah sekali suka pada orang. Memangnya kau tidak lihat, sunbae itu menyeramkan."
Perkataan Taehyung hanya mendapat cibiran tak peduli dari Jimin. Mereka terus bercengkrama dengan punggung Taehyung membelakangi Hanbin yang ada di sebelah kirinya. Mereka berdua bahkan sudah tak fokus pada keadaan panggung karena sibuk dengan obrolan mereka sendiri. Sampai teriakan Hanbin yang membahana menyadarkan mereka dan langsung mendongak melihat sahabat mereka itu tengah berdiri dengan tangan melambai-lambai ke arah panggung.
"Neomu kyeoptaa!" teriak Hanbin sambil memegang kedua pipi dengan tangannya sendiri. Setelah itu ia melambai-lambai pada seseorang yang tengah memperkenalkan diri di atas panggung itu.
"Yak! Kim Hanbin. Apa yang kau lakukan?" ujar Taehyung dan Jimin bersamaan.
Hanbin tak peduli. Ia masih melambai-lambai ke arah panggung dan menghasilkan sosok yang dilambaikan tangan olehnya itu sudah merah padam karena malu.
Walaupun malu, sosok mungil berbeanie hitam itu tanpa sadar ikut melambai serta tersenyum pada Hanbin dan mendapat tertawaan dari seisi aula. Pemandangan yang sangat lucu dan menggemaskan.
Kegiatan saling melambaikan tangan itu baru berhenti ketika Hanbin ditarik paksa untuk duduk oleh Taehyung dan Jimin. Begitu juga sosok mungil di atas panggung yang tadi diteriaki Hanbin ditarik ke belakang oleh Yoongi.
"Apa yang kau lakukan, pabbo-ya," ujar Jimin dengan menutup kedua sisi wajahnya karena malu. Pun hal yang sama dilakukan oleh Taehyung.
Mereka berdua merasa malu karena bisa-bisanya memiliki teman yang tak tau malu seperti Hanbin.
Bahkan orang yang mereka bicarakan masih tersenyum seperti orang gila dan tak peduli tatapan mahasiswa lain yang terkikik geli karena melihat tingkahnya.
Namja berhidung bangir itu masih menatap lurus ke arah panggung dimana namja mungil berbeanie tadi tengah dipeluk oleh namja mungil lainnya yang bertampang dingin.
Sampai presentasi unit kegiatan seni musik berakhir dan anggota turun dari atas panggung, baru Hanbin kembali merespon Jimin dan Taehyung.
"Kalian berbicara padaku?"
"Tidak! Kami tidak kenal denganmu!"
"Eeh?"
게속
Mian kalau tidak sesuai ekspektasi
Gomawo untuk semua reviewnya.
Maaf aku gk bisa bales reviewnya karena aku kurang paham dengan FFN.
Yang pasti makasih banyak untuk yang udah review.
Saranghae 3
#Ayiii
