Disclaimer: I don't own Kaichou wa Maid-sama!

Chapter 2

-o-

"...apakah ia adalah pacarmu?"

"…HAH? Ap- Ah.. uhmm.. aku.. aku.." Misaki sangat terkejut. Dia menahan ludah saat mendengar pertanyaan itu. Gerrard menatap Misaki dengan penasaran.

Ketika Misaki akan menjawab pertanyaannya, ia mendengar suara pintu terbuka.

"Tadaimaa." Kata Usui sambil berjalan masuk ke dalam ruang keluarga di apartemennya. Misaki dan Gerrard segera berdiri untuk menyambutnnya.

"Okaeri, Takumi." Gerrard menyambutnya. Usui terkejut dan agak tidak senang saat melihat Misaki berdiri di samping Gerrard.

"Takumi, aku pikir akan terlihat kasar jika aku membiarkan gadis ini menunggu di luar kedinginan. Jadi, aku membiarkannya masuk. Tidak apa-apa kan?" Gerrard menanyakan dengan tatapan menggoda.

"Ya, tak apa-apa. Terima kasih." Balas Usui. Semua orang yang bukan seorang idiot akan dengan mudah melihat kalau ia tidak puas. Tetapi, Misaki selalu seorang idiot di depan Usui.

"Kami hanya melakukan percakapan kecil, bukan, Nona?" Gerrard mengedipkan mata ke Misaki.

"Yeah. Ah, jangan memanggilku nona, kau bisa memanggilku Misaki." Misaki tersenyum ke arah Gerrard. Sepertinya ia tak memperhatikan kalau Usui sedang menatapnya.

"Baiklah... aku ingin bertanya. Rasa penasaran ini hampir membunuhku! Apakah kalian berdua pacaran?" Gerrard mengatakan tiba-tiba dengan mata berbinar-binar.

"Apa! Tidak! Tidak! Itu tidak benar. Iya kan, Usui?" Misaki menatap Usui dengan muka panik.

"Iya, kami hanya 'teman'." Jawab Usui dengan muka dingin. Teman? Benarkah? Hanya teman? Lalu apa artinya semua yang telah kita lakukan selama ini? Misaki berpikir keras. Argh! Kenapa aku merasa kecewa dengan jawabannya. Aku tidak menyukainya. Tetapi kenapa aku merasakan hal seperti ini? Tenang, Misaki.. tenang. Ini baik-baik saja. Misaki mencoba untuk mengelak dari rasa ini.

"Lalu, apakah kau kembali ke rumah tadi?" Gerrard bertanya ke Usui.

"Yeah."

"Kata Misaki dia mempunyai urusan denganmu. Jadi, mungkin aku akan berbicara denganmu nanti." Gerrard mengedipkan matanya lagi dan berjalan ke luar.

"Baiklah, terima kasih." Kata Usui.

"Dan satu hal lagi, jangan tidak patuh dan melakukan hal-hal yang seenaknya sekarang."

Setelah Gerrard pergi, Misaki dan Usui berdiri dalam diam. Dan Usui pun memecahkan keheningan di antara mereka.

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?"

"Ehh? Tidak, Usui, itu tidak penting. Aku akan pulang sekarang. Maaf sudah mengganggumu seperti ini-"

"Tidak, tidak apa-apa. Maukah kau menemaniku di sini?" Usui menatap Misaki dengan puppy-eyesnya. Dia sudah kembali ke dirinya yang normal. "Usui cendilian... (sendirian) di sini."

Setelah mereka duduk, Misaki langsung memulai pembicaraan.

"Kenapa kau tadi tidak sekolah?"

"Itu... aku mempunyai urusan yang tidak bisa aku tinggalkan. Kenapa? Apakah Ayuzawa khawatir denganku?" Seringainya mulai muncul di wajahnya.

"Aku... tidak! Tentu saja tidak. Kenapa aku harus khawatir denganmu?" Misaki memandangi kakinya dan tampaknya itu lebih menarik daripada muka Usui.

"Mengaku saja, Pres. Jangan bohong kepadaku."

"Tidak! Aku... Aku ...Ugh!" Sial! Dia tahu kalau aku khawatir dengannya.

"Hmmm?" Usui tersenyum.

"Baiklah, aku mengakuinya. Aku khawatir denganmu. Aku masih khawatir sekarang." Akhirnya Misaki mengakuinya. Ia meremas bajunya kuat-kuat. Usui menyeringai.

"Kau sangat imut, Prez." Muka Misaki berubah menjadi merah.

"Ayuzawa..." Usui mendekat ke arah Misaki. Misaki sangat gugup. Ia menutup matanya kuat-kuat ketika Usui mengelus pipinya. Ia dapat merasakan nafasnya Usui di wajahnya. Dan.. ia merasakan bibir Usui di dahinya.

Itu hanya sebentar. Dan Usui melepaskan ciumannya. Misaki membuka matanya untuk melihat Usui yang menyeringai.

"Apa yang kau lakukan, alien mesum?" Misaki menundukkan wajahnya. Sebenarnya, ia agak kecewa karena ia pikir Usui akan menciumnya. Tetapi... Usui tahu itu. Ia hanya mengetes Misaki.

"Maaf, Prez. Aku tidak dapat menahannya. Kau terlalu manis."

"Cukup! Cukup membuatku berantakan seperti ini! Aku pulang sekarang!" Dia berdiri dari tempat duduknya dan bersiap untuk pergi. Tetapi sebelum ia sempat melangkah, Usui menarik pergelangan tangannya dan menariknya ke arahnya. Lalu Misaki merasakan bibir yang sudah familiar menekan bibirnya.

Usui menciumnya pelan, dan keras serta penuh dengan cinta. Misaki tidak bisa berpikir. Semuanya menjadi kosong. Bahkan ia tidak mengingat apa yang ingin dilakukannya tadi. Yang bisa dilakukannya adalah berkonsentrasi dengan bibir yang sedang menempel di bibirnya.

Sebelum ia mengetahuinya, Misaki mulai membalas ciuman Usui, mengaitkan lengannya di leher Usui sementara ia mengaitkan lengannya di pinggang Misaki. Misaki tidak tahu berapa lama mereka berdiri sambil berciuman. Mereka melepaskan ciumannya dengan terpaksa untuk menarik napas. Masing-masing dari mereka tidak ingin bertindak lebih jauh jadi mereka tetap berada di posisi seperti itu. Mata amber bertemu dengan mata emerald.

Merasa malu tentang apa yang ia buat, Misaki menyembunyikan wajahnya di lekukan leher Usui. Lengannya dibalutkan di dada Usui sementara Usui memeluknya erat.

"Aku minta maaf, Ayuzawa." Usui meminta maaf. Itu mengambil beberapa waktu. Tetapi Misaki tahu maksudnya.

"Ta..tak apa." Misaki menggumam di bahu Usui. Misaki mengeratkan pelukannya.

~Di luar apartemen~

Seorang laki-laki menekan ear phone miliknya ke telinganya. Setelah beberapa lama, ia mencabutnya lagi.

"Gadis yang malang." Kata Gerrard sambil menggelengkan kepalanya.

~Di dalam apartemen~

"U..sui.."

"Hmm?"

"Ke-kenapa kau melakukan hal seperti ini?" tanya Misaki.

Mendengar perkataannya, mata Usui melebar tetapi setelah itu ia tertawa. Ia menarik tangannya dari pinggang Misaki ke kepala Misaki, menepuk kepalanya.

"Karena aku hanya ingin berada di sisimu." Misaki melepaskan pelukannya untuk menatap Usui. Mata amber bertemu dengan mata emerald sekali lagi. Mukanya kembali merona merah.

"…" Ia menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Usui tersenyum dengan tulus.

"Haah, sudah larut rupanya. Ayo, aku antar kau pulang." Usui menyodorkan tangannya ke Misaki. Ambil nafas, Misaki menerimanya dan menggenggamnya erat.

-o-

Setelah keduanya turun dari bus, mereka berdua berjalan ke arah rumah Misaki dalam keheningan. Meskipun mereka tidak mengatakan secara verbal, tetapi tangan mereka yang mengatakan. Itu seperti, mereka tidak mau berpisah. Mereka tidak ingin untuk melepaskan tangan satu sama lain.

Misaki tahu kalau ada yang salah dengannya. Ia tahu kalau Usui menyembunyikan sesuatu darinya. Tetapi ia tidak ingin merusak suasana. Jadi, ia tetap diam.

Misaki menatap Usui sambil berjalan.

Ia seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat sulit. Dan mereka pun sampai di rumah Misaki.

"Jadi," Usui memecahkan keheningan, "sebelum kau masuk ke dalam rumahmu, aku mau ciuman selamat tidur ku dulu." Kata Usui sambil tersenyum evil.

"Ka-kau! Dasar mesum!"

"Ssshh, jangan ribut, Prez. Orang-orang sedang mau tidur."

"Tetapi kan kau yang membuatku seperti ini! Dan apakah tadi tidak cukup dengan apa yang kita lakukan di apartemenmu?" Mukanya Misaki merona merah saat mengatakannya.

"Itu kan berbeda and... itu tidak cukup." Senyum evilnya kembali melebar. Sial! Jangan membuat senyuman seperti itu Idiot! Pikir Misaki.

"Baik... baik, jika kau tidak mau, sampai jumpa, Pres."

"Tunggu, Usui!" Misaki menarik lengan baju Usui.

Ketika Usui berputar, hal selanjutnya yang ia tahu adalah, bibirnya yang sedang menempel dengan bibir Misaki. Mereka berciuman selama beberapa menit sebelum Misaki melepaskannya.

"Puas, Idiot Usui?"

"Yeah, terima kasih, Prez." Usui mencium pipinya. Mukanya kembali merona merah.

Usui menepuk kepala Misaki sebelum mengatakan, "Selamat malam, Misaki. Semoga mimpi indah dan jangan lupa untuk bermimpi tentang aku... Haha..."

"Diam kau, mesum! Dan... selamat malam... Takumi." Kata Misaki setelah menutup pintu.

Setelah Misaki menutup pintu, Usui melihat ke langit. Bulang bersinar dengan sangat indah dan bintang-bintang bersinar di sekitarnya. Lalu ia menunduk dan ekspresi sedih muncul di wajahnya yang tampan. Ia pun menghela napas.

"Apakah ini sebuah kesalahan... untuk bertemu denganmu, Misaki...?" Ia bergumam ke dirinya sendiri.

TBC

Chapter 2 update! Bener kan lebih cepet hahaha... udah deh review aja. Thanks.