Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
WARNING: Simple, Ringan, OOC, AU, Twoshoot/Threeshoot XD, DLDR! EYD payah. And maybe typo(s)
ShikaIno's Fanfiction
Romance
Enjoy! Happy Reading~
My Last One Part: 2
Malam hari ini udara terasa begitu dingin. Mungkin akibat turunnya hujan beberapa saat lalu yang masih menyisakan rerintik gerimis dengan intensitas yang cukup banyak. Sesekali terpaan air hujan mampir dengan manja di wajahku. Kini, kualihkan pandanganku pada sebuah potret seorang pria di dalam layar laptopku. Aku sesekali tersenyum kecil melihat sorot matanya yang menduhkan, lembut dan menenangkan. Dan oh iya, tampan, seperti yang dikatakan oleh Sakura dan teman-temanku yang lain. Aku begitu menikmati aktifitasku malam ini. Desir angin malam yang menerpa wajahku dengan lembut, juga detakan jantung yang memacu lebih cepat dari biasanya menambah kesenangan tersendiri untukku. Emh, kali ini aku tidak sedang berpura-pura melankolis. Aku yakin ini disebabkan karena aku yang sedang mendadak jatuh cinta. Kepada sesosok pria asing yang ada di dalam layar laptopku. Kepada desir angin malam yang menyejukkan tubuhku. Dan kepada gerimis kecil yang seolah ikut menyemarakan segala bentuk rasa yang kumiliki terhadap pria yang memiliki nama Shikamaru Nara.
"Lalu bagaimana? Ini sudah tiga hari setelah kencan pertama kalian. Apa Shikamaru sudah mengatakan cinta padamu?" celetuk Sakura yang tiba-tiba saja ikut duduk di teras rumahku. Dia duduk di sebelah kananku seraya menggigit jagung bakar yang masih mengepulkan asap panas. Mulutnya terlihat komat-kamit seperti sedang merapalkan sebuah mantra. Membuat wajahnya tampak konyol dan lucu, caranya mengunyah membuat perutku tergelitik.
Eh, tunggu dulu. Aku sepertinya melupakan sesuatu. Kenapa si jidat lebar ada di rumahku sekarang? Oh… Oh… Aku baru ingat, Sakura kembali menginap di rumahku untuk beberapa waktu ke depan, berhubung keluarganya masih belum bisa meninggalkan neneknya yang sakit keras.
Aku menarik oksigen dalam-dalam. Lalu meletakkan laptop milikku yang semula berada di pangkuanku di atas lantai. "Bagaimana, ya? Kau mau tahu atau mau tahu sekali, Sakura-chan?" aku membalas pertanyaannya, sambil mengerling jenaka kearahnya. Pelan-pelan Sakura memicingkan matanya, wajahnya memberengut kesal tak lupa dengan bibirnya yang dibuat melengkung.
Aku terkikik geli dengan beragam ekspresi yang dimilik Sakura. Sahabatku yang satu ini benar-benar membuatku gemas, sampai tak sadar aku sudah mencubit pipinya dengan gemas.
"Auch! Ino, apa yang kaulakukan? Pipiku sakit," teriakan kecil meluncur dari mulut Sakura yang semakin melengkung.
Tawaku kembali pecah saat melihat respon dari Sakura setelah aku memberikannya hadiah kecil itu. "Hahaha... Habisnya wajahmu itu ajaib sekali. Aku sampai gemas melihatnya dan ingin sekali mencubit pipimu, tahu!" kataku seraya mengabaikan ringisan dan protesan dari Sakura.
"Ino, aku sedang tidak bercanda. Aku serius bertanya!" kelit Sakura sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Sekarang tampangnya mirip ibuku jika sedang mengomel.
"Iya, maaf. Bagaimana ya? Sejauh ini, hubunganku dengan Shikamaru masih selayaknya seorang penggemar dan idolanya. Dan kurasa akan seperti itu selamanya, mungkin?" jawabku tak yakin.
"Oh..."
Setelah balasan ambigu yang Sakura berikan, entah kenapa kami berdua menjadi diam. Kalimat tersebut menggantung di udara. Nampaknya masing-masing dari kami sibuk dengan isi kepala sendiri.
"Dia sedang menyiapkan kejutan untukmu. Pasti begitu," tiba-tiba Sakura kembali menyambung ucapannya. Entah untuk memberiku semangat atau sengaja membuka percakapan yang baru hanya karena merasa tidak enak atas topik pembicaraan kami.
Aku mendesah pelan. Mataku menerawang jauh, memikirkan apa yang harus kulakukan setelah ini. Maksudku, apa yang harus kulakukan jika ternyata Shikamaru memang hanya ingin kenal denganku sebatas seorang penggemar saja. Sepertinya aku harus siap-siap dengan kemungkinan terburuk. Jangan terlalu banyak berharap, Ino.
"Aku tidak ingin terlalu bermimpi, Sakura. Kautahu 'kan, pria sepertinya kurasa sulit untuk kuraih. Rasa percaya diriku sedikit demi sedikit memudar. Ya, walaupun Shikamaru bilang hari minggu ini dia ingin bertemu denganku kembali dan akan memberiku sebuah kejutan, tapi aku tak yakin kalau kejutannya itu adalah 'Dia menyatakan cinta padaku'. Ah, Sakura, aku sudah jatuh dalam pesonanya. Bagaimana ini?" aku mulai ragu dan resah. Kutatap Sakura dengan sayu. Sesaat mata kami saling beradu. Sakura tersenyum lembut kepadaku. Kali ini harus kuakui bahwa senyuman milik sahabat cerewetku sangatlah indah. Dan satu lagi, menenangkan. Aku beruntung memiliki sahabat sepertinya. Yang tak pernah meninggalkanku di saat aku butuh dan selalu memberiku energi-energi positif.
Sakura meyakinkanku bahwa yang sedang aku rasakan adalah cinta. Aku mencintai Shikamaru tanpa syarat. Bukan karena parasnya yang tampan, atau fisiknya yang hampir sempurna. Kenyamanan ketika bersamanyalah yang begitu membuatku tak ingin jauh darinya, seolah tubuhnya mengandung zat adiktif yang membuatku kecanduan berlama-lama di dekatnya. Tapi, yang bisa kulakukan sekarang hanya berdoa agar Tuhan bersedia membuka hati Shikamaru untukku.
Hm... Sebenarnya ada banyak hal yang mengusikku dan membuatku hilang percaya diri setelah mengenalnya lebih jauh, juga berdasarkan hasil riset (kau pikir kau sedang apa, Ino?) dari beberapa orang temanku yang ternyata secara kebetulan mengenal Shikamaru. Hal itu adalah... Pria yang kucintai ini menduduki 'jabatan' berkelas di lingkungannya. Ini yang membuatku merasa tak pantas jika kelak bersanding dengannya, ah aku mulai berkhayal lagi. Dia pintar, cerdas, jenius, tahu banyak hal. Sejak kecil Shikamaru selalu menjadi bintang sekolah. Kecerdasannya di atas rata-rata. Meskipun dia pernah bilang padaku dia malas belajar, tapi dia memiliki IQ yang tinggi, jadi tak heran jika prestasinya di bidang akademik selalu gemilang. Aku tak percaya bagaimana bisa seorang pemalas menjadi begitu jenius. Sementara aku yang mati-matian melahap banyak buku dalam keseharianku tak pernah mencapai prestasi membanggakan sepertinya. Kehadiran Shikamaru membuatku tertegun. Diskusi dengannya entah mengapa selalu menyenangkan dan tak pernah ada habisnya, Shikamaru memiliki kekayaan ilmu yang membuatku berdecak kagum. Tuhan memberinya otak yang luar biasa, membuatku terkadang merasa iri padanya. Pria ini bukan hanya memiliki fisik yang nyaris sempurna, namun juga menguasai banyak hal yang membuat kharismanya semakin memancar. Filsafat, sejarah, politik, metafisika, teknologi, semuanya dia kuasai. Bahkan sampai kini―dia duduk di bangku perkuliahan―Shikamaru merupakan salah satu mahasiswa peraih beasiswa dan memiliki indeks prestasi rata-rata nyaris sempurna. Segenap keahlian yang dimilikinya itu menjadikan Shikamaru mahasiswa yang paling dielu-elukan banyak wanita, difavoritkan para dosen. Aku yakin dia akan menjadi lulusan terbaik tahun depan.
Ah, tapi aku semakin terjerat dalam pesonanya karena sikapnya yang tidak sombong dan angkuh seperti kebanyakan orang. Shikamaru tetap rendah hati, sopan, dan dia menganggap semua yang telah diraihnya adalah hal yang biasa-biasa saja, semua orang bisa melakukannya―mendapatkannya. Wajahnya selalu tersenyum tulus, penuh dengan rasa optimisme yang tinggi, tak pernah mengeluh. Bertolak belakang sekali dengan diriku.
Shikamaru Nara...
Di mataku, dialah orang teristimewa saat ini. Satu-satunya pria yang mampu membuatku berdebar-debar dan sesak di waktu yang bersamaan. Memikirkannya seperti ini membuat ingatanku kembali melayang―mengabaikan Sakura yang beberapa detik lalu meminta izin untuk mengangkat telpon yang entah dari siapa―menuju memori kencan pertamaku dengan Shikamaru. Saat dia mengajakku ke suatu tempat yang indah setelah menonton bioskop. Kami berjalan-jalan menelusuri keindahan alam, dia membawaku ke tempat yang berada di dataran tinggi dengan udara segar yang membuatku tenang. Di sana, kami mengunjungi salah satu kedai penjual makanan dan banyak berbincang. Saat itu aku merekam semua percakapan kami di dalam otak dan hatiku, tanpa satupun yang terlewatkan, karena aku ingin menjadikannya memori berharga yang tak akan pernah kulupakan.
Kami berbincang ditemani dengan secangkir ocha hangat dan oden yang sangat lezat. Dengan banyak topik pembicaraan, salah satunya tentang beberapa macam beasiswa yang Shikamaru terima dan projek-projek yang sudah dilakukannya―dia kini menuntut ilmu sebagai mahasiswa IT di salah satu Universitas terbaik di Tokyo.
"Aku hebat, katamu?" Shikamaru tergelak, "aku tidak sehebat yang kaupikirkan, Ino. Penerima beasiswa seperti ini banyak jumlahnya pertahun. Dan, semua orang juga kurasa bisa melakukan apa yang kulakukan. Banyak yang jauh lebih hebat lagi di luar sana," sambungnya.
"Tapi, kamu mendapatkan beasiswa penuh dari semester pertama hingga sekarang 'kan? Di Universitas terbaik di Tokyo, kau itu hebat! Satu berbanding sejuta yang bisa sepertimu," balasku sedikit ngotot. Saat itu aku kesal, Shikamaru masih saja merendah-rendahkan apa yang telah dicapainya, padahal bagiku itu adalah hal yang sangat sangat sangat hebat dan keren. Aku saja yang sudah menyelesaikan pendidikanku sebagai seorang sainstis dengan nilai biasa-biasa saja sangat bersyukur. Tapi, Shikamaru nampaknya selalu merendahkan dirinya.
Aku dibuat semakin kesal dengan respon yang diberikan oleh Shikamaru, dia kembali tergelak dan menatapku dengan lembut. "Semuanya hanya kebetulan, kau juga pasti bisa mendapatkannya jika kau berusaha. Tapi, aku sebenarnya pemalas. Aku tidak pernah belajar. Bagiku kata hebat tidak cocok untukku sekarang."
Masih saja berkelit, Tuan jenius yang satu ini benar-benar minta diberi hadiah setumpuk buku-buku tebal di atas kepalanya. Oh, kau jahat sekali, Ino Yamanaka.
"Kau, hebat! Tak bisakah kauakui kalau kau hebat? Setidaknya bersyukurlah karena kau itu hebat," ujarku bersikeras.
"Aku bersyukur, tentu saja. Tapi aku tidak merasa hebat sama sekali, banyak yang lebih hebat," katanya sambil tersenyum lebar, ah tidak tidak tidak! Itu bukan senyuman, tapi seringaian. Ya Tuhan... Baru kali ini aku melihatnya menyeringai, dan aku tak sanggup berkedip untuk beberapa detik. Seringaian Shikamaru begitu menghipnotisku.
Aku memberenggut, mengerutkan keningku, tidak setuju dengan pernyataannya. "Kalau begitu, sebutkan, aku ingin tahu siapa yang lebih hebat darimu itu."
"Hm? Banyak, di luar sana."
Aku mendesah malas. Menggeleng dan menatapnya dengan sengit. Ayolah, Shikamaru. Apa susahnya mengakui kehebatan yang kaumiliki? Tapi, kenapa juga aku bersikeras seperti ini sih?
"Hey, Nona Penulis. Kau lupa ya? Masih ada langit di atas langit. Kau tahu? Kau juga hebat di mataku," katanya.
Aku sejenak terdiam. Tentu saja aku tahu peribahasa itu. Masih ada langit di atas langit, iya memang benar. Satu lagi, dia bilang aku hebat? Hebat apanya, dasar pria aneh.
"Tapi kupikir peribahasa itu tidak berlaku saat ini, kau hebat. Pokonya kau yang terhebat! Dan aku sama sekali tidak merasa hebat seperti yang kau tuduhkan."
Shikamaru menyesap ocha miliknya. "Tentu saja itu masih berlaku. Peribahasa ini akan selalu berlaku untuk siapa pun. untukku, atau untukmu."
Aku tersenyum miris. Membenarkan perkataan Shikamaru, "tapi... Tidak ada salahnya 'kan jika kau mengakui kehebatanmu itu sekali-sekali? Oh, dan satu hal, sampai kapanpun aku tidak akan bisa melampaui langit. Bagiku langit terlalu tinggi, sehingga aku hanya bisa mengamatinya dan mengagguminya. Aku tidak akan pernah bisa menjadi bagian dari langit itu."
Lagi-lagi kudengar Shikamaru tertawa geli setelah aku menyelesaikan kalimatku. Apa sih? Apa ada yang salah dengan kata-kataku? Kurasa tidak. "Kau kenapa? Apa ada yang lucu?"
"Iya, kau yang lucu," ujarnya, "kenapa kau sangat pesimis? Berpikiran seperti itu."
"Aku bukannya pesimis, tapi aku sadar diri."
Shikamaru menyunggingkan senyuman sejuta watt-nya. "Baiklah-baiklah. Aku hebat, kau juga hebat. Itu adil 'kan? Ino, semua orang itu hebat di bidangnya masing-masing jika mereka mau berusaha dan bekerja keras. Aku mungkin hebat di bidang yang kutekuni, tapi belum tentu aku juga bisa hebat di bidang yang lain. Kesehatan misalnya atau dunia tulis menulis, sepertimu. Kau hebat di bidangmu dan aku hebat di bidangku."
"Hm, memangnya kau berusaha dan bekerja keras? Kaubilang, kau tidak pernah belajar dan pemalas," tukasku.
Shikamaru memperlihatkan seringaiannya kembali. "Apakah hanya karena aku pemalas lantas aku tak pernah berusaha dan bekerja keras mencapai apa yang harus kuraih?" katanya.
Aku menggeleng.
"Kau belum cukup mengenalku lebih jauh, nanti kau akan tahu seperti apa aku yang sebenarnya."
Eh? Benarkah? Aku bisa mengenalnya lebih jauh dari ini? Aku akan sangat senang sekali jika diberi kesempatan untuk mengenal Shikamaru lebih jauh, dan akan lebih baik lagi jika nanti akulah orang yang benar-benar mengenalnya lebih dari siapapun―setelah keluarganya tentu saja.
"Aku... iri padamu," ujarku.
"Kau iri?" balas Shikamaru sambil mengarahkan sendok miliknya ke arah mulutku, hendak menyuapiku.
Aku mengernyit, namun kemudian melahap suapan itu dengan malu-malu, "iya, aku iri. Seberapa besarnya aku berusaha, tapi hasil yang kuraih selalu jauh dari target yang kuinginkan. Tapi kau, rasanya sangat mudah mendapatkan apa yang kauinginkan," kataku setelah udon lezat itu masuk ke dalam pencernaanku.
"Sudahlah, Ino. Semua orang itu punya kelebihan masing-masing. Jangan menganggap dirimu tak punya kemampuan seperti itu lagi."
Aku mencerna setiap kata-kata yang Shikamaru lontarkan. Aku tahu itu, sangat mengerti malah. Setiap manusia diciptakan dan dilahirkan ke dunia ini dengan kelebihannya masing-masing. Tapi, aku masih sangsi bahwa kelebihan yang kumiliki ini benar-benar bisa membuat semua orang bangga padaku, atau kelebihanku ini mampu menandingi kelebihan Shikamaru, sehingga aku tak punya rasa malu berhadapan dengannya. Aku ini hanya manusia biasa-biasa saja, dengan prestasi yang jauh dari kata bagus, kehidupan yang sederhana dengan sekelumit masalah di dalamnya. Sedangkan Shikamaru? Shikamaru terlihat tampak sempurna di penglihatanku. Bahkan mungkin di mata siapapun dia adalah sesosok pria luar biasa. Aku bertaruh tidak banyak pria seusia Shikamaru yang memiliki pemikiran positif dan berdedikasi penuh di luar sana. Kebanyakan mereka masih mengandalkan egonya masing-masing dan berfoya-foya dengan menghambur-hamburkan uang milik orangtua mereka.
"Hey, sudah berapa lama kau putus dari mantanmu yang bernama Sai itu? Lalu apa hal yang membuat kalian putus?" celetuk Shikamaru mengalihkan topik pembicaraan.
Sai? Dia membicarakan Sai? Kenapa di saat seperti ini aku harus mendengar nama Sai? Kenapa Shikamaru harus membicarakan Sai sekarang? Lagipula, dia tahu Sai darimana? Ah, benar juga. Aku lupa, Shikamaru itu stalker―anggap saja begitu―sejatiku.
Sebenarnya aku tak ingin membicarakan hal ini. Terlalu malas untuk mengingat-ingat yang tidak penting bagiku. Tapi, toh tidak ada salahnya juga berbagi cerita dan pengalaman putus cinta dengan Shikamaru. Siapa tahu aku juga bisa menanyakan tentang statusnya sekarang. Aku masih ragu sebenarnya Shikamaru ini masih single atau sudah memiliki kekasih. Meskipun dia bilang sedang tidak bersama siapa-siapa, tapi mungkin saja 'kan dia sedang mendekati seorang wanita? Aku tidak termasuk tentu saja.
Dengan berat hati aku menceritakan alasan apa yang membuat hubunganku dengan mantan kekasihku itu kandas di tengah jalan, belum tengah jalan juga sih. Untungnya aku sadar di awal-awal masa pacaranku dengan Sai. Sai itu lelaki misterius, terlalu misterius sampai aku tak pernah bisa menebak apa yang ada di dalam pikirannya. Dari awal mengenalnya pun seperti itu, tertutup dan terkesan labil. Kami jarang bertemu, Sai bilang dia sibuk. Tapi, ayolah sesibuk apapun dirimu tak bisakah meluangkan waktu sedikit untuk seseorang yang kaucintai? Apa itu hal yang sulit? Tidak 'kan? Cukup dengan memberi pesan singkat atau ucapan selamat pagi, selamat sore, selamat malam―dan semacamnya saja sudah membuat tenang. Sayangnya, Sai tidak begitu. Dia terlalu cuek. Seakan tak peduli kepadaku dan tak menganggapku ada. Hubungan seperti ini apa masih bisa disebut pacaran? Tidak.
Awalnya aku mencoba bersabar dan bertahan di tengah-tengah keadaan seperti itu. Karena kupikir aku menyayanginya, dan ternyata aku baru sadar bahwa aku bukan menyayanginya atau mencintainya. Aku hanya terobsesi sesaat, obsesi untuk membuat pria dingin seperti Sai bertekuk lutut di hadapanku. Ya meskipun akhirnya gagal juga. Bodoh sekali diriku ini. Aku pun tak jarang menertawakan diriku sendiri. Bisa-bisanya aku membiarkan pria sepertinya masuk ke dalam hatiku dan memporakporandakan hatiku menjadi serpihan-serpihan luka. Puncaknya saat Sai tiba-tiba saja menghubungiku setelah sekian lama kami tidak saling berkomunikasi. Dia mendadak menjadi perhatian dan membuatku bingung. Tak pernah selama kami berhubungan dia memperlakukanku sedemikan baiknya. Dia menanyakan keadaanku, kedua orangtuaku, dan bahkan mengatakan kalau dia rindu padaku. Jujur saja, aku sedikit senang. Namun, ternyata di balik kesenangan itu menyimpan luka yang lebih besar. Di ujung pembicaraanku dengan Sai, dia menjelaskan perihal sikapnya yang selalu dingin dan cuek padaku. Dia bilang dia sedang bingung dan gelisah, mantan kekasihnya hadir kembali, dan itu membuat hatinya tak menentu. Dia masih mencintai mantan kekasihnya. Rasanya seperti ada ribuan jarum tak kasat mata yang menembus jantungku saat aku mendengar sendiri Sai mengatakan bahwa dia masih belum bisa melupakan mantan kekasihnya, tapi juga dia tak ingin kehilangan diriku. Egois! Pria macam apa kau? Aku kekasihnya tapi tak memiliki hatinya, apa aku harus senang? Tentu saja aku tidak senang. Maka, detik itu juga aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Aku sudah tak sanggup lagi jika harus meneruskan suatu hubungan yang banyak membuat diriku bersedih. Sebenarnya sejak awal pun sahabatku tak pernah menyetujui hubungan kami. Tapi aku seakan menutup mata dan hatiku. Aku dibutakan oleh perasaan ambigu yang kukira itu adalah cinta.
Sesuai dugaanku, Sai tak memperdebatkan keputusanku. Dia menyetujui semuanya. Lihatlah, bahkan dia tak memperjuangkanku. Lalu untuk apa aku memperjuangkan pria seperti Sai untuk tetap berada di sampingku? Ajaibnya, entah mengapa setelah hubungan kami berakhir, hatiku rasanya lega. Tenang. Tentram. Damai. Seolah beban dan kegalauan hatiku sirna dalam sekejab. Iya, aku bahagia melepaskannya.
Dan sekarang kebahagiaanku seakan terus berlanjut ketika Shikamaru hadir di dalam hidupku. Memberikan warna berbeda yang menyenangkan. Jika saja Shikamaru tahu, hal apa yang membuatku merasa lebih bahagia lagi saat ini. Apakah Shikamaru akan senang? Ataukah Shikamaru menganggap perasaan sukaku padanya ini adalah pelampiasan semata? Aku takut. Aku takut jika Shikamaru beranggapan demikian.
.
.
"Pria itu bodoh," respon Shikamaru setelah mendengarku bercerita.
"Iya, sangat bodoh! Dia pasti menyesal mengkhianatiku," ujarku.
"Kalau aku, aku tidak akan memperlakukanmu seperti itu. Aku sangat mencintai ibuku, maka jika aku menyakiti seorang wanita, itu artinya sama saja aku menyakiti hati ibuku," katanya.
Aku berkali-kali dibuatnya tertegun. Perkataan Shikamaru membuat hatiku berdebar-debar. Aku tersenyum lembut padanya sambil menganggukan kepalaku mantap.
"...sayangnya aku selalu menjadi korban para wanita," sambung Shikamaru disertai dengan senyum simpul.
Aku mengerutkan keningku. "Korban? Maksudmu? Kau sering menjadi pihak yang tersakiti?"
"Iya, padahal aku sudah berusaha selalu memberikan yang mereka inginkan dan setia. Tapi, ternyata aku masih tak cukup baik untuk mereka. Mereka seakan tak mengerti kesibukanku dan selalu memaksaku menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Aku juga pernah dikhianati," katanya.
"Benarkah? Pria sepertimu pernah dikhianati juga? Aku tidak percaya. Kupikir kau lebih cocok sebagai seorang cassanova, yang memiliki beberapa orang wanita di luar sana," kekehku.
"Enak saja," protesnya, "aku bukan pria seperti itu."
Aku tergelak dan memberinya sebuah cengiran. "Aku percaya kau orang baik. Tapi, bisakah kau tidak terlalu baik padaku? Aku takut masuk dalam pesonamu. Sepertinya aku sudah mulai merasakan getar-getar abstrak terhadapmu. Dan aku takut jika ternyata kau hanya mempermainkanku," ujarku ragu-ragu.
"Eh? Getar-getar abstrak? Mempermainkanmu? Hahaha... kau lucu. Emh, bagaimana jika ternyata perasaanmu itu ternyata bersambut?" tanya Shikamaru seraya menutup matanya sejenak menikmati desiran angin yang menerpa wajahnya.
"Kau tampan," celetukku.
Shikamaru membuka kelopak matanya dan menoleh kepadaku. "E-Eh, maksudku. A-Aku tidak tahu, aku tidak bisa membaca pikiran orang 'kan?" ujarku yang tiba-tiba saja menjadi gagap.
"Kau sudah mulai menyukaiku, Ino?" tanya Shikamaru.
Aku tersedak mendengar kalimat yang dilontarkan Shikamaru. "I-Itu... Belum, tapi kurasa siapapun yang diperlakukan baik seperti ini akan dengan mudah jatuh hati, termasuk aku," aku berusaha menutupi yang sebenarnya. Tidak! Jangan katakan sekarang, ini terlalu cepat. Meskipun aku yakin Shikamaru tahu maksudku, dia itu kan jenius. Tapi, apa yang akan dikatakan Shikamaru jika aku ketahuan diam-diam sudah jatuh cinta padanya ya?
"Kalau begitu, kau cukup percaya dengan kata hatimu saja. Bagaimana jika ternyata aku juga sudah jatuh dalam pesonamu?"
Aku tertawa dalam hatiku. Shikamaru jatuh dalam pesonaku? Hahaha. Itu mustahil 'kan?
"T-Tidak tahu, hey kita pulang saja. Langit sudah mulai gelap," aku mengalihkan topik yang membuatku kalang kabut ini dan berdiri.
Shikamaru menggangguk dan ikut berdiri, bangkit dari kursi yang semula didudukinya. "Iya, kita pulang sekarang. Oh ya, Ino, kau harus percaya padaku. Aku tidak punya niat buruk padamu," katanya.
.
.
Aku menarik napas dalam-dalam. Kurasa sudah cukup flashback kali ini. Karena jika aku kembali memutar ingatan-ingatan kemarin, wajahku pasti akan memanas dan jantungku akan berdetak dengan kencang. Apalagi tubuhku dan Shikamaru begitu dekat saat berada di atas motor besarnya. Sepanjang perjalanan Shikamaru membuatku memeluknya, dia bilang dia kedinginan dan itu salahku. Alasan yang bodoh, bilang saja dia ingin kupeluk. Ah, maaf kenapa aku terlalu percaya diri sekarang. Maka, sebagai gantinya aku harus memeluknya dengan erat. Bahkan sesekali dia sempat-sempatnya membelai lembut telapak tanganku yang melingkar di perutnya. "Aneh, aku merasa nyaman seperti ini," katanya begitu. Dan diam-diam aku menyetujui perkataannya.
"Sudah melamunnya?" suara lembut Sakura perlahan-lahan memasuki indera pendengaranku.
"Aku tidak melamun," kataku.
"Kau bohong. Tatapanmu kosong tadi, lalu jika kau tidak melamun kau pasti mendengar apa yang kukatakan tadi. Tapi, kau malah mengabaikan ucapanku. Kau melamun, Ino."
"Eh? Benarkah? Memangnya kau bilang apa? Maaf, aku hanya sedang memikirkan sesuatu."
"Haah, tuh 'kan. Kau memikirkan apa sih?" Sakura membenahi posisi duduknya dan menatapku lekat.
"Er, itu... Aku memikirkan S-Shikamaru..." kataku malu.
"Hehehe, kau merindukannya? Bersabarlah, Ino. Hari Minggu akan segera datang. Dia sudah janji akan datang minggu depan 'kan?" ujar Sakura.
"Iya, aku bersabar. Tapi, minggu depan itu kapan?"
"Jangan tergesa-gesa, sabar. Dan percaya bahwa Tuhan telah menyiapkan sesuatu yang sangat indah untukmu," Sakura tersenyum lebar dan menepuk pundakku.
Aku memutar mataku bosan. "Aku tahu, aku tahu."
"Nah, sekarang sebaiknya kita tidur dan mimpi indah. Mimpikan pangeranmu tercinta itu jangan lupa," kekehnya.
"Iya, iya. Selamat tidur Saku-chan, semoga kau memimpikan pangeranmu yang menyebalkan, siapa namanya? Oh, Sasuke. Itu juga jika dia bersedia masuk ke dalam mimpimu."
"INO! Sasuke tidak menyebalkan!"
Aku mengabaikan teriakannya dan melesat masuk ke dalam rumahku. Tentu saja setelah mematikan laptopku dan membawanya di dalam pelukanku.
Selamat malam, pria berhati baik. Kuharap kau hadir di dalam mimpiku.
Hari berganti hari. Kini sudah memasuki hari Senin di minggu kedua bulan September. Aku begitu antusias menyambut minggu ini, apakah di minggu ini akan ada kejutan menyenangkan dari Shikamaru? Tapi, kapan? Shikamaru tidak memberiku kabar hari apa kami akan bertemu. Dia hanya bilang dia pasti akan menemuiku lagi. Sejak tadi pagi aku menanti-nanti dirinya memberiku kabar, dan nihil. Hatiku semakin gelisah. Aku merindukan Shikamaru Nara.
Berkali-kali aku melihat ponselku. Berharap Shikamaru memberiku pesan singkat, atau memberi kabar lewat media sosial. Kutunggu beberapa jam, hasilnya masih saja sama. Tak ada satupun pesan dari Shikamaru. Apa dia tidak memiliki pulsa? Atau kemungkinan terburuknya adalah hubunganku dengannya selesai sampai di sini sebelum kami sempat memulai apapun? Barangkali hanya aku yang terlalu berlebihan dengan perasaanku ini. Aku sudah lancang merasa bahwa Shikamaru adalah jodoh yang sebelumnya kuanggap bualan semata. Sebab, aku pernah mendengar dari desas-desus, konon katanya kau bisa meyakini itu jodohmu jika kau merasakan getaran yang aneh di dadamu. Dan, jika kau tersenyum ketika sedang memikirkannya, dialah jodoh yang Tuhan kirimkan itu. Sesuatu yang seperti ini mungkin hanya akan terjadi sekali seumur hidupku, dan sialnya aku harus mengalaminya dengan orang yang tidak memiliki perasaan apapun padaku.
Ah, tidak. Ino, kau harus optimis dan berpikiran positif! Bukankah aku sudah berjanji untuk percaya kepada Shikamaru? Percaya bahwa dia akan membuatku bahagia? Ya, mungkin saja dia bisa membuatku bahagia bukan sebagai kekasihku. Kami bisa bersahabat atau... TIDAK! Aku tidak mau hanya bersahabat dengannya. Ya, Tuhan... kenapa perasaanku kacau seperti ini, sih?
Hanya karena seorang pria bernama Shikamaru aku bisa menjadi gila, dan mendadak mellow. Aku yakin jika kutuangkan dalam bentuk tulisan, perasaanku ini akan menjadi sebuah diksi yang panjang, murahan, berlebihan, dan membuat siapapun yang membacanya terserang kejang-kejang. Er... tuh 'kan, aku berlebihan lagi.
Aku kenal Shikamaru saja belum genap sebulan. Tapi bisa-bisanya perasaan cintaku ini meleleh bagaikan mentega di atas roti bakar. Rinduku berlebihan. Penasaranku tak bisa dikendalikan. Siang dan malamku pun terusik dengan kehadiran bayangannya. Ugh, harusnya aku tak perlu menggebu-gebu, ikuti alurnya dan nikmati saja apa yang sedang dialami saat ini secara perlahan. Bukankah perasaan yang diawali dengan rasa menggebu-gebu akan berakhir membeku? Itu sih yang kudengar dari temanku yang berlaga seperi ahli filusuf ternama di negeri ini. Aku tidak percaya begitu saja, tapi kurasa ada benarnya juga. Apapun yang berlebihan memang tidak akan baik nantinya.
Kuhela napasku dalam-dalam. Akhir-akhir ini aku terlalu banyak menghela napas, ya? Padahal aku tak banyak kegiatan setelah lulus dari Universitas. Maklum, aku belum mendapatkan pekerjaan. Kebanyakan tawaran yang datang dari luar kota yang sama sekali tak dijinkan oleh kedua orangtuaku. Huft, kembali memikirkan kegalauan hatiku akan pekerjaan membuat perasaan jenuh mulai menyerangku. Ditambah sekarang waktu sudah menunjukkan pukul tujuh sore, dan itu artinya pupus sudah harapanku akan kedatangan Shikamaru hari ini ke rumahku. Mungkin dia sedang sibuk, dan akan menemuiku besok atau lusa atau hari selanjutnya, entahlah. Agak lama aku bergelut dengan pikiran-pikiran acakku, sampai akhirnya kuputuskan saja untuk menuju kamarku dan mencoba untuk tidur sejenak dan bangun saat orangtuaku pulang nanti. Sekarang aku sendirian di rumah, orangtuaku entah pergi kemana. Dan, sayangnya Sakura sudah harus pulang ke rumahnya. Barangkali setelah bangun tidur nanti pikiranku sedikit lebih segar dan tidak jenuh.
Aku mulai merebahkan tubuhku, tapi belum sempat aku terlelap, samar-samat kudengar suara pintu rumahku diketuk. Aku mengernyitkan dahiku sambil menduga-duga siapa yang datang bertamu malam-malam begini. Dengan ragu kulangkahkan kakiku menuju pintu depan. Sesekali aku merutuki sang pelaku yang berani-beraninya mengganggu acara tidurku. Dengan perlahan aku membuka pintu dan melihat siapa yang datang. Ketika kubuka pintu rumahku, seorang pria berdiri tegak di sana membelakangiku. Perlahan tubuh pria itu berpaling menghadapku.
DEG!
Seketika aku terkejut saat melihat ternyata pria itu adalah Shikamaru. Dia tersenyum dengan lebar di sana. Hey, apa yang dilakukannya?
"S-Shikamaru? Kau sedang apa di sini?" aku bertanya dengan mimik wajah yang gugup. Tentu saja. Pertanyaanku terdengar sangat bodoh. Bukankah aku seharian ini menunggu-nunggunya? Lantas, kenapa sekarang aku malah mempertanyakan kedatangannya kesini?
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," ujarnya seraya tersenyum.
Aku menggaruk belakang kepalaku yang sama sekali tidak gatal. "Ke mana? Haruskah?"
"Iya, harus. Kau akan tahu nanti."
Oh, dia mulai membuatku penasaran rupanya. Aku berpikir sejenak dan melihat penampilanku yang berantakan. Aku hanya mengenakan piyama lusuh saat ini. Betapa malunya.
"Em, kalau begitu kau bisa tunggu sebentar? Aku, sepertinya harus berganti pakaian. Kau jahat sekali, kenapa tiba-tiba datang tanpa memberitahuku sebelumnya?" ujarku kesal.
Terlihat Shikamaru terkekeh melihat ekspresiku, ya ampun. Lagi-lagi dia melihat kekonyolan dariku. Aku benar-benar memalukan! Setelah kekehannya tergantikan dengan senyum simpul, Shikamaru pun mengangguk. Tanda menyetujui perkataanku. Maka, segera saja aku melesat ke kamarku. Tak menunggu lama, karena sekitar kurang lebih lima menit kemudian aku sudah berganti pakaian dan kembali berhadapan dengan Shikamaru.
"Shikamaru, kenapa kau melihatku seperti itu? Ayo, kaubilang kita akan ke suatu tempat," kulihat Shikamaru tersenyum sambil terus memandangiku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Kuperhatikan kembali penampilanku, aku hanya memakai kaus lengan pendek yang kututupi dengan jaket dan celana jeans pensil. Sepertinya tidak ada yang sala dengan penampilanku, tapi kenapa Shikamaru melihatku dengan tatapan seperti itu?
"Um, apakah penampilanku aneh?" aku memberanikan diri bertanya padanya. Sementara Shikamaru memamerkan kembali senyum manisnya dan menatapku lekat.
"Tidak. Hanya saja, kau terlihat cantik hari ini. Aku suka," katanya.
Blush!
Kurasakan wajahku mulai memanas mendengar pujian yang baru saja diberikan oleh Shikamaru kepadaku. Aku berani bertaruh, saat ini pasti wajahku benar-benar merah seperti buah tomat. Kutundukkan kepalaku, mencoba untuk menyembunyikan rona merah di pipiku ini.
"Ah, kita pergi sekarang ya? Ayo!" ajaknya.
Kuangkat kepalaku dan menatap Shikamaru, sambil berdoa semoga warna wajahku kembali normal. Aku mengangguk dan segera mengunci pintu rumahku. Tak lupa memberitahu kepada ibuku bahwa aku akan keluar sebentar.
"Naiklah, dan jangan lupa untuk berpegangan―memelukku," Shikamaru berkata sambil terkekeh sesaat setelah dirinya ada di atas motornya.
Aku hanya menggelengkan kepalaku melihat tingkahnya. Setelah aku naik dan duduk di belakang Shikamaru, dia mulai menyalakan mesin motornya dan mengendarai motornya dengan perlahan. Tak ada pembicaraan di antara kami berdua selama beberapa detik. Shikamaru tampaknya berkonsetrasi mengendarai motornya, sedangkan aku sedari tadi hanya melamun dan berandai-andai akan ada kejadian menyenangkan malam ini.
"Kau mau mengajakku kemana? Katakan Shikamaru!
Shikamaru menoleh sekilas kepadaku sembelum kembali fokus pada jalanan di depannya. "Kubilang kau akan tahu nanti. Jika kuberitahu sekarang, namanya bukan kejutan."
"Hah, baiklah-baiklah," aku menganggukan kepalaku tiga kali mendengar penjelasannya. Heran, kenapa dia suka sekali dengan kejutan. Selalu penuh dengan teka-teki. Memangnya dia ini Shinichi Kudo apa? Detektif tampan yang digilai-gilai Sakura itu.
Tak!
Tiba-tiba di tengah perjalanan, aku mendengar suara aneh yang sepertinya berasal dari motor Shikamaru. Kusuruh Shikamaru untuk berhenti sejenak. Melihat apakah motornya baik-baik saja atau bermasalah. Setelah memastikan tak ada yang salah, Shikamaru pun kembali menyalakan motornya. Namun, lagi-lagi suara itu muncul dan membuatku resah. Aku takut ada yang tidak beres dengan motor milik Shikamaru ini. Hatiku mulai diselimuti pikiran-pikiran negatif. Dan benar saja, detik berikutnya mesin motor Shikamaru berhenti mendadak. Rantainya putus! PUTUS! Untungnya motor lain yang berada di belakang kami tidak menabrak kami.
"Shikamaruuuuu, rantainya putus," ujarku sambil menoleh ke bawah dan melihat kondisi rantai yang ternyata sudah jatuh ke permukaan tanah.
Kami pun segera turun dari motor. Lalu Shikamaru membawa motornya ke pinggir dan melihat rantainya yang putus itu, mencoba untuk menyambungkannya kembali dibantu dengan penerangan yang minim dari ponselnya.
"Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan perjalanan. Rantainya sudah parah, harus diganti," katanya.
Aku meneguk salivaku yang terasa kering. Bagaimana caranya kami pulang sekarang? Mendorong motor satu-satunya cara. Karena di sektira sini tak ada bengkel.
"Terpaksa harus kudorong motor ini. Untung saja kita belum terlalu jauh dari rumahmu, Ino," sambung Shikamaru.
Akhirnya kami pun kembali menuju rumahku dengan berjalan kaki. Shikamaru mendorong motornya, dan aku berjalan di sampingnya. Shikamaru menolak tawaranku untuk membantunya mendorong. Malas berdebat dengannya yang sudah tahu hasilnya apa, maka aku dengan enggan menuruti perkataannya. Kasihan juga melihatnya yang mendorong motor seperti itu. Pasti berat dan sangat melelahkan.
"Kau pasti lelah, 'kan? Biar kubantu ya?"
"Tidak usah, maaf ya, Ino. Harusnya tidak seperti ini, motorku sudah lama tidak pernah kupakai, jadi seperti ini akibatnya," ujar Shikamaru.
Wajah Shikamaru benar-benar terlihat tidak enak, sedih, dan kecewa. Jujur saja aku ini tidak suka jalan kaki jauh-jauh seperti ini. Tapi entah kenapa, sekarang yang aku rasakan adalah rasa senang, bukan rasa kesal karena harus berjalan kaki malam-malam begini. Aku berusaha menghibur Shikamaru dengan terus bercerita apa saja sepanjang perjalanan sambil sesekali ikut mendorong motornya dari belakang. Ya, tapi kurasa aku tak cukup membantunya juga sih. Motornya berat sekali, sungguh.
"Ino, sekali lagi maaf," Shikamaru kembali meminta maaf kepadaku saat aku dan dia hampir sampai di rumahku. Kami berhenti sejenak saat ini.
Aku tersenyum padanya dan menggeleng cepat. "Tidak apa-apa, jangan meminta maaf terus. Justru ini romantis. Malam-malam berdua mendorong motor, hehehe. Jarang-jarang ada yang mengalami kejadian seperti ini, 'kan?" kataku.
"Romantis? Yang seperti ini? Dasar aneh," balasnya sambil ikut tersenyum kepadaku.
"Sudah ayo lanjutkan perjalanan, sebentar lagi sampai rumahku. Nanti kita pikirkan apa yang harus kita lakukan ketika sampai di rumahku, semangat Shikamaru!"
Shikamaru terkekeh dan kami pun kembali mendorong motornya.
.
.
"Hah, lelahnya. Badanku pegal-pegal, Ino," Shikamaru mengeluh saat kami sudah sampai di depan rumahku. Dia merenggangkan otot-otot tangannya.
"Kau mau kupijat?" tawarku.
"Memangnya kau bisa memijat?"
Aku berdeham dan tersenyum kecil. "Tidak bisa, sih. Hehehe..."
"Dasar..."
Jeda sejenak. Keheningan mulai menyelimuti kami berdua. Aku bergerak gelisah dalam pijakanku. Mataku bergulir ke kiri, kanan, atas, dan bawah. Hatiku mulai khawatir akan apa yang selanjutnya dikatakan oleh Shikamaru. Aku mulai bertanya-tanya kembali, kenapa Shikamaru mengajakku keluar? Apakah ada yang ingin disampaikannya kepadaku?
Tiba-tiba saja Shikamaru meraih kedua tanganku. Menggenggamnya dengan erat dan lembut. Mata hitamnya menatapku dengan dalam, seolah ada pusaran besar yang menyedotku ke dalamnya dan tak bisa lepas dari sana. Kurasakan keringat dingin mulai menetes dari pelipisku saat kulihat mulut Shikamaru mulai terbuka. Ada yang ingin dikatakannya, aku yakin. Tapi, apa? Apakah sekarang waktunya? Maksudku, apakah sekarang Shikamaru akan menyatakan perasaannya padaku? Uh, aku mulai berkhayal lagi sekarang! Jangan merasa percaya diri dulu, Ino.
"Shikamaru? Kau kenapa?" tanyaku padanya yang mulai merasa tidak nyaman dengan keadaan seperti ini.
"Ino, sebenarnya aku ke sini karena aku ingin menyampaikan sesuatu padamu."
"Apa itu?" jantungku mulai berdetak tak karuan sekarang.
"Sebenarnya aku sedang dekat dengan seseorang sekarang," eh? Apa katanya? Seseorang? Siapa? Lalu, apa hubungannya denganku? Kenapa Shikamaru? Jadi maksudmu mendekatiku itu apa jika ternyata kau sedang dekat dengan wanita lain.
"L-Lalu?"
"Apa menurutmu seseorang itu juga memikirkanku? Karena aku ingin dia menjadi orang paling spesial di hidupku," ujarnya kemudian.
Entah kenapa aku merasakan pelupuk mataku memanas, pandanganku menjadi buram, aku yakin sekarang mataku ini mulai berkaca-kaca dan sepertinya sebentar lagi aku akan menangis. Astaga! Untuk apa aku menangis?
"Mmh, kau tanyakan saja sendiri pada orang yang bersangkutan. Tapi... kurasa orang itu juga memiliki perasaan yang sama denganmu, berjuanglah."
Ino, kau kuat! Jangan menangis, kumohon. Untuk kali ini saja, jangan menangis. Setidaknya jangan di depan Shikamaru.
"Benarkah? Kenapa kau seperti ingin menangis?" Shikamaru tertawa kecil, lalu menjepit hidungku dengan tangan kanannya, "kau tahu, siapa orang itu?" katanya.
Aku melepaskan tangannya dari hidungku dan menatapnya kesal, "mana aku tahu!" ketusku padanya dan memalingkan wajahku darinya.
"Kau,"
Aku kembali menoleh padanya dan menatapnya bingung. "Maksudmu?"
"Iya, orang itu adalah kau. Ino Yamanaka. Aku ingin kau menjadi wanita spesial dalam hidupku, kau mau?" tanyanya dengan penuh keyakinan sambil meraih kembali tanganku dan memberi kecupan lembut di sana.
"Mungkin bagimu ini terlalu cepat, tapi aku sudah lama memiliki perasaan kepadamu. Sejak dulu aku selalu memerhatikanmu, tapi aku baru memiliki kesempatan sekarang untuk mendekatimu. Jadi, bagaimana? Kau mau jadi seseorang itu?" sambungnya.
Apa katanya? Pria yang kucintai, ternyata mencintaiku juga? Dan, oh apa maksudnya Tuhan? Shikamaru mencintaiku sudah lama? Sejak kapan? Kenapa aku tidak menyadarinya? Tidak bisa kupercaya. Pria tampan idaman seluruh wanita cantik di jagad raya ini (oke ini berlebihan, Ino) kini berdiri di hadapanku dengan senyum tulusnya, menggenggam tanganku dan mengatakan, dia mencintaiku.
Tolong aku, siapa pun katakan ini bukan hanya mimpi semata. Ini sungguhan. Rasanya aku ingin berteriak sekarang juga. Sungguh, aku ingin berteriak sekencang-kencangnya. Karena ternyata aku dan Shikamaru memiliki perasaan yang sama.
"Ino?"
"Ya, aku mau," jawabku tegas.
Eh?
Aku baru saja berkata 'ya'? Tuhan...
"Sungguh?" tanya Shikamaru tak yakin.
"Apa aku terlihat sedang bercanda saat ini? Shikamaru?" kataku dengan nada kesal, lalu menambahkan senyum tipis sebagai tanda rasa tulus dariku kepadanya.
"Jadi? Sekarang, kau adalah seorang yang spesial di hidupku. Dan, aku juga berharap sebaliknya."
Aku menggangguk dan tertawa. "Iya, tentu saja. Tapi, kau tidak menganggap bahwa ini hanya sebuah pelampiasan 'kan? Aku khawatir kau mengira aku wanita seperti itu."
"Tidak, aku percaya padamu. I love you, Ino Yamanaka," Shikamaru kembali memberikan kecupan ringan di tanganku.
"I love you too, Shikamaru Nara."
Kau tahu, Shikamaru? Jatuh cinta padamu itu adalah sebuah anugerah. Aku bahagia bisa mengenalmu dan diberi kesempatan merasakan perasaan ini. Rasanya seperti tubuhku jatuh ke dalam jurang yang penuh dengan ribuan bunga-bunga indah.
.
.
"Ngomong-ngomong, bagaimana nasib motorku ini, ya?" ujar Shikamaru setelah tercipta keheningan beberapa detik di antara kami berdua.
Oh, tidak. Kami melupakan satu hal. Masih ada masalah serius rupanya. Gara-gara terbawa suasana, kami sampai melupakan rantai motor milik Shikamaru yang putus itu.
"Ah, tadi aku sudah menghubungi ibuku. Ibu bilang, ada orang yang bekerja di bengkel. Siapa tahu saja, dia bisa memperbaiki rantai motormu."
"Hm, kuharap begitu. Bisa repot jika motorku tidak beres malam ini, bagaimana bisa aku pulang nanti," ujar Shikamaru lemah.
Aku dan Shikamaru masih di berdiri di depan rumahku beberapa saat. Sampai akhirnya sepuluh menit kemudian, kedua orangtuaku kembali ke rumah. Tak lupa juga paman Kakashi―seseorang yang bekerja di bengkel itu―datang ke rumahku untuk melihat motor Shikamaru.
"Kau harus mengganti rantainya, sudah tidak bisa disambung, rantainya sudah sangat kering. Sepertinya kurang oli, makanya bisa putus seperti ini," jelas paman Kakashi setelah melihat kondisi rantai motor.
Shikamaru mengangguk lemah.
"Sebaiknya kau membeli rantai baru di toko onderdil, itu pun jika masih ada yang buka. Ini sudah larut malam," sambung paman Kakashi.
"Apa di supermarket ada?" tanyaku padanya.
"Coba saja, biasanya di sana juga menjual yang seperti itu."
.
.
Baiklah, sudah diputuskan. Aku dan Shikamaru pergi mencari rantai motor dengan menggunakan motorku. Namun, ternyata toko onderdil sudah tutup dan di supermarket pun tidak ada yang menjual rantai untuk motor Shikamaru.
"Bagaimana?" tanyaku padanya.
Shikamaru tampak berpikir sejenak. "Di rumahku ada rantai cadangan, kita ke rumahku sekarang."
"Ke rumahmu? Sekarang?"
Shikamaru mengangguk. "Iya, aku tidak bisa pulang jika rantai motorku masih seperti itu, 'kan?"
"T-Tunggu dulu, tapi aku malu bertemu keluargamu."
"Kau ini... Kenapa harus malu? Sudah, ayo. Kita bertemu calon mertua," candanya.
"Ahh, Shikamaru! Aku tidak mau..."
Tapi percuma, rengekanku tak didengar olehnya. Sekarang yang harus kulakukan adalah menyiapkan mental untuk bertemu dengan orangtua Shikamaru. Kenapa hari ini diisi dengan hal-hal yang aneh dan membuatku kacau? Tapi, kejadian hari ini adalah satu dari banyak momen indah yang kumiliki bersama Shikamaru. Siapa yang tahu, setelah aku mengunjungi rumahnya banyak kejutan-kejutan kecil yang sudah Tuhan siapkan.
.
.
Tbc
Aku balik lagi :'D dan belum nyampe ending ya -_-
Ternyata jadinya threeshoot, kalo dibuat 2 masih tetep kepanjangan T_T ntar yang baca malah ngantuk :'|
Makasih buat yg udah ngereview sebelumnya :'D
Harusnya ini segera ditamatkan, tapi maaf lagi-lagi masih belum *lirik seseorang* XDDDDD tapi tenang aja, bakalan aku beresin ko :'D
