Disclaimer: Kuroko no Basuke bukan milikku, tapi milik Fujimaki Tadatoshi

Warning: Slash, AU, OOC, typo, etc

Rating: T

Genre: Adventure, Supernatural, Drama


THE EMPEROR

By

Sky


"Seijuurou, meski Okaa-sama sudah tidak ada di sini untuk melindungimu atau membimbingmu secara fisik lagi, tapi jangan pernah lupakan kalau Okaa-sama selalu ada di sampingmu. Okaa-sama sangat menyayangimu sampai kapan pun."

Bisikan lembut dari suara bayang masa lalu itu membuat Seijuurou membuka kedua kelopak matanya yang tengah terpejam untuk beberapa saat lamanya. Suara ibunya lagi-lagi menggema dalam otaknya, bahkan sejak ibunya meninggal kata-kata yang sering terlontar tersebut tidak pernah pupus dalam benak remaja berambut merah menyala itu. Kalimat yang lembut dan mengandung banyak makna, tidak pernah gagal untuk membimbingnya meski secara rahasia dan tanpa ia sadari. Banyak orang tidak pernah tahu akan bagaimana hubungan dirinya dengan mendiang ibunya, mereka menyangka kalau perasaan dingin yang menurun di dalam darah keluarga Akashi akan Seijuurou perlihatkan ketika berhadapan dengan ibunya. Namun semuanya salah, itu salah besar. Seijuurou sangat menyayangi wanita itu melebihi apapun meski ia tidak pernah menunjukkannya dengan kalimat, dan dari semua anggota keluarganya hanya ibunya lah yang sangat dekat dengan anak itu. Sehingga kematian mendadak ibunya membuat perasaan anak itu terpukul, rasanya seperti kehilangan dan sedikit pengkhianatan dalam benaknya. Ibunya pernah mengatakan kalau ia tidak akan pernah meninggalkan sisi Seijuurou meski itu adalah sedetik pun, tapi pada kenyataannya janji tersebut hanyalah bualan belaka. Pada akhirnya Seijuurou ditinggalkan sendiri, rasanya sakit dan seolah-olah hatinya pecah menjadi kepingan kaca yang tidak terhitung banyaknya, rasa sakit itu pun akhirnya membuat hatinya semakin beku lebih dari sebelumnya dan pada akhirnya ia pun menutup dirinya dari orang lain. Sejak detik itu pula Seijuurou tidak pernah membuka hatinya kepada siapapun.

Ia menghela nafas dalam-dalam sebelum membenarkan posisi tubuhnya, membuatnya senyaman mungkin di tempat duduknya di dalam kereta senja itu. Iya, saat ini Akashi Seijuurou tengah berada di dalam kereta malam yang akan membawanya ke Tokyo, perjalanan yang ia tempuh sejak beberapa jam yang lalu. Di dalam usahanya untuk menghilangkan rasa kantuknya tersebut, Seijuurou mencoba untuk mengulang apa yang ia bicarakan dengan sang ayah setelah Akihiko memberitahunya kalau ia memiliki seorang tunangan, dan itu sangat mengejutkan, bahkan bagi orang seperti Seijuurou yang terkenal tidak suka menampakkan emosi sedikitpun, meski itu di hadapan sang ayah.

Mungkin bagi Seijuurou yang terlahir di dalam keluarga Akashi, sebuah keluarga yang kata orang memiliki harga diri tinggi dan minim emosi, memiliki seorang tunangan yang nantinya akan menjadi pendamping hidupnya kelak bukanlah hal yang mengejutkan lagi, bahkan jauh sebelum ini Seijuurou sudah memprediksikannya. Tapi yang membuatnya terkejut bukan main adalah ia tidak pernah menduga kalau tunangannya itu seorang laki-laki, bukankah itu illegal? Seijuurou lagi-lagi tidak tahu apa yang dipikirkan oleh sang ayah, dan ia tidak menyukai hal tersebut. Baginya, tidak mengetahui akan suatu hal yang nantinya merupakan masa depannya adalah kesalahan terbesar, sebuah bentuk kekalahan secara tidak langsung. Semua orang tahu kalau Akashi Seijuurou tidak menyukai kekalahan karena kemenangan adalah segala-galanya bagi remaja itu.

Sebenarnya Seijuurou tidak masalah kalau sang pendampingnya adalah laki-laki atau perempuan, bahkan ia tidak peduli dengan itu, namun ia masih tidak mengerti dengan jalan pikiran kedua orangtuanya. Ya… kedua orangtua, dalam artian adalah ayah dan ibunya. Akihiko mengatakan kalau ibunya juga terlibat dengan hal pertunangan ini, bahkan menurut ayahnya bahwa sang ibu-lah yang menentukan kalau Kuroko Tetsuya, nama anak dalam foto itu, adalah satu-satunya orang yang layak menjadi pendamping Seijuurou kelak. Sepertinya benang merah takdir lagi-lagi jari Seijuurou pada hal-hal yang ada di luar nalar.

"Carilah anak itu, Seijuurou, aku tidak akan menerima kata 'tidak' sebagai jawabanmu. Kau kuberi waktu tiga tahun untuk mengenal Kuroko Tetsuya sebelum kembali ke Kyoto, dengannya ataupun tidak."

Alis Seijuurou berkedut sebal ketika kalimat perintah sang ayah terlintas begitu saja di dalam pikirannya. Kalimat itu terulang-ulang lagi seperti layaknya kaset rekaman yang rusak namun tidak bisa berhenti untuk bersuara, mungkin ini adalah karma yang ia terima akan apa yang ia lakukan di masa lalu. Kedutan itu semakin menjadi-jadi ketika ia memikirkan takdir dan segalanya, remaja itu mengusir pikiran aneh tersebut jauh-jauh dari dirinya. Seijuurou tidak percaya dengan hal-hal berbau takdir atau ulasan bodoh seperti itu, kalimat bodoh tersebut pasti muncul karena dirinya terlalu lelah untuk memikirkan hal yang lain. Ia bukan Midorima Shintarou yang hobinya percaya dengan lelucon seperti takdir, tidak.. Seijuurou tidak percaya takdir karena dia yakin hanya dirinyalah yang bisa menentukan jalan hidupnya sendiri, terlebih lagi Akashi Seijuurou itu absolute yang tidak bisa ditentang. Layaknya dengan kode namanya, Seijuurou adalah seorang Emperor.

"Ya, dan aku tidak akan memikirkan kalimat Otou-sama lagi." Sahutnya kecil pada dirinya sendiri.

Tangan kanan Seijuurou mengambil sesuatu dari dalam tas punggungnya yang saat ini tergeletak di samping tempat duduknya, benda yang diambil remaja itu adalah foto tunangannya. Kedua mata heterokromnya mengamati anak yang ada di dalam foto tersebut dengan seksama, harus ia akui kalau anak itu sangat manis, bahkan untuk ukuran anak laki-laki Kuroko Tetsuya ini sangat manis. Seijuurou bisa mengatakan kalau Tetsuya ini lebih manis dari anak perempuan sekalipun. Jari-jarinya membelai foto itu untuk beberapa saat, meresakan tekstur lembut dari permukaan foto tersebut, tapi sekalipun ia melakukan hal itu ekspresi Seijuurou sama sekali tidak berubah, masih tetap membeku seperti es abadi yang ada di kutub utara.

"Kuroko Tetsuya, aku akan melihat orang seperti apa dirimu ini." Gumam Seijuurou perlahan, ulasan senyum yang samar pun mulai terukir di bibirnya, namun ulasan tersebut langsung menghilang begitu saja.

Tapi, keputusan Okaa-sama untuk memberiku sebuah tunangan sangat mencurigakan. Okaa-sama tahu kalau Tetsuya ini tidak akan aman bila bersamaku, seorang hunter tidak bisa bersama dengan orang lain. Pikir Seijuurou lagi-lagi.

Anak itu mengacak rambut kemerahannya dengan perlahan, merasakan tanda tanya besar yang tidak semestinya ia rasakan dalam hidupnya. Ia hampir lupa dengan statusnya sebagai hunter, seorang manusia (atau mungkin bukan manusia) yang memiliki kekuatan supernatural, dan mereka yang tergolong dalam kategori ini biasanya menjadi incaran dari makhluk-makhluk liar yang haus akan jiwa manusia. Meskipun Seijuurou telah menghilang dari peredaran dunia supernatural dan mereka yang mengetahui hunter dengan kode Emperor telah tewas, tapi tetap saja remaja itu tidak bisa tenang. Cepat atau lambat keberadaannya akan diketahui oleh 'mereka'. Mata Emperor Seijuurou tiba-tiba berkilat berbahaya, tidak hanya para makhluk liar itu, tapi juga 'mereka'.

"Ini menyebalkan." Gumamnya lirih, ia hampir melupakan fakta kalau dirinya adalah orang yang paling dicari-cari oleh anggota 'mereka' yang tersisa semenjak dirinya menantang 'mereka' dalam permainan maut dua tahun yang lalu, dan tindakannya dalam perang terakhir dengan membunuh pemimpin 'mereka' tentu semakin memperparah statusnya.

Mau tidak mau aku harus mengumpulkan mereka, pikir Seijuurou lagi. Remaja itu memasukkan foto Tetsuya ke dalam jurnal hitamnya sebelum mengembalikannya ke dalam tas ranselnya. Dalam hitungan detik setelah ia selesai melakukannya, Seijuurou langsung mengeluarkan ponsel berwarna merahnya dari dalam saku celananya. Dibukanya ponsel itu sebelum jari-jarinya memencet menu kontak dan mencari nomor telepon orang yang sangat ia kenal.

Puas dengan apa yang ia cari, Seijuurou menekan tombol "panggil" dan mendekatkan ponselnya pada telinganya. Tidak lebih dari sepuluh detik ia menunggu, orang yang dipanggilnya itu mengangkat teleponnya.

"Shintarou." Kata Seijuurou lugas, bahkan ia tidak mengucapkan selamat malam atau permintaan maaf karena telah mengganggu waktu istirahat orang yang diteleponnya tersebut. Seijuurou baru tahu kalau malam sudah sangat larut dan biasanya orang-orang sudah berada di tempat tidur mereka pada jam-jam seperti ini.

Lenggang, tidak ada jawaban dari seberang untuk sementara. Bibir Seijuuro membentuk sebuah seringai tipis, ia tahu kalau Shintarou masih berada di sana dan sepertinya keterkejutannya mendengar suara Seijuurou membuatnya membatu untuk beberapa saat. Kelihatannya Shintarou membutuhkan waktu agar otaknya bisa mencerna suara Seijuurou.

"Akashi." Terdengar suara desahan nafas dari seberang sebelum sang penerima telepon melanjutkan kalimatnya. "Sudah dua tahun aku tidak mendengar bagaimana kabarmu, dan tiba-tiba kau meneleponku pada jam-jam seperti ini. Langsung saja, apa maumu?"

Seijuurou tertawa kecil nan sinis begitu mendengar jawaban dari Shintarou, tangan kanannya itu memang seorang yang tsundere dan tidak pernah mau jujur dengan hatinya sendiri. Mungkin kalimat itu terdengar ketus, tapi Seijuurou tahu kalau Shintarou khawatir dengan keadaannya. Atau mungkin malah merindukannya, pikir Seijuurou dengan seringai yang masih bertengger di bibirnya.

"Aku ingin bertemu denganmu dan yang lainnya. Reuni kita berlima untuk yang pertama kalinya dalam dua tahun ini." Balas Seijuurou, suaranya terdengar kalem namun dingin pada saat yang sama. Kalimat yang Seijuurou utarakan memiliki makna: Hubungi yang lainnya karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kalian.

"A-apa? Aka…"

"Aku akan menghubungimu lagi, Shintarou." Kata Seijuurou yang sukses memotong kalimat Shintarou sebelum ia memutuskan hubungan telepon mereka berdua.

Untuk sesaat Seijuurou menatap layar ponselnya yang tidak memiliki gambar sedikitpun sebagai temanya, hanya kosong dan gelap, sangat mirip dengan kepribadian pemiliknya. Remaja itu mengalihkan pandangannya ke arah jendela kereta yang membawanya dari Kyoto menuju Tokyo. Bulan merah yang ia lihat tiga hari yang lalu sudah tidak terlihat lagi karena tergantikan dengan bulan purnama biasa, hanya berwarna kuning dan berpendar putih. Sangat membosankan, itulah yang terlintas di benak Seijuurou setelah memperhatikan pemandangan luar.

Meski membosankan sekalipun, tidak pernah ia mengalihkan pandangannya dari bulan tersebut, entah kenapa pemandangan yang lenggang dan sepi tersebut menarik perhatiannya secara tidak sadar. Mata heterokromnya yang tersembunyi di balik kacamata tipisnya itu tiba-tiba menyipit ketika ia melihat awan gelap menyelimuti bulan purnama, perasaannya tidak enak dan sepertinya akan terjadi sesuatu yang tidak terduga. Remaja itu memasukkan ponselnya lagi ke dalam saku celananya, meski ia bersikap sangat tenang tapi tidak dipungkiri kalau otaknya tengah bekerja keras, seperti mencari apa yang salah dengan hal ini.

Belum sampai dua menit otaknya bekerja, kedua matanya menangkap sekelebat bayangan hitam dari luar kereta api dengan diiringi selubung kabut dengan warna senada, kabut tersebut secara perlahan menyelimuti kereta api, merubah suasana yang terasa nyaman menjadi mencekam. Suasana yang memang sudah sepi di dalam kereta (dikarenakan penumpangnya tengah tertidur pulas) menjadi lebih sepi lagi, hewan-hewan kecil tidak mengeluarkan suaranya lagi, apalagi ditambah sensasi dingin yang menusuk kulit. Seijuurou menoleh sedikit, hal ini tidak wajar untuk dirasakan pada lingkungan yang normal.

Kereta yang ditumpangi oleh Seijuuro tiba-tiba bergoncang hebat dan membuat beberapa penumpang yang tadinya tertidur terlempar dari tempat duduknya, bahkan seumpamanya remaja itu tidak berpegangan dengan kuat pada tiang di samping tempat duduknya pasti ia sudah bernasib sama dengan penumpang lainnya. Suara panik dan teriakan mulai ia dengar dari mereka yang ketakutan dengan diiringi derapan langkah kaki penumpang, mereka mencoba untuk menyelamatkan diri dan aura ketakutan yang menyelimuti kereta api tersebut semakin parah. Para penumpang lainnya panik sebab mereka mengira kereta api yang mereka tumpangi tengah mengalami kecelakaan.

Lagi-lagi Seijuurou menghela nafas dalam-dalam, ia tidak ingin berurusan dengan semua ini lagi. Yang ia inginkan sekarang adalah sampai di Tokyo dan beristirahat di dalam manornya di tempat itu, ia tidak ingin berurusan dengan makhluk liar yang tengah mencari mangsa dan terlebih lagi Seijuurou tidak ingin berurusan dengan 'mereka', tidakkah mereka tahu kalau Seijuurou ingin bebas dari dunia supernatural meski itu hanya sedetik. Tapi sayangnya harapan anak itu harus tertunda untuk beberapa waktu lamanya, ia harus mengurus semua ini dulu bila ia ingin sampai ke Tokyo dengan tepat waktu, semua orang tahu kalau seorang Akashi Seijuurou tidak menyukai sesuatu yang membuat rencananya tertunda, dan apapun yang membuat rencananya berantakan harus menerima bayaran yang sangat menyakitkan, tidak peduli apakah itu musuh atau rekan. Seijuurou mengenakan topi berwarna hitam yang tergeletak di sampingnya, menutupi vibrant merah warna rambutnya sehingga orang-orang tidak akan mengetahui kalau itu adalah dirinya.

Dengan mengambil tas ransel kecilnya, Seijuurou mulai beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan terus menyusuri gerbong kereta untuk mencari 'korban'-nya, siapapun itu mereka akan menyesal telah berurusan dengan seorang Emperor bernama Seijuurou.


Kediaman Keluarga Midorima

Midorima Shintarou menatap telepon genggamnya yang berwarna senada dengan warna rambutnya untuk beberapa saat, ia merasakan dunianya berputar begitu cepat. Sudah dua tahun ia tidak mendengar suara penuh perintah dari orang itu, dan ia pikir semuanya telah berakhir dengan berakhirnya peperangan antara Generation of Miracles dengan Black Lily di mana hal itu dimenangkan oleh Generation of Miracles, tapi dugaan Midorima salah. Tidak lebih dari dua menit berlalu setelah Midorima menerima telepon dari Akashi, sebuah kenyataan mulai menghampiri dirinya lagi, hidupnya sebagai anak laki-laki normal berusia 13 tahun telah berakhir, saatnya ia harus menghadapi kenyataan kalau kehidupannya sebagai salah satu dari anggota GOM (Generation of Miracles) dan tangan kanan Akashi kembali lagi.

"Jadi ini yang Oha-Asa katakan kalau peruntungan Cancer berada di tingkat paling bawah, di mana para Cancer akan mendapatkan berita buruk namun juga baik." Midorima melepaskan genggamannya dari ponsel kecilnya, ia pun terduduk di atas tempat tidurnya.

Rasanya ia ingin mengingkari kalau semua ini pernah terjadi, tapi ia tidak bisa membuat dirinya begitu, kenyataan adalah kenyataan dan itu tidak bisa ditentang. Dua tahun telah berlalu, dan para anggota GOM lainnya tidak pernah bertemu lagi semenjak mereka menentukan jalan masing-masing. Bahkan Kise dan Aomine yang tinggal di Tokyo pun tidak pernah saling berhubungan lagi, apalagi dirinya yang notabene adalah seorang tsundere. Ya… mungkin reuni anggota GOM ini tidak buruk juga.

Kedua mata emerald Midorima yang tersembunyi di balik kacamata tipisnya tiba-tiba terbelalak lebar, "Tunggu, meskipun aku setuju dengan rencana Akashi, bukan berarti aku merindukan mereka!" Elak Midorima.

Tanpa melepaskan kacamata yang masih ia kenakan, Midorima membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya, ia menghela nafas dalam-dalam untuk melepaskan penat yang ia rasakan seusai menerima telepon dari sang pemimpin. Memikirkan tentang dunia supernatural dan makhuk liar yang memangsa jiwa manusia benar-benar membuat kepalanya pusing, sampai sekarang pun Midorima masih tidak percaya kalau dirinya adalah bagian dari sebuah grup hunter terkuat yang bernama Generation of Miracles.

Dunia ini terbagi menjadi dua macam, yaitu dunia di mana para makhluk supernatural hidup dan dunia di mana manusia pada umumnya tinggal. Kedua dunia itu saling tertutup antara satu sama lain, namun tidak dimungkinkan kalau di antara keduanya tidak ada penghubungnya, tidak… di antara dunia supernatural dengan dunia manusia terdapat jembatan dan celah yang menghubungkan keduanya. Para makhluk supernatural membutuhkan manusia untuk hidup, lebih tepatnya mereka membutuhkan jiwa manusia untuk bisa bertahan hidup, sehingga mereka tidak memiliki pilihan selain memangsa manusia untuk dijadikan makanan. Banyak korban yang berjatuhan dan apabila semua ini dibiarkan begitu saja, maka lama kelamaan ras manusia akan menipis sebelum sebuah kekacauan terjadi. Untuk itu lahirlah hunter diantara para manusia itu sendiri.

Hunter adalah manusia yang memiliki kekuatan khusus yang bertugas untuk memburu para makhluk supernatural yang tidak terkontrol lagi, jumlah mereka tidak banyak namun kemampuan mereka sangat hebat. Para hunter telah dilatih sejak kecil, sehingga kemampuan yang mereka miliki bisa berkembang sejak dini sementara elemen yang mereka kendalikan bisa menjadi lebih kuat. Berbicara mengenai elemen, tidak semua hunter bisa menguasai hal ini, hanya beberapa hunter yang terpilih memiliki kemampuan khusus seperti ini. Tiga tahun yang lalu, sebuah kelompok yang berisikan lima orang hunter dengan usia tidak lebih dari 10 tahun terbentuk, mereka sangat berbakat dengan kemampuan mereka sendiri dan setiap individunya mampu mengendalikan elemen tersembunyi dalam tubuh mereka. Kelompok ini sangat kuat meski usia mereka rata-rata masih muda, dan baik para hunter lainnya maupun para makhluk supernatural menyebut kelompok ini sebagai Generation of Miracles.

Akashi dan Midorima adalah dua dari lima hunter yang menjadi bagian GOM, di mana Akashi merupakan pemimpin mereka sementara Midorima adalah tangan kanannya. Di samping mereka berdua, ada lagi tiga orang lainnya yang Midorima tidak ingin sebutkan namanya.

"Aku pikir aku akan bisa masuk sekolah menengah pertama dengan tenang, tapi nyatanya malah sebaliknya nanodayo. Ini sangat menyebalkan." Gumam Midorima.

Perlahan tangan kirinya meraba ranjangnya untuk mencari ponsel yang ia letakkan di sampingnya begitu saja, ketika tangannya berhasil menemukan benda itu ia langsung menariknya dan menekan tombol untuk membuka kuncinya. Memijat pelipisnya perlahan untuk melepaskan rasa pusing yang ia derita, Midorima pun mengirimkan e-mail singkat kepada anggota GOM lainnya. Meski Akashi tidak menyuruhnya untuk menghubungi ketiga anggota GOM lainnya, tapi Midorima yang dikenal sebagai orang terpintar kedua setelah Akashi bisa menafsirkan apa yang diinginkan pemimpinnya, ia memerintah Midorima untuk menghubungi anggota GOM lainnya.

"Nanodayo, sebenarnya apa yang diinginkan Akashi!" Dengan kesal ia mengutarakan kalimat itu sambil menekan e-mail singkat untuk Murasakibara, Kise, dan Aomine. "Aku pikir Black Lily sudah musnah tak bersisa, ini tidak ada gunanya."


Kuroko Tetsuya adalah remaja yang unik. Ia memiliki rambut pendek berwarna biru muda dengan sepasang mata bulat berwarna senada yang selalu terlihat innocent dan datar, Kuroko juga memiliki tubuh yang sangat kecil, lebih kecil dari anak laki-laki seumurannya, mungkin hal ini dikarenakan Kuroko lahir secara premature ketika ia masih bayi. Mungkin ada yang bertanya mengapa ia sangat unik, jawabannya sangat singkat yaitu hawa keberadaan Kuroko yang sangat tipis.

Entah mengapa demikian, tapi sejak kecil Kuroko selalu memiliki hawa keberadaan yang sangat tipis, bahkan ketika ia berdiri di hadapan orang pun mereka tidak akan mengetahui keberadaannya di sana kalau remaja itu tidak mengatakannya. Ketika ia masih kecil, kondisinya ini sukses membuatnya sedih, ia tidak memiliki banyak teman (bahkan nyaris tidak punya). Seiring berjalannya waktu Kuroko mulai terbiasa dengan semua ini, mungkin keberadaannya yang tipis tersebut adalah bagian dari hidupnya yang entah ia sendiri tidak tahu harus menganggapnya sebagai hadiah atau malah sebagai kutukan.

Remaja berparas manis namun lugu itu mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, mengusir rasa kantuk yang mulai hinggap pada tubuh kecilnya, ia harus tetap terjaga selama perjalanan ini. Meski neneknya menyuruh Kuroko untuk tidur bila ia mengantuk, tapi remaja bertubuh mungil itu tidak bisa melakukan hal itu, mereka berdua tidak sedang berada di rumah dan saat ini mereka tengah berada di dalam kereta api yang melaju dari Kyoto menuju Tokyo, dan tertidur di dalam kereta pada saat seperti ini sangat berbahaya.

Bibir mungil Kuroko membentuk sebuah senyum, senyuman kecil itu menghiasi wajah datar yang selalu ia perlihatkan kepada siapapun. Hari ini adalah tepat di mana kedua orangtua Kuroko meninggal dalam sebuah kecelakaan maut tiga tahun yang lalu, ia dan neneknya pun memutuskan untuk mengunjungi makam kedua orangtua Kuroko yang berada di daerah Kyoto. Selama seharian penuh Kuroko duduk di depan makam mereka, menatap dan mengenang semua memori indahnya ketika mereka masih hidup, ia sangat merindukan mereka berdua dan andaikata Tuhan memberi kesempatan padanya untuk bisa melihat mereka, Kuroko akan menggunakan kesempatan itu sebaik mungkin meskipun itu hanya sebuah mimpi di mana dirinya adalah pemeran utama di dalam mimpi itu.

"Tetsuya-kun, kau tidak mengantuk?" tanya nenek Kuroko yang menyadari kalau sang cucu masih terjaga.

Remaja berambut biru langit tersebut menaikkan dagunya untuk menatap sang nenek, dari posisinya itu Kuroko bisa melihat ekspresi tulus dan penuh kasih sayang dari sang nenek yang ditunjukkan pada Kuroko.

"Masih belum." Jawab Kuroko singkat namun sangat sopan, membuat senyum neneknya mengembang.

"Kenapa belum? Ada yang mengganggu pikiran Tetsuya-kun?" Sang nenek bertanya lagi.

Lagi-lagi Kuroko menggeleng, "Tidak ada, Nek. Sebaiknya Nenek tidur dulu saja, biarkan aku yang berjaga di sini." Jawab Kuroko lembut, meski wajahnya minim akan ekspresi tapi ketulusannya yang terpancar pada kedua bola mata secerah langit tersebut membuat sang nenek tersenyum kecil.

Dielusnya rambut Kuroko dengan lembut sebelum memberikan kecupan kecil di keningnya. Sang nenek berpikir betapa beruntungnya dia karena Tuhan telah menganugerahi cucu yang sangat baik seperti Kuroko, meskipun banyak cobaan yang terjadi pada anak ini tapi sang nenek bisa melihat ketegaran Kuroko yang selalu ditunjukkan dari sikapnya tersebut. Merasa gembira namun lelah yang melanda, akhirnya sang wanita berusia senja tersebut memejamkan kedua kelopak matanya. Sebenarnya ia tidak ingin membiarkan anak sekecil Kuroko untuk berjaga seorang diri, namun karena kondisi kesehatan sang nenek yang saat itu memang kurang baik tidak memberinya pilihan lain, untuk beberapa saat sang nenek mulai tertidur sebelum pikirannya melayang ke dunia mimpi yang indah.

"Selama malam, nenek." Ujar Kuroko dengan lembut, seulas senyum kecil di bibirnya terkembang kecil di wajah minim ekspresinya tersebut. Ia tahu kalau sang nenek tengah kelelahan, oleh karena itu Kuroko menyuruh neneknya dengan lembut untuk tidur saja.

Sebenarnya Kuroko juga merasakan lelah dan tidak sekali dua kali kelopak matanya ikut terpejam, tapi tanggung jawab yang tadi diucapkan oleh anak itu membuatnya terjaga. Suasana kereta api sangat lenggang, terlalu lenggang sampai-sampai bulu kuduk Kuroko berdiri secara tidak teratur. Kuroko mengelus-elus kedua lengannya sendiri, mencoba untuk menenangkan degup jantung yang semakin lama berirama dengan begitu cepat. Kuroko merasa ada sesuatu yang tidak beres di tempat ini, namun ia tidak tahu apa itu, Kuroko hanya bisa berharap apapun itu bisa segera berlalu.

Sekelebat bayangan hitam tiba-tiba menyelimuti kereta api yang Kuroko dan neneknya tumpangi, bayangan itu membentuk semacam kabut dan menimbulkan sensasi luar biasa dingin ketika kulit Kuroko bergesekan dengannya. Aneh dan mustahil, itulah yang tergambar di benak remaja berusia 12 tahun tersebut.

"Uuffg?!" Kuroko merasa badannya terpental dari tempat duduknya ketika sebuah guncangan hebat melanda kereta api, ia terpental sejauh tiga meter dari tempat duduknya dengan punggungnya menghantam tiang besi yang tertancap di kereta api sebagai pegangan.

Sebenarnya apa yang terjadi? Teriak Kuroko dalam hati namun ekspresinya masih datar, bahkan terkesan tidak mengeluarkan emosi. Tapi semua tahu kalau ekspresi dari wajah seseorang itu terkadang mengacau saja, dan yang paling jujur adalah kilatan emosi yang tergambar di mata mereka. Saat ini yang Kuroko rasakan adalah panik dan khawatir. Ia panik karena takut kereta yang mereka tumpangi tengah mengalami kecelakaan, dan perasaan khawatir karena ia tidak tahu dengan keadaan sang nenek.

"Nenek." Bisik Kuroko pelan pada dirinya sendiri, ditepisnya rasa pusing yang sangat ketika ia menoleh dengan sangat cepat ke arah tempat duduk sang nenek.

Kedua mata Kuroko terbelalak lebar ketika melihat tubuh sang nenek tersungkur di sana, mungkin saat suasana yang berbeda Kuroko akan menganggap neneknya tengah tertidur tapi tidak saat ini ketika ia melihat kening neneknya terluka dan mengeluarkan darah segar. Tapi yang membuat Kuroko semakin panik adalah kabut hitam tadi menyelimuti tubuh sang nenek, membuat pandangan Kuroko semakin tidak jelas akan sosok orang yang dicintainya tersebut.

Merasa menemukan kekuatan serta keberanian yang ekstra, Kuroko pun mengangkat tubuhnya sendiri, rasa sakit pada punggungnya karena hantaman yang ia terima tadi serasa terlupakan begitu saja. Ia berlari menuju ke arah sang nenek, baru saja tangan kanannya akan menjangkau tubuh wanita tua itu, lagi-lagi tubuh Kuroko terpental lebih jauh dari sebelumnya dan kepalanya menghantam pinggiran tempat duduk, membuat keningnya terluka dan mengeluarkan darah segar.

Kepalanya pusing dan lukanya nyeri, tidak tertahankan, tapi Kuroko harus menolong neneknya. Wanita tua yang malang itu terlihat seperti tengah bermimpi buruk, ekspresinya kesakitan dan apa itu sebuah tangan? Lagi-lagi Kuroko tertegun ketika ia melihat sebuah tangan berselimutkan sarung tangan kulit berwarna hitam mencengkeram leher neneknya.

Dari kabut hitam yang mengelilingi neneknya, Kuroko melihat seorang wanita bertubuh tinggi yang mengenakan gaun berwarna hitam tengah mencengkeram neneknya. Wanita itu berkulit sangat pucat, lebih pucat dari kertas dan rambut berwarna hitam legam, bahkan bibir sensual wanita misterius itu berlapiskan oleh lipstick berwarna ungu gelap.

"Nyam nyam… korban yang enak meskipun untuk ukuran seorang wanita tua yang mau mati." Ujar wanita itu, suaranya terdengar sangat sinis ketika ia mengangkat nenek Kuroko dari lehernya, membuat kaki sang wanita tua tidak lagi berpijak pada lantai kereta.

"To-tolong, jangan sakiti nenekku." Kuroko mencoba untuk bersuara, meskipun tengah kesakitan dengan darah yang merembes pada keningnya ia tetap berkata begitu sopan.

Mendengar suara kecil tapi merdu tersebut membuat wanita berkulit pucat yang hendak memakan sang wanita tua menoleh ke arah Kuroko. Anak laki-laki berambut biru langit tersebut dapat melihat sebuah tato aneh tergambar di tulang pipi kanan sang wanita, sebuah tato berbentuk bunga lily namun berwarna hitam, tapi yang paling Kuroko tidak sukai adalah bagaimana caranya wanita itu memandang ke arahnya, seperti seekor singa yang tengah mengintai buruannya dan siap mencengkeramnya kapan pun juga. Bahkan Kuroko merasa begitu jijik ketika bibir sensual wanita.. tidak.. monster lebih tepatnya membentuk sebuah seringai sebelum menjilat bibirnya sendiri.

"Well… well, apa yang kita temukan sekarang? Kurasa jiwa orang yang lebih muda akan terasa jauh lebih nikmat daripada jiwa nenek tua ini." dengan begitu si wanita misterius melemparkan nenek Kuroko sampai ia terpental cukup jauh dan menghantam pintu gerbong, sang wanita tua tidak sadarkan diri itu terlentang di tengah para penumpang dengan nasib yang sama.

Sepatu boot berhak tinggi warna hitam milik wanita itu menimbulkan bunyi yang memecahkan kesunyian saat ia berjalan menghampiri Kuroko. Rasanya Kuroko ingin kabur dari sana dan menyelamatkan diri, tapi tubuhnya tidak bisa digerakkan, serasa membeku di tempat. Tidak hanya rasa sakit yang teramat sangat menahannya di tempat, tapi Kuroko juga merasakan tubuhnya diikat oleh sesuatu yang tak terlihat dan menahannya di sana. Wanita itu menjangkau ke arahnya, bahkan Kuroko mencoba untuk mengendalikan dirinya saat pipinya dielus oleh tangan kiri wanita misterius tersebut yang tidak tertutupi oleh sarung tangan. Kuku jarinya panjang dan runcing, sebenarnya makhluk apa wanita ini?

"Sangat lembut." Gumam wanita itu lagi, jari-jari lentiknya meraba pipi mulus Kuroko untuk beberapa saat.

Kuroko berjengit ketika rasa perih di pipinya terasa. Kuku panjang milik monster tersebut memberikan bekas cakaran berwarna merah, membuat darah keluar dari lukanya. Degup jantung Kuroko semakin kencang, pemandangan ini tidak normal dan tidak pernah sekalipun dari hidupnya ia menyaksikan seperti ini. Wanita itu mendekatkan wajahnya pada Kuroko lalu menjilat darah yang keluar dari bekas cakaran itu sampai bersih. Untuk sementara wanita itu tercengang saat rasa darah Kuroko ia rasakan, begitu murni dan memabukkan, ia menginginkannya lagi.

"Kau harusnya bersyukur karena aku memilihmu, anak kecil." Desis wanita tersebut, ia mencengkeram leher putih Kuroko dengan kencang, memotong jalur oksigen anak itu yang mengakibatkannya merasa sesak. "Jiwamu adalah milikku."

Wanita itu membuka mulutnya, memperlihatkan sepasang taring tajam di sana dan ia siap untuk menerkam Kuroko.

Siapapun, tolong aku! Teriak Kuroko dalam hati, ia memejamkan kedua matanya dan berdoa pada apapun agar nyawanya bisa selamat dari terkaman monster berkedok wanita cantik ini.


AN: Terima kasih sudah membaca

Author: Sky