"Indonesia, Tanah Airku"
Part 2: "Tanah Airku Tidak Kulupakan"
.
Sebuah fic menyambut Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-69
.
Warning:
Gaje dan gak lucu. JANGAN DIBACA.
.
Ditimpuk batu enggak kena
Dihajar sama temen-temennya
Kalo jelek jangan dihina
Kalo bagus minta commentnya.
.
.
*POV Ibuki*
Kamis, 14 Agustus 2014.
Hari ini, adalah kepastian terakhir gue untuk menjadi pemimpin upacara. Gue masih agak nolak. Gue bahkan menyiapkan rencana untuk kabur dari latihan nanti siang.
Tenma, ketua kelas gue, nyamperin gue.
"Buk, lu jadi kan?"
"Jadi apaan?" Gue menatap 4 bola matanya. 2 di muka, 2 di rambut.
"Pemimpin"
"Bukan urusan lu", jawab gue sekenanya.
.
.
Pelajaran ke-3. PKn.
Guru PKn masuk ke kelas, lalu mengajak kelas gue buat naik ke ruang audio-visual. ASIK. TIDUR ADEM.
Gue menaiki satu-persatu anak tangga untuk sampai ke ruang audio visual yang ada di lantai paling atas sekolah bersama Matatagi, Kuskus, dan Tetsukado.
Memasuki ruangan dengan karpet biru di seluruh bagian tembok, lantai, dan langit-langitnya, yang berfungsi sebagai peredam suara, dengan sebuah layar proyektor besar dan speaker yang (seringnya) feedback. Gue duduk di pojok deket tembok biar bisa enak tidur.
"Selamat pagi anak-anak."
"Pagiii paaak", jawab sekelas, minus gue.
"Oh iya. Kelas kalian yang jadi petugas upacara kan?"
Pak, bisa ngomongin selain upacara gak?
"Iya."
"Pemimpinnya siapa?"
"Ibuki pak!" sekelas kompak teriak nama gue sambil nunjuk ke muka gue yang ganteng ini. ((AAAAAAAHHHHHHH WRITER MELELEH))
"Oh ya sudah. Hari ini, bapak mau menayangkan sebuah video berkaitan dengan peristiwa 17 Agustus 1945. Kalian simak baik-baik ya."
Butuh waktu 5 menit untuk si bapak gaptek nge-play video. Padahal tinggal pencet logo segitiga menunjuk ke arah kanan aja susah bener.
Gue hampir tidur nyenyak. Sayangnya, speaker kembali feedback. DUH SPEAKER SIALAN. Kalo boleh gue bawa batu ke sekolah, gue rajam tuh sound system murahan.
Usai feedback, akhirnya pak guru berhasil menemukan cara nge-play video. Video pun dimulai. Awalnya gue gak mau merhatiin. Tapi karena sinar dari proyektor yang terlalu terang untuk ruangan yang gelap(?), gue gak bisa tidur dan akhirnya terpaksa gue nonton.
Video itu dimulai dengan sebuah kata-kata. Gue gak begitu inget kata-katanya. Mungkin, pendahuluan.
Lalu diperdengarkan teks Proklamasi dengan suara Ir. Soekarno.
"Proklamasi.
Kami, bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan, dan lain-lain,
diselenggarakan dengan cara seksama, dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Jakarta, 17 Agustus 1945,
atas nama bangsa Indonesia,
Soekarno-Hatta."
Terlihat foto-foto hitam-putih yang menggambarkan proses pembacaan teks proklamasi.
Kemudian gambar itu beralih dan digantikan oleh video dokumenter peristiwa sebelum kemerdekaan. Menggambarkan suasana yang begitu memprihatinkan, banyak pejuang yang tewas.
Background music memainkan lagu Tanah Airku karya Ibu Sud.
"Tanah airku tidak kulupakan,
kan terkenang selama hidupku.
Biarpun saya pergi jauh, tidak kan hilang dari kalbu
tanahku yang kucintai, engkau kuhargai..."
"Dulu banyak pejuang kita yang tewas, mati, hanya karena mengibarkan bendera Merah-putih dan menyanyikan Indonesia Raya. Mereka dianggap melawan kekuasaan penjajah." Pak guru menjelaskan sembari menayangkan video itu.
"...Walaupun banyak negeri kujalani
yang mahsyur permai di kata orang,
tetapi kampung dan rumahku, disanalah kurasa senang.
Tanahku tak kulupakan, engkau kubanggakan..."
"Saat ini, kita belum sepenuhnya merdeka. Kita belum merdeka dari kemiskinan, belum merdeka dari kebodohan, belum merdeka dari isu-isu SARA. Kita juga malahan lebih tertarik dengan kebudayaan dan paham-paham asing, karena menganggap kebudayaan kita ketinggalan jaman, dan merasa tidak ada yang dapat dibanggakan dari bangsa kita." Pak guru dengan berapi-api mengatakan hal itu.
"Inikah cara kalian menghargai nyawa para pejuang yang mati untuk mengibarkan merah-putih?"
DEGG.
.
.
.
Kata-kata pak guru membuat hati gue tersentuh. Gue merasa malu karena selama ini menganggap upacara hanya sebagai formalitas, yang tidak bermakna apa-apa, cenderung 'ngerjain' murid karena harus dijemur di terik matahari.
Tanpa sadar gue menitikkan air mata.
Gue memejamkan mata. Membayangkan, andaikan gue yang tewas waktu mengibarkan bendera jaman dahulu. Gue bahkan mungkin tidak punya keberanian, pun hanya untuk keluar rumah membawa bendera.
Gue malu akan sikap gue yang selama ini menjalani hidup tidak teratur dan cenderung melawan aturan.
"Inikah cara kalian mencintai bangsa Indonesia?"
Air mata gue mengalir setelah bapak kembali menanyakan pertanyaan yang menyentuh hati.
"...Tanah airku tidak kulupakan,
kan terkenang selama hidupku.
Biarpun saya pergi jauh, tidak kan hilang dari kalbu..."
Gue membuka mata. Di layar proyektor yang terhalang air mata gue, gue melihat fakta-fakta mengenai Indonesia.
Lebih dari 18.000 pulau, yang semakin berkurang akibat klaim asing.
Lebih dari 200 juta penduduk, dengan tingkat kemiskinan mencapai 50 juta jiwa.
Masalah sosial yang terus meningkat setiap tahunnya.
Semakin membuat hati gue tergugah untuk mengubah hidup gue dan memberikan sesuatu untuk bangsa walaupun sangat kecil.
"...tanahku yang kucintai, engkau kuhargai."
Lagu itu berakhir, dan dan gue ikut menyanyikan bagian terakhir dari lagu dan video itu.
Lampu dinyalakan. Ternyata bukan cuma gue yang nangis. Beberapa anak yang lain juga terharu melihat video itu. Atau, mendengarkan ceramah yang membara dari pak guru.
Gue akan menerima menjadi pemimpin upacara. Gue bertekad untuk melakukan yang terbaik.
.
.
- TO BE CONTINUED –
.
.
.
Haaai~~ Fic menyambut kemerdekaan. Beberapa bagian gue ambil dari kisah nyata pengalaman gue beberapa hari ini, dicampur dengan imajinasi gue. Chapter berikut diusahakan terbit 17 Agustus 2014. Byee~!
.
Cendol gan?
