Pair : NaruSasu

Declaimer © Masashi Kishimoto

Warning : Shounen-Ai, Typo, OOC, etc


Blonde Allergic


.

"Apa yang kau lakukan breng—" Naruto menghentikan ucapannya begitu melihat Sasuke berlari kesisi ruangan dan memuntahkan semua isi perutnya. Ia hendak memaki si raven tersebut karena berani mengotori bajunya, namun Naruto mengurungkan niatnya begitu melihat keadaan pemuda itu yang kini berlutut memegangi perutnya sambil memuntahkan sesuatu.

Naruto tentu saja merasa sedikit kasihan. Jika tahu Sasuke sakit, ia tak mungkin tega menjahili pemuda tersebut. Lelaki jantan tak akan menghadapi lawannya yang dalam keadaan lemah bukan?

Naruto memberanikan diri mendekati Sasuke yang nampaknya sudah lemas setelah mengeluarkan seluruh isi perutnya. "Kau tak apa?" tanyanya mencoba memeriksa keadaan Sasuke.

"Pergi!" lirih Sasuke seraya membersihkan mulutnya dengan punggung tangannya. Ia tak mau kelemahannya dilihat oleh orang lain, apalagi dia adalah pemuda blonde yang selalu membuatnya naik darah.

"Jika kau sakit, aku bisa mengantarmu ke UKS." Ucap Naruto yang tak mendengar begitu jelas ucapan Sasuke tadi. Tangannya mencoba menyentuh pundak si raven yang kini membelakanginya.

Plak

"Pergi kataku!" Perintah Sasuke dengan sedikit berteriak. Ia juga menampik tangan tan pemuda dibelakangnya dengan cukup kasar.

"Hei, aku hanya ingin menolongmu."

"Apa kau tuli?"

Naruto menahan nafasnya mendengar ucapan Sasuke. "Aku bilang pergi dariku!" dan seiring dengan ucapan Sasuke tersebut, Narutopun keluar dengan membanting pintu ruang ganti yang ia gunakan untuk mengerjai si pemuda raven. Dengan emosi meluap-luap ia menghiraukan begitu saja sapaan teman-temannya saat melewati mereka yang sudah memulai pelajaran renang, bahkan panggilan dari Sakurapun seolah hanya hembusan angin yang lewat baginya.

Naruto memang mudah emosi, jika itu terjadi maka jangan heran ia akan bersikap seperti orang autis yang tenggelam dalam dunianya sendiri. Ia juga tak bisa menyembunyikan emosinya, dalam situasi seperti ini maka sebaiknya biarkan dia sendiri. Karena Naruto tak segan meluapkan amarahnya pada siapapun yang berani menganggunya dalam kondisi mood seperti ini, maka jangan salahkan dirinya jika kau akan menjadi objek pelampiasan pemuda blonde tersebut meski kau tak salah sama sekali.

"Apa kau melihat Sasuke?" tanya Neji saat tak melihat pemuda raven yang selalu menjadi objek perhatiannya.

"Aku tak tahu, kulihat dia memasuki ruang ganti dengan Naruto, tapi aku hanya melihat cuma Naruto yang keluar dari sana." Jawab Chouji sambil melakukan peregangan otot-ototnya sebab sebentar lagi adalah gilirannya untuk berenang.

"Kau izinkan aku pada Gai sensei, aku mencari Sasuke dulu."

.


.

Jam istirahat Naruto melihat Sasuke tengah berbicara dengan Neji sambil membawa beberapa buku di kedua tangannya, sepertinya mereka berdua diberi tugas mengembalikan buku-buku oleh seseorang. Sementara Naruto kenapa bisa berada di base camp para kutu buku tersebut? Tenang saja, Naruto sama sekali tak suka membawa buku apalagi membacanya. Dia bisa terdampar disini tentu saja karena dia ingin sembunyi. Setelah mata pelajaran olahraga tadi, Naruto sama sekali tidak masuk ke kelasnya, ia masih kesal pada pemuda raven tersebut dan lebih memilih membolos pelajaran daripada bertatap muka dengannya.

Sebenarnya ia ingin melihat keadaan Sasuke tadi. Apa Naruto Khawatir? Tentu saja tidak! Naruto hanya tidak mau jika terjadi sesuatu pada pemuda raven tersebut dan berakibat dialah yang menjadi tersangka utama, mengingat dialah orang terakhir yang bersama Sasuke tadi.

"Jadi dia baik-baik saja, huh? Dan apa-apaan wajahnya itu, kenapa ia tak pernah tersenyum seperti itu padaku?" Tanpa sadar Naruto mengepalkan tangannya melihat Sasuke tersenyum tipis saat mendengar ucapan Neji. Beruntung dia saat ini berada diruangan paling pojok perpustakaan yang terhalang beberapa rak buku, sehingga teman sekelasnya tersebut tak menyadari keberadaannya. Entah kenapa emosi Naruto yang tadinya turun kini kembali meninggi. Sebenarnya ada apa dengan dirinya saat ini?

.


.

Jam pulang sekolah telah usai. Sasuke membereskan buku-bukunya, ia tak mempedulikan teman sebangkunya yang seharian ini menghilang entah kemana. Lagi pula itu sama sekali bukan urusannya.

"Sasuke, apa Itachi-nii akan menjemputmu hari ini?"

Neji menghampiri meja Sasuke dan membantu membereskan bukunya.

"Hn." Neji tersenyum mendengar jawaban khas Sasuke, sedikit kecewa saat ia kembali tak bisa mengantar Sasuke pulang. Hampir setiap ada kesempatan Neji selalu mengajak Sasuke pulang bersama, namun itu tak pernah bisa terlaksana. Selain Sasuke sendiri selalu punya alasan untuk menolaknya, Itachi juga tak pernah telat menjemputnya.

"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu."

Selepas Neji pergi, Sasuke berniat untuk mengambil topinya yang ia simpan di loker sekolah. Ia tak mau mengambil resiko muntah kembali, apalagi ini masih siang dan matahari bersinar cukup terang. Mungkin saat kakaknya bertanya nanti, Sasuke akan menjawab kaca matanya hilang dengan begitu kakaknya tak akan curiga sama sekali.

Sasuke menutup lokernya kemudian memakai topi berwarna hitam yang sudah diambilnya. Sasuke tersenyum tipis begitu melihat siang ini cuaca tak terlalu panas seperti biasanya, hal itu sedikit meringangkan penderitaannya bukan?

"Aniki pasti sudah sampai." Sasuke handak melangkah untuk pulang namun ia merasa tubuhnya ditarik paksa hingga membuat tubuhnya membentur loker yang ada dibelakangnya.

'Sial!' Sasuke merutuk dalam hati begitu menyadari siapa orang tersebut. "Apa masalahmu dobe?" ucapnya tanpa melihat si penarik paksa tubuhnya.

"Masalahku—" Naruto mendekatkan bibirnya tepat di depan telinga Sasuke "—adalah KAU!" Sasuke hendak menoleh untuk menatap wajah Naruto namun ia urungkan saat menyadari ia tak memakai kaca matanya saat ini.

"Sebenarnya apa maumu breng—" Ucapan Sasuke terhenti seketika begitu merasakan jari Naruto menempel di bibirnya.

Naruto semakin merapatkan tubuhnya hingga dada mereka menempel sepenuhnya. Entah kenapa tubuh Naruto seperti tergerak sendiri saat melihat reaksi pemuda dihadapannya. Sasuke yang menyadari alarm bahayapun segera merontah, namun kedua tangannya kini dicengkeram begitu erat tepat diatas kepalanya hanya dengan menggunakan satu tangan pemuda blonde tersebut, nafasnya terasa sesak saat himpitan loker lemari dengan tubuh kekar Naruto semakin membuatnya kehilangan ruang untuk bergerak. Sasuke hendak menendang Naruto namun pemuda blonde itu sudah bergerak lebih dulu dengan memposisikan kaki kanannya berada ditengah kedua kaki Sasuke yang terbuka. What a dangerous position!

Sasuke memejamkan matanya begitu merasakan deru nafas Naruto menyapu wajahnya, nafas hangat tersebut semakin dekat hingga tanpa sadar membuat Sasuke menyembunyikan kedua onyx nya. Ia tak mau melihat apa yang akan dilakukan Naruto pada tubuhnya dalam posisi seperti ini.

Setelah beberapa hampir satu menit tak merasakan apapun, bahkan jari Naruto dibibirnya kini sudah berpindah barulah Sasuke berani membuka matanya, namun tetap saja ia tak berani menghadap wajah Naruto di depannya. Sasuke persisten melihat kesamping kanannya tanpa berani sedikitpun menatap lurus ke depan.

Sasuke bisa merasakan cengkeraman pada kedua tangannya melonggar, tubuh Naruto tidak menekan tubuhnya lagi. Saat mendengar suara langkah kaki menjauh, Sasuke langsung menolehkan kepalanya untuk mengetahui apa yang sudah terjadi. Sasuke dibuat bingung begitu melihat punggung tegap pemuda blonde itu pergi meninggalkannya sendirian dan menghilang begitu saja di balik koridor sekolah.

'Apa yang sebenarnya dilakukan si dobe itu?' pikirnya tak mengerti.

Sasuke menghentikan langkahnya saat membayangkan apa yang sudah Naruto lakukan padanya, tangan tan itu menyentuh bibirnya, belum lagi Sasuke masih bisa merasakan hembusan nafas Naruto menyapu lehernya tadi. Dan bersamaan dengan itulah ia tiba-tiba merasakan jantungnya berdegup begitu kencang. Ia tepuk-tepuk dadanya lumayan keras untuk menghilangan debaran aneh yang tiba-tiba menyerang jantungnya. 'Jangan bilang aku mempunyai penyakit jantung sekarang.'

.


.

Naruto berguling di dalam kamarnya dengan erangan frustasi yang berkali-kali keluar dari mulutnya. Tak segan pula ia mengumpat sendiri saat teringat kejadian tadi siang. Bocah sombong itu benar-benar membuat malamnya menderita, ia tak bisa memejamkan matanya. Teringat jelas apa yang dilakukannya saat ia hendak mencoba mencium lagi pemuda raven itu. Otaknya tiba-tiba mendapatkan sebuah bisikan untuk bertindak lebih dari itu, beruntung ia segera tersadar. Dan seolah pengaruh iblis keluar dari kepalanya, Naruto mencoba mencari jawaban kenapa ia bisa melakukan tindakan bodoh seperti tadi.

"Apa aku tertarik padanya?" rancaunya sendiri.

Sebenarnya ia tak sengaja melihat Sasuke yang berada di ruang loker siswa siang tadi. Ia berniat memberi pelajaran karena telah membuat bajunya kotor akibat muntahannya yang menjijikan itu. Tapi entah kenapa begitu ia berdiri didepannya dalam jarak sedekat itu, otaknya seperti terbalik. Keinginan menghajar wajah congak itu terganti dengan hasrat untuk menciumnya, bahkan ia hampir saja melakukan tindakan pelecehan di sekolah saat wajahnya disuguhi leher mulus teman sebangkunya.

"Baiklah, jika sekarang aku berubah menjadi homo itu tak masalah, tapi bisahkan bukan Sasuke? Setidaknya jangan pernah aku tertarik pada pemuda angkuh itu."

Naruto menggulingkan tubuhnya kembali. Kini dia tertidur dalam posisi miring ke kiri. Ia tatap sebuah kaca mata hitam yang kini tergelak di nakas meja samping ranjangnya. Tangannya terulur untuk menyentuh benda tersebut. "Kenapa aku membeli ini?" herannya sendiri. Ia juga tak mengerti kenapa ia tiba-tiba berhenti disebuah toko kaca mata saat hendak pulang ke rumah. Bahkan ia tak sadar telah memilih kaca mata yang menurutnya begitu norak tersebut.

Naruto hendak melempar kaca mata tersebut—berniat membuangnya—sebelum ia teringat pada kaca mata Sasuke yang sudah dirusaknya tadi. "Sebaiknya kuberikan pada si teme saja." Gumamnya dan meletakan kaca mata tersebut kembali dan mencoba untuk tidur lagi.

.


Blonde Allergic


.

Hari ini Sasuke berangkat sekolah lebih pagi dari biasanya. Ia beralasan pada Itachi jika kaca matanya tertinggal di sekolah. Sasuke beruntung karena Itachi mudah sekali percaya padanya. Ia tak ingin menyusahkan Itachi untuk hal sekecil itu, lagi pula ia berniat akan membeli kaca mata baru sepulang sekolah nanti. Dan tentu saja Sasuke sudah minta izin ada bimbel tambahan hari ini agar Itachi tak curiga padanya.

Sasuke sendiri berangkat lebih pagi sebenarnya untuk menghindari cahaya matahari. Bukankah semakin siang berangkat ke sekolah, matahari semakin meninggi? Sasuke tak mau mengambil resiko ia muntah kembali, apalagi kepalanya sering pusing saat matanya melihat sinar matahari secara langsung. Untuk itulah Sasuke membohongi Itachi.

Suasana sekolah masih cukup lenggang, di koridor bahkan hanya satu sampai dua siswa saja yang bersimpangan dengannya, selebihnya itu adalah petugas kebersihan sekolah. Sasuke memelankan langkahnya begitu sampai di depan kelas, ia bisa melihat kelas masih sepi dan hanya ada Neji disana. Tak heran, karena sebagai ketua kelas Neji selalu disiplin untuk memberi contoh yang baik pada teman-temannya.

"Oh, pagi Sasuke!" sapanya saat menyadari kehadiran Sasuke.

"Pagi!" jawab Sasuke singkat seraya menuju ke tempat duduknya. Ia menautkan kedua alisnya begitu melihat sebuah kaca mata tepat diatas mejanya. Sasuke menoleh ke kanan dan ke kiri, tak ada siapapun kecuali Neji. Melihat sebuah kertas kecil terselip pada kaca mata tersebut, Sasuke memutuskan untuk membacanya.

To : Uchiha

Sepertinya kaca mata itu untuknya, karena tak ada siswa lain yang bermarga Uchiha disini. Namun Sasuke bingung saat menyadari tak ada nama si pemberi di kertas tersebut.

"Neji, apa ini darimu?" bukan tanpa alasan Sasuke menganggap kaca mata itu pemberian dari Neji, karena kemarin hanya Nejilah yang tahu kaca matanya rusak saat di ruang ganti.

Neji sontak menoleh menatap penasaran ke arah Sasuke. Ia cukup bingung dengan maksud Sasuke yang tengah memperlihatkan sebuah kaca mata hitam padanya. "It-itu—"

"Kau membelinya untukku?" potong Sasuke cepat. Melihat raut wajah bahagia Sasuke, mau tak mau Neji menganggukan kepalanya. Sebenarnya ia sendiri tak tahu itu kaca mata siapa. Sejak pertama masuk kelas tadi ia sudah menjumpai kaca mata itu tergeletak diatas meja Sasuke. Neji kira itu memang milik Sasuke dan tertinggal disana, tapi rupanya si empunya sendiri nampaknya tak tahu siapa pemiliknya.

Sasuke tanpa sadar memperlihatkan senyuman manisnya pagi ini. Neji beruntung sekali bisa melihatnya. Sasuke memang begitu senang, karena dengan begini ia tak perlu repot untuk membeli kaca mata baru dengan uang tabungannya sendiri.

"Arigatou."

Sasuke kembali duduk dibangkunya begitu melihat kelas sudah mulai ramai oleh beberapa temannya yang sudah datang. Lima menit sebelum pelajaran pertama dimulai, Sasuke kembali menekuk wajahnya begitu melihat teman sebangkunya sudah tiba.

Naruto yang melihat Sasuke sibuk membaca bukunya dan berpura-pura tak menyadari kehadirannya disampingnya hanya bisa mengumpat kesal dalam hati. Namun saat menyadari kaca mata pemberiannya sudah berada di dalam tas si raven, Naruto tak mampu menyembunyikan senyumannya.

'Dasar, dia berpura-pura kesal padaku tapi kaca mata dariku diambil juga.' Batin Naruto begitu sadar jika teman sebangkunya ternyata tipe-tipe Tsundere.

"Baiklah anak-anak, cepat keluarkan tugas kalian minggu lalu."

DEG

Baik Naruto dan Sasuke merasa akan bernasib sial di pagi yang cerah ini. Naruto terlalu sibuk bermain game untuk menenangkan pikirannya karena perasaan anehnya pada Sasuke hingga lupa memeriksa tugas-tugasnya kemarin, sedangkan Sasuke sendiri lupa membawa bukunya tadi pagi. Sasuke terlalu memikirkan alasan apa yang akan ia katakan pada Itachi hingga lupa membawa buku yang sengaja ia taruh tepat meja belajarnya saat terburu-buru berangkat tadi.

"Naruto, Sasuke, mana buku tugas kalian? Cepat kumpulkan karena pelajaran tak akan dimulai sebelum semua tugas tertumpuk di meja."

Gulp

Sasuke menelan ludahnya dengan susah payah. Kurenai sensei merupakan guru wanita tersabar sekaligus paling menyeramkan diantara semua guru. Wajah bak malaikatnya itu akan berubah menjadi monster yang haus akan darah jika ada salah satu siswanya yang berani mengabaikan tugas yang diberikannya. Apalagi guru cantik tersebut tak mau menerima alasan apapun jika menyangkut tugas pemberiannya.

"Saya tidak mengerjakannya sensei."

Sasuke sontak menolehkan kepalanya ke arah Naruto, namun hanya sebentar sebelum ia kembali menatap lurus ke depan begitu tubuhnya bereaksi melihat warna rambut Naruto.

"Baiklah, silahkan keluar dan berdiri dilapangan dengan kedua tangan direntangkan ke atas. Jangan berani kabur karena aku bisa melihatmu dari sini." Tanpa menunggu lebih lama Narutopun keluar. Naruto memang murid baru sehingga ia belum tahu sifat asli dari semua gurunya, lagi pula dihukum bukanlah sebuah masalah yang besar. Di Amerika, Naruto bahkan pernah mendapatkan hukuman yang lebih dari ini, di skorspun sudah menjadi makanannya setiap tiga bulan sekali.

Kini Kurenai menatap Sasuke yang menundukan kepalanya. "Dan mana buku tugasmu Uchiha-san?"

"Aku lupa membawanya sensei." Jawab Sasuke lirih. Bukan karena ia takut pada guru tersebut atau nilainya akan menurun setelah ini, tapi bisakah ia diberi hukuman yang lain?

"Kau juga tahu apa yang seharusnya kau lakukan setelah ini kan, Uchiha-san?"

"Tapi sensei, bolehkan aku meminta hukuman yang lain?"

Kurenai memincingkan matanya menatap Sasuke. "Jadi kau ingin aku menambah hukumanmu Uchiha-san?"

"Tidak, bukan begitu—"

"Baiklah, aku tambah hukumanmu hingga bel istirahat berbunyi, dan kau tak perlu khawatir karena aku yang akan meminta izin pada guru Iruka nanti."

Sial, guru didepannya ini benar-benar membuat Sasuke kesal. Selain dihukum dengan si dobe itu, Sasuke juga rugi karena tak bisa menghadari pelajaran kedua yang diajar oleh guru paling ramah di sekolah—Iruka.

Sasuke berjalan keluar kelas tanpa lupa membawa kaca mata hitamnya. Setidaknya sinar matahari dan rambut norak si dobe itu tak membuat penyakit sialnya ini menghalangi dirinya untuk menjalankan hukuman. Meskipun ia sendiri tak yakin apa bisa melaksanakan hukumannya hingga selesai.

"Jadi kau suka?" tanya Naruto tiba-tiba. Ia sudah cukup bosan berdiri di lapangan dalam keheningan, apalagi cuaca cukup cerah sehingga membuatnya sedikit kepanasan.

Naruto sedikit mencibir melihat kesampingnya, Sasuke masih setia menatap lurus kedepan dan tak mau menoleh kepadanya. "Ah, tanganku lelah. Kau tak lelah mengangkat tanganmu seperti itu, sudah turunkan saja, guru cantik itu tak akan tahu."

Sasuke masih diam. Dalam hati ia ingin mengumpati ocehan Naruto yang semakin membuat kepalanya bertambah pusing. Apa ia tak tahu jika ia sudah menahat sakit yang mendera kepalanya sejak tadi?

"Kau tahu, kau terlihat semakin tampan memakai kaca mata itu." Ucap Naruto tanpa melepas pandangannya pada wajah rupawan Sasuke. Entah kenapa, meski Sasuke tak mau mengakuinya jika ia menyukai kaca mata pemberiannya, Naruto sudah cukup bahagia hanya dengan melihat Sasuke menggunakan kaca mata itu.

"Bisakah kau diam ugh—" Sasuke memijit kepalanya sebentar sebelum mengangkat kedua tangannya kembali diatas kepala.

"Tentu saja tidak. Asal kau tahu teme, bicara itu hak semua orang. Jadi aku boleh bicara sesukaku dan semauku tanpa ada yang bisa menghentikanku." Sepertinya menggoda orang bertipe Tsundere lebih menyenangkan menurut Naruto.

"Suaramu membuat kepalaku sakit, dobe!" bentak Sasuke cukup keras sambil menolehkan kepalanya.

"Akhirnya kau mau menatapku." Cingir Naruto lebar begitu melihat wajah rupawan di depannya dengan begitu detail. Bibir tipis Sasuke ternyata nampak lebih menggoda daripada bibir milik Sakura, hidung mancungnya, pipi mulusnya hingga leher jenjang dihadapannya.

"Cantik!" ucapnya tanpa sadar.

"Bisa kau hentikan ocehan bodohmu itu? Dan jangan pernah berbicara di dekatku, silahkan pindah ke sisi lapangan lain atau aku yang akan pindah!" ucap Sasuke mencoba mendinginkan kepalanya.

"Wow, itu adalah kalimat terpanjang yang pernah ku dengar darimu, teme. Lagi pula mana bisa kau menyuruhku pindah. Kau tak ingat sensei menyuruh kita berdiri disini agar dia bisa mengawasi kita dari kelas sana?"

Skak mat

Sasuke kehabisan akal untuk membuat Naruto bungkam. "Fine!" ucap Sasuke pada akhirnya. Berdebat dengan Naruto semakin membuat energinya terkuras cukup banyak. Belum lagi sakit kepala sialan ini yang semakin membuatnya tak tahan.

Dan menit-menit selanjutnya, Sasuke sama sekali tak protes saat Naruto berkicau layaknya burung di pohon sana. Sasuke menahan tubuhnya yang sudah tak bisa berkompromi untuk tidak ambruk disamping teman sebangkunya itu.

"Menurutku kau sebenarnya cukup tampan, bahkan harus kuakui kau bahkan lebih tampan dariku. Tapi untuk masalah keren, kau harus berlajar banyak dari orang sepertiku. Kau terlalu ka—"

Bruk

Naruto menghentikan ocehannya begitu mendengar suara debuman yang cukup keras. Ia menoleh dan matanya membulat seketika saat mendapati tubuh Sasuke ambruk dilantai lapangan. Dia panik begitu menyadari mata Sasuke terpejam begitu kaca mata pemberiannya terlepas begitu saja, tubuh si raven mengeluarkan banyak keringat serta kulit seperti porselin itu begitu pucat seperti mayat.

"SASUKEEE!"

To Be Continued


Maaf, tidak jadi Twoshoot karena belum End di chapter ini. Chapter terakhir nanti mungkin agak lama. Thank you!