Author's Note: Yak, chapter 0B. Prolog kedua, dari karakter favorit kita semua, BLACK*STAR! Namun, role-nya akan diganti oleh seseorang. Siapa? Tunggu kami di kota anda! *ditimpukkin*

Seperti biasa:

ABAL

GAJE

OOC

SAMPAH

PENGHUNI TPA BANTAR GEBANG

NORAK

JAYUS

LEBAY

DLL, DLL, DLL…

DISCLAIMER: I DON'T OWN SOUL EATER AND PERSONA 3.

Anda sudah di peringatkan. Jika anda masih mau baca nih sampah: WASPADALAH! WASPADALAH! *dilemparin tomat*

~PERSONA EATER~

Chapter 0B: Prolog 2: Junpei*Iori

Namanya adalah Junpei.

Tubuhnya tersembunyi di kegelapan.

"Bunuh semua orang yang berlawanan denganku!" Sang boss, Alcapone memerintahkan pasukannya.

Ia adalah pembunuh yang bergerak bersama temannya di kegelapan...

"Hey, Fuuka. Dia target kita kali ini, kan?" Ujar seorang pemuda yang menyelinap di kediaman Alcapone. Pemuda itu bertanya kepada senjatanya, sebuah kusarigama (chain-scythe)

"Iya... Ayo kita ambil jiwanya!" Ujar senjatanya. "UUD pembunuh nomor 1! Tutupi dirimu dalam kegelapan...Atur nafasmu...Cari jalan menuju targetmu..."

Ia yang menggunakan senjata kegelapan bernama 'Fuuka'...

"UUD pembunuh nomor 2! Ketahui targetmu...Tebak apa yang dipikirkannya, gerakannya!"

Namun, ia mempunyai satu masalah besar...

"UUD pembunuh nomor 3! Kalahkan targetmu...sebelum ia tahu keberadaanmu! Ayo, Fuuka!"

Terutama bagi pembunuh, kelemahan ini cukup FATAL...

Dengan cepat pemuda itu berlari ke tengah kerumunan makan malam boss Alcapone...

"AKU JUNPEI YANG HEBAT! AKU KESINI, UNTUK MENGAMBIL JIWAMU! HYA-HOOOOOOOO!"

DOOOOOOM!

Ya, itulah kelemahannya. Selalu mencari perhatian.

Seketika, chain-scythe milik Junpei (yang sedari tadi digunakan untuk seolah-olah menjadi microphone) berubah menjadi manusia.

"Junpei, Aku bukan mic! Aku ini senjata-kusarigama! Bahkan, apa kau mengerti arti dari 'pembunuhan' itu!"

"HEY! SIAPA KALIAN!"

Seketika para bodyguard Alcapone menembaki mereka menggunakan machine gun.

RATATTATATATTATATATTA!

"Whoa!" Junpei dan Fuuka sibuk menghindari tembakan peluru yang sedari tadi ditembakkan ke arah mereka.

"Waktunya istirahat, Fuuka!"

"Baik, baiklah!"

Fuuka berubah menjadi smoke bomb.

"Smoke-bomb mode!" Teriak Junpei, lalu menangkap Fuuka yang kini berubah menjadi smoke bomb.

KA-BOOOOOOOM!

Gumpalan asap keluar seketika, menutupi ruang makan yang kini menjadi berantakan.

"Mereka menghilang!" "Apa mereka ninja!" Kerumunan tamu dari Alcapone kebingungan. Suasana makan menjadi ricuh.

"Don Alcapone!"

"Ada apa, pasukan?"

"Kami menemukan lokasi witch tersebut!"

"Baguslah. Dengan kekuatan witch itu, kita bisa menguasai dunia...WKWKWKWKWKWKWKWKWKKWKW! (ketawa alay)"

"HYAHAHAHHAHAHA! PENAMPILAN HARI INI SEMAKIN BAGUS! AKU JADI TERKENAL~" Sang pemuda sebelumnya, Junpei meregangkan tangannya, melakukan 'stretching'.

"Tapi aku belum mendapat 1 jiwa pun hari ini...kalau begini, aku tidak akan bisa menjadi Death Scythe..." Ujar Fuuka, senjata dari Junpei yang kelihatannya lebih...normal.

Setelah chin-cong chin-cong (kalo ga ngerti, artinya berbacot ria) Fuuka menagmbil sebuah smoke bomb dari kantung nya, lalu melemparkannya.

Alhasil, muncul asap tebal yang membuka portal untuk berbicara dengan Takeharu-sama.

"Oh, Halo, halo...bagaimana keadaanmu? Bagaimana penangkapan jiwa-jiwanya?" Tanya Takeharu-sama dengan nada yang...khas.

"Uhh...m-masih satu pak...haha..." Fuuka harus terus terang, inilah nasib punya meister macem Junpei.

"Apa? Benarkah?"

"Jangan khawatir, boss!" Junpei maju kedepan. Lalu mengambil secarik kertas.

"Gini aja, sambil nunggu Fuuka jadi death scythe, nih aku kasih tanda tanganku! Gimana? Gimana? He?" Ujar Junpei sambil menyodorkan sebuah tanda tangan...'Junpei The Great'

GABRUK!

"TAKEHARU-CHOP!"

"Owww!"

Gebukkan barusan memang cocok untuk Junpei.

"Begini saja, gimana kalau aku kasih jalan pintas?" Takeharu-sama menyarankan Fuuka, yang setidaknya lebih bisa di ajak bicara.

"Ha?"

"Ya...umumnya, jika ingin menjadi Death Scythe, maka kamu harus mencari 99 jiwa manusia (pre-kishin) dan 1 jiwa witch, iya kan? Tapi sebenarnya, ada cara di mana kamu tak perlu mencari 99 jiwa!"

"HA! BENARKAH!" Junpei muncul, tertarik.

"Baiklah...Ini memang langka, tapi diantara jiwa-jiwa manusia, ada yang mempunyai 'strong soul'. Sekarang, di sekitar kota ini ada orang yang mempunyai strong soul tadi..."

Takeharu-sama menjelaskan.

"Hmph. Apa orang ini lebih kuat dariku?" Tanya Junpei.

"Akinari si bodyguard-dia adalah bodyguard yang sangat hebat, melindungi seorang witch bernama Maiko. Jiwa Akinari dapat disamakan dengan 99 jiwa manusia!"

"Jadi, Takeharu-sama, kamu bilang kalau kita membunuh Akinari + Maiko, Fuuka akan jadi Death Scythe kan? BAIKLAH! Semua sudah direncanakan, aku tidak akan menghabiskan waktu lagi! MENUJU AKINARI DAN MAIKO!"

Junpei melompat a la Ninja, diikuti dengan Fuuka.

"Hey, tunggu! Masalahnya si penyihir ini-ah, mereka sudah pergi."

Cinder Castle (bukan Sindar, dan bukan Cinderella)

Sekumpulan mafia mengerumuni seorang bodyguard yang sendirian.

"Jadi, ini tempat dimana si penyihir itu tinggal iya kan?"

"Heh heh, kalo dengan kekuatan witch ini, keluargaku akan menjadi yang terkuat, kau tau!"

Namun sang bodyguard itu diam saja.

"Ada urusan apa kau datang kesini?" Akhirnya sang bodyguard mulai membuka mulutnya.

"Dan ingat," lanjutnya. "Jika aku tidak menyukai apa yang kalian lakukan disini-kalian akan mati." Sang bodyguard, Akinari mengeluarkan pedangnya dari sarungnya.

"Hah, apa-apaan dia! Pasukan, tangkap dia" Don Alcapone memberikan aba-aba kepada pasukannya.

"Sekarang, Fuuka sedang mandi!" Ujar Junpei dengan tongkat kayu (nemu) yang digunakan seolah-olah microphone.

"Untuk menghiburmu, aku, Junpei yang hebat akan mengintipnya!"

Ia lalu membuat suara-suara penonton seperti 'Hebat, Junpei! Kamu memang tau apa yang kita mau!' 'Kamu memang bintang yang paling terang~' dll.

Sementara itu, ia mendengar suara dari sebuah onsen (hot spring) tempat Fuuka mandi.

"Bahkan ia tak bisa mencari 1 jiwa yang normal...*sigh* bagaimana ia pikir ia bisa mengalahkan orang seperti Akinari? Yang ia lakukan hanya menyombongkan dirinya saja...*sigh*"

"Fuuka...siapa yang menyombongkan diri! (merasa ga bersalah)" Junpei melirik ke arah onsen, sedikit demi sedikit, sebelum memulai 'operasi' nya.

"UUD pengintip nomor 1! Kuasai emosimu, dan menyelinap dengan hati-hati!"

Sedikit-sedikit (lalu banyak) Junpei menoleh ke arah hot spring. Dan melihat Fuuka disana...

"HYAHAHAHHAHAHA! UUD pengintip nomor 2~ lakukan ini dengan PELAN-PELAN! Dan bersiaplah untuk mendapat pemandangan yang indah~"

Namun, karena Junpei tereak-tereak + kepalanya nongol jelas-jelas, sudah pasti Fuuka mengetahui keberadaannya. Ia pun menyiapkan sebuah shuriken, sambil sweatdrop.

Dan, dengan kecepatan tinggi...

Shuriken tersebut mendarat di kepala Junpei.

BWIIIISH!

Darah ngucur dengan lebat...eww...

"Jika kamu mau mengintip, setidaknya tutupi keberadaanmu! Kamu pembunuh kan,Junpei-kun? *sigh*" Dan tadi adalah sigh Fuuka yang kesekian kalinya...

"Heheheh, Fuuka! Sebentar lagi kita sampai di kastil itu!"

"Tunggu dulu, Junpei-kun?"

"Ada apa?"

"Apa kamu punya rencana?

"Tentu saja punya! Pertama, pembukaan aksiku dengan SAMURAI SURRENDER...lalu..."

"Sudah kuduga *sweatdrop*"

"Tapi, kau tau, Fuuka? Aku sudah pasti akan membuatmu menjadi Death Scythe! Serahkan saja padaku!"

"...Baiklah"

"Kita sampai!"

"Jadi begini...aneh sekali!"

Mereka berdua sampai di sebuah istana-yang kelihatannya cukup bertema...witch.

Lalu secara tiba-tiba muncul...

Sesosok pria membawa pedang, berambut putih, dengan jaket coklat dan baju putih mirip piyama, bersiap melakukan mid-air kick ke Junpei.

Akinari the Bodyguard.

"URK!"

Untung saja, Junpei cukup cepat untuk menghindari tebasan Akinari.

"Rupanya hari ini...benar-benar ramai..." Ujar Akinari, sambil berdiri kembali memperbaiki battle stance nya.

Di sekelilingnya, banyak mafia. Mafia yang sudah mati, Don Alcapone dan anak buahnya.

"Jadi, kamu si bodyguard itu!" Ujar Junpei sambil berdiri kembali. "Apa kamu yang membunuh mafia-mafia ini?"

"Apa kalian kesini, untuk mengincari sang penyihir juga?" Tanya Akinari.

"Ya! Dan jiwamu juga!" Jawab Junpei sambil menunjuk ke arahnya. Matanya menunjukkan keseriusan. "Fuuka!"

"Baiklah!" Lalu Fuuka mengubah dirinya ke chain-scythe form. Bersiap untuk bertarung.

"Kau...kamu adalah weapon tech! Kamu pasti mengincar sang penyihir...iya kan!"

Ujar Akinari, sambil mempersiapkan pedangnya.

"Hah, udah nyerah aja! Believe it or not, gue tuh artis top yak! Gaya rambut gua aja gua buat semirip mungkin sama Andhika KangenBand!" Balas Junpei sambil cari pose keren alhasil dapet posenya Amingwati-maksudnya...uhh...pose orang lah!

"Aku akan mencincangmu." Adalah kata terakhir Akinari sebelum pertarungan dimulai.

"HAAYAAAH! Butuh pedang dari buddha untuk memotongku! HYAAAH!"

Junpei melemparkan salah satu dari kusarigamanya. Akinari hanya merespon menaikkan pedangnya ke atas, membiarkan kusarigama Junpei melilit pedangnya.

"Heh heh. Nah, gue dapet pedang!" Sebelum Junpei bisa mendapat pedang Akinari, ia tidak sadar bahwa Akinari sendiri sudah menghilang.

"Ha!" Ia sadar, kini Akinari melompat ke udara, lalu mengambil pedang lain yang tertancap di puing-puing.

"Sial!"

ZRAAAAT!

Dengan cepat Akinari berhasil menghilangkan keseimbangan Junpei. Ia melompat ke bawah dan menerjang Junpei dengan tebasan pedang betak-maksudnya temuannya.

Junpei berhasil menghalau serangan tersebut dengan kusarigamanya, atau Fuuka.

"Hah. Senjatamu menyelamatkanmu. Biasanya, jika itu scythe biasa, kamu sudah mati!" Ujar Akinari. Namun tangannya kini merogoh-rogoh...

"!"

Akinari mengambil satu yang tertancap di sekitarnya. Dengan cepat tebasan kedua ia lancarkan. Namun Junpei tidak bisa selamanya menahan, kini ia kehilangan keseimbangan.

CLANK! CRASH! CLANK! ZRAAT!

Junpei terpental kebelakang, namun berhasil mendarat dengan kedua kakinya.

"Apa-apaan sih orang ini! Dia kuat amat?" Junpei menggerutu.

"Tentu saja! Dia kan pemilik strong soul!" Balas Fuuka, namun ia menyadari sesuatu.

Sebilah pedang terlempar ke arah Junpei, pas di menuju kepalanya.

ZLEB!

Untung saja Junpei cepat merespons, ia berhasil menghindari pedang tersebut...walau miris...

"Pergilah. Aku tidak suka membunuh anak-anak." Ucap Akinari, sambil membalikkan badannya.

"APA! AKU BUKAN ANAK-ANAK! GUA TINGGI BONGSOR GINI ELU BILANG ANAK KECIL! ERGH! Fuuka! Mode Shuriken!"

"Ok..."

Fuuka mengubah dirinya, dari kusarigama menjadi shuriken besar berbintang lima. Sangat besar.

"Aku akan membelahmu menjadi 5 bagiaaaaaaaaaan!"

ZRAAAAASH!

"AKAN KUTUNJUKKAN SIAPA YANG LEBIH BESAR!"

Junpei melemparkan shurikennya, namun Akinari masih kelihatan tenang...dingin...bersabar...

Dengan mudah Akinari melompati shuriken tersebut, lalu dengan timing yang tepat, Akinari menancapkan pedangnya ke dalam lubang dari shuriken tersebut, mengehentikan putarannya.

"BAGUS! FUUKA! SMOKE BOMB!"

"Ok!"

KA-BOOOOOOOOOOM!

Fuuka mengubah dirinya menjadi bom asap, meledakkan dirinya dan membuat pemandangan sekitar cukup mempersulit. Sebuah keadaan yang bagus untuk kabur.

Dan akhirnya...

Dari belakang Akinari...

"HAHAHAH! DAPAAAAAT!"

Junpei melompat dari belakang, dengan Fuuka dalam mode ninjato (pedang ninja), bersiap menebas Akinari.

Namun ini semua bagai hanya permainan kertas Akinari, dalam urusan pedang, ialah dewanya.

ZRAAAAAAAAT!

Semuanya menjadi terbalik.

Kesempatan kini hanya membawa kematian.

Semuanya berbalik.

Akinari melancarkan serangan balik, menebas Junpei sebagai balasan.

Dan pandangannya mulai memecah, memudar.

Semua itu selesai terlalu cepat.

"JUNPEI-KUN!"

Fuuka langsung mengubah dirinya menjadi manusia semula.

"Tidak...i-ini tidak mungkin!"

Akinari hanya terdiam.

"Kau ini-!" Junpei bangkit, menggunakan tangannya untuk menyangga tubuhnya yang sedang tengkurep.

"Apa-apaan itu, bodyguard Akinari! Masa' tadi kau menyerangku dengan teknik 'Mineuchi'! Itu kan hanya untuk orang-orang lemah!"

Akinari hanya terdiam. Masih terdiam.

"Kau...bukankah itu tidak sopan melakukan ini pada perempuan itu?" Akinari bertanya pada Junpei.

"Ha...?"

"Selama ini, kamu hanya percaya pada kekuatan senjatamu. Tidak peduli sekuat apapun sebuah senjata itu, jika tangan yang menggunakannya itu lemah, maka itu percuma saja. Kamu itu masih belum cukup kuat, kau tau itu?"

"Tidak! Itu tidak seperti itu! Junpei itu hanya...bodoh! Jika dia berusaha, dia tidak akan sepayah itu!" Fuuka berusaha mempertahankan meisternya yang ALAMAKO'ONSUWER.

"Akinari...apa maumu!"

Junpei bangkit, sekali lagi.

"Aku hanya bodyguard dari Maiko si penyihir dan author dari 'Pink Alligator'."

"Bukan! Bukan hanya itu! KAMU INGIN MENGAMBIL ALIH PERTUNJUKANKU DENGAN MENGATAKANKU 'LEMAH'!"

Junpei bangkit dari tempat ia terpuruk, bangkit bagaikan tak ada yang terjadi padanya.

"Aku Junpei, believe it or not, aku gak bakal kalah!"

Pandangannya berubah, mencerminkan amarah dan balas dendam.

"Fuuka! Ninjato mode!"

"Baik!"

Fuuka berubah menjadi Ninjato, lalu Junpei bersiap dengan battle stance nya.

"Akinari! Bertarunglah denganku...tidak pakai kecurangan macam tadi! 1 VS 1, Pedang VS Pedang!"

"Hmmm...baiklah, maaf menggunakan teknik tadi."

UUD pembunuh nomor 1, Tutupi dirimu dalam kegelapan...Atur nafasmu...Cari jalan menuju targetmu...

Junpei berubah.

Pandangannya,

Ketenangannya,

Dan Akinari menyadarinya.

UUD pembunuh nomor 2, Ketahui targetmu...Tebak apa yang dipikirkannya, gerakannya!

Siapa orang ini? Mengapa ia berbeda dengan orang yang sebelumnya? Pertanyaan itu terngiang terus menerus di kepala Akinari.

Ia berubah, dan serius.

UUD pembunuh nomor 3, Kalahkan targetmu...

Dan kini tubuh Junpei menghilang...menjadi asap.

"A-APA!"

...Sebelum ia menyadari keberadaanmu

Dan tiba-tiba Junpei muncul di belakang Akinari.

"HYAAAAAAAH! RASAKAN INI! DEADLY JUNPEI'S WAVE!"

Pukulan dari Junpei bukan sembarang pukulan, namun sebuah pukulan yang menyambarkan Soul Wavelength Junpei kepada Akinari. Menggoyahkannya dan menjatuhkannya.

"Kan sudah kubilang...BELIEVE IT OR NOT, AKU GA PERNAH KALAH!"

BLAAAAAAAAAAAARGH!

Pukulan Junpei berhasil mementalkan Akinari. Ia terpental ke puing-puing bekas pertarungannya dengan Don Alcapone.

"Hah! Itulah...yang kau dapatkan kalau mau mengambil pertunjukkan Junpei Iori! Fuuka!"

"Ya!"

Fuuka berubah menjadi Kusarigamanya, lalu perlahan, Junpei mendatangi Akinari, bersiap mengambil jiwanya...

"TUNGGU DULU!"

Seorang gadis kecil datang menggunakan sapu terbang. Ia berdiri di depan Akinari dan merentangkan tangannya.

"Jangan menakali Akinari! Aniki hanya melindungiku dari manusia-manusia karena aku masih belum bisa menggunakan sihir dengan baik! Jadi jangan sakiti dia!"

"Jadi ini witch Maiko?" Tanya Junpei, bingung.

"ELU ORANG JAHAT. MATI LU. INDOMIE CANNON!"

Seketika suara Maiko jadi berat, seperti bapak-bapak umur 40 tahun-an. Lalu muncul mie-mie gak jelas dan...meledak.

KA-BOOOOOOOOOOOM!

"DASAR ANAK NAKAAAAAL! SINI KAMU!" Junpei jadi marah, dan mengejar anak itu. Maiko berlari ke Akinari, menangis.

Tiba-tiba Akinari bangkit, dan berdiri di depan Maiko seolah menjaganya.

"Tolong jangan ambil jiwanya! Kau bisa ambil jiwaku! Tapi jika kau tetap ingin membunuh Maiko aku akan mempertahankannya dengan nyawaku!"

Junpei ngeliatnya ga tega, mulai bingung. Ikuti misi atau hati nurani?

"Junpei..."

"Iya, iya! Aku ngerti kok! Hah! Seorang bodyguard untuk witch kayak gitu! Raaagh, bahkan aku jadi ga nafsu bertarung! Fuuka, ayo pulang! Ini hampir waktunya makan malam!"

"Ok!"

"Maaf ya, Fuuka! Tapi tenang saja, mulai besok kita akan mencari 99 jiwa manusia!"

"Baiklah!"

~Bersambung~

Author's note: Yap. Prolog 2, berakhir! *sigh* kayaknya nih fic makin jelek aja...

Untuk berikutnya, prolog 3, itu berarti prolognya Death the Kid! ARGH!

Dan kita sudah berada di pertengahan prolog! *cheers* saya tidak sabar prolognya akan berakhir! XD

Oh ya, fanfic ini mengikuti jalur cerita manga...berarti bakal beda bagi yang nonton anime-nya. Persimpangan cerita anime dan manga bakal mulai dari episode perebutan BREW (si demon tool itu).

Untuk versi fanfic ini...rencananya aku bakal disingkat-singkat-ya, episode filler ga bakal muncul tapi...sayang ah! Apa mungkin episode Excalibur dimunculin aja?

Dan satu lagi...

R&R!

~Dark Silhouette