Jimin menemaninya seharian ketika ia menemukan Taehyung berdiri di depan apartemennya sendiri dengan wajah ketakutan dan tangis yang pecah ketika Taehyung melihat wajahnya. Taehyung tidak menyadari bahwa semalam saat ia menghabiskan heat bersama Jungkook, Jimin memanggilnya berkali-kali, berusaha mengecek keadaan sahabatnya itu. Tetapi ketika ia melewatkan 6 panggilan hampir berturut-turut, Jimin tidak bisa menahan keinginannya untuk pergi menemui Taehyung. Bagaimanapun juga, Taehyung adalah sahabatnya dan ia tidak mungkin meninggalkan sahabatnya sendirian ketika kesakitan saat sedang mengalami heat.
Taehyung tahu ketika Jimin membantunya melepaskan jaket—setelah ia cukup tenang dari tangisannya, sahabatnya itu melihat di lehernya terdapat beberapa bekas berwarna merah, terlalu merah untuk disebut luka memar. Jimin membeku di belakangnya, mengamati, membuat Taehyung merasa tidak nyaman.
Ketika akhirnya mereka duduk di atas tempat tidur Taehyung, Jimin berusaha membuka percakapan, bermaksud agar Taehyung mau menceritakan semua padanya.
"Kau—"
"Aku berhubungan seks. Ya. Tapi karena keinginanku sendiri."
"Tapi heatmu sudah berakhir, Tae."
Taehyung menelan ludahnya mendengar ucapan Omega yang lebih tua dua bulan darinya itu, "Aku tahu."
"Bagaimana kalau kau—hamil?" ia mendengar nada cemas di suara sahabatnya. "Siapa—siapa Alpha yang telah—"
Taehyung memotong ucapan sahabatnya, "Untuk sementara, bisakah kau tidak mencampuri urusanku?"
Guns, Roses, and Babies
Plot Summary: Seorang mahasiswa jurusan seni dan harus membantu perekonomian keluarganya dengan menjadi host di klub malam, mengantarkan Kim Taehyung pada Jeon Jungkook, seorang boss mafia paling ditakuti di Asia Timur. "Aku butuh anak karena aku tidak bisa memprediksi kapan aku akan mati." KookV. Warnings inside.
Warnings: sex scene, ABO Universe, blood and some violence, mention of abortion, incoming side pairings. Sex scenes plus OOC! Typos. Yang di bawah umur mungkin bisa skip beberapa bagian yang berbahaya
Cast: BTS, Exo, boyband lainnya mwaha
II
Taehyung merasakan penyesalan menyesaki dirinya ketika pagi hari ia memaksa Jimin untuk pulang ke apartemennya. Pikirannya akan Jungkook, kliennya yang sudah menjanjikannya uang 250 juta won agar Taehyung mau mengandung anaknya, yang ternyata adalah seorang pemimpin kelompok mafia paling terkenal di Asia Timur.
Ia masih merasakan dirinya seperti setengah memimpikan tentang heat dan seksnya dengan Jungkook, sampai ketika ia menyalakan TV dan melihat berita sebuah mobil yang terbakar di persimpangan jalan yang dilaluinya dengan mobil Jungkook. Tidak ada saksi mata yang mau mengaku dan menceritakan secara detail bagaimana mereka bagaimana kejadian tersebut berlangsung. Mereka mengaku hanya mendengar suara tembakan, diikuti suara ledakan dan suara decitan ban mobil.
Taehyung sadar bahwa ia sudah masuk ke dalam kandang serigala, dan terkunci di dalamnya.
Jungkook tahu di mana ia tinggal, seperti apa profil dirinya. Jika ia berbuat macam-macam, bisa jadi keluarga dan teman-temannya akan ikut terlibat dengannya.
Taehyung mengutuki dirinya sendiri.
Kenapa ia begitu ceroboh untuk mempercayai ucapan Jungkook?
Kenapa ia bisa membiarkan dirinya tergiur oleh jumlah uang yang ditawarkan oleh Jungkook?
Kenapa ia dengan bodohnya mempercayakan Jungkook untuk menyetubuhinya saat ia tidak meminum pil pengontrol heat?
II
Taehyung berusaha menjalankan kehidupan sehari-harinya seperti biasa, berusaha melupakan Jungkook dari ingatannya. Toh beberapa minggu semenjak Jungkook dan Namjoon menurunkannya di depan apartemennya, Alpha itu sama sekali tidak pernah muncul ke kehidupannya. Bahkan ketika ia pergi bekerja ke klub pun ia tidak pernah melihat wajah lugu palsu Alpha tersebut. Setidaknya untuk sementara, Taehyung dapat merasakan dirinya dengan bebas menjalankan kehidupannya.
Ia juga tidak dapat memastikan jika ia benar-benar hamil atau tidak, setidaknya ia belum merasakan perubahan aroma pada tubuhnya. Dan setidaknya ia juga belum merasakan kehadiran makhluk lain di dalam tubuhnya.
Semoga memang hanya kebetulan saja heatku berhenti waktu itu, batinnya pada dirinya sendiri.
"V," panggil Hoseok membuyarkan lamunannya begitu malamnya ia bekerja di klub seperti biasa, "Sudahkah kau siap? Ada seorang pelanggan bersama teman-temannya yang belum kedapatan host."
"Oh, ne, oke Hyung, aku segera kesana!" ucap Taehyung sambil mematut dirinya terakhir kali ke depan cermin.
Ia pergi ke bar, menuju tempat yang dimaksud oleh Hoseok. Ketika ia sampai di sana, ia melihat seorang Alpha ditemani tiga orang Beta—salah satunya wanita dan satu orang Alpha lain sedang duduk di sofa berbentuk melingkar. Mereka masih terlihat muda dan berusia tidak jauh darinya, mengingatkannya akan Jungkook.
"Oh! Lihat, lihat! Rupanya menawan sekali! Ternyata kita tidak sia-sia ke sini," seru seorang Beta sambil bersiul ke arah Taehyung ketika ia berjalan mendekati mereka.
"Hei, menyingkirlah Sehun, setidaknya biarkan dia duduk," ucap sang Alpha—yang Taehyung asumsikan sebagai pelangan utamanya malam ini pada salah seorang Beta. "Siapa namamu, jagi?"
"Aku V, salam kenal semuanya."
Taehyung duduk di antara mereka berempat.
"Kau mau pesan minuman?" tanya Alpha itu pada Taehyung.
Taehyung tampak agak ragu untuk memesan minuman keras akhir-akhir ini, tetapi pada akhirnya ia memberanikan diri, "1 gelas Martini."
Alpha itu tersenyum dan memesan pada pelayan, "1 gelas Martini dan 1 botol Whisky, Monkey Shoulder."
"Jadi," kata Taehyung berusaha bersikap ramah seperti yang biasa ia jalankan untuk menjamu pelanggan, "Aku kira sepertinya kalian semua berteman. Siapa nama kalian?"
Alpha yang sepertinya merupakan pemimpin dari kelompok tersebut langsung memperkenalkan dirinya, "Oh, aku lupa memperkenalkan diri. Perkenalkan, namaku Park Chanyeol. Satu persatu temanku di sini adalah Oh Sehun, Kim Yugyeom, kalau Beta wanita yang kau lihat ini adalah Bae Joo-hyun. Kalau Alpha yang kelihatannya selalu mengantuk ini adalah Min Yoongi."
Beta wanita tersebut menyeletuk, "Jangan memanggilku Joo-hyun. Panggil saja aku Irene," ucapnya sambil tersenyum dengan matanya. Beta wanita itu cantik dan memiliki sifat yang sangat anggun, membuat Taehyung nyaris merasa dirinya hanyalah Omega kelas rendahan di hadapan Irene.
Yoongi—teman mereka yang memang selalu terlihat bosan dan mengantuk itu menampar jari telunjuk Chanyeol yang menunjuk ke arahnya, "Perhatikan ke mana kau menunjuk. Kau bisa saja mencongkel mata orang."
"Oh? Kalian semua kolega di satu tempat kerja?" tanya Taehyung.
Chanyeol mengangguk mengiyakan, "Bisa dibilang begitu. Kami kebetulan bekerja pada satu atasan yang sama." Alpha itu menunjukkan sebuah tato di lengan kirinya yang menunjukkan gambar 7 buah bintang. "Hanya karyawan terpilih yang bisa mendapatkan tato ini. Bagaimana menurutmu?"
Sehun menendang Chanyeol dengan sikap bercanda, "Jangan menebar pesona seperti ini, Hyung! Kau baru putus seminggu yang lalu!"
Chanyeol menggeram jengkel pada Sehun.
Taehyung memandangi lengan kiri Alpha itu dengan seksama, seperti pernah melihat tato tersebut di suatu tempat, "Begitukah? Bukankah itu berarti kau orang yang beruntung bisa memiliki tato tersebut?"
Yugyeom tertawa, "Tentu saja kami semua mempunyai tato ini!" unjuknya bangga sambil menunjukkan tatonya. "Semua orang yang menjadi kaki tangan bos kami dan bekerja sebagai anggota tetap Chil—" Sehun langsung menutup mulut Beta tersebut, sementara Chanyeol memberinya tatapan setengah mengancam dan setengahnya lagi hendak menegur. Yugyeom membalasnya dengan tatapan tidak bersalah.
"Jangan kau dengarkan anak ini," kata Yoongi bersikap masa bodoh sambil menunjuk pada Yugyeom yang mulutnya masih ditutupi oleh Sehun, "Dia terkadang suka berbicara melantur."
"Ah, aku mengerti," Taehyung hanya mengangkat alisnya, mengetahui bahwa kliennya hari ini memiliki pekerjaan rahasia, dan ia tidak begitu tertarik untuk mengorek informasi yang bukan haknya untuk diketahui.
Taehyung dan mereka mengobrol untuk beberapa saat sampai akhirnya Martini dan botol whisky pesanan mereka diantarkan oleh pelayan klub. Chanyeol beberapa kali memegangi paha Taehyung, sementara Sehun yang tidak mau kalah mulai mencumbu bagian lehernya, hendak menggodanya untuk berbuat lebih jauh. Taehyung hanya tertawa dengan sikap mereka, sudah terbiasa dengan perlakuan para kliennya setiap malam. Ia mengangkat gelas kaca Martininya dan hendak menyeruput cairan di dalamnya, saat tiba-tiba saja isi perutnya seperti bergolak marah. Aroma alkohol yang menyesaki lubang hidungnya membuat Taehyung merasakan tubuh serta merta menolak keberadaan alkohol itu untuk memasuki tubuhnya. Omega tersebut langsung melayangkan tangannya ke mulut, mewanti-wanti jika ia sampai muntah di hadapan pelanggannya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Chanyeol agak sedikit khawatir, tangannya yang tadi bergerak untuk menuangkan whisky di atas gelas teman-temannya, kini bergerak mengusap punggung bawah Taehyung.
Taehyung melambaikan tangannya, "Tidak masalah, kurasa bau Martini ini hanya sedikit aneh." Ia kembali menyicipi gelas Martini tersebut. Cairan berwarna bening menyentuh bibirnya saat isi perutnya kembali bergejolak dengan sensasi lebih kuat, membuat Taehyung kali ini membungkukkan tubuhnya untuk mengurangi sedikit tekanan di perutnya.
Irene mengusap punggung Omega itu dengan lembut, "Kurasa kau tidak baik-baik saja. Mukamu sedikit pucat—"
"Aku tidak apa-apa—" Taehyung nyaris memuntahkan isi perutnya ke lantai, tetapi dengan cepat ia beralih meninggalkan para kliennya, pergi tanpa meninggalkan kata permisi.
Bahunya menabrak Hoseok yang menyapanya di depan ruang staff, tetapi ia tidak peduli dan terus berlari ke kamar mandi staff. Omega itu memuntahkan isi perutnya tepat di dalam toilet duduk. Matanya mengeluarkan air mata, merasakan dinding mulutnya terasa aneh karena asam lambungnya ikut bersama makan malam yang dimuntahkannya. Ia duduk di lantai, perutnya masih bergejolak kuat, meninggalkan rasa nyeri yang menyiksa. Hoseok muncul di ambang pintu bilik toilet, cemas dengan keadaan Taehyung.
"Kau baik-baik saja, V?" tanya atasannya tersebut dengan nada khawatir.
Taehyung hanya menjawabnya dengan suara mual. Ia merasakan tangan Beta tersebut mengusap-usap punggungnya dengan lembut. "Kau sakit?"
"Sepertinya ya," ucap Taehyung. Ia memegangi perutnya, muncul perasaan baru di dalam dirinya. Rasa takut bercampur tidak percaya. Ini bukan gejala kehamilan, kan?
Hoseok pergi keluar untuk sesaat dan membawakan Taehyung permen mint, "Cuci mulutmu dan makan ini. Mungkin setelah ini aku harus mulai memberhentikanmu untuk sementara."
Taehyung memandangi atasannya dengan wajah heran bercampur bingung, "Wae?"
"Kau hamil, kan? Dengan anak Jeon Jungkook?"
"Hyung?" Omega itu terkejut dengan ucapan Hoseok. Ia diam mematung di atas lantai toilet, "Kenapa kau—"
Kali ini Hoseok memandanginya dengan sedikit perasaan bersalah. Beta itu berdiri maju mundur di hadapannya dengan sikap canggung, "Sejujurnya, beberapa minggu lalu Jeon Jungkook datang padaku untuk meminta data host dan hostess yang bekerja di sini. Omega pria maupun wanita. Tetapi dia meminta yang terbaik dari yang kumiliki di klub ini."
Taehyung memahami maksud Hoseok beberapa detik kemudian. Ia berdiri dengan cepat dan menarik kerah baju Hoseok dengan sikap marah, "Kau menjualku."
"Maafkan aku V, aku tahu kau akan marah jika aku berkata yang sejujurnya," kata Hoseok pada akhirnya. "Aku benar-benar menyesal. Tetapi Jeon Jungkook datang padaku dengan memberi tawaran uang yang sangat menggiurkan dan memberi pilihan untuk menaikkan nama klub malamku. Bagaimana aku bisa menolaknya?"
"Hyung! Tidak kusangka kau—"
"Aku minta maaf, oke?" Hoseok memegangi tangan Taehyung, "Aku minta maaf. Karena menyesal makanya aku menceritakannya padamu sekarang. Dia butuh anak, V. Dia butuh anak untuk meneruskan nama keluarganya."
"Dan kelompok geondal Chil Sung Pa. Mafia terbesar di Asia Timur."
Hoseok hanya mengangguk lemah, "Kau tahu 'kan, bagaimana mungkin aku bisa membangkang pada seorang Mafia terbesar di Asia Timur. Bisa-bisa aku bangkrut dalam semalam jika macam-macam dengannya."
Taehyung masih merasa marah pada atasannya tersebut, meski ia tahu alasan di balik Hoseok dengan tega menjualnya pada seorang Jeon Jungkook. Ia memilih mendiamkan atasannya, meski berkali-kali Hoseok meminta maaf padanya. Pikirannya terasa kalut dengan Jeon Jungkook.
Belum selesai shift malamnya berakhir, Hoseok menyuruhnya pulang karena kondisi tubuhnya. Taehyung hanya mematuhi atasannya tersebut, sedikit bersyukur karena pada akhirnya ia bisa pergi ke rumahnya sendirian, berusaha mengontrol perasaan dan semua ingatan buruk di benaknya semenjak beberapa minggu lalu. Tangannya tidak lepas dari permukaan perutnya. Ia masih belum merasakan perubahan yang mencolok dengan perutnya saat ini, tapi cepat atau lambat orang-orang akan menyadari bahwa dirinya hamil. Termasuk Jimin dan teman-temannya yang lain. Atau lebih buruknya, jika sampai berita dirinya hamil terdengar oleh keluarganya.
II
Keesokannya, selama hampir seminggu, Taehyung berusaha sekuat tenaga untuk selalu menahan rasa mualnya ketika ia harus menghadiri kelas di pagi hari. Ia masih belum berani untuk mengakui bahwa dirinya mengalami morning sickness. Ia terlalu takut dengan kenyataan bahwa ia benar-benar mengandung anak seorang mafia terbesar di Asia Timur.
Beberapa kali ia harus keluar dari kelas tanpa izin dosen karena tidak kuat menahan isi perutnya. Ia juga menyadari bahwa beberapa teman sekelasnya mulai mencium perubahan aroma di tubuh Omega itu, mengetahui bahwa Taehyung tengah membawa kehidupan lain di dalam perutnya. Ia bisa melihat beberapa Omega dan Beta lain memandanginya dengan tatapan setengah jijik dan bercampur kasihan, sementara para Alpha hanya tertawa mengejek setiap kali ia lewat di hadapan mereka.
Betapa berbedanya perlakuan mereka saat ia masih berstatus Omega biasa dengan Omega yang sedang hamil tanpa diklaim oleh seorang Alpha. Pada awalnya para Alpha dan beberapa Beta akan begitu memuja-muja wajah dan penampilannya yang eksotis, mengejar-ngejar dirinya. Tetapi begitu ia hamil, mereka langsung berubah sikap. Mereka langsung menganggap bahwa Taehyung adalah seorang Omega murahan, jalang, pelacur, atau anggapan apapun yang merendahkan dirinya.
Taehyung berusaha untuk tidak peduli, tetapi ia bisa merasakan airmatanya hampir keluar setiap kali ia menerima perlakuan tersebut dari sekitarnya. Ia berusaha menghindari Jimin dan teman-teman dekatnya, tetapi justru ia berakhir semakin tertekan dengan kondisi dirinya saat ini. Ia tahu, cepat atau lambat, Jimin dan teman-temannya yang lain akan tahu rumor tentang kehamilannya.
Pagi hari mendekati akhir September, ketika ia berusaha mengabaikan telepon dari Jimin dan seorang temannya yang lain, Taehyung mendapati orang aneh berdiri di depan apartemennya. Orang yang tidak pernah dikenalnya, mengenakan pakaian berwarna gelap dilengkapi dengan kacamata dan sebuah topi snapback berwarna hitam. Ia melihat orang itu berdiri dengan sikap menunggu dari balik jendela apartemennya yang berada di lantai 3, membuat Taehyung merasa khawatir.
Apa mungkin itu orang kiriman Jungkook?
Orang itu langsung pergi dan menghilang ketika ia seperti melihat sesuatu mendekatinya. Tidak lama kemudian muncul orang bertubuh tinggi dan berpakaian seragam lengkap, memasuki apartemennya. Taehyung berusaha untuk tidak panik ketika orang bertubuh tinggi tersebut tidak butuh waktu lama untuk muncul di depan pintu kamar apartemennya, berdiri di luar dengan sikap menunggu.
"Kim Taehyung? Bisa tolong kau buka pintunya?" kata suara tersebut. Taehyung mengintip dari lubang peephole. Namjoon.
Butuh beberapa saat untuk Taehyung memutuskan membukakan pintu. "Ye? Ada apa?"
Namjoon tersenyum dengan ramah, untuk pertama kalinya, dengan dua lesung pipit menyembul dengan indahnya di wajah Alpha tersebut, "Sudah saatnya. Apa mungkin kau lupa?"
Taehyung mengedarkan matanya ke sekeliling lorong apartemen. "Apa dia tidak ikut?"
"Dia tidak ikut. Dia ada urusan yang harus diselesaikan hari ini," jawab Namjoon. "Kau butuh berapa menit sampai aku bisa mengantarmu ke sana?"
Taehyung menelan ludahnya. Hari ini ia akan melakukan check up sekaligus memastikan bahwa ia benar-benar mengandung anak Jungkook. "Lima menit. Aku—aku mau ganti baju dulu."
"Take your time, then. Aku akan menunggu di bawah."
Taehyung langsung menutup pintunya setelah memastikan Namjoon telah masuk ke dalam lift apartemen. Perutnya kembali bergejolak dan ia buru-buru pergi ke kamar mandi untuk memuntahkan sarapan paginya. Entah karena morning sickness atau karena ia benar-benar merasa cemas akan mengikuti pemeriksaan hari ini.
"Jeon Jungkook keparat," gumamnya geram.
II
Namjoon pergi membawanya keluar dari keramaian kota Seoul menuju sebuah kota kecil yang hampir berdekatan dengan kota Busan. Dengan perjalanan yang nyaris memakan waktu 2 jam lebih, Namjoon nyaris tidak mengajaknya berbicara. Alpha itu hanya menanyainya sekali, apakah Taehyung merasa mual dengan keadaan di dalam mobil, sebelum akhirnya kembali fokus dengan perjalanan mereka.
Mereka harus melalui lahan perkebunan dan pertanian yang dikelilingi oleh hutan-hutan kecil, dan tiba di sebuah bangunan yang terletak begitu terpencil dari pemukiman warga. Bangunan tersebut memiliki luas beratus-ratus hektar, dikelilingi hutan, sebuah sungai yang warna airnya masih jernih, dan bebukitan rendah. Namjoon menghentikan mobil di depan sebuah pintu gerbang setinggi 5 meter, semuanya terbuat dari metal yang dihiasi sulur-sulur di pinggirannya. Namjoon berbicara melalui mesin perekam suara, dan pintu terbuka otomatis.
Taehyung tidak bisa menyembunyikan rasa takjubnya saat mobil melaju pelan ke dalam. Di sekitar hanya ada pepohonan tinggi yezo, rerumputan, taman-taman kecil dengan beberapa air mancur dan sungai buatan. Bahkan ia terkejut ketika matanya menangkap beberapa ekor rusa dan kelinci berlarian di taman. Butuh hampir 10 menit untuk tiba di sebuah rumah dengan 4 lantai, bergaya campuran antara modern dan klasik—membuat sisi seni Taehyung ingin mengutuki keluarga Jeon dengan selera mereka yang buruk dalam soal arsitektur rumah. Rumah tersebut terdiri dari dinding kaca dan sebagian berupa dinding beton, lengkap dengan kolam renang di lantai 2 dan sebuah air mancur di depan pintu masuk kediaman Jeon.
"Ini—"
"Kediaman keluarga Jeon Jungkook."
Taehyung tanpa sadar menyumpah serapah. "Dia serius tinggal di tempat seperti ini? Bahkan rumahnya seperti hampir 3 kali lipat lebih besar daripada bangunan apartemenku secara keseluruhan!"
Namjoon mendengus menahan tawanya, "Memangnya dia tinggal di mana lagi? Di taman?"
"Tapi apa kalian tidak pernah tersesat selama tinggal di rumah sebesar ini?" tanya Taehyung polos.
"Eh—kalau kau sudah lama tinggal di sini kau akan terbiasa menghapalkan ruangan-ruangan di dalamnya," sahut Namjoon masih menahan tawanya. Sepertinya ia gemas dengan keluguan yang ditampilkan oleh Taehyung.
Alpha itu kemudian membantu Taehyung keluar dari mobil. Begitu mereka tiba tepat di depan pintu rumah, seorang pelayan berpakaian resmi membukakan pintu. Taehyung nyaris memekik kaget begitu ia menyadari pelayan tersebut.
"Ah, Namjoon! Aku sudah lama—"
Oh Sehun, pelayan tersebut, menyadari rupa Taehyung dan langsung membuka mulutnya dengan sikap sama kagetnya. Ia menunjuk Taehyung dan menatap Namjoon—meminta penjelasan.
"Dia—?"
"Dia orang yang kami maksud, Sehun."
"Tidak kusangka kita akan bertemu lagi," ucap Taehyung canggung pada Sehun. Rupanya ia menyadari tato yang berada di lengan kiri mereka adalah lambang kelompok mafia Jungkook, sesuai dengan nama kelompok mereka. Chil Sung Pa, 7 bintang.
Sehun kini membulatkan matanya dengan sikap masih terperangah. Taehyung bisa mendengar Sehun menyumpah pelan.
Namjoon memandangi Sehun dan Taehyung secara bergantian, "Kalian saling kenal?" Alpha itu mengamati Taehyung, "Memangnya kau sudah tahu kalau orang ini salah satu dari butler keluarga Jungkook?"
Sehun mendorong Namjoon dan Taehyung masuk ke dalam rumah, "Silahkan masuk, silahkan masuk. Lupakan saja soal kemarin dan sudah ada yang menunggu kalian di dalam," ia melirik ke arah Taehyung dan mendekatkan jari telunjuknya ke bibir, menyuruhnya agar tidak membocorkan pertemuan mereka kemarin. Taehyung tersenyum tanpa disadari olehnya, melihat kelakuan Sehun.
"Ya, kami pernah bertemu sebelumnya."
Bagian dalam rumah keluarga Jeon jauh berbeda dari apa yang bisa dibayangkannya. Rumah itu mewah dengan berbagai macam perlengkapan modern. Ada banyak CCTV di sudut ruangan, sebuah lift dan mesin pengeras suara. Sebuah lampu gantung, terbuat dari kayu dan metal, menjadi hiasan yang menarik begitu ia masuk. Bahkan matanya tidak dapat berhenti mengamati lukisan-lukisan mahal, salah satunya karya Kim Whan-ki.
"Lukisan-lukisan di sini... Siapa yang mengoleksinya?" tanya Taehyung pada Namjoon.
Namjoon tersenyum geli, "Kau tidak akan percaya jika aku mengatakan Jungkook-ah yang membeli semua lukisan yang ada di sini dari acara pelelangan."
Taehyung tiba-tiba teringat akan lukisan-lukisannya yang belum selesai di apartemennya, dan beberapa lukisan lainnya yang telah terjual dengan harga murah. Sampai kapanpun ia tidak akan pernah bisa menyaingi harga lukisan di rumah keluarga Jungkook.
Ia nyaris menangkap sebuah foto keluarga berukuran lebih dari 3 meter, menampilkan seorang Alpha berusia 40 tahunan dengan seorang Beta wanita. Di samping Alpha tersebut berdiri seorang pria muda—mungkin berusia sekitar 17-18 tahun, dan seorang bayi laki-laki yang tengah duduk di pangkuan Beta wanita tersebut. Sekilas Taehyung mengenali senyuman di wajah bayi tersebut.
Mungkinkah itu Jungkook?
Tanpa sadar tangannya bergerak ke perutnya.
Ia hampir bisa membayangkan bagaimana wajah anak yang dikandungnya dari Jungkook.
Ah, kenapa aku malah kepikiran sampai kesitu?
"Kita sudah sampai," kata Sehun mengalihkan perhatian Taehyung.
Tanpa sadar mereka sudah sampai di depan sebuah pintu setinggi 2,5 meter yang terbuat dari kayu dan terbungkus frame berwarna hitam. Sehun membukakan pintu dan kemudian memohon undur diri, meninggalkan Namjoon dan Taehyung berdua di sebuah ruangan luas yang terdiri dari peralatan-peralatan yang pernah dilihatnya di rumah sakit dan sebuah ranjang tempat tidur lengkap dengan dua nakas di kanan dan kiri tempat tidur. Tetapi ketika Namjoon melangkah mendekati tempat tidur, Taehyung baru menyadari bahwa ada orang lain di dalam ruangan tersebut.
"Kau yang bernama Kim Taehyung?"
Seorang Omega, laki-laki, berdiri dari sebuah kursi dan tersenyum pada Taehyung dengan ramah. Taehyung menyadari bahwa Omega di depannya ini bahkan lebih cantik daripada Irene, tetapi di saat bersamaan juga tampan. Ia berusia kurang lebih 20 tahunan, dan dari caranya berbicara, Taehyung berasumsi bahwa Omega itu lebih tua darinya. Taehyung juga menghirup aroma Namjoon dari tubuh Omega tersebut.
"Kenalkan, Jin-hyung," kata Namjoon pada Omega itu, "Dia yang bernama Kim Taehyung alias V. Omega yang akan melahirkan anak dari Jungkook. Dan V," ucap Namjoon pada Taehyung, "Mari kukenalkan padamu, Kim Seokjin. Dia ini dokter pribadi keluarga Jeon semenjak 5 tahun lalu."
Seokjin—nama Omega itu, mengulurkan tangannya pada Taehyung, "Senang bertemu denganmu. Kau terlihat sangat menarik. Anakmu dengan Jungkook pasti akan sangat lucu."
Taehyung memerah mendengar ucapan tersebut, "Umm, gamsahamnida?" ucapnya canggung pada Seokjin. "Kau Omega dari Namjoon-hyung?"
Seokjin tertawa, "Baru beberapa minggu dia mengklaimku," ia melihat ke arah Namjoon sekilas. "Ngomong-ngomong, bagaimana dengan keadaanmu? Apa kau sudah mengalami gejala-gejala awal kehamilan?"
"Uhh—ya. Kurasa aku sudah mulai sering merasa mual dan mengalami muntah di pagi hari," Taehyung mengernyitkan dahi, "Secara teknis hampir setiap saat aku merasa mual, terutama jika aku tidak makan tepat waktu. Dan aku sering merasakan perutku kram, dan seluruh tubuhku nyeri. Apakah itu normal?"
"Normal untuk kehamilan pertama Omega, dan biasanya untuk kehamilan kedua rasa nyerinya akan sedikit berkurang," jawab Seokjin dengan nada antusias, "Kalau begitu sepertinya kita bisa mulai dengan tes urin. Apa kau sudah mencoba menggunakan test pack?"
Taehyung menggeleng, "Kupikir aku hanya perlu memastikannya dengan jadwal heatku yang tiba-tiba berhenti."
Seokjin berdehum, menyuruh Taehyung untuk duduk di samping tempat tidur dan meminum sebotol penuh jus jeruk, agar ia bisa mulai melakukan tes. Omega itu mengambil sampel urin Taehyung untuk mengeceknya sementara Namjoon berdiri menunggu di depan pintu. Beberapa menit kemudian Seokjin mendatangi Taehyung, tersenyum.
"Kau positif hamil. Chukhahabnida!"
Taehyung hanya tersenyum canggung, ia masih merasa takut dengan kehamilannya. Dan semuanya terasa seperti mimpi.
Namjoon membantunya untuk tiduran di atas tempat tidur, sementara Seokjin mempersiapkan sebuah alat aneh yang tidak pernah dilihatnya.
"Itu—?" tanyanya pada Seokjin sambil menunjuk pada benda di tangannya.
"Ini USG. Untuk melihat keadaan bayimu."
Taehyung memandang dengan takjub.
Seokjin memoleskan sebuah cairan seperti jelly ke perut Taehyung, membuat Omega yang lebih muda itu mengerang karena sensasi dingin yang menjalar di bagian perutnya. Seokjin menggerak-gerakkan tongkat pendeteksi, dan sebuah gambar berwarna hitam putih muncul di layar USG.
"Kau bisa lihat gambar hitam putih di sini? Ini bayimu."
"O-oh."
Seokjin menunjuk ke sebuah gambar berbentuk titik hitam. "Usia kandunganmu 5 minggu, kalau dilihat dari posisinya. Dan jika perkiraanku tepat, bayi ini akan lahir pada bulan Mei."
"Uh, V? Apa kau menangis?" Namjoon mengernyitkan dahi melihat Taehyung berkaca-kaca di depan sebuah gambar hitam putih yang hanya menunjukkan setitik kecil yang tidak bergerak di layar.
"A-aku tidak menangis," ucap Taehyung sambil berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah.
Ia menangis bukan karena terharu layaknya seorang ibu yang baru melihat perkembangan janinnya, tapi karena rasa takut bahwa apa yang dialaminya saat ini adalah kenyataannya. Dan bukti bahwa ia kini sudah terjerat dengan seorang mafia terkenal di Asia Timur terpampang dengan jelas di layar USG.
Seokjin menendang kaki Namjoon dengan sikap jengkel, "Jika kau tidak bisa membaca situasi, lebih baik kau menunggu di luar."
Namjoon hanya bisa balas memandanginya dengan bingung, merasa bahwa dirinya tidak salah sama sekali.
Kemudian pemeriksaan dilanjutkan dengan menimbang berat badan dan mengukur tinggi Taehyung. Seokjin mengerutkan dahinya ketika melihat hasil timbangan berat badan Taehyung, "Kau—sedikit kekurangan berat badan daripada yang kukira. Apa kau jarang makan?"
Taehyung memaksakan diri untuk tersenyum, "Umm, aku hanya ingin menghemat uang."
"Kau hamil," kata Seokjin, selayaknya seorang dokter menasihati pasiennya sambil melipat kedua tangannya, "Kau tidak bisa seenaknya tidak makan sementara ada seorang bayi sedang berusaha di dalam tubuhmu. Aku akan memberikan beberapa obat untukmu, dan jika perlu, aku akan menyuruh Namjoon-ah untuk membelikanmu makanan jika perlu."
"Hyung, aku bertugas sebagai supir, bukan sebagai tukang delivery makanan." Namjoon menyeletuk di antara keduanya.
Seokjin setengah mencibir Namjoon, "Apa salahnya? Kalian sama-sama memiliki kendaraan."
Taehyung tertawa mendengar ucapan Seokjin, "Ne, ne. Aku mengerti. Aku akan makan dengan teratur."
Sejujurnya alasan ia menghemat uang adalah agar ia bisa menabung untuk biaya keluarganya sekaligus membiayai peralatan melukis yang selama ini ia kumpulkan. Beasiswa yang ia terima di universitas tidak sanggup untuk menutupi seluruh biaya hidupnya di Seoul, oleh karena itu Taehyung memutuskan untuk bekerja sebagai host di klub Hoseok. Gaji yang diterimanya selama ini di klub dapat meringankan sedikit beban hidupnya dan keluarganya di Daegu. Setidaknya sampai Jungkook menawarkannya uang yang sudah dijanjikannya beberapa minggu lalu.
Tidak lama setelah mereka melakukan pemeriksaan kesehatan pada Taehyung, Jungkook memunculkan dirinya di dalam kamar. Alpha itu mengenakan kaus t-shirt berwarna putih dan jins yang robek di bagian kedua lututnya—persis seperti yang dikenakanya di hari mereka selesai berhubungan seks. Rambutnya dibiarkan disisir ke belakang, menampilkan wajah tampannya dan dahinya yang membuatnya terlihat lebih dewasa. Entah kenapa, Taehyung merasa Jungkook terlihat begitu menggairahkan setelah lama mereka tidak berhubungan seks, padahal Jungkook telah mengacaukan pikiran Taehyung dengan keputusan bodohnya telah menerima penawaran Alpha tersebut.
"Oh, pemeriksaannya sudah selesai?" cicit Jungkook dengan sikap lugunya persis seperti anak kecil—dan kontras dengan wajahnya yang justru terlihat lebih dewasa. Jari tangannya yang panjang dan berurat, yang beberapa minggu lalu merangkul tubuh Taehyung dengan erat, menyisir rambutnya ke ke belakang. Taehyung membayangkan tangan itu kembali mendekapnya, merangkul kedua sisi di panggulnya.
Pasti karena pengaruh hormon aku jadi berpikiran aneh-aneh, gumam Taehyung jengkel pada dirinya sendiri.
Alpha itu berjalan ke arah Taehyung, melihat ke arah perutnya, lalu wajahnya berubah heran, "Uhh, kau tidak terlihat gendut? Apa kau benar-benar sedang hamil?"
Taehyung tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya mendengar ucapan tersebut dari Jungkook.
"Mwo?"
Seokjin langsung berlari dan memukul bagian kepala Jungkook, "Tidak bisakah kau menjaga sikapmu kepada orang yang lebih tua untuk beberapa saat?!"
Jungkook meringis memegangi bagian belakang kepalanya, "Aku serius menanyakannya!"
"Aku juga serius untuk memukulmu! Dia baru 5 minggu, babo, masih belum saatnya untuk seorang Omega yang hamil mulai menunjukkan kehamilannya!"
Namjoon akhirnya maju untuk menjadi penengah mereka. Jungkook setengah mengimitasi tingkah laku Seokjin dan setengah mengejek Omega yang lebih tua tersebut. Wajah jahilnya tersebut kini tersenyum pada Taehyung, "Ah, rupanya kau benar-benar hamil 'kan V?" hidungnya mengembang dan mengempis, menghirup aroma tubuh Taehyung. "Aku bisa merasakan perubahan aroma tubuhmu."
"Orang-orang di universitas juga mulai mencurigai bahwa aku hamil," kata Taehyung jengkel. Ia memasang wajah tidak senang pada Alpha tersebut, "Seharusnya aku meminta dari awal padamu untuk menjaga nama baikku, jika kau ingin aku mengandung anak ini sampai lahir nanti. Aku tidak mungkin melanjutkan kuliah dengan aroma seperti Omega yang sedang hamil tanpa seorang Alpha."
"Bukankah aku memintamu untuk berhenti kuliah selama setahun, setidaknya sampai kau melahirkan anak ini?"
"Kau menyuruhku meninggalkan tugas lukisan yang selama ini sedang aku kerjakan?" tanpa sadar Taehyung meninggikan nada suaranya.
Jungkook mengangkat bahunya, "Atau kalau kau memang mau melanjutkan kuliah, Seokjin bisa membantumu menyembunyikan baumu. Hyung, bukankah kau punya pil atau apalah—yang bisa menyembunyikan aroma tubuh Omega?" ia menoleh pada Seokjin.
"Aku punya, tapi—"
"Berikan padanya."
"Aku tidak yakin pil ini baik untuk dikonsumsi oleh Omega yang sedang hamil," Seokjin mengernyitkan dahi.
"Untuk sementara, setidaknya," Jungkook kemudian kembali beralih pada Taehyung. "Lalu sampai kau—mungkin setengah perjalanan nanti, kau harus tinggal di rumah ini."
"Aku—"
"Aku bisa membiayai makanmu di sini. Plus kau tidak perlu membayar uang tagihan apartemen. Di sini banyak hal yang bisa aku sediakan untukmu," kata Jungkook. "Tapi dengan syarat, aku tidak ingin kau berhubungan dengan orang selain orang kepercayaanku."
"Itu tidak mungkin! Aku tetap harus menghubungi keluargaku! Juga teman-temanku!"
"Aku bisa mengirimi keluargamu uang, jika kau mau," Jungkook kembali tersenyum, tetapi sikapnya terlihat tidak peduli. "Dan untuk teman-temanmu? Aku bisa saja membuat mereka percaya bahwa untuk sementara kau harus berhenti di sekolah selama setahun untuk bertemu keluargamu, atau alasan apapun yang masuk akal. Mudah bukan?"
Taehyung menatap Jungkook dengan sikap tak percaya. Betapa mudahnya bagi Jungkook untuk menentukan kehidupan Taehyung, mengatur-ngatur hidupnya hanya karena ia mengandung seorang anak Jeon Jungkook. Ia tahu bahwa Jungkook bersikap protektif agar musuh-musuhnya tidak tahu tentang keberadaan cikal bakal penerus keluarga Jeon. Tapi bagaimanapun juga, jika ia tinggal di rumah Jungkook dan berhenti kuliah selama setahun, itu sama saja dengan memutuskan hubungan dengan keluarganya dan Jimin, sekaligus membohongi mereka.
"Jika pemeriksaan hari ini sudah selesai, mungkin Namjoon-hyung bisa segera mengantarmu pulang ke apartemen," Jungkook mengakhiri pertemuan singkat mereka.
Perasaan awal Taehyung yang begitu terpikat dengan Jungkook, kini mendingin menjadi perasaan jengkel bercampur marah. Ia ingin sekali menghajar Alpha di hadapannya ini, mengajarkannya bagaimana untuk memiliki perasaan dan menghargai orang. Emosi Taehyung yang meluap-luap itu tergambar jelas di wajahnya, tetapi Jungkook terlalu masa bodoh untuk memperhatikannya.
"Kau mau ke mana, Jungkook-ah? Apa urusanmu belum selesai juga?" tanya Namjoon, seolah-olah semenjak tadi ia sama sekali tidak mendengarkan pembicaraan mereka.
"Aku harus pergi ke tempat Yoongi-hyung," kata Jungkook. Taehyung sejenak seperti mengenali nama tersebut, tetapi perasaan marah pada Jungkook mengalihkan perhatiannya. "Ada produk baru yang mau kami jual ke Cina dan Asia Tenggara hari ini. Sekalian aku ingin mengajaknya bermain game baru yang dipromosikan oleh Kojima-ahjussi kemarin."
Namjoon dan Seokjin membungkukkan tubuh mereka pada Jungkook, sebelum keduanya mengantar Taehyung ke depan pintu utama.
"Kau pasti kesal dengan sikap Jungkook tadi," ucap Seokjin begitu mereka keluar kamar. Taehyung hanya mendengus. "Tapi kurasa ia cukup beralasan unutk mengatakan hal seperti itu. Juga mengatur semuanya tentang kehidupanmu. Bagaimana pun juga, kau sudah setuju untuk mengandung anaknya."
"Sejujurnya, aku merasa menyesal sudah tergiur dengan uang yang ia tawarkan," kata Taehyung mengaku, "Tapi aku tidak menyangka bahwa aku sampai harus menjual separuh kehidupanku pada orang seperti dia. Hanya karena mengandung anaknya."
"Jika kau berpikir bahwa Jungkook seperti anak-anak, dia memang masih anak kecil," kata Seokjin, setengah berbisik pada Taehyung. "Dia menjadi pemimpin keluarga Jeon dan mulai efektif sebagai pemimpin geondal semenjak 7 tahun lalu."
"Huh?! Saat dia berusia 13 tahun?!" Taehyung nyaris memekik kaget, tetapi langsung mengontrol suaranya saat Namjoon menatapnya dengan tatapan setengah menegur.
"Lebih tepatnya saat ia baru berusia 12 tahun. Dia baru saja berusia 20 tahun September tanggal 1 yang lalu."
Taehyung memandang Seokjin dengan sikap percaya. Berarti, secara teknis, Jungkook lebih muda 2 tahun darinya. Dan Alpha itu telah berbohong padanya, mengatakan bahwa ia mewarisi aset keluarganya sejak usia 17 tahun. "Kenapa—kenapa dia bisa menjadi pemimpin sebuah kelompok mafia di usia semuda itu?"
"Kakak laki-lakinya, Junghyun, tewas setelah salah seorang mantan anggota kami membunuhnya. Dan ternyata mantan anggota kami ini bekerja pada kelompok lain, yang sudah menjadi musuh lama keluarga Jeon," cerita Seokjin, matanya menatap lurus ke depan. "Kurasa cara ia tetap bertahan sebagai pemimpin ini geondal Chil Sung Pa sekaligus melewatkan masa remajanya dengan beban seberat itu adalah dengan tetap bersikap seperti anak-anak. Karena ia tidak pernah punya kesempatan untuk menjalankan masa kecilnya seperti anak-anak normal lain seusianya."
Taehyung berusaha untuk tidak peduli, tapi tanpa sadar ia justru terhanyut mendengar cerita Seokjin dan dalam beberapa saat tiba-tiba saja mereka sudah tiba di depan pintu utama. Ketika ia hendak mencapai pintu mobil, dilihatnya Chanyeol—Alpha yang kemarin ditemuinya bersama Sehun dan teman-teman mereka yang lain, keluar dari dalam mobil berwarna putih. Alpha itu memandang Taehyung dengan bingung.
"Huh, V? Sedang apa kau di sini?"
"Oh—Chanyeol—"
Namjoon melihat ke arah Chanyeol dan ke arah Taehyung, "—kalian saling mengenal juga?"
"Memangnya siapa orang ini, Joon?" tanya Chanyeol sambil menunjuk ke arah Taehyung.
"Dia Omega yang menjadi surrogate mother—ibu dari anak penerus Jungkook-ah."
Taehyung merasakan perubahan sikap Chanyeol yang tiba-tiba menjadi kikuk, "Uh, oh—o-oke, kalau begitu. Aku mau masuk ke dalam." Alpha itu masuk ke dalam rumah setelah mengunci pintu mobil.
Seokjin mengerutkan dahi, "Dia bersikap aneh hari ini."
"Kurasa, Sehun dan Chanyeol bertemu denganmu di satu tempat yang sama," tebak Namjoon pada Taehyung. Omega itu hanya mendengus, tidak memberikan jawaban langsung.
Seokjin membantunya masuk ke dalam mobil dan menahan pintu, "Aku akan menghubungimu lagi jika nanti aku ingin melakukan pemeriksaan. Jangan lupakan preskripsi obat yang kuberikan, oke? Juga jangan lupa untuk mengatur jadwal makanmu," kata Omega itu pada Taehyung. Taehyung tidak sempat bertanya darimana Seokjin mengetahui nomor ponselnya, karena Namjoon sudah pergi membawanya jauh dari kediaman Jeon.
Pikirannya kembali beralih pada cerita masa lalu Jungkook.
Juga sebuah foto keluarga yang terpampang jelas di antara ruang tengah dengan ruang foyer.
II
Namjoon menurunkannya di depan apartemen, mengucapkan salam perpisahan padanya, sebelum akhirnya melaju keluar dari lingkup matanya. Taehyung menghela napas panjang, merasakan bahwa hari-harinya yang berjalan normal akan mengalami banyak gundukan ke depannya. Tangannya bergerak ke atas perutnya, mengelus-elusnya pelan dengan ibu jarinya.
Setelah melahirkan anak ini, kehidupannya akan kembali berjalan normal. Ia hanya perlu menunggu hingga 8 bulan ke depan, setidaknya.
Seorang pria berpakaian gelap yang dilihatnya tadi pagi di depan rumahnya kini kembali menyita perhatiannya. Taehyung menoleh, melihat pria itu—ia tidak tahu apakah ia Beta, Alpha, atau Omega—berjalan ke arahanya. Taehyung mempercepat langkahnya untuk memasuki apartemen, tetapi pria di belakangnya tetap berjalan mengikutinya. Ia hampir berteriak pada seorang penghuni apartemen, ketika pria misterius yang mengikutinya itu bertanya padanya.
"Sillyehamnida," ucap orang asing itu sambil membenarkan posisi kacamata hitamnya, "Jika aku tidak mengganggu, bolehkah aku bertanya di mana aku harus ke tempat ini?" ia mengulurkan secarik kertas berisi alamat. "Aku tersesat seharian di depan apartemen ini, kurasa temanku memberikan alamat yang salah."
Taehyung menghentikan langkahnya, berbalik. Tanpa sadar menghembuskan napas lega, "Oh, tempat ini. Kau hanya perlu berbelok ke persimpangan di sana dan ikuti saja arah jalan. Kau akan sampai tempat ini nanti."
Orang itu membungkuk terima kasih dan pergi meninggalkan Taehyung, menghilang di persimpangan.
Taehyung kembali menuju kamar apartemennya dan membaringkan tubuhnya sesampainya di sana. Ia melihat ponselnya masih menunjukkan sebuah pesan dari Hoseok yang memberhentikannya untuk sementara dan beberapa missed call dari Jimin. Dengan perasaan bersalah bercampur perasaan rindu pada sahabatnya tersebut, Taehyung memutuskan untuk menelepon. Tetapi karena nada sibuk beberapa kali menjawabnya, ia mengirimkan sebuah pesan—mengira bahwa Jimin sedang sibuk dengan latihannya hari ini.
Jimininie, maafkan aku menghilang akhir-akhir. Jika kau ada waktu, besok bisakah kita bertemu untuk makan malam?
Ia meletakkan ponselnya kembali setelah mengirimkan pesan tersebut. Sesaat muncul ingatan bahwa ia belum menghubungi keluarganya. Taehyung kembali mengambil ponselnya, hendak memencet nomor telepon ayahnya. Tetapi ia mengurungkan niat dan memutuskan untuk tidur.
II
Taehyung terbangun di tengah malam, menyadari bahwa ia belum sempat makan malam. Tangannya bergerak menuruni perutnya yang mulai bergejolak mual. Dengan cepat-cepat ia membuka kulkas dan mengambil secuil biskuit yang dibawakan oleh Seokjin bersamaan dengan obat penahan rasa mualnya. Taehyung merasakan perutnya mulai kembali membaik, untuk sementara. Sambil menghela napas, ia memanaskan sandwich yang dibelinya tadi pagi sebelum Namjoon menjemputnya.
Tiba-tiba terdengar suara kenop pintu diputar—bertepatan dengan suara microwavenya berbunyi. Taehyung menoleh dan melihat pintunya mulai terbuka, menampakkan pria yang tadi sore menanyakan alamat padanya.
Taehyung dengan panik langsung menodongkan pisau dapur, hendak melindungi dirinya. Rasa takut bercampur cemas menyelimuti dirinya.
"Oh, annyeong, yeobo. Sepertinya kau memberitahukanku alamat yang salah," kata pria itu padanya. "Mungkin kau bisa menurunkan pisau itu sebelum kau melukai dirimu sendiri."
"Siapa—siapa kau?! Kenapa kau bisa masuk ke kamarku?!"
"Untung saja apartemenmu ini cukup sepi dari penghuni. Setidaknya aku sudah berhasil membungkam mulut beberapa di antara mereka," Pria itu membuka maskernya dan kacamata hitamnya, menyeringai pada Taehyung, "Kau tidak perlu tahu siapa aku. Kau hanya perlu menjatuhkan pisau itu dari tanganmu, lalu kita bicara baik-baik."
Taehyung merasakan pegangan di gagang pisaunya bergetar bersamaan dengan jari-jari tangannya, "K-katakan apa maksud dan tujuanmu ke sini," Taehyung berusaha mengancam pria itu, tetapi justru suaranya terdengar gemetaran.
Pria itu menghela napas, terdengar kecewa dengan ucapan Taehyung. Ia membuat siulan rendah, dan dua orang lain—dua orang Beta pria—masuk ke dalam apartemennya. Pria itu menunjuk ke arah Taehyung, dan dua Beta suruhannya langsung mendekati Taehyung. Dengan susah payah, Taehyung melayangkan pisaunya ke arah Beta-Beta tersebut, melakukan perlawanan. Ia berhasil menoreh lengan seorang Beta dengan pisau, tetapi kemudian Beta yang lain menangkap kedua lengannya dan membuat kuncian. Taehyung menjatuhkan pisaunya, rasa mual kembali bergejolak di perutnya.
"Sudah kubilang jangan melawan. Kau akan melukai dirimu sendiri, jagi." Pria itu menyeringai pada Taehyung.
Taehyung meludah padanya, membuat pria itu langsung memasang ekspresi jijik. Ia menampar wajah Taehyung keras-keras, membuatnya merasakan pandangannya mulai kabur.
"Kau pasti jalang milik Jeon Jungkook, kan?" Pria itu menarik rambut Taehyung, dan samar-samar Taehyung mencium aroma Alpha dari pria itu. Alpha itu mengendus-endus di leher Taehyung, "Dan kau memiliki aroma si bangsat Jeon. Kau pasti sudah mengandung anaknya saat ini."
"Kau yang bangsat," ucap Taehyung dengan ekspresi menantang.
Alpha itu tertawa, "Kau pikir Omega lemah sepertimu, bisa mengatai-ngataiku?" ia mengeluarkan sebuah pisau dari kantung celananya. Pisau itu didekatkannya ke leher Taehyung, "Ingat posisimu di mana saat ini, Omega. Kau bahkan tidak sanggup melindungi dirimu sendiri dengan pisau dapur."
Taehyung menggeram marah. Kakinya yang tidak ditahan berusaha menggapai dan menendang Alpha tersebut di bagian selangkangannya dengan percuma. Alpha tersebut tertawa semakin keras dan menyuruh salah satu Beta suruhannya menutup pintu. Salah satu beta menahan tubuh Taehyung dan menjatuhkannya ke atas tempat tidur, mulai mengikat kedua tangan Taehyung ke kepala tempat tidur. Taehyung meronta dengan kuat, dan ia berhasil menendang selangkangan Beta yang mengikat tangannya, hanya untuk mendapatkan tamparan yang lebih keras di wajahnya.
"Sebenarnya kami di sini dikirim oleh atasan kami untuk membawamu ke tempat kami. Atasan kami butuh beberapa informasi tentang Jeon Jungkook darimu. Tapi setidaknya kami ingin mencicipi sedikit barang dari seorang Jeon Jungkook," Alpha itu menarik celana Taehyung dengan paksa.
"Apa-apaan kau—" Taehyung berusaha menendang Alpha tersebut, tetapi seorang Beta menahan kakinya dan melebarkannya.
Saat Alpha itu membuka risleting celananya, Taehyung mulai menyadari bahwa Alpha itu hendak memperkosanya. Taehyung berteriak dan meronta, tetapi percuma karena saat ini tidak akan ada orang yang mendatanginya. Air matanya mulai bercucuran.
"Lepaskan aku! Lepaskan!"
Suara pintu didobrak dengan kuat mengalihkan perhatian Alpha tersebut dan kedua Beta suruhannya. Taehyung samar-samar melihat Jungkook—ya, seorang Jeon Jungkook—berdiri di depan pintunya. Eskpresi wajahnya terlihat dingin dan marah, tidak pernah Taehyung melihat ekspresi tersebut di wajah Jungkook sebelumnya. Jungkook mengacungkan pistolnya dan terdengar suara tembakan bertubi-tubi. Isi kepala dua orang Beta tersebut langsung hancur berceceran di tembok apartemen. Sementara Alpha yang tadi hendak memperkosanya, kini berguling ke bawah tempat tidur untuk mencari tempat berlindung.
Jungkook mengikutinya ke balik tempat tidur dengan mengacungkan pistolnya, sementara Taehyung merasakan dirinya membeku, begitu terguncang dengan pemandangan tiba-tiba yang baru saja terjadi di hadapannya. Seluruh tubuhnya terasa dingin seperti es.
Alpha yang nyaris memperkosanya tersebut kembali muncul di balik tempat tidur dan mulai menembakkan pistolnya ke arah Jungkook. Sebuah peluru menoreh sebersit luka torehan kecil di pipi Jungkook, tetapi Alpha muda itu tetap bergerak dengan gesit mengejar Alpha yang lebih tua hingga nyaris ke area dapur. Jungkook berhasil menembakkan sebuah peluru ke kaki dan bagian dada Alpha tersebut, membuat Alpha itu kini terseok-seok di atas lantai vinyl apartemen.
"Jebal, jangan bunuh aku—" pinta Alpha itu—tiba-tiba berubah menjadi peminta-minta setelah apa yang dilakukannya pada Taenhyung.
Jungkook menatap Alpha itu dengan tatapan dingin tidak berperasaan. Ia mengacungkan pistolnya ke wajah Alpha itu, "Katakan, pada siapa kau bekerja?" Alpha itu terlihat bimbang, tetapi Jungkook kembali menembakkan pelurunya ke kaki Alpha itu yang sudah tertanam timah panas, "Mau aku menembakinya sampai kakimu putus?"
"C-C-Choi—C-Choi Seunghyun—"
Taehyung melihat bahu Jungkook menegang mendengar nama tersebut, tetapi kemudian ia tersenyum dengan dingin, "Oh. Keluarga Choi? Kelompok Ssang Yong Pa?" ia membungkuk untuk menggulung lengan baju Alpha itu. Dilihatnya sebuah tato bergambar dua ekor naga berwarna biru terpampang jelas. "Kalau begitu sayang sekali, aku tidak bisa membiarkanmu mati dengan tenang hari ini dan membiarkanmu memberi informasi pada atasanmu bahwa kau sudah bertemu langsung dengan seorang Jeon Jungkook. Aku juga harus memberimu hadiah karena sudah berani berniat untuk menyentuh calon anakku." Ia mengarahkan moncong pistol ke antara selangkangan Alpha asing itu.
Suara tembakan disertai cipratan darah membuat Taehyung bergidik ngeri—sampai-sampai ia mengalihkan wajahnya ke sisi yang berlawanan. Ia bisa mendengar suara tembakan itu masih sedikit bergema, tapi kali ini ikut disertai suara teriakan. Ia tahu bahwa Alpha itu mengerang kesakitan sambil memegangi penisnya yang baru saja ditembak oleh Jungkook. Tanpa mengalihkan wajahnya dari Alpha itu, Jungkook mengambil saputangannya dan mengelap tangan dan moncong pistolnya. Ia berjalan mendekati Taehyung dan melepaskan tangannya.
"Tenanglah. Kau sudah aman, V."
Taehyung menelan ludahnya dengan berat, "K-kau—kau benar-benar membunuh mereka... Tanpa ampun."
Jungkook mengendikkan bahu, "Sudah makanan sehari-hari bagiku. Aku pernah bilang sebelumnya, kan?"
Taehyung terkesiap ketika tangan kekar Jungkook meraih tubuhnya, menutupi setengah tubuh Taehyung dengan kain dan menggendongnya dengan gaya pengantin. Omega itu langsung memendam kepalanya ke dada Jungkook ketika keduanya berjalan melewati Alpha yang masih pelan-pelan sekarat kehabisan darah di lantai, meminta pertolongan. Taehyung berusaha mengacuhkan suara kesakitan yang dikeluarkan oleh Alpha yang sedang sekarat tersebut.
Chanyeol muncul di ambang pintu yang terbuka, lengkap mengenakan seragam seperti yang dilihat Taehyung tadi siang. Ia langsung berubah pucat saat melihat kondisi kamar Taehyung, "Uhh, boss? Jungkook-ah? Apa ada yang bisa kubantu?"
"Tolong bersihkan ruangan ini. Tapi biarkan orang itu mati sampai kehabisan darah."
Chanyeol meneguk ludahnya, "Ah. Harusnya kau memanggilku dan Joon ke sini. Biar kami yang membereskannya."
"Kalian terlalu lama sampai ke sini," sahut Jungkook jengkel.
Ia membawa tubuh Taehyung sampai ke depan apartemen. Sesampainya di lantai dasar, pemilik apartemen dan seorang penjaga tampak sedang berdebat dengan Namjoon. Beta tua tersebut mendelik marah pada Jungkook dan menunjuk-nunjuk ke arah Taehyung.
"Kalian tidak tahu apa, kalian membuat kegaduhan?! Dan kenapa kalian membawa tubuh penghuni apartemenku? Siapa kalian?" tanya Beta tua tersebut dengan cecaran pertanyaan.
Namjoon memandang ke arah Jungkook, dan Alpha yang lebih muda itu melemparinya dengan pandangan menyuruh. Namjoon menarik napas dan mengeluarkan 2 tumpuk uang dari tas kecil yang dibawanya di bawah ikat pinggangnya, memberikannya pada Beta tua tersebut.
"Jika Anda bersedia untuk tidak membicarakan hal ini dan ikut merahasiakan tentang kami, atasanku akan memberikan uang lebih banyak lagi. Pokoknya, tutup mulut kalian jika polisi menanyakan sesuatu. Mengerti?"
Beta tua tersebut memandangi penjaga apartemen di sebelahnya dan tergagap saat menerima dua tumpuk uang berjumlah menggiurkan tersebut, "Huh? B-benarkah? Baiklah kalau begitu..."
Jungkook mendudukkan Taehyung di kursi penumpang, dan Omega itu menarik kedua kakinya sampai ke dada. Ia masih merasakan tubuhnya gemetar oleh rasa takut. Sampai akhirnya Jungkook memegangi bahunya dengan lembut.
"Aku bodoh sudah mengira semuanya akan baik-baik saja jika aku meninggalkanmu di apartemen sendirian. Tidak kusangka kelompok Ssang Yong Pa sudah sampai tahu informasi tentangmu," kata Alpha itu. "Kau baik-baik saja? Jika kau terlalu stres, kau bisa menyakiti anakku."
Taehyung menoleh pada Jungkook, tangannya memegangi perutnya, "Kau baru saja membunuh tiga orang di depanku. Ba—bagaimana—aku tidak merasa panik untuk saat ini?"
"Karena itulah aku akan membawamu tinggal di tempatku. Mulai hari ini. Aku dan orang-orang kepercayaanku dapat menjaga dan mengawasimu sepenuhnya," ucap Jungkook. Tangannya meraih dagu Taehyung, "Aku juga bersumpah akan menjagamu. Aku akan menghabisi mereka sebelum mereka menyentuhmu. Dan menyentuh anakku."
Anakmu, tetapi bukan anakku? Taehyung merasakan perasaan di dadanya berubah getir, "Lalu bagaimana dengan teman-temanku? Keluargaku? Bagaimana kalau musuh-musuhmu menargetkan diriku sebagai buruan mereka, lalu mengancam keberadaan keluargaku dan teman-temanku?"
"Kan sudah kukatakan bahwa orang-orangku bisa mengatasinya," dengus Jungkook tidak sabaran. "Atau jika kau mau, aku bisa memberimu kebebasan untuk menelepon teman-temanmu dan kelurgamu, dengan satu syarat kau harus berbohong pada mereka."
"Aku tidak mung—"
Jungkook memegangi kedua bahu Taehyung dengan kasar, "Jadi maumu apa? Kau mau mereka ikut terlibat lebih dalam dengan masalahmu sekarang ini? Kau sendiri yang sudah menyetujui penawaranku untuk mengandung anakku. Sudah terlambat untukmu mundur." Ia menatap mata Taehyung dengan netra kelamnya selama beberapa saat, sebelum akhirnya melepaskan tangannya dari bahu Taehyung.
Taehyung hanya bisa diam. Namjoon masuk ke dalam mobil beberapa saat kemudian dan membawa mereka ke kediaman Jeon. Samar-samar, ketika mereka keluar dari area parkir apartemen, Taehyung bisa mendengar suara sirene mobil polisi.
Perasaannya semakin ketir saat ia mengingat ia benar-benar meninggalkan lukisan-lukisannya di dalam apartemen, dalam kondisi yang sama sekali tidak menguntungkan.
II
Mereka sampai lebih cepat daripada ketika ia pertama kali pergi ke kediaman Jeon.
Sesampainya di sana, Jungkook langsung membawa Taehyung ke lantai teratas, ke sebuah kamar yang hampir 3 kali lipat lebih besar daripada kamar yang didatanginya pagi tadi. Sesampainya di kamar itu, Taehyung langsung disajikan dengan makanan—mengingatkan bahwa dirinya belum makan sama sekali.
"Makan," kata Jungkook pada Taehyung, "Jin-hyung bilang padaku bahwa Omega hamil akan mudah merasakan lapar di malam hari."
Taehyung mengernyitkan dahinya, mendengar ucapan Jungkook seperti sebuah ucapan bodoh yang dengan mentah-mentah dikeluarkan begitu saja. Tetapi ia mengambil roti lapis yang berada pada nampan di atas tempat tidur, lengkap dengan 1 teko berisi teh.
"Ini—kamar siapa?" tanya Taehyung, tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya terhadap kamar mewah tersebut.
"Untuk sementara kau akan tidur bersamaku di kamar ini, sampai kamar pribadi untukmu siap dipakai."
Taehyung hampir menjatuhkan roti lapisnya, "Tidur—denganmu?"
"Apa aku kedengaran kurang jelas?"
Wajah Taehyung memerah, "Tapi kau—bukankah—"
"Kita sudah pernah tidur dan berhubungan seks bersama sebelumnya 'kan? Seharusnya tidak masalah juga untukmu tidur bersamaku selama beberapa hari sampai kamarmu siap digunakan," kata Jungkook menjelaskan.
Tiba-tiba Taehyung teringat kembali akan lukisan-lukisannya yang masih berada di dalam kamar, dan mendengus kecewa bahwa ia tidak akan bisa melanjutkan lukisannya yang masih belum sempat diselesaikan olehnya. "Oh, begitu."
Jungkook hanya melihatnya makan dengan pelan-pelan, wajahnya kembali berubah sumringah seperti biasa. Taehyung memiliki firasat jika Jungkook sangat menikmati caranya makan, entah kenapa alasannya.
Selesai Taehyung makan, Jungkook menyuruh Taehyung melepaskan bajunya.
"Huh?" Taehyung bingung dengan maksud Jungkook yang menyuruhnya untuk melepaskan pakaiannya. "Kenapa?"
"Kenapa? Karena aku ingin mencicipimu setelah berminggu-minggu lamanya," kata Jungkook sambil tersenyum, ia merangkak mendekati Taehyung di atas tempat tidur. "Atau perlu aku yang melepaskannya?"
Taehyung sedikit heran dengan perubahan mood Alpha itu. "Uh, tidak perlu. Biar aku saja," ucapnya sambil melepaskan kaus berwarna hitamnya. Tangannya bergerak ke bagian bawah celananya, saat ia menyadari bahwa ia tidak memakai celana setelah Alpha yang nyaris memperkosanya merebutnya dengan paksa.
Jungkook berbaring di atas tempat tidur, "Duduklah di atasku."
Taehyung menuruti keinginan Alpha itu, dan ia bergerak ke atas tubuh Jungkook. Kedua kakinya yang jenjang mengapit pinggul Alpha tersebut. Jungkook menggerakkan salah satu tangannya ke pinggul Taehyung, sementara tangan lainnya bergerak ke risleting celananya. Ia membebaskan penisnya yang setengah berdiri, dan Taehyung mulai merasakan dirinya bergairah melihat barang milik Alpha tersebut. Tanpa sadar tangannya bergerak ke penis Jungkook, meraba dan memeganginya. Tidak butuh lama bagi Taehyung untuk mulai memijat sepasang zakar milik Alpha itu. Jungkook menahan napasnya sambil menyapu sebagian wajahnya dengan telapak tangan, berusaha menahan erangan nikmat dari mulutnya.
"Kau juga menginginkannya, kan? Kau menginginkan penisku di dalam lubang milikmu."
Taehyung terkesiap mendengar ucapan Alpha itu, tetapi ia mengangguk pelan.
Omega itu memainkan penis Jungkook, sementara Jungkook mempererat tangannya di pinggul Taehyung. Kemudian Taehyung memposisikan dirinya tepat di atas penis Jungkook, merasakan sensasi nikmat saat barang milik Jungkook merasuki dirinya. Jungkook mendorong penisnya sampai Taehyung mengeluarkan suara rintihan kenikmatan.
"K-Kookie—" Taehyung membisikkan nama tersebut—nama Jungkook ketika pertama kali mereka bertemu.
"Aku menyukai nama panggilan itu jika kau yang memanggilku demikian," Jungkook tersenyum padanya dan kembali menyodok-nyodokkan barangnya di dalam tubuh Taehyung. Penis Taehyung mengeluarkan sedikit cairan ke atas perut Jungkook saat Alpha itu menubruk tepat di bagian paling sensitif, sementara Alpha itu beberapa kali berejakulasi di dalam tubuhnya.
Jungkook mendesah panjang, keringat mulai berhamburan di keningnya. Ia tersenyum pada Taehyung dengan senyuman kelinci miliknya, membuat Omega itu merasakan hatinya sedikit berdesir dengan rasa gemas.
"Kau memang masih bocah, Jungkook-ah."
Jungkook mengernyitkan dahinya, "Aku sudah 20 tahun. Aku bukan bocah."
"Tetap saja kau seorang bocah di mataku," kata Taehyung setengah menggumam. Jungkook berdecak kesal padanya.
Taehyung membungkukkan tubuhnya, mulutnya bergerak mencium bagian leher dan sampai ke bagian mulut Jungkook. Jungkook mempererat pegangannya pada panggul Taehyung, memasukkan lidahnya, mengulum.
Mereka bertahan dengan posisi itu selama beberapa lama, sampai akhirnya Jungkook meregangkan pegangannya di pinggul Taehyung ketika mereka berhenti berciuman, menggerakkan tangannya ke perut Omega itu.
"Di sini. Kau mengandung anakku di dalam perutmu ini." Jungkook memandangi perut Taehyung lamat-lamat. "Penerus keluarga Jeon. Penerus kelompok Chil Sung Pa."
Taehyung mengira Alpha itu akan menangis saat memegangi perutnya, tetapi Jungkook hanya diam, terus mengamati perut Taehyung dengan takjub. Taehyung jatuh di sebelahnya beberapa menit kemudian—dengan posisi memunggungi Jungkook, peluh membasahi tubuhnya. Ia bisa merasakan Jungkook menatap bagian punggungnya lekat-lekat, merasakan Alpha itu memegangi punggungnya, mengusapnya dengan lembut. Ia menggigit bibirnya ketika Jungkook mencium bagian tengkuk lehernya, mendesah pelan.
"Aku lupa betapa cantiknya rupamu. Dan betapa indahnya dirimu."
Taehyung merasakan pipinya memanas, tetapi ia tidak mengatakan apapun.
Tidak akan pernah ada kata anak kita yang keluar dari mulut Jungkook, ia yakin itu. Karena anak ini bukan tercipta karena rasa cinta di antara keduanya, tetapi karena sebagai bentuk sebuah penawaran yang tidak dapat ditolak oleh Taehyung.
Sesaat pikiran itu membuatnya sedih.
Taehyung tersentak kaget untuk sesaat ketika ia merasakan kedua tangan kekar Jungkook bergerak merangkulnya. Ia mencium aroma tubuh Jungkook semakin pekat di hidungnya, tetapi di saat bersamaan juga menenengkannya. Aroma kayumanis dan sitrus. Taehyung menutup matanya, merasakan dunianya mulai terbawa ke alam bawah sadar.
II
Taehyung terbangun di siang hari, dalam keadaan telanjang, dan dengan sisi yang ditiduri oleh Jungkook semalam telah kosong. Hanya menyisakan lipatan dari seprai berwarna putih. Dilihatnya di atas nakas sudah disediakan satu nampan lengkap berisi sarapan dan satu teko teh. Taehyung merasakan perutnya bergemuruh, dan tanpa pikir panjang ia mengambil nampan tersebut, mencicipinya. Dilihatnya ada sebotol vitamin prenatal dan obat untuk mengurangi rasa mualnya, disertai catatan kecil dari Jungkook.
V,
Habiskan sarapanmu, mengerti? JK.
Taehyung tersenyum membaca catatan kecil itu, sesaat melupakan kejadian yang baru menimpanya kemarin. Dan saat ini ia bertanya-tanya ke mana Jungkook pergi, meninggalkannya tanpa membangunkannya.
Ia berdiri dari tempat tidur setelah menghabiskan sarapannya—mengenakan pakaian bersih yang disediakan oleh Jungkook, dan baru teringat kemudian bahwa ia meninggalkan ponselnya di dalam apartemen. Ia panik untuk sesaat, khawatir jika Jimin atau keluarganya meneleponnya. Ia berlari ke luar kamar, saat Chanyeol berdiri di depan pintu kamar.
"Oh, kau sudah bangun rupanya, V," kata Alpha itu masih kikuk seperti pertemuan mereka yang kedua. "Uh, boss, maksudku Jungkook-ah—dia menitipkan pesannya padaku untuk membawakan barang-barangmu ke sini."
Ia menuntun Taehyung ke lantai dasar dan menunjukkan lukisan-lukisannya dengan rapi berjejer di ruang foyer. Taehyung mengamati lukisan-lukisannya satu persatu, "Jungkook menyuruh kau melakukan ini?"
Chanyeol mengangguk. Ia mengeluarkan sebuah ponsel Samsung dan menyerahkannya pada Taehyung, "Aku juga menemukan ini. Sepertinya ada teman-temanmu yang menelepon dari tadi pagi."
Taehyung mengambil ponselnya dari Chanyeol dengan antusias, "Aigoo—astaga—untung saja kau membawanya ke sini—" ia membungkukkan tubuhnya dengan penuh terimakasih pada Chanyeol.
"Tidak masalah," kata Chanyeol, tersenyum tulus padanya. "Kupikir saat kau tiba-tiba pergi meninggalkan kami tanpa ijin, ada sesuatu padamu. Ternyata kau mengandung anak atasanku, huh? Aku keduluan selama beberapa minggu rupanya."
Taehyung tertawa agak kaku, "Aku juga tidak menduga kalian bawahan Jungkook." Ia mengulurkan tangannya pada Chanyeol, "Kurasa kita bisa berteman mulai saat ini, huh?"
Chanyeol terlihat agak kaget dengan uluran tangan tersebut, tetapi ia menyambar tangan Taehyung dengan sikap antusias, "Ne. Teman."
Taehyung kembali ke kamar Jungkook setelah Chanyeol meyakinkannya untuk membawa lukisan-lukisannya ke ruangan yang lebih memungkinkan untuk diakomodir.
Ia menyalakan ponselnya, merasakan perasaan bersalah begitu melihat banyak missed call dari Jimin dan keluarganya. Dengan tangan gemetar, ia mengetikkan nama Jimin dan menekan tombol panggilan. Jimin menjawabnya tidak lama kemudian.
"TAE! Kau ke mana saja?! Aku mencarimu ke mana-mana, babo! Aku ke apartemenmu tapi pemilik apartemen bilang bahwa kau sudah lama pergi dari apartemen! Lalu ada polisi di depan apartemenmu sewaktu aku berada di sana—Tae?"
Taehyung menangis mendengar suara sahabatnya tersebut. Ia begitu merindukan suara Jimin yang selalu terdengar melengking dengan riang, merindukan Jimin yang selalu menegurnya dan tidak bosan mengomelinya jika ia berbuat kesalahan. "Maafkan aku, Jiminie, aku—aku pergi tanpa mengabarimu."
"Tapi kau baik-baik saja, kan? Kau seperti menangis—"
"Aku baik-baik saja. Aku pulang ke rumah orang tuaku di Daegu," Taehyung menggigit lidahnya sedikit, merasa bersalah membohongi temannya.
"Ke Daegu? Ada apa? Sampai kapan?"
"A-aku tidak tahu. Aku harus membantu keluargaku di sini. Setidaknya sampai perekonomian kami membaik."
"Lalu bagaimana dengan kuliahmu? Aku dengar—," ia bisa merasakan Jimin bimbang, "Kau—apa benar kau hamil?"
Tangan Taehyung bergerak ke perutnya, "Apa kau lebih mempercayai rumor daripada temanmu sendiri, Jiminie?"
"Bukan begitu maksudku, hanya saja—" ia bisa mendengar Jimin menelan ludahnya, "Jika kau ada sesuatu, masalah apapun, kau bisa cerita padaku, oke? Aku akan membantumu sebisaku. Aku rindu padamu. Apa hari ini artinya kita tidak jadi pergi makan?"
Taehyung mengingat bahwa ia mengirimi pesan pada Jimin untuk mengajaknya makan, "Kurasa begitu. Sekali lagi, aku benar-benar minta maaf."
"Aku mengerti. Aku bisa membantumu kalau soal uang—"
"Kau tidak perlu melakukannya, Jiminie. Aku bisa melakukannya sendiri dengan keluargaku, semuanya akan baik-baik saja."
Jimin menghela napas, "Kalau begitu, jaga dirimu baik-baik, oke?"
"Kau juga," ucap Taehyung.
Jimin memutus telepon.
"Shi-bal," gumam Taehyung sambil menangkupkan telapak tangannya ke wajahnya.
Delapan bulan lagi maka ia akan bebas. Delapan bulan lagi ia akan kembali ke kehidupan normalnya. Delapan bulan lagi ia akan bisa melunasi hutang-hutang keluarganya dan menyekolahkan adik-adiknya.
Delapan bulan lagi, menuju Mei, dan Taehyung bisa merasakan dirinya sudah dirundung penyesalan yang begitu dalam.
Mei di dalam benaknya terasa seperti masih bertahun-tahun lagi.
TBC
Author's comment: Baru sadar jika fanfic yang saya buat banyak persamaan dalam plot dan penokohan. Wahaha.
Dan maaf lama sekali untuk waktu updatenya. Saya lagi menjalankan skripsi dan beberapa minggu belakangan sibuk mengejar penelitian, jadinya ya semua fanfic terbengkalai untuk sementara.
Untuk yang membaca fanfic saya yang lain, A Genius In Love dan Spring Days, mohon bersabar untuk menunggu kelanjutan dua fanfic itu. Karena Spring Days menjadi fanfic terfavorit yang pernah saya buat, jadi butuh waktu lama untuk memikirkan keberjalanan ceritanya agar sempurna. Apalagi setiap kali saya membuat fanfic, saya harus membaca ulang supaya saya tahu jalan ceritanya selanjutnya yang lebih baik seperti apa haha.
Terimakasih yang sudah memberikan review, follow, dan favorite. :D
Yang sudah mereview di chapter sebelumnya: Kyunie, MiOS, MinJimin, Viyomi, gglorrsp, justnyao, vkookv, vvvvv, yunitailfa, frveryoung, Skyfreeze, ThaliaTamara4, Steven Dion, alviarchiezz
