Disclaimer: KHR belongs to Amano Akira, Varia New Member (Selena dan Xenon) belongs to Eltrish. And don't forget that Xanxus and Squalo belongs to each other! (Fufufu, who can deny this fact?)
Warning: OOC, typo, cussing words, cerita amburadul, cacat, maksa, GJ, dan karya dari seorang penulis amatiran.
Fic ini juga merupakan fic dalam rangka meramaikan fandom KHR dengan pairing XS bersama Arisu-san!
Enjoy the story! ;)
Kedua bocah itu masih mengitari Xanxus dan Squalo dengan riang sambil berteriak "Popa!" dan "Moma!". Pimpinan Varia dan tangan kanannya itu pun masih sibuk berdebat, namun ketika kekesalannya yang menumpuk tak tertahankan lagi, Xanxus menggeram dengan murka. "CEPAT BAWA PERGI BOCAH-BOCAH BRENGSEK ITU SEBELUM KUBUNUH MEREKA!"
Ngeri membuat Xanxus lebih marah, Lussuria dan Levi buru-buru bergerak.
"Maaf ya tuan putri yang cantik, sekarang kau harus ikut denganku." bujuk Lussuria. Ia mengulurkan kedua tangannya pada Selena.
"Lalu kau ikut denganku." ujar Levi singkat, tidak mau basa-basi. Ia menarik tangan Xenon paksa.
Baik Selena maupun Xenon yang tadinya tersenyum dengan ceria sama-sama memandang Lussuria dan Levi dengan tatapan sedingin es.
"Kauw... kauw pikil dengyan syapa kau bicala, HAH?"
Seketika itu juga Lussuria terpental dari hadapan Selena. Putri kecil egois itu ganti menatap Levi dan sekejap setelahnya Levi juga terpental jauh ke belakang. Seluruh anggota Varia yang lain terperanjat kaget, begitu juga Xanxus.
Belum puas membuat seluruh penonton yang ada terdiam saking kagetnya, Xenon mengambil pistol kecil dari balik celananya lalu mengarahkannya ke arah Levi.
"V-VOIIII! kurasa kita harus menghentikan dia!" teriak Squalo mulai panik. Tak perlu memberi perintah Bel pun langsung melesat dan mengamankan pistol itu dari tangan Xenon.
"Shishishi, pangeran kecil yang nakal. Entah darimana sifatnya itu menurun. Mungkin dari bos?"
Senyum di wajah Bel menghilang begitu Selena melemparkan beberapa pisau yang nyaris mengenainya. Spontan ia melepaskan pistol Xenon ke lantai dan langsung diambil oleh sang pemilik. Suara pelatuk pistol yang sudah ditarik terdengar dan sekarang Xenon mengarahkan pistolnya ke arah Bel.
"Voii!"
Melihat anggota Varia yang lain sudah kewalahan menghadapi dua bocah misterius itu, Squalo memutuskan untuk turun tangan. "Cih, melawan bocah saja kalian tidak becus, VOIIII!"
Laki-laki berambut perak itu pun menarik pedang dari sarungnya lalu menerjang ke arah Xenon. Namun alih-alih menyerang balik, Xenon diam saja begitu melihat pedang Squalo nyaris menebas tubuhnya. Ia tersenyum tipis lalu berkata, "Moma..."
DEG! Pedang Squalo terhenti.
A-Apa-apaan ini? Kenapa... kenapa aku menghentikan seranganku? Apa karena dia masih bocah? atau karena senyumannya mengingatkanku pada Xanxus? Atau karena ia memanggilku...?
Xanxus yang sedari tadi hanya menjadi penonton pun sekarang mulai buka mulut. Ia berjalan mendekat ke arah Squalo. "Hei sampah, kita akan merawat mereka, kau dengar aku? Berhenti menyerang mereka."
"Apa?" tanya seluruh anggota Varia bersamaan. Tapi tentu saja di antara semuanya suara Squalo yang paling jelas terdengar.
"Kubilang kita akan merawat mereka disini. Ini perintah." Setelah Xanxus memberi penekanan pada kata terakhirnya, anggota Varia yang lain pun memutuskan untuk pasrah, tentu saja kecuali Squalo.
"Voi! Kau sadar apa yang barusan kau ucapkan?" tanya Squalo dengan nada meninggi. "Kau mau merawat mereka bagaimana? Mereka itu masih bocah! Mereka hanya akan menyusahkan! Tidak bisa makan sendiri, tidak bisa tidur sendiri, jorok, berisik, bahkan tangisan mereka bisa membuatmu gila!"
Xanxus mengambil benda terdekat untuk dilempar, dan benda beruntung kali ini adalah asbak yang ada tak jauh darinya. Kini asbak itu sukses mendarat di pelipis Squalo dan meninggalkan luka disana.
"VOIIII! Apa yang kau lakukan brengsek!"
"Diam, sampah. Aku tidak mau mendengar keluhan." ujar Xanxus sinis. "Keputusanku sudah bulat, dan tidak ada yang bisa menganggu gugat keputsanku, mengerti?"
"Tapi Xanxus! Kau tidak suka anak-anak, bahkan benci mereka! Kenapa kau malah memutuskan untuk merawat mereka disini?"
"Karena bocah-bocah brengsek itu akan berguna sebagai bawahanku kelak, tidak ada salahnya merawat mereka disini sambil melatih mereka." Xanxus pun melangkahkan kakinya pergi keluar dari ruangan. Sebelum sosoknya benar-benar hilang, ia kembali menoleh pada tangan kanannya. "Aku lupa bilang, urusan bocah-bocah sial itu seluruhnya kuserahkan padamu, kau mengerti sampah brengsek?"
Belum sempat deretan protes dikeluarkan oleh Squalo, Xanxus terlebih dulu membanting pintu; dengan kata lain ia tidak mau menerima protes. Untuk sekian kalinya dalam hidupnya Squalo mengutuk bosnya.
"DASAR BOS SIALAAAAAAAAAAAAAN!"
3 hari menjelang pergantian tahun, Squalo duduk di atas tempat tidurnya dengan raut wajah kesal melebihi biasanya. Ia terlihat gusar, bingung, marah, panik, entah apa saja yang ia rasakan, yang jelas ia hari ini ia sangat kacau.
Oh tuhan, kalau kau memang ada dan bisa mendengarku... KUMOHON HENTIKAN SUARA BOCAH-BOCAH BRENGSEK ITU! geram Squalo dalam hati. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur, berusaha mengeyahkan suara bocah-bocah penghuni baru markas Varia itu meski nyatanya ia tidak bisa.
Beberapa saat kemudian suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah kamarnya. Squalo tahu suara langkah siapa ini. Langkah yang cepat, tenang, namun juga terasa begitu berbahaya; Xanxus. Benar saja, sekejap kemudian pintu kamarnya terbanting kencang dengan sosok Xanxus yang berdiri di hadapannya. Mata merah Xanxus yang semerah batu ruby memandangi Squalo dengan segenap emosi yang tak bisa lagi ia sembunyikan.
"Sudah kubilang untuk mengurus bocah-bocah brengsek itu." geram Xanxus.
Squalo bangun dari tempat tidurnya. Ia balik menatap ketua Varia itu emosi. "Aku sudah melakukannya sesuai perintahmu, brengsek!" teriak Squalo protes keras. "Aku sudah memberi mereka makan, memandikan mereka, membacakan mereka buku cerita, sedangkan kau? Kau malah asik bersantai di dalam kantor brengsekmu tanpa melakukan apa pun! Yang kau bisa lakukan hanya berteriak dan memerintahkanku ini itu!"
Xanxus berdesis lalu melangkahkan kakinya mendekat ke arah Squalo. Ia menatap tangan kanannya itu tajam, namun yang bersangkutan tidak bergeming dan balik memandanginya tajam.
Dengan sebelah tangan Xanxus menarik wajah Squalo dengan kasar.
"Jaga mulutmu, hiu brengsek. Jangan lupa dengan siapa kau bicara."
"Oh ya tuhan, aku sedang bicara dengan Yang mulia Xanxus!" Squalo bereaksi ketakutan yang terlihat jelas kalau dibuat-buat. "Kumohon jangan sakiti aku, Yang Mulia Xanxus, HAH! Kau pikir aku akan berkata seperti itu?"
Mata Xanxus memicing lalu ia mendorong tubuh Squalo kembali ke atas tempat tidur. "Ini terakhir kalinya aku berbaik hati, tidak ada lain kali." kata ketua Varia itu setengah mengancam. Setelah memastikan kalau Squalo tahu ia tidak main-main dengan ancamannya, Xanxus membalikkan badannya dan berlalu pergi.
Squalo tahu kalau bosnya itu memang brengsek, tapi setidaknya ia tidak terlalu bodoh sampai berani membangkang perintahnya. Ia tahu kalau Xanxus tidak pernah main-main dengan ancamannya. Dengan kekesalan menumpuk di dalam hatinya, Squalo beranjak bangun dari tempat tidur dan melangkahkan kakinya ke arah asal suara laknat yang beberapa hari ini sudah menganggu tidurnya.
Tak sabar Squalo membuka pintu, ia memilih menendangnya.
Di dalam kamar itu ada Lussuria, Bel, dan kedua bocah brengsek yang sudah menganggu hidup Squalo yang damai.
Begitu melihat Squalo masuk, baik Selena dan Xenon langsung berseru dengan gembira dan menghampirinya. "Moma!" lalu mereka berdua dengan sukses menabrak Squalo hingga laki-laki berambut perak itu jatuh tersungkur ke belakang.
"VOIIIIII! Brengsek! Aku baru datang tapi kalian langsung menyerbuku begini!"
Tidak mempedulikan wajah Squalo yang berubah masam, Selena dan Xenon tetap tersenyum sambil memeluknya. "Moma! Moma! Momaaaa!" seru mereka bersemangat.
Squalo melirik ke arah kedua bocah yang kini lekat memeluknya, lalu ia menghela nafas pelan. Entah karena sudah lelah berdebat atau karena sudah pasrah, Squalo membiarkan keduanya. Ya sudahlah...
Dari kejauhan Lussuria memegangi pipinya dengan sebelah tangan sementara sebelah tangannya lagi sibuk mengguncang-guncangkan tubuh Bel. "Kau lihat itu? kau lihat? Squaly membiarkan mereka memeluknya! Betapa jarang kau melihat pemandangan seperti ini!"
"Shishishi, mungkin ia baru saja teringat kalau pangeran dan putri kecil itu benar-benar anaknya." canda Bel sambil nyengir. Lussuria hanya cekikikan mendengarnya.
Sementara itu, dari balik pintu terlihat sosok Xanxus yang tersenyum tipis mengamati pemandangan di dalam kamar itu. Squalo yang urakan, kasar dan tempramental itu kini terlihat bagaikan sosok seorang ibu peyayang yang memeluk kedua anaknya.
"VOIIII! LEPASKAN AKU!"
Dan suara teriakan itu yang menutup satu momen kekeluargaan yang indah.
Thanks for reading!
Review (critics and comments) would be appreciated!
See you next time~
