Ok sebelum masuk kecerita author mau balas bebrapa review dulu.

Pairing? Silakan tebak sendiri

Kebencian Naruto tak berdasar? Itu akan dijelaskan dichap selanjutnya

Masalah kyubi dan biju lain? Ada dichap selanjutnya

Ujian utk mengetes kekuatan Naruto? Entahlah, mungkin

Ok itu saja dulu... Thanks sebelumnya sudah maj baca fict saya.

Story ini dipenuhi banyak misteri yang mengajak pikiran para reader untuk menebak misteri tersebut, tapi setiap misteri akan terpecahkan dichapter selanjutnya atau beberapa chapter kedepannya

The Next Generation of Sage of Sixpath

Rate: T+

Pairing: tebak sendiri

Genre: action, fantasy, adventure, romance

•••

••

CHAPTER 2: 10 Years After the Incident

Dibawah pohon nan besar dan rindang berbaring sosok yang kita semua kenali, Naruto Uzumaki.

Menatap langit yang cerah dengan kedua mata rinnegan miliknya, Naruto tersenyum dengan lembut sembari menghela nafas.

"Hah... Ternyata latihan ini lumayan melelahkan juga..." bersamaan dengan itu semilir angin datang membawa kesejukan dihari yang panas terik itu.

Dapat dilihat dibeberapa ratus meter didepan Naruto. Ratusan pohon roboh dan tercabut dari akarnya. Terlihat juga padang rumput hijau yang sekarang rusak tak karuan. Ditambah tebing tebing dan bukit bukit yang terlihat telah runtuh dan hancur. Itu semua karena latihan keras Naruto siang ini.

"Aku terkesan padamu bocah. Kau dapat menguasai teknik sihirku sepenuhnya.." tiba tiba saja suara Juubi terdengar dari dalam benak Naruto.

"Hah... Itu semua berkat bantuan darimu juga Juubi." Naruto meletakan kedua tanganya sebagai bantalan lalu perlahan menutup kedua matanya.

NARUTO MIND...

Terlihat disana, lorong penuh kegelapan. Lorong tersebut dipenuhi genangan air berwarna orange kecoklatan dibawahnya. Diatas genangan air itu terdapat Naruto berdiri menatap secercah cahaya dari ujung lorong tersebut. Tak lama kemudian dia melangkah mendekati cahaya tersebut.

Melewati cahaya itu Naruto mulai memasuki sebuah ruangan yang besar dan luas yang masih tergenangi air. Dari mulut ruangan Naruto dapat melihat sebuah kurungan raksasa berwarna merah yang terbuka lebar. Menampakan sosok monster raksasa dengan kesepuluh ekor yang melambai lambai dibelakangnya.

"Selamat datang Naruto. Aku senang kau kemari.." suara monster yang tak lain adalah Juubi menggema keseluruh ruangan.

"Ya.. Aku sudah lama tak mengunjungimu Juubi.." Naruto lalu berjalan mendekati Juubi. Seolah tak ada rasa takut sedikitpun akan monster raksasa itu.

Juubi menatap senang Naruto dengan mata tunggal miliknya. Mengarahkan satu tangan besar yang mengepal kepada bocah pirang didepannya yang juga dibalas hal yang serupa oleh Naruto.

"Yosh..kita beradu kepalan dulu Juubi.." seru Naruto penuh semangat.

"Haha...kita sudah melakukannya bocah.." Juubi sedikit tertawa mendengar ucapan Naruto yang terdengar konyol ditelinganya.

Tanpa memperdulikan ucapan Juubi, Naruto yang sudah melepas kepalannya mulai melompat keatas kepala besar Juubi. Lalu mulai berbaring diatas sana. "Hah.. Menggunakan kekuatanmu secara terus menerus membuat tubuhku sangat lelah Juubi.."

Tentu saja. Semakin kuat sihir yang kau gunakan, akan semakin banyak hawki yang dipakai Naruto..."

"Aku tahu.. Aku tahu... Tapi tak kusangka akan selelah ini tebayyo.."

"Lupakanlah soal itu.. Aku ingin bertanya sesuatu padamu Naruto.."

"Bertanya? Apa yang ingin kau tanyakan Juubi?"

"Bagaimana dengan itu? Apa kau akan kembali ke Konoha?"

Naruto menghela nafas pelan laku menaikan kedua bola matanya mencoba untuk berfikir. "Em.. Entahlah. Mungkin nanti..Memang kenapa aku harus kembali?"

"Ya tidak apa apa, itu urusanmu. Tapi aku sarankan kau kembali. Bukankah kau yang mengajariku bahwa memelihara kebencian dalam hatimu akan membuatmu menyesal nanti, tapi kenapa kau sendiri terjebak dalam kebencian itu sendiri Naruto?"

"Hah.. Cerewet sekali kau. Aku akan kembali, tapi entah kapan aku tak tahu."

"Terserah. aku ingin kembali tidur. Sampai jumpa." Dengan itu Juubi pun merendahkan kepala dan menutup mata besarnya. Sedangkan Naruto sendiri sudah menghilang dari atas kepala Juubi dan kembali kedunia nyata.

Naruto membuka kedua matanya. Mata rinnegan miliknya berganti menjadi mata sebiru langit. Merubah posisi menjadi duduk ,Narutoblalu bersandar dipohon dibelakangnya. "Hm... Mungkin aku harus pergi tebayyo.." Lalu berdiri dan langsung menghilang meninggalkan kilatan hitam ditempatnya semula.

10 menit berlalu...

WUSH...

BRAK.. BRUK.. BUGH...

Naruto muncul di wilayah Konoha, tapi sama sekali tidak mendarat dengan mulus. Tersungkur ditanah setelah jatuh dari langit dan menabrak beberapa dahan pohon diatasnya, itulah keadaan Naruto saat ini.

Mulai bangkit dari posisinya, Naruto mulai memandang lokasi sekitarnya yang tampak familiar. A.. Sekarang Naruto ingat, tempat ini adalah Death Forrest. Sebuah hutan yang separuh bagian dipenuhi oleh pepohonan mati dan separuhnya lagi pepohonan hijau raksasa yang menjulang tinggi keangkasa. Tempat ini juga dipenuhi monster monster yang sangat ganas dan siap memangsa siapa saja yang memasuki hutan ini.

"Wah..wah.. Coba kita lihat apa yang kita temukan disini..." belum sempat Naruto sadar dari lamunannya, Naruto dikejutkan oleh suara dari arah belakang.

Naruto secara reflek menoleh dan mendapati lima belas orang berpakaian biru gelap dengan rompi hitam berlambang Konoha didada kiri, menandakan bahwa mereka adalah Magician Police Comite.

"Ada seekor serangga kecil berani menyusup ke Konoha.." ujar seorang pria yang sepertinya adalah pemimpin dari yang lain.

"Dan setiap penyusup pasti akan mendapat hukuman, yaitu... MATI!" Dan dengan itu 15 orang tersebut langsung berubah menjadi sosok serigala dengan tinggi 2 meter. Otot otot ditubuh mereka membesar dilapisi bulu bulu berwarna merah dan kuning dibagian dada hingga perut, membuat pakaian mereka robek karenanya.

Naruto masih terdiam tenang ditempat, mengamati perubahan didepannya dengan seksama. "Jadi ini Transformation Magic? Tipe Warewolf ya.." batin Naruto sebelum melompat dua meter kebelakang.

"Kenapa kau tidak lari saja serangga. Ha..ha..ha..ha.." hinaan itu keluar dari mulut yang sama, sang ketua para warewolf yang berdiri dibarisan paling depan.

"Kalian terlalu memandang rendah diriku.." ucap Naruto dengan nada rendah dan tajam, memancing perhatian dari para warewolf.

"Sepertinya kita telah membuat seekor serangga marah.. Bagaimana kalau kita ajari dimana 'tempat' yang seharusnya untuk para serangga?"

Tanpa basa basi lagi, semua warewolf tersebut meluncur kearah Naruto dengan kecepatan yang luar biasa dan cakar serta taring tajam yang siap mencabik apa saja.

Melihat itu, dengan santai Naruto hanya mengarahkan satu tangannya kearah para warewolf dan mengucapkan satu kata yang akan menghakhiri pertarungan singkat ini.

Shinra Tensei!

Bersamaan dengan itu, tiba tiba saja sebuah gelombang kekuatan tak terlihat mengantam para warewolf dan membuat mereka terpental bebrapa ratus meter kebelakang dan merobohkan ratusan pohon sebelum akhirnya berhenti menghantam bukit hingga hancur.

"Ups, sepertinya aku terlalu berlebihan hehehe..." ucap Naruto sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat melihat kerusakan yang dibuatnya. Daerah berapa ratus meter didepan Naruto yang semula dipenuhi pepohonan hijau, sekarang tak lebih dari sekedar tanah gundul dengan pepohonan roboh ataupun tercabut.

Mengangkat kedua bahunya, Naruto lalu berbalik dan kembali menghilang dalam kilatan hitam.

Hokage Room...

Diruangan itu, terdapat wanita cantik berambut pirang panjang sedang duduk santai dikursi Hokage sembari meneguk sebotol sake yang tersaji dimeja didepannya, mengabaikan tumpukan dokumen yang berada diatas meja tersebut. Tenang dan damai, itulah yang dirasakan wanita yang diketahui bernama Tsunade tersebut. Tapi semua itu sirna ketika seseorang mendobrak pintu ruangannya dengan keras.

BRAKK!

"Tsunade-sama!"

Dan setelah itu masuklah sang pelaku pendobrakan, yang tak lain adalah tangan kanan Tsunade sendiri, Shizune.

Meneguk sake terakhirnya, Tsunade lalu menghela nafas sebelum membalas teriakan asistennya itu. "Ada apa Shizune?"

"Hah..hah.. Anu.. Tsunade-sama.. Hah..hah.."

Kembali meghela nafas, Tsunade menatap malas asistennya ini dan tak lama kemudian mengatakan sesuatu kepada Shizune.

"Duduklah dulu Shizune. Katakan dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi.."

Mendengar itu, Shizune lalu mencoba menarik nafas panjang untuk mengatur pernafasannya. Kemudian duduk berhadapan dengan Tsunade.

"Begini Tsunade-sama. Kami mendeteksi adanya penyusup dibagian barat Konoha, tepatnya di Death Forrest. Lalu aku mengirim tim MPC untuk menyelidiki hal itu. Tapi..."

"Tapi apa?"

"Tapi...mereka semua sekarang berada dirumah sakit dengan keadaan seluruh tubuh hampir patah tulang."

Seakan terkena sebuah kutukan, Tsunade langsung diam mematung seperti batu. Pikirannya seolah menolak semua ini, bagaimana mungkin ini terjadi? Padahal semua anggota MPC adalah Magician kelas A keatas dan mereka semua menguasai sihir diatas level 6. Lalu seberapa kuat penyusup itu sebenarnya?

"Kita pergi Shizune!"

"Ha'i!"

•••••••

Sekarang Naruto berada ditempat favoritnya dulu, Ichiraku Ramen. Memang setelah jatuh di Death Forrest dan mengunjungi makam Sandaime Hokage setelahnya, Naruto langsung pergi menuju Ichiraku Ramen untuk mengisi perutnya yang kosong mlompong.

SRUPP...

Dan dengan itu, Naruto telah menghabiskan semangkuk ramen yang dia pesan. Senyum lebar jelas terukir diwajah tan Naruto.

"Huwaa... Kenyangnya tebayyo.!" Seru Naruto sambil memegangi perutnya yang membesar dan mendorong pelan kursinya dengan kakinya membuat kursi tersebut sedikit terangkat mundur.

"Wah Naruto. 10 tahun menghilang, sifatmu sama sekali tidak berubah. Nafsu makanmu tetap saja besar seperti dulu.." kini giliran seorang pria yang sudah kelihatan berumur yang berucap. Pria tersebut memakai pakaian putih dengan penutup kepala seperti peci yang berwarna putih pula. Pria ini adalah sang pemilik Ichiraku Ramen, Teuchi.

"Habisnya mau bagaimana lagi Teuchi-san, aku lapar sekali..."

"Wah wah, siapa ini? Naruto-kun ya?"

Sekarang muncul lagi seorang gadis berambut coklat. Gadis ini memakai pakaian serupa dengan Teuchi. Dia adalah putri dari Teuchi sendiri, Ayame.

"Ayame-chan! Lama tak bertemu!" Naruto langsung meloncat kegirangan, dan membuat kepala berambut kuningnya membentur atap kedai ramen tersebut.

"Aduh! Ittei.."

"Hehehe... Naruto-kun tetap sama seperti dulu..,lucu." Yame tertawa kecil melihat tingkah laku konyol Naruto yang sejak dulu sama sekali tidak berubah sedikitpun.

"Wah.. Rupanya penyusupnya disini..."

Naruto yang mengelus kepalanya yang terbentur dikagetkan dengan munculnya beberapa orang dibelakangnya, dan dua diantaranya Naruto kenali.

Naruto menoleh dan langsung berteriak histeris saat melihat dua orang wanita yang dia kenali- tidak sangat Naruto kenali. "Eh? Shi-shizune-chan dan... Tsunade-bachan!"

Tsunade menepuk jidatnya pelan ketika melihat siapa penyusup yang dimaksud. Lalu menghela nafas untuk memulihkan ketenangannya.

"Jadu kau penyusup itu Naruto? Kau benar benar membuatku hampir mati membatu." Ucap Tsunade mewakili Shizune dan beberapa orag lain yang masih terlalu shock.

Naruto berusaha memahami apa yang dikatakan Tsunade, tapi tetap saja dia tidak bisa karena kemampuan otaknya yang berada dibawah rata rata.

"Apa maksud Tsunade-bachan?, aku tidak mengerti.."

Tsunade memberikan isyarat tangan terlebih dahulu kepada Shizune dkk, menyuruh mereka untuk pergi. Lalu Tsunade duduk dikursi disamping Naruto.

"Aha.. Tsunade-sama. Saya teranjung anda mau datang kekedai sederhana saya ini. Anda mau pesan apa Tsunade-sama?" ucap Teuchi penuh rasa hormat.

"Ah, tidak perlu. Aku hanya ingin bicara dengan Naruto." Tsunade menolak halus tawaran Teuchi dengan mengangkat satu tangannnya. Teuchi melihat itu lalu membungkuk dan melangkah menuju dapur.

"Ada apa Tsunade-bachan? Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Naruto bingung. Tidak biasanya seorang Kage turun kedesa dan menemuinya seperti ini.

"Naruto, kenapa kau hampir membunuh 15 orang yang berada di Death Forrest beberapa menit yang lalu huh?" pertanyaan Tsunade bagi Naruto seperti sebuah panah yang langsung menembus jantungnya, membuat wajah Naruto pucat seperti orang mati.

"Um.. Eto.. Kenapa bachan berfikir aku yang melakukan itu? Padahal aku kan tidak melakukan hal itu." Naruto mencoba bersikap tenang, tapi tetap saja gagal karena rasa takutnya yang sudah menyelimuti hati dan wajahnya masih terlihat pucat seperti sebelumnya.

"Hah...tak ada berbohong Naruto. Aku merasakan tekanan hawki milikmu sama dengan tekanan hawki orang yang membuat para anggota MPC itu masuk rumah sakit. Dan saat kutanyai bagaimana pakaian orang itu, jawaban mereka sama seperti pakaian yang kau kenakan Naruto.."

Skak mat. Penjelasan panjang lebar Tsunade membuat Naruto tak bisa berkata lagi. Semua itu memang benar, Narutolah yang melakukannya, tapi mengingat itu untuk membela diri maka bisa dikatakan Naruto tidak bersalah.

"Hah.. Baiklah Tsunade-bachan,aku akui itu tapi...mereka yang memulai duluan tebayyo.."

"Hah.. Sudah kuduga. Tapi aku senang jika penyusup itu kau, coba kalau orang lain, Konoha sekarang pasti dala keadaan darurat tingkat S."

"Hm..lalu apa hanya itu yang Tsunade-bachan ingin bicarakan denganku?"

"Hah bukan aku ingin bicara hal pemting padamu, tapi sebelum itu bagaimana kabar Jiraiya?"

Mendengar pertanyaan itu, ekspresi wajah Naruto langsung berubah seketika. Wajah penuh kesedihan dan penyesalan terpampang jelas diwajah tan itu. "Ero-sennin sudah... 'meninggal'."

Kata terakhir Naruto membuat Tsunade membatu, seakan seperti kembali terkena kutukan. Kedua mata Tsunade membulat sempurna. Memori kenangan dirinya dengan Jiraiya dan Orochimaru kembali terputar dipikirannya, tak terasa tetesan liquid bening mulai keluar dari kedua matanya karenanya.

"Na-naruto kau bercanda kan?"

"Tidak Tsunade-bachan, aku serius. Ero-sennin...tewas dalam sebuah pertarungan."

Shock. Itulah yang sangat cocok dengan perasaan Tsunade saat ini. Pikirannya seolah membantah semua perkataan Naruto. Orang macam apa yang bisa membunuh sahabatnya itu? yang dia ketahui memiliki Sage Hawki. Berniat menruskan pertanyaannya, tapi Tsunade urungkan niatnya itu saat melihat ekspresi Naruto yang tak jauh berbeda darinya. Dia tahu, Narutolah yang lebih menderita dan kehilangan dari pada dirinya, mengingat 7 tahun terakhir mereka telah hidup bersama. Mencoba memulihkan suasana, Tsunade pun mengalihkan topik pembicaraan.

"Sudah lupakan masalalu Naruto. Yang penting adalah masa sekarang dan yang akan datang. Dan ini.." tangan Tsunade terulur memberikan sebuah storage scrool yang kelihatannya berisi sebuah pesan penting.

Mengusap setetes air mata yang ingin keluar dari matanya, Naruto lalu mengambil storage scrool itu dan mulai mengamati benda tersebut dengan seksama. Storage scrool yang kelihatannya tidak terlalu panjang, dan dipenutup storage scrool ini juga tercetak lambang Magician Aliance. Menggunakan aspek aspek tersebut, Naruto berusaha menyimpulkan apa maksud semua ini, tapi tidak menemukan jawabnnya karena otaknya yang pas pasan.

"Apa isinya?"

"Bacalah."

Naruto mulai membuka penutupnya, mengambil isinya yang ternyata sebuah kertas putih berkualitas dengan bayak tulisan diatasnya. Naruto mengernyitkan keningnya setelah membaca isi dari kertas tersebut. "Ruller of Magic Tournament? Apa hubungannya denganku?"

Tsunade kembali menepuk jidatnya, kali ini lebih keras. Dia mengutuk kebodohan bocah didepanya ini yang sudah menyamai kekuatan dewa. Apa Naruto tidak lihat disana tertulis tujuannya? Yang benar saja, dasar bocah baka! Umpatan itulah yang terucap dihati dan pikiran Tsunade saat ini.

"Hah... Disitu tertulis Naruto, kalau Ruller of Magic Tournament akan segera diselenggarakan, dan Konoha diundang dan dipilih sebagai tuan rumah untuk turnamen itu tahun ini ..."

"Hm..lalu?" Naruto mengangguk ngangguk pertanda mengerti.

"Setiap negara diharuskan mengusung tiga peserta, tapi...posisi terakhir untuk peserta Konoha masih kosong. Jadi aku ingin menjadi kandidat untuk mengisi posisi itu Naruto..."

"Aku? Kenapa harus aku? Dan apa yang akan kudapat jika aku menjadi pesertanya?"

Tsunade menyamankan posisinya duduk, lalu menarik nafas panjang dan menghembuskan kembali secara pelan.

"Baiklah begini, aku memilihmu karena aku tahu kau itu kuat, mengingat kau sudah berlatih bersama Jiraiya selama kurang lebih 7 tahun..."

"Hm..lanjutkan."

"Dan bukankah kau ingin menunjukan kekuatanmu kepada semua orang Naruto? Ini akan acara yang bagus untuk memberi tahu dunia siapa sebenarnya dirimu Naruto... Dan bukan hanya itu, jika kau menang maka kau akan mendapat milyaran ryo dari Magician Aliance serta gelar God of Magic juga akan kau sandang Natuto."

Mempertimbangkan untung dan ruginya, Naruto tersenyum sambil mengangguk ngangguk. Dalam pikiran Naruto persenan keuntungannya adalah 80% , meskipun sebenarnya hanya 40% mengingat musuh yang dihadapi adalah magician kelas S yang sudah berpengalaman. Tapi tentu hal ini tak terpikir oleh Naruto.

"Tunggu, bukankah bachan bilang kandidat. Memang ada orang lain yang mejadi calonnya?"

"Tepat, ada satu orang lagi yang akan menjadi sainganmu dalam memperebutkan posisi ini."

"Dan siapakah itu?"

"Hyuga Neji, putra pertama klan Hyuga yang mewarisi Destruction Magic."

Hyuga Neji, nama itu terdengar famliar ditelinga Naruto. Naruto yakin pernah mendegar nama Hyuga sebelumnya, tapi dimana? Ah..entahlah, Naruto tak ingat dan tak ingin mengingatnya.

"Jadi?"

"Jadi..jika kau mau mengikuti turnament ini, maka kau harus bertarung dengannya dibabak seleksi calon peserta, sore ini di Hidden Leaf Arena.." Tsunade berdiri dari tempat duduknya dan mulai keluar dari Ichiraku Ramen "...jika kau mau, temui aku diruanganku nanti." Ucapnya sebelum benar benar pergi.

Diam dan berfikir sejenak, Naruto kemudian berdiri dari kursinya berniat untuk pergi pula.

"Ossan..berapa ramenku tadi?"

"Kau tak perlu bayar Naruto, anggap saja itu ucapan selamat datang dariku.." seru Teuchi yang sedang sibuk didapur.

Mendengar itu, Naruto tanpa basa basi langsung menghilang dan kembali meninggalkan kilatan hitam ditempatnya berpijak.

WUSH...

Naruto muncul diatas tanah didepan tempatnya tinggal dulu sebelum dirinya meninggalkan Konoha, apartement lamanya.

Naruto tidak langsung masuk ke apartementnya, melainkan memilih untuk memandangi apartemntnya itu dari bawah. Raut wajah bingung terlihat jelas diwajah Naruto, seingatnya saat dia meninggalakam Konoha dulu...apartementnya ini dia bakar untuk pengalih perhatian dan meghilangkan jejak. Tapi kenapa sekarang baik bak saja? Terlihat lebih besar dan indah malah.

Tak mau ambil pusing dengan petanyaan pertanyaan tersebut, Naruto langsung melangkah menuju pintu lalu langsung masuk kedalam. Didalam sana Naruto dibuat semakin bingung lagi, ruangan dan intertiornya begitu rapi dan tertata, lantainya terbuat dari keramik yang masih berkilau meskipun tetutup oleh debu, foto foto juga menempel rapi didinding, ditambah fas bunga yang berjejer disetiap sudut ruangan.

Menggeleng pelan, Naruto lalu naik keatas menuju kamar tidur miliknya dulu. Penasaran dan ingin tahu apa yang terjadi pada kamarnya tersebut.

CKLEKK..

Mata shapire Naruto membulat tak percaya dengan apa yang lihat dan mulutnya menganga lebar dengan tidak elitnya. Kamar Naruto yang seingatnya dulu hanya berukuran 4 × 3 meter, sekarang berubah menjadi dua kali lebih besar. Kasur yang dulunya sangat kecil sekarang beruba menjadi ranjang kingsize yang berbahan empuk dan berkualitas. Foto foto dirinya sewaktu kecil juga terpajang dikamar itu. Naruto nyaris saja pingsan tapi tidak tejadi karena dirinya sudah terlebih duku sadar dan melompat kegirangan.

"Huwa... Ini kamarku tebayyo... Apa ini mimpi..."

Naruto langsung melompat kekasur besar disana, debu yang ada seolah tak mejadi halangan.

"Wah...kasur ini benar benar empuk dan nyaman tebayyoo..." tangan dan kaki Naruto digerakan untuk merasakak sensasi nyaman yang tak pernah dirasakaknnya selama ini.

Naruto mengarahkan pandanganya kesegala arah dan tak sengaja menangkap osok sebuah benda diatas meja disamping kiri ranjangnya itu. Bangkit dan terduduk dikasur, tangan Naruto meraih benda tersebut yang ternyata adalah sebuah kotak berwarna ungu. Naruto membuka kotak tersebut, dan menaikan sebelah alisnya saat melihat isinya, yang tak lain adalah tiga lembar kertas. Karena penasaran, Naruto memustuskan mengambil dan mulai membaca isi kertas tersebut.

"18 Maret XXX, Hai Naruto-kun, sudah setahun kita tak berjumpa. Aku harap Naruto-kun baik dan sehat selalu. Meskipun penduduk desa menganggap Naruto-kun sudah tiada, tapi aku percaya bahwa Naruto-kun hanya menghilang beberapa saat dan pasti akan kembali ke Konoha suatu hari nanti. Oo ya maaf soal apartement Naruto-kun, setelah kebakaran itu aku mencoba memperbaikinya dengan menyewa tukang kayu menggunakan uang hasil tabunganku selama ini. Dan maaf kalau menurut Naruto-kun desainnya tidak menarik. Tapi aku akan selalu datang kemari untuk membersihkan, merawat dan memperindah apartement ini sampai Naruto-kun kembali nanti. Semoga Naruto-kun cepat kembali. Jaa ne. P.S Hyuga Hinata."

Senang dan bingung disaat bersamaan, itulah persaan Naruto saat ini. Senang karena ada orang lain yang peduli padanya, tapi juga bingung mengingat nama orang tersebut, terlebih lagi marga orang tersebut adalah marga klan bangsawan, seingatnya Naruto tak pernah berteman dengan bangsawan manapun.

"Hyuga Hinata... A.. Sekarang aku ingat, jadi gadis indigo itu ya.." Naruto akhirnya mengingat siapa sebenarnya Hyuga Hinata. Dia adalah gadis kecil yang menjadi teman sekelas Naruto di akademi dulu. Gadis indigo yang pemalu,pendiam, dan jarang bergaul. Tapi waluapun Naruto sudah ingat, tetap saja dia masih bingung. Sejak kapan aku berteman dengan Hyuga Hinata?

Mengabaikan kebingungan diotaknya, Naruto meletakan kembali kertas itu disamping surat lain yang belum dibacanya. Lalu tangannya kembali mengambil selmbar surat.

"10 Oktober XXX, Apa kabar Naruto-kun? Maaf Naruto-kun, sudah dua tahun aku tidak datang kemari, ya karena Tou-san ku mulai melarangku datang kemari sebab menganggap aku gila karena menunggui orang yang dianggap sudah mati . Tapi bagiku itu tidak masalah, selama Naruto-kun senang. Dan selamat ulang tahun yang ke 14 Naruto-kun, semoga Naruto-kun selalu sehat dan bahagia, dan semoga saat kembali nanti Naruto-kun sudah memiliki banyak teman. Maaf aku tidak bisa memberikan hadiah apapun pada Naruto-kun, tapi aku janji akan memberikan hadiah saat datang kemari lagi nanti. Bye Naruto-kun! Your Best Friend Hyuga Hinata."

Tak terasa, sebuah senyum yang begitu tulus dan lembut terukir diwajah tampan Naruto. Tersadar masih ada satu surat lagi, Naruto lalu meletakan surat itu ditempat yang sama seperti sebelumnya kemudian mengambil surat yang tersisa.

"13 Oktober XXX. Hallo Naruto-kun! Lagi lagi aku minta maaf karena sudah dua tahun tak mengunjungi apartement Naruto-kun ini. Tapi Naruto-kun jangan marah , aku sudah membawa hadiah yang kujanjikan, yaitu sebuah syal dan baju yang aku jahit sendiri. Dan kuletakan dibalik surat ini. Aku sengaja membuatnya lebih besar supaya bisa muat hingga beberapa tahun kedepan. Maaf jika jahitanku kurang bagus dan Naruto-kun tidak suka..." berhenti sejenak, Naruto menyingkap kertas pembatas tempat surat dan tempat hadiah Naruto berada. Dan benar saja, disana ada syal merah dan baju hitam panjang yang dilipat begitu rapi. Mengangkat kedua benda tersebut, Naruto tanpa sadar kembali tersenyum. Tak pernah dalam hidupnya merasa sebahagia ini, bahkan saat bersama Sandaime pun tak sampai seperti ini. Puas tersenyum Naruto lalu kembali membaca isi surat tersebut.

"... Dan ya, mungkin setelah ini aku tak bisa lagi mengirim surat ataupun merawat aprtement Naruto-kun ini. Bukannya aku sudah bosan atau apa, tapi... Para tetua desa dan para Daimyou mulai membenciku karena selalu datang ke apartement Naruto-kun, bahkan mereka megancam akan menghancurkan klan Hyuga jika aku teru melakukannya. Ayahku tentu tahu kalau aku tak bisa melakukan hal itu, jadi... aku akan dipindahkan ke Kirigakure untuk tinggal dan melatih kemampuan byakuganku disana. Maaf Naruto-kun aku benar benar minta maaf tentang hal ini. Dan ya... karena mungkin kita tak akan bertemu lagi, aku ingin mengatakan sesuatu yang sudah kupendam sejak dulu. Tapi sebelumnya aku minta maaf kalau ini mungkin menggangu Naruto-kun dan membuat Naruto-kun tidak nyaman. Tapi aku harus mengatakannya. Aku...sebenarnya... mencintaimu Naruto-kun, sejak dulu, sejak pertama kali kita bertemu, saat Naruto-kun menolongku dimusim salju waktu itu. Naruto-kun mau menerima ataupun tidak perasaanku ini, semua itu adalah pilihan Naruto-kun, jadi aku tidak akan memaksa. Apapun pilihan Naruto-kun, aku akan menerimanya. Semoga kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti. Dan semoga Naruto-kun sudah bahagia ketika itu terjadi. Oo ya selamat ulang tahun yang ke 16 Naruto-kun. Have a Happy Live. I Love You!"

Dan dititik ini, segala perasaan negatif Naruto muncul. Entah kenapa itu terjadi, Naruto tak tahu. Padahal dirinya bahkan hampir tak mengenal Hinata, tapi entah kenapa dihati Naruto merasa tak rela jika Hinata pergi meninggalkan dirinya. Tak terasa, tubuh Naruto tiba tiba meledakan energi hawki yang begitu kuat, membuat langit diatas apartementnya menggelap.

"Raaaaggghhh" raung Naruto pada langit langit kamarnya. Energi hawki yang begitu kuat itu membuat Naruto tak terkontrol. Mata Naruto berubah menjadi Rinnegan dengan tiga tomoe disetiap lapisan lingakarannya dan Naruto hampir membuat hancur kamarnya ini, tapi utung saja suara alarm menyadarkan dirinya.

KRING...KRING...KRING...

Menatap penuh amarah jam beker didepannya, Naruto menarik dan menghembuskan nafas terus menerus berusaha meredam emosi dalam dirinya. Sadar akan alarm tersebut, Naruto segera mematikan jam beker tersebut. Menatap baju dan syal yang merupakan hadiah dari teman lamanya itu, Naruto tanpa sadar mengukir sebuah senyum diwajahnya.

"Mungkin aku akan memakainya..."

Dan setelah itu, kedua mata Naruto mulai kembali normal, menandakan dia sudah kembali tenang. Langit yang gelap pun kini berubah cerah kembali.

Naruto yang kini sudah berganti pakaian berdiri didepan kaca melihat penampilannya. Naruto begitu cocok menggunakan pakaian barunya. Yakni celana orange panjang, baju hitam panjang, dan sebuah syal merah melingkar dilehernya (kalo belum paham, seperti di The Last, tapi pakaian doang rambutnya kagak). Puas berkaca, Naruto langsung mengambil jubah hitam dan segera bergegas pergi.

Hidden Leaf Arena...

Tribun penonton di HLA dipenuhi orang orang. Tak ada satupun tempat yang kosong, semuanya terisi tanpa terkecuali. Mereka semua datang untuk melihat pertarungan yang akan menentukan posisi terakhir perwakilan Konoha di Ruller Magit Tournament nanti.

Dan ditengah bangunan HLA yang mirip colesium itu terdapat sebuah arena berbentuk lingkaran dengan diamater 30 meter yang dikelilingi kolam air selebar 5 meter. Diatas arena itu terdapat seorang pemuda berambut coklat panjang tengah berdiri santai menanti lawan bertarungnya, yaitu Naruto.

Dari kejauhan, tampaklah sosok berjubah hitam berjalan santai dari salah satu lorong menuju keatas arena. Akhirnya sampailah sosok tersebut diatas arena, menatap lawan didepannya yaitu Neji dengan seringaian mengerikan yang tersembunyi dibalik jubah hitam yang dia kenakan.

"Sepertinya ini akan menarik tebayyo.."

TBC

Akhirnya selesai juga ini chap hahaha. Ok sebelumnya author mau minta maaf jika chap kali ini tidak sesuai harapan para readers, tapi mohon dimaklumi karena author sendiri masih belajar.

Sekarang masuk kecerita, untuk jadwal update strory ini adalah seminggu sekali, yaitu antara hari sennin, kamis, atau minggu.

Kedua seperti chap sebelumnya author minta kritik, saran, dan komentar para readers untuk chap kali ini. Dan usahakan yang membangun ya...

Ok sekian

SEE YA