Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing SasuNaru
Warning : This Fic Contain Yaoi (ofcourse), May Typos, Adult scene, DLDR!
Masta Yuu Presents Sins (Brother of Mine) Chapter 2
Here we go!
oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
Tit Tit Tit Tit Tit. . .
Jam box berwarna oranye bergaris hitam milik Naruto berbunyi. Memperingatkan si pemilik untuk segera bangun dari tidurnya yang nyenyak. Agak kasar, tangan berkulit tan tersebut memencet tombol di jam untuk mematikannya.
"Aku benci hari Senin."
Sedikit berbasa-basi di pagi hari, Naruto memulai rutinitasnya. Mengambil tas sekolahnya, menjadwal buku pelajarannya hari ini. Setelah selesai, ia mengambil handuk dan turun kebawah dimana kamar mandinya berada.
"Shit." Naruto mengumpat dalam hati kala ia melihat Sasuke baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Keduanya saling menatap.
"Kau lihat apa, brengsek?" Tanya Naruto dengan dingin. Sasuke hanya diam dan tetap bergeming. Naruto berdecak.
"Minggir!" Naruto menyingkirkan Sasuke dari hadapannya lalu segera masuk ke kamar mandi. Melewatkan saat dimana Sasuke menyeringai memandangnya.
oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
Selesai mandi dan berpakaian, Naruto melihat pantulannya di cermin. Mengambil gel rambut dan mengusapkannya ke rambutnya agar terlihat spiky. Setelah itu kalung hitam dengan bandul kristal seukuran jari kelingking bayi dilehernya ia rapikan dan ditambah lagi kalung rantai tanpa bandul. Tangannya pun ia pakaikan gelang rantai yang serupa dengan kalungnya dan beberapa gelang yang terbuat dari tali warna warni. Sejujurnya, meja Naruto hanya penuh dengan koleksi kalung dan gelang yang diklaim sebagai barang wajib untuk tampilan funky-pungky yang dianutnya.
"Kau memang tampan Naruto." Pujinya pada diri sendiri.
Puas dengan penampilannya, ia lantas menenteng tasnya lalu menuruni tangga menuju ruang makan. Sudah ada Ayah dan Ibunya disana yang dengan tenang menyantap makanannya.
"Tumben makan dulu, biasanya Ayah dan Ibu menungguku." Ucap Naruto sembari mendudukkan diri di kursi. Minato menghentikan makannya sejenak. Menatap sang anak.
"Apa Ayah belum bilang padamu, Naruto? Hari ini Ayah akan berangkat ke Shibuya. Ada masalah di cabang perusahaan yang ada disana. Dan Ayah yang di tunjuk untuk menyelesaikannya. Yah, hitung-hitung untuk promosi kenaikan jabatan Ayah." Jelas Minato dengan senyum yang mengembang. Naruto mengangguk paham.
"Kenapa tiba-tiba sekali? Jadi,tinggal aku sendiri sama Ibu dirumah ya?" Naruto menggumam pelan sambil mengambil nasi dan beberapa lauk, Ibunya menanggapi.
"Ibu tidak akan tinggal di rumah, Naruto." Jeda sejenak, Naruto mengernyit.
"Ibu juga akan ikut. Kau tahu 'kan kalau Ibu dari dulu ingin sekali ke Shibuya? Jadi, mumpung Ayahmu ditugaskan disana beberapa hari, Ibu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk tidak ikut."
Kushina berkata dengan semangat, membuat Naruto mau tidak mau harus menerimanya. Ia pun memakan sarapannya dengan sedikit enggan.
"Yah, terserah Ayah dan Ibu lah. Tapi, ngomong-ngomong, berapa hari?"
"Hanya tiga hari, Naruto. Iya 'kan, sayang?" Kushina menoleh pada suaminya.
"Iya, Naruto. Tapi jika masalahnya belum juga selesai dalam waktu itu, mungkin akan bertambah satu atau dua hari." Jelas sang Ayah, membuat sang Anak hanya bisa mendesah pasrah.
"Ya, baiklah, aku mengerti." Ujar Naruto dengan malas.
"Tapi usahakan jangan lama-lama. Aku tidak suka sendirian dirumah, tidak asik. Dan juga, aku minta uang jajan tambahan ya, aku kan tidak bisa masak, jadi aku perlu uang lebih untuk beli makanan diluar." Tambahnya dengan cengiran diakhir kalimat. Namun, cengirannya lenyap seketika saat ia melihat Sasuke muncul dan duduk dikursi makan tepan didepannya.
"Maaf aku terlambat." Ucap Sasuke sambil memandang Kushina dan Minato yang menanggapinya dengan senyuman hangat khas orang tua.
"Tidak apa-apa, Sasuke. Tak usah sungkan begitu, kami keluargamu sekarang, jadi bersikap biasa lah." Jawab Minato, lalu kemudian menatap Naruto.
"Nah, Naruto, kau tidak akan sendirian dirumah, ada kakakmu, Sasuke. Dia sudah Ayah beritahu kalau aku dan Ibumu akan pergi beberapa hari. Dan kudengar dia juga bisa masak, jadi kau tidak usah repot beli diluar."
"Iya, Naruto sayang. Kemarin Sasuke membantu ibu untuk memasak makan malam. Tapi, Sasuke tidak suka ramen, dan dia juga tidak bisa membuatnya. Jadi kau harus puasa makan ramen dulu ya."
"Ugh, napsu makanku hilang." Naruto membatin. Ia diam saja saat orang tuanya membicarakan Sasuke, terlalu malas untuk menanggapi. Ia menatap sekilas Sasuke yang terlihat santai dengan sarapannya, tak memperdulikan Ayah dan Ibunya yang sedang berbicara.
"Dasar tak tahu diri." Naruto geram. Ingin rasanya ia membunuh pemuda itu. Berdecak pelan, Naruto memutuskan untuk berdiri dari kursinya, berniat pergi. Membuat orang tuanya memandangnya heran.
"Aku sudah kenyang. Hubungi aku kalau Ayah dan Ibu sudah sampai di Shibuya. Aku berangkat dulu."
"Tunggu, Naruto!" Yang dipanggil menghentikan langkahnya tanpa berniat menoleh.
"Kau berangkat bersama Sasuke. Mulai hari ini dia satu sekolah denganmu."
Damn, Naruto sudah curiga pada awalnya saat ia melihat seragam yang dipakai Sasuke sama dengan dirinya. Dan apa yang Ayahnya bilang tadi? Berangkat dengan Sasuke? Jangan bercanda, meskipun ia akan menaiki mobil sport milik Sasuke pun ia tidak mau.
"Aku punya motor, aku bisa berangkat sendiri." Kata Naruto dengan menekankan kata 'sendiri' dalam kalimatnya. Namun, suara sang Ayah menginterupsinya lagi.
"Kau berangkat dengan Sasuke, Naruto. Tidak ada penolakan. Ayah lakukan ini agar kau bisa terbiasa dengan status Sasuke yang sebagai Kakakmu sekarang."
Naruto mengepalkan tangannya.
"Sampai kapanpun aku tidak akan mengakuinya sebagai kakak ataupun bagian dari keluarga ini." Ujar Naruto sambil berjalan keluar. Sungguh, ia tidak main-main dengan ucapannya tadi.
Sreekk.
"Aku sudah selesai. Aku akan menyusul Naruto."
"Maafkan Naruto, Sasuke."
"Sikapnya memang seperti itu, ku harap kau memakluminya."
"Tak masalah, Ayah, Ibu. Aku berangkat."
Setelah kepergian Naruto juga Sasuke, suami-istri itu memandang kedua anaknya sendu.
"Aku merasa bersalah pada Naruto." Desah Minato, sang istri mencoba menenangkan.
"Naruto hanya butuh waktu, sayang."
"Terima kasih kau sudah mau menerima Sasuke, Kushina."
"Itu semua kulakukan untuk menebus kesalahanku padanya, Minato."
oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
"Naruto!" Seru Sasuke. Naruto membisu pura-pura tuli. Ia mulai menaiki motornya dan menghidupkan mesin. Memasukkan gigi motornya dan bersiap memutar gas. Namun, secepat kilat kunci motornya di putar balik dan dirampas. Naruto mendongak, menatap si pelaku yang sudah bisa Naruto tebak dengan sinis.
"Kembalikan!"
Sasuke bergeming ditempatnya. Tak terusik dengan tatapan nyalang yang dilayangkan Naruto kepadanya.
"Kembalikan kunci motorku!"
Kedua kalinya Naruto diabaikan. Tak lama, Sasuke berjalan menuju mobilnya yang berada di luar garasi.
"Chikuso! Kembalikan kunci motorku, dasar Teme !" Naruto berteriak keras dan sesekali mengumpat.
"Orang itu, harus diberi pelajaran." Ia menggeram murka.
Naruto turun dari motornya dan menghampiri Sasuke, menarik bahu pemuda itu dan berniat memukulnya. Namun, secepat kepalan tangan Naruto datang, secepat itu pula ditangkis oleh Sasuke. Tangan Naruto dipelintir kebelakang dan tubuh bagian depan Naruto di tabrakkan pada body samping mobil dengan Sasuke yang menghimpitnya dari belakang.
"Ugh, lepaskan aku, Teme." Naruto berontak.
"Jangan meremehkanku. Dari awal kau telah salah memilih lawan, Dobe." Sasuke berbisik ditelinga kirinya, membuatnya sedikit geli.
"Lihatlah, akan kubuat kau tunduk dihadapanku, Na-ru-to."
"Dalam mimpimu, brengsek."
Tepat setelah Naruto mengumpat. Sasuke membuka pintu mobil disamping tubuh Naruto, memasukkan adik tirinya secara kasar kedalam diikuti dirinya sendiri, membuat Naruto bergeser ke kursi penumpang.
Klikk..
Naruto sedikit melebarkan matanya mendengar bunyi yang baru saja ia dengar. Tanpa berpikir ulang pun ia tahu bahwa Sasuke mengunci semua pintu mobilnya. Tak membiarkan dirinya keluar.
"Buka pintunya. Buka pintunya, Teme."
Sasuke memutar kunci mobilnya menekan tombol on untuk menghidupkan mesin.
"Teme buka pintunya!"
Bersiap tancap gas, kegiatannya terusik oleh sang adik yang berani mencondongkan tubuhnya dihadapan Sasuke berusaha untuk menggapai tombol pembuka pintu. Kesal dengan tingkah Naruto yang tak juga mau menyerah, Sasuke menyingkirkan tubuh Naruto dihadapannya dan mendorongnya hingga Naruto terantuk pintu penumpang mobil. Ia lantas memukul telak pipi kiri Naruto.
"Agh, bajingan kau, Sasuke."
"Duduk dan diam saja. Atau kau kuberi lebih dari sekedar pukulan." Desis Sasuke yang tengah menghimpitkan tubuhnya dengan Naruto. Jarak wajah yang dekat membuat mereka bisa saling merasakan terpaan napas kemarahan satu sama lain.
"Aku tidak takut denganmu, Teme. Sekarang lepaskan aku!"
"Keras kepala juga kau. Baiklah kalau itu maumu."
"Kau pikir aku akan menurutimukkekkhh-"
Sebelum Naruto menyelesaikan perkataannya, mulutnya sudah di bungkam oleh Sasuke. Bukan ciuman, melainkan gigitan keras pada bibir bawah Naruto. Hanya kurang dari dua detik Sasuke melancarkan aksinya, namun itu waktu yang cukup bagi Naruto untuk dapat mengecap rasa asin dari darahnya.
Selepas Sasuke melepaskan gigitannya, ia tak langsung beranjak menjauh. Ia melihat bagaimana Naruto tampak shock atas apa yang dilakukannya tadi. Sasuke menyeringai lalu mundur perlahan, kembali menyamankan dirinya di kursi kemudi untuk bersiap melajukan mobilnya. Namun, tarikan pada kerah kemejanya bersamaan dengan pukulan tangan Naruto yang bersarang di pipi kirinya membuatnya linglung beberapa saat.
Braakkk...
Segera setelah kesadarannya kembali, Sasuke langsung menabrakkan tubuh Naruto ke pintu, lagi. Membuat Naruto merasa jika ia keluar dari mobil Sasuke ia akan mengalami gegar otak ringan.
"Apa kau sebegitu sukanya dengan ciumanku hingga kau membuat ulah lagi, hah?" Sasuke bertanya dengan pandangan yang menusuk. Tak berbeda dengan Naruto, ia pun melemparkan tatapan membunuh kepada Sasuke.
"Aah, aku tau, kau pasti ingin aku melakukannya lagi. Dengan lebih keras, bukan begitu?" Sasuke lagi-lagi mengeluarkan seringaian. Tak lama, ia memajukan wajahnya, membuka kedua belah bibirnya untuk menggigit bibir orang didepannya. Sebelum kedua bibir itu bertemu, Naruto bersuara.
"Ok, fine. Aku akan diam. Jadi cepat menyingkir dariku, kau menjijikkan." Naruto berkata dengan sedikit berteriak dengan tangannya yang mendorong tubuh Sasuke. Sasuke pun segera menjauh. Menarik perseneling dan menginjak gas. Melajukan mobil membelah jalanan.
oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
Sebuah Lamborgini hitam masuk melalui gerbang sekolah. Melewati beberapa pasang mata yang menatap kagum maupun iri. 'Ini sekolah anak-anak dari golongan keluarga menengah biasa, bukan golongan konglomerat ataupun miskin. Sekaya apapun, belum pernah ada yang membawa mobil semewah itu di sekolah'. Kira-kira seperti itu yang ada di benak masing-masing siswa yang memandangnya hingga mobil itu parkir dihalaman sekolah, menjejeri mobil-mobil siswa lainnya.
Naruto buru-buru melepaskan safety beltnya setelah ia mendengar bunyi Klek, tanda pintu sudah tak terkunci dan bergegas keluar dari mobil.
"Naruto!"
Yang punya nama berhenti. Bukan karena Sasuke memanggilnya, ini jelas bukan suara si brengsek itu. Naruto pun menoleh ke gerbang sekolah. Matanya melebar sepersekian detik melihat seseorang yang ia kenal tengah duduk di motor yang jika ia tidak salah tebak berjenis Harley Davidson.
"Yo! Yahiko!" Naruto berseru sembari berlari ke arah seseorang yang kini memasang senyum cool kepadanya.
"What's up, yo!" Lelaki berambut oranye yang berstyle mirip seperti Naruto itu menyapa.
"Kapan kau kembali dari New York, huh? Dan apa-apaan semua tindikan diwajahmu itu? Kau jadi piercing berjalan sekarang, Yahiko?" Naruto bertanya sambil tertawa, menujuki beberapa piercing orang didepannya. Yang di tunjuki hanya mendengus geli.
"Bicara apa kau? Ini yang disebut swag. Dan jangan panggil aku dengan nama itu lagi. Di New York, aku lebih dikenal dengan Pein. Kau bisa memanggilku dengan nama itu mulai sekarang."
"Pain? Sesakit itukah tindikanmu hingga kau dipanggil pain? Haha"
"Kau masih saja bodoh ya? Tidak bisa membedakan yang mana bahasa inggris dan yang bukan. Pantas saja kau masih SMA."
"Hei, jangan mentang-mentang kau sudah tamat SMA ya, kalau kau tidak ikut program akselerasi kau juga masih kuliah sekarang." Naruto pura-pura kesal dan menojok pelan bahu kiri Pein. Temannya itu tersenyum mendengus.
"Baiklah, baiklah, terserah kau saja. Ngomong-ngomong, dia siapa?"
"Dia? Dia siapa?"
Naruto mengikuti arah pandang Pein, wajahnya seketika berubah masam melihat Sasuke tengah menatap mereka sambil menyandarkan sebagian tubuhnya di mobil. Naruto mengalihkan pandangannya kearah Pein lagi dan menjawab dengan cuek.
"Bukan siapa-siapa."
"Dan kau berangkat sekolah naik mobil dengan orang yang 'bukan siapa-siapa', begitu?"
"Bisakah kita tidak membahas hal itu sekarang?"
"Sayangnya aku ingin."
Naruto mengerang, namun tetap diam.
"C'mon Naruto! Apa salahnya memberitahu kalau kau sekarang sudah punya pacar bermobil Lamborgini."
Naruto mendelik. Apa yang Pein katakan tadi? Pacar? Mobil Lamborgini? Maksudnya Naruto sedang berstatus pacaran dengan Sasuke, begitu? Ah.. Memikirkannya saja sudah membuatnya ingin muntah.
"Apa tinggal di New York membuatmu tertekan lalu gila, huh? Jangan asal mengambil kesimpulan. Aku? Pacaran dengannya? Itu tidak akan pernah terjadi. Lagi pula laki-laki mana yang mau pacaran dengan sesama lelaki. Itu menjijikkan."
"Begitu? Lalu kenapa bibirmu sedikit bengkak dan robek? Aku tidak akan percaya jika kau bilang itu bekas tonjokan."
"Maksudmu apa? Aku habis dicium hingga bibirku berdarah begitu?"
"Aku tidak mengatakannya." Jawaban Pein membuat Naruto mengerang kesal.
"Dengar ya, Yahiko-em, Pein. Aku bukan homo."
"Oh ya? Kalau begitu jawab pertanyaanku."
Naruto menghela napas, terlihat sekali ia malas dengan pembicaraan ini.
"Dia hanya seseorang yang tak diharapkan." Bahkan Naruto terlalu enggan menyebutkan namanya. Lain halnya dengan Pein, ia mengerutkan keningnya, menunggu kata selanjutnya dari pemuda pirang dihadapannya.
"Dia anak haram Ayahku."
Mengangkat sebelah alisnya, kemudian mengangguk. Sekarang Pein mengerti. Dan ia tak ingin melanjutkan pembicaraan dengan topik yang sama.
"Oh ya, Naruto. Kau ada acara pulang sekolah nanti?"
"Acara apa? Tidak ada, kurasa."
"Mau kerumahku? Aku punya beberapa koleksi gelang untukmu. Ya, hitung-hitung oleh-oleh untukmu dari New York."
"Benarkah? Ah, aku pasti sangat menyukainya. Kau memang teman yang pengertian. Kau nanti yang menjemputku kan?" Naruto berkata dengan semangat, Pein hanya menjawab dengan mengangguk dan tersenyum tipis.
"Baiklah, aku tidak sabar menunggu pulang sekolah nanti. Lagi pula aku juga tidak sudi pulang bersama dia lagi."
Pein mengerti siapa 'dia' yang dimaksud. Jadi ia hanya diam.
"Kalau begitu aku masuk dulu. Aku belum sempat sarapan dengan tenang tadi."
"Pergilah."
Naruto berlalu. Pein masih setia memandangi teman pirangnya satu itu. Kemudian ia mengalihkan pandangan kearah si 'anak haram' yang dimaksud Naruto. Diluar dugaan, ternyata pemuda itu masih menyenderkan tubuhnya di mobil dan menatapnya dari kejauhan. Pein tidak ambil pusing dengan tatapan itu. Jadi ia pun dengan tenang mulai menyalakan mesin motor gedenya dan pergi.
oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
Tiga jam sudah Naruto menghabiskan waktu dengan memperhatikan papan tulis sambil sesekali menguap dan berakhir dengan menjatuhkan kepalanya ke meja. Kini tiba saatnya waktu istirahat. Perlukah Naruto katakan jika bel istirahat merupakan suara yang begitu dirindukannya setiap ia di sekolah? Bukan untuk ke kantin, tapi karena ia ingin tidur sepuasnya. Masalah makan bisa di tunda di istirahat kedua nanti. Yang penting sekarang ia ingin tidur. Ya, setidaknya itu yang dia inginkan, namun suara gebrakan di mejanya membuatnya sedikit terlonjak
Brakk..
"Apa-apaan kau, Kiba?" Naruto menatap tidak suka. Bisakah ia hanya tidur kali ini?
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu, Naruto. Apa-apaan kau tidak menjemputku tadi pagi."
"Memangnya aku supirmu? Kenapa aku harus menjemputmu?"
"Bukankah kemarin kau yang bilang kau akan menjemputku pagi-pagi agar kau tidak berurusan dengan kakak tirimu."
Mendengar Kiba menyebut 'kakak tiri' dengan keras membuatnya ingin menjitaknya. Namun ia urungkan. Ah benar, kemarin ia yang membuat janji. "Kenapa aku bisa lupa?" Tak lama, Naruto nyengir, sedangkan Kiba mengerut masam.
"Hehe maaf ya, Kiba. Aku benar-benar lupa." Naruto menggaruk kepalanya sambil menjulurkan lidah.
"Kalau begitu kau harus tanggung jawab. Traktir aku makan sekarang. Aku tak sempat sarapan tadi karena menunggumu." Kiba memincing.
"A-apa? Yang benar saja?"
"Tidak terima penolakan, Naruto."
"Oke, tapi nanti istirahat kedua ya. Aku ingin tidur sekarang."
"Tidak ada tapi-tapian."
Kiba langsung saja menarik Naruto. Alhasil, disinilah mereka sekarang. Kantin sekolah. Terlihat Naruto sedang memberi Kiba uang.
"Ini, cepatlah beli sesuatu. Jangan lupa belikan aku ramen."
"Apa maksudmu? Kau yang beli Naruto."
"Hah kau ini." Naruto merebut kasar uang yang dipegang Kiba.
"Aku tunggu di meja sana ya." Kiba menunjuk salah satu meja kosong didekat jendela sambil tertawa. Jarang-jarang ia bisa mengerjai Naruto seperti ini. Ia segera duduk di kursi meja pilihannya setelah Naruto pergi. Selang beberapa menit, ia mendengar suara di meja belakangnya yang seingatnya tadi kosong.
"Kau tahu Ino, di kelas ku ada seorang murid pindahan. Dan dia tampan sekali."
Kiba sedikit menolehkan kepalanya ke belakang. Suara itu begitu keras membuat telinganya sakit. Sekali dengar, ia sudah bisa menebak. Itu pasti suara...
"Sakura, bisakah kau tidak berteriak seperti itu." Kiba berkata dengan kesal. Tidak sekali dua kali ia mendengar gadis pink itu berbicara sambil berteriak. Pita suaranya tidak sakit apa?
"Apa sih kau, Kiba? Suka-suka ku aku berteriak, ini kan mulutku." Gadis yang dipanggil Sakura itu membalas dengam tak kalah kesal.
"Kalau itu mulutku, aku pasti akan dengan senang hati menjahitnya."
"Apa kau bilang? Kau dan teman kuningmu itu sama-sama tidak waras ya."
"Sakura sudahlah. Kita lanjutkan saja pembicaraan yang tadi." Gadis berambut Pirang pucat di depan Sakura menengahi. Sakura mendelik kearah Kiba lalu berbalik kedepan, menatap si rambut pirang pucat, mengacuhkan Kiba yang menggerutu.
"Jadi bagaimana dengan murid pindahan itu? Dia pindahan dari mana?" Mendengar pertanyaan dari temannya, raut wajah Sakura langsung berubah cerah.
"Aku tidak tahu dia pindahan dari mana. Waktu perkenalan didepan kelas, dia hanya menyebutkan namanya. Dia kelihatan pendiam, tapi bukan cupu, Ino."
"Oh ya? Sepertinya dia keren, siapa namanya Sakura?"
"Namanya -oh Sasuke-kun." Belum sempat Sakura menyelesaikan perkataannya, ia tiba-tiba berteriak menyebutkan sebuah nama. Membuat Ino menoleh ke belakang mengikuti arah pandang Sakura. Lalu dengan segera ia menatap Sakura kembali dan bertanya.
"Dia si murid pindahan itu?" Sakura mengangguk senang.
"Astaga bahkan dia lebih tampan dari Sai." Ucap Ino lalu kembali melihat pemuda tadi.
"Pacarmu itu memang bukan tandingannya." Kata Sakura. Ino melihat lebih intens. Rambut hitam, kulit putih, tinggi. Sepintas terlihat seperti Sai, namun dengan rambut yang lebih panjang dan tentu gaya rambutnya berbeda, Kulitnya juga tak seputih Sai yang bisa dibilang pucat, dan perbedaan yang paling mencolok adalah dari ekspresi wajah. Jika Sai selalu murah senyum, maka si murid pindahan itu adalah kebalikannya.
"Bagaimana? Dia benar-benar tampan kan? Akan ku buat dia jadi milikku. Aaaaaa tak sabar menunggu saat itu tiba."
Kiba yang berada tak jauh dibelakang Sakura hanya mencibir tidak jelas. Dasar wanita. Ia pun kembali dengan aktifitasnya menunggu Naruto. Ah, itu dia.
"Naruto, cepat. Aku sudah sangat lapar."
Naruto berjalan dengan cepat, bukan karena disuruh Kiba, hanya saja ia sudah tak sabar ingin menikmati ramennya.
"Ini." Naruto memberikan semangkuk ramen dan segelas jus jeruk kepada Kiba. Makanan dan minuman yang sama seperti miliknya.
"Kenapa aku juga ramen?" Kiba bertanya. Naruto yang mulai memakan ramennya bergumam tak jelas. Kiba hanya berdecak. Sahabatnya satu ini, jika sudah bertemu ramen akan mengacuhkan segalanya. Lalu ia mulai memakan ramen miliknya.
"Oh ya, Naruto. Kata Sakura ada murid pindahan. Kira-kira siapa ya?"
Naruto yang tengah mengunyah langsung saja menelan makanannya kemudian menatap Kiba.
"Sakura? Dimana dia?"
Kiba memutar bola matanya. Ia kira Naruto penasaran tentang anak baru, ternyata tentang Sakura. Yah, bukan rahasia lagi jika sahabatnya ini sekarang sedang mengemis cinta pada gadis pink itu.
"Dia dibelakangku, Naruto." Kiba menjawab dengan malas.
"Kalau begitu aku pergi." Naruto mengambil mangkuk ramennya dan membawanya ke meja Sakura. Kiba tak mempermasalahkannya, sudah biasa.
"Hai Sakura." Begitu meletakkan mangkuk ramennya, Naruto langsung duduk didekat Sakura dan memberikan senyum terbaiknya yang dianggap memuakkan bagi Sakura.
"Ah, jangan lupakan kau sudah memiliki pangeran tampan berambut pirang ini, Sakura." Ino berkata jahil. Naruto yang tidak mengerti maksud Ino hanya mengangguk dan nyengir lima jari.
"Siapa yang mau menjadi kekasihnya?" Sakura berkata sambil mengernyit jijik.
"Jangan begitu, Sakura. Kau pasti akan bersamaku."
Kiba yang berada di belakang Naruto hanya membatin kasihan. Sudah sekian kali dihina, tetap saja Naruto memuja gadis itu.
"Ah, Sasuke-kun"
Nama itu. Mengikuti arah pandang Sakura, Naruto segera menyesal telah melakukannya. Didepannya, Sasuke berdiri sambil membawa sekaleng capucino dan menatapnya.
"Oh Ino, dia kesini. Dia menghampiriku."
Menoleh kearah Sakura dan Ino yang tengah berbisik-bisik seakan tergila-gila dengan Sasuke, membuat ia geram.
"Kau dari mana saja? Aku mencarimu."
Naruto mengalihkan pandangan kearah jendela. Pertanyaan yang sangat tidak penting untuk di jawab.
"Eh? Sasuke-kun mengenal laki-laki bodoh ini?" Sakura bertanya dengan heran. Sasuke kemudian beralih menatap gadis itu, membuat pipi Sakura merona hebat karena ditatap intens seperti itu.
"Naruto adikku."
Ronaan dipipi itu menghilang, digantikan oleh wajah terkejut Sakura dan juga Ino. Naruto segera berdiri dan menatap Sasuke dengan bengis. Kiba yang mendengar penyataan lantang itu pun langsung tersedak dan buru-buru minum lalu menengok kebelakang.
"Ja-jadi, dia kakak tirimu itu, Naruto?"
.
.
.
TBC
A/N : Halo minna.. belum sempet ngenalin diri ya kemaren di chap atu? Begitu chap selesai langsung pergi aja tanpa a/n ato sekedar cuap-cuap. Gomen ne. Hehe. Panggil aja aku Masta. Plis ya panggil itu aja, ato Yuu juga boleh, asal jangan Thor. Aku bukan Thor The Avengers apalagi yg di Chalk Zone. Hahaha gak gak, canda kok. Aku gak mau dipanggil Thor ataupun Author karena aku masih belum bisa di sebut sebagai Author. Karyaku masih payah.
Oh ya, sebenernya fict ini coba-coba sih, mkanya chap atu kemaren aku gk kasih a/n. Dan respon yang aku dapet ternyata cukup memuaskan. Banyak yg follow dan fav fict ini, apalagi yg ngefollow dan ngefav aku sbg author. Seneng bgt rasanya, yah meskipun yg review cuma dikit tp aku udah seneng, lebih seneng lg klo yg baca fic ini ngereview (modus) soalnya review itu yg bikin aku semangat lanjut fic ini.
Emm, ada yg bosen nunggu fic ini? Maaf ya, real life sibuk bgt. Apalagi pekerjaanku yg sebagai akuntan bner2 gk mndukung. Sulit cari waktu luang buat lanjutin fict, kadang pulang kerja aja udah capek bgt. Jd, mohon pengertiannya ya.
Dan juga, aku mau tanya ama reader sekalian. Gimana sih ff ku? Terlalu berbelit-belit kah? Soalnya aku ga suka yg alurnya cepet. Trus feelnya ngena? Aku gk yakin sih ama chap dua ini, soalnya aku sepertiganya ngebut buatnya. Aku intinya pengen tau kelebihan dan kekeurangan fict ini dr caraku menulis. Tolong tulis jujur ya, soalnya aku pengen tau karena aku sbenernya udah lama bikin ff, straight tapi :v . Jaman SMA klas 10 sih, trus hiatus kls 11nya hehe dulu ku post d fb. Nah, trus aku kambek sekarang dengan fict yaoi, rated M pula XD. Berubah bgt yak..
Oke, udah cerocosannya. Salam Masta :v
.
.
.
.
Wanna Folow,
Fav, and
Review?
