My Heart is For You, Hisana

Disclaimer: Tite Kubo-san

Sumarry: Berhentilah merasa iri padaku. Berhentilah berfikir jika kau adalah manusia yang paling tidak beruntung didunia ini. Bagiku, semua yang aku miliki tidak berarti daripada apa yang kau miliki sekarang. Kau tahu itu apa? Kasih sayang.

Don't Like, Don't Read!

Enjoy Reading, If You Like!

.

.

.

CHAPTER 2: The Same Face, Different Personal

"Nii-san, hari ini nilai matematikaku seratus lagi!"

Seorang pria muda yang duduk di kursi kerjanya berhenti membaca sebuah dokumen dan menatap gadis kecil yang mengacungkan sebuah kertas ulangan yang bertuliskan angka seratus.

"Kau bangga dengan nilai itu?" Gadis itu mengangguk semangat. "Bahkan Kuchiki yang lain bisa mendapatkan lebih daripada itu." Senyum gadis itu menghilang. "Masuk kekamarmu dan kembali belajar. Dapatkan yang lebih dari itu jika kau seorang Kuchiki, Rukia."

.

"Nii-san, sensei memilihku mengikuti kompetisi lari di festival olahraga nanti!"

"Berita bagus, Rukia. Tingkatkan lagi prestasimu." Komentar Byakuya datar.

"Byakuya-nii." seorang gadis kecil yang berparas persis dengan Rukia berjalan mendekati Byakuya. "Hari ini aku belajar menggambar. Lihatlah." Gadis kecil itu memperlihatkan secarik kertas berisi gambar yang sedikit berantakan dan warna-warna yang keluar garis.

"Gambar yang luar biasa. Besok akan nii-san belikan seperangkat alat lukisan untukmu." Byakuya mengelus kepala Hisana.

Rukia hanya diam melihat perlakuan Byakuya yang berbeda antara dirinya dan Hisana.

.

.

.

"Hei, bagaimana dengan pestamu tadi malam? Sayang sekali aku tidak bisa ikut. Menyebalkan sekali! Inoue mengurungku di apartemen dan memaksaku untuk makan malam dengannya." keluh laki-laki berambut panjang dan kulit pucat.

"Apa kau melakukan hal 'lain' selain makan malam? Kau tahu, seluruh pria di sekolah ini sangat iri setengah mati kau memiliki kekasih seperti Orihime-san, Ulquiorra!"

Mereka tertawa terbahak-bahak. Ulquiorra hanya tersenyum simpul, tatapannya teralih pada laki-laki berambut biru disebelah. "Ada apa Grimmjow?" Tanyanya

Laki-laki yang hanya mengenakan kemeja lengan pendek hingga memperlihat lengan kekarnya menoleh kearah Ulquiorra. "Siapa dia? Aku baru lihat."

Ulquiorra menatap objek yang Grimmjow maksud. Tepat disebelahnya, seorang gadis bersurai hitam mengenakan kacamata duduk sambil menatap langit biru dari jendela disebelah bangkunya.

Ulquiorra hanya menggeleng pelan. "Bahkan teman sekelasmu sendiri tidak tahu. NamanyaYamamoto Rukia." Ujar Ulquiorra. "Tidak banyak yang tahu tentang latar belakangnya. Menurutku dia hanya gadis kutu buku biasa." Jelas Ulquiorra.

Ia menatap heran sahabat karibnya itu. Dilihat dari luar, Grimmjow terlihat tampan dan dia merupakan pewaris tunggal perusahaan terbesar di Jepang. Namun, dalam hati Ulquiorra percaya jika Grimmjow yang memimpin perusahaan itu sekarang, perusahaan itu akan bangkrut dalam sekejap karena, ehm, kebodohannya itu.

Grimmjow hanya memberi anggukan kepada Ulquiorra. Tanpa sadar, dipandanginya gadis mungil yang terus memandangi langit tanpa peduli kebisingan disekitarnya. Saat Rukia menoleh, tatapannya beradu langsung dengan tatapan Grimmjow. Laki-laki itu menahan nafas saat menatap manik ungu gadis itu dengan lekat. Terpancar kemisteriusan dan keanggunan dari mata gadis itu. Tanpa memedulikan keterpanahan Grimmjow, Rukia beranjak dari kursinya dan meninggalkan kelas.

.

.

.

Ichigo berbaring santai di atap sekolah. Sudah dua jam ia tidur diatap sambil menatap langit biru. Walau sudah berkali-kali diberi hukuman oleh Kenpachi-sensei, laki-laki bersurai jingga itu tidak pernah jera bolos. Lagipula, ia tidak pernah khawatir prestasinya akan menurun karena sejak lahir sudah dikarunia otak yang encer. Ichigo bahkan menduduki peringkat 5 diseluruh angkatan. Merasa bosan, Ichigo bangkit dari tidurnya dan pergi meninggalkan atap sekolah.

BUUKK!

"Ittai!"

Ichigo tersungkur ditanah sambil mengusap dadanya yang terbentur sesuatu yang keras. Pupil mata Ichigo melebar saat melihat seseorang didepannya. "Hisana?" Kerutan di dahi Ichigo semakin dalam. Dipandanginya gadis mungil, didepannya. Bukan, dia bukan Hisana. Rambutnya lebih pendek sedagu dan mengenakan kacamata.

"Perhatikan jalanmu, orang tua." Ujar gadis itu

Kerutan dahi Ichigo semakin dalam. "Orang tua? Jaga omonganmu, pendek." ujarnya menahan emosi. "Auuww!" Ichigo memegangi tulang keringnya yang ditendang Rukia.

"Aku punya nama, baka." Rukia berdiri sambil membersihkan roknya. "Dan jangan salah mengenali orang. Lihat baik-baik."

Ichigo menatap gadis itu dengan tatapan membunuh. Dilihat dari dasi biru gelap yang dikenakan, gadis itu pasti kohai-nya. "Kuso! Berani sekali dia memanggilku orang tua. Tapi, kenapa sekilas ia seperti Hisana?"

.

.

.

"Baiklah, anggota baru klub kendo segera berbaris!"

Sesuai komando Renji, seluruh anggota baru, yaitu para siswa tahun pertama berbaris didepannya. Dipandanginya para siswa itu satu- persatu.

"Namaku Abarai Renji kelas 2-C." Renji berjalan sambil menatap anggota baru. "Di klub ini, aku tidak terima orang lemah! Hanya orang-orang kuat yang bertahan disini! Mengerti?!"

"Mengerti!" Jawab mereka serempak.

Seseorang menepuk pundak Renji. "Jangan terlalu keras dengan mereka. Kendo bukan hanya soal kekuatan, tapi juga keindahan." Jelas laki-laki dengan bulu mata lentik panjang dan warna yang mencolok.

"Menjauhlah dariku, banci." Renji bergidik ngeri. "Kenapa kau tidak masuk klub tari tradisional saja Yumichika? Merusak imej klub kendo saja.." gerutunya

Yumichika menggelengkan kepalanya. "Bahkan dalam ilmu bela diripun juga ditemukan sebuah keindahan."

"Sumimmasen, aku terlambat."

Mereka berdua menoleh. Seorang gadis bersimbah peluh dan nafas terengah-engah berdiri didepan mereka. Renji dan Yumichika hanya menatap satu samalain dengan heran. Renji agak terkejut saat melihat dengan jelas wajah gadis itu.

"Siapa kau?" Tanya Renji. Rambut hitam legam dan manik mata violet gadis itu membuat Renji terkesima beberapa saat.

"Yamamoto Rukia 1-C, anggota baru." Ujar gadis itu yang langsung disambut tawa seluruh siswa termasuk Renji.

"Sepertinya kau salah masuk klub. Ini bukan klub biasa, hanya orang-orang kuat yang bergabung di klub ini." Jelas Renji.

"Tidak, aku memang ingin bergabung dalam klub ini. Bukankah sudah menjadi hakku untuk bergabung di klub manapun? Termasuk Kendo." Jelasnya

Renji tertawa. "Bahkan dengan tubuh kecilmu itu, untuk mengenakan do-pelindung badan- saja kau tidak bisa." Ujar Renji disambut tawa seluruh anggota kendo.

Rukia menatap Renji. "Mau mencobanya?"

"Jangan menangis saat kalah." Ujar Renji

"Tidak akan. Karena akulah yang akan menang." Jawab Rukia percaya diri.

.

.

.

Ichigo berlari disepanjang koridor tanpa meperdulikan makian orang-orang yang ditabraknya. Ia melompati dua anak tangga sekaligus dan langsung menuju ruangan yang teletak disudut koridor. Ichigo menghempas pintu didepannya, yang merupakan ruang perpustakaan.

BLETAKK!

"Ittai! Kenapa memukul kepalaku Ukitake-sensei?!" Keluh Ichigo

Seorang pria berambut putih panjang sepunggung, Ukitake-sensei, hanya menggeleng menatap Ichigo. "Ini perpustakaan. Jangan membuat keributan." Nasehat Ukitake.

"Sumimmasen." Ichigo membungkukkan badannya. "Dia belum pulangkan?"

"Dia membaca dibagian sejarah Jepang." Ukitake menunjuk rak yang dimaksud. "Jangan membuat keributan lagi, Kurosaki-san. Atau kau dilarang menemuinya di perpustakaan."

Ichigo berjalan perlahan melewati beberapa rak di perpustakaan. Disalahsatu rak yang terletak dipojok perpustakaan tepat didekat jendela, seorang gadis berambut hitam sebahu sibuk menekuni setiap kata pada buku yang dipegangnya. Ichigo duduk tepat didepannya, namun gadis itu tetap memusatkan konsentrasinya pada buku.

"Apa kau berencana untuk menginap di perpustakaan, Hisana?" Kepala gadis itu menengadah dan tersenyum simpul melihat Ichigo. "Kau tidak di klub kaligrafi hari ini?"

Hisana menggeleng. "Hari ini klub diliburkan. Para anggota pergi merayakan ulang tahun Hitsugaya-san." Hisana membereskan buku-buku yang dibacanya. "Sayang sekali aku tidak bisa ikut. Jadi, kita akan ketempat latihan Renji-kun?"

Setelah berpamitan pada Ukitake-sensei, Ichigo dan Hisana berjalan dengan santai di sepanjang koridor. Sesekali, Ichigo mengamati wajah Hisana. Kuchiki Hisana, adik dari Kuchiki Byakuya yang merupakan direktur utama Kuchiki Corp. Byakuya sangat provektif pada Hisana, terutama karena keterbatasan fisik Hisana. Sejak lahir, Hisana mempunyai jantung yang lemah. Ia tidak bisa melakukan aktifitas yang terlalu berat karena akan berakibat fatal pada jantungnya. Namun kekurangan itu tidak membuat Ichigo berhenti menyayangi Hisana. Ditatapnya mata abu-abu gadis itu. Mata yang sama Ichigo lihat enam tahun lalu.

"Apa kau masih suka berperang bola salju?"

Hisana menatapnya bingung.

"Kau lupa? Enam tahun lalu, saat pertama kita bertemu kau melemparku dengan bola salju." Jelas Ichigo

"Ah, itu." Hisana berusaha mengingat. "Sudah tidak lagi sejak kondisi mulai menurun." Ujar Hisana. Ichigo mengangguk mengerti, memaklumi kondisi Hisana. "Kenapa ramai sekali?"

Ichigo menoleh. Mereka berdiri didepan pintu dojo, tempat anggota klub kendo berlatih. Di Karakura gakuen, memang memliki fasilitas yang sangat lengkap untuk menunjang kegiatan para siswa untuk kegiatan akademis maupun non akademis.

"Ada apa ini, Yumichika?"

Seorang perempuan(#disambit Yumichika), ehm, laki-laki menatap Ichigo yang memandanginya dengan penuh tanda tanya.

"Hanya latihan. Tapi, ada sedikit perbedaan dari biasanya." Ichigo semakin menatapnya bingung. "Renji sedang berduel dengan anggota baru. Dan kelihatannya dia sedikit kewalahan."

Ichigo menoleh kearah yang Yumichika maksud. Memang benar yang dikatakan Yumichika, Renji terlihat kewalahan dan mulai terpojok. Tiba-tiba dengan sekali gerakan yang diberikan lawan, Renji jatuh hingga tertelentang. Semua orang yang ada diam dojo, termasuk Renju, terkejut dengan kemampuan kendo yang dimiliki lawan Renji barusan.

Renji dengan kesal membuka men-pelindung kepala-dan membantingnya. Hisana berjalan mendekati Renji dan membantu berdiri.

"Kau sudah melakukannya dengan baik. Kau sangat hebat, Renji-kun." Hibur Hisana.

Renji menerima uluran tangan Hisana. "Aku tidak akan sekesal ini jika lawannya ada laki-laki." Gerutunya.

Ichigo dan Hisana mengerutkan kening.

"Tapi.." Hisana menoleh kiri dan kanan. "Dimana murid kelas satu itu? Aku tidak melihatnya dimanapun."

"Setelah mengalahkanmu, dia pergi begitu saja tanpa meminta maaf padamu. Kohai zaman sekarang sangat menyebalkan." Gerutu Ichigo. Ingatan Ichigo kembali saat peristiwa tabrakannya dengan siswi perempuan di atap sekolah.

"Cih! Akan aku balas nanti." Gumam Renji.

TBC

Akhirnya chapter 2 selesai! Arigatou bagi yang sudah meluangkan waktu dan memberikan review di fanfict ini. Author harap reader tidak keberatan untuk memberikan review lagi. See you next chapter~