Ohayou! Konichiwa! Konbawa!

.

Terima kasih untuk reviews/faves/follows/alerts. Saya senang sekali. X"D

Yosh, I will survive!

Dozo, Minna-sama~

.

Disclaimer: Kuroko no basket belongs to Fujimaki Tadatoshi. Umineko no Naku Koro ni belongs to 07th Expansion.I don't take any personal commercial advantages from making this fanfiction. Purely just for fun.

Warnings: AR, crossover, boys love/shounen-ai, OOT, OOC, OC, slow-pace, typo(s).

.

Saya sudah memberikan warnings. Jadi, jika ada yang tidak disukai, tolong jangan memaksakan diri untuk membaca. ;)

.

Have a nice read! ^_~

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

"Miaw."

"Uhmm." Kouki menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, memeluk guling berbulunya yang hangat lebih erat. "Lima menit lagi, Kaa-san."

"Brrr."

"…"

Chu.

Slurp.

"Miaw."

Bite.

Kouki lagi-lagi kembali pada hari tak terlupakan dalam hidupnya, tempat serba putih yang seharusnya suci nan sakral, semerbak bunga-bunga, lonceng di altar, hampa tanpa tara, sunyi tiada apresiasi bahagia.

Ada dua pusara laksana gradasi senja yang mendegradasi nyali nan memaut hati, kian dekat, pipinya ditangkup oleh tangan hangat pemilik manik heterokromik yang nyalang memandang bibirnya. Mata solid kolong langitnya terbelalak.

Bibirnya yang sedikit terbuka berpermukaan dingin kini menghangat dengan ciuman basah nan lembut, bibir tipis di hadapannya memagut miliknya. Napas yang berat di perpotongan leher menuju bahu merindingkan gigil, kemudian digigit halus nan gemas membuat sekujur tubuhnya menggelinjang hebat. Terengah-engah dengan bibir basah memerah, lantas ia berusaha melepaskan diri dari jerat pesona entitas absolut, mengerang tak tahan dengan gairah karnal yang hampir total kendati berupaya menekan hasrat—

"Ja-jangan, ngh—ahhn … Sei—!"

Gubrak!

"NGEK. MIAW!"

Grauk!

"ITTAI!"

Pemuda malang bersurai sewarna tanah itu jatuh dari sofa dengan kepala terlebih dahulu membentur lantai dingin menindih seekor kucing. Mimpinya hancur seketika. Mata berpupil mungil miliknya mengerjap liar dalam keremangan ruangan. Di hadapannya, suami yang tadi mencium dan memberikan kiss-mark padanya itu masih terlelap di sofa malas di seberang sofa yang ditidurinya.

Sekon berikutnya pipinya digumuli kalor berlebih, refleks membuang pandang kemana saja selain pada pemuda yang tadi hadir di mimpinya. Dicengkeramnya jantung yang meronta-ronta dalam rongga dada, berusaha menormalkan sistem respirasinya yang terhambat entah dihimpit apa.

"MIAW!" Si kucing betina tunggal di rumah tersebut mengeong pedih karena naas ditindih.

Segera saja suami dari tuan kesayangan si kucing mengangkat pantatnya, melakukan dogeza pada kucing betina yang menatapnya dengan mata terbeliak seolah menyalahkannya. "Ma-maaf, Shi!"

Kouki duduk tegak kembali lalu mengacak-acak rambutnya frustasi. Astaga, bahkan dalam mimpi saja si majikan dari tiga kucing termahal sedunia itu bisa melingkupkan desperasi padanya seperti ini. Dirasakannya tatapan tertuju padanya, Kouki membalas pandangan si kucing berbulu polkadot hitam berdiameter kecil dengan bulu bertendensi silver. Baru disadarinya sesuatu saat sakit merayapi lehernya.

"Shi, kau yang menggigit leherku, ya?" tanya Kouki perlahan, terlampau serius.

"Miaw." –bukan hanya menggigit, tapi juga mencium bibir agar dia tidak dipeluk dengan napas terengah-engah begitu.

Si savannah melenggang santai menyusul kedua kawannya yang telah melenggang terlebih dahulu untuk mengeksekusi rutinitas dari daftar pertama aktifitas mereka: berenang atau berjemur menikmati matahari pagi. Salahkan seseorang yang tidur memeluknya sampai ia tidak bisa bernapas.

Mendesah lelah, Kouki bangkit untuk merapikan sofa serta mengangkut proyek kuliahnya untuk disimpan di kamarnya sendiri. Tatkala kembali ke ruang tamu, tak sengaja pandangannya terpaut pada Seijuurou. Terpaku memandang ekspresi terpolos anomali emperor muda yang tak pernah diekspos ke muka publik.

Entah apa yang menghipnotisnya untuk membenarkan posisi selimut suaminya hingga sebatas bahu, menggeleng keras-keras tatkala memandangi bibirnya sedikit lebih lama—kemudian berjingkat-jingkat agar tak membangunkan Seijuurou menyusul ketiga kucing mereka yang ia tahu posisi pasti mereka di mana setiap pagi.

Sesaat Kouki menghentikan langkah, tak kuasa menahan diri untuk menengok kembali suaminya—memastikannya masih tertidur saat menyibak gorden sedikit sembari menggeser pintu kaca. Pandangan mata coklatnya melunak, lega menemukan Seijuurou tak terusik tidurnya.

Ini akan jadi rahasia, dan Kouki cukup yakin ia takkan berbagi hal sesederhana ini pada dunia.

.

#~**~#

Special for Event "Fanfiksi Kucing" and Fujodanshi Independence Day '69!

.

The World of Cat Box

.

By: Light of Leviathan

#~**~#

.

Kicau yang terdengar seperti racau kacau bersumber dari burung-burung camar itu merasuki ruang pendengarannya. Tirai kelopak mata terangkat, menampilkan sepasang mata berwarna merah dari iris hingga sklera-nya. Tangannya menyibak selimut, mengusap-usap matanya yang masih perih dan agak berat. Lantas terduduk untuk menormalkan rasio akomodasi sempurna indera pengelihatannya. Refleks ia menoleh ke samping.

Nihil eksistensi suami dan anak—ralat, kucing-kucingnya. Sofa serta meja sudah bersih dan rapi seperti sedia kala.

Rumahnya terkesan gelap. Refleks tangannya mengambil remote yang semalam ia taruh di meja untuk menekan beberapa tombol. Sekerjap mata, ruang tamu rumah yang didesain sendiri olehnya itu benderang dihunjam radiasi matahari pagi. Ditemukannya seseorang sedang duduk bersila di pinggir kolam renang, mungkin menatap hal yang sama dengan yang atraktif bagi atensinya—pemandangan permukaan biru laut dipenuhi burung-burung camar.

Menekan sudut-sudut bibirnya untuk tidak mengurva terbuka, ia bangkit seraya meraih selimutnya untuk dilipat dan disimpan kembali ke kamar pribadinya. Merapikan sofa malas tempatnya tidur semalam. Lalu menggeser pintu berkaca bening itu perlahan. Hembusan angin segar menerpa wajahnya, menyeruakkan aroma pekat garam dan butir-butir halus pasir. Di pucuk kepalanya, dream catcher yang tahun lalu diberikan Kouki padanya saat hari ulang tahunnya mendayu dibelai mesra angin, mendenting halus melodi menyela gemuruh ombak yang meluruh santai di pantai.

"A-apa aku membangunkanmu, Seijuurou-san?"

Seijuurou menurunkan visinya sedikit, difokuskan pada Kouki yang kelihatan terkejut dan menyesal melihat sosoknya bersandar di pintu kaca. Ia menggeleng sekilas. "Kenapa kau tidak membangunkanku? Ini sudah siang."

"Ba-baru jam sembilan." Kouki berjengit pelan melihat mata Seijuurou benar-benar merah—bukan iris melainkan skleranya dan ini menunjukkan betapa lelah orang yang menikah dengannya itu. Kepalanya tertunduk menatap keramik tanah liat merah-kecoklatan yang menjadi alas duduknya. Mana mungkin ia menjawab jujur bahwa ia tidak akan pernah berani membangunkan singa yang terlelap. "Tidurmu nyenyak se-sekali … la-lagipula ini hari Minggu." Takut-takut ia mengerling suaminya. "A-apa kau ada acara atau pe-pekerjaan hari ini?"

"Untungnya tidak." Seijuurou melangkah mendekat, lalu duduk tak jauh dari suaminya yang makin membenamkan kepalanya di antara kedua lutut. Tangannya menyapa sekilas air kolam renang, meresap dingin ke pori-pori kulitnya. "Jika iya, pasti aku sudah terlambat."

Pemuda berambut sewarna kayu itu menghela napas lega. Dia tak mau disalahkan suaminya bila terjadi kesalahan—seperti tidak membangunkannya padahal ada acara atau pekerjaan penting yang harus dilaksanakan. Kembali difokuskannya pandangan pada kolam renang berbentuk seperti tanda tambah atau plus yang airnya terkesan sebening batu safir—mengingatkannya pada Aomine Daiki.

Seijuurou memerhatikan suaminya tersenyum geli melihat ke tengah kolam renang.

Si kucing savannah, Shishi, berenang anggun di sentris kolam renang yang efek hidrolistik air mengesankan tubuhnya kian memanjang. Kucing bengal pemalas itu, Leo, berjemur nyaman di atas gelembung karet kursi malas warna merah yang terapung di kolam renang. Semetara kucing leopard satu lagi, Lion berada di sudut Utara kolam renang yang berbentuk seperti tanda tambah—plus, di setiap sudut terdapat air mancur patung singa yang menyembur air—dan Lion tampak menggeram sembari mencakar-cakar guyuran air mancur yang tiada henti.

Kouki meretas tawa kecil menemukan ulah kucing yang tampak gemas mencoba mencakar, menggigit, atau menangkap semburan air dari patung singa. Perhatiannya teralih tatkala kucing betina tunggal berenang ke arah kedua majikannya, mencakar keramik tepi kolam renang, menatap keduanya dengan sepasang mata lemon yang membulat.

"Miaw." Shishi mengeong manis.

"Sudah selesai berenangnya?" Kouki mengangkat kucing savannah itu dari air. Mendengus tatkala Shishi mengelapkan tubuhnya yang basah-kuyup ke celana pendek selutut yang dikenakannya. "Kau pikir aku ini handukmu, eh?" Diangkatnya kucing itu—digendong dengan lengan, membawanya ke salah satu patung singa terdekat yang di sampingnya telah diletakkan seember penuh peralatan mandi kucing elit.

"Kau memandikannya?" tanya Seijuurou yang beranjak menghampiri Kouki dan Shishi. "Kenapa tidak serahkan pada Bern, Lambda, atau pelayan saja?"

"Bi-biasanya, dua hari sekali mereka dimandikan oleh pelayan—" Kouki diam-diam mengasihani pelayan yang tiap hari memandikan ketiga kucing mereka. Diletakkan Shishi ke lantai, dekat di sisinya. Diubahnya posisi patung singa menjadi membelakangi kolam renang, airnya kini memancur ke belakang. Digesernya Shishi untuk mandi di bawah pancuran shower dadakan itu. "—tapi se-seminggu sekali tiap hari Minggu, a-aku yang memandikan. Aduh—jangan cakar aku, Shi! Makanya berhenti bergerak-gerak begitu kalau tidak mau matamu tersiram air!"

Kouki meringis karena punggung tangannya dicakar oleh Shishi yang mendesis kesal karena matanya perih terkena air. Dia meraih sikat berbulu halus, membalurkan sabun, lalu mulai menyikat tubuh berkaki empat itu yang tidak mau diam dengan ekor terus dikibas-kibaskan. Ia melirik sekilas Seijuurou yang bangkit dan kembali masuk ke dalam rumah. Barulah ia berekshalasi lega—tak mesti berlama-lama berdekatan dengan sang emperor absolut. Digosoknya secara lembut bulu-bulu keabu-abuan dengan polkadot hitam berdiameter kecil. Lalu meraih sikat lain yang lebih kecil untuk menyikat keempat paw-paw pinkish kucingnya.

Pemuda yang tengah memandikan kucing itu kemudian menoleh mendengar suara langkah kaki, lantas menatapi Seijuurou yang ternyata mengambil tablet dan ponselnya, mengerjap-ngerjapkan mata—melongo karena melihat suaminya itu sudah mengenakan kacamata hitam—mendapati pemuda bersurai merah magenta itu menyadarkan tubuhnya di salah satu kursi malas yang menghadap ke pantai.

"Miaw!"

"Awh! Maaf, Shi." Kouki lagi-lagi kena cakar kucing malang yang kali ini telinganya termasukkan air karena tak sengaja disiram olehnya. Usai seluruh tubuh disabuni, ia membilas badan kucing itu yang menikmati banjuran shower—patung air mancur singa. "Selesai," gumamnya saat meraih selembar handuk warna coklat tua untuk menghanduki kucing betina itu.

Seakan mengerti perkataan orang yang memandikannya, Shishi melenggak-lenggok catwalk menuju kursi malas di sisi tuan aslinya. Duduk manis di situ, mengeong manis pada tuan kesayangannya—yang dibalas dengan belaian di ubun-ubunnya, lalu menjilati sekujur tubuhnya yang masih lembab meski sudah dihanduki.

Kouki bangkit berdiri. Ia berjalan mengitari kolam renang lalu menghampiri kucing hiperaktif yang sudah memanjat patung singa lalu menggigitinya. Tertawa kecil melihat kucing leopard itu meludah serpihan dari partikel yang terpahat di patung air mancur singa itu. "Turun dari situ, Lion!"

Lion menoleh pada Kouki yang tangannya terjulur untuk meraihnya. Kucing itu refleks menyepak tangan manusia yang hobi digigit-sayang olehnya dengan kibasan ekor cepat, tanda bahwa kucing ini masih senang sekaligus penasaran dengan "mainan barunya" yang menyembur suatu cairan tiada henti dan tak bisa digigit olehnya. "Brrr," gerungnya.

"Ayo mandi!" Kouki mengulurkan tangannya sekali lagi, meraih si kucing nakal bermata hazelnut menatapnya tajam—seakan menyelidik intensinya. "Jangan rusak patung itu. Nanti aku akan main bersamamu sampai kau puas. Oke?"

Lion berhenti menggigit kepala si patung singa. Dia duduk dengan keseimbangan luar biasa di pucuk kepala "mainan"-nya, waspada mengawasi manusia di hadapannya dengan seksama. Ketika Kouki salah mengartikan gesturnya tersebut sebagai kesediaan Lion untuk digendong olehnya, senyumnya luntur seketika berganti pekik kesakitan.

"Lion, kucing nakal—" Kouki mengusap-usap tangannya yang naas kena gigit kucing itu. Oknum yang hobi menanamkan taringnya di kulit Kouki itu melompat turun dari patung singa, berlari binal karena dikejar Kouki yang geram karena tangannya digigit. "—kemari kau!"

Seijuurou mendongak dari tablet-nya—tak mengindahkan ulasan headlines news seputar lonjakan harga saham akibat terjadi inflasi komoditi properti yang sayangnya berkaitan dengan arsitektur dan teknik sipil—melihat di seberangnya, suaminya kini belingsatan mengejar sesosok makhluk eksotik Asia kecintaan banyak umat yang berlari mengitari kolam renang. Terdengar umpatan dan makian yang ditujukan pada kucing yang sepertinya mengira mereka sedang bermain kejar-kejaran.

BYUUUR!

"ARGH! Kau curang, malah masuk ke kolam lagi." Kouki yang kesal mengacak rambutnya frustasi melihat Lion menjeburkan diri ke kolam, lalu berenang menjauhinya. "Lion, sini!"

"Brrr." Kucing itu berenang berputar-putar di tengah kolam renang.

Sudut-sudut bibir sang emperor muda itu terangkat sedikit melihat peristiwa itu. Ditaruhnya tablet dalam pangkuan, memutuskan untuk menikmati suaminya yang stress karena ulah anak—uhuk, kucingnya.

Kouki tidak habis akal. Ia bergegas menghampiri ember berisi peralatan memandikan kucing, menarik sebuah pancingan mainan yang di ujung kailnya tergantung mainan ikan. Kemudian berjongkok di kolam renang, melempar jauh-jauh pancingannya. Seijuurou mendengus merendahkan—betapa tidak akurat lemparan suaminya itu yang bukannya dilemparkan pada Lion, malah ikan dan kailnya tersangkut ke kursi malas terapung yang dihuni Leo—si kucing bengal.

"Oke. Kalau begitu, kumandikan saja kau duluan, Leo." Kouki mengedikkan bahu kasual. Ditariknya benang pancing, otomatis menggerakkan kursi malas terapung itu mendekat ke tepian kolam renang.

Grauk!

Kursi malas terapung berhenti bergerak. Kouki memiringkan kepala tak mengerti. Barulah ia menotis bahwa Lion menggigit kursi malas terapungnya yang bergerak diombang-ambing riak air kolam renang—Kouki ingat bahwa Lion tak bisa melihat benda-benda bergerak karena selalu gemas untuk memangsanya. Jadilah mereka saling tarik-menarik kursi malas terapung. Sementara sang penguasa objek yang disengketakan, Leo, mengubah posisinya menjadi duduk.

"Meong." Leo mengeong—entah pada siapa karena Kouki jelas tak paham apa yang dilisankannya. Lalu ia mencakar-cakar kepala kucing yang menggigit kursi malasnya—mengira ia akan digulingkan dari tahta barunya, lantas menggigit kasar telinga si kucing leopard yang ganas menggigit kursi malas terapungnya.

" BRRR!"

Grauk.

Grauk.

"MEOOONG!"

Kouki berkacak pinggang. Menghela napas lelah. Ia geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua kucing pejantan itu yang kini saling bergulat di atas kursi malas. "Kenapa jadi kalian yang bertengkar, eh?"

Melihat pertempuran kian ganas dan suara auman khas predator itu menggebu ke langit biru, Kouki setengah hati menarik kursi malas terapung itu ke tepi kolam renang. Buru-buru diraihnya kucing bermata hazelnut yang sebenarnya hendak bersikukuh mengalahkan kucing bengal si penguasa, namun Kouki mencegah kursi malas terapung yang sesungguhnya milik Seijuurou itu dari kerusakan permanen. Lalu didorongnya objek peperangan kedua kucing termahal sedunia itu menjauh dari tepian kolam.

"Sssh. Tenang, ya." Pemuda yang terlalu pengecut untuk turut andil dalam baku-hantam brutal antar kucing itu menepuk-nepuk kepala leopard mini dalam pelukannya, menggendongnya ke spot tempat ia memandikan si savannah.

Seijuurou menotis gestur anomali kucingnya yang paling lincah. Lion memang menggigiti tangan Kouki, namun tidak menancapkan taringnya. Hanya menggigit-gigit pelan tangan yang selalu memberinya makan sembari menggerung—yang terdengar seperti anak bungsu mengadu manja pada ibunya karena kakak sulungnya memperlakukannya dengan kasar. Pula kelereng hazelnut kucing kelewat hiperaktif itu menatap Kouki dengan pandangan lunak dan ekor terkibas pelan.

Lebih tak lazim lagi, menemukan betapa jinak kucingnya itu dimandikan Kouki tanpa nakal berlari ke sana ke mari. Kouki tertawa ketika Lion mengangkat paw-pawnya, sekali lagi eksitasi tersulit tanpa limitasi—heboh mencoba menangkap, mencakar, menggigit air dari mulut patung singa yang ternganga—menyirami tubuh loreng-loreng ala macan tutulnya.

"Nanti kau basah lagi, tahu. Dasar nakal." Kouki menarik lembaran handuk kedua yang tersedia untuk mengeringkan bulu kucing yang masih betah disembur "shower", menahannya untuk tidak mandi dua kali. Terpaksa ia membuntal kucing itu dalam handuk, terkekeh pelan menahan Lion yang menggeliat rusuh merasa dikungkung serat-serat kain tebal nan hangat.

"Brrr." Lion menyeruakkan kepalanya dari balik lilitan handuk. Menggeleng-gelengkan kepala berbulunya yang menyerap begitu banyak air mengakibatkan kepalanya terasa berat.

"Kalau begini, kau seperti bayi." Kouki menjitak pelan kucing yang menggeram-geram dalam pelukannya. "Lucu." Diusapkannya handuk ke wajah Lion lalu kepalanya—agar kering. Mencubit hidung si kucing leopard itu gemas.

Masih memeluk kucing yang kini menyamankan diri dalam pelukannya, Kouki menatap ke sentral kolam renang. Berdecak mendapati kucing beraura paling penguasa itu merajai kursi malas terapung—berpose terlentang membiarkan seluruh tubuh indahnya tersimbah sinar matahari, sebal mendapati sepasang mata safir terpicing angkuh menatapnya. Kouki tahu dari hasil risetnya di perpustakaan nasional—bagaimanapun dirinya adalah pustakawan—bahwa kucing bengal itu harusnya akrab dengan air.

Namun tidak dengan Leo. Kendati pandai berenang, kucing itu bertendensi menolak air mempolusi eksotisme bulu-bulunya. Paling sulit dimandikan—bukan karena ia kucing belingsatan, melainkan ia selalu menghindar duluan sebelum bersentuhan dengan air.

Kouki menatap Lion yang kini berhenti menggerung, damai dalam pelukannya. Senyum tipis menggaris bibir. Tak tega membangunkan kucing yang lelap karena hangat dalam balutan handuk—kucing memang suka dengan segala sesuatu yang hangat. Tapi ia tak bisa memeluk kucing nakalnya ini dan mengecualikan Leo untuk dimandikan. Terbersit ide di benaknya, namun kilat diliputi hesitansi. Dikerlingnya suaminya yang berselonjor di kursi malas, bergidik kaget karena menyadari sepasang mata merah ternyata mengawasinya di balik kacamata hitam.

"A-ano…" Pemuda berpupil semungil pinus di pucuk Cemara itu tanpa sadar mengeratkan pelukannya pada kucing leopard tersebut. Nyalinya ciut—takut Seijuurou marah karena mungkin ia salah memperlakukan trio kucing milik suaminya itu.

Seijuurou menghela napas pendek. Dari balik lensa hitam kacamatanya saja ia mampu mengetahui apa yang dipikirkan Kouki. "Berikan Lion padaku. Kau mandikan Leo," titahnya sembari meletakkan tablet dan ponsel ke meja.

Tergesa Kouki menghampiri Seijuurou yang menegakkan duduknya, menyerahkan bayi—ups ralat, kucing leopard Asia itu pada Seijuurou. Menatap sejenak suaminya yang menaruh Lion di pangkuannya. Memerhatikan bagaimana mahasiswa yang paling ditakuti universitas terbaik seseantero Jepang itu menyingkap handuk yang menyelimuti kucingnya, gerak-geriknya halus dan telaten menghanduki lagi bulu bercorak macan tutul tersebut. Lion menggeliatkan tubuhnya, menggerung pelan saat terbangun dan menemukan tuannya tersayang yang memenuhi pelupuk hazelnya, lantas mendengkur ala kucing. Bahkan Kouki menemukan ada kelembutan yang sama sekali tidak feminin namun tetap terimpresi esensi afeksi dari aksi Seijuurou yang membelai Lion di pangkuannya.

Kouki tersentak saat Seijuurou tiba-tiba mendongak. Keduanya bersitatap. Lekas ia memunggungi suaminya, enggan salah tingkah karena sekali lagi tersentuh dengan sisi persona pemuda bersurai magenta itu yang mungkin takkan pernah terekspos ke publik. Dihembuskannya napas panjang—seakan sensasi sesak mendesak familiar itu kembali merenggut pasokan napasnya. Berusaha mengenyahkan desingan tanya ini lagi yang mencuat ke permukaan benaknya.

Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah ia dapatkan jawabanya, sampai akhir nanti. Apa dirinya seorang saja yang tahu sisi Seijuurou yang ini, atau mungkin Seijuurou hanya menunjukkan personanya yang ini padanya—dan asumsi ini segera ditepis karena terlalu irasional. Mencubit pipinya sendiri keras-keras, mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak berasumsi macam-macam karena ada tugas yang harus diselesaikan.

Tidak berbahasa verbal, Kouki memungut pancingan mainan. Mengayunkan benangnya hingga ikan mainan yang bertaut dengan kailnya itu tersangkut ke kursi malas terapung. Kemudian digulungnya benang, perlahan-lahan menyeret lahan yang dikuasai kucing ras Bengal itu menepi ke pinggir kolam. Tak dinyana, Leo yang insting natural hewan diterpa bahayanya menyalakan alarm panik dalam diri, mengetahui Kouki mungkin akan memperlakukannya sama seperti kedua temannya—dimandikan, kucing paling pintar itu mendepak ikan imitatif dari wilayah kekuasaannya dengan kedua kaki belakangnya.

Kouki melongo sesaat. Setelah pulih dari keterkejutannya—dan menyempatkan diri geleng-geleng kepala karena kecerdasan kucing suaminya yang terlalu abnormal, dilemparkannya lagi si ikan mainan untuk menyeret objek sengketa berlabuh ke bibir kolam. Ia sweatdrop ketika mendapati Leo menggigit benang pancing hingga putus—kemudian kepala menegak dengan pandangan mata safir memendar kemenangan. Ah, benar-benar kucing Akashi-Furihata Seijuurou.

"Sini, Leo!" Tangannya diayunkan ke depan-belakang, tanda mengharapkan kucing itu untuk menghampirinya. Usaha yang nihil hasil. Kouki menatapnya dengan pandangan memelas, putus asa. "Aku janji tidak akan lama-lama memandikanmu. Kemarilah!" Dan mata coklat itu terbelalak karena Leo malah membuang pandang darinya sarat arogansi—laksana mengintensi bahwa bujuk-rayu Kouki takkan mempan padanya. Kouki memantapkan determinasi. "Kalau begitu, aku yang ke sana."

Saat Kouki baru mau membuka baju—

"Tunggu, Kouki." Seijuurou menginterupsi seraya menaruh kacamatanya di meja berkaki rendah terdekat.

Seijuurou menaruh Lion di samping Shishi, membiarkan sepasang kucingnya tidur berpelukan bagai teletubbies dengan bulu-bulu mereka dihangatkan oleh temperatur mentari musim panas. Ia tak mau merepetisi peristiwa yang sempat terjadi—atau tepatnya menghapus segala probabilitas negatif yang mungkin terjadi jika Kouki nekat berenang padahal air kolam renang pasti dingin—Seijuurou tahu airnya masih dingin karena tadi ia mengeceknya. Pemuda yang dulunya dinobatkan sebagai siswa teladan senasional itu bersiul halus.

"HIIEE!" Kouki memekik kaget menemukan Leo yang sigap meloncat lincah nan indah, dari singgasananya sepanjang pagi ini menuju sisi Kouki—lompat sejauh 2,5 meter—tergopoh-gopoh menghampiri tuannya tercinta yang bersiul memanggilnya.

Seijuurou berjalan ke tempat pemandian kucing-kucingnya. Berlutut lantas mengulurkan tangan, disambut dengan elusan dari kepala berbulu halus dan tebal. Mendengus geli mendapati Kouki yang memandang keki pada Leo—kesal karena kucing itu hanya selalu jinak padanya.

"Jangan melamun saja. Mandikan Leo, Kouki."

"O-oke."

Kouki melesat menghampiri suaminya dan kucing berkepribadian ganda itu. Menggeser pelan tubuh dengan tungkai-tungkai jenjang teramat kuat itu ke bawah pancuran air.

"MEOOONG!" Leo refleks mengaum protesnya karena terkejut tubuhnya digulir bulir-bulir air dingin. Segera saja memanuver gerakan berputar, bermaksud kabur dari momok mengerikan di hidupnya. Ditorehkannya linier horizontal di punggung tangan Kouki, lalu menggigit keras telunjuk kirinya sampai mengucur darah.

"Awh!" Kouki melepas Leo yang berupaya menyalurkan amarahnya dengan bergerak tak karuan—penuh desperasi tak ingin mandi. Pupil di matanya mengecil saat matanya terbelalak, kaget bukan kepalang tatkala melihat Seijuurou tegas mendaratkan sentilan keras di sepasang telinga runcing berwarna coklat kayu itu hingga terlipat kuyu.

Kucing termahal sedunia itu menatap sendu pemiliknya. "Meong…"

"Leo, tidak boleh begitu," tegur sang pemilik lugas, tersisip nada dingin peringatan keras yang membuat kucing termahal di dunia itu menunduk lesu dan tindak-tanduk pasrah menerima hukuman.

"Meong…" Leo mengeong pilu.

Kouki membelai kepala kucing yang tertunduk lemah itu, merasakan miris di hatinya saat mata sebiru safir menatapnya—seolah berkaca-kaca tak ubahnya kucing terbuang. Diliriknya suaminya takut-takut sembari mendekap kucing yang sebenarnya paling peka dengan perasaannya ketimbang dua kucing lainnya. "Ja-jangan, Seijuurou-san … pasti sentilan tadi sakit sekali."

"Dia membuatmu terluka." Seijuurou memandang kucing kesayangannya dengan tatapan menjustifikasi. Diraihnya telunjuk tangan kiri Kouki, membersihkan nodanya dengan kucuran air mancur. Lalu menekannya untuk merangsang fibrinogen mengaktifasi fibrin membekukan darah dan menutup jaringan luka terbuka. "Tidak seharusnya kucingku bertingkah tak beradab sepert itu."

Kouki mereguk saliva dalam-dalam seraya mengeratkan pelukan pada Leo. Menundukkan pandangan pada kucing yang mendongak, lugu memandang dengan mata samudera bulatnya. "Leo ha-hanya kucing, wa-wajar saja jika dia tidak mengerti tatakrama." Degup gugup jantungnya tak diindahkannya.

"Dia mengerti, jika tidak maka ia harus belajar mengerti, karena dia kucingku. Dan kata-kataku absolut," tandas Seijuurou. Menunjukkan raut tak suka pada Kouki yang secara tak sengaja menyanggah absolutismenya. Dengan tangan lain yang bebas ia hendak melayangkan sentilan lagi pada telinga si kucing. "Kau berani menentangku, Kouki?"

"Bu-bukan begitu." Kouki menemukan telinga kucing itu terlipat kuyu, mata safir bulan makin sayu. Ia memproteksi kucing tersebut kendati sesungguhnya benar-benar takut oleh suaminya. "Ka-kasihan Leo, Seijuurou-san."

"Jangan memanjakannya. Nanti jadi kebiasaan buruk." Sebelah alis terangkat elegan di balik serakan helai-helai magenta. "Aku tidak mengerti. Kau yang dilukainya, kenapa melindunginya?"

Kouki tercenung. Pertanyaan sederhana menginvasi relung hati menjerumuskannya pada jurang bingung tak berujung. Ia tak bermaksud ingin jadi ksatria pelindung. Hanya saja … entahlah, mungkin karena ia tak ingin kucing-kucing yang tak dianugerahi akal oleh sang pencipta dikekang aturan dan terkungkung bagai katak dalam tempurung.

Seijuurou menanti jawaban Kouki yang tersambar petir imajiner hanya karena pertanyaan sederhananya.

Di antara keduanya, kucing dengan intuisi natural hewani itu memandang lekat kedua tuannya. Lantas mengeong perlahan memecah keheningan yang sempat singgah. Ada eksistensi afeksi yang mengoneksi melandasi relasi sepasang majikannya, tapi dua manusia yang merupakan oposisi satu sama lain itu tidak menyadarinya. Karena itulah, ia menaruh paw-pawnya di pipi pemuda yang tengah terpaku.

"Meong."

Kouki tersentak merasakan telapak kaki kucing yang kenyal di pipinya. Mengerjapkan mata—kendali diri kembali dikontrolnya. Senyumnya terkembang, menatap lunak kucing yang entah kenapa mengeong-ngeong padanya.

"Bahasamu terlalu sulit untuk aku mengerti, Leo." Kouki mengenggam paw-paw yang menyentuh pipinya, mencubit pelan hidung merah muda yang warnanya makin pinkish berseri. Ia mendongak, bersitatap dengan ruby cemerlang yang menelisik manik buminya. "A-aku juga tidak mengerti … ma-maaf."

Seijuurou mengedikkan bahu dengan gaya kasual. Gelimang merah di matanya menyiratkan tatapan geli, masih disisip arogansi, tapi tidak meremehkan Kouki seperti yang lalu-lalu terjadi. "Percuma saja menanyakan sesuatu pada orang yang tidak mengetahui jawabannya." Dilepaskannya tangan Kouki.

Menghela napas lega karena tiada lagi kontak fisik, Kouki melonggarkan dekapannya dari kucing bengal tersebut. Mengangguk asal menanggapi pernyataan Seijuurou. Secara halus, digesernya Leo mendekati sumber semburan air. Kucing itu mengais pinggiran ember plastik, berdiri dengan kedua kaki depannya menopang tubuh jenjangnya seraya mencakar tepi ember. Kouki tahu pose ini adalah gestur menyerah dari kucingnya yang akan pasrah dimandikan.

"Meong … meoooong…" Suara mengeongnya mendadak tervibrasi bariton.

Tidak seperti tadi, kali ini Seijuurou tak beranjak dari sisi Kouki. Dipeganginya kucingnya yang disiram air lalu disikati sekujur tubuhnya dengan sabun kucing.

"Sabar, Kucing Pintar—" Kouki menggosok ekor yang terjuntai melambai memercikkan gelembung-gelembung sabun kecil, "—sebentar lagi selesai."

"Meooong." Suara meongnya terdengar merana, begitu nelangsa.

Seijuurou memegangi kucingnya yang nyaris merusak ember plastik dengan cakarnya—memandanginya sembari menggenggam kedua kaki depan Leo yang menabahkan diri tubuhnya disikat bersih oleh Kouki. "Apa dia selalu seperti ini?"

"Be-begitulah." Kouki beralih menyikat kedua paw-paw pink milik si kucing penguasa. "Walau paling susah diseret mandi, tapi dibanding Shi dan Lion, kalau sudah kena air justru Leo yang paling jinak."

"Suaranya berubah."

"E-eh … ya, suara mengeongnya juga seperti ini kalau dia sedang berburu mangsa. Atau kalau mengeong kelaparan padaku."

"Leo tidak pernah begitu padaku."

"Tentu saja. Seijuurou-san kan tuannya. Leo se-selalu manis padamu."

Seijuurou kini mengenggam kedua kaki depan kucingnya yang mengeong-ngeong pilu, menatap lunak kucingnya. "Good boy."

Kouki mengulum senyumnya—takkan terang-terangan menertawakan bisa melihat suaminya itu seperti seorang ayah yang menuntun anaknya untuk belajar berdiri dan berjalan. Merasakan jantungnya berdegup menyakitkan merongrong rongga dada tatkala sepasang manik merah bertemu pandang dengan matanya.

Sejenak mereka tuli dari dunia yang mendadak bisu. Tak ada riuh celoteh burung-burung camar. Tiada gemuruh rusuh ombak yang mendebur pantai. Nihil suara desir angin yang lembut menyemilir. Pada pandangan satu sama lain yang terkunci, mungkin pada atraksi satu sama lain mereka tersihir.

"Grrh—meoooong!"

–anak, eh kucing mereka yang sedang dimandikan kena tiupan angin wajar saja mengeong-ngeong protes kedinginan.

Refleks keduanya membuang pandang. Seijuurou kembali non-ekspresi—seolah tidak terjadi apa-apa memandang pada kejauhan lalu mengalihkan pikirannya dengan konklusi dari analisis absurd bahwa biru langit dan laut ternyata sungguh berbeda, Kouki merasakan napasnya tercekat dan ia menggigit bibirnya—menunduk menatapi kucing malang yang menggigil dan berpotensi terjangkit flu kucing.

Singkatnya, keduanya mati gaya.

"MEOOONG!"

Seijuurou menetralisir kerongkongannya yang terasa diganjal sesuatu, menatap kucingnya yang saking gemasnya hampir menggigit tangannya. Dia melirik Kouki yang masih terpaku kaku. "Cepat selesaikan. Leo kedinginan."

"I-iya!" Kouki buru-buru membasuh tubuh penuh bulu itu dengan air sekali lagi agar semua busa dari sabun luruh. Kemudian segera membungkus kucing yang menggigil itu dalam handuk sementara Seijuurou merapikan peralatan memandikan kucing.

"Biarkan dia bersama Shishi dan Lion," instruksi Seijuurou tenang.

Kouki patuh, tak sanggup mengucap apapun lantaran jantungnya berdegup gugup. Dia menghanduki Leo sembari berjalan menuju kursi malas, lalu melepas handuknya dan membiarkan kucing itu terpapar sinar matahari yang kian hangat.

Leo lekas menjilati sekujur badan yang kuyup—lagi-lagi pose penguasa khasnya yang menggelar badan fleksibelnya, menempel erat dengan kawannya yang tetap lelap tak terganggu presensi ketiga di antara keduanya. Lalu menelusupkan kepalanya di antara celah yang tercipta oleh sepasang kucing lainnya.

Kouki meraih ketiga handuk trio kucing di rumah tepi pantai itu, meremas handuk-handuk sampai seluruh air terperas, lalu menjemurnya di sandaran kursi malas tempat tiga kucing itu tidur berjubel di sentralnya. Memandanginya sesaat dengan pandangan terpesona.

Ah, alangkah lucunya mereka. Kalau sedang tidur, mereka benar-benar manis dan menggemaskan. Kalau terbangun … tak ubahnya mala petaka yang membuatnya menderita.

Seijuurou mendekati suaminya perlahan, mengawasi seksama pergantian mimik ekspresi Kouki. Ia tak pernah mendapatkan sepasang manik serupa almond mentah itu memandangnya begitu lembut—selalu hanya takut, menunjukkan sisi pengecut.

Pula tak pernah menemukan bibir yang pernah diciumnya dua kali itu melengkung senyum untuknya—kecuali cengiran yang mengalahkan buruknya senyum orang sakit gigi. Dan mungkin takkan pernah merasakan sentuhan halus pemuda lulusan Seirin itu seperti belaian sayangnya pada kucing-kucingnya.

Maka Seijuurou tak tahu apa yang diinginkannya, merentangkan lengan untuk melingkarkannyakannya di pinggang kurus pemuda berkaus putih kusam itu seperti ketika mereka di altar lalu mengecup bibir digigit sampai merah berseri yang bergetar hebat, atau menanamkan kecupan pada nadi yang berdetak untuk mengetahui apakah suaminya itu berdebar anomali—

—suara ringkik ramai berderik—

"Woah … ada lumba-lumba!"

—Seijuurou menjatuhkan kedua lengan di sisi tubuh, dalam diam membenam tangannya ke saku celana. Datar nadanya ketika bertanya, "Musim panas memang selalu ramai dengan migrasi fauna di pantai. Kau mau lihat ke sana?"

"Ma-mau!" jawaban refleks itu dilengkapi dengan mata berbinar-binar antusias.

Suara seperti karet mengerut yang bersumber dari perut itu terdengar jelas, instan kepalanya lekas tertunduk—diam-diam merutuk ketidaksopanannya terhadap pemuda bersurai magenta di hadapannya. Hawa panas—Kouki menyalahkan suhu yang mendadak meningkat—membuat asap imajiner membumbung dari kepalanya.

"Sebaiknya kita sarapan—atau sekalian makan siang—dulu." Seijuurou menanggapi dengan tenang, ruby briliannya menelisik pendar eksitasi yang begitu jujur dari sepasang mata di balik hamburan poni coklat. "Karena kemarin pun kau melewatkan makan malam juga."

Kouki lekas mendongak, balas memandang Seijuurou yang tengah menatapnya dengan raut enigmatis dengan tatapan tak percaya. Memiringkan kepala—pertanda bertanya.

"Aku selalu tahu—karena aku selalu benar." Seringai dingin terpoles di wajah yang menggurat aura penguasa absolut. "Kau seperti buku terbuka—"

"—mudah dibaca." Kouki menyelesaikan perkataan suaminya. Terdiam sesaat. Pandangannya melunak sedikit, mengerahkan segala asset keberanian dalam diri untuk membalas tatapan suaminya. "A-aku siapkan sarapan dulu."

Seijuurou ditinggal bersama ketiga kucing. Masih dengan mata merah tersemat pada punggung tegap dibungkus kaus kusam itu—terlintas di benaknya untuk membelikan sedikit baju rumah yang lebih layak untuk suaminya tersebut. Tak sadar gelimang rubynya turut melunak hingga siluet Kouki menghilang masuk ke dalam rumah.

Satu hal yang disadari Seijuurou. Meluangkan waktunya hari Minggu—bersama ketiga kucing kesayangannya dan suaminya, tidak melulu disibukkan dengan pekerjaan dan kuliah yang menggila, absen dari Mainhouse untuk bermain catur dengan keluarga barunya ….

Ternyata tak terlalu sia-sia.

Setidaknya tadi Kouki tidak memandangnya jengah saat ia memberikan reaksi antagonis seperti biasa. Sorot mata dan seutas senyum sederhana barusan, rasanya menjadikan waktu ini tidak terasa sia-sia.

Ada kurva enigmatis melintang di bibir sang emperor. "Tidak buruk."

.

#~**~#

.

Seijuurou menumpukan sebelah lengan kiri di sofa, dan ditekuk agar tangan kiri menjadi penyangga bagi kepalanya. Lengan kanan memeluk bantal sofa. Sepasang tungkai saling menumpang tergelar lurus di sofa malas dalam ruang tamu yang bersebrangan dengan pantry rumahnya.

Kendati televisi menyala di hadapannya menyiarkan berita tentang maraknya mafia dan kasus pembunuhan berantai yang tengah terjadi, sepasang manik heterokromik kentara menyisip tipis atensi pada pergerakan penghuni lain rumah mereka yang sibuk mondar-mandir di dapur.

Kebiasaan yang dilakoninya sejak tinggal sendiri di paviliun dulu sewaktu sekolah di Rakuzan. Tentu bila ada keluarganya—baik keluarga adopsi maupun kandung, Seijuurou tidak akan bersikap santai ala emperor seperti ini. Kouki sendiri tidak keberatan dengan tingkah-lakunya—atau tepatnya Seijuurou tak tahu persis karena apapun yang dilakukannya kesepakatan mereka adalah untuk tidak mencampuri urusan satu sama lain.

Bosan dengan tontonan yang monoton, Seijuurou memutuskan untuk beranjak dari posisinya. Menyelinap perlahan ke konter dan mengamati suaminya yang kini sedang menghadap kompor, menumis sesuatu di atas wajan Teflon. Pemuda bersurai magenta itu mendekatinya.

Memerhatikan bagaimana Kouki melelehkan mentega untuk diratakan ke permukaan teflon, memasukkan cacahan bawang bombay dan bawang putih—menumisnya hingga harum merebak ke seluruh penjuru ruangan. Memasukkan potongan dadu paprika hijau dan merah, potongan jamur shiitake, sepiring cumi-cumi dan udang. Menumpahkan air ke dalam wajan Teflon sembari memercikkan sesendok teh kecap Inggris dan satu sendok makan saus tiram, lalu menabur lada dan garam secukupnya, baru memasukkan tofu yang telah digoreng sebelumnya. Lalu dia menciduk kuahnya, menunggunya sesaat untuk menyicipi rasanya.

"Kau masak apa?"

"Ouch!" Kouki berjengit kaget karena baru menyadari suaminya sudah ada di sampingnya. Meringis pedih karena kuah panas yang ada di sendok tumpah mengenai permukaan tangan kirinya.

Seijuurou membiarkan Kouki melihat ekspresi antagonis khasnya, menyeringai dingin dengan tatapan geli merendahkan. Dia menikmati ekspresi Kouki antara terkejut, kesal, kesakitan, namun tak berdaya untuk mengutarakan. Ia meraih tangan kiri yang kini dinoda ruam merah, menyeret Kouki menuju wastafel untuk mencuci tangannya dengan air dingin. Lirikan mata mereka bertemu. Seringainya kian terkembang.

"Dari tadi aku melihatmu—kau saja yang tidak sadar," lugas Seijuurou dengan raut kemenangan.

Kouki menatap tangan kirinya yang dibasuh oleh Seijuurou dengan air dingin. "Se-setidaknya kau bisa bilang sesuatu padaku."

"Aku bertanya biasa saja, kau sendiri yang kaget sampai seperti ini." Seijuurou melepaskan tautan tangan mereka, tenang dipercikkannya air ke wajah suaminya. Puas menemukan Kouki mengusap wajahnya dengan punggung lengan dan bibir melengkung ditarik gravitasi bumi, ekspresi kekalahan. "Hati-hati masakanmu hangus."

Kouki buru-buru berbalik untuk memeriksa kondisi masakannya. Kuahnya mulai surut. Komponen masakannya telah empuk. Rasanya pun tidak buruk. Terdengar bunyi klik, matanya sekilas melirik. Nasi di rice-cooker sudah matang. Kemudian Kouki beranjak untuk mengecek sup miso yang sudah mendidih di panci.

Seijuurou memilih untuk menyiapkan peralatan makan bagi keduanya, menyediakan tisu kertas dan serbet, meraih gelas polos bening ukuran medium. Mengisi gelasnya dengan air dingin dari dispenser yang tergabung dengan kulkas berwarna hitam metalik. Entah iblis mana yang membisikinya untuk menempelkan gelas berpermukaan dingin dan berembun itu ke pipi suaminya.

"AAARGH!" Kouki berteriak kaget karena tiba-tiba merasakan temperatur titik bifurkasi di gelas beresonansi ke pipinya.

"Kouki, kau mau air dingin atau biasa saja?" Berusaha tak terlalu menikmati gurat horror Kouki yang syok seolah ditanya kapan kiamat, Seijuurou menatap suaminya antagonis seperti sedia kala. "Jangan membuatku menunggu."

Kouki tampak ingin protes—bisakah Seijuurou bertanya tanpa mengagetkannya, namun tak berani menyuarakannya. Menghembuskan napas panjang, ia mengalihkan atensi kembali pada masakannya. "A- … air-dingin saja—" Tangannya yang bebas terangkat menyentuh sensasi dingin yang tersisa di pipinya, "—tolong."

Seijuurou mengisi gelas untuk suaminya dengan air dingin. Lalu menaruh dua gelas tersebut di meja makan mereka. Beranjak kembali menghampiri isi kulkas sembari mengerling suaminya yang menggerung entah apa di hadapan kompor, membuka lemari pendingin dan mencari tahu isinya apa saja. Impresif, isi kulkasnya penuh dengan makanan dan minuman segar aneka merek dari ekspor sampai impor kualitas terbaik pula beragam-macam. Dia tahu yang me-restock kulkas atau lemari logistik makanannya jelas bukan dirinya ataupun suaminya. Mungkin ibunya, adiknya, pelayan, atau siapa saja bisa.

Cukup aneh. Mengingat baik Seijuurou dan Kouki jarang di rumah. Paling hanya sampai waktu sarapan pagi saja. Sore pun jadwal mereka sehari-hari saling bersilangan untuk ikut Tea Time di Arbor Mansion Akashi. Makan malam wajib di mainhouse. Mereka jarak punya waktu luang. Seijuurou sibuk dengan kuliah dan pekerjaan bisnisnya diikuti segala problema hidup, sementara Kouki juga kuliah dan praktik lapangan menjaga perpustakaan nasional—bahkan menyempatkan merawat kucing mereka—pula tak terhitung masalah pribadinya sendiri.

Tak termasuk masalah keduanya sekaligus.

"Banyak sekali, ya. Apa kita bisa menghabiskannya berdua saja?"

"Kalau tidak bisa, tinggal suruh pelayan membuang makanan atau minuman kadaluarsa." Seijuurou melirik ke samping, Kouki berada dekat dengannya—ikut memerhatikan isi kulkas mereka. Lalu diraihnya setoples biji kopi kualitas tinggi, sebotol delicate-creamer, sebotol kecil liquid mint, plain white milk, dan sebungkus choco granule. Membawa semua barang bawaannya ke dekat coffee maker di konter dapur, tak jauh dari kompor listrik.

"Kopi?" Kouki bergumam.

"Hmm." Seijuurou meracik sendiri espresso. Lihai menakar sejumlah butir kopi yang dihaluskan oleh mesin coffee-maker, mengaduk delicate creamer—mencicipinya sekilas dan mengangguk puas karena rasanya tak terlalu manis, sambil meracik segelas lagi dengan choco granule, dan susu putih tanpa rasa ditetesi beberapa cairan perasa mint. "Kau mau?"

"Err—" Kouki menatapnya ragu.

"—aku tak membuatkan kopi untukmu," tandas Seijuurou tenang, "—aku tahu kau tidak suka kopi."

Kouki menunduk kecewa seraya menyajikan masakannya ke meja lalu mencuci peralatan masak. Seijurou menyembunyikan seringai kemenangan, kemudian lanjut menjerang kopi sekali lagi.

Pemuda yang dulunya adalah lulusan Seirin itu mendudukkan diri terlebih dahulu. Menuangkan nasi ke mangkuk agar uap panasnya terkepul pada udara, mengisi mangkuk dan tatakan saji lauk tumis yang dimasaknya—mengisi milik suaminya terlebih dahulu. Lalu mempreparasi punyanya sendiri, memasang serbet di pangkuannya—hal yang dipelajarinya sebagai tatakrama bangsawan selama makan malam di mainhouse Akashi. Tatkala mendongak, ditemukannya Seijuurou menaruh secangkir minuman di dekatnya.

"U-untukku?" tanya Kouki retoris, mengerjap-ngerjapkan matanya yang membulat tak percaya. "Bukannya kau bilang tidak membuatkan untukku—"

"—Hot Moccachino with White Foam," sela Seijuurou, "—kalau tidak suka, buang saja." Ia mencecap sup miso dengan atensi terpaut pada suaminya.

Kouki menatapi secangkir minuman berwarna coklat muda yang membumbung asap hampir transparan tipis ke udara. Dihias busa putih yang terlihat amat lembut dan dinoda serbuk coklat—secara performa tampak estetis dan elegan. Diraihnya sendok kecil di tatakan cangkir, menyuap sedikit. Matanya terpejam tatkala rasa kopi yang adiktif dibalur manis coklat, rasa samar susu yang halus, selintas mint yang menyegarkan dan busa putih yang tercipta dari krim terasa lembut—semua kesatuan melumer manis memikatindera pengecapannya.

Seijuurou memicingkan mata melihat Kouki menerbitkan senyum lebih lebar dengan mata berpendar, lidah menjilat bibir yang ternoda creamer ditabur choco granule antusias—dan mata merahnya makin menyipit. Lantas kali ini ia mengalihkan atensi untuk menyuap sepotong besar tofu, menikmati rasa khas yang teresap dalam sajian kesukaannya.

Kouki tak tahu bahwa Seijuurou mengerti dirinya menyukai minuman yang baru pertama kali dicicipinya. Ia berupaya menampik pikiran yang mencetus bahwa mungkin dirinya memang beruntung bisa mendapatkan suatu minuman home-made oleh Akashi Seijuurou secara langsung. Maka ia bertanya—dengan usaha mengabaikan degup gugup jantungnya.

"Ba-bagaimana—" –masakanku?

Sekian detik mereka berpandangan. Seijuurou menyendok lagi sepotong tofu, menjawab singkat. "Layak dimakan."

Kouki menyesal sudah bertanya. Mengapa pula ia menaruh ekspetasi berlebih pada seorang Akashi? Masih beruntung suaminya itu tidak membuang masakannya ke tempat sampah.

Keduanya makan dalam diam sampai ludas-tuntas seluruh kudapan, tanpa berkonversasi membersihkan dan merapikan lagi ruang makan. Hingga suara dering telepon bernada dering komposisi Minuet memecah keheningan. Seijuurou terlebih dahulu mengangkat telepon sebelum Kouki sempat beranjak.

"Selamat pagi. Kediaman Akashi-Furihata di sini. Ah … Okaa-san." Kouki memerhatikan Seijuurou yang terdiam mendengar ibunya di seberang telepon entah mengatakan apa. Memiringkan kepala ketika Seijuurou meliriknya. "Hmm … begitu. Baguslah." Seringai—ini membuat Kouki merinding, sesuatu pasti terjadi. Lantas Seijuurou melambai kepadanya. "Kouki, Okaa-san ingin bicara padamu."

Kouki bergegas bangkit mengambil telepon yang diserahkan Seijuurou. Tak menyadari atensi suaminya terdistraksi melihat tiga presensi menyelinap ke area meja makan. "Halo. Selamat siang, Beatrice Kaa-san."

Selama beberapa saat Kouki sweatdrop mendengar berondongan pertanyaan ibu mertuanya itu. Mulai dari kenapa kemarin tidak makan malam di mainhouse, menanyakan kenapa putra tunggalnya tidak biasanya ada di rumah, serta meminta mereka untuk makan malam di mainhouse seperti biasa. Tidak lama usai menitipkan salam pada keluarga di mainhouse, Kouki mendengar suara barang berkelontang dan ia lekas mengembalikan gagang telepon pada tempatnya.

Seijuurou tengah duduk di kursi meja makan, meliriknya dengan gestur geli merendahkan. "Kouki, mereka sudah bangun."

Kouki lekas melesat menghampiri suaminya—mengerti benar yang dimaksud dengan mereka adalah para kucing. Pupil mata melebar, terkejut bukan kepalang menemukan Leo mencakari pintu kulkas sampai terbuka. Mengendus-endus lalu menarik laci lemari pendingin, mengeluarkan sebuah bungkusan ikan tenggiri tulang lunak lalu memakannya. Tidak hanya itu, si savannah cantik memanjat ke lemari atas yang tersemat di atas dinding kitchen-set. Dengan kaki bagian belakang yang kuat menendang toples berisi whiskas sampai terbanting ke atas meja, lalu turun dari sana.

"Miaw."

Kouki masih melongo bingung.

"Miaw. Miaaaw!" Shishi tidak sabaran, digigitnya tangan Kouki untuk ditaruh di atas tutup toples. Ekornya terkibas kilat, mengintensi kekesalannya karena Kouki malah memekik—tangannya sakit karena digigit walau tidak separah gigitan Lion—melihat semua yang terjadi.

Seijuurou lebih tanggap. Disingkirkannya tangan Kouki, lalu membukakan toples whiskas untuk kucingnya. Tersenyum tipis pada kucing betina kesayangannya yang ternyata bukan makan untuk dirinya sendiri, melainkan dengan paw-pawnya menjatuhkan butir demi butir whiskas bagi Lion yang duduk manis di dekat kaki meja.

"Astaga…." Kouki syok, "—astaga! Baru kemarin lusa aku pindahkan whiskas dari kulkas ke lemari atas supaya tidak diambil mereka. Dan sekarang…"

"Kau kalah pintar dari kucing-kucingku." Seijuurou mengelus pipi Shishi yang melakukan hubungan simbiosis mutualisme dengan Lion.

Tikaman benda tajam imajiner menghunus hati Kouki. Pemuda itu menepuk kening. "Aku lupa memberi mereka makan tadi pagi." Dia mengerling sekilas pada suaminya, tampak khawatir. "Tapi mereka mencuri makanan—a-apa Seijuurou-san akan marah?"

Seijuurou berpikir sejenak. Menatap pintu kulkas yang terlihat mahal hanya dari tampilan luar, menyeringai dingin. "Sekali ini saja, kubiarkan—daripada nanti makanan membusuk karena tidak termakan oleh kita. Ini menandakan mereka cukup pintar."

'Terlalu pintar!' histeris Kouki dalam hati, meratapi lagi nasibnya masih harus menghadapi trio kucing yang membuatnya pusing memutar nalar untuk mengakali ketiganya.

Seijuurou bangun untuk meraih sebungkus Shrimp Chip. "Kouki, kita ke pantai sekarang." Barulah memosi jari menunjuk trio kucingnya. "Bawa serta mereka."

Kouki mendesah resah. Sekali lagi pasrah.

.

#~**~#

.

Seijuurou melepas alas kakinya bersama Kouki di anak tangga terakhir yang terendam pasir. Bertelanjang kaki menikmati bulir-bulir kasar pasihr putih yang menghangatkan telapaknya. Mata merahnya memindai kawasan semenanjung yang dimiliki Akashi. Pantai tentu saja damai nan permai tanpa penampakan batang hidung siapapun—dan baru pertama kali ini ia bisa menikmatinya secara santai.

Air laut yang dangkal terbias menjadi warna hijau muda—mungkin karena ganggang laut, rumput laut, atau lumut. Kedalaman yang dasarnya tak terjangkau akomodasi sempurna indera pengelihatan, bergradasi dari biru muda sampai biru pekat menjumpa samudera. Di sanalah terdapat fauna yang timbul-tenggelam bercengkerama—tak lagi menyelami lubuk laut namun mencuat ke permukaan.

Meski pantai lenggang dari presensi manusia, tapi marak oleh sekawanan burung camar yang berjalan lucu di pantai. Menghias tebing-tebing tinggi dan batu karang besar, serta terbang melayang ribut meracau kacau mengintai mangsa mereka (ikan-ikan) yang berkelibatan di perairan dangkal. Di kejauhan, cukup terlihat keramaian fauna. Menunjukkan peristiwa rantai makanan yang acapkali dipelajari dalam pelajaran Biologi.

Ganggang atau rumput laut dimakan oleh cubung-cubung—kecebong, yang dimakan oleh ikan-ikan berukuran sedang seperti sekumpulan sarden, brown hakelling, bluegill, golden carp, salmon, atau tuna—entahlah. Ikan-ikan tersebut disantap lagi oleh predator berikutnya yaitu lumba-lumba hidung botol serta segerombolan burung camar. Semoga saja tidak ada hiu atau paus yang turut bermigrasi ke sini

Seijuurou menyayangkan ia tak membawa kacamata hitamnya—masih diletakkan di meja dekat kolam renang. Sengatan matahari memanggangnya, membuatnya sedikit pusing di ubun-ubun kendati hawa panas dinetralisir oleh belai angin beraroma garam.

"Leo, kasihan burungnya!" Suara teriakan menginterupsi Seijuurou yang tengah menikmati hari liburnya. "Shi, bagaimana bisa kau—" Derap langkah panik, "Awas jatuh, Lion!"

Pemuda bersurai merah dikibas angin itu menemukan suaminya mencak-mencak tak jauh darinya. Diikutinya arah pandang presensi lain di pantai itu selain dirinya, ditemukannya si bengal jantan mengeong ganas memangsa seekor dari sekumpulan burung camar. Menggeser sedikit pandangan, didapatinya savannah cantik berenang ke tepi pantai—betapa lucu kepalanya timbul-tenggelam, agresif memburu ikan-ikan yang berenang di permukaan air dangkal. Di atas sebuah karang tinggi, kucing leopardnya yang terlalu hiperaktif tengah memanjat karang yang menjulang tinggi di debur ombak.

Terlintas di benak Seijuurou bahwa suaminya sudah seperti induk kehilangan anak, atau mungkin seperti ibunda yang stress dengan kenakalan anak-anaknya. "Biarkan saja mereka," cetusnya tenang.

Kouki menatapnya cemas. Mereka berpandangan sesaat. Seijuurou membalas pandangannya dengan tatapan afirmatif.

"Mereka hanya bermain—baik untuk mengasah insting predator natural mereka." Mata merah melunak. "Kau ke sini untuk lihat lumba-lumba, 'kan?"

Mengetahui pemuda bersurai kecoklatan yang teruntai lembut dikibar angin-angin hingga seluruh kepolosan wajahnya terkuak jelas itu hendak menyanggah, Seijuurou membuka sebungkus snack yang mereka bawa. Mengambil sebatang shrimp chip itu lalu melemparnya pada sekelompok camar terdekat—dan lekas saja terjadi anarki di antara para unggas tepi laut itu yang beringas berebut makanan.

"Biasanya, kalau di kebun bunga, mereka memburu capung, kumbang, kupu-kupu, bahkan hewan-hewan reptil kecil lainnya." Kouki mengabsen fauna buruan peliharaan mereka.

"Kau hafal daftar buruan mereka." Seijuurou berkomentar sembari melempar lagi sepotong shrimp chip lebih jauh pada burung-burung camar.

Kouki terlihat keberatan. "Kasihan hewan-hewan kecil itu … aku kan selalu memberi mereka makan—tadi pagi hanya lupa, seharusnya mereka tidak lagi memburu."

"Sudah kodrat mereka sebagai predator memangsa hewan kecil—mengingat mereka adalah penahta tertinggi puncak rantai makanan."

"Kalau mereka buru terus, bagaimana kalau nanti populasi hewan-hewan kecil itu berkurang lalu punah?" gumam Kouki.

Si emperor muda itu menyorot remeh-temeh pada pemuda ordinari yang khawatir pada sesuatu sepele. "Dinosaurus punah."

"I-itu zaman purba. Punahnya bukan karena sistem rantai makanan, melainkan hujan meteor." Kouki ikut meraih shrimp chip dan melempar pada segerombol camar.

"Itu teori ilmiah para cendekiawan di masa lampau, meski cenderung imajinatif. Ini membuktikan bahwa hewan besar pun tidak akan bertahan bila sirkumstansi tidak memungkinkan."

"Seperti teori Charles Darwin … jika makhluk hidup tidak mampu bertahan, mereka akan dikalahkan oleh yang kuat—hukum rimba. Jika mereka lemah, maka akan punah." Pandangan Kouki meredup sendu tertuju pada Lion yang kini duduk dengan keseimbangan sempurna di puncak batu karang.

Seijuurou teringat definisi sederhana Kouki pada sebuah buku. "Origin of Species by Means of Natural Selection. Teori Selesi Alam Charles Darwin. Tidak kusangka kau membaca buku setua itu."

"Padahal aku yang pustakawan…" Kouki mengorek pasir dengan ujung jemari kakinya. Tak usah mengungkapkan bahwa ia membaca buku namun terkadang lupa judulnya—terlebih judul dalam bahasa asing yang panjang dan sulit diingat.

Seijuurou memandang lekat Kouki yang muram mengais pasir—menyadari teori yang tak sengaja tercetus barusan cocok dengan sirkumstansi yang menautkan mereka kini. "Aku tidak setuju dengan teori non-sense itu."

"No-nonsense?" Kouki merepetisi bingung. "Itu benar terjadi."

Mata solid kolong langit bersitatap dengan mata merah magenta—entah untuk kesekiankalinya hari ini.

"Bila benar begitu, kenapa bisa serangga kecil hidup sampai sekarang? Bahkan eksistensi kutu, nyamuk, atau makhluk monoseluler yang kecil dan lemah, juga hewan seperti kucing biasa saja." Pandangan lunak dari manik merah itu menyala, merenggut pasokan napas Kouki. "Makhluk yang lemah dan biasa-biasa saja, atau bahkan yang pengecut dan takut hanya bersembunyi dalam cangkang seperti siput, punya cara tersendiri untuk bertahan hidup di alam dengan hukum rimba teramat keras."

Hening melingkupi mereka disemaraki oleh euforia ringkik lumba-lumba yang lompat indah menyapa langit lalu menyelam ke air menghiasi hamparan laut dengan pola repetitif. Burung-burung camar yang berkicau risau—bersaing makanan dengan segrup lumba-lumba. Suara mengeong kucing-kucing mereka yang sibuk sendiri. Gemerisik semilir angin yang berisik mencumbui tubuh mereka dan kecupan halo mentari di pucuk surai. Bergulung-gulung ombak akibat gelombang pasang air laut mendebur daratan. Buih putih lembut menciumi penghujung jemari kaki mereka, menggulir halus bibir pantai membuat pasir putih terseret arus balik.

Hendak menggerus tampang melongo bodoh Kouki—harusnya terpesona atau sekalian berurai airmata, Seijuurou mendorongnya sampai jatuh berlutut di garis pantai—hingga celana pendek yang dikenakan suaminya ikut basah kena jilat debur ombak. Lalu menangkup segenggam air, membanjurkannya ke wajah tanpa struktur biologis keistimewaan berlebih itu—menggilas habis kekaguman tersirat Kouki.

"Pfftth—Se-Seijuurou-san—" Mata coklat itu berkaca-kaca, "—asin!"

"Tidak usah banyak berpikir. Aku selalu benar, karena itulah perkataanku absolut."

"Dan apa hubungannya semua itu dengan kau menyiramku? Apa sa-salahku—Seijuurou-san!"

Seijuurou melengos pergi—berlari kecil menembus burung-burung camar yang berterbangan karena dikejutkan akan presensinya. Melirik ke belakang, Kouki berusaha mengejarnya. Sesuai asumsi, kebiasaan ceroboh Kouki kambuh—kakinya saling menyandung satu sama lain.

Seijuurou lantas berbalik menghampirinya yang berusaha bangun, mencengkeram segenggam shrimp chip, lalu melemparkannya pada Kouki—dengan niat agar burung-burung camar yang ganas langsung berterbangan mematuki suaminya supaya sekrup aneh apapun di otaknya yang barusan sempat kendur dapat kencang kembali.

"AAAARGHHH!" Kouki berlari sekuat tenaga dengan teriakan lepas sepanjang pantai, ketakutan dikejar unggas kelautan itu.

"Bodoh." Pemuda bersurai magenta itu berdecak. Kouki malah berlari ke arahnya diekori oleh unggas-unggas tepi laut tersebut.

Seijuurou melihat kedua kucingnya, Leo dan Shishi, melesat menerjang burung-burung camar yang mengejar Kouki hingga formasi layang para camar itu terpecah-belah. Lion dengan tampang melankolis di puncak karang menikmati deburan ombak yang menggigiti bongkah batu tempatnya duduk—sambil menyaksikan kedua kawannya memangsa burung camar yang mengejar kedua majikannya. Lantas diraihnya tangan Kouki yang tengah tersimpan di lutut—terbungkuk dengan napas didesak sesak kepayahan, ditariknya agar lari dari serbuan burung camar yang mengincar sebungkus shrimp chip.

Sepasang suami-suami itu berlari menembus barikade burung camar di sektor berikutnya. Berbalik pun percuma, maka Seijuuruo mengenggam tangan Kouki lebih erat dan memutuskan untuk meruntuhkan defensi mengerikan makhluk-makhluk tersebut sampai mereka tiba di daerah pantai yang lebih lapang.

Tapak-tapak kaki mereka terserpih buih meninggalkan jejak di pasir putih yang basah digilas gelung ombak.

Bila saja saat itu Seijuurou menoleh ke belakang, pandangannya akan bertemu dengan Kouki yang menatap bisu punggung tegapnya—tak kuasa membalas genggaman tangan mereka.

.

Entah ini fantasi atau misteri, ketiga kucing mengeong, burung-burung camar makin meracau kacau, dan lumba-lumba yang melihat—dan ingin dilihat—keduanya menderik ringkik pilu lebih frekuentif. Mereka lebih dulu tahu bahwa kisah ini hanya selarik mozaik yang semula legit, ketika suatu saat nanti saat bernostalgia akan membangkit toksik teramat pahit.

.

Secarik mozaik momentum berharga yang tersembunyi dari dunia. Bagai kucing yang bersembunyi dalam kotak rahasia.

.

Owari

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

8K? Nice job, Light. #menggelepar

(-) Itu ketiga kucing Akashi pure berdasarkan riset. Kalau kelakuan ketiganya, ini kombinasi riset ras leopards/bengal behavior versi Wikipedia, nontonin youtube, nontonin "The World's Cutest" di Animal Planet, dan berbagai site+blog hasil pantengan gugel yang dipadu dengan tingkah ketiga kucing saya di RL dalam tiga waktu berbeda. Ketiganya kucing puber masih (?), belum sepenuhnya dewasa.

Soal kucing menjebol kulkas, itu kejadian. Saya lihat sendiri kucing saya ngejebol kulkas, narik laci bagian cooler, terus ngambil makanannya. Oh my, cat nowadays … T_T

Tenang. Fic ini masih ada epilognya. ;D

.

And see you latte~

.

Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. ^_^

.

Sweet smile,

Light of Leviathan