Yo! Chapter dua dataaang. Spesial untuk Rinzu-chan~ Dan Anda semua yang menanti karya tidak bermutu ini!
Mereka, yang turut memberikan apresiasi penghormatan kepada Rinzu15 the 4th Espada :
anita-nurulfatma
Arevi-are-vikink
ricardo-u-kaka
Nokia7610
Dan seluruh silent readers, Terima kasih.
(Oh ya.. Kelupaan nih, ngomong-ngomong, kolom review kalian tiba-tiba nggak bisa di klik atau gimana? Atau tiba-tiba kolom review udah menghilang di Gadget kalian?)
LSP, Nervously Present :
We Are Family (Always)
Episode II
Naruto Hak Milik Tunggal Masashi Kishimoto.
We Are Family Original Story Hak Milik Tunggal
Rinzu15 the 4th Espada.
We Are Family (Always) bukan merupakan sekuel dari We Are Family karya Rinzu15 the 4th Espada (Original Story),
We Are Family (Always) hanya merupakan karya Tribute, We Are Family (Always) tidak memiliki keterkaitan cerita atau kesinambungan dalam hal apapun jika We Are Family (Original Story) berlanjut dalam bentuk sekuel We Are Family 2.
Sinkronisasi mutlak terhapus.
NarutoXSakura Pure Family!
Genre Family & Friendship.
Rating pembaca adalah remaja (T)
Peringatan keras! Dan ini serius bung!
OOC Dan AU.
'Feel 'Family & Friendship-nya tidak kerasa, garing dan monoton.
Alur secepat kilat dan seganas badai.
Pahami makna
"Don't like don't read."
...
Matahari tepat di ubun-ubun langit, membara dan menguapkan segala bentuk macam cairan di permukaan bumi, termasuk cairan dalam tubuh seorang bocah berambut pirang yang terlihat mengamen di salah satu perempatan kota metropolitan, Iwagakure. Dehidrasi ringan karena teriknya sang raja galaksi bimasakti, dan juga perut keroncongan karena belum menelan sesuap nasi sedari pagi membuat lagu yang dinyanyikan terdengar asal, suaranya lari kedalam, sedangkan bunyi gitar kecil berdawai empat yang biasa di sebut ukulele itu juga kalang kabut balapan dengan lirik lagu yang didendangkan.
Lampu merah segera berganti hijau, Naruto, bocah dengan baju lusuh dan celana pendek yang robek disana-sini, bergegas menepi ke trotoar, duduk di pinggir area pejalan kaki tersebut. Ia menengadah, berharap ada mendung yang menutupi ganasnya bola api raksasa dilangit, mendung yang pecah akan menjadi hujan, ia bisa mendongak lalu membuka mulut lebar-lebar, meminum tangisan langit sepuasnya, seperti kebiasaannya tiga minggu ini.
Sengatan matahari tetap membakar kulit, tak mengabulkan doa Naruto. Ia mendecih, sepertinya daki akan makin menumpuk di pori-pori kulitnya, menambah kesan kumal pada bocah yang seharusnya duduk dikelas dan menerima tetesan ilmu. Ia menunggu lampu merah kembali menyala pada traffict light. Ia harus segera mengamen, mengumpulkan setoran pada Danzo, boss-nya, dan mudah-mudahan ada sedikit sisa untuk membeli makan malam untuknya, dan untuk sahabatnya, Sasuke.
"Oi dobe!" Sasuke mengagetkan Naruto dari arah belakang, lalu ikut duduk disamping Naruto.
"Hn." Naruto enggan menjawab, bukan karena ia pelit bicara, mulutnya kering dan bibirnya makin lama makin lengket.
"Cih! Aku baru dapat 9.000, kurang 11.000 lagi sebagai minimal setoran kepada pak tua mata satu itu." Sasuke menghitung uang receh dan lembaran dalam kotak bekas minuman gelas.
"Berhentilah mengeluh, Sasuke... aku bahkan baru dapat 5000, sepertinya orang-orang enggan bersedekah hari ini..." Naruto menoleh sesaat pada Sasuke, sebelum akhirnya ia kembali memandang lalu lalang kendaraan bermotor dihadapannya.
"Ini mengerikan... kita harus kabur dari sini, kita sudah disini selama tingga minggu..lihatlah keadaan kita sekarang... baju lusuh dan tampang kumal, mengamen dari pagi sampai sore, makan hanya sekali sehari.. kita harus kabur, Naruto!" Sasuke mengguncang bahu Naruto.
Naruto kembali menoleh pada sahabatnya, menghembuskan nafas panas lalu menunduk, "Sejak hari pertama kita disini, bukankah kita sudah merencanakan lari, tapi kita selalu gagal, wilayah ini dikuasai Danzo, anak buahnya mengawasi kita setiap saat dari kejauhan.. kita tak akan bisa lari dari sini, Sasuke, berhentilah mengeluh dan bermanja-manja..."
"Cih! Siapa yang sok dewasa dan sok pintar sekarang, dobe.." Sasuke mati kutu. Ia enggan lagi berdebat dengan rekan pesimisnya.
"Oi kalian,"
Baik Naruto maupun Sasuke terkejut dengan kedatangan seseorang yang tiba-tiba jongkok dibelakang mereka.
"Sudah makan? Aku beli nasi bungkus, mau?"
.
.
.
"Sakura... ayolah.. makanlah sedikit..."
Ino seakan menyerah menghadapi sahabatnya, tangannya masih menggantung tepat di depan mulut Sakura, tak ada asupan makanan yang masuk dalam tubuh yang kini kurus. Niat hati hendak menyuapi Sakura, namun Ino hampir putus asa karena sahabat karibnya tak kunjung buka mulut.
"Aku tidak lapar..." Lebih dari satu minggu sejak Naruto hilang tiga minggu lalu, Sakura terbaring lemah dikamar rumah sewaanya di Kiri.
Ino dan Minato saling pandang, tidak tahu harus berbuat apalagi. Minato sendiri datang jauh-jauh dari Konoha sejak Sakura mengabarinya bahwa Naruto menghilang.
"Sakura... makanlah sedikit.. agar tubuhmu kuat dan kita akan sama-sama mencari Naruto lagi.. ya.." Minato membujuk, sekaligus mengambil mangkok berisi bubur dari tangan Ino.
"Ayo.. ini..." Minato menyodorkan suapannya.
Sakura mengunyah dengan pelan namun iris hijau itu kosong tanpa direksi. Minato memberikan senyum terhangat, meski ia tahu Sakura sama sekali tak menatapnya.
.
.
.
Laboratorium Forensik,
Rumah Sakit Kirigakure.
"Lama sekali! Ini sudah hampir satu bulan!" Fugaku membentak marah pada petugas penjaga loket administrasi di bagian forensik Rumah Sakit Kirigakure.
"Maaf pak, memang pencocokan DNA butuh waktu lama, tapi berkas Anda sudah selesai dan sedang diambil di ruangan dokter karena hanya dokter yang boleh menyimpan berkas DNA pasien.
"Cih!" Fugaku segera duduk di ruang tunggu dengan wajah kesal.
Belum lama menit berselang, seorang dokter keluar dari ruangan forensik dan menemui Fugaku.
"Fugaku-san.. ini berkas Anda, masih tersegel dan rahasia, hanya saya sendiri uang mengetahui hasilnya." Dokter muda itu memberikan amplop besar tersegel pada Fugaku.
"Arigatou, Dokter." Fugaku menerima dengan wajah dingin. Ia bergegas meninggalkan ruangan tersebut dan menuju parkiran.
Didalam mobilnya, Fugaku memegang amplop itu dengan perasaan berkecamuk. Amplop yang berisi tes DNA dirinya dan Sasuke. Ia gundah, sedikit bimbang, jika memang Sasuke bukanlah anaknya, masih pantaskah ia marah pada Mikoto. Mengingat bahwa ia dan Mikoto telah resmi berpisah. Wajarkah ia selama ini memperlakukan Sasuke sedemikian keras, naluri seorang ayah selalu menggugatnya, Sasuke tak mengerti apa-apa, bukan keinginannya pula kalau ia lahir dari sebuah accident.
Jikalau Sasuke memang anaknya, bagaimana ia menebus dosa-dosanya? Perlakuan kasar dan bengis pada Sasuke selama ini, bagaimana ia menghapus semua itu? Menyesalkah ia?
Perlahan, dengan gemetar Fugaku merobek bagian atas amplop berukuran besar itu, terdapat beberapa lembar kertas. Fugaku berkeringat dingin, pria paruh baya itu berada dalam mobil dan ditengah-tengah basement, namun ia merasa sendiri dalam ruang gelap tak berujung.
Lembar pertama berisi privacy dan security, Fugaku membaca dengan cepat dan tidak fokus, lembar kedua dan ketiga ia baca dengan cepat, berisikan laporan, analisis, dan tes laboratorium, ia sampai pada lembar terakhir, tubuhnya menggigil tatkala sampai pada paragraf kesimpulan.
Matanya terbelalak dan seluruh tulangnya terasa menegang.
Hasil DNA antara Fugaku dan Sasuke,
Seratus persen, cocok.
.
.
.
Naruto dan Sasuke dengan buas melahap nasi putih panas dan ayam goreng pemberian Nagato, mereka makan dengan rakus seolah-olah tidak makan berhari-hari, karena memang mereka hanya makan malam tiap hari, dengan uang secukupnya sisa hasil mengamen.
"Nagato-nii... kenapa tidak ikut makan?" Naruto bertanya dengan mulut penuh makanan.
"Aku sudah makan... makanlah.. kenyangkan perut kalian..." Nagato memandang Naruto dengan pandangan suram.
"Kenapa Nagato-nii selalu baik pada kami, juga pada anak-anak yang lain?" Kini Sasuke ikut bertanya setelah menelan suapan terakhirnya.
Nagato menoleh pada beberapa pejalan kaki yang menatap mereka, tidak ada tempat lain, mau tak mau mereka bertiga makan di tepi trotoar.
"Apakah aku sebaik itu? Haha..." Nagato memaksakan tertawa. "Aku ini anak buah Danzo, tidak mungkin aku baik, iya kan?" Nagato kini membalikan tanya pada Sasuke ataupun Naruto.
"Tapi di antara anak buah pak tua mata satu itu, hanya niichan yang baik pada kami, juga pada anak-anak lainnya." Naruto selesai menelan suapan terakhir.
Nagato tak menjawab, matanya liar memandang ke semua arah.
"Nagato-nii?" Sasuke mencoba menyadarkan Nagato yang tidak merespon mereka.
Nagato kembali menatap dua bocah itu bergantian, "Naruto, Sasuke, Juugo mengawasi kalian, sepertinya kalian harus kembali mengamen. Aku juga tak bisa lama-lama disini.. ada yang harus kukerjakan."
"Apa Niichan akan berkelahi lagi?" Naruto menaikkan alis.
Pemuda berambut merah itu segera berdiri dan berbalik, bergegas meninggalkan kedua bocah itu dengan cepat.
"Ah... selalu seperti ini... saat kita baru berbincang dengan Nagato-nii.. kita pasti ditinggal..." Naruto mencebik bibir.
"Kalau kau ingin berbincang santai.." Sasuke menoleh pada Naruto, "Maka dirumahlah kita berbincang santai..."
"Rumah?" Naruto menatap ragu pada rekannya. "Rumah kita dimana? Apakah orang-orang yang ada didalam..em.. kau sebut apa.. rumah.. merindukan kita?"
Sasuke menunduk dan membisu karena silabel Naruto.
"Ini sudah tiga minggu, teme! Sedangkan sampai sekarang belum ada yang menjemput kita.. Nagato-nii bilang kalau jarak Iwa dengan Kiri cukup dekat, hanya menyebrang lautan selama 30 menit.. apakah mereka tidak bisa melapor pada polisi bahwa ada anggota keluarganya yang menghilang dari... apa tadi? Rumah?"
"Lalu, apa kita akan disini selamanya? Menjadi anak jalanan dan budak pak tua mata satu itu? Apa kau tidak merindukan Sakura-chan-mu? Apa kau tidak merindukan keluargamu?
Naruto berdiri menepuk pantat, "Selama masih ada kau, teme.. aku masih merasa memiliki keluarga, jadi tetaplah bersamaku."
Si surai pirang berlalu dan meninggalkan Sasuke yang tertegun, mencerna kalimat terakhir Naruto.
.
.
.
Terik berlalu menjadi teduh, sang surya tergelincir hingga di ujung bumi, bersiap bertukar posisi dengan sang dewi malam, bulan yang membius kegelapan bumi dengan kecantikannya. Kumpulan lampu yang menerangi kota dari gedung-gedung pencakar langit, lampu mobil bahkan lampu jalan, bahu-membahu menandingi pijar sang dewi malam, namun gemerlap bukanlah tandingan bagi sang dewi. Bulan tetap tersenyum kokoh sebagai pelita abadi.
Syahdunya panorama alam kontras pada salah satu ruangan dari gedung bertingkat di pusat kota Iwa. Suara tamparan dan pukulan mengiringi pekikan dari anak-anak yang sedang menyetorkan uang hasil meminta-minta dan mengamen selama satu hari penuh.
Plak!
"Cuma segini yang kau dapatkan? Bocah bodoh! Tidak berguna!" Danzo, pemimpin dan dalang eksploitasi anak-anak menampar Inuzuka kiba, seorang anak jalanan sebaya Nauto yang bertugas meminta-minta.
Plak!
"M-maafkan s-sa-ya, tuan..."
"Hei kau pirang mata lebar! Mana setoranmu?!" Danzo kembali membentak.
Shion, gadis lugu dengan boneka lusuh ditangannya, memberikan kaleng bekas berisi uang recehan hasil mengemis pada Danzo. Danzo membelalak marah, ia melempar uang recehan yang tak seberapa itu ke arah kepala Shion. Gadis polos itu menutup mata, siap menerima hujan uang receh.
Tring-tring-tring.
Uang logam itu berdenting di lantai, Shion membuka mata, Chouji, sahabat tambun berdiri dengan merentangkan tangan, menjadi tameng untuk Shion. Kening Chouji sedikit memerah terkena hempasan uang padat itu.
"Goblok! Kamu!" Danzo menunjuk pada Naruto.
Naruto maju meninggalkan sebelas anak lainnya. Ia menyerahkan uang sebanyak 30.000 kepada Danzo. Pria tua dengan satu mata tertutup itu menghitung lembar demi lembar uang dari Naruto.
"Kalau bisa, lebih banyak dari ini! Memaksalah jika mereka tak mau memberikan uang! Pakai otak kalian jika kalian masih ingin makan!"
Naruto diam menatap Danzo yang berlalu dengan beberapa preman yang juga anak buahnya, Naruto yakin, seperti tiap malam, Danzo dan anak buahnya akan pergi mabuk-mabukan.
Dua belas anak itu segera berangkat tidur, menghamparkan kardus-kardus bekas pada lantai semen gedung bertingkat yang pembangunannya terbengkalai. Angin bisa masuk dari sisi manapun karena konstruksi baru setengah jalan, namun bagi mereka, kehangatan sesungguhnya bukanlah dari selimut. Dua belas anak-anak itu rata-rata korban penculikan, atau penjualan anak yang sengaja digunakan sebagai mesin uang oleh orang orang biadab dan tak bermoral seperti Danzo.
Dua belas anak itu diculik dari berbagai kota oleh para penculik anak, lalu dijual kepada Danzo dengan imbalan uang. Di antara dari mereka sudah berusaha kabur, namun wilayah tersebut dikuasai oleh Danzo, para preman anak buah Danzo mengawasi pergerakan mereka tiap saat semenjak pagi hingga petang.
Pemuda berambut merah panjang dengan banyak tindik di hidung dan ditelinga datang entah dari mana, celana panjang yang ia kenakan robek pada bagian kedua lutut, ia memakai kaos tanpa lengan, memamerkan tattoo pada sekujur lengannya. Nagato, nama pemuda itu, menghampiri anak-anak yang mulai berebah diatas kardus bekas, ia dengan lembut mengusap kepala Kiba.
"Sudahlah, apa ini sakit?" Nagato mengusap pipi Kiba yang masih memerah ditampar oleh Danzo.
"I-iya.. Nagato-nii..." Kiba menjawab menunduk.
"Lihat apa yang kubawa.." Pemuda murah senyum itu mengacungkan bungkusan yang ia bawa, "Sst... jangan berisik ya.. aku bawa ayam goreng cepat saji... sekarang sebelum tidur kalian makan dulu agar besok punya tenaga.. oke?"
Anak-anak tersebut antusias dengan menerima bungkusan kecil dari Nagato, nasi panas dengan ayam goreng serta saus yang menggoda. Hanya ada beberapa botol minuman, namun mereka sudah terbiasa saling berbagi.
Nagato menatap getir anak-anak yang dengan makan dengan lahap, ia sebenarnya tak ingin membelajakan uang hasil memalak, merampas, ataupun berjudi pada anak-anak, namun rintihan ketika mereka tidur sambil menahan lapar mau tak mau membuat Nagato melakukan itu.
Naruto selesai dengan makannya, begitu pula Sasuke, Nagato mendekat pada mereka, "Mau kuperlihatkan suatu tempat?"
.
.
.
Ibiki memberikan tatapan intimidasi pada kedua tersangka dihadapannya. Matanya nyalang dalam amarah. Ia mencengkram kaos tahanan salah satu tersangka itu.
"Katakan padaku, dimana kalian jual anak-anak itu?" Geramnya.
"Cih.. sudah berapa kali kubilang, aku lu-"
Bugh!
Morino Ibiki memberi pukulan pada wajah Kinkaku. Rebah dari kursinya, tubuh sebesar gorila itu tak berkutik ketika kaki Ibiki mencekik lehernya. Ginkaku makin ketakutan ketika melihat kakaknya tak berdaya dihadapan pemeriksaan polisi.
"Kau tahu, bodoh, di penjara, tahanan jenis apa yang di tindas oleh para tahanan lain?"
Kinkaku berusaha melepas injakan kaki Ibiki, nafasnya sesak dengan nafas memberat.
"Ah ya.. benar..." Ibiki mencibir meski dua saudara itu tak menjawab, "Tahanan yang melakukan tindakan kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak-anak!" Ibiki melepas injakan kakinya pada leher Kinkaku.
"YAMATO! MULAI MALAM INI MEREKA TIDAK LAGI DI SEL TERPISAH! MASUKAN MEREKA KE SEL GABUNGAN!"
Anak buah Ibiki segera memborgol kembali Duo Saudara krimanal itu, Kinkaku dan Ginkaku gemetar dalam ketakutan.
"BAIK! BAIK! AKU KATAKAN PADAMU DIMANA KUJUAL MEREKA! JANGAN MASUKAN KAMI KE SEL GABUNGAN!" Kinkaku bersujud di kaki Ibiki diikuti adiknya.
Ibiki jongkok dan menjambak rambut panjang Kinkaku, "Katakan, sebelum aku berubah pikiran!"
"A-aku men-menjual mereka pada seorang preman bernama Danzo di pusat kota Iwa, ia adalah penadah dari anak-anak yang biasanya diculik untuk dijadikan pengamen ataupun peminta-minta." Kinkaku memelas.
"Yamato..." Ibiki kembali memberi instruksi pada anak buahnya, "Tetap masukan mereka pada sel gabungan, agar mereka mengerti, bahwa kejahatan yang mereka lakukan akan dibayar oleh setiap jeritan kesakitan penyiksaan dari para tahanan lain!"
"TIDAK! JANGAN! KUMOHON!" Kinkaku meronta meski sudah diseret beberapa petugas. "JANGAN! JANGAN!"
.
.
.
"Hosh..hosh... haah..." Sasuke terengah menapaki tangga, ia mendongak ke atas, dimana Nagato dan Naruto berhenti dan berbalik menatapnya. Ini adalah tangga menuju atap lantai dari bangunan 12 tingkat dimana lantai bawah adalah 'rumah' mereka.
"Kenapa, anak manja?" Naruto mencibir, "Baru segini saja sudah lelah? Dimana tenagamu?
"Diam kau, dobe! Aku tipe orang yang memakai otak daripada otot!" Sasuke tak mau kalah
"Kalau begitu suruh otakmu yang naik tangga, gampang kan!" Naruto makin mengejek. "Dimana-mana jalan dan lari pakai kaki, teme, bukan pakai otak!"
"Oi sudah, sudah," Nagato melerai keributan, "Ini adalah tangga terakhir, kita akan segera sampai di atas." Nagato kembali melangkahkan kaki, di ikuti nada cemooh Naruto serta decihan tak suka Sasuke.
Sesampainya di lantai paling atas, mereka berdua mengikuti Nagato yang berjalan ke arah tepi bangunan. Nagato menunjuk, dan kedua bocah yang masih labil itu mengikuti arah pandang dari direksi yang dimaksud.
"Whoaa..."
Naruto maupun Sasuke terpesona, dihadapan mereka, pemandangan luar biasa membuat mereka takjub. Dari ketinggian itu, bola mata mereka menangkap pemandangang kota Iwa di kala malam, gedung-gedung pencakar langit mendominasi diantara bangunan kecil nan kumuh berhimpit berjejal. Kendaraan yang tak lelah memadati jalan bagai kunang-kunang yang mengelilingi pelita. Pijar lampu jalan serta beberapa gedung yang masih beraktifitas membuat kesan 'hidup' makin kentara. Bulan yang nampak gagah makin menambah suasana megah pada malam kota metropolitan. Pijar bintang bintang seakan tak mau kalah dengan cahaya dari bawah.
Angin malam memainkan rambut mereka bertiga. Naruto dan Sasuke masih takjub dengan suasana malam, Nagato berdiri ditengah-tengah, menepuk pundak kedua bocah.
"Aku suka sekali kesini dulu, saat Yahiko dan Konan masih disini, sebelum Danzo menjual mereka pada keluarga kaya yang kini mengadopsi adik-adikku itu..."
Naruto tertegun, "Niichan punya adik?"
Nagato tersenyum, lalu semakin menepi pada pinggir bangunan yang tidak diberi pagar pengaman, pemuda berambut merah itu duduk sambil menjuntaikan kakinya. Naruto dan Sasuke mengikuti apa yang dilakukan Nagato. Pemuda itu memberikan gestur untuk berhati-hati agar mereka berdua tidak terjun kebawah dan mati konyol dengan tubuh tercerai berai di jalanan.
"Dulu... kami bertiga hidup tak tentu arah setelah panti asuhan terbakar, aku, Yahiko, dan Konan hidup dari meminta-minta... hingga suatu saat, kami benar-benar kelaparan..."
Naruto dan Sasuke menyimak meski pandangan mereka tetap pada padatnya gemerlap malam kota metropolitan.
"Kami mengais tempat sampah dibawah hujan lebat, tapi tak ada makanan sisa yang bisa kami dapatkan.. kami semakin tidak bertenaga ditambah kedinginan.. akhirnya kami bertiga tergeletak ditrotoar tanpa seorangpun mempedulikan kami.."
Angin malam masih setia menemani mereka. Naruto mengayunkan kaki yang terjuntai. Surai pirang itu makin berantakan, wajah dekil dan kusam tak menutupi raut wajah damai dan polos jiwa anak-anak yang ia miliki.
"Disaat aku merasa kematian semakin dekat menjemput, Danzo datang... membopong kami bertiga dibawah lebatnya hujan.. kami dibawa kerumah kontrakannya, diberi makan, dan diberi pakaian hangat. Kami diberi tempat bernaung.. itu adalah awal pertemuanku dengan Danzo."
"Tapi, seiring waktu, Danzo tak sebaik prasangka-ku, kami di disuruh mengamen dan meminta-minta.. harus ada harga yang pantas dibayar atas selamatnya nyawa kami di tangannya.. hingga suatu saat ada keluarga yang ingin mengadopsi Yahiko dan Konan.."
Sasuke menoleh pada Nagato, "Jadi.. kalian bertiga terpisah?"
"Ya..." Nagato menatap bulan dengan pilu, "Bagiku, Yahiko dan Konan adalah segalanya, mereka di adopsi oleh keluarga kaya, mereka tidak akan kelaparan lagi, tidak panas-panasan mengamen, mereka bisa bersekolah, lalu bekerja sebagai orang ahli, menikah dengan orang yang mereka cintai dan punya anak.. bagiku.. kebahagiaan mereka adalah kebahagiaanku.. dan tugasku sebagai seorang kakak adalah mewujudkan semua itu.."
"Lalu, kenapa niichan masih disini?" Sela Naruto.
"Aku tidak bisa sepenuhnya meninggalkan Danzo, bagaimanapun juga Danzo adalah penyelamat kami.. aku mengabdikan diri pada Danzo menebus kebaikannya.. dan berharap suatu saat bisa menghentikan perangai buruk Danzo.. bagiku.. Danzo adalah ayah.. ia adalah keluargaku.. dan aku punya beban moral untuk membawa Danzo ke arah yang benar."
Naruto menekuk leher, matanya terpejam "Danzo kau anggap keluarga? Apa itu keluarga... niichan?"
"Keluarga? Hmm..." Nagato memaksa Naruto menegakan kepala, "Keluargaku adalah Danzo, Yahiko dan Konan." Nagato berdiri, mendongakan kepala pada atap langit.
"Keluarga ibarat langit, Naruto, Sasuke, ada satu kesatuan utuh yang tak akan bisa terpisahkan. Ada matahari sebagai penguasa siang, tatkala ia letih dan kembali ke peraduan, dewi bulan menggantikannya, mereka berdua bersumpah takkan meninggalkan bumi dalam gelap. Ayah dan Ibu takkan membiarkan anak-anak mereka dalam sesat dan kebutaan. Ayah dan Ibu takkan meninggalkan anak-anaknya."
Sekilas senyum Sakura memenuhi imagi Naruto, kerasnya perjuangan Sakura dalam bekerja siang malam demi memenuhi kebutuhan mereka berdua. Tidak ada waktu istirahat bagi Sakura, sedari pagi hingga petang bekerja dikedai Minato-niichan dan dinihari kembali bekerja mengantar koran dan susu. Sakura tetap tersenyum padanya, meluangkan waktu dengan memandikannya, menanyakan tugasnya di Taman Kanak-Kanak, dan mengajaknya ke taman bermain setiap sebulan sekali dari uang yang disisihkan.
Sasuke kembali mengingat kedua orang tuanya, namun ia segera menggelengkan kepala, bayangan Fugaku yang murka membuat dadanya kembali gemuruh dalam amarah.
"Papaku.. Dia tak pernah peduli padaku..." Sasuke berguman, Namun Nagato jelas menangkap tiap silabel Sasuke.
"Hm? Benarkah, Sasuke?" Nagato bersedekap, "Tidak sama setiap orang tua menunjukan kasih sayangnya, tidak dengan bermanja-manja, tidak dengan kata-kata lembut... Orangtua adalah orang yang paling memahami kita.. mereka pasti mencari cara mendidik kita sesuai watak kita masing-masing.."
Nagato menoleh pada Sasuke, "Sasuke, kamu sedikit manja dan lembek, orangtuamu tentu tidak ingin kamu selamanya begitu, bayangkan jika kamu masih manja dan kekanak-kanakan dalam usia sepertiku? Bagaimana jika suatu saat ada suatu hal yang membuat kamu terpisah jauh dari orangtuamu selamanya, seperti saat ini... dengan sifatmu yang sekarang, bisakah kamu bertahan hidup? Orangtuamu pasti berlalu keras padamu agar kamu tidak cengeng dan menempamu dari sifat manja."
"Dengar itu, anak manja!" Naruto mencibir.
"Diam kau, dobe!" Sasuke mendecak kesal.
"Dan kamu, Naruto.." Kini Nagato mengalihkan area pandang pada si kuning, "Sifatmu yang terlalu berlebihan dalam menyikapi sesuatu juga tidak baik..."
"Eh?" Naruto baru saja akan mengejek Sasuke, namanya saja anak-anak, mereka kadang selalu bercanda meski suasana sedang serius.
"Jangan sensitif seperti perempuan, kamu dan Sasuke adalah laki-laki, kalian ditakdirkan menjadi pagar bagi rumah kalian. Kelak, kalian akan menjadi pemimpin dalam keluarga, menjadi pembimbing dan tempat mengadu setiap anggota keluarga. Kalian adalah penjaga, kalian adalah pelindung. Jika kamu sensitif seperti perempuan, kamu tidak akan bisa menyelesaikan masalahmu sendiri, apalagi masalah anggota keluargamu."
"Sekarang, apa kalian merindukan rumah?"
Kedua bocah itu terhening. Nagato kembali melanjutkan kata-katanya "Ada kelebihan kekurangan pada tiap orang, Naruto, Sasuke... Kasih sayang adalah obat dari setiap kelemahan insan.. Matahari kadang tertutup mendung, namun kadang hujan bukanlah petaka, apa yang kalian dapati dalam rumah, seburuk apapun itu, itu adalah bentuk kasih sayang murni dari orang-orang yang mencintai kalian. Jika kalian dapati mereka tidak sempurna, maka lengkapilah.. Jika kau merasa orangtuamu tidak peduli padamu, maka berbuatlah sesuatu agar mereka memandangmu.. jika kau merasa jauh dengan kuargamu, maka carilah cara agar mendekat, jika kalian tidak merasa pantas berada ditengah lingkungan keluarga kalian, carilah cara agar kalian dirasa pantas. Belajarlah yang rajin, jangan berbuat ulah, bantu kedua orangtuamu, jangan malu membantu Ibumu ke dapur meski kalian lelaki, jangan takut kotor jika disuruh membersihkan rumah..."
Naruto dan Sasuke menyesapi tiap kata dari Nagato.
"Kalian masih beruntung, masih bisa mengenal orangtua kalian, lihatlah Kiba, Chouji ataupun Shion, mereka terpisah dan hidup dijalanan saat mereka belum bisa mengingat wajah orangtua mereka, tapi mereka menemukan arti keluarga disini. Bagi mereka, kebahagian adalah bisa saling melindungi satu sama lain, berbagi makanan dan kardus alas tidur, itu adalah kebahagian bagi mereka.. jadi, Naru.. Sasu... apa kebahagiaan kalian?"
Naruto maupun Sasuke terdiam, pikiran mereka melanglang ke rumah masing-masing, kebahagiaan mereka ada disana, ya.. kebahagiaan mereka ada dirumah. Mereka berdua berdiri, angin malam mengibarkan rambut mereka yang kumal tak pernah keramas.
"Bukan apa kebahagiaanku, Niichan.. tapi siapa..." Naruto mengepalkan tangannya, "Aku akan mencari cara untuk pulang kerumah!"
"Karena kebahagiaan kami.." Sasuke menyambung, "ADA DIRUMAH!"
Nagato tersenyum melihat tekad kedua bocah itu."Aku punya teman bernama Sasori, ia bekerja sebagai sopir taxi sekarang, dulunya ia adalah musuhku sewaktu ia masih menjadi petarung jalanan, sekarang ia adalah sahabatku, aku akan cari cara agar kalian bisa bebas dari sini.. tapi berjanjilah satu hal padaku..."
Kedua bocah itu membelalakan mata, Kebebasan didepan mata!
.
.
.
Pagi harinya, di kantor Kepolisian Kirigakure.
"Menurut pengakuan mereka, Naruto dan Sasuke dijual ke salah satu preman di kota Iwa." Asuma menjelaskan pada Mikoto, Sakura, Ino dan Minato.
"Hiks... teganya kalian..." Mikoto terisak, Ino memijit pelan bahu Mikoto. "Tenanglah, Nyonya Mikoto.. polisi akan segera menemukan Sasuke..."
Kinkaku dan Ginkaku hanya terdiam menunduk, mereka berdua hanya dipisahkan meja dengan berhadapan langsung dengan keluarga Naruto dan Sasuke.
"Kenapa kalian sejahat itu.. mereka masih anak-anak.." Sakura tak ayal langsung menangis, "Apakah kami punya salah terhadap kalian?" Minato segera menenangkan Sakura.
"Kami akan bergerak pagi ini, saat ini juga, jadi kuharap kalian menunggu kabar dari kami dirum-"
"Tidak ada yang menunggu, tidak ada yang bisa menunggu." Sebuah suara menyela Asuma selaku kepala kepolisian bidang kriminal kota Kiri.
Fugaku menyela, entah dari mana ia datang, semua mata menengok padanya. Tuan besar itu berjalan pelan bersedekap dada, menghampiri meja dimana dua kriminal itu dipertemukan dengan pihak keluarga anak-anak yang mereka culik.
Fugaku menatap jijik bercampur marah, Mikoto bergidik ngeri, suaminya tak pernah mengeluarkan aura opresif seperti itu. Dulu, Fugaku hanya pernah sekali marah saat mantan suaminya itu cemburu pada sahabatnya sendiri, Kagami.
Ia mendekat pada meja, aura Tuan besar serta wibawanya membuat semua orang disana merinding, ia berhadapan langsung dengan Kinkaku dan Ginkaku.
Brugh! Brugh!
Kedua tangannya langsung menyapa duo kriminal itu dengan bogem mentah. Kinkaku dan Ginkaku terjungkal dari kursi. Dengan sebelah tangan, Fugaku mengangkat meka dan menjungkir balikannya. Fugaku menerjang Ginkaku yang berusaha berdiri, lalu duduk diatas tubuh Kinkaku yang masih rebah. Pukulan demi pukulan bersarang diwajah Kinkaku, para petugas kepolisian berusaha memisahkan Fugaku dari ataa tubuh Kinkaku.
Tuan besar itu berusaha berkelit, namun para petugas menyeret kasar agar Fugaku menjauh.
"Cih!" Fugaku merapikan jas kerjanya yang berantakan, "Jika terjadi hal buruk menimpa anakku, kupastikan kalian akan mendekam di penjara seumur hidup."
Mikoto terperangah, ini adalah kali pertama Fugaku mengatakan bahwa Sasuke adalah anaknya, selama ini Fugaku selalu menyangkal kehadiran Sasuke ditengah-tengah keluarga mereka.
Fugaku berbalik, menoleh sesaat pada Sakura, "Hei pingky, segera masuk ke dalam mobilku, kita akan sama-sama dengan polisi mencari anakku dan adikmu di Iwa!"
Sakura membelalakan mata.
Harapan telah datang!
.
.
.
Matahari cukup menyengat, meski belum tepat di ubun-ubun bumi, Naruto mencoba menantang, namun kembali menunduk, sepertinya ia tak suka 'ayah' yang panas, jika memakai istilah Nagato tentang keluarga.
Ia kembali asyik bernyanyi, entah lagu apa, yang penting parau suaranya berkoar, toh tak ada yang peduli, mereka memberikan uang atas dasar kasihan, bukan karena kualitas pita suara dan pemilihan nada yang tepat dari Naruto. Ia menengok kesisi jauh, sahabatnya malah lebih parah lagi.
Sasuke memang memakai ukulele, semacam gitar kecil berdawai empat, tapi tak sekalipun ia memetik senarnya. Tak ada satupun lagu yang disenandungkan Sasuke, bahkan geraman saja tidak terdengar. Yang dilakukan sahabatnya hanya mendekat pada mobil yang berhenti sesaat tatkala lampu merah, mengetuk kaca mobil pada bagian sopir, lalu melotot. Tak perlu waktu lama, Lembaran uangpun diterima Sasuke, terkadang dengan tambahan cubitan gemas di pipi anak manja itu.
Naruto mendesah, bahkan jadi anak jalanan-pun, Sasuke selalu diatasnya. Mungkin jika Sasuke jadi penjahat, tidak akan ada yang mau menangkapnya, mungkin malah dipuja dan elu-elukan, pikir picik Naruto.
Kembali menepi, Naruto duduk di pembatas jalan, ia menganga, berharap bahwa udara yang ia hirup mengembun di langit-langit mulut dan berubah menjadi tetesan air. Ia menoleh sesaat pada Sasuke yang mendekat padanya.
"Oi kumal dekil, untuk apa kamu mangap seperti itu? Tampangmu semakin bodoh!" Seperti biasa, Sasuke mengawali sapaan dengan celaan.
Naruto menunjuk batang hidung Sasuke dengan tangan yang sedang tidak memegang gitar, "Perhatikan dirimu sendiri, anak manja! Kau juga kumal dan dekil, terakhir kita mandi adalah empat hari yang lalu, itupun berkat hujan!"
Sasuke diam, mengaminkan kata Naruto dalam hati, dengan gaya cool kebanggaanya, ia meletakan tangannya dikepala Naruto, "Karena otakmu lamban, kuingatkan sekali lagi, nanti malam Sasori-nii teman Nagato-nii akan menjemput dan mengantarkan kita ke pelabuhan, jadi persiapkan dirimu, anak muda!"
"Kampret!" Naruto menepis kasar tangan Sasuke dari kepalanya, "Kau berbicara macam orangtua saja... aku tidak sebodoh yang kamu kira, dan kau juga tidak pintar, kau hanya sok, dasar anak mami!"
"Uh ya? Lalu-"
"Hey kalian!" Jirobou menepuk pundak Sasuke.
Kedua bocah itu terkejut karena tidak merasakan hawa kehadiran salah satu anak buah Danzo tersebut. "Kalian dipanggil boss, sekarang!"
.
.
Dihadapan mereka berdua kini adalah Danzo dengan beberapa anak buahnya. Adapula tiga orang yang tidak mereka kenal. Sasuke mengenal ciri pakaian ketiga orang tersebut karena sama seperti pakaian kerja Fugaku, pebisnis mungkin, batin Sasuke.
"Mereka berdua belum genap empat minggu disini," Danzo membuka suara, "Pilihlah, Orochimaru."
Seorang pria dari tiga pria berstelan pebisnis itu maju, menyeringai senang. Mata yang lebih mirip mata ular itu menatap Naruto dan Sasuke bergantian. Kedua bocah itu dilanda kebingungan, ada apa ini, batin mereka.
Orochimaru berjongkok, menyamakan tingginya dengan Naruto dan Sasuke, ia menatap tajam Naruto sambil menjilati bibirnya. Ia membelai surai pirang itu, lalu menghembuskan nafaa tepat di wajah Naruto. Bocah itu menggigil ketakutan, firasat buruk menerpa pikirannya.
"Terlalu rapuh, aku tak suka..." Orochimaru bermonolog, lalu mengalihkan belaiannya pada rambut raven Sasuke. Ia meniup pelan wajah Sasuke, lalu menjilati bibirnya sendiri.
Sasuke mengernyit tak suka, "Mulutmu bau!"
Orochimaru menyeringai senang, tangannya beralih kebelakang Sasuke, tepat di pantat. Orochimaru sedikit memberi remasan pada bongkahan itu. Sasuke makin menampilkan ekspresi tak suka dan jijik.
"Aku suka anak ini, pemberani dan berjiwa sebagai penguasa. Bawa anak ini!"
Dua orang rekan Orochimaru segera mendekati Sasuke, memberi plester pada mulut Sasuke lalu mengikat kedua tangan dan kakinya, sementara Orochimaru berbalik dan menuju Danzo.
"Hei..kau mau apakan Sasuke!" Naruto mencoba menahan tangan rekan Orochimaru yang mengikat kaki Sasuke. Orang tersebut dengan mudah mendorong Naruto dan membuat bocah tersebut terlempar beberapa meter dengan posisi terduduk.
Orochimaru memberi lembaran uang pada Danzo, lalu bergegas masuk mobil yang terpakir tak jauh dari sisinya. Sasuke meronta dalam gendongan rekan Orochimaru, yang dengan kasar menghempaskan tubuh Sasuke kedalam mobil. Naruto berlari menuju mobil tersebut, ia menggedor pintu yang sudah tertutup.
"OI! KEMBALIKAN SASUKE! MAU KALIAN BAWA KEMANA SASUKE?" Naruto terus menggedor pintu mobil yang mulai berjalan pelan. Danzo sendiri asyik menghitung uang dan tidak memperdulikan Naruto.
"KALIAN BAWA KEMANA SASUKE!? MAU KALIAN APAKAN, HAH?!" Mobil itu berjalan pelan meninggalkan bangunan tempat Danzo menjadikan markas bagi anak-anak jalanan. Naruto masih menggedor pintu mobil sambil berlari dan meneriakan nama Sasuke.
Mobil itu telah sampai dijalan raya, Namun Naruto masih menggedor pintu sambil berteriak meski ditengah kepadatan mobil dijalan raya "SASUKE! KEMBALIKAN SASUKE! SASUKE!"
Mobil yang membawa Sasuke menambahkan kecepatannya, Naruto makin menambah laju larinya, ia terus menggedor pintu samping mobil. Ia terus berteriak hingga mobil Orochimaru itu melesat dalam kecepatan tinggi, Naruto memaksakan semua tenaga yang ia punya. Terus berlari di padatnya jalanan dan berharap bisa mengejar mobil Orochimaru.
Akhirnya ia terengah, berdiri bertumpu lutut tepat ditengah jalan. Nafasnya terengah, berpacu dengan suara klakson yang menyuruh Naruto menyngkir. Dibelakangnya sebuah mobil truk kehilangan kendali. Sopir tersebut berusaha rem agar tidak menabrak Naruto, namun naas rem truk tersebut blong, jarak truk itu makin menipis dengan Naruto.
Naruto mengepalkan tangannya, ia berteriak lantang ke arah langit, "SASUKEEEEEEE...!"
Berlanjut
Ke
Episode III
Berikutnya di WAF episode III :
"SASUKEEEEE...!"/ "Naruto.. oi sadarlah.. apa yang terjadi?"/ "Sasuke... bertahanlah nak, Papa akan segera menjemputmu.."/ "Sasuke-kun... anak manis, kita bobok yuk di ranjang.. ada banyak mainan disana dan ranjangnya empuk..." Orochimaru mengelus pelan rambut raven Sasuke./
"Jangan takut, Sasuke-kun... aku hanya ingin bermain sebentar denganmu sebelum tidur siang, oke?" Orochimaru menyeringai senang tatkala ia membuka kancing celana Sasuke./ "CEPATLAH! ANAK MANJA! SELAMATKAN TITITMU DARI MONSTER PEDOFIL ITU!"
Pelarian ini tak semudah yang mereka kira!
Naruto dan Sasuke menjemput kebebebasan!
"Selamat jalan, aku menyayangi kalian, karena kita adalah keluarga."/ "Kau masih pakai sempak, teme! Bwuahahaha..."/ "I-iya... k-kita tersesat, dobe..."/ "Cek-cek-cek this, b*tch! Killer Bee in the house, yow!"/ "HUWAAAA!/
