MUSTANG'S MUSTACHE 2
Fullmetal Alchemist belongs to Arakawa Hiromu
Fanfiction by BlackKiss'Valentine
"Ternyata kumisnya memang membuatnya bertambah…seksi?"
Kantor kemiliteran Ametris di Ishval, petang itu.
Mustang maupun Riza, keduanya bersiap untuk pulang. Mustang menata penanya yang berserakan sementara sang asisten menumpuk sisa-sisa kertasnya. Ketika Mustang mengelus kumisnya, dan pemandangan itu kembali tertangkap oleh lensa sang mata elang, Riza kembali membeku. Sayangnya, si pemilik kumis super itu juga menangkap gelagat aneh Riza.
"Ada apa, sih, Hawkeye? Hari ini kau tidak biasa." protes Mustang, mendelik pada asisten cantiknya itu. "Tersandung-lah, menginjak kaki orang lain-lah… Kau juga berdiri ditengah jalur kuli yang mengangkut air, sampai kalian bertabrakan dan air yang tumpah harus diambil lagi. Kau kenapa?"
"Ah, tidak. Maafkan aku untuk hari ini, sir." kata Riza menyesal, sadar dari lamunannya. Gara-gara benda itu, tahu! jeritnya dalam hati.
"Kau sakit? Ayo segera pulang. Hari ini kupacu mobilku lebih cepat, kalau kau mau." ajak Mustang.
"Tidak. Aku tidak sakit." kecuali sakit gila karena terus melihat benda hitam itu.
"Lalu kenapa?" tanya Mustang penasaran. Oh, dia cemas pada asistennya ini.
"Kau terlihat begitu tampan, sir"…masa aku akan menjawab seperti itu!
"Tidak…"
"Ayo, katakan saja!" desaknya sambil mendekati Riza. Uh, kenapa kau malah mendekat, sir? Wajah Riza memucat dan matanya mengatup erat ketika Mustang berada didepannya, menghindar. "Hei, kau ini kenapa?"
"Ku-…"
"Kurang darah?"
Riza menggeleng. "Ku-..KU-!"
"Kuku kaki-mu sakit?" Riza menggeleng lagi. Ia mengambil nafas dalam dan…
"KUMIS ANDA, SIR!"
Saraf Mustang konsleting.
"Apa? Kenapa kumisku ini?" Mustang kelabakan mengelus kumisnya dan Riza bergidik geli. "Hentikan, sir!"
"Hei, hei! Memangnya kenapa kumisku?"
"Tidak…" Riza mengambil napas. "Ano… Agak aneh buatku. Entah karena aku belum terbiasa melihatnya, aku terus dapat menangkapnya diwajah anda, sir."
Mustang memandang asistennya itu.
"Aah…" kata Mustang sambil menggaruk kepalanya. Riza masih berusaha menenangkan perasaannya.
"Kau terpikat kumisku ya?"
Riza memerah. "Bukan,sir! Aku tidak begitu!"
"Kalau begitu, kau jijik?" Mustang mengeluarkan wajah memelasnya.
"Bukan juga! Aku tidak pernah mencemoohnya, bukan?"
Mustang menyeringai. Ia mencondongkan wajahnya dan mendekati wajah Riza, sambil kembali mengelus kumis itu. "Mau coba pegang?"
"Apa!"
"Ha ha ha. Maaf, maaf. Bercanda, Hawkeye," tawanya. "Woops, awas Tokarevnya: tidak teracung, tolong."
Riza berpikir apakah superiornya ini bisa mengerti keadaannya, paling tidak sedikit saja? Ia bingung harus bagaimana, sementara orang itu malah bercanda. Ia ingin marah, tapi rasanya kekanakan. Hari ini sudah cukup melelahkan dengan kesialan yang ini dan itu karena sepotong kumis, sudah cukup.
"Sebaiknya kita cepat pulang, sir. Sudah gelap."
"Ah, jangan merajuk seperti itu Hawkeye. Tidak seperti kau saja."
"Aku tidak, sir. Ayo." dan ia benar-benar berusaha beranjak dari tempat maupun pikirannya.
"Hei, hei…" Mustang mencegahnya. Riza menatap kasar Mustang yang menarik mergelangannya itu. "Bercanda, Hawkeye. Ada apa, sih?"
"Aku benar-benar aneh melihat kumismu, itu saja."
