Disclaimer: Merlin (BBC Tv Series) belongs to Johnny Capps and Julian Murphy.
.
.
.
Warnings: BL, mention of torture (mild), light to mild lime in later chapters.
.
.
CHAPTER 2
.
.
.
"Jangan sentuh aku."
"Ta-tapi Arthur, kau terluka."
Jaket kulit hitam menyapu udara tatkala Arthur merotasikan tubuh sebelum melangkah menjauhi Merlin. Aliran darah yang membasahi lengan tidak ia hiraukan. Jantungnya berdegup kencang. Napas bergemuruh murka. Pemilik helaian secerah mentari itu masih belum sanggup memercayai apa yang ia saksikan.
Merlin baru saja memakai sihir di hadapan matanya. Pelayan bodohnya itu baru saja mengeluarkan sihir. Sahabat yang sangat ia percayai baru saja menaklukkan lima prajurit musuh—menggunakan sihir.
"Arthur, ijinkan aku mengurus lukamu," pinta Merlin sambil mengamit tangan Arthur.
Tetapi dengan kasar Arthur menepisnya.
"Kumohon, Arthur. Jika sayatan itu tidak ditutup, kau bisa kehabisan darah."
Tanpa diduga, Arthur menghunuskan pedang. Langkah kaki Merlin terhenti ketika ujung senjata itu Arthur lekatkan di depan dadanya.
Iris biru gelap berkilat penuh amarah. Tangan kokoh bergetar hebat hampir tak terkendali. Emosi meluap tersalur lewat bibir Arthur yang gemetar.
"Jangan sentuh aku, penyihir!"
Ketukan keras bergaung di sepanjang koridor berdinding hitam suram yang terletak di sisi utara istana Hengist. Hampir tiap sudutnya dipenuhi sarang laba-laba tak berpenghuni. Obor-obor yang terpancang pada dinding batu melenggok malas, seolah tak berniat memancarkan panas namun juga tak ingin padam.
"Masuk."
Pintu dibuka. Seorang wanita dengan rambut hitam tergerai membungkuk hormat. Di tangannya, nampan berisi daging panggang lengkap dengan sayuran segar dan segelas anggur. Sementara di belakang wanita itu, Merlin berdiri tertunduk.
"Yang Mulia, saya membawakan makan malam untuk anda. Kami juga sudah membersihkan budak ini sesuai perintah anda."
"Letakkan saja makanannya di meja dan suruh laki-laki itu masuk," jawab pemuda berusia dua puluh tujuh tahun tanpa menoleh.
Bahu bersandar di sisi jendela kayu yang terbuka lebar. Pesisir rambut emasnya yang bermain bersama angin malam nampak bersinar tertimpa pendar sang rembulan. Pakaian zirah tak lagi membebani. Hanya tunik merah yang kini merangkul tubuh atletisnya.
Kamar berdinding putih gading tempat Arthur menginap malam itu nampak berbanding kontras dengan keadaan lorong di luar. Tempat tidur besar yang terbuat dari kayu berkualitas terletak di sudut kanan ruangan. Satu helai kain tipis berwarna putih gading membalut kasur. Sementara satu helai kain tebal biru terlipat rapih di bawah dua bantal berisi bulu angsa.
Meja bundar dengan tiga kursi yang bernuansa Yunani kuno mengisi bagian tengah ruangan berukuran cukup besar itu. Penahan tempat lilin berbentuk setengah lingkaran tersebar di seluruh penjuru. Hanya sebagian lilin yang menyala. Kamar tidur nampak temaram, namun di sisi lain terlihat romantis.
Lingkar mata senada lautan Pasifik Arthur tidak beralih dari gudang bertingkat dua, tempat penyimpanan budak. Suara merintih, erangan kenikmatan, tangis serta jerit kesakitan sayup-sayup tertangkap indera pendengarannya. Bercampur menjadi satu hingga menyerupai melodi bernada janggal.
"Kau dengar perkataan pangeran itu, bukan? Ayo lekas masuk," perintah pelayan wanita itu setelah meletakkan nampan.
Pemilik rambut coklat kehitaman bergegas memasuki kamar yang tergolong mewah itu. Usai sang wanita berjalan pergi, pintu ditutup. Sepasang kaki jenjang dalam balutan celana coklat muda, berjalan melintasi ruangan berlantai kayu dan berhenti dua langkah di belakang Arthur. Belum berani mengangkat kepala.
"Maafkan aku, Arthur. Tapi percayalah, aku tak mempunyai niat jahat. Sihirku hanya kugunakan untuk melindungimu," tegas Merlin. Kedua tangan terangkat sejajar kepala.
Ada penyesalan tersirat di bola mata Merlin. Namun, pandangan Arthur telah tertutup.
"Bagaimana kau bisa memintaku untuk dapat memercayaimu setelah kau berbohong padaku? Kau telah menipuku! Beri aku satu alasan untuk tidak menghujamkan pedang ini ke dadamu!"
"Aku mencintaimu, Arthur."
Alih-alih mereda, tiga kata sederhana itu justru membuat Arthur semakin meradang. Merah menyelimuti setiap jengkal wajah serta telinganya.
"Berani sekali kau gunakan alasan itu. Kau mengharapkan aku percaya kalau kau benar-benar mencintaiku setelah kebohonganmu ini? Bagaimana aku bisa tahu kalau saat ini kau tidak sedang berbohong, hah?!"
"Aku akui kesalahanku. Seharusnya aku tak menyembunyikan kemampuanku. Tapi aku tidak mungkin bisa berbohong tentang cintaku kepadamu."
Arthur melumat tempurung di balik helaian keemasannya. Meski ada sebuah dorongan lemah di hatinya untuk memercayai perkataan Merlin, perasaan terkhianati terlalu kuat. Menciptakan kegelapan statis bagi nuraninya.
"Aku menyesal telah memberikan hati dan seluruh kepercayaanku padamu, Merlin!"
Mata Merlin melebar mendengar kalimat Arthur. Tidak mampu percaya kalau Arthur sungguh-sungguh mengucapkannya.
Arthur berputar di atas tumit. Tatapan tertumbuk pada tubuh kurus yang mengenakan tunik berwarna biru pudar. Serat-seratnya begitu tipis menerawang, hingga memar serta luka yang menghiasi kulit putih di balik pakaian itu mampu tertangkap oleh bola mata jernih Arthur.
Walaupun penampilannya masih tampak lusuh, badan Merlin kini terlihat jauh lebih bersih dibandingkan saat pertama kali Arthur melihatnya di area makan beberapa jam lalu.
Pantauan Arthur turun sampai ke pergelangan tangan Merlin. Luka berupa sayatan-sayatan kecil sisa cengkeraman borgol besi berkarat, masih kelihatan jelas di situ. Biru bercampur merah kecoklatan.
Arthur membuang pandangan sejenak. Mata terpejam. Berusaha meredam sayatan pisau tak kasat mata yang kembali menggoresi permukaan hatinya. Berupaya menolak membayangkan apa yang telah Merlin alami selama ia menjadi budak di istana Hengist ini.
"Tinggalkan Camelot dan jangan pernah kembali."
"Arthur..."
"Aku tak ingin melihatmu mati di tiang gantungan. Tapi aku juga tak sudi memandangmu lagi. Kau punya waktu sampai besok pagi untuk berkemas dan mengucapkan selamat tinggal pada teman-temanmu." Adalah perintah terakhir yang terlontar dari mulut Arthur.
Di bawah awan kelabu yang mulai mencurahkan air hujan, Arthur berjalan lurus tanpa pernah menoleh lagi.
Ia semburkan sesak melalui hidung sebelum menutup jendela rapat-rapat. Keheningan tak bercelah serta merta tersebar di dalam kamar itu.
Sang pangeran mengambil satu langkah ke depan. Tangan terjulur, menyentuh helaian rambut di kening Merlin.
Mengira Arthur akan memukulnya, Merlin spontan tersentak. Punggung melengkung ketakutan hingga kedua pundak nyaris menyentuh pipi tirusnya. Perlakuan tidak manusiawi yang dilakukan Hengist padanya hampir setiap hari, meninggalkan trauma yang begitu mendalam di jiwa Merlin.
"Tenanglah, Merlin. Aku tak akan menyakitimu. Percayalah padaku," ucap Arthur. Kedua tangan buru-buru ia tarik mundur dan ia angkat sejajar dengan kepala untuk meyakinkan Merlin.
Merlin kumpulkan keberanian untuk menyambut keindahan manik biru milik Arthur. Sepasang mata itu begitu berbeda dengan mata manusia lain yang menghuni istana Hengist. Tak ada amarah, tak ada napsu, tak ada kebencian. Binar cerahnya seolah merasuk masuk rongga dada Merlin dan perlahan-lahan menggerus kerak dinding ketakutan Merlin yang sangat tebal.
Napas Merlin terhela usai menemukan sebuah kejujuran di dalam sana. Sebuah perasaan tentram yang tak dapat dijabarkan merebak di hatinya.
"Ah, kau pasti lapar."
Kendati Arthur sudah tak sabar memuaskan keingintahuannya, ia putuskan menahan geliat lidah dalam mulutnya untuk sementara. Arthur ingin Merlin merasa tenang dan nyaman berada di dekatnya agar ia bisa mendapatkan kepercayaan Merlin kembali.
Arthur mengamit jemari Merlin dan setengah memaksa menggiringnya duduk di kursi makan. Walau ingin menolak, Merlin tak mampu. Tarikan tangan Arthur terlampau kuat baginya.
Sedikit ragu, Merlin merendahkan tubuh. Duduk di atas kursi mewah yang empuk. Sejak menginjakkan kaki di tempat itu, ia tak pernah diperkenankan duduk di kursi ataupun tidur di atas kasur. Lantai batu adalah temannya beristirahat dan lantai beralas jerami busuk adalah tempat Merlin melabuhkan kepala saat memejamkan mata di malam hari.
"Ayo makan. Habiskan makanan itu jika kau mau."
Iris aquamarine Merlin bergerak tersendat. Telunjuk hanya mengusap permukaan dingin gagang garpu.
"Kau... tidak ingat cara menggunakan peralatan makan itu?"
Pertanyaan Arthur langsung disambut sebuah gelengan.
Arthur hembuskan napas panjang yang sarat oleh rasa bersalah sebelum beranjak ke belakang pria berambut gelap. Setengah membungkuk, Arthur meletakkan garpu di tangan kiri Merlin dan pisau di kanan. Pelan-pelan dibimbingnya kedua tangan dingin Merlin untuk memotong daging.
Merlin tak dapat mencegah panas merambati seluruh wajahnya saat pipi mereka bersentuhan. Tunik merah Arthur yang terbuka di bagian tengah, mengijinkan kulit dadanya menjamahi punggung Merlin.
Perlahan-lahan ia pun mulai melahap hidangan mewah itu.
Lelaki dua puluh lima tahun itu tak ingat kapan terakhir kali ia diperlakukan sehalus itu. Jantung berdentum lebih kencang dari biasanya, namun bukan karena rasa takut. Melainkan terpesona oleh kelembutan sikap Arthur. Selama terisolasi di istana kumuh itu, ia hanya mendapatkan perlakuan kasar. Pukulan yang menyisakan memar, tendangan di perut dan punggung yang memaksa tenggorokannya menyemburkan darah, bahkan cambukan yang merobek kulit selalu mengisi hari-harinya.
Lalu hidung Merlin mencium wangi yang familier. Tubuh Arthur adalah sumbernya. Semerbak kayu-kayuan. Tajam dan kuat, tetapi sangat menghanyutkan.
"Bagaimana rasanya? Kau menyukainya?" tanya Arthur setelah Merlin menghabiskan beberapa suap daging panggang.
Kali ini Merlin mengangguk.
"Kau tidak perlu takut untuk berbicara, Merlin. Kau bukan lagi budak milik Hengist," ucap Arthur berkacak pinggang. Mulai lelah dengan percakapan satu arah itu.
Merlin terkesiap. Terlalu sering diperintahkan mengunci mulut oleh Hengist, ia seakan telah melupakan kewajiban dasar seorang manusia terhadap sesama manusia. Yaitu memberikan jawaban verbal ketika ditanya.
Kedua sudut bibir Merlin terangkat. Senyuman pemuda itu tampil menuai rasa haru bak lautan mengamuk liar di balik ekspresi datar Arthur.
"Y-ya, saya menyukainya. Rasanya lezat. Terimakasih, Tuan." Akhirnya Merlin berani berucap, kendati suaranya amat parau. Jarang berbicara dan kurangnya asupan gizi di tubuh, membuat pita suara seolah sulit bergetar.
"Bagus. Sekarang kita tinggal menunggu. Jika kau mati, itu artinya Hengist sudah menaburkan racun pada makananku. Jika tidak, maka aku bisa menghabiskan daging panggang itu."
Senyum Merlin mendadak pudar mendengar perkataan Arthur.
"Hei, aku hanya bercanda. Jangan anggap serius kata-kataku tadi. Dulu biasanya kau akan membalas dengan—"
Rangkaian vokal dan konsonan berhenti keluar dari sela bibir Arthur, ketika ia sadar kalau Merlin sedang menatap dengan raut keheranan. Pangeran Camelot itu tak tahu harus merasa geli melihat ekspresi bodoh Merlin atau justru bertambah gelisah. Karena pada kenyataannya, Merlin tampak sungguh-sungguh tidak mengenalinya.
"Ah, lupakan," ucap Arthur memalingkan muka.
Kesunyian lagi-lagi bertandang tanpa ijin. Suasana yang sempat menghangat, kembali dibekukan oleh rasa canggung.
Kuasa sinar sang penguasa langit malam perlahan-lahan redup, tertutup kelambu awan hitam pekat dari utara. Membiarkan lilin-lilin di dalam ruangan untuk tetap berjuang menyemangati hati Arthur.
Sepi kian menekan gendang telinga. Pemilik helaian keemasan semakin merasa tidak nyaman. Maka ia berinisiatif untuk angkat suara. "Bagaimana kau bisa sampai terdampar di istana busuk ini?"
Yang ditanya hanya menggelengkan kepala.
"Kemana sebenarnya kau pergi setelah meninggalkan Camelot?"
"Ca-Camelot?"
"Apakah kau tinggal di Ealdor bersama ibumu?"
"Saya... mempunyai seorang ibu?"
Intensitas detak jantung Arthur meningkat tajam. Seberapa parah sebenarnya amnesia yang Merlin alami sehingga ia tidak bisa mengingat ibu yang telah melahirkan dan mengurusnya sampai dewasa?
"Berhentilah menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan, Merlin!"
Meskipun nyali menciut oleh perubahan sikap Arthur, keingintahuan mendorong keberanian Merlin untuk tetap bertanya. "Ke-kenapa anda bertanya seolah a-anda mengenal saya?"
"Karena aku memang mengenalmu, Merlin! Kau adalah pelayanku dan kau adalah—"
Kekasihmu? Cih, kau benar-benar brengsek, Arthur Pendragon. Setelah semua kata-kata pedas yang pernah kau ucapkan dan setelah kau mengusirnya dari Camelot, apakah kau masih pantas menganggapnya sebagai kekasihmu? Pantaskah kau berharap ia masih mencintaimu?! batin Arthur berteriak mencaci dirinya sendiri.
"—sahabatku."
"Sahabat?" Merlin terperanjat menerima jawaban tak terduga.
Merlin merasa tidak pernah bertemu dengan pria di depannya itu sebelum ini. Namun, jika itu kenyataannya, lalu mengapa ia bisa menyatakan diri sebagai sahabatnya?
Mata menyipit sementara ia mencoba membongkar pikiran. Berharap mungkin di suatu sudut dalam ruang ingatannya, ia dapat menemukan sebuah petunjuk. Namun, nihil. Semua tampak gelap.
"Anda berulangkali memanggil saya dengan nama Merlin. Apakah... itu nama saya yang sebenarnya?"
"Kau bahkan tidak dapat mengingat namamu?"
Kepala Merlin berayun. "Hengist dan yang lainnya tak pernah menyebut nama saya. Mereka hanya memanggil saya dengan sebutan budak."
"Bagaimana dengan sihirmu?" Pertanyaan itu tersembur begitu saja tanpa bisa Arthur cegah.
Namun, Merlin tak perlu repot mengeluarkan suara. Dari sepasang alis tebalnya yang terangkat tinggi-tinggi serta tirai mata yang mengerjap kebingungan, Arthur mendapatkan jawaban atas pertanyaannya barusan.
Apa sebenarnya yang terjadi pada Merlin hingga semua ingatannya seolah terhapus begitu saja? Bahkan sihir yang mengalir deras di setiap nadinya.
Persendian Arthur sekonyong-konyong lemas. Daftar pertanyaan lain yang telah Arthur susun rapih, buyar terhisap penyesalan teramat dalam. Pikiran buntu. Lidah kelu, tak lagi dapat bergerak. Buru-buru ia tarik kursi dan duduk dengan sikut menopang pada paha. Jari-jari meremas rambut cemerlangnya.
Jika setahun lalu Arthur tak bersikeras berburu binatang di dekat perbatasan Essentir, tentunya mereka tidak akan diserang oleh pasukan Cenred hingga Merlin terpaksa membongkar rahasianya.
Jika saja waktu itu Arthur tidak membiarkan amarah mengambil alih logikanya dan mengusir Merlin dari Camelot, orang yang ia sayangi itu tentu tak akan mengalami amnesia. Andai saja dulu Arthur bersedia memahami Merlin, orang yang ia cintai itu tidak perlu menderita seperti ini.
Temperatur di wajah Arthur meningkat, bersamaan buliran bening yang berkumpul di pelupuk.
"Tuan, apakah anda baik-baik saja?"
Senyap.
"Tuan?" panggil Merlin sekali lagi.
"Aku tidak apa-apa dan berhentilah menggunakan bahasa formal. Kau membuatku mual," jawab Arthur setelah berhasil menyeka cairan di sudut mata dengan berpura-pura memijat pangkal hidung.
Sungguh aneh rasanya mendengar kata 'tuan' dan 'anda' keluar dari mulut Merlin, mengingat lelaki itu dulu hampir tak pernah bertutur kata sopan ataupun menggunakan kata-kata formal padanya.
"Lalu... sebaiknya saya—ah maksud saya, aku memanggil anda—maksudku, memanggilmu dengan sebutan apa?"
"Panggil saja aku Arthur."
"Arthur?"
Sekelebat ingatan kali ini muncul begitu saja tanpa diminta, bak jarum mungil melubangi pekatnya tirai penghalang.
"Arthur..." ulang pemilik tulang pipi tinggi itu.
Kelopak mata Merlin refleks terkatup. Mulutnya menggumamkan nama Arthur beberapa kali selagi pikiran merangkai serpihan memori. Tetapi, segera tersentak saat tangan Arthur berlabuh di tengkuknya, dan secepat itu menyatukan bibir mereka.
Tubuh Merlin membeku. Seluruh otot terasa kaku. Napas tertahan dalam-dalam. Otak Merlin memerintahkan syaraf untuk menarik kepala, akan tetapi hati tidak mengijinkan. Terlebih ketika Merlin mendadak merasakan dua butir intan lolos dari mata Arthur yang terpejam, jatuh meninggalkan jejak basah di kulit wajahnya.
Merlin tak mengerti apa yang tengah bergumul dalam benak Arthur. Ia tidak paham mengapa Arthur meneteskan airmata. Tapi ia dapat rasakan kerinduan terangkum di bibir hangat itu.
Ciuman itu mendadak terhenti. Kepala ditarik mundur. Kegugupan nampak di air muka Arthur, seolah ia baru saja melakukan sesuatu yang lancang.
"M-maaf. Aku... tidak bermaksud... ah, maaf."
Untuk pertama kalinya malam itu, sang pangeran kehilangan kata-kata. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, ia mengucapkan kata 'maaf' dua kali berturut-turut.
Kursi berdecit nyaring saat didorong. Arthur tergesa-gesa beranjak berdiri membelakangi Merlin yang masih terpaku. Gelas disambar dan isinya pun berpindah ke perut pemuda berbadan kekar itu dalam waktu sekejap.
Arthur merasa bodoh. Sangat bodoh. Ia mengira telah berhasil menghapus cintanya pada Merlin. Menyangka telah berhasil mengubur segala kenangan.
Arthur salah besar. Perasaan itu tetap ada.
Menemukan Merlin seolah seperti mencelupkan ujung batang bulu ke dalam tinta harapan, dan menorehkannya kembali di atas lembaran kisah yang pernah terputus.
Kehadiran Merlin di hadapannya seakan menyiram bara abadi dengan minyak kebahagiaan. Kobarannya meledak, menghancurkan penjara penyangkalan yang selama satu tahun mengukung, sehingga laki-laki perkasa itu hilang kendali.
Arthur mengatur napas sejenak guna menetralisir irama detak jantung yang sempat teracuni oleh emosi. Ia pungut dan ia satukan lagi kepingan topeng wibawanya yang untuk sesaat tadi runtuh berserakan.
"Sebaiknya kau beristirahat. Kau butuh tenaga banyak supaya bisa melakukan perjalanan panjang ke Camelot besok pagi," ucap Arthur sambil melangkah menuju tempat tidur.
Merlin hanya mematung. Belum bisa berbicara, pun bergerak. Pikiran masih berputar sekencang gasing. Mempertanyakan hubungan seperti apa yang sebenarnya ada di antara mereka di masa lalu. Jika Arthur memang adalah sahabatnya, lalu apa arti kecupan yang baru saja ia berikan? Mungkinkah itu merupakan sebuah tradisi yang biasa dilakukan di Camelot? Atau mungkinkah...
"Hei, Merlin. Sampai kapan kau berniat berdiam diri di situ?"
Teguran itu membuyarkan lamunan pemuda bertunik biru. Kepala tertoleh. Iris biru mudanya beralih pada Arthur yang telah duduk di sisi kanan tempat tidur.
Sebuah anggukan Merlin berikan sebelum ia mengayunkan kaki mendekati Arthur.
Namun, pewaris tahta kerajaan Camelot segera terperanjat. Alih-alih berbaring di atas ranjang, Merlin malah merebahkan diri di permukaan lantai kayu yang kasar serta dingin tanpa menggunakan alas.
"Oi, apa yang kau lakukan?" tanya Arthur keheranan.
"Beristirahat. Seperti yang kau perintahkan."
Sang pangeran memutar bola matanya dengan dramatis. "Sudah kukatakan, kau tidak perlu lagi bersikap seperti budak dan kau itu bukan seekor binatang. Kasur ini cukup besar untuk kita berdua. Tidurlah di sisi sebelah sana."
"T-tidak apa-apa, aku tidur di lantai saja," tolak Merlin.
"Jangan membantah."
"Tapi—"
"Kau pikir aku tidak berani menyeretmu ke atas sini?" potong Arthur. Badan condong ke depan dan ia luncurkan tatapan menggertak yang menggoyahkan keputusan Merlin.
Walaupun ekspresi geram bergelayut di wajah Arthur, sesungguhnya hati lelaki itu tersenyum. Ia rindu berdebat. Sejak kepergian sang penyihir dari Camelot, tak ada lagi manusia yang memiliki nyali besar untuk beradu mulut dengannya.
"Ba-baiklah." Pada akhirnya Merlin menyerah. Meskipun benak masih terselimuti keraguan, ia beranjak menaiki ranjang demi menuruti permintaan Arthur.
Ia biarkan kenyamanan tempat tidur mewah itu merengkuh tubuhnya dengan mesra, dan mengijinkan kelembutan bantal mengecupi kulit wajah serta rambut tebalnya.
Dua punggung yang terpisah oleh jarak sepuluh sentimeter saling menatap dalam keheningan malam yang kian larut.
"Arthur...," panggil Merlin nyaris berbisik.
"Hmm?"
"Terimakasih."
"Untuk apa?"
"Karena kau telah menyelamatkanku dari kematian dan membebaskan aku dari Hengist."
"Jangan terlalu gembira dulu. Aku bisa bertindak lebih keji daripada Hengist dan bisa membuat hidupmu lebih menderita," balas Arthur sambil mendengus.
Kali ini, alih-alih merasa terancam, Merlin justru terkekeh tertahan. Kendati samar, ia merasa pernah mendengar ancaman semacam itu keluar dari mulut Arthur sebelumnya.
"Shut up, Merlin. Ayo lekas tidur."
Patuh pada perintah, Merlin pun memejamkan mata. Ia tidak sabar untuk segera meninggalkan istana Hengist. Ingin secepatnya pergi ke Camelot dan berharap dapat menemukan kembali ingatannya—
—tanpa mengetahui apa yang telah takdir siapkan baginya.
.
To be continued...
.
XxXxXxXxXxX
A/N: Terimakasih banyak untuk yang sudah follow dan faves. Terutama untuk readers yang berkenan me-review fanfic ini *hugs erat-erat sampai sesak napas*
