"Kami nggak ngilang Ichi-nii! Hanya tersesat! Kami masih bisa pulang sendiri kok!"
"Ichi-nii kalau diajak main-main ke hutan nggak mau sih, padahal indah loh~"
"Kalau nggak percaya, tanya aja sama Honebami Nii-san!"
Toudan yang ditunjuk pun hanya menghela napas lalu menganggukkan kepala.
Dari kejauhan, Horikawa bisa melihat keluarga awataguchi sedang berkumpul dengan Ichigo Hitofuri yang berwajah marah. Horikawa memang pernah melihat Ichigo marah, kalau dihadapan musuh, tetapi kalau sama keluarganya dan semua kawan-kawannya di citadel, dia jarang menunjukkan wajah marahnya.
Horikawa tahu pasti kenapa kakak penyabar se citadel bisa memasang ekspresi seperti itu, setiap hari toudan R4 itu selalu dibuat kebingungan dengan ulah adik-adiknya yang sering hilang, menjalani misi pun pasti sambil kalut, bingung dengan keadaan adik-adiknya. Adik-adiknya yang lebih besar seperti Yagen, Namazuo, dan Honebami saja ikutan ngilang saat ia menyuruh mereka untuk menjaga adik-adiknya yang lain. Nakigitsune sendiri tidak bisa mencegah ngilang kilat saudara satu penempanya itu. Terlalu cepat secepat pergerakan tantou dan wakizashi di map malam.
Kunihiro tertua itu menghela napas lalu memandang langit cerah yang terasa mendung di penglihatannya, baru satu hari Kane-sannya pergi untuk mengikuti lomba di kota sebelah, ia sudah merasa sangat rindu, rasanya berbeda ketika Kane-sannya pergi untuk misi atau ekspedisi.
"Jangan ngabisin uang cuma buat beli kuteks!"
"Apaan sih? Terserah aku dong! Inget ya, setengah koban citadel ini hasil solo konserku kemarin! Sudah baik aku kasih semua jerih payahku kepada kalian semua, tahu diri dong!"
Perempatan muncul di dahi sang asisten 'kesayangan' saniwa ini saat dengan santainya Kashuu merebut dompet bergambar katak dari tangannya dan mengambil beberapa uang untuk ia belikan kuteks terbaru yang limited edition.
Horikawa mengalihkan pandangannya, memandang kedua orang yang sedang ribut sendiri karena uang, manik biru kehijauannya memandang Kashuu yang tersenyum bahagia sembari berjalan menjauhi Hasebe yang sibuk mengomelinya.
"Midare! Mau ikutan nggak? Aku mau beli kuteks baru!"
Midare yang merasa bosan mendengar ceramah penuh cinta dari sang kakak tertua pun menoleh saat mendengar namanya di panggil, melihat Kashuu yang sedang mengajaknya untuk beli-beli alat kecantikan membuat semangatnya kembali membara.
"Ichi-nii! Aku pergi dulu yaa!" ujarnya ceria lalu berlari menghampiri Kashuu dan mereka berdua pun pergi untuk menghambur-hamburkan uang yang sudah Kashuu rampas dari dompet sang asisten aruji.
Suasana pun kembali tenang. Horikawa kembali duduk melamun setelah melihat kepergian Kashuu dan Midare yang tengah berceloteh hal-hal yang tidak ia mengerti sembari berjalan keluar dari citadel.
Benar juga…
…Sudah hampir satu tahun Yamatonokami Yasusada tidak segera kembali ke citadel ini. Perjalanan untuk pelatihan, perjalanan untuk menjadi lebih kuat, perjalan untuk mencari jati diri, dan perjalanan untuk menebus dosa. Kayak karakter anime berambut emo yang sering aruji tonton jika sedang mager.
Kashuu pastinya merindukan sosok sahabatn yang nggak pulang-pulang itu lebih dari yang ia rasakan saat ini, tetapi Toudan bermata merah terang itu menutupi semuanya dengan berbaur dengan toudan-toudan yang lain.
'Mungkin aku harus melakukan itu juga…' batin Horikawa dalam hati, ia memang bisa dekat dengan siapapun di citadel ini walaupun ia lebih sering bersama Kane-san dan juga Kyoudainya.
Yamabushi selalu sibuk dengan latihannya, waktu luangnya pun hanya saat malam hari saja. Yamanbagiri sedang ada tugas mencuci bersama Shishio karena toudan yang paling senang mencuci itu sedang tidak ada, jadi ia memutuskan untuk berkumpul bersama toudan-toudan lainnya walaupun harus membicarakan hal gaje sekalipun.
Ia menganggukkan kepalanya semangat dan berniat untuk bangkit dari duduknya sebelum….
"Dorrr!"
Kalau saja ia memiliki permasalahan di jantungnya, sudah dipastikan Horikawa sekarat saat ini juga.
.
.
.
.
Disclaimer : Touken Ranbu_DMM & Nitro+
Genre : Friendship and Family
Rating : T
Warning : Nggak ada yaoi, semua hanya fans service aja XD, typo (s), sedikit OOC, pakai saniwa yang di katsugeki, gajeness.
Happy Reading!
.
.
.
.
"Hahahaha maaf-maaf hahahaha!" tak henti-hentinya Namazuo tertawa setelah mengejutkan Horikawa dari belakang.
Sedangkan Horikawa sendiri hanya meringis seraya memegang belakang kepalanya yang teratuk kayu penyangga citadel ini setelah Namazuo mengagetkannya tadi.
"Kepalamu tidak apa-apa?" tanya Honebami, ia yakin mendengar suara 'duakk!' saat kepala Horikawa terbentur tadi. Kalau sampai luka kan nanti aruji marah-marah karena resos harus berkurang karena hal sepele.
Horikawa menganggukkan kepalanya, "Tidak apa-apa kok tetapi tadi cukup mengejutkan, beberapa menit yang lalu aku melihat kalian berdua masih dimarahi oleh Ichigo-san di sana," dan tiba-tiba sudah ada dibelakangnya?
"Kamu melamun aja sih, kami sudah bubar sejak Midare pergi tahu," ujar Namazuo seraya mendudukkan dirinya disamping Horikawa, Honebami pun ikut mendudukkan dirinya disamping kembarannya.
"Ngelamunin Izuminokami ya?"
Horikawa menganggukkan kepalanya lagi, sudah bukan rahasia umum jika Horikawa dan Kane-san itu deketnya kebangetan, jadi kalau Horikawa galau ya pasti gara-gara Kane-san.
"Dari pada galau sendiri…" Namazuo pun mendekatkan wajahnya kepada Horikawa, "Bagaimana jika kau ikut kami saja?"
Suasana mendadak sunyi.
"Kyoudai…" Honebami pun bersuara dengan pelan, "Kau yakin akan melakukannya sekarang? Bagaimana kalau ketahuan Ichi-nii lagi?"
"Kan ada Horikawa~"
"Kenapa kalau ada aku?" Horikawa pun ikut bersuara pelan, kebawa suasana kedua bersaudara ini.
Namazuo memandang Horikawa lagi lalu menutup mulutnya sendiri dengan jari telunjuk, "Sssttt… Akan kuberitahu sebuah rahasia yang hanya para tantou, wakizashi, dan hotarumaru saja yang mengetahuinya…"
"Rahasia apa?"
Namazuo pun tersenyum misterius, "Rahasia kenapa kami sering hilang."
Ahh, soal adik-adik yang sering ngilang itu ya, gara-gara galau Horikawa sampai melupakan hal itu.
Kemarin kan dia ikut perkumpulan kakak-kakak – walaupun masih banyak yang nggak percaya kalau dia kakak tertua – untuk membahas hal ini. Mereka sepakat untuk memberi banyak perhatian kepada semua tantou, wakizashi, dan Hotarumaru yang sering hilang, Kakak A bisa melarang adiknya si kakak B jika dirasa terlalu mencurigakan, jika memaksa untuk pergi maka mereka harus menemani para 'ngilangers' itu dan mencari penyebabnya.
Horikawa memilih untuk langsung memakai cara yang kedua, lagi pula ia juga penasaran dengan hilangnya mereka yang ternyata benar-benar ada penyebabnya ini, "Memangnya apa?"
Namazuo celingak-celinguk melihat keadaan sekitar lalu kembali berbisik, "Nanti, jam 11 siang, temui aku di depan hutan belakang citadel, kamu tahu kan yang aku maksud?" Horikawa menganggukkan kepalanya.
"Akan aku jelaskan di sana sekalian beraksi, setelah ini aku harus membersihkan gudang dulu sama Honebami. Inget ya! Jangan katakan kepada siapapun tentang hal ini," ujar Namazuo lalu bangkit menuju ke gudang diikuti dengan Honebami, "Sampai bertemu nanti!"
Hah, sepertinya baik Namazuo dan Honebami tidak mengetahui jika dirinya adalah kakak tertua walaupun seorang Wakizashi sekalipun.
Sesuai perkataan Namazuo, Horikawa pun pergi tanpa berpamitan kepada siapapun, kedua saudaranya masih sama-sama sibuk jadi ia pun tidak bertemu dengan mereka.
Hutan dibelakang citadel, ia juga sering jalan-jalan ke sini bersama Kane-san, terus apa yang membuat mereka sering ngilang hingga tersesat? Anehnya lagi, kenapa mereka tidak kapok-kapok?
Sesampainya di depan hutan, ia melihat Namazuo dan Honebami sudah datang terlebih dahulu, di samping kembar itu terlihat Urashima yang sedang berbicara sendiri dengan kura-kuranya.
"Oii Horikawa!" seru Namazuo tidak terlalu keras seraya melambaikan tangannya.
Horikawa pun berlari menghampiri kawan sesama wakizashi itu. Ternyata dibelakang mereka terlihat Imanotsurugi, Sayo, dan juga Hakata yang sedang berbincang random untuk mengusir kebosanan.
"Mereka juga ikut?" tanya Horikawa sesampainya di tempat pertemuan.
"Iya dong! Aku bosan di citadel melulu~" jawab Hakata diikuti anggukan setuju dari dua tantou lainnya.
Waduh, kalau sampai ngilang lagi bakalan ada empat kakak yang menangis darah, apalagi mas 123 yang langsung dibawa ke dukun terdekat.
"Jangan lama-lama ya, kasihan kakak kalian kalau kalian sampai ngilang lagi," ujar Horikawa seraya mengikuti Namazuo yang mulai berjalan masuk terlebih dahulu ke dalam hutan.
"Begini Horikawa, kita bisa pulang tepat waktu atau tidak itu tergantung RNG-sama," ujar Namazuo dengan wajah yang serius, "Tetapi yang pasti kita bakalan pulang kok, kakak-kakak aja yang lebay, walaupun tubuh kita memang seperti bocah manusia tetapi tetap saja kita sudah lebih tua dari wujud manusia kita kan?"
Kenapa pulang harus tergantung sama RNG-sama? Dewa yang sudah sering membuat aruji mereka gila itu? Memang benar apa yang dikatakan Namazuo, tetapi kakak mereka semua benar-benar khawatir dengan keselamatan mereka yang sering ngilang tanpa sebab itu.
"Portalnya masih tetap di sana?" tanya Imanotsurugi yang kini berjalan seraya menggandeng Sayo, benar-benar lucu sekali.
"Iya, kemarin kata Atsushi masih ada kok!"
Hah? Portal?
"Portal apanya?" tanya Horikawa tidak mengerti.
"Nanti juga kamu tahu, aku yakin kau pasti bisa melihatnya…"
Perjalanan menuju 'portal' yang Imano katakan membutuhkan waktu hampir 15 menit, sebelum menuju ke tempat itu pun Horikawa telah disuguhi dengan pemandangan indah dalam hutan yang tidak pernah ia jelajahi sampai ke dalamnya ini.
"Aku tidak pernah tahu jika ada pemandangan seindah ini di dalam sini.." ujar Horikawa tertegun.
"Karena keindahannya, makanya tetua desa memberi larangan kepada anak-anak dan masyarakat untuk datang ke hutan ini dengan menyebarkan rumor mengerikan dan sialnya aruji mempercayai rumor itu begitu saja…" ujar Namazuo seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"…dan Nii-chan juga mempercayainya!" lanjut Urashima diikuti anggukan dari para wakizashi dan tantou lainnya.
"Dari mana kalian mengetahuinya?"
"Kashuu yang ngasih tahu, dia kan suka ngegosip sama ibuk-ibuk di pasar~" jawab Namazuo dengan santainya.
Ohh Kashuu…. Nggak kaget.
"Aku mau mengajaknya ke sini tetapi sayangnya dia tidak akan bisa melihat tempat yang lebih spektakuler dari pada ini!"
"Karena hanya tantou dan wakizashi yang bisa melihatnya!" lanjut Imanotsurugi penuh semangat, "Tapi aku nggak tahu kenapa Hotarumaru juga bisa melihatnya.."
"Mungkin karena dia berbadan kecil?" timpal Hakata.
"Mungkin saja, karena portalnya memang hanya bisa dimasuki oleh seukuran kita sih.."
Tiba-tiba saja, Sayo yang berada di depan mereka menghentikan langkahnya.
"Seharusnya portal itu ada di sini kan?"
"Eh benar juga…" Namazuo menganggukkan kepalanya lalu mencari keberadaan 'portal' misterius itu, "Ngilang lagi ya, ayo deh kita cari, pasti ada di sekitar sini! Ayo cari!" komando si lele dan semuanya pun langsung bergerak mencari keberadaan portal itu…
"Horikawa…"
…kecuali Horikawa. Memang dia nggak tahu apa-apa soal portal yang mereka maksud kan?
Honebami mendekati Horikawa, "Cari saja bulatan aneh yang bercahaya putih, jika menemukannya segera beri tahu kami," dan dia pun mulai melanjutkan pencariannya.
Dari pada berdiam diri tanpa melakukan apapun, Horikawa memutuskan untuk ikut mencari keberadaan 'bulatan aneh bercahaya putih' yang Honebami maksud. Ia tidak tahu dengan pasti bentuk portal yang biasa mereka gunakan untuk 'ngilang' tapi ia bisa mengira-ngira kalau…
"Hummm… Apa ini ya?"
…ini portal yang mereka maksud.
"Minna! Aku menemukannya!" seru Horikawa dan mereka berenam pun dengan cepat berlari menghampiri Horikawa.
"Ternyata tertutupi daun besar ini ya…" ujar Namazuo lalu mulai mendekati portal yang berukuran kecil ini, "Kalau begitu… Ayo kita masuk!"
"Okayy!"
"Yoshh!"
"Eh… eh..!" Horikawa panik sendiri saat Namazuo menghilang begitu saja saat tangannya menyentuh portal putih itu, diikuti Urashima, Hakata, Imanotsurugi, dan Sayo, "Ke-Kemana mereka?!"
"Ikut saja, nanti kau juga akan tahu," Honebami menjelaskan dengan datar seraya menjulurkan tangannya ke portal itu dan menghilang seketika.
Horikawa menelan ludahnya dengan susah payah, ia sudah sampai sini, rugi rasanya jika ia tidak melihat sesuatu yang membuat toudan macam Honebami dan Sayo sangat semangat saat melihat portal itu. Ia pun menghela napasnya lalu mulai menjulurkan tangannya, ia tidak merasakan apapun tetapi tiba-tiba saja suasana hutan yang rindang itu berubah menjadi padang rumput luas dengan bunyi air terjun yang halus.
Tanpa sadar, Horikawa dibuat terpukau dengan pemandangan yang ia lihat saat ini.
..
..
..
..
"Akhirnya selesai juga…" Shishio tersenyum puas saat setumpuk pakaian yang baru saja ia dan Yamanbagiri cuci telah mereka jemur dengan rapi, "Siapa yang bertugas melipat jemuran yang sudah kering ini?" tanyanya pada Yamanbagiri yang mengendikkan kedua bahunya.
"Entah, taruh saja di tempat biasa," ujarnya seraya membawa satu keranjang berisi jemuran yang sudah kering, Shishio pun membawa keranjang yang lain. Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju tempat melipat jemuran untuk diberikan kepada pemiliki jemuran ini.
Ditengah jalan, mereka bertemu dengan Ishikirimaru dan Nikkari Aoe yang memandang mereka sedikit terkejut.
"Ah, kalian berdua yang bertugas melipat hari ini?" tanya Shishio. Mereka pun menganggukkan kepala.
"Sebenarnya bukan kami yang melakukannya, tetapi Horikawa dan Urashima yang seharusnya melipat hari ini tidak ada. Aruji memberikan tugas ini mendadak karena itu mungkin saja mereka pergi entah kemana," ujar Ishikirimaru lalu memandang Yamanbagiri, "Apa Horikawa ikut dengan Izuminokami ke tempat lomba? Mungkin aruji melupakan itu."
Yamanbagiri pun menggelengkan kepalanya, "Tidak, dia tidak ikut. Kyoudai juga ada di sini saat aku pergi untuk mencuci baju,"
"Lalu sekarang dia dimana kalau begitu? Urashima juga tidak ada, Hachisuka merasa kecolongan lagi karena adiknya menghilang tanpa bilang kepadanya," ujar Nikkari.
Mereka berempat pun berfikir dalam diam. Samar-samar terdengar umpatan Hachisuka kepada Nagasone yang tidak becusnya pedang berperawakan om-om itu menjaga Urashima disaat ia pergi untuk misi.
"Kalian!" mereka berempat pun menolehkan kepalanya dan melihat Souza menghampiri mereka dengan terengah-engah, "Apakah kalian melihat Osayo?"
Mereka pun kompak menggelengkan kepala.
"Ishikirimaru-dono!" suara teriakan Iwatooshi membahana diseluruh citadel ini, "Imanotsurugi ngilang lagi!"
"Apa?" Ishikirimaru memandang Iwatooshi lalu menepuk dahinya sendiri, "Jadi aku juga kecolongan…"
"Huwaaa Ichi-nii semaput!"
"Ichi-nii! Mereka bertiga pasti pergi ke Yorozuya kok! Jangan potek!"
Citadel yang sunyi pun mendadak ramai dengan teriakan panik para toudan.
Ishikirimaru menghela napasnya lalu mengambil keranjang berisi jemuran dari tangan Yamanbagiri yang terdiam.
"Oi Yamanbagiri!" Shishio yang telah memberikan keranjangnya kepada Nikkari pun memandang bingung Manba, "Kok malah ngelamun sih?" tanyanya tidak peka seraya melambaikan tangannya di depan wajah Yamanbagiri.
"Kyoudai…"
"Ah benar juga!" Shishio menjentikkan tangannya, "Bukankah Horikawa itu wakizashi? Jadi dia ikut golongan toudan yang sering ngilang itu dong~"
Wajah Yamanbagiri semakin memucat, Nikkari yang mengetahuinya pun langsung saja menginjak kaki Shishio dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya.
"Ah sepertinya Shishio yang akan menggantikan Ishikirimaru-san melipat baju bersamaku, bukankah begitu?"
"Eh-hei!"
"Ah terima kasih sekali Shishio-san…" Ishikirimaru menyerahkan keranjang berisi pakaian kering kepada kepada Shishio, "Kalau begitu aku serahkan kepadamu yaa!" lalu Ishikirimaru bersama Iwatooshi segera melesat pergi.
"Yamanbagiri…" Souza yang melihat wajah tak terdefinisikan Yamanbagiri pun memanggilnya pelan, "Ayo ikut aku saja." Ujarnya lalu menarik tangan Yamanbagiri untuk pergi, meninggalkan Nikkari yang lega karena rencananya berhasil dan Shishio yang masih tidak mengerti dengan keadaan.
"Apaan sih? Kenapa harus aku juga yang melipat bajunya?!" tanyanya kesal.
"Jangan memperkeruh suasana…" Nikkari melangkahkan kakinya seraya menyeret Shishio untuk mengikuti dirinya, "Mereka sedang kebingungan mencari saudara mereka yang menghilang tanpa sebab itu."
"Yang sering hilang itu tantou dan wakizashi kan?"
Nikkari Aoe menganggukkan kepalanya, "Jangan lupakan Hotarumaru."
"Kalau begitu…" Shishio menghentikan langkahnya lalu memandang rekannya itu bingung, "Seharusnya kau tahu penyebab hilangnya mereka dong? Kau kan juga wakizashi."
Nikkari menghentikan langkahnya, melirik Shishio seraya tersenyum misterius, "Menurutmu begitu?"
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
MAAF UPDATENYA LAMA! SAYA MULAI MAGER NULIS! /plak!
Tapi aku usahakan bakalan update paling lama seminggu sekali kok, aku usahakannnn~
Jadi… Apa yang sebenarnya terjadi? Nantikan jawabannya di chapter depan yaa~
Read and Review okayyy?
