Captain Tsubasa Fanfiction

Disclaimer: Captain Tsubasa belongs to Yoichi Takahashi-sensei. I don't own the original story, nor the characters. I only own this amateur fanmade fiction, including the plot and other OC(s)/OOC-ness.

Fourteen-Teller presents….

-The Story of A Broken Heart-

Chapter 2: The Silent Captain

Itu adalah pagi yang cerah. Sekelompok anak laki-laki usia sepuluh-sebelas tahun tampak berlarian di lapangan. Dua-tiga hari yang lalu tanah itu menganggur. Padahal, biasanya dipakai untuk latihan rutin minimal 3 kali seminggu. Namun, ketika hujan turun, tak ada yang bisa mereka lakukan.

Kini, semua kembali seperti seharusnya. Seruan-seruan khas riuh terdengar dari tengah lapangan. Kaki mereka lincah berlari. Sementara, si benda bulat, tokoh utama di permainan itu bergulir kesana kemari, dilempar, atau bahkan acap kali bersarang di jaring gawang. Itu adalah salah satu SD elit dan tersohor di distrik Musashino. Klub mereka, yang sejak lama dibentuk dengan nama Musashi FC, selalu menjadi juara bertahan turnamen sepakbola se-Tokyo, runner-up di tingkat nasional. Katanya, para pemainnya diseleksi dari seribu-an anak yang mendaftar. Pantaslah jika klub ini selalu menjadi primadona.

"Kyaaaaaa, Misugi-saaaaan! Cakepnyaaaaa!"

"Jun-samaaaaa! Lihat kemari dooong! Kyaaaaa!"

Inilah buktinya. Setiap kali ada latihan, terlalu banyak 'Kyaaaaa!' yang akan terdengar. Dan suara-suara nyaring itu berasal dari segerombolan anak perempuan di pinggir lapangan. Kali ini mereka tak membawa spanduk ataupun toa. Biasanya tidak pernah ketinggalan ketika menonton tim ini berlaga. Namun, ada satu benda yang selalu bersama mereka, meskipun kerap kali dilarang dibawa. Kamera digital, yang siap membidik figur seorang anggota tim, dari atas sampai bawah, close-up maupun tidak, sebanyak yang mereka inginkan.

Jika saat ini mereka membidik ke tengah lapangan, maka mereka salah sasaran. Nyatanya, tak ada satupun dari mereka yang melakukannya. Fokus semua kamera itu kompak mengarah ke bangku panjang di seberang lapangan, tempat seorang anak laki-laki berambut cokelat berada.

"Aih, menyebalkan! Kenapa anak itu ikut kefoto juga sih!"

Sebenarnya, inilah yang terjadi akhir-akhir ini. Mereka tidak puas dengan hasil jepretan mereka sendiri. Karena, walau diambil dari sudut manapun, jika mereka ingin mendapat gambar yang bagus, mau tidak mau anak perempuan yang duduk persis di samping sang idola harus ikut tertangkap kamera.

"Uh, benar! Kenapa anak baru itu nempel-nempel Misugi-san sih!"

"Menyebalkan!"

Yayoi Aoba, gadis 11 tahun yang mungkin sangat beruntung. Hanya seminggu setelah menginjakkan kaki di sekolah baru, ia diberi kepercayaan menjadi manajer klub sepakbola. Semuanya bermula dari rekomendasi Haruka, teman pertamanya, yang kemudian diteruskan ke kapten tim. Yayoi, berbeda dari anak perempuan sebayanya, dia tahu lumayan banyak tentang sepakbola. Dan di hari ketika ia melawan hampir seratusan anak perempuan yang mendaftar seleksi, tim menyadari potensinya. Memang, pengetahuan sepakbola tak melulu menjadi soal disini. Ada alasan lain yang membuatnya diterima. Dia, satu-satunya yang bukan penggemar sang kapten. Dan Yayoi juga sebenarnya punya alasannya untuk bergabung.

Yayoi Aoba tidak pernah ingin mencari musuh. Namun, ia sadar betul, semenjak menjadi manajer tim, dia tidak disukai oleh banyak anak perempuan. Ini kadang sangat mengganggunya, tapi sebisa mungkin tidak ia pedulikan. Toh, dia masih punya banyak teman lainnya. Toh, kedekatannya dengan anggota tim, termasuk kapten, bukan karena apa-apa, melainkan hubungan biasa sesama teman.

Namun, saat ini ada yang mengganggu pikirannya. Tentang laki-laki di sampingnya, yang dari tadi cuma duduk dan melihat rekan-rekannya berlatih, meskipun seharusnya ia punya kapasitas lebih untuk memimpin mereka di tengah lapangan. Mata cokelat pemuda itu mengarah ke depan, seperti benar-benar memperhatikan jalannya latihan. Namun, bagi Yayoi, yang kerap melihatnya seperti itu, cukup yakin jika jarak pandang temannya ini sebenarnya tidak terukur.

"Hari ini pun tidak latihan, kapten?"

Ia memberanikan diri bertanya. Dan ketika mendapatkan reaksi kaget, ia membenarkan bahwa temannya ini melamun.

"Maaf. Apa?" Anak laki-laki itu berucap sembari menoleh.

Yayoi harus mendongak untuk menyesuaikan ketinggian mata temannya. "Tidak latihan lagi?"

Itu adalah pertanyaan yang sering laki-laki itu dengar, bukan cuma dari Yayoi. Dan respon yang ia berikan selalu sama. Ia tersenyum, sementara menolehkan kepala kembali ke titik tak terlihat yang tadi ia tinggalkan. Wajah tampannya tertimpa sinar matahari, memberi energi pada rona pucat kulitnya.

"Begitulah."

"Kenapa?"

Yayoi mungkin mencoba untuk bersikap peduli. Namun, kali ini ia tak mendengar jawaban. Hanya ada desahan panjang, seperti sebuah keluhan, namun menjadi tidak masuk akal ketika wajah sang pemilik itu tersenyum kembali. Anak itu mendongakkan kepala, menatap langit. Mungkin ia punya jawabannya disana.

"Kenapa ya…."

"Apa kau cidera?"

Gadis itu bertanya lagi. Sementara si lelaki, memasang mimik seperti sedang berpikir, sebelum akhirnya mendesah kembali.

"Mungkin…."

"Parah?"

"…. Tidak juga."

"Jadi, berapa lama lagi kau bisa bermain seperti waktu itu?"

Itu adalah sore hari di awal bulan Mei ketika Yayoi melihat permainan Jun Misugi untuk pertama kali. Hanya latihan rutin seperti biasa, namun anak itu memperlihatkan gaya bermain layaknya atlet profesional, sementara usianya masih sangat muda. Yayoi ingat cinta pertamanya, sesama pemain sepakbola. Dan ia berakhir dengan membandingkan keduanya. Jun Misugi jauh lebih baik. Itu kesimpulannya.

"Di turnamen nasional Agustus nanti, aku pasti akan main."

Laki-laki itu tersenyum lagi, percaya diri. Namun, ini tidak menjawab rasa ingin tahu Yayoi, kenapa ia jarang bergabung dengan yang lain. Yayoi hampir…. Hampir saja menarik kesimpulan bahwa anak itu hanya ingin tampil bagus di hadapan banyak orang, tanpa harus bersusah payah latihan.

"Sudah kubilang kan, dia tidak peduli dengan tim. Kau juga berpikir begitu kan, manajer?"

Saat ini, di ruang klub, mereka semua berkumpul. Lima belas menit sebelum pelajaran pertama dimulai, cukup waktu untuk mengistirahatkan tubuh lelah mereka setelah latihan. Hanya minus dua orang. Pertama, pelatih, yang sudah kembali lebih dulu. Kedua, sang kapten tim, yang entah sejak kapan tak nampak batang hidungnya lagi di lapangan.

"A-apanya?"

Yayoi masih harus disana untuk membantu membereskan perlengkapan. Dia sudah tidak lagi merasa canggung berada di tengah anak laki-laki. Dua bulan adalah waktu yang cukup untuk mengenal mereka. Lagipula, menurutnya, para anggota tim ini adalah teman yang supel dan menyenangkan. Namun, perasaan itu berubah menjadi ketidaknyamanan, ketika namanya mulai dibawa-bawa pada sebuah topik yang sudah bisa ia duga kemana arahnya.

"Masa kau tidak tahu? Setiap hari kau lihat sendiri, kan?"

"Eh?"

"Kapten. Dia itu tidak benar-benar suka sepakbola. Latihan saja malas-malasan. Coba saja kau hitung, berapa kali dia ikut bergabung!"

"Benar, benar! Enak sekali dia. Mentang-mentang paling hebat di antara kita. Tapi, itu bukan berarti dia bisa bolos latihan terus-terusan kan! Dipikirnya kita tidak capek, apa?"

"Pelatih juga, sepertinya memihak dia. Heran deh. Kenapa harus dia yang jadi kapten, sih!"

"Kapten apaan, yang cuma main lima belas menit di akhir! Dia itu cuma mau tenar doang! Lihat, berapa banyak penggemarnya!"

"Kyaaaa! Misugi-san….! Kyaaaa! Kyaaaaa!"

"Hahahaha. Cewek-cewek aneh!"

Yayoi berhenti dengan aktivitasnya. Kaget, biasanya mereka tidak seperti itu. Hanya karena kapten tim yang sepertinya acuh, wajarkah semua emosi-emosi itu? Tapi, kenapa mereka mengatakan semuanya di belakang? Padahal, dia pikir semuanya berteman baik.

"Manajer sih, sepertinya membela kapten juga. Iya kan?"

"A-apa?"

"Benar. Cewek memang seperti itu. Kalau sama yang cakep-"

"Apa maksud kalian?"

"Jangan-jangan kau juga suka kapten?"

"Hahaha. Benar. Pasti begitu, kan?"

Yayoi terbelalak. Sentimen pribadi seharusnya tidak begini. Bagaimana bisa topik pembicaraan yang tadinya 'aku tidak suka kapten' menjadi 'cewek-cewek menyukainya', kemudian 'Kau menyukainya, kan? Makanya kau pasti di pihaknya'. Seolah-olah yang ingin mereka katakan adalah 'Apa bagusnya orang seperti itu, sehingga disukai banyak orang.' Dan ini sudah kelewatan bagi gadis itu, meskipun dia sendiri merasa bukan di pihak kapten juga. Tapi, sudah cukup, karena ia dibawa-bawa.

"Aku duluan!"

Yayoi menutup pintu di belakangnya dengan keras, berjalan dengan langkah super cepat meninggalkan ruang klub. Dia khawatir, jika terus berada di dalam, dirinya yang cinta damai itu berubah membahayakan. Kemungkinannya ada dua. Mungkin dia akan menangis, tak tahan mendengar omongan-omongan mereka terhadapnya. Atau, bisa jadi dia akan balik menyerang, marah-marah seperti orang gila. Namun, sebagai anak baru, dia cukup tahu etika.

"Manajer?"

Langkahnya terhenti ketika berpapasan dengan seseorang. Gadis ini menoleh ke belakang. Seketika, ia mendapati sebuah senyuman yang sering ia lihat, tersungging dari bibir seorang anak lelaki.

"Ah, benar, manajer…. Jalanmu cepat sekali, sampai aku tidak menyadari. Buru-buru ya?"

Saking kesalnya, Yayoi sebenarnya juga tidak menyadari kedatangan orang lain ke arahnya. Namun, setelah melihat orang yang saat ini berdiri di depannya, kekesalan itu hilang. Anehnya, perasaan lain justru datang, dan dia tidak tahu apa. Cuma rasanya menyesakkan.

"Hehe, begitulah. Kapten mau kemana?"

"Ruang klub."

"Hmm…. Mau apa?"

"Tasku ketinggalan."

"Oh…."

"Dah ya!"

Yayoi mengangguk, tetap tersenyum. Sementara sang kapten mulai berjalan meninggalkannya, melambaikan tangan.

"Ah, tunggu!"

Tiba-tiba ia ingat sesuatu.

"Ada apa?"

"Biar aku yang ambilkan. Kapten tunggu disini saja!"

"Eh?"

Jun Misugi berdiri bengong. Kecepatan gadis itu berlari tampaknya melebihi transmisi impuls neuron otaknya. Dan sebelum ia ingat untuk menyusul, gadis itu sudah berlari kembali ke arahnya, membawa tasnya, dan ngos-ngosan.

"Ini, kapten!"

Mudah bagi Yayoi mengenali tas kaptennya, meskipun benda seperti itu dimiliki oleh semua siswa dengan disain dan warna yang sama. Dia selalu meletakkannya dengan rapi di pojokan bangku, berdekatan dengan lemari perlengkapan. Sementara anggota yang lain, memilih meja atau lantai untuk tas-tas mereka, dan jersey kotor mereka taruh begitu saja di atasnya.

"Terima kasih. Tapi, yang seperti ini bukan bagian tugas manajer, kau tahu?"

Anak laki-laki itu tersenyum. Keduanya mulai berjalan menuju gedung sekolah.

"Aku tahu. Hehe. Kebetulan aku juga mengambil barang yang ketinggalan."

"Oh…."

Yayoi berpaling, menggigit bibirnya. Hampir saja. Kalau saja ia tak bergerak, maka anak ini akan mendengar semuanya.

"Mereka masih di dalam?"

Anak laki-laki itu berucap, sementara matanya tertuju pada kerikil di bawah yang oleh kakinya, ia sepak berkali-kali.

Yayoi menoleh. "Eh? Ya."

"Ada masalah?"

Yayoi merasa seolah-olah sang kapten mampu membaca pikirannya. Kali ini ia bingung untuk menjawab.

"Sedikit…."

"Kenapa?"

"Ah. Tidak kok…. Hehehe."

"Tidak apa-apa. Katakan saja!"

Ia berhenti menendang kerikil. Kali ini ia menatap lawan bicaranya dengan senyuman, seolah-olah menawarkan kepercayaan terhadapnya. Dan Yayoi menerima sinyal itu. Hanya berharap jika semuanya tidak bertambah parah setelah ia membuka mulut.

"Kau tahu, mereka membicarakanmu."

Itu adalah ucapan langsung, yang bahkan oleh Jun Misugi yang terlanjur bilang 'tidak apa-apa' pun terkejut. Bukan, bukan terkejut karena mendengar kontennya. Namun, karena ucapan itu berasal dari mulut seseorang yang tidak ia duga. Cukup lama ia terdiam, baru kemudian menyunggingkan senyuman.

"Aku tahu."

"Eh? Kau tahu?"

Yayoi mangap. Volume suaranya dua tingkat lebih tinggi dari sebelumnya. Hampir berteriak. Anak laki-laki itu mengangguk kalem, sementara terus berjalan.

Langkah Yayoi sedikit tertinggal di belakang. Buru-buru ia menyesuaikan. "Sejak kapan?"

Jun Misugi menemukan batu kecil lagi. Ia tendang sekali, agak kencang ke depan. "Sudah lama."

Yayoi hampir berlari. Lelaki itu, entah bagaimana, tiba-tiba seperti mempercepat langkah kakinya. "Kau diam saja?"

"Ya."

"Tapi, mereka bicara hal buruk tentangmu!"

Menyadari jaraknya semakin jauh, gadis itu berseru. Baru ketika sang kapten berhenti tepat di depan pintu utama gedung sekolah, Yayoi berhasil melihat wajah anak itu kembali. Namun, yang ia dapatkan bukan lagi senyuman, melainkan raut muka dingin, seperti sangat terganggu.

"Biarkan saja. Tidak ada yang bisa kulakukan."

Jun Misugi melangkahkan kakinya masuk, kemudian menuju lokernya. Yayoi berjalan pelan mendekati lokernya sendiri, tanpa melepaskan tatapan bingung pada sang kapten.

"Kenapa tidak?"

Jun Misugi mengeluarkan sepatu bersihnya. Ia jatuhkan ke lantai begitu saja. "Karena mereka benar."

"Hah?"

Yayoi belum juga membuka lokernya. Kebingungan membuatnya terdiam cukup lama. Sampai Jun Misugi selesai memakai sepatu dan mulai berjalan melewatinya, gadis itu membuka mulut kembali, membuat sang kapten menoleh lagi ke arahnya.

"Aku tidak mengerti. Ini aneh sebenarnya. Kenapa kau tidak ikut latihan saja dan membuat mereka semua diam?"

Ini adalah pertanyaan wajar, yang bisa muncul dari mulut siapapun jika berada di posisi Yayoi. Dan Jun Misugi, seperti sudah sering berskenario dengan situasi ini, ia sudah punya jawaban antisipasinya. Namun, sayangnya, ia tahu benar, bahwa jawaban yang selalu ia berikan, bukanlah jawaban yang membuatnya tenang maupun puas. Ia tertunduk lesu.

"Aku tidak bisa."

"Eh?"

"Kalau aku bisa, aku akan bermain, bahkan lebih lama dari mereka."

Perlahan ia mengangkat kepala, menoleh sedikit ke gadis itu, kemudian mulai berjalan. Tidak lagi ada senyuman. Yayoi masih berdiri di depan lokernya, saat itu merasa tidak bisa berpikir apa-apa.

"Tunggu dulu, kapten!"

Jun Misugi belum berjalan jauh, dan dia masih bisa mendengar temannya berseru. Seketika, ia menghentikan langkahnya, menoleh lagi.

"Apa?"

"Kau…. Apa kau suka sepakbola?"

Itu adalah satu-satunya pertanyaan yang saat ini mampu otak Yayoi proses. Ya, hanya itu, sehingga rasanya semua anggota tubuhnya tak mampu ia gerakkan. Ia memandang lurus wajah putih sang kapten. Cemas, karena ia tidak bisa mendefinisikan ekspresi anak itu. Bisa jadi dia baru saja menyulut emosi orang yang seharusnya ia hormati di tim. Namun, untuk hal tak terduga selanjutnya, untuk kekagetannya, gadis itu menemukan bola mata cokelat anak itu berubah teduh.

"Tentu saja."

-End of chapter 2-

Author's note: Salah satu adegan di chapter ini diambil dari serial Captain Tsubasa J episode 22. Disana, ada sebuah adegan yang menggambarkan bahwa para anggota Musashi FC yang sedang berada di ruang klub, membicarakan Misugi di balik punggungnya. Jahat juga ya…. :(

Sekian dulu. Terima kasih telah membaca. Feel free to review. See you. :)