.

Problematic Boy (Jaemin x Renjun)

Chapter Two

BlueBerry's Fanfiction

Don't Like, Don't Read

warning : Seme!Jaemin, ooc, typos

.

Banyak orang yang mulai mengenal Renjun saat dia berada di Korea memiliki pemikiran kalau Renjun adalah anak manis yang memiliki kehidupan damai dan keluarga menyenangkan, cerita hidup yang lucu dan ringan sebagaimana cara dan nada bicara Renjun saat dia menanggapi ucapan orang lain (Jaemin kembali menjadi pengecualian, dalam hal ini). Kalau dipikirkan, relasi bisnis ayahnya dan teman sosialita Ibunya juga mengenal keluarga Renjun dengan cara yang sama, pasangan romantis dengan anak laki-laki yang manis. Perut Renjun sakit untuk menahan tawa, saat orang lain mengatakan itu tanpa mengetahui debat adu suara juga lempar barang yang dilakukan oleh orangtuanya di rumah.

Renjun memiliki sepupu yang selalu baik dan dekat dengannya, tapi pertemuan mereka terhitung menggunakan jari dalam beberapa tahun terakhir. Fakta kalau sepupunya menikah dengan Laki-laki Korea dan menetap di Negeri Ginseng membuat Renjun bersedih pada awalnya, tapi dia memiliki alasan untuk melanjutkan pendidikan di Negeri ini dan menjauhi permasalahan orangtuanya. Perut Renjun masih mengalami sakit untuk menahan tawa, karena orang lain mengatakan dia menjauhi perkara karena tak ingin menyulitkan orangtuanya. Renjun sengaja kesini karena menolak mendengar debat orangtuanya, jadi dia tidak ingin memberi alasan tambahan mereka bertengkar.

Renjun memperhatikan Jaemin yang menghentikan langkah, berjarak sekitar dua meter di hadapan nya. Pandangannya meliputi rasa bahagia dan lega, bahagia karena dia kembali melihat Jaemin -setelah absen Jaemin tiga hari ini- dan lega karena tidak menemukan lebam baru di wajahnya . . .

"Kau membawa obat merah?" Suara Jaemin mengisi keheningan antara mereka, Renjun melebarkan matanya namun kepalanya mengangguk dengan tenang. Pikiran mengenai Jaemin mengalami luka di bagian tubuh yang tertutupi seragam, membuat Renjun merasa cemas

"Iya" Gerakan mata Renjun menyuruh Jaemin duduk di bangku, bangku yang sama dengan bangku dimana Renjun biasa mengobati luka Jaemin seusai berkelahi. Jaemin menurut dengan berjalan mendekati bangku itu tanpa mengatakan apapun, seperti biasa

"Kau, duduklah" Jaemin hanya berdiri di sisi bangku, tatapannya mengarah pada Renjun yang meletakkan tas ransel di bangku

"Aku, kenapa?" Ekspresi bingung Renjun memberi balasan untuk perkataan Jaemin, tidak langsung mengikuti apa yang dikatakan Jaemin padanya

"Duduk" Ulang Jaemin, memberitahu Renjun kalau dia harus menuruti perkataan Jaemin. Pemuda marga Huang itu mendudukkan diri di bangku dan memperhatikan Jaemin membuka tas ranselnya

"Kau mencari sesuatu?" Renjun melontarkan pertanyaan tanpa melepas pandangannya dari Jaemin yang mengacak tasnya, meski dia tahu Jaemin tidak mungkin mengambil barang miliknya (lagipula tidak ada barang mahal juga menarik dalam tasnya). Kerutan di keningnya tidak menghilang, meski dia melihat Jaemin sudah menemukan benda yang dicari dalam tasnya

"Lenganmu terluka" Jaemin memegang obat merah yang dia ambil dari dalam tas Renjun, sementara tangan lainnya mengarahkan pada Renjun seperti memintanya untuk mengulurkan tangan. Tahu kalau Jaemin tidak ingin melakukan sesuatu yang membahayakan juga berada di situasi tidak ingin menerima penolakan, Renjun mengulurkan tangan

"Kau tahu?" Tanya Renjun seraya meninggikan tangannya, melihat tatapan serius pada Jaemin yang memberikan obat merah pada luka lecet di tangannya. Renjun selalu buruk dalam pelajaran olahraga, dan permainan kelompok tidak membuat situasi menjadi lebih baik

"Kau mengetahui aku sudah masuk, atau ini karena instingmu lagi?" Manik Jaemin berpindah untuk menatap Renjun selama sekian saat, memberi seringai lebar yang membuat Renjun merasa tergelitik. Dia tidak mengetahui kalau Jaemin sudah kembali masuk, namun usahanya menunggu di gerbang hari ini memberi hasil memuaskan

"Kupikir, begitu" tidak, aku mengkhawatirkanmu, Renjun menjawab dengan nada acuh. Renjun tidak tahu apa yang harus dia katakan sebagai alasan, karena hari ini tidak ada latihan Klub Vokal yang membuatnya berada di Sekolah hingga waktu petang ini, dia berada di Gerbang hanya untuk menunggu Jaemin karena perasaan buruk yang membuatnya ingin menetapnya

"Aku berharap, aku memiliki insting sepertimu" Tatapan Renjun yang sebelumnya mengarah pada tali sepatu dialihkan ke posisi yang lebih tinggi, melihat Jaemin yang berbicara seraya merapikan peralatan seperti yang biasa dilakukan Renjun

"Harimu buruk?" Tanya Renjun tanpa mengubah posisinya, melihat Jaemin kembali menyeringai. Harusnya seringai Jaemin membuatnya terlihat tampan atau mengintimidasi, tapi seringai ini seperti tawa bodoh yang ditujukan pada diri sendiri

"Aku mengagumi instingmu. Hariku buruk, aku tidak bisa berkelahi dan merusak wajahku karena penghujung pekan ini Ibuku menikah" Renjun ingat kalau ini bukan pertama kali dia menemukan Jaemin sebagai sosok lemah, dia pernah menemukan Jaemin tertidur di atap dengan mengigaukan orangtuanya. Hari itu dia menambah alasan kalau Jaemin tidak pantas dia labeli sebagai murid bermasalah yang harus dijauhi, setelah Jaemin memuji gambarnya dan membiarkannya menempati atap

"Kau ingin pelukan?" Renjun tidak tahu bagaimana bibirnya melontarkan kata itu, membuat Jaemin membalas tatapannya dengan sorot memastikan. Renjun ingin menarik perkataannya, saat Jaemin membentuk senyum tipis yang tulus

"Aku tidak menolaknya" Perkataan Jaemin membuat Renjun beranjak dari posisinya, hanya berdiam diri selagi memikirkan cara memeluk Jaemin tanpa membuat situasi mereka canggung

'Grep' Jaemin memberi pelukan pada bahu Renjun yang lebih pendek darinya, wajah dia sandarkan pada puncak kepala Renjun. Tangan Renjun mengulur dengan ragu, hanya memegangi seragam Jaemin di bagian pinggang

"Kau akan melewatinya, aku tahu kau bisa" Renjun biasa menerima perkataan itu dari sepupunya setelah dia mengeluhkan banyak hal, bukan perkataan tinggi dan tidak sulit untuk menerjemahkan ucapan itu ke Bahasa Korea

"Terima kasih" Balas Jaemin dengan singkat, tidak mengubah posisi mereka dan mengeratkan dekapannya pada tubuh Renjun selama beberapa saat. Renjun menjauhkan uluran tangannya hingga dia melingkari pinggang Jaemin, memberi pelukan ringan

"Iya, bukan masalah" Renjun diam-diam mengkhawatirkan matahari yang tenggelam, mengingat dia belum sempat membeli bahan makanan dan memiliki setumpuk pekerjaan rumah yang perlu dikerjakan

"Aku akan kembali, beberapa hari lagi" Jaemin melepas pelukan mereka, melontarkan perkataan yang menandakan akhir dari perjumpaan mereka. Renjun memperhatikan wajah Jaemin yang hanya memiliki memar tidak kentara, berusaha menyimpan saat dimana Jaemin menjadi berkali lipat lebih tampan dari biasanya

"Injun?" Pandangan Jaemin membentur tatapan Renjun yang terus memperhatikannya, Renjun mengalihkan fokusnya saat dia menyadari kalau dia sudah terlalu lama memperhatikan Jaemin. Tempat sampah mendadak dia anggap lebih menarik dari seringai lebar Jaemin

"Terserah padamu" Renjun ingin mengatakan, kalau dia ingin kembali bertemu Jaemin dengan situasi ini (mereka hanya berdiam diri dengan posisi berdekatan, bukan dia harus mengobati luka Jaemin usai berkelahi). Tapi, Renjun tidak memiliki hak untuk mengatakan sesuatu yang menyampuri kehidupan Jaemin, dan dia tidak ingin Jaemin menjauhinya karena sikap ikut campurnya

"Sampai jumpa" Berusaha bersikap seperti biasa, Renjun mengambil langkah pergi lebih dulu. Tangan kanannya terangkat, seperti gerakan yang biasa dilakukan Jaemin sebagai pengganti ucapan perpisahan. Renjun mengeraskan hatinya untuk tidak menoleh, tanpa menyadari Jaemin terus melihat ke arahnya.

.

Pertama kali Renjun mengobati luka Jaemin saat pertemuan ketiga mereka yang diingatnya, juga pertama kali dia melihat perkelahian Jaemin. Renjun pulang terlambat karena latihan Klub Vokal yang mundur dari waktu seharusnya, menghentikan langkah karena suara ribut dari halaman belakang dekat posisinya yang selesai menggunakan toilet lantai satu. Perkelahian tiga orang melawan satu orang kelihatan tidak seimbang, dia ingin membantu tanpa mengukur kemampuan dan membuat Jaemin semakin kepayahan. Jaemin menarik tangan Renjun saat lawannya lengah, membiarkan Renjun mengobatinya selagi mengatakan 'kalau kau ingin membantu, jangan libatkan diri dalam perkelahianku'.

Sepupu Renjun tersenyum saat Renjun menceritakan mengenai Jaemin, berkata dengan senyum kalau Renjun menyukai 'murid bermasalah' itu. Renjun pikir tidak ada yang salah dengan menyukai murid berlabel pembuat masalah, lagipula Jaemin adalah murid baik selain mengenai kegiatan kelahi yang terlalu sering. Paling tidak Jaemin adalah anak yang lebih baik darinya, mengingat Jaemin mengigaukan orangtuanya di pertemuan kedua juga tidak melakukan perkelahian untuk pernikahan orangtuanya. Renjun mendengar cerita Jaemin yang kurang mendapat perhatian setelah perpisahan orangtua dari beberapa murid, para murid menilai momen itu yang mengubah pribadi riang Jaemin.

Renjun menimbang jalan yang harus dia gunakan untuk tiba di rumah, lelah merutuki keterlambatan anggota Klub Vokal yang membuat latihan selesai di pukul delapan malam (efek lain dari Ketua Klub yang perfeksionis). Biasanya dia mengambil jalan memutar, menghindari geng jalanan yang biasa berkumpul di gang sempit searah rumah Renjun dengan sengatan aroma alkohol . . .

"Ah, aku tidak tahu" Renjun menggerutu, mengambil jalan cepat dengan mengharap kalau geng jalanan itu tidak berkumpul hari ini. Kegiatan sekolah dan latihan Klub Vokal begitu melelahkan hari ini, membuat Renjun ingin menemui tempat tidurnya dan langsung beristirahat

"Shoot" Pemuda marga Huang itu tidak mengetahui banyak dari kosakata mengumpat, jadi dia hanya menggumamkan itu saat indra penciumannya disengat aroma alkohol juga indra pendengarnya menangkap riuh percakapan kelompok laki-laki di sisi lain gang yang tidak memiliki penerangan

'Tap' Tangan seseorang menepuk bahu Renjun, saat dia berdiam diri untuk kembali menimbang pilihan jalan yang dilewatinya. Renjun berpikir, dia perlu melangkah mundur dan melewati jalan memutar atau dia berjalan lurus tanpa menoleh?

"Hei" Suara seseorang di balik tubuhnya membuat Renjun terkesiap, khawatir kalau orang yang menepuk bahu adalah satu anggota geng jalanan yang baru kembali dari tempat lain dan sedang mencari seseorang untuk dijahili

"Injun" Panggilan seseorang di belakangnya mengingatkan Renjun pada panggilan Jaemin untuknya di pertemuan terakhir, dan sebelum dia mengerti apa yang terjadi orang itu menarik tangannya untuk menjauh dari gang yang hendak dilewatinya

"Jaemin?" Bingung Renjun, menyadari kalau orang yang menarik tangannya memang Jaemin. Pemuda dengan marga Na itu tidak menyahut hingga mereka telah berada di posisi jauh dari gang tempat anggota geng jalanan berkumpul, mereka berhenti di toko kecil yang belum tutup

"Halo" Jaemin mendeham dengan canggung, sebelum dia memberi sapa pada Renjun yang memasang ekspresi bertanya di depannya

"Kenapa kau berada disini?" Kalau ingatan Renjun belum bermasalah, arah pulangnya dengan rumah Jaemin berlawan dari Sekolah. Lalu, kenapa Jaemin muncul dan menghindarkan Renjun dari tindakan bodohnya, masih mengenakan seragam sekolah mereka?

"Aku yakin, biasanya kau menyebut ini sebagai insting" Jaemin menarik sudut bibirnya dan membuat seringai lebar yang tampan, menemukan karakter penuh percaya dirinya yang dianggap menyebalkan oleh Renjun karena tidak tahu harus memberi respon seperti apa

"Oh" Renjun biasa melontarkan perkataan menggelikan dengan seringai tipis, lalu menerima respon geli dari Jaemin yang menyeringai lebar namun begitu tampan. Renjun merasa ada sesuatu yang menggelitiknya karena perkataan Jaemin, tapi dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk mengurangi perasaan menggelitiknya. Usaha mengurangi rasa gelitiknya, Renjun memasuki toko kecil dan membeli minuman

"Kupikir, kau pintar" Jaemin melanjutkan pembicaraan saat Renjun menempatkan diri di sebelahnya, tangannya menerima salah satu botol minuman yang berada di tangan Pemuda Mungil itu. Renjun mendelik pada Jaemin karena merasa tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Pemuda marga Na itu, namun dia menghela nafas karena tidak bisa menolak yang dikatakan Jaemin

"Aku ingin segera pulang, hari ini melelahkan" Si Huang menjawab tanpa mengangkat wajah, hanya memperhatikan tutup dari botol minuman yang berhasil dia buka. Jaemin mengangguk paham tanpa menyingkirkan pandangan dari Renjun, tangannya memegang botol minuman tanpa memiliki keinginan untuk membukanya

"Kau ingin berjalan sendiri hingga tempat tinggalmu?" Tanya Jaemin, Renjun mengangguk mengiyakan namun dia terdiam dan mengerutkan kening setelahnya

"Pertanyaanmu itu, kau ingin mengantarkan pulang ke tempat tinggalku?" Pandangan bertanya Renjun diarahkan pada Jaemin, menimbulkan seringai kecil Jaemin yang tidak Renjun mengerti apa alasannya

"Jika kau mengatakan kau ingin, aku akan mengantarkanmu pulang" Jaemin menahan seringainya untuk tidak melebar saat Renjun mengerjap dengan sorot kebingungan, meski Renjun tidak memperlihatkan ekspresi yang kentara

"Aku tidak menolaknya" Tidak ada kesepakatan mengenai permainan peran, tapi Renjun berpikir dia mengatakan 'dialog' Jaemin dengan baik (sebaik Jaemin yang mengambil 'dialognya' mengenai insting). Hal yang tidak dia ketahui adalah Jaemin membuat kalimat itu kedengaran dingin dan keren, dan dia mengatakan itu dengan lucu hingga kedengaran seperti anak kecil yang antusias mendengar pilihan menu makan siang adalah makanan favoritnya

"Baiklah, aku akan mengantarkanmu pulang setelah kau menghabiskan minumanmu" Ujar Jaemin yang membuat Renjun memperhatikan botol minumannya, meletakkan tutup botol di bagian atas dan memutar untuk merapatkannya

"Nanti saja" Putus Renjun seraya beranjak dari posisi duduknya, melihat Jaemin melihatnya dan mengangkat bahu dengan acuh sebelum dia ikut berdiri. Langkah Jaemin bersisian dengan Renjun, tidak meninggalkan atau sekedar mendahului Renjun, meski hal itu mudah saja dengan kakinya yang lebih panjang dari kaki Renjun

"Aku ingin menawarkan untuk menggendongmu di punggung, tapi aku yakin kau memiliki anggapan kalau itu berlebihan. Setidaknya, aku memastikan kalau tidak ada orang yang mengganggumu hingga kau tiba di tempat tinggalmu" Jaemin membuka suara, melontarkan perkataan terpanjang yang pernah Renjun dengar dari Jaemin. Wajah tampan dengan ekspresi tidak acuh Jaemin masih sama dari saat pertemuan sebelum dan sebelumnya, tapi kali ini Jaemin mengatakan sesuatu yang panjang padanya

"Kau cerewet ya" Renjun melontarkan pemikiran sebelum dia mengulang pikirannya dua kali, tidak tahu kenapa otot mulutnya senang berolahraga tanpa menunggu otaknya memahami kondisi. Lagi, Renjun ingin menarik perkataannya sebelum dia menemukan senyum tipis Jaemin di sebelahnya

"Lama sekali, dari terakhir kali aku mendengar orang lain mengatakan itu padaku" Jaemin masih memasang senyuman tipis saat dia menoleh pada Renjun yang terdiam, memutuskan untuk menarik sudut bibirnya dan tidak mengatakan hal lain karena tidak ingin merusak suasana diantara Jaemin dan dirinya yang berjalan dengan baik.

.

Jaemin bukan orang yang senang melibatkan diri dalam permasalahan hidup orang lain, bukan juga tipe orang yang terlampau acuh hingga tidak mengenali murid-murid yang berbagi satu ruang belajar bersamanya (orang lain menyebut 'teman sekelas' untuk mempermudah, tapi Jaemin tidak yakin ada murid yang senang disebut sebagai temannya). Waktu istirahat adalah waktu dimana Jaemin melaku kan pengamatan terhadap murid lain, meski ada beberapa waktu dimana dia memilih menyendiri atau tertidur di posisi jauh dari keramaian sekolah. Ada satu orang yang dia amati meski kelas sedang berlangsung, Lee Je No yang menerus menjadi 'teman sekelasnya' selama empat tahun terakhir.

Pertama kali Jaemin memiliki obrolan dengan Jeno saat mereka menjadi teman sebangku di kelas tiga Sekolah Menengah Pertama, Jaemin mendengar ucapan Jeno kalau mereka satu sekolah dari dua tahun sebelumnya namun baru mendapat sekelas di tahun ketiga (respon dingin Jaemin membuat Jeno tidak lagi mengusiknya). Obrolan lain mereka hanya berkaitan dengan tugas kelompok, karena Jeno sering menjadikan Jaemin sebagai alasan menolak sekelompok dengan penggemar berisik. Terkadang Jeno membicarakan hal lain namun tidak menarik perhatian Jaemin, dan Jaemin tidak tahu darimana rasa tertarik pada topik mengenai teman Jeno asal Tiongkok akan pindah ke sekolah mereka.

Tubuh Jeno merebah dengan santai di lantai berlapis karpet tipis ketika Jaemin meletakkan pena di meja dan menandakan waktu istirahat untuk pengerjaan tugas kelompok mereka, Jaemin bersandar pada bantal kursi empuk dan menghembus nafas dengan lelah . . .

"Haechan marah padaku karena menemukan surat warna merah jambu di lokerku" Ucapan Jeno tidak memindahkan perhatian Jaemin dari langit ruangan yang berwarna putih bersih. Warna itu memberi kesan bersih untuk orang yang baru melihat, juga kesan hampa pada Jaemin yang terlalu sering melihat

"Aku menjelaskan kalau surat itu diberikan oleh penggemarku, dan aku tidak memiliki hubungan apapun dengan entah siapa pengirim surat itu" Telinga Jaemin mendengar cerita Jeno, walau dia tidak memberi respon karena kejadian semacam ini terlalu sering terjadi

"Haechan masih menyalahkanku dan mengatakan kalau saja aku bersikap tegas dengan menolak siapapun yang memberi surat, tentu penggemarku akan berhenti menaruh surat ataupun hadiah kecil di lokerku" Jeno masih melanjutkan ceritanya, dan Jaemin terus mendengarkan seadanya selagi memindah atensi pada gumpalan awan gelap di luar jendela. Hal itu biasa, Jeno yang bersikap lembut pada murid perempuan juga Haechan yang mudah cemburu

"Bagaimana dengan Renjun?" Pertanyaan Jeno terdengar, Jaemin tidak mengerti dimana letak sambungan nama Renjun dengan masalah hubungan Jeno juga Haechan. Pandangan Jaemin mengarah pada Jeno yang masih merebahkan diri di karpet ruang tamunya

"Bagaimana, apa?" Jaemin masih tidak mengetahui darimana pertanyaan ini bisa muncul, dan rasa bingungnya tidak menemukan jawaban dari rasa gugup juga antusias yang dia rasakan. Tangan Jaemin memegangi tengkuk dengan canggung, mengeluarkan dehaman sepelan mungkin namun disadari oleh Jeno yang menyeringai lebar

"Aku menanyakan padamu, karena aku tidak tahu" Posisi Jeno berubah menjadi posisi duduk, dia menatap Jaemin dengan senyum jahil yang menerima respon memutar mata dengan malas oleh Jaemin

"Hah, aku tidak suka orang yang berpura bodoh" Gerutu Jaemin, matanya memicing karena gerakan mengangguk Jeno yang tidak dia pahami alasannya. Peringkat Jaemin selalu lebih tinggi dari Jeno selama empat tahun ini, tapi Jeno senang membicarakan sesuatu diluar pelajaran yang tidak dipahami dengan benar oleh Jaemin dan Pemuda marga Lee itu bersikap bodoh saat Jaemin meminta Jeno menjelaskan maksudnya

"Karena itu, kau menyukai dirimu sendiri?" Perkataan Jeno membuat ekspresi tidak mengerti berlama di wajah Jaemin

"Kau mengatakan aku tidak berpura bodoh, melainkan aku sungguhan bodoh?" Tanya Jaemin, melontarkan kemungkinan yang berada di kepalanya saat ini. Jeno memberi anggukan dengan ringan, tidak memiliki kekhawatiran kalau tindakannya meninggikan emosi anak laki-laki yang memiliki sebutan 'tukang berkelahi' di depannya

"Tentu, aku akan menunjukkan luka perkelahianku dengan bangga saat aku berhasil mengalahkan murid usil pengganggu orang yang kusukai kalau aku menjadi dirimu" Kata Jeno yang berhasil melebar kan mata Jaemin, tindakan kecil namun tidak dilewatkan oleh Jeno. Jeno berada di tahun keempat menjadi teman sekelas Jaemin, wajar kalau dia mengenali Jaemin dan pergerakan kecilnya

"Tindakanmu norak" Tidak ada pembenaran secara lisan kalau Jaemin pernah melakukan dan memenangkan perkelahian dengan murid pengganggu Renjun, tapi reaksi terkejut juga gestur canggung Jaemin menjawab lebih jelas dari ekspresi tidak peduli di wajahnya

"Paling tidak, aku bukan melakukan permainan tarik ulur dan membuat orang yang kusukai merasa dipermainkan" Ujar Jeno dengan ekspresi santai, tapi Jaemin mengernyit sebagai tanda tidak senang dengan perkataan yang lebih dewasa

"Aku tidak mempermainkan Renjun" Balasan Jaemin menimbulkan senyuman lebar dari Jeno, puas dengan jawaban yang dia dapatkan

"Kapan aku mengatakan, kau melakukan tarik ulur dengan Renjun?" Tanya Jeno dengan senyum puas, seperti raut wajah murid berlagak pintar yang menyelesaikan ujian sulit sebelum waktu ujian selesai. Jaemin memutar matanya dengan malas

"Iya, terserah padamu saja. Ini adalah alasan aku tidak menyukaimu" Respon Jaemin dengan malas, meraih pena yang dia telantarkan selama beberapa saat. Walau perkataan Jeno mengenai 'tarik ulur' juga 'mempermainkan' tidak bisa dia singkirkan dengan mudah, membuat Jaemin hanya mengetuk ujung pena pada meja

"Kau kelihatan tidak fokus, Jaemin. Kau sedang memikirkan perkataanku?" Jeno bertanya, masih dengan senyum jahilnya

"Bagaimana menurutmu?" Lirikan Jaemin mengarah pada Jeno, hanya menemukan bahu terangkat dengan senyum terkesan polos dari Jeno. Jaemin memutar mata malas dan berpikir kalau melanjutkan pembicaraan dengan Jeno tidak memberi keuntungan apapun baginya, jadi dia kembali menaruh fokus untuk menyelesaikan tugas kelompok.

.~~~(CHAPTER 2) KKEUT~~~.

Sebenarnya, aku cuma ngeship Jaemin x Renjun sama Lucas x Mark gara-gara momen mereka tahun ini, tapi Jeno x Haechan kutambahin untuk keperluan cerita (aku tahu mereka punya momen, tapi aku bingung siapa seme siapa uke kalo ngeship mereka, karena aku juga seneng ngebaca beberapa fanfic Uke Jeno). Maaf, kalo ada yang ngga suka sama pair nya. Makasih, buat yang udah baca dan ngasih review di bagian pertama (aku jadi semangat dan ngerampungin bagian kedua dengan cepat karena respon yang positif). Aku tahu masih banyak kesalahan dan kekurangan, jadi silahkan review ^v^

(Seharusnya cerita ini cuma dibagi ke dua bagian, tapi kayaknya terlalu cepet kalo mereka langsung jadian disini. Kalo ada yang masih ngebingungin dari cerita ini, semoga bisa kujelaskan di bagian berikutnya (part terakhirnya))