Chasing Da Sun
Disclaimer: Suzanne Collin's
Pairing: Primrose Everdeen
Rated: T
Summary: Katniss Everdeen tidak mengajukan diri untuk menggantikan posisi adik kecilnya di The Hunger Games ke-74. Bagaimana Prim yang rapuh akan bertahan?
Warnisng: OOC, gaje, freak, miss typo(s), bertele-tele, dkk.
RnR Please?
Prim's POV
Seketika pandangan di depanku kabur. Aku tersentak. Kudengar beberapa orang tua mendesah tak setuju jika yang maju adalah anak berumur 12 tahun.
Semua anak perempuan menatapku dengan pandangan setengah lega setengah kasihan. Aku menggerakkan bola mataku dari kiri ke kanan, dari kanan ke kiri.
"Ayo, maju!" Pekik Effie Trinket, bahagia. Aku melangkah setengah, masih tak percaya akan hal ini. Keningku berkerut. Tanganku mengepal kuat.
"Ayo!" Pekiknya sekali lagi. Aku melangkah kaku dan memasukan kemejaku yang keluar di belakang seperti ekor bebek.
Seorang Penjaga Perdmaian membimbingku naik menuju podium. Kurasakan semua buram terkena air. Oh, tidak. Jangan saat ini. Aku akan menangis.
Dalam mata yang berair lebih ini kulihat Mom menetaskan air matanya dan terisak-isak. Kulihat Katniss mentapku dan Effie tak percaya, dadanya naik turun, dan kulihat sepertinya ia akan menangis. Lalu kulihat Gale, teman laki-laki berburu Katniss, menautkan kedua alisnya. Ia menatap Katniss dan aku bergantian.
"Baiklah, selamat! Giliran laki-laki sekarang!" Seru Effie ceria. Effie berjalan ke bola kaca besar di bagian kiri podium. Ia mengambil satu dan membacakan namanya.
"Peeta Mellark!" Seru Effie menyeringai senang. Peeta? Siapa dia? Tunggu. Peeta Mellark. Mellark. Jangan bilang kalau dia anak dari Mellark's Bakery. Ayahnya sangat baik kepadaku, tak seperti ibunya.
Malam itu musim dingin. Aku dan Katniss berjalan pulang setelah memetik beberapa dedaunan herbal. Tiba-tiba kulihat sebuah rumah yang lampunya bersinar berwarna kuning cerah.
Aku langsung memohon pada Katniss agar berhenti sejenak untuk mengagumi pemandangan itu. Katniss mengijinkanku. Ternyata ada pemandangan yang lebih menarik lagi.
Banyak kue-kue yang dihias dengan fondant atau krim berwarna-warni. Aku menyukai semuanya. Namun satu yang paling kusukai adalah kue bercetakan bintang dengan hiasan fondant merah muda dan jingga.
Kue itu sangat sederhana dibanding yang lain. Namun entah mengapa aku menyukai kue kecil-kecil itu. Dan aku langsung mengingat-ingat nama toko kue itu, 'Mellark's Bakery'.
Peeta Mellark, lelaki berambut pirang dan bertubuh gempal, berjalan menuju podium sambil menatapku dalam.
Kurasakan daguku bergetar. Jangan menangis, Prim. Aku terlalu cengeng. Aku tidak ingin menangis, tapi air mataku rasanya tidak dapat ditahan. Tak terasa sebutir air mata jatuh ke pipiku.
Peeta maju dan tak melepaskan pandangannya padaku. Aku melihat sebersit rasa kasihan di matanya. Lalu kulihat Katniss. Matanya juga sudah basah dan ia menggeleng. Ia membentuk mulutnya dan mencoba untuk mengatakan sesuatu padaku.
Jangan menangis, Prim. Itu yang kulihat dari gerakan bibirnya. Aku mengangguk kecil dan menghapus air mataku perlahan.
"Baiklah, ini tribut kita! Tepuk tangan!" Seru Effie. Sekali lagi hening. Hanya kulihat tatapan rasa kasihan dijatuhkan padaku.
Aku tak ingin menjalani ini. Hunger Games. Aku tak mau membunuh! Membunuh orang itu dosa! Lagipula, bukankah jika orang terluka kita harus menolongnya?
Primrose Everdeen! Ini Hunger Games! Dan kau harus lebih tegar dan kuat! Tapi aku tak bisa. Jiwaku diutus untuk menyenbuhkan yang sakit. Aku tak dapat menggunakan semua benda-benda berbahaya. Itu mengerikan.
Aku tak ingin membunuh tribut lain. Bagaimana kalau ia baik terhadapku? Bagaimana kalau ia menolongku di arena nanti?
Dan lagipula aku tak mau membunuh Peeta Mellark.
