She is Mine

Naruto © Masashi Kishimoto (forever, and never be mine T.T)

Story © Mila Mitsuhiko

Warning : AU, OOC, gaje, abal, dan keanehan lainnya—tapi nekat dipublish.

Chapter #2

.

.

.

Lalu mereka bersama-sama menuju kekamar Sakura. Dalam perjalanan yang singkat itu, mereka sempat berbincang-bincang sebentar.

"Jadi, kau kesini karena akan melanjutkan sekolahmu?" Tanya Sai—sambil membawakan ransel sakura yang beratnya kalau ditimbang mungkin timbangannya bisa rusak (lebay).

"Ya begitulah. Ayahku bilang, di Kirigakure tidak ada sekolah yang bagus. Jadi aku disuruh jauh-jauh sekolah disini."

"Berarti Ayahmu itu ayah yang baik, perduli terhadap pendidikan anaknya." Sai sok memuji Ayah Sakura.

"Ya begitulah. Hn… Sasuke itu, apa dia selalu begitu dengan orang yang baru dikenalnya?"

"Ya begitulah, dari pengalamanku menjadi saudara kembarnya selama 17 tahun, dia itu tidak suka dekat-dekat dengan wanita. Aku juga tidak tahu mengapa." Ucap Sai

"Benarkah? Apa dia itu pernah trauma karena ditinggal wanita?" sakura mulai menginterogasi

Sai menggeleng "Sudah kubilang 'kan, dia itu tidak suka dekat-dekat dengan wanita, bagaimana bisa punya pacar."

"Apa jangan-jangan… Sasuke… Yaoi?"

Sai sedikit tersentak dengan ucapan Sakura barusan—berusaha menahan tawanya. "Itu tidak mungkin. Aku yakin kalau kakakku itu masih normal."

"Tapi bagiku, tetap saja hal itu tidak boleh dibiarkan. Sasuke harus punya teman seorang wanita. Hmm… sepertinya aku akan berusaha untuk menjadi temannya!" Sakura bersemangat.

"Hmm, kau yakin?"

"Tentu saja. Aku yakin, meskipun Sasuke keliatan menyebalkan begitu, dia pasti punya hati juga?"

"Ya, baiklah."

"Sakura, sudah sampai. Ini kamar barumu!" ucap Mikoto. Mikoto lalu membuka sebuah kamar yang diapit oleh dua ruangan dikiri dan kanannya. "sebelah kanan, kamarnya Sasuke, lalu yang sebelah kiri, kamarnya Sai. Aku harap kalian bisa rukun," lanjut Mikoto

"Ya, terimakasih tante," Ucap Sakura. Mikoto membuka kamar baru Sakura tadi. Ya… seperti ruangan yang tak pernah ditempati lainnya. Tentu saja keadaan kamar itu cukup kotor, didiami debu-debu yang mengandung partikel-partikel berbahaya yang menjadi rumah bagi virus-bakteri-kuman yang merupakan sumber dari pada segala penyakit (lebay).

"Hatchii!" Sakura bersin, karena menghirup udara yang tidak steril tadi. "kita akan membersihkannya 'kan?"

"Iya, tenang saja. Aku akan membantumu." Ucap Sai

KRIEET

Terdengar pintu disebelah kanan kamar Sakura terbuka—yang berarti ada seseorang yang keluar dari kandangnya-eh kamarnya.

"Haa… kebetulan sekali. Sasuke, Bantu sakura dan Sai membersihkan kamar Sakura ya?" pinta Mikoto

Sasuke yang baru keluar dari kamarnya langsung masang muka WTF, "Kenapa aku harus membantu mereka? Merepotkan saja." Sasuke menolak mentah-mentah

"Mengapa kau bicara seperti itu? Kau tidak lihat dia kelelahan seperti ini?" Ucap Sai. Sasuke lalu menoleh kearah Sakura yang seakan hidupnya tinggal menghitung hari.

"Aku mohon. Kau membantu kami. Pekerjaan ini akan cepat selesai kalau dikerjakan bersama." Ucap Sakura ditambah senyum super manis.

"Iya, dan juga—Sakura memang membutuhkan lelaki perkasa seperti kita!" ucap Sai. Dan semua yang ada disitu langsung men-deathglare Sai. "eh, maksudku, Sakura itu butuh lelaki perkasa yang tenaganya kuat. Agar bisa lebih lama membantunya membersihkan kamarnya sampai mengkilap. Begitu. Hehe." Ucap Sai—diakhiri senyum palsunya.

"Kau saja, kau 'kan perkasa. Aku tidak ada waktu untuk hal semacam ini." Ucap Sasuke

"Sasuke, mengapa kau berkata begitu? Sekali-kali, kau harus bersikap baik kepada perempuan." Ucap Mikoto. Mendengar perkataan sang Ibu, mau tak mau Sasuke akhirnya merubah fikirannya—Sasuke memang menurut kepada Ibunya.

"Baiklah-baiklah. Kalian puas?"

Sakura-Sai-Mikoto mengangguk bersama.

Mikoto langsung menyerahkan Sapu kepada Sakura, kemoceng untuk sai dan Pengepel kepada Sasuke. (kapan Tante Mikoto bawa itu semua?)

"Kenapa aku dapat ini?" protes Sasuke

"Sudah jangan banyak bicara. Ayo kita bersihkan kamar sakura!" ajak Sai

"AYO!!" Sakura semangat empat-lima.

.

.

.

Sasuke masih nganggur, soalnya sebelum dipel, harus disapu dulu.

"Jadi, kalian itu benar-benar kembar ya?" Tanya sakura disela-sela menyapunya.

"Tentu." Jawab Sai—disela-sela membersihkan debu didinding.

"Ehn, Sasuke kau itu kakak 'kan? Beda berapa menit kau dilahirkan sebelum Sai?" Tanya Sakura

"Kau ini bertanya hal-hal yang aneh. Mana ku tahu! Kau fikir yang melahirkani tu aku? Tanya saja pada ibuku? Atau bidan yang membantu ibuku melahirkan. Atau kalau perlu kau pergi sana kerumah sakit tempat aku dan Sai dilahirkan. Biar puas!" jawab Sasuke panjang lebar.

'Hehhh, aku 'kan mencoba menjadi teman yang baik.' Batin Sakura. Sakura menghela nafasnya. "Maaf." Ucap Sakura pelan ditambah muka sedih.

"Mengapa wajahmu begitu?" Tanya Sasuke

"Wajahku kenapa?" Sakura balik bertanya

"Hah sudahlah, lupakan!" Sasuke langsung membuang muka ke tong sampah (?)

"Ehn, sebenarnya aku sangat ingin mebantu kalian sampai selesai, tapi barusan temanku telfon. Dia minta aku kerumahnya sekarang. Penting!" ucap Sai

"MAKSUDMU KAU AKAN MENINGGALKAN KAMI BERDUA UNTUK MEMBERSIHKAN KAMAR YANG DIPENUHI DEBU INI!!?" Sasuke naik pitam

"Maaf, aku benar-benar tidak tahu akan jadi begini." Sai langsung mengaktifkan puppy eyes mode.

"Sudahlah tidak apa-apa. Mungkin temannya Sai sedang dalam kesulitan." Ucap Sakura

"Hn. Baiklah aku pergi dulu. Dah~!" Sai lalu pergi—meninggalkan Sasuke dan Sakura.

"Ehn Sasuke, kau letih?" Tanya Sakura

"Ya tuhan. Hobbymu itu suka bertanya yang aneh-aneh ya? TENTU SAJA AKU LETIH?"

'Sabar Sakura.' Batinnya. "Tunggu sebentar ya, aku mau kebawah dulu," Baru saja sakura akan melangkah, namun tangannya dipegang oleh Sasuke.

DEG

"Jangan bilang kau mau kabur seperti Sai!"

"Eh, tidak kok. Aku hanya sebentar."

20 detik. Sakura tidak bergerak dari tempatnya.

"Kenapa tidak pergi?" Tanya Sasuke

"Ehn… i-itu, kau memegang tanganku,"

Seketika wajah Sasuke memerah—dan langsung cepat-cepat melepaskan tangannya dari tangan Sakura. "sekarang sudah lepas. Sana pergi!" ucap Sasuke tanpa melihat mata Sakura—malu. Lalu, dengan segera sakura berlari kebawah.

20 menit kemudian.

Sakura berjalan kekamarnya. Dan alangkah terkejutnya dia saat melihat kamarnya yang tadi lebih pantas disebut istana kambing, berubah menjadi kamar putri raja yang bersih dan rapi.

"Wah… sasuke, ini kau yang melakukannya?" Tanya Sakura

Sasuke mengangguk. "Tentu saja!" jawab Sasuke bangga.

"Kalau begitu, kau harus minum ini." Sakura memberikan Sasuke sebuah gelas—dan didalamnya berisi jus. "sebagai tanda terimakasih ku," lanjut Sakura

"Apa itu?" Tanya Sasuke

"Ini jus wortel. Aku yang membuatnya!"

"Cih, aku tidak mau meminumnya!" tolak Sasuke 'coba jus tomat, gak pake disuruh juga udah bakalan diminum!' batin Sasuke

"Ke-kenapa? Aku 'kan sudah special membuatkan jus ini untukmu."

"Apa, untukku? Kau sadar tidak wortel yang kau jus itu sudah memang milikku. Bukan wortelmu. Jangan seenaknya bilang 'untukmu'." Kata Sasuke "kau tidak punya apa-apa disini," tambahnya. Sasuke yakin, ucapannya tadi pasti akan memancing Sakura untuk marah-marah dan membuat pertengkaran mulut (lagi) diantara mereka. Tapi sepertinya, prediksi Sasuke salah besar. Sakura bukannya bersiap untuk melancarkan berbagai kata-kata ampuh untuk membalas Sasuke, dia malah... Terdiam.

'Hn? Kenapa dia?' Tanya Sasuke dalam hatinya. "Kenapa diam?" Tanya Sasuke

Sakura lalu mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk. "Ya kau benar. Ini memang sudah jadi milikmu-bukan milikku. Maaf atas ucapanku tadi. Aku lupa kalau aku tidak punya apa-apa dan siapa-siapa disini. Maaf." Ucap Sakura lirih. "Sekali lagi maaf."

"Mengapa kau jadi sedih begitu? Bukannya marah-marah?"

"Hiks... Hiks... Aku mau pulang...." Sakura menangis. Sontak membuat Sasuke panik.

"Heh, ka-kau, ke-kenapa jadi menangis? A-aku tidak memukulmu 'kan? He-hei, su-sudah hentikan," Sasuke gugup setengah mati. (backsound ; Aku, gugup setengah mati... kepadamu....)

"Sasuke... aku mau-"

"Baiklah-baiklah, sini jus wortelnya. Biar kuminum!" Ucap Sasuke. Kata-kata Sasuke tadi benar-benar membuat keadaan muka Sakura berubah, setelah sebelumnya seperti terjatuh dalam lubang yang hitam dan gelap, berubah seakan-akan baru saja dicium Justin Bieber. Waw.

"Kau serius?!!" Tanya Sakura bersemangat. Sasuke mengangguk. "ini!" Sakura memberikan jus wortel tadi pada Sasuke. Sasuke langsung meminumnya, hanya satu tegukan. Lalu mengembalikan lagi jus itu pada Sakura. "kenapa cuma segitu?" Tanya Sakura yang tidak terima Sasuke hanya minum secuil dari segelas jus wortel buatannya.

"Yang penting 'kan, aku sudah meminumnya."

"Tapi kau cuma meminumnya sedikit. Sama saja seperti tidak meminumnya!"

"Kau ini benar-benar menyebalkan ya! Sekarang katakan apa maumu!"

"Aku mau kau meminum habis jus buatanku!"

Sasuke benar-benar bingung mau berkata apalagi. "Haaaahhhh!" teriak Sasuke sebal. "baiklah, kalau itu membuatmu puas, berikan padaku!" Sasuke merebut jus wortel yang ada ditangan Sakura, dan secepat kilat atau mungkin melebihi cepat rambat bunyi (?) menghabiskan segelas jus wortel yang-err... sejujurnya saya sangat benci itu. (gak ada yang nanya). Setelah itu, meletakkan kembali gelas yang telah kosong ditangan Sakura. "Hah hah, Baiklah puas kau sekarang?" Tanya Sasuke setelah selesai membersihkan noda jus disudut bibirnya dengan jemarinya yang lentik (?).

Sakura menjawabnya dengan anggukan yang sangat bersemangat.

Tanpa meninggalkan sepatah katapun, Sasuke langsung meninggalkan Sakura dikamar barunya. Tapi...

"Eh tunggu dulu," Sakura menghentikan langkah Sasuke-menarik tangannya.

"APA LAGI?!" Tanya Sasuke yang kekesalannya sudah sampai pada stadium akhir.

"Aku cuma mau bilang terimakasih dan... maaf telah membuatmu marah hari ini."

"Hn." Jawab Sasuke. Lalu benar-benar pergi.

'Hn... Sasuke lucu juga. Hihihi' Batin Sakura. Dan suasana pun menjadi horor.

.

.

.

Sorenya.

Tok Tok Tok

Sasuke yang saat ini sedang dalam posisi paling nyaman dikasurnya merasa terganggu dengan seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.

"Cih, siapa?" Tanya Sasuke dari dalam kamarnya.

"..."

Tapi sepertinya orang yang tadi mengetuk pintu kamar Sasuke tidak ingin membuang-buang suaranya hanya untuk menyebut namanya. Dengan terpaksa Sasuke berjalan kearah pintu dan membukanya. Dan saat pintu telah terbuka lebar, tampaklah gadis berambut pink yang tingginya hanya sebahunya, sedang berdiri dihadapannya-tersenyum pula.

"Ada apa?"

"Kau sedang apa?" Sakura balik bertanya

"Aku tanya duluan, ada apa kau kemari?"

"Hn... aku ma-"

"Sakura!!" Panggil seseorang dari arah belakang Sakura. Sakura lalu berbalik. "Hn, sudah selesai bersih-bersihnya?"

"Tentu saja sudah. Dasar! Lari dari tanggung jawab!" jawab Sasuke ketus

"Maaf, tadi itu temanku tiba-tiba memintaku untuk menemaninya bertemu dengan seorang gadis dimall,"

"Kenapa harus ada kau?" Tanya Sasuke

"Tentu saja harus ada aku, agar dia tidak deg-deg-an,"

"Lalu bagaimana, temanmu itu berhasil bertemu dengan gadis itu?" Tanya Sakura

Sai menggelengkan kepalanya pelan. "gadis itu tidak datang, padahal kami sudah menunggunya selama sejam,"

"Apa? Gadis macam apa itu? Masa' sudah berjanji tapi tidak menepatinya, 'kan kasihan dengan temanmu itu." ucap Sakura

"Hei hei sudah-sudah. Apa-apaan kalian ini. Malah menggosipkan orang lain seperti itu?" Sasuke menyela diantara perbincangan 'hangat' Sai dan Sakura. "Kalau kalian ingin menggosipkan mereka, lebih baik pergi sana, jauh-jauh dari sini. Atau buat infotaiment sekalian!" Usir Sasuke

"Ke-kenapa kau marah seperti itu?" Tanya Sakura

"Kau masih tanya kena-"

"Cukup-cukup, kalian jangan bertengkar. Hn... Sakura, bagaimana kalau kita jalan-jalan ketaman sebentar. Biar kepalamu tidak semakin pusing karena sasuke," Ajak Sai

"Apa?" Tanya Sasuke saat merasa namanya disangkut pautkan.

"Ide yang bagus. Sasuke, kau mau ikut tidak?" Ajak Sakura

"Terimakasih."

BRAAK

Sasuke langsung menutup pintu kamarnya.

"ya sudah. Ayo kita pergi." Ucap Sai

.

.

Kamar Sasuke

Saat ini Sasuke sedang terbaring diatas kasurnya, merentangkan kedua tangannya, menikmati setiap inchi halusnya sprei kasurnya hari ini (?). Namun fikirannya melambung entah kemana, membawanya untuk mengingat kembali pada kenangan pahit seperti kopi, yang terjadi beberapa hari lalu. Yang mungkin tidak akan dilupakannya.

Beberapa Hari yang lalu.

"Hn, kau tahu 'kan kita telah berteman lama,"

"Ya, lalu?"

"Ka-kau, apakah kau mau menjadi kekasihku?"

"..."

Suasana hening.

"Mengapa kau diam?"

"Aku bingung ingin bilang apa Sasuke. Aku takut salah memilih,"

"Kenapa? Pilihannya hanya dua 'kan? Ya dan tidak. Mengapa kau harus bingung-"

"Sasuke, kita berteman sudah sejak smp, aku... sulit rasanya memutuskan antara mempertahankan persahabatan atau cinta. Kau tidak mengerti..."

"Jadi pilihanmu?"

"..."

"??"

"...maaf Sasuke...."

Tok Tok Tok

"Hahhh hahh hah." Suara ketukan pintu membuat Sasuke terbangun dari tidur sorenya (?). Sasuke lalu membetulkan rambutnya yang acak-acakkan. "jam berapa ini?" Tanyanya pada diri sendiri. "Hn? sudah jam 8?" sasuke langsung bangun dan bergegas kearah pintu, apalagi bunyi ketukan pintu itu makin nyaring. "Iya-iya tunggu sebentar." gerutunya.

KLEK

Pintu terbuka, dan lagi-lagi saat ini seorang gadis yang sama seperti tadi sore-Sakura.

"Ada apa?" Tanya Sasuke

"Kau ketinggalan makan malam. Jadi aku kesini untuk memberikanmu ini," Sakura lalu memberikan semangkuk mie rebus-masih hangat. (:9 ~yummy~ kalo gak mau, untuk saya aja.)

"Apa ini?"

"Masa' kau tidak tahu ini apa? Sudah jelas 'kan ini mie, mata-"

"Cukup. Terimakasih. Sekarang kau boleh pergi." Ucap Sasuke sambil menerima semangkuk mie yang diberikan Sakura. 'Tahu aja kalo lagi laper' bantinnya. "hei, sana pergi. Kenapa masih disitu?" tanya Sasuke yang mulai gerah dengan keberadaan Sakura yang belum beranjak sesenti pun.

"Ma-maaf. Permisi."

.

.

.

.

Keesokan Harinya.

"Ayah pergi dulu ya," Ucap Fugaku-ayah dari Sasuke dan Sai-saat menyudahi ritual sarapan pagi ini.

"Hati-hati ya paman." Ucap Sakura

"Iya, terimakasih Sakura." Ucap Fugaku saat hampir sampai didepan pintu-lalu Mikoto mengantarnya sampai teras. Tinggal Sasuke, Sai dan Sakura dimeja makan, eh lupa, roti, susu dan selai stroberi juga.

Hening.

"Kenapa tidak ada yang mau bicara?" Tanya Sakura

"Kau ini bodoh atau apa? Sedang makan dilarang berbicara." Jawab Sasuke

"Oh begitu,"

"Sakura, hari ini kau semobil denganku ya?" tawar Sai

"Kenapa hari ini? Kenapa tidak selamanya saja?" Tanya Sasuke

"Ide bagus!" ucap Sai

"Kalian tidak pergi bersama?" Tanya Sakura. sasuke dan Sai menggeleng bersamaan-jawaban dari pertanyaan Sakura. "Oh..."

.

Selesai sarapan, mereka bertiga berangkat sekolah. Sai semobil dengan Sakura. dan Sasuke sendiri dimobilnya. Meski tidak dalam satu mobil, tapi tujuan mereka satu, yaitu Saishono High School.

.

.

Sesampainya di Saishono High School (SHS).

"Huaaaaaaaaaaaaaaaa!!!" Sakura histeris. "ya tuhan, ternyata sekolah dikota sekeren ini! hahahaha.... selamat datang SMA. Akhirnya, jadi anak sma juga." lanjut Sakura


....TBC....

hehehe... akhirnya selese juga chapter 2. Maaf gaje.
oh ya, sebenarnya saya pengen buat fic humor, tapi kayaknya fic ini gak lucu... jadi genrenya gak jadi diganti.
Trus... dichapter ini belum ada masa-masa sekolahnya ... tapi dichapter depan bakal ada adegan disekolahannya. dan bakal ketahuan, siapa cewek yang dengan begonya (maaf) nolak Sasuke, hmmm.... pasti udah mulai menebak.

saya mo bales review dulu...

Haruchi Nigiyama: Hehe... makasih atas ucapannya. Kamu bikin saya semangat. Makasih ya. RnR Lagi?

Misa uchiHatake: hehe, maap apdetnya agak lama, tapi setidaknya saya sudah apdet. Makasih ya. RnR Lagi?

Mamehatsuki: Ini udah apdet. Makasih ya. RnR Lagi?

Hydrangea Daffodile Amutia: Hehe, makasih atas koreksiannya. hehe, kadang-kadang saya tu malas baca ulang fic lagi... maklum, emang saya pemalas... :9. Makasih ya. RnR Lagi?

Angga Seiko Siyosuke: Iya, ntar mereka ngerebutin Sakura (tapi gak tahu kapan -?-). Makasih ya. RnR Lagi?

Faatin-Hime: Ini udah apdet. Makasih ya. RnR Lagi?

Kiran-Angel-Lost: Iya, saya lanjutin. Makasih ya. RnR Lagi?

So-Chand 'Luph pLend': Iya, sasusaku dan saisaku (gag memnutup kemungkinan ada pair lain) Makasih ya. RnR Lagi?

Welly eka: Iya ding enak. Saya juga mau. :9 Makasih ya. RnR Lagi?

Aya-na rifa'i: Iya emak, ini udah mila apdet. (kamu bilang kamu emak saya, jadi saya manggil kamu emak XD hehehe) makasaih mak. RnR lagi?

Mungkin saya akan agak lama mengapdet fic ini. Jadi saya bakal ngasih spoilernya buat chapter depan.

chapter depan, bakal dijelasin siapa gadis yang nolak Sasuke dan apa ALASANNYA. Gak mungkin donx nolak tanpa alasan... apalagi yang nembak Sasuke. Trus bakal ada peristiwa unik dan antik (?) antara Sasusaku.

oke. Makasih buat yang udah mau baca. I love u full. Maaf kalo banyak kesalahan.

Review??