Hai Minna-san, barangkali ada yang sudi baca sekuel BALAS DENDAM. Selamat membaca, semoga suka and please kindly review this. Lemme know your thought about my favorite crack pair.

SASUKE MAKES AMENDS

I

Indah. Itulah kata pertama yang Sasuke ingat saat diserahi sosok mungilnya. Tangan kecilnya meninju-ninju udara seolah marah karena direnggut paksa dari rahim sang ibu. Rahim Hinata. Sasuke bisa melihat Hinata adalah gadis yang kuat. Bahkan dalam keadaan terlemah sekalipun ia masih bisa memberikan Sasuke bayi laki-laki yang tampan. Tanpa jijik Sasuke mendekapkan bayi merah penuh darah dan lendir itu ke dadanya, memeluk posesif seperti harta yang paling berharga. Dengan ajaib tangis bayi tersebut mereda, berubah menjadi rengekan lirih yang kelak Sasuke kenali sebagai rasa haus. Bayi itu butuh ibunya.

"Hai sayang… kau tampan sekali. Ini tou-san, nak"

Sasuke mendekatkan bayi mungil itu ke wajahnya, mencium bibir kecil yang tak berhenti merengek. Haru menyeruak, memukul-mukul dadanya yang bergetar, makhluk lemah ini pernah ditolak Sasuke dengan kasar. Ia diremat perasaan berdosa teringat bagaimana perlakuan kejamnya pada sang ibu. Entah kenapa ingatan itu menimbulkan rasa takut, jika secara naluriah bayi ini tak mau menerimanya sebagai ayah.

Tentu saja perasaan Sasuke tersebut konyol. Bayi yang ia namai Naoki itu hanya memilikinya sebagai keluarga. Sang ibu, Hinata, masih berjuang melawan maut. Terima kasih pada Sasuke yang menyebabkan segala sial di hidup perempuan itu.

Di ruang putih mencekam, Sasuke duduk menghadap perempuan yang menggenggam hatinya. Hinata. Matanya tertutup sempurna, dan setiap detik menakutkan Sasuke, takut kalau-kalau mata itu takkan pernah terbuka lagi. Dikecupnya kedua kelopak mata Hinata lama, lalu turun ke hidung dan berakhir di bibir Hinata.

"Mau tidur sampai kapan, Hime? Putra kita sudah lahir. Kau tahu, setiap saat ia menolakku, menangis karena sangat merindukanmu. Tangisnya sangat keras, kau harus menolongku."

Hangat merebak di pelupuk mata Sasuke. Mungkin hidup Hinata memang di ujung tanduk, tapi Sasuke lah yang sebenarnya nyaris mati. Setiap detik menunggu kelopak itu membuka dan memberinya kesempatan memohon ampun. Lalu dengan pandangan yang sangat putus asa, Sasuke kembali berujar.

"Bisakah kau menghukumku dengan cara lain, Hinata?"

***
"Halo tampanku. Whoaa, kau benar-benar akan menjadi rivalku kelak."

Dengan semangat Sasuke mengajak ngobrol bayi yang tengah terlelap. Ia suka sekali mengecup bibir yang sangat mirip dengan milik Hinata. Mungkin Naoki bahkan lebih tampan darinya. Bagaimana tidak, walaupun wajahnya sangat Sasuke, ia memiliki raut lembut Hinata. Membuatnya seolah kharismatik dalam kondisi dini.

"Hey.. hey. Apa yang kau mimpikan, jagoan?"

Sasuke takjub karena bayinya tersenyum padahal tengah terlelap, seperti bahagia sekali. Naoki yang terkekeh dengan mata terpejam, mau tak mau membuat ayahnya ikut tertawa. Kemudian mengecup lagi bibir mungil yang masih tersenyum jenaka.

"Lihat, Hinata, bocah ini pasti membuatmu takjub nanti."

Naoki diletakkan di samping Hinata. Tangan Sasuke lelah juga karena menggendong selama dua jam. Kepala kecil bayi itu mengusak-usak lengan Hinata, mencari kehangatan. Sementara Sasuke bersedekap memandangi mereka berdua. Rasanya akan lengkap jika Hinata sekarang duduk, mendekap putra mereka dan melihat betapa besar cinta yang Sasuke sanggup beri. Ah tidak mungkin juga. Hinata pasti akan terkejut, selama ini Sasuke mendekat jika menginginkan sesuatu saja. Missal meminta jatahnya sebagai tuan.

"Sampai kapan kau akan tidur, Hinata?" Bayangan Hinata kembali di tengah mereka terasa absurd. Sasuke ingat bagaimana perempuan ini saat kehidupan perlahan pergi dari tubuhnya. Di dekapan Sasuke waktu itu, Hinata kehilangan banyak sekali darah, kesakitan dan lemah. Kondisi yang berbanding terbalik dengan harapan sang Uchiha.

Senyum pedih mengembang di bibir Sasuke, monolognya ditanggapi suara mesin mengerikan. Apa Hinata akan bangun, membenci Sasuke atau bersikap dingin? Entah. Dokter bahkan tidak tahu karena kondisi Hinata naik turun.

"Apa kau tak ingin menggendongnya? Merasakan kulitnya yang lembut dan rengekannya yang begitu manis? Dia benci susu formula, Hinata. Bayiku tidak akan minum kalau tidak sangat haus. Beberapa saat lalu dia bahkan dehidrasi. Please bangun Hinata. Kasihani kami."

Kepala Sasuke bertumpu di tepi ranjang. Ia lelah. Bukan saja secara fisik melainkan juga mental. Setiap detik didera rasa takut kehilangan Hinata. Perasaan bersalah seperti membangunkannya dari tidur panjang, mengingatkan Sasuke bahwa perempuan di depannya adalah Hime yang sama. Gadis kecil yang mengobati lukanya saat Sasuke diperlalukan bak sampah, satau-satunya yang membuat ia merasa berharga.

"Aku berjanji akan mengabdi padamu jika kau mau membuka mata."

Jika saja Sasuke tak sibuk melelehkan air mata, mungkin ia akan merasakan jemari dalam genggamannya bergerak. Menandakan kehidupan ingin menunjukkan eksistensinya kembali.

***
Berlari dan berlari, kaki Sasuke berpacu menuju orang paling dirindukannya. Pihak rumah sakit baru saja mengabari bahwa Hinata telah sadar. Rasanya seperti mimpi yang tekabul, setelah dua minggu berdoa nyaris putus asa, akhirnya belahan jiwa Sasuke itu mau membuka kembali mata indahnya.

Sesampai di bilik Hinata, Sasuke tanpa sengaja mendobrak pintu saking tak sabar. Dan di sana. . . di sana Hinata ditemani seorang perawat tampak terkejut menatapnya. Gelombang rindu mendorong Sasuke mempercepat langkah. Ia ingin memastikan sendiri bahwa itu bukanlah mimpi, Hinata hidup dan mereka sedang saling bertatap.

"Emmph…"

Erang Hinata saat Sasuke mempertemukan bibir mereka, dikecapnya dengan haus dan frustasi, membuat wajah si perawat merah menahan malu.

Detik itu juga Sasuke merasa sempurna. Ibu dari bayinya kembali menyelamatkannya dari kegilaan, seperti bertahun-tahun lalu saat ia kehilangan seluruh anggota keluarga. Tak apa kalau semua orang pergi, tak masalah jika Sasuke kembali jadi pecundang, ia sudah menggengam lagi pijakan hidupnya. Hal yang menjadi gravitasinya untuk terus hidup: Hinata dan anak mereka.

Sasuke masih terus mencium Hinata tanpa tahu malu. Mungkin itu ciuman terlama yang pernah berlangsung, siapa peduli. Ia ingin merasakan Hinata, menelusuri mulut halus itu dengan bibirnya, dengan lidahnya. Tapi siapa sangka bahwa bersama keganasan Sasuke, setets air mata luruh. Ketakutannya mencair menjadi lega karena bibir yang sedang dikecapnya itu nyata. Lunas sudah rasa was-was yang selama dua minggu meremat-remat hati Sasuke, membuatnya tak berbentuk di bawah bayang-bayang kematian Hinata. Perempuan ini, ibu dari anaknya akan hidup, dan Sasuke siap melakukan semua untuk memenangkan hati emasnya.

"Ekhem."

Sang suster berdeham. Sasuke belum ingin melepas Hinata tapi perempuannya itu kehabisan nafas dan tampak… takut? Lagi pula Sasuke juga perlu mengusap air matanya, akan memalukan jika pria gagah yang masih berbalut jas kerja menangis haru, itu menodai ego. Terlebih, ia sudah jadi ayah.

"Sepertinya kalian perlu waktu berdua. Saya permisi dulu." Perawat mengedip nakal pada Hinata.

"Ya. Terima kasih." Balas Sasuke singkat.

Mendadak suhu ruangan jadi panas dan tegang. Sasuke bingung, rasanya ia sudah mengatakan semua lewat ciuman tadi. Terima kasih, kegelisahan, penyesalan, rindu bahkan cintanya. Ia tak pernah pandai berkata-kata, sejak dulu Hinata yang selalu bicara di antara mereka. Tapi sekarang perempuan itu malah menatapi jemarinya yang bertaut resah di pangkuan, ia menghindari tatapan Sasuke, dan paling mengerikan, terlihat takut. Hinata menyakiti Sasuke dengan pergerakan simpel tersebut.

"Ehem." Deham Sasuke. Berharap Hinata menatapnya dan tentu saja, tidak terjadi.

"Ummm… Uchiha-sama, terima kasih sudah menyelamatkan putra saya."

Uchiha-sama?

Ah ya, di mata Hinata Sasuke masih pria bejat, pemerkosa yang langsung memukulnya jika salah berkata-kata. Sumpah demi apapun, Sasuke bahkan rela mencium kaki Hinata jika itu bisa menghapus dosanya. Segunung penyesalan menghantamnya bertubi-tubi sejak insiden penembakan. Hinata tidak tahu, betapa keras Sasuke mencoba tak bunuh diri tiap kondisinya melemah, jika saja tak ingat ada bayi antara mereka.

Hyuuga bodoh. Kaulah yang menyelamatkanku dan memberiku seorang putra.

Tapi konyol sekali, Sasuke lebih memilih menggaruk tengkuknya ketimbang mencoba berkata-kata. Sejurus kemudian ia memasang wajah datar.

"Naoki. Nama bayi itu Naoki dan dia seorang Uchiha. Uhm, dia juga putraku. Uchiha Naoki."

Hinata tercengang mendengar pernyataan Sasuke. Bukankah setiap kali pria itu berusaha melenyapkannya, berusaha keras agar darah Hyuga tidak bercampur dengan darahnya dalam bentuk seorang bayi. Refleks, Hinata menatap Sasuke, mencari kelicikan yang coba disembunyikan. Sasuke tak pernah memberi tanpa mengambil sesuatu. Dan ya, monster itu masih di sana, di mata kelam yang membuat Hinata bergidik. Mata kelam yang menikmati tubuh telanjang Hinata dan memandangnya sederajat dengan pelacur. Uh sakit, Hinata tak kuat menatap mata itu terlalu lama. Kenapa pria ini tiba-tiba mau mengakui anak jalang sepertinya?

Hinata tak tahu, bahwa caranya berpaling mengiris perasaan Sasuke. Sebegitu tak layakkah Sasuke mendapatkan perhatian dari mata indahnya? Kemana Hinata kecil yang selalu menghujaninya dengan sorot kagum, perlu meratap dengan cara bagaimana agar Sasuke diampuni?

Oke, mungkin Hinata masih sangat membencinya. Sasuke akan mengalah, masih ada waktu untuk meraih cinta masa lalunya. Ia sadar, mereka terlalu berbeda sekarang. Keberadaan Sasuke menakuti Hinata, perempuan ini trauma dengan monster dalam dirinya, yang sejujurnya sudah terkubur jauh di dasar penyesalan.

"Istirahatlah. Kau masih belum pulih betul." Akhirnya Sasuke hanya bisa berujar lembut sebelum…

"Oekkk… Oekkk… Oekkk.."

Jerit dari box bayi di sudut ruangan mengusik mereka. Sasuke bergerak cepat, selama ini selalu dia yang Naoki dapatkan jika menangis. Tapi sekarang sang ayah akan memperkenalkannya pada sang ibu. Perlahan ia mengangkat Naoki, lalu tersenyum mendapati wajah putranya yang sudah memerah. Bayi ini sangat keras saat menangis, benar-benar Uchiha, ingin semua perhatian tercurah padanya.

Hinata sendiri baru pertama kali menggendong Naoki, ia kaget bahwa Sasuke yang garang sudah selihai itu. Berapa tahun ia tidur sebenarnya? Ia seperti melihat versi malaikat Sasuke, lembut dan kebapakan. Dengan hati-hati Sasuke meletakkan Naoki di gendongan Hinata.

"Nah anak tampan, ini ka-chanmu." Sekilas ia memandang Hinata. "Susui lah, ia haus. Aku akan memanggil perawat untuk mengajarimu."

Hinata merasakan keajaibaan saat kulitnya bersentuhan dengan Naoki. Takjub dengan fakta bahwa dirinya tengah menggendong bayi yang selama ini tumbuh di rahim. Wajah Naoki sangat Sasuke, Matanya gelap dengan hidung mancung serta kulit putih, mungkin yang sedikit mirip Hinata hanyalah bibirnya yang mungil. Dan Sasuke benar, dia anak yang tampan. Putra mereka sangat tampan.

Lalu ketika bibir mungil itu mengecap putingnya, Hinata tahu rasanya jadi ibu sangat luar biasa. Meski pada dasarnya masih sulit dipercaya, bayi ini lahir ke dunia tanpa Sasuke berusaha membunuhnya. Padahal pria itu selalu bersumpah akan memusnahkan seluruh Hyuga, termasuk janin Hinata. Fakta yang membuat nyeri dada.

Tanpa Hinata sadari sosok yang dipikirkannya tengah memandang dari jendela dengan khidmat. Setitik haru menetes dari matanya, berterima kasih pada semesta bahwa perempuan pujannya masih di sana. Ia berjanji, takkan membuat mata kelabu indah itu menangis, dan janji sama dengan sumpah bagi Uchiha.

***
Entah apalagi hal yang harus Sasuke lakukan untuk membuat Hinata melihatnya. DIA SUDAH BERUBAH, persis seperti frasa berhuruf capital, sudah tak ada lagi Sasuke yang dulu. Enyah tak berbekas. Ia takkan lagi menghina Hinata dengan mulut kotornya, atau melecehkannya hingga berdarah-darah, tidak, Sasuke sudah berlepas dari itu semua. Sudah terlalu banyak luka yang ia semai.

Namun Hinata seolah buta. Ia bukannya tak melihat Sasuke, melainkan bertingkah seperti budak yang dikasihani. Hinata memilih tetap berada di ruang mirip gudang, padahal Sasuke sudah menyediakan kamar indah lengkap dengan box dan peralatan bayi. Ia juga tetap memanggilnya Sasuke-sama, dan bangun pagi-pagi sekali untuk bekerja bersama maid seperti yang diperintahkan dulu. Saat Sasuke mendekati Naoki, Hinata akan minggir, tak pernah keduanya bersama dalam radius lima meter. Perempuan itu membuat tembok pembatas lapis titanium, Sasuke kehabisan akal untuk mendobraknya. Belum pernah Sasuke merasa se-ditolak ini, dihormati namun dijauhi sedemikian rupa. Hinata yang memperlakukannya seperti majikan, sungguh melukainya sangat dalam.

Apa mau dikata. Hinata memang tak memiliki perasaan apapun pada Sasuke selain takut. Harusnya Sasuke bersyukur karena itu bukan benci. Bagaimana pun, Sasuke-lah penyebab segala kepedihan di hidupnya. Ayah biologis putranya telah memporak-porandakan nama Hyuuga, meludahi kehormatan mereka dengan manuver balas dendam. Ia membuat Hiashi terserang stroke dan mengasingkan Neji ke dunia antah berantah, lalu menyekap sekaligus memperbudak Hinata. Keberadaannya di sini hanya sekadar tawanan, bukan? Apalagi? Mereka tidak menikah. Hinata akan membayar kerusakan yang dibuat keluarganya dengan mengabdikan diri. Itulah jalan hidup. Apa yang bisa diharapkan, dari hati yang sudah terinjak-injak lebih dari kotoran? Tak ada yang tersisa. Secara garis besar, yang Hinata lakukan sekarang adalah bersikap sebaik mungkin sampai Sasuke bosan lalu melepas dirinya dan Naoki.

Lagi pula, seperti dijelaskan tadi, Hinata sudah tak menyimpan apapun selain rasa takut. Tiap kali mata indahnya menangkap bayang Sasuke, insting pertama adalah menyingkir. Menyelamatkan diri dari gemetar hebat yang selalu terjadi sejak pemerkosaan dulu. Hinata tak bisa didekat Sasuke tanpa merasa ingin pingsan. Mata gelap, seringai iblis, perlakuan kasar dan kata-kata bejat Sasuke sudah tercetak jelas di memori Hinata. Menghadirkan perasaan mual saat bayang-bayang pemerkosaan itu datang. Keringat dingin senantiasa membanjir, bahkan hanya dengan Sasuke mengambil Naoki dari gendongannya. Hinata masih belum lupa bagaimana Sasuke membuat ayahnya menangis dengan memperkosa di depan mata. Tapi ia pasrah, Hyuuga juga bukan marga yang bersih, bahkan terkadang lebih kotor dari Uchiha. Makanya ia ingin membawa Naoki pergi dan membesarkannya seorang diri. Biar saja mereka sedikit kekurangan, asal putranya tak tumbuh di bawah naungan kebencian.

Berbicara tentang Naoki, bayi itu suka sekali membuat gara-gara. Tiap Hinata bersamanya, Naoki rewel dan hanya akan diam jika Sasuke menggendongnya. Di lain waktu, ia selalu haus dan mengharuskan Hinata menyusui saat sedang bersama Sasuke. Naoki seolah ingin berada di dekat keduanya, bersama-sama. Tidakkah bayi itu tahu bahwa ibunya sangat takut terhadap sang ayah? Ah, tentu tidak. Yang Naoki rasakan adalah haus kehangatan, karena keberdaan Sasuke dan Hinata sumber kenyamanan baginya.

Sasuke tampak tak keberatan dengan ulah Naoki. Ia justru gembira saat putranya menangis kelaparan yang mensyarakat kehadiran Hinata. Bayi lelaki persis dirinya itu membantu banyak. Tak seorang pun tahu, ia sering mendongangi Naoki tentang besar cintanya pada Hinata, besar sekali sampai sesak jika perempuan itu memperlakukannya seperti tuan. Sasuke kerap memohon agar Naoki mendekatkannya pada sang ibu, dan terjadi pagi ini.

Naoki mulai bergerak gelisah di bawah cahaya matahari pukul tujuh pagi. Lama- kelamaan ia merengek dan bergerak brutal dalam gendongan Sasuke. Tangis kerasnya adalah favorit Sasuke, mengundang kepanikan terutama Hinata. Masih berbalut gaun tidur perempuan awal dua puluh itu mendekat. Tentu saja setelah permisi dengan takzim pada Sasuke.

"Mau ke mana?" sergah Sasuke ketika Hinata beranjak.

"Sa-saya harus menyusuinya, Uchiha-sama."

Sasuke mengeleng, tangannya meraih pundak Hinata yang langsung disambut reaksi tegang, ia mendesah miris sambil menuntun ke kursi taman.

"Di sini saja. Cahaya mataharinya sangat bagus untuk Naoki. Lagi pula bukan sekali ini aku melihatmu terbuka, itu hanya sebagian saja, aku sudah menjamah seluruhnya kan?"

Hinata merah padam. Bukan karena malu, tetapi takut menghadapi Sasuke yang seperti mau memangsa. Sayangnya tangis Naoki makin keras. Dengan gamang ia membuka kancing di bagian dada, menghindari tatapan memuja sang Uchiha.

Sial. Sasuke horny melihat putranya melahap rakus puting Hinata. Ia ingin melarikan jemarinya ke sana, ah, rasanya Sasuke bisa hidup selamanya dengan memainkan buah dada indah itu. Lalu mengecapnya haus seperti yang dilakukan Naoki. Stop, stop, ia tak boleh membuat kekacauan. Monster dalam dirinya harus dijinakkan, Hinata masih takut padanya, mana boleh membuatnya makin ngeri dengan bertindak seenak hati.

Dengan frustasi Sasuke memutuskan membelai pipi Naoki. Bayi itu mulai terpejam tapi masih menyusui dengan kuat.

"Sakit?" Sasuke mengernyit saat Hinata meringis. Bagaimana pun Naoki belum satu bulan, bibir dan lidahnya masih terasa kasar di kulit.

"Eum. Sedikit."

Refleks tangan Naoki menggenggam saat telunjuk Sasuke menelusup di sela jemarinya. Pria itu lalu mengecupi tangan yang sangat kecil, membuat tubuhnya kian dekat dengan Hinata. Sasuke tahu Hinata gemetaran, nafas perempuan itu memburu seperti hendak dimangsa serigala. Sasuke juga tahu bahwa keringat dingin bermunculan di pori-pori kulit Hinata. Itu menyedihkan karena dirinyalah penyebabnya. Tapi Hinata perlu dilatih untuk menerima perlahan. Sasuke ingin kembali, menjadi bagi hidup dari Hinata dan putranya. Menempati lagi ruang yang pernah ia buang, sebuah tempat di hati Hinata yang mengekalkannya di sana. Memang Sasuke pernah menginjak-injaknya bagai sampah, tetapi kenyataan tak pernah berubah, sesampah apapun Hinata Hyuuga adalah debaran jantungnya. Cahaya yang menembus kelam tak berkesudahan dalam hidup Sasuke.

"A-anou, Uchiha Sa-sama."

Sasuke mendongak berusaha menangkap pandangan Hinata yang bergerak resah. Satu tangannya mengelus pipi Hinata, yang justru ditanggapi dengan menjauhkan wajah.

"Berhenti, hime. Berhenti memanggilku Uchiha-sama."

Merunduk dalam-dalam, Sasuke berusaha keras menahan kesedihannya agar tak berbuah air mata. Ia cengeng sekali akhir-akhir ini. Semenjak Hinata terbujur di ranjang rumah sakit, jiwa Sasuke seperti dipukul mundur ke tahun-tahun silam. Saat segalanya adalah ketidakpastian dan rasa takut. Ia rapuh dan koyak, kematian adalah perpisahan yang paling Sasuke takuti dari sebuah cinta. Dan Hinata, menghukumnya kelewat jauh, membiarkan Sasuke terkatung-katung selama dua minggu atas koma panjangnya yang mengerikan. Lengkap dengan kecenderungan bunuh diri karena penyebab sekaratnya Hinata adalah Sasuke sendiri.

"Maukah kau memanggilku Sasuke-kun saja, hime? Sasuke-kun…" Sasuke mendendangkan nama sendiri, suara gadis kecil di kepalanya telah samar, karena gadis itu berubah jadi wanita dewasa yang takut akan hadirnya. Perlahan kepala Sasuke. bersandar di bahu Hinata, lalu kedua tangan melingkar di pinggang rampingnya. "Sasuke-kun seperti bertahun-tahun lalu."

"Menikahlah denganku Hinata. Jatuh cinta padaku sekali lagi. Sekali saja dan aku akan memberikan diriku padamu. Hati, cinta, nyawa, semua yang berada dalam diri Uchiha jahat ini. Satu kesempatan saja Hinata."

Hinata tak berkutik, ia bahkan tak mampu mencerna ucapan Sasuke. Tubuhnya dingin dan lemas, perutnya mual dan wajahnya pias. Mereka terlalu dekat, Sasuke berada pada jarak yang tak dapat ditoleransi traumanya. Wangi mint dari tubuh pria itu membuatnya pusing.

Puaskan aku jalang kecil…

"Hinata…" Bisik Sasuke pelan melihat wajah Hinata sangat pucat.

Kau pikir kau siapa, berani-beraninya mengandung benihku. Pelacur sepertimu tak layak.

Bayang-bayang Sasuke yang kasar bermunculan di kepala Hinata. Tak sedikit pun dari ingatan itu menyenangkan, justru seolah meneriaki Hinata agar lari. Telapak tangan itu, yang berkali-kali memukul dan menampar, kini mengelus pipi Hinata minta perhatian. Sementara tangan lainnya mendekap erat.

"Hinata, kau kenapa?"

Namanya Hinata. Untuk ukuran pelacur baru dia sangat bagus di ranjang

Pipi Hinata ditepuk-tepuk lembut. Sasuke panik melihat perempuan itu terdiam dengan pandangan kosong sementara tubuhnya gemetar. Ia tidak mengerti apa yang Hinata rasakan, terutama saat satu airmata lolos dari kelopaknya, itu membuat Sasuke takut. Apakah ia benar-benar menyakiti Hinata secara psikologis? Hinata memang jadi sangat pendiam, hampir tak berbicara sepanjang waktu padahal sebelumnya sangat cerewet. Jantung Sasuke berdegup gila, ia bahkan lupa kapan Hinata memandang wajahnya tanpa terlihat takut. Yang ada hanyalah Hinata menduduk, mengkerut seolah tangan Sasuke bisa memukulnya kapan saja. Tiap tangannya mengelus rambut Hinata, perempuan itu langsung menegang, dan Sasuke melihat bayang-bayang dirinya menjambak sampai tubuh kecil tersebut doyong. Mungkin Hinata juga ingat saat Sasuke mendorong ke lantai sampai membuatnya hampir kehilangan Naoki.

"He-hei sayang, kau tak apa?"

Sakura sayang, lihat perempuan itu. Menyedihkan sekali bukan? Dia peliharaanku.

Kemudian yang Hinata ingat adalah Sasuke dan gadis berambut pink mengolok-oloknya. Alam bawah sadarnya sudah mendoktrin bahwa pria itu berbahaya, kasar dan cenderung melecehkan. Tubuh yang memeluk erat tersebut justru menyerap kewarasannya, mendorong Hinata pada kegelapan yang tak bisa ditangani. Ia terserang panic syndrome dan Sasuke adalah akar dari itu semua. Tak ada lagi yang Hinata ingat selain gelap yang menarik kesadarannya dan Sasuke memekik panik.

***
Hinata terlahir membenci keramaian. Ia hadir di dunia ini disertai kesepian, terpaksa menerima benci dari Neji dan Hiashi lantaran menjadi penyebab kematian sang ibu. Hinata terbiasa dikucilkan, sendiri dan tidak dianggap. Itulah kenapa ia menyukai Sasuke, pria yang bernasib senada. Tiap kali melihat Sasuke, Hinata seperti bercermin. Keduanya anak-anak terbuang, diremehkan dan dibenci. Sejak memiliki Sasuke, Hinata merasa tak takut dihina, pria itu adalah kekuatan. Mereka serupa, bedanya Sasuke berontak sedang Hinata memendam. Dulu, bagi Sasuke hanya Hinata obat penenang yang meredamkan marah. Sebaliknya, bagi Hinata, Sasuke merupakan benteng yang menahannya dari rasa sedih kesepian.

Hari ini mansion Sasuke dipenuhi ratusan orang, pebisnis sedang merayakan diri mereka, pamer dan tertawa seolah itu hal terbaik di dunia. Hinata sudah dilarang Sasuke keluar kamar, pria itu bilang pertemuan semacam ini akan sangat kisruh. Dan Sasuke belum siap melihat Hinata diinterogasi banyak mulut di luar pengawasannya. Tentu Hinata setuju, ruang kamarnya yang luas ribuan kali lebih baik dari tersenyum palsu. Di samping ia tak mungkin membawa Naoki ke muka dunia, masih belum.

Sambil meninabobokan Naoki, Hinata berjalan ke balkon. Sasuke kecil ini selalu rewel menjelang tidur, harus digendong kesana- kemari dan ditepuk-tepuk pantatnya baru mau terlelap. Kebetulan langit malam cerah, Naoki mengedip-ngedipkan mata memandang Hinata, mungkin berpikir kalau ibunya cantik sekali. Hinata tersenyum ketika sosok mungil itu semakin merapat ke dada, ciri-ciri sudah ngantuk berat. Apa Naoki juga seperti itu pada ayahnya?

Sayup-sayup Hinata mendengar suara cekikikan. Familiar. Dan rasanya aneh ketika ia benci melihat pemandangan itu. Perempuan berambut merah bergelayut manja pada tubuh Sasuke yang tampak tak masalah. Ringkasnya, mereka mesra. Tawa berderai yang akrab menekan-nekan hati Hinata. Heran, harusnya tak seperti ini bukan? Ia sudah tak memiliki apapun yang tertinggal untuk Sasuke hancurkan. Tapi kenapa rasanya sama sakit dengan pelecehan-pelecehan yang ditimpakan Sasuke. Bahkan sakit yang ini jauh lebih abstrak, namun bisa juga memancing air mata.

Ada yang salah ketika Sasuke memeluk dan mengusap-usap lembut punggung perempuan itu. Hinata mendadak ingin melompat hanya untuk menghentikan. Kemudian pemandangan tak bisa ditolerir terjadi, perempuan itu mengecup bibir Sasuke. Yang Hinata benci di sini adalah fakta bahwa Sasuke oke-oke saja. Kemana tawaran menikah yang kemarin ia utarakan lembut, apa arti Hinata baginya? Jangan-jangan ia sungguhan budak seks, dan pernikahan hanyalah nama lain dari rasa kasihan. Dan terjadilah, air mata Hinata menetes, mengenai Naoki. Membanjir dan mengusik bayi yang baru saja tertidur. Kenapa Hinata selalu lemah bahkan ketika berpikir ia sudah membuang hati..

"Oek.. oek..oek."

Sasuke mendongak, langsung mencari sumber suara. Dari seluruh bebunyian, tangis Naoki yang paling ampuh merebut atensinya. Di atas sana, ia melihat Hinata panik, sambil terburu-buru menuju kamar. Ia tahu, Hinata melihat yang tak semestinya, dan itu membuat Sasuke kembali brengsek. Sangat brengsek, pria yang menyiksa, menghamili lalu bermesraan dengan perempuan lain tepat setelah melamar.

"Sial."

Sasuke mengumpat lalu berlari menuju lantai atas, meninggalkan Karin terlongo karena pria itu seperti sangat ketakutan.

Sementara Hinata sendiri sibuk mengondisikan Naoki yang tak mau tenang. Bayi itu seperti satu tubuh dengannya, merasakan betul apa yang dilalui sang ibunda. Hinata menyusui Naoki sambil sesekali mengusap air mata. Ada sedih tak terjelaskan yang menyiksa. Disaat Hinata merasa rendah diri, Sasuke justru menunjukkan betapa tak berharga perasaannya dengan bermesraan bersama perempuan lain. Ia mencoba tak terpengaruh, tapi tangis Naoki semakin membuat sedih, bayi itu tak lapar melainkan rindu ayahnya. Pada hari biasa, Sasuke lah yang meninabobokan Naoki karena memang sejak awal bayi beraut tampan tersebut terbiasa tidur di gendongan Uchiha.

Tiba-tiba Hinata merasa sangat lelah. Letih sekali karena hidupnya nyaris selalu dalam bayang-bayang. Hiashi hampir tak pernah memperlakukannya dengan lembut, yang ada hanyalah tuntutan menjadi sempurna. Menjadi perempuan cantik yang berpendidikan agar suatu saat bisa ditukar dengan menantu mapan yang bisa menguatkan bisnis keluarga. Lalu saat ia kira Sasuke menyelamatkan dari perjodohan mengerikan, Hinata justru terperosok lebih dalam. Hampir saja Hinata bunuh jika saja Naoki tak tumbuh di rahimnya. Sasuke memperlakukannya tak manusiawi, meninggalkan bekas pada tubuh dan hatinya yang entah kapan akan sembuh. Tanpa sadar Hinata terisak mengingat itu.

"Shh.. jangan menangis sayang. Mama sayang Naoki. Sangat sayang." Dipeluknya sang belahan hati, harta tunggal yang membuat Hinata merasa berharga, merasa dibutuhkan.

Hinata mengusap tangis, memejamkan matanya untuk meredakan resah. Ia tak boleh seperti ini, sudah ada Naoki dan seharusnya bisa menguatkan. Seorang ibu tak boleh lemah. Tapi kemudian, ingatannya terlempar pada kalimat-kalimat yang kembali menghancurkan ketegaran.

"Kau lihat pangeranku tadi? Ya Tuhan dia tampan sekali." Kalimat perempuan berambut keriting itu menarik perhatian Hinata.

"Sasuke? Ah dia kan sudah tampan sejak jaman kromosom. Sasuke itu sempurna, tubuhnya tinggi indah, kaya, popular, apalagi? Semua lelaki pasti bermimpi jadi dia." Balas teman di sampingnya. "Kekurangannya satu: dia seperti tak pernah puas dengan satu perempuan. Terakhir kudengar nona Haruno pindah ke LN karena frustasi diputus Sasuke."

Perih menyengat Hinata, ia ingat perempuan berambut merah yang Sasuke cium di depan matanya. Sekarang hanya tinggal cerita di kalangan para wanita. Bisa jadi, suatu saat dirinyalah yang menjadi buah bibir. Atau mungkin sudah?

"Kasihan sekali. Padahal mereka serasi ya."

Keadaan hati Hinata semakin tak karuan mendengar kalimat berikutnya. "Tapi kudengar dia juga menyimpan seseorang di sini. Pak Shin bahkan pernah mendengar suara tangis bayi. Bisa jadi itu anak Sasuke yang disembunyikan."

"Perempuan itu pasti idiot, mau saja dijadikan mainan taipan kaya macam Sasuke. Paling-paling untuk memuaskan hasrat sesaat, setelahnya dilempar lagi ke jalanan."

Kikik tawa mereka seperti duri yang menusuk-nusuk hati Hinata. Harusnya ia ingat posisi, siapa Sasuke dan dirinya. Sasuke, pria yang bisa mempermainkan apapun di genggamnya termasuk hati wanita, sedang Hinata, perempuan yang sudah tak memiliki apapun untuk berdiri tegak, terutama harga diri.

"Heh Sadako, kau menguping pembicaraan kita ya?"

Hinata tersentak mendengar bentakan yang ditujukan padanya. Air digenggamnya hampir tumpah, menunjukkan betapa terintimidasi ia saat ini. Benar sekali, Hinata tak ingat kapan terakhir kali sanggup berdiri untuk dirinya sendiri. Hidup sebagai objek obsesi membuatnya jadi pendiam yang selalu memilih bungkam.

"A-a maaf."

Mereka mengamati Hinata dari ujung kepala sampai kaki. Muda dan sangat cantik. Apa jangan-jangan gadis ini peliharaan Sasuke? Tapi penampilan Hinata kelewat sederhana, terlalu kumal untuk selera seorang Uchiha.

"Apa jangan-jangan kau… simpanan Uchiha Sasuke?"

Satu perempuan maju. Memegang rambut Hinata sambil mengamati tubuhnya, menerka apakah ia cukup layak menjadi simpanan Sasuke. Tapi observasi terhenti saat tawa kawan sebelahnya meledak.

"Haha jangan bodoh Sara. Mana mungkin Sasuke mau dengan gadis seperti ini." Tubuh Hinata terdorong ke depan dengan kasar. "Paling-paling hanya anak pembantu Sasuke."

"Benar juga. Masih cantik Sakura kemana-mana."

"Pergi sana. Kau mengganggu pemandangan."

Helaan nafas terdengar dari Hinata yang mencoba tenang. Namun sudut hatinya masih sangat sakit. Hari ini, setiap hari, seluruh hidupanya, adalah kesalahan. Mungkin ia lebih baik menghilang, mungkin semua akan baik-baik saja jika Hinata tidak di mana pun terutama sisi Uchiha Sasuke, mungkin paling baik Ia membawa Naoki pergi ke tempat yang sangat jauh.

Segala kemungkinan menguap di kepala Hinata saat pintu kamar terbuka. Memunculkan pria yang paling tak ingin ditemuinya saat ini. Namun yang mengejutkan, wajah Sasuke nampak lebih tersiksa darinya.

***
Lagi, jejak air mata di pipi Hinata sukses menakuti Sasuke. Ia takut kalau perempuan di hadapannya tak sanggup menanggung segala sakit lalu memilih pergi. Akan jadi apakah ia tanpa cahaya yang menerangi hidupnya? Neraka macam mana lagi yang harus Sasuke lalui jika Hinata menyerah, dan membawa Naoki yang seperti oksigen baginya? Tidak, Sasuke pasti berakhir menyedihkan tanpa mereka berdua. Hinata dan Naoki adalah harga mati.

Dengan seluruh kehormatannya, Sasuke berlutut di depan Hinata. Meraih tangan wanita itu dan menggenggam lembut, agar ia tahu bahwa Sasuke di sini merendahkan diri, bahwa tak ada lagi yang berarti selain Hinata. Tapi dibanding menangkap resah Sasuke, Hinata justru menunduk, menyembunyikan wajah cantiknya dari mata yang mengiba.

"Mereka bilang aku pemain perempuan, bukan? Yang tak puas hanya dengan satu Vagina dan membuangnya setelah bosan?"

"Mereka bilang aku tidak segan-segan menyiksa perempuan, dan menjadikan perasaan sebagai mainan untuk diinjak-injak?"

"Jawab aku Hinata… hm?" Ujar Sasuke lirih, seperti bisikan lembut. "Jawab Hinata. Agar aku tahu betapa brengsek dan tak pantasnya aku mendapatkanmu. Agar aku berhenti mencoba meluluhkan hati yang sudah tak berbentuk karena kuremukkan. Supaya aku berhenti berharap padamu, Hinata."

Hinata seperti tersengat listrik saat tangannya merasakan kehangatan yang lembut. Sasuke mengecupinya seolah takut jika dilepas, maka ia kehilangan sepasang tangan itu selamanya. Lalu tangan Sasuke yang lain merambat ke pipi Hinata, menghapus air mata yang masih mengalir di sana.

"Bukankah kau juga barusan melihatku memeluk perempuan lain. Bahkan membiarkan bibir kotor ini dikecup tanpa protes, bibir yang pernah memperlakukanmu dengan sangat hina?"

"Sadarkan bahwa aku ini makhluk menjijikan, Hinata." Suara Sasuke bergetar menahan ledakan emosional. "Aku tak layak mendapatkanmu, kan?"

"Tatap aku, Hinata."

Masih tak ada respon, dan ia takut Hinata benar-benar muak dan jijik padanya.

"Kumohon."

Deg

Satu kedua mata itu bertemu, ada sesuatu yang terpaut, emosi tak terpancar dari bola mata yang saling berbicara. Tiba-tiba Sasuke mengerti kesedihan Hinata, kediamannya selama ini dan perasaan sepi yang tak tersentuh. Sasuke belum lupa saat Hinata menemuinya dengan tubuh penuh bilur biru, bekas pukulan yang jadi jatahnya karena tak ranking satu. Perempuan ini sendirian, terasing dalam dunia yang mengungkungnya di bawah bayang-bayang. Sasuke melihat gadis kecil yang terluka dan berlari ke peluknya dengan tubuh gemetar. Gadis kecil itu hadir kembali, sosok pertama yang menguatkannya untuk melawan dunia. Gadis kecil yang Sasuke berjanji untuk melindunginya tapi justru disakiti tanpa belas kasih.

Hinata menatap Sasuke yang berkaca-kaca. Ia mengenalnya sebagai perasaan frustrasi, ketakutan lama yang ingin Hinata dekap. Tapi tak bisa, dirinya sendiri terlalu rapuh dan tak percaya. Tapi lagi, ia terperangkap dalam tatapan memohon itu. Ada lelaki kecil yang menyendiri dan tak tersentuh kecuali oleh cintanya. Bocah Uchiha yang dipukuli teman-temannya termasuk Neji, bocah tanpa dosa yang diperlakukan seperti hama. Ketika kristal air mata akhirnya menetes, Hinata pun merasakan kepedihan senada.

"Oh jangan menangis, Hinata." Sasuke duduk di ranjang, mendekapkan Hinata ke dadanya. Tentu dengan kelembutan yang takkan membuatnya berjengit takut. "Jangan menangis. Kau menyakitiku."

Berlawanan dengan kalimat Sasuke, Hinata justru kian terisak. Sentuhan Sasuke terasa berbeda kali ini, bukan monster mengerikan yang menimbulkan gigil, melainkan seperti yang selalu ia harap. Beberapa saat mereka berpelukan dalam hening yang nyaman. Sasuke mengusap-usap punggung Hinata, mengecupi pelipisnya seraya mengucapkan maaf berkali-kali.

"Maaf… maaf.. maaf."

Hening.

Tangis Hinata sudah reda. Tiba-tiba ia sadar sudah memeluk Sasuke terlalu lama. Canggung melanda, bagaimana bisa ia terlena dalam kehangatan tubuh lelaki itu, lagi. Namun saat hendak memisahkan diri, Sasuke justru mendekapnya lebih erat.

"Sebentar saja, hime."

"Kau tahu, mereka yang di luar sana adalah orang-orang sepertiku Hinata. Picik, kejam dan suka pamer. Seperti itulah duniaku. Mana boleh aku membiarkan gadis berhati bersih sepertimu bergabung. Aku menahanmu di sini sungguh bukan karena malu. Tapi semata ingin melindungimu dari perasaan tersakiti seperti ini."

"Perkara aku yang pemain wanita dan penjahat kelamin, kau tahu sendiri itu benar."

"Dan… dan… perempuan yang aku peluk tadi, namanya Karin."

"Tapi Hinata…" Sasuke melepaskan Hinata, membawa satu telapak tangan gadis itu ke dadanya. "Rasakan ini. Berdetak sangat cepat, bukan?"

"Hanya kau yang mampu membuatnya berdetak kurang ajar seperti ini. Sejak dulu."

"Karin adalah saudara jauhku, Hinata. Dia tinggal lama di USA jadi kurang ajar, berani-beraninya mencium bibir pria yang sudah menjadi ayah. Percayalah, itu bertegur sapa cara mereka."

Ada kebahagiaan aneh saat Sasuke menyebut dirinya ayah dengan nada bangga. Pria ini memang terbukti mencintai Naoki sangat dalam. Hinata tersentuh sedikit.

"Hinata, tatap aku sebentar saja."

Sasuke langsung mengunci tatapan Hinata, mengatakannya nyaris tanpa berkedip, dengan seluruh hati dan jiwa.

"Menikahlah denganku, Hinata. Beri aku kesempatan untuk mengembalikan kehormatanmu, untuk menjadi ayah Naoki sesungguhnya, untuk mengobati luka yang kutorehkan kelewat dalam. Menikahlah denganku, Hinata. Karena aku mencintaimu."

TBC