OK

Paperoheart

SoonHoon or SeokHoon?

Kwon Soonyoung & Lee Jihoon & Lee Seokmin

Angst maybe

Warning!

yaoi;boyslove;gaje;typo(s);others

.

Enjoy!


.

"Hyung yakin tidak mau diantar?" Jihoon tersenyum dan menggeleng. "Tidak"

Yang bertanya menghela napas. Entah kenapa bocah mungil ini benar-benar keras kepala.

"Lagi pula Seokmin-ah, Seungkwanie menunggumu" Yang kecil menggodanya. Mengerling pada pemuda gembul di depan pintu yang lalu merona.

"Hyung kau tahu sendiri—"

"—kau menyukai ku, ya aku tahu" Jihoon mendongkak menatap Seokmin. "Namun, ada pemuda manis didepan sana yang sangat rapuh. Ia lebih membutuhkan perhatianmu dari pada aku, lagi pula aku baik-baik saja" si mungil menepuk tegas pipi Seokmin. Lalu bergegas pergi, memeluk buku-bukunya.

Kau sendiri sangat rapuh hyung, sangat-sangat rapuh bukan?

Seokmin tersenyum miris. Menatap punggung pemuda ungu yang terus menjauh, ia tidak tega melihat tubuh mungil itu menyimpan rasa sakitnya sendiri.

.

.

"Jihoon hyung" itu Mingyu. Sedang memegang pundaknya erat dan menatapnya dalam-dalam.

"Aku tidak tahu masalah kalian berdua itu apa, tapi kumohon jangan sampai klub kita berantakan—"

"Mingyu, aku tahu" Jihoon terkekeh. Perlahan melepaskan cengkraman Mingyu di pundaknya. "Aku sangat tahu Mingyu-ya, hehe, kita baik-baik saja meskipun sudah tidak seperti sebelumnya"

Jihoon membenahi letak dasinya. Tersenyum pada Mingyu. Lalu tangannya kembali menulis lirik demi lirik yang ada dipikirannya.

"Aku tidak apa-apa jadi berhenti menghawatirkanku, hahaha" Jihoon tersenyum. Tapi tidak sampai mata, hanya tersenyum sangat tipis.

Mingyu tahu ada yang berbeda dari seorang Jihoon sekarang, dia memang pendiam namun semakin pendiam sejak Mingyu mendengar kabar bahwa Soonyoung dan Jihoon pegat. Ia terkejut tentu saja, pasangan yang terlihat baik-baik saja dan selalu manis itu tiba-tiba bercerai berai.

Ia seperti merasakan apa yang Jihoon rasakan, mau bagai mana juga Jihoon sudah ia anggap adik kecilnya walau faktanya ialah yang sebenarnya seorang adik.

"Okay Mingyu. Aku pergi, ada beberapa hal yang harus kuselesaikan di studio-ku. Selamat sore"

Lee Jihoon benar-benar berbeda, bukan hanya Mingyu yang berpikiran seperti itu karena semua anggota klub membenarkan pernyataan itu.

Sementara itu. Sang tersangka— Soonyoung, terlihat baik-baik saja.

Mingyu yakin ada sesuatu yang salah disini. Sangat yakin sekali.

.

Jihoon berlarian, matanya hanya tertuju kedepan. Decitan antara sepatunya dan lantai bahkan sampai terdengar.

Jihoon hyung. Soonyoung hyung terjatuh dan kakinya terkilir saat melakukan b-boy, tolong bawakan p3k di UKS. Thankseu

Pesan Minghao yang terus menghantuinya beberapa menit lalu membuatnya tidak tenang. Tangan kanannya mencengkram kotak p3k sementara tangannya yang bebas ia gunakan untuk menahan air-matanya saat ia berlari tergesa-gesa menuju ruang klub.

Napasnya terengah-engah ketika akhirnya ia berada didepan pintu biru langit.

Ia mengusap air matanya dan membenarkan cardigannya yang berantakan. Lalu membuka pintu itu, perlahan.

—yang langsung memperlihatkan Minghao yang tengah mengurut kaki Soonyoung sementara si empunya tengah duduk meringis di sofa.

"Jihoon hyung kau datang! Wah kau berlaricepat sekali, kupikir kau tidak akan datang" Minghao menghampirinya. Langsung mengambil kotak p3k ditangan Jihoon.

Sementara Jihoon masih berdiri mematung didepan pintu. Soonyoung tersenyum ketika mata mereka tidak sengaja bertemu. Hati Jihoon sakit sekali.

"Jihoon hyung masuk saja! Soonyoung hyung itu memang keras kepala ya hyung, sudah kubilang— Loh? Jihoonie hyung?! HYUNG!"

Si kecil itu berbalik dan langsung pergi. Mengacuhkan teriakan Minghao yang memanggil namanya. Dan langsung terjatuh lemas di belokan pertama.

Menangis dalam diam. Namun isakannya masih terdengar. Tidak dia sudah berjanji bahwa ia tidak akan menangis lagi. Tapi hatinya sakit. Sakit sekali sehingga rasanya mau copot.

Kalau seperti ini ia tidak ingin punya hati. Tidak ingin.

"Tidak apa hyung, aku disini. Jangan menangis, tidak apa. Kau sudah berjanji padaku bukan?" Seokmin menuntunnya berdiri dan memeluknya. Membuat sikecil tenggelam dalam pelukan sepihaknya itu.

"S-seokmin-ah, aku tidak— huaa"

Tangisannya benar-benar pecah. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Hatinya terlalu sakit, dia tidak tahan. Tidak kuat menjalani ini semua.

"Sst— aku disini ok? Kau akan baik-baik saja ketika bersamaku"

Jihoon menghela napas dan mecoba tersenyum. "Ok" meski satu air matanya menetes tanpa sadar.

Seokmin sadar, bahwa Jihoon tidak mungkin ia gapai. Tidak apa, asal seperti ini terus, Seokmin tidak apa. Karena Jihoon memang tidak di takdirkan menjadi miliknya.

Atau mungkin iya.

.

.

Jihoon menyamankan dirinya pada ranjang. Membuka lockscreen Handphone nya lalu berfikir keras.

Mengetikkan beberapa kata. Harus kah ia mengirimnya? Melihat bulatan hijau dipojok atas bar itu kemudian.

Kwon Soonyoung is Online

Jihoon: Soonyoung?

Untuk apa mengirimmnya seperti ini? Haha. Lucu kau Lee.

Jihoon: Malam Soonyoungie, sedang apa?

Gila. Mereka sudah berpisah.. haha.

Jihoon: Hai.

Enter.

Jihoon buru-buru menutup matanya. Namun beberapa detik kemudian bunyi Ting keras terdengar. Oh tidak.

Soonyoung: Hai :)

Tidak ini tidak benar. Tapi Jihoon tidak bisa menahan dirinya. Tidak bisa terus menahan dirinya yang seperti ini.

Jihoon: Sedang apa? Apa aku mengganggumu?

Bagus Jihoonie, berlagaklah normal. Walau air matamu terjatuh dan merembes ke bantal, tetaplah terus mengetik. Soonyoung tidak melihat ini jadi semuanya baik-baik saja.

Soonyoung: Sedang istirahat nih, sendirinya? Tenang saja aku tidak sibuk Jihoonie Hehe

Si ungu tidak bisa menahan lagi. Ia menangis keras, berteriak. Mendekap erat Handphone-nya. Setelah menstabilkan napasnya. Membuka Lockscreen bergambar bintang biru dan mengetikkan sesuatu.

Jihoon: Istirahat yang cukup Soonyoung, sebentar lagi kita tampil bukan. Aku? Sedang tidak melakukan apa-apa

Ting!

Soonyoung: Ahahaha~ benar-benar tidak berubah, Jihoonie. Tetap seperti Jihoonie yang dulu.

Setelah membaca itu, Jihoon rasa semua ini tidak benar. Mereka sudah berpisah namun Soonyoung masih tetap memanggil namanya dengan manis. Dan juga membalas pesannya seperti biasa.

Rasanya seperti kemarin-kemarin.

Namun mereka sudah berpisah. Ini tidak benar! Benar-benar tidak benar.

Kemudian Jihoon terlelap tanpa ingin membalas pesan itu. Berharap bahwa ia bisa melupakan masalah ini sejenak.

Ting!

Soonyoung: Aku merindukanmu Jihoonie.

.

.

"Hyung, tidak bisa kah kau berhenti mempermainkannya?" Seokmin mengepalkan tangannya.

"Apa yang kau mak—"

"Kau tidak sadar apa yang telah kau lakukan?"

"Seokmin aku—"

"kau tidak sadar telah menyakiti hati seorang peri kecil seperti itu?" Nada dalam kalimatnya mulai melemah. "Kau tidak sadar telah menyakitinya?"

"Seokmin dengar. Aku tidak menyakiti Jihoon, kami berpisah secara baik-baik—"

"Kau mempermainkannya! Apa kau tidak lihat tubuhnya yang mungil itu semakin kurus saja?! Apa kau tidak tahu ia menangisimu sepanjang malam?! Kau itu punya hati atau tidak! Berhenti saling bertukar pesan, kau benar-benar bajingan"

Seokmin berlalu. Namun Soonyoung masih mematung ditempatnya semula. Dengan napas tertahan dan ekspresi terkejut.

Ia berbalik, menatap Soonyoung yang masih dalam keadaan terkejutnya.

"Dengar hyung, ambil dia kembali jika kau masih mencintainya. Jika tidak, aku akan mengambilnya dan tidak akan pernah memberikannya padamu lagi"

.

.

Jihoon: Soonyoung, cermati baik-baik. Kau membuatku benar-benar bingung. Kita sudah berpisah tapi kau tetap memperlakukanku seperti biasanya. Kau membuatku tidak bisa melupakanmu. Soonyoung, berhenti membalas pesanku walau aku mengirimnya kepadamu. Kita harus berhenti bertukar pesan sampai keadaan kembali normal, aku masih mencintaimu dan itu tidak normal.

Jihoon mengusap air matanya dan tersenyum. Setidaknya ia lega untuk sekarang. Lalu matanya terpejam.

Ting!

Soonyoung: Ok :)

.

.

.

TBC/END?


Note: Update kilaatttt Update kilaaattttt Karena sebentar lagi TO dan saya harus Update kilaattttt. Bruakakakak. Sementara sara TO. Semua fanfic saya Hiatuskan 2 minggu yaaaa~~ muah.

Note(2): Saya bimbang sangat. Mau nulis Ff ini seperti ga ada feelnya. Memang seharusnya SoonHoon itu tidak boleh berpisah *nahloh* Tapi saya tetap akan membuat Fanfic ini Sad ending wakakak. Tidak ada penolakan.

Note(3): Disini Seokmin itu terlalu sayang sama Jihoon, yup, semua orang sayang sama Jihoon. *angkat banner* saya benar-benar terpesona oleh ketampanan Seokmin yang secerah matahari.

Note(4): Soonyoungie~ Maaf-kan aku, tapi di sini Sifat Soonyoung akan sulit ditebak. Dan akan ada beebrapa konfli serta complicated karena berbelit-belit dan alurnya maju-mundur. Sepetinya sih, tapi untuk alur belum pasti begitu.

Note(5): Saya ga sabar nunggu One Fine Day. Aaaa Seventeen Jjang!

Note(6): Kehidupan Roleplayer yang menuuntun saya untuk menulis seperti ini. Tolong jangan bacok atau bunuh saya. Cause Sad ending. Karena di cerita sesungguhnya memang tidak ada yang besatu..

Note(7): Gong Si Fat Cai! (ini benar tulisannya?)

Paperoheart. Luvluv~