Mom Is Home
. . ..
Setelah selesai video calling dengan ibunya. Luhan segera merebahkan tubuhnya di atas kasur tanpa ada niat untuk tertidur. Ia meletakan tab kesayangannya di samping bantal. Suatu kebiasaan jeleknya kalau tidak ada ibu. Tapi kalau ada ibu, Luhan mana berani. Ibu itu kan paling cerewet kalau Luhan tidak mentaati peraturan yang ia buat.
Kata ibu, ibu akan pulang malam jumat. Dimana besoknya Luhan sudah libur akhir pekan. Dan dia pasti diizinkan untuk ikut menjemput ibu di bandara. Pasti ibu bawa banyak oleh-oleh. Tetapi dibandingkan memikirkan oleh-oleh apa saja yang dibawa ibu, Luhan malah ingin langsung memeluk tubuh ibu karena dia sangat rindu pada ibunya.
Hiks.. Hiks..
Luhan mendengar suara tangisan. Dia tidak mau berpikiran Macam-macam , karena ibu melarang Luhan nonton film horror. Dan ibu paling benci yang namanya film horror.
Aku pasti salah dengar, pikirnya. Bocah 9 tahun itu Memberanikan diri mendekati pintu kamarnya yang tertutup. Dengan langkah pelan ia berniat untuk mengintip seseorang yang mungkin saja tengah menangis di depan kamarnya.
Saat ia mengintip, dia nyaris saja terjungkal. Bagaimana tidak? Di depan kamarnya ada paman Chanyeol yang sedang duduk sambil menonton film drama dari ponselnya. Dan yang membuat dia menangis adalah... TOKOH TAMPAN DALAM DRAMA ITU MENINGGAL. Astaga.. Luhan mendengus pelan. Paman ini alay atau gimana sih?
"Paman Chanyeol ngapain di sini?" tanya Luhan.
Paman Chanyeol terkejut bukan main. Buru-buru menghapus airmatanya lalu cengengesan seolah tidak terjadi apa-apa.
"Tadi tuh hyung mau masuk ke kamar Lulu. Karena hyung mau tidur di kamar Lulu saja. Soalnya kamar hyung AC nya mati" ujar paman Chanyeol.
Kamu ini kan pamanku, Luhan berkata dalam hati.
"Boleh, ya? Hyung gak ngompol kok" paman Chanyeol menatapnya dengan tatapan kucing terbuangnya.
"Yasudah.. Tapi jangan mendengkur ya! Berisik" kata Luhan jutek.
.
.
Pagi harinya, seperti biasa. Ayah bangun lebih dulu, dan sudah rapi dengan setelan kerjanya. Sebelumnya ayah akan menyiapkan Sarapan untuk Luhan dan pamannya selama bibi Bong mengunjungi rumah saudaranya di Ulsan. Katanya cuma seminggu. Tapi rasanya lama betul. Dan Luhan sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk mencicipi Masakan buatan ayahnya. Yang rasanya, bahkan daging bacon gosong jauh lebih enak dibandingkan masakan ayahnya.
Kalau boleh dibilang, Rasanya seperti daging kudanil. Tapi sayangnya, Luhan tidak pernah makan daging kudanil. Jadi dia tidak tahu, enakan daging kudanil, atau daging giling saus tomat buatan ayahnya yang kata ayah mirip masakan di restoran. Padahal melihat bentuknya saja, Luhan miris.
"Hyung, ini apa?" paman Chanyeol menatap ngeri ke arah piringnya.
"Itu daging giling saus tomat. Rasanya enak kok" kata ayah. Dia menyendok daging giling itu ke mulutnya. "hmm.. Enak sekali"
"Bentuknya menyayat hati" celoteh Luhan.
Paman Chanyeol menahan tawa. Tapi Luhan masa bodo amat. Dia tetap duduk dan menikmati sarapannya.
"ayah" Luhan kembali bersuara setelah mencicipi makanannya. "Ini terlalu banyak garam, jadi asin"
Mendengar komentar Luhan. Paman Chanyeol ikut mencicipi. Dia langsung memasang ekpresi anehnya. Lidahku kelu.. Lidahku kelu, pikirnya.
"Hyung tahu tidak?" Paman Chanyeol berkata, setelah menyelamatkan lidahnya dengan segelas air.
"Tidak tahu" sahutnya acuh.
Paman Chanyeol menggembungkan pipinya. Tapi benar juga. Bagaimana ayah bisa tahu kalau paman Chanyeol belum memberitahukan sesuatu pada ayah. Luhan masih setia memakan sarapannya denga khidmat. Dia tidak boleh mengecewakan ayah kalau ayah sudah rela bangun pagi hanya untuk membuatkannya sarapan.
"Kalau orang masakannya asin berarti dia ingin cepat-cepat menikah" celoteh paman Chanyeol.
Ayah nyaris tersedak kopinya. "Itu hanya mitos, yeol" kata ayah, disela-sela batuknya.
"Siapa tahu saja, hyung.." kata paman Chanyeol. Dengan iseng ia bertanya pada sang keponakan. "Lu, Lulu mau gak punya ibu baru lagi?"
Ayah yang mendengar hal itu lantas mengeram kesal. Astaga, adiknya ini polos atau oon sih?
"Tidak" sahut Luhan. "Ibu Jongin saja sudah cukup kok untuk Lulu"
Anak pintar, pikir ayah. Eh.. Lho? Tadi dia bilang apa?
"Kalau gitu, Lulu mau punya ayah lagi?" Paman Chanyeol kembali bertanya. .
Nah kalau ini, ayah kepo. Gimana sih tanggapan anaknya kalau punya ayah atau ibu baru lagi?
"Tidak" katanya, menggeleng. "Tapi kalau ibu dan paman Minho berjodoh juga tidak apa"
"Ekhem" ayah berdehem. Pembicaraan anaknya ini sudah terlampau batas untuk anak seusianya. Siapa sih mengajari Luhan soal Jodoh? Sehun yakin, pasti putranya ini bahkan tidak tahu apa artinya jodoh. "Bisa langsung dihabiskan? Kita bisa terlambat nanti"
Ayah cemburu? Pftt..
.
.
Untuk kesekian kalinya Luhan menggerutu. Ia melirik jam bermotif jaring laba-laba yang dibelikan ibu 2 bulan yang lalu. Ia mendengus pelan saat tahu jam sudah menunjukan pukul 3 sore. Itu tandanya dia sudah menunggu selama 2 jam penuh hanya untuk melihat dua orang namja tengah ber-lovey dovey mengabaikan keberadaannya.
"Paman Chanyeol" ia memutuskan untuk memanggil sang paman. Dimana pamannya terlihat menoleh dan menggembungkan kedua pipinya.
"Ada apa, Lu?"
"Ayo pulang!" ajaknya.
Wajah juteknya membuat beberapa anak-anak kecil yang tengah bermain di taman itu ketakutan untuk mendekat. Wajah ayahnya lebih mendominasi dirinya dibandingkan wajah ibu. Padahal kalau boleh memilih, Luhan ingin mirip ibu saja biar Minseokie hyung jatuh hati padanya. Ughh..
Paman Chanyeol melirik cowok di sampingnya. Si alis tebal itu seolah mencegah paman Chanyeol untuk segera pulang.
"Nanti saja, Lu.. Ini baru jam berapa" kata paman Chanyeol. Lupa, kalau hari ini adalah hari jumat. Dan Lulu sudah janji sama ibu kalau ia akan menjemput ibunya di bandara.
Si alis tebal menyeringai ke arah Luhan. Membuat Luhan mendengus lagi.
"Ihh.. Kris hyung kalau senyum begitu terlihat tampaaaann" puji Paman Chanyeol.
Tampan dari mana? Mungkin seringai setan itu terlihat menawan di mata Paman Chanyeol. Tetapi melihat gayanya si alis tebak yang sok ganteng itu, Luhan jadi muak. Apa banget sih? Kata ibu, Luhan itu anak paling Tampan. Ayah saja kalah!
"Kalau paman gak mau pulang. Lulu pulang sendiri saja" ancam Luhan. "Soalnya Lulu mau jemput ibu di bandara"
What? Eh... Iya ya.. Kan hari ini Jongin hyung pulang ke Seoul. Paman Chanyeol menepuk keningnya pelan.
"Sayang?"
"Aduh.. Maaf.. Maaf banget hyung" ucapnya. "Hari ini Jongie hyung pulang.. Kami musti buru-buru pulang"
Si alis tebal menarik napas pelan. "Baiklah..mau aku antar?"
Idih.. Sok gentle banget. Luhan memutar mata bosan. Dia segera menarik tangan pamannya dan melempar death glear menggemaskannya. "Tidak usah.. Kami bisa pulang sendiri" Luhan memanyunkan bibirnya.
...
Ayah dengan wajah datarnya itu sudah biasa. Jadi kalau ayah tiba-tiba saja tersenyum dengan wajah berseri itu baru luar biasa.
Ada apa?
Jawabannya cukup simple. Waktu di bandara, paman Minho menawarkan diri untuk mengantar Lulu dan ibu pulang. Namun ibu menolak halus dan lebih memilih Untuk pulang bersama ayah dan paman Chanyeol.
"Ibu.. Ibu.." Luhan dengan senyum cerianya membuat sang ibu terkekeh. Aigoo, putranya makin hari makin tampah saja.
"Ne.. Ada apa, Lu?" tanya ibu.
Ibu duduk sambil memangku putranya yang tiba-tiba saja manja ingin dipangku. Sementara di sampingnya paman Chanyeol ikut menoleh penasaran apa yang hendak diceritakan bocah 9 tahun itu.
"Kemarin kan, ayah memasak untuk kami" Luhan memulai cerita.
Ibu terkejut mendengarnya. Pasalnya, Mantan suaminya yang tampan itu paling anti yang namanya masak. Ah, mungkin seiring bertambahnya usia, mantan suaminya itu jadi berpikiran lebih dewasa dan mencoba menjadi sosok ayah yang baik Untuk putra semata wayang mereka.
"Wah, benarkah?" Ibu pura-pura heboh. "Apa Lulu suka masakan ayah?"
"Tidak" Luhan menggeleng pelan. "Lulu terpaksa makan karena hanya itu yang ada di meja makan"
Pfftt... Paman Chanyeol menahan tawa. Sementara ayah yang tadinya merasa melayang karena dipuji-puji, langsung terlihat masam. Seolah diangkat-angkat ke atas, lalu dihempaskan begitu saja ke bumi. Dan mirisnya lagi, pelakunya adalah buah hatinya sendiri. Kasihan, Sehun :(
"lho, memangnya kenapa?" ibu bertanya lagi.
"Lulu minta dibuatkan springrolls, tapi ayah malah buatin lulu dadar gulung. Rasanya asin sekali, Lulu gak suka" pintar sekali anak ini mengadu
Lah, ayah mana tahu macam-macam makanan dan cara membuatnya. Yang ayah bisa itu cuma bikin mie instan dan ramen-ttang mentega saja (itu juga gosongT. T). Tapi kalau Lulu minta dibuatkan adik yang lucu, ayah ahlinya. Hasilnya pun tidak akan mengecewakan.
"Tapi Lulu suka kan tinggal sama ayah?" giliran paman Chanyeol yang bertanya.
Lulu mengangguk lucu. Saat itu ibu Jongin berpikir, memang sudah waktunya bagu Lulu kecilnya itu dekat dengan ayahnya. Mengingat selama 8 tahun ini Lulu tinggal bersamanya, dan Sehun yang meski Jongin tidak melarang dirinya bertemu Lulu. Dia itu jarang sekali berkunjung.
"Waktu Lulu demam, ayah yang merawat Lulu" kata Lulu. "Pokoknya ayah jjang!"
Sementara ayah yang sedang mengemudi itu tersenyum tipis. Dia tidak tahu kalau putranya bisa Jadi hyperactive saat ada ibunya. Padahal yang ayah tahu, Lulu itu jutek banget anaknya.
"Kalau paman Chanyeol bagaimana?" tanya ibu.
Luhan menoleh ke arah sang paman. Lalu menggerucutkan bibirnya lucu. "Paman Chanyeol baik kok. Tapi Lulu suka kesal, paman Chanyeol suka lupa sama Lulu kalau ada kakak alis tebal"
"Alis tebal?" ayah dan ibu bertanya. Keduanya terlihat salah tingkah. Ayah berdehem dan lebih memilih fokus mengemudi.
"Iya, alis tebal" kata Luhan. Mengabaikan paman Chanyeol yang bersemu saat Luhan menceritakan acara kencan paman Chanyeol dengan kakak alis tebal yang sok keren itu.
"Yeollie sekarang sudah besar, ya" ibu menggoda paman Chanyeol.
Paman Chanyeol mengeratkan pelukannya pada boneka koala pemberian ibu. "Hyung~ berhenti menggodaku" rengek paman Chanyeol.
.
.
"Sehun, dimana bibi Bong?" Ibu melangkah di samping ayah. Sementara Lulu sedang tidur di punggung ayahnya. Ah, anak ini kalau tidur benar-benar mirip malaikat.
"Bibi Bong pergi ke Ulsan selama seminggu. Mungkin senin sudah pulang" jawab ayah.
"Aku sudah menyiapkan kamar tamu untukmu, btw" Ayah berkata.
Ibu mengulum senyum dan berkata kalau ia bisa tidur dengan Lulu selama di sini. Karena sudah terlalu malam, jadi ibu harus menginap di rumah ayah. Karena ibu tidak akan meminta ayah mengemudi di malam hari. Dan ayah pun tidak akan membiarkan ibu dan Lulu pulang ke apartemennya larut malam begini.
"Waktu dia sakit dia terus menyebut namamu" kata ayah, mulai bercerita. Dia sudah merebahkan tubuh mungil putranya di atas kasur.
Ibu yang sedang membuka kopernya menoleh. "Aku juga tidak tenang berada di Australia selama itu. Makanya aku mempercepat pekerjaanku di sana agar aku bisa cepat pulang"
"Aku mengerti kok" kata ayah. "Ini pertama kalinya kamu meninggalkan Lulu begitu lama. Tapi kamu hebat, menyelesaikan pekerjaanmu yang harusnya 2 bulan jadi 3 minggu. Aku tahu pasti itu sangat melelahkan"
Ibu terkekeh. "Begitulah.. Aku sangat berterimakasih padamu, hun"
"Tidak perlu sungkan" ayah tersenyum. Melihat wajah manis mantan istrinya itu membuat ayah banyak tersenyum hari ini. "Eh.. Kamu lapar?"
"Lapar.. Kamu pasti mau memasak untukku ya?" Ibu menoel bahu ayah, sambil tertawa jahil.
"Pede banget sih" sahut ayah. "Aku juga lapar, siapa tahu saja kamu mau masak untuk aku juga hehehe"
Ibu menatap ayah tanpa ekpresi. Dasar aji mumpung. "Sana, ah!" seru ibu kesal.
"Eh, Bear.. Mau kemana?"
"Mau mandi" sahut ibu. Sambil berjalan dengan bathrobe tersampir di pundaknya.
"Masih pakai baju begitu?" ayah menunjuk kemeja ibu.
"Bukanya di dalam saja" Ibu menyahut, malu.
Ayah menyeringai. "Kamu pasti malu ya? Kenapa harus malu? Aku kan pernah melihatnya"
"Cih, dasar mesum!"
Ayah tertawa terpingkal-pingkal. "mau ikut boleh?"
Ibu melepas sandal rumahnya dengan death glare mematikannya. "Belum pernah Lihat sandal melayang, ya?"
"Galaknya" sahut ayah.
Ibu merenggut kesal dan segera masuk ke dalam kamar mandi Lulu. Sementara ayah masih di samping tempat tidur seraya memperhatikan wajah damai putranya.
"Kau tahu, Lu? Ibumu itu galak banget sama ayah" Ayah berkata, mulai curhat dia. Tapi kemudian ayah tersenyum. "Tapi ibumu jadi semakin manis kalau sedang marah-marah, hehehe"
Ayah mengecup kening Lulu, dan berlalu dari kamarnya. Entah hendak kemana namja 30 tahun itu pergi. Mungkin menonton TV. Atau membuat kopi? Siapa yang tahu.
Tanpa ayah sadari, Lulu terbangun dengan tatapan yang sulit diartikan. Alasan mengapa ayah belum punya pacar setelah lama berpisah dengan ibu, mungkin saja..
"Ayah masih cinta ibu" Lulu berkata pelan.
Mungkin saja memang begitu adanya...
