Disclaimer :

Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi

Genre : Famiy, Romance, fluff

Rating : T

Original story by Miichan

Apabila terdapat kesamaan semua hanya kebetulan dan ketidaksengajaan semata.

Warning :

Shounen ai

Out of Character

AU

Mpreg

.

.

"Sebagian dari kesempurnaan di dunia adalah memiliki keluarga yang bahagia."

Ada yang mengatakan bahwa Keharmonsan keluarga terletak pada sikap tanggungjawab dan komunikasi yang sehat di antaraanggota keluarga.

Akashi Seijuurou sejak kecil telah dididik untuk bertanggung jawab sebagai seorang pemimpin. Dengan kecerdasannya juga wibawanya dia mampu menjadi pemimpin berbagai organisasi di sekolah hingga kampusnya. Menjadi kapten dalam tim basketnya memimpin timnya menuju kemenangan. Dan sekarang menjadi pemimpin dalam perusahaan milik keluarganya membuat Akashi Corp menjadi perusahaan yang menguasai ekonomi Jepang.

Namun Akashi Seijuurou sama sekali tidak diajarkan untuk menjadi pemimpin dalam keluarga. Menjadi seorang suami dan ayah adalah hal yang sebelumnya sama sekali tak terbayangkan akan terjadi padanya.

Kalimat bijak dari legenda Bisnis hiburan anak terbesar didunia, Walter Disney Selalu berputar di kepalanya bagaikan sebuah pengingat

"a man should never neglet his family for business"

(Seseorang seharusnya tidak pernah mengabaikan keluarga karena bisnis.)

Karena itulah Seijuurou berusaha membagi waktunya, untuk keluarga dan mengurus perusahaan.

Walaupun Tetsuya dan Seishirou bisa mengerti, Tapi Seijuurou paham, semua kembali pada kesadaran dirinya sendiri. Sekali dia lengah dan terlalu fokus pada pekerjaan, maka dia akan kehilangan keluarganya. Dan dia tidak ingin itu terjadi.

Seijuurou berusaha menjadi kepala keluarga yang baik. Dengan menyempatkan mengobrol dengan anaknya setiap makan malam, jika tidak sedang lembur atau keluar kota.

Menemaninya bermain ketika libur.

Seperti yang dia lakukan sekarang ini. Seijuurou sejak tadi memperhatikan anaknya yang tampak tidak bersemangat seperti memikirkan sesuatu. Entah kenapa akhir-akhir ini sering terlihat murung.

"Kenapa wajahmu di tekuk begitu ?" Seijuurou melihat kearah Seishirou yang masih sibuk menyuapkan makanan ke mulutnya, tampak tidak berselera.

Seishirou menoleh ke ayahnya dengan tatapan lesu."Otou-san, ini sudah lewat lama sekali sejak hari natal"

Alis Seijuurou bertaut "Lalu apa masalahnya ? "

"kenapa santa belum memberiku hadiah natal ?"

Seijuurou tahu, sebenarnya santa bukanlah makhluk nyata, tentu saja hadiah yang diterima anak - anak ketika hari natal adalah hadiah dari orang kemudian mereka mengatakan bahwa hadiah yang mereka dapat adalah pemberian santa. Lalu hadiah apa yang anaknya ini inginkan ? Mengingat dia sudah membelikan banyak mainan untuknya.

"Kau meminta apa memangnya ?"

Tanya Seijuurou pada Seishirou.

"Adik" jawabnya dengan nada datar.

"Uhuk.. Uhuk.. ! " tiba-tiba Tetsuya yang duduk di Samping Seijuurou tersedak makanan yang di santapnya.

Seijuurou tersenyum geli melihat istrinya " Pelan-pelan, Tetsuya " Seijuurou menepuk pelan punggung Tetsuya kemudian memberi segelas air putih.

"Maaf" ucap Tetsuya sambil menerima gelas dari Seijuurou, kemudian meminum airnya hingga tersisa setengah.

Satu ide terlintas di kepala Seijuurou, kemudian mencondongkan tubuhnya pada pada anaknya.

"Seishirou, Kau tahu kenapa santa tidak memberimu hadiah ?"

Seishirou memiringkan kepalanya. "Memangnya kenapa Otou-san ?"

Sang ayah menyeringai jahil "Santa hanya memberikan hadiah pada anak yang berbuat baik."

"Aku selalu kan berbuat baik, aku selalu membantu Okaa-san." ucapnya dengan nada tidak terima, karena selama ini sudah menjadi anak baik seperti yang diajarkan ibunya. Lalu dia harus berbuat baik yang seperti apa baru santa memberikan hadiahnya.

"Tapi kau tidak pernah membantu Otou-san, buktinya kau selalu mengganggu acara berduaan Otou-san dan Okaa-san."

"Hah ?" anak itu bergumam tanda tak mengerti.

"Sei-kun, kalau kau bicara aneh lagi, aku tidur dengan Shirou-kun, malam ini."

"Ck, baiklah.." Seijuurou mendecak sebal. Padahal masih ingin mengerjai anaknya, sekaligus menyampaikan isi hatinya yang selama ini dia pendam, berharap Tetsuya akan peka.

"Lagipula hadiahmu itu sudah datang, hanya saja kau harus menunggu sedikit lama untuk bisa melihatnya." Seijuurou berkata dengan senyum penuh arti.

"Benarkah ? Mana Otou-san ?" tanya Seishirou dengan antusias.

"Ini !" Seijuurou menyentuh permukaan perut Tetsuya yang masih datar.

Sementara disampingnya Tetsuya menoleh dengan tatapan yang seolah berkata 'apa maksudmu ?'

Kedua alis anak itu berkerut "mana Otou-san ? itu kan perut Okaa-san ?" Tanya Seishirou, Masih belum paham dengan ucapan ayahnya.

"Iya, dia sedang ada ada di sini, dia akan keluar jika sudah saatnya."

"Aku tidak mengerti "

Jawab Seishirou dengan jujur dengan menggelengkan kepalanya.

"Adikmu ada di sini, di dalam perut Okaa-san. "

"Kenapa adikku harus ada diperut Okaa-san ?"

"Karena memang di sini tempatnya sebelum adikmu lahir, Seishirou ." ucap Seijuurou dengan gemas.

"Sensei pernah bercerita katanya kalau adik laki-laki itu berasal dari buah persik, kalau adik perempuan berasal dari pohon bambu, apa sensei sudah berbohong padaku Otou-san ?"

Seijuurou mendengus,bisa-bisanya anaknya percaya pada dongeng seperti itu. "Kau pikir adikmu itu Momotarou atau putri Kaguya ? Itu hanya dongeng anak-anak, buah persik dan pohon bambu Hanyalah kata kiasan yang melambangkan seorang ibu. Jadi kalau kau mencari buah persik ataupun pohon bambu untuk mendapatkan adik, maka ibu lah orangnya."

"Jadi kalau aku minta pada Okaa-san, aku bisa punya adik Sekarang, ? Ucapnya penuh harap.

"Punya adik itu tidak seperti saat kau ingin mainan, kau harus menunggu sampai sembilan bulan. Baru kau bisa melihatnya."

"Hee ? Kenapa begitu ?" nada Seishirou terdengar kecewa karena dia tidak bisa langsung mendapat adiknya.

"Karena janin itu memerlukan waktu untuk tumbuh sebelum lahir ke dunia."

"Janin itu apa, Otou-san ?"

"Janin adalah bayi yang masih di dalam kandungan, kau dulu juga merupakan janin saat masih dalam perut Okaa-sanmu." Seijuurou mulai lelah meladeni anaknya.

"Terus janin itu asalnya dari mana ?"

"Eh ? Itu dari.. " Wajah Seijuurou yang biasanya tenang kini terlihat bingung. Bagai mana dia menjelaskannya ?

Tak ingin pembicaraan mengarah menuju hal yang menodai pikiran polos anaknya, Tetsuya pun mencoba mengalihkan perhatian bocah itu. Kebetulan saat ini jam tayang acara kartun kesukaan anaknya. "Seishirou-kun, kau tidak menonton tuan Thomas ? sekarang dia pasti sudah menunggu "

"Ah, iya, aku lupa Kaa-san " Seishirou dengan sekejap mata turun dari kursi lalu berlari menuju ruang televisi.

"Oi bocah, jangan lupa setelah itu belajar, kau tidak akan aku belikan mainan jika nilaimu kurang dari seratus. " Seijuurou mengingatkan anaknya.

"Ha'iii... !" Teriak Seishirou sambil berlari.

Kini tinggal mereka berdua di meja makan, Seijuurou meneruskan makan malamnya yang sempat terhenti gara-gara harus menjawab pertanyaan anaknya.

"Terima kasih telah menolongku Tetsuya."

"Sei-kun, apa kita perlu mengadopsi anak ?" Tetsuya bertanya menatap Seijuurou.

"Kenapa kita harus adopsi ?, sedangkan kita bisa membuatnya sendiri." Ucap Seijuurou dengan enteng. Membuat Tetsuya ingin membungkam mulut Seijuurou dengan nori.

"Tapi tadi kau berbohong pada Shirou-kun kalau dia akan segera punya adik, padahal aku tidak hamil."

"Aku tidak berbohong, aku yakin sekarang kau sedang hamil." katanya penuh keyakinan. Benar-benar Tipikal Akashi Seijuurou sekali.

"Atas dasar apa kau bilang begitu, sei-kun.?" Tetsuya masih belum percaya pada perkataan Suaminya.

"Bukankah sudah jelas, kita membuatnya selama seminggu penuh, aku tidak menggunakan pengaman, kau juga tidak minum obat pencegah kehamilan."

Sekarang Tetsuya benar-benar ingin menmberikan sentuhan 'lembut' pada wajah laki-laki merah disampingnya dengan Ignite pass.

"Ta-tapi kan.." Tetsuya bisa merasakan pipinya semakin memanas, dan pasti wajahnya sudah sangat merah seperti kepiting rebus. Seijuurou yang gemas melihat Tetsuya pun mencuri satu ciuman dari bibir istrinya.

Seijuurou mengedip nakal "Aku selalu benar, Tetsuya. Kita lihat saja nanti, "

.

Dan benar saja dua minggu kemudian Tetsuya merasa mual, badannya terasa lemas serta kepalanya sangat pusing. Setelah di periksa ternyata sudah terdapat janin yang berusia empat minggu calon anak kedua mereka. Dipastikan Tetsuya harus beristirahat total.

Seijuurou masuk ke dalam kamar sambil membawa nampan yang berisi semangkuk bubur yang masih hangat. Sementara Tetsuya masih berbaring di tempat tidur akibat morning sickness yang dialaminya.

"Maaf, aku jadi merepotkanmu, Sei-kun."

"Tidak ada yang repot kan oleh seorang ibu yang sedang berjuang mengandung anaknya, Tetsuya." Ujar Seijuurou sambil menyuapkan bubur pada Tetsuya.

"Tapi, kau jadi harus mengurusku dan Seishirou-kun."

"Tidak masalah, aku senang melakukannya, lagipula dia juga sudah bukan balita yang tidak bisa melakukan segala sesuatu sendiri."

Seijuurou berdiri diambang pintu. Sebenarnya berat meninggalkan Tetsuya yang sedang hamil muda dirumah hanya dengan para pelayan, tapi pekerjaan yang tidak bisa ditinggal membuatnya harus pergi ke Kyusu untuk tiga hari ke depan.

"Dengar, kau harus menjaga Tetsuya selama aku tidak ada. Apa kau bisa melakukannya. ?" Seijuurou berkata sambil menepuk pundak Seishirou. Kedua pasang mata heterokrom saling memandang penuh keseriusan.

"Tenang saja Otou-san, Serahkan padaku." ucap Seishirou penuh keyakinan.

"Bagus. Otou-san berangkat dulu."

"yes, sir"

.

Kehamilan kali ini terasa lebih mudah bagi Tetsuya. Meski baru tiga bulan Tetsuya tidak terlalu merasakan kehamilan pertama, dimana hormonnya sering tidak stabil, kali ini dia lebih tenang. Tetsuya hanya merasa mual di pagi hari, yang biasanya akan membaik saat siang.

"Sepertinya anak kita kali ini akan mirip denganku, sei-kun" Tetsuya berkata sambil mengelus perutnya. Duduk bersndar di tepi ranjang.

"Sepertinya memang begitu, Tetsuya."

Seijuurou berkata sambil berjalan menuju tempat tidur, mengnakan kaos putih polos dan celana hitam pendek dengan handuk masih tergantung dilehernya, rambutnya masih setengah basah. Sepertinya baru selesai mandi. Kemudian duduk di tepi ranjang.

"Kau hanya mau makan makanan manis, kau juga tidak mau makan sayur, sampai koki harus mengolahnya agar tidak terlihat dan berasa seperti sayur, padahal saat mengandung Seishirou dulu kau suka sekali makan sup tofu, bahkan kau sempat meminta kopi miliku."

"Tapi dia memang mirip sekali denganmu Sei-kun. Bahkan sikap keras kepala dan tidak mau di bantah pun sama."

"Aku seperti menghadapi diriku sendiri." Seojuurou tersenyum, membayangkan Seishirou yang mewarisi semua yang ada pada dirinya, tak hanya fisik, sifatnyapun juga mirip, dari yang baik ataupun yang kurang baik, sampai sifat keras kepalanya pun sama. Dan yang paling menganggu adalah mereka sama-sama terobsesi pada Tetsuya.

"Okaa-saaan... Aku mau tidur dengan Okaa-san..." baru saja di bicarakan kini sosok kecilnya sudah berdiri di depan dan membuka pintu kamar Seijuurou dan tetsuya. Mengenakan piyama tidur berwarna merah bermotif panda. tangannya membawa bantal tidur berbentuk kepala anjing kecil. Dia tidak bisa tidur Kalau tidak ada itu.

Seijuurou berdiri didepan pintu sambil bekacak pinggang "Hei, kau itu sudah besar dan kau juga laki-laki, kau sudah tidak pantas ditemani tidur."

"Otou-san juga laki-laki dan lebih besar dariku, tapi setiap hari tidur harus di temani Okaa-san, " Tak gentar, Seishirou berkata sambil menatap ayahnya.

"Aku menjaga ibumu, kau tahu ?"

"Aku juga bisa menjaga Okaa-san."

"Kau belum bisa apa-apa, bocah "

Mendengar ayahnya yang tidak mau membiarkannya tidur dengan ibunya, Mata Seishirou mulai ber kaca-kaca. Kemudian menangis dengan kencang. "Huwaaaaaa... Otou-san jahat... Huwaaaa"

Tetsuya menghela nafas ketika tangisan Seishirou semakin keras "sudahlah sei-kun, jangan menggoda anakmu terus"

"Shirou-kun, kemari lah"

Seishirou tersenyum penuh kemenangan, kemudian menuju Tetsuya. membuat seijuurou Mau tak mau mengabulkan permintaan anaknya. Seishirou mengambil tempat ditengah. Sepertinya sengaja agar sang ayah tidak bisa dekat-dekat ibunya. Dan mereka bertiga pun tidur diatas ranjang king size yang didominasi warna merah hati.

Seijuurou setengah tidak rela. Malam hari seharusnya adalah waktunya dengan Tetsuya, tapi sekarang anaknya kembali memonopoli Tetsuya padahal mereka sudah seharian bersama,. apalagi Seishirou tidur dengan selalu memeluk ibunya, Menempel seperti tidak mau berpisah.

Tetsuya sih tidak keberatan, dia senang-senang saja tidur dengan anaknya yang menurutnya manis dan menggemaskan. Tapi Seijuurou lah yang uring-uringan seperti anak kecil yang ibunya direbut oleh adiknya. Memang kalau dengan Tetsuya Seijuurou bisa bersikap lebih manja.

Seijuurou mendelik kesal. "Kau milikku Tetsuya, Ingat itu."

"Tidurlah Sei-kun."

Seijuurou mendengus, memiringkan badannya memunggungi Tetsuya, lalu menaikkan selimut dengan gusar. Sementara Tetsuya hanya tertawa geli melihat tingkah Seijuurou yang merajuk.

.

.

Bunga Sakura mulai merekah. Warnanya ceria menghiasi dunia,menandakan musim dingin yang telah berlalu digantikan musim semi yang hangat.

Seishirou kini sudah naik kelas dua sekolah dasar. Tetsuya mengantarnya di hari pertama masuk sekolah. Disana mereka bertemu Aida-sensei di pintu gerbang.

"Selamat pagi, Aida-san. " ucap Tetsuya sambil membungkuk. Kemudian diikuti oleh Seishirou ikut memberi salam pada gurunya.

"Selamat pagi-sensei."

"Selamat pagi Akashi-san, dan Akashi-kun."

Pandangan sensei berambut coklat itu beralih pada perut Tetsuya yang mulai membuncit "Wah.. Kau akan jadi kakak ya, Akashi-kun, ?

"Ung" anak itu mengangguk antusias dengan mata berbinar. "Tapi adikku masih di dalam perut oka-san, nggak lahir-lahir" wajah Seishirou berubah cemberut.

Sang guru berambut coklat itu hanya tertawa melihat tingkah polos muridnya.

Karena Tetsuya sedang hamil, Seijuurou melarangnya menemani Seishirou jika ingin pergi jauh, Seperti ke taman hiburan atau ketempat wisata. Semua agar Tetsuya tidak kelelahan. Sebagai gantinya pada saat Golden week mereka mengajak teman-teman mereka dari kiseki no sedai untuk makan siang di bawah pohon sakura yang ditanam Mendiang ibu Seijuurou di belakang mansion.

.

.

Awan putih terbentang di langit biru yang cerah. suara serangga terdengar nyaring. angin sepoi-sepoi menggerakkan Furin (lonceng angin) menimbulkan perasaan segar dan rileks. Cuaca musim panas yang terik membuat orang enggan untuk keluar rumah. Untung saja di mansionAkashi, pendingin udara berfungsi dengan baik.

Tetsuya sedang duduk di sofa dengan Seishirou di sampingnya.

"Coba kau pegang ini." Tetsuya menunjuk perutnya yang sudah membulat, karena usia kandungannya sudah memasuki tujuh bulan. Meminta Seishirou untuk memegang perutnya.

".." mata anakya membulat ketika merasakan pergerakan di dalam perut Okaa-sannya.

"Bagaimana .? Bergerak kan ?"

"Iya, Okaa-san "

"Dia senang, karena ada nii-sannya. "

Seketika wajah Seishirou sedikit merona membayangkan dirinya yang sebentar lagi menjadi seorang kakak dan di panggil nii-san. Pasti akan sangat keren. Pikirnya.

Beberapa saat kemudian seorang maid datang menemui mereka.

"Tetsuya- sama, Aomine-sama datang untuk berkunjung."

"Baiklah, aku akan menemuinya. Tolong siapkan minuman untuk Aomine-kun."

"Baik, Tetsuya-sama." setelah membungkuk memberi hormat maid itu langsung pergi untuk melaksanakan perintah majikannya.

"Daiki Ji-saann... " Seishirou setengah berlari menuju pria berkulit tan yang masih mengenakan seragam polisi. Lalu Pria yang diketahui bernama Aomine Daiki itu merentangkan kedua tangannya kemudian menangkap Seishirou dalam gendongan.

"Hei, Seishirou, katanya kau akan punya adik ? Apa itu benar ?" kata Aomine setelah mengangkat tubuh Seishirou.

"Iya, dia tadi sedang senam dalam perut kaa-san." ucap Seishirou dengan polos lalu menunjuk perut Tetsuya.

Aomine tak tahan untuk tidak tertawa mendengar perkataan polos dari mulut mungil gemas surai merah anak sahabatnya. Anak itu memang jenius tapi dia tetap seorang anak kecil yang belum paham betul tentang apa yang dialami orang dewasa.

.

.

.

Hingga di akhir musim, penantian itu menemui ujungnya. Seorang anggota baru telah lahir ke dunia.

Seijuurou menatap anak keduanya yang terbungkus selimut biru. Fisiknya benar-benar menyalin segala yang ada pada Tetsuya. Dengan rambut biru muda, Kulit seputih salju, hidung kecil nan mbangir,kemudian bibir mungil merah muda dan pipi Gembil dengan semu kemerahan. Seorang bayi laki-laki yang kemudian dia beri nama Seiji.

Rasa bahagia tak dapat tertutupi dari sorot mata heterokromnya. Perasaan yang sama ketika anak pertamanya lahir. Keluarganya kini akan bertambah ramai dengan kelahiran si kecil.

"Terimakasih, Tetsuya." Seijuurou mencium kening istrinya yang masih terbaring lemah. Menyampaikan rasa terimakasih yang begitu besar. Dia tidak tahu harus bagaimana untuk membalas Tetsuya. Di saat istrinya tengah berjuang mempertaruhkan nyawa demi anak mereka, yang bisa dia lakukan hanyalah menunggu di depan kamar operasi dan tentunya berdoa untuk keselamatan mereka berdua.

Seishirou berdiri di samping box bayi tempat adikya di letakkan,Matanya seolah tak bosan memperhatikan adik kecilnya yang baru lahir.

Entah karena sadar diperhatikan atau apa, Kedua kelopak mata bayi itu perlahan terbuka, menampilkan dua bola mata biru jernih mirip dengan Okaa-sannya. Anak itu mengedipkan matanya lucu, kemudian menampakkan ekspresi tersenyum, seolah dia juga senang bertemu kakaknya.

"Manisnyaa" batin Seishirou dalam hati. Wajahnya sedikit memerah, terpana dengan pesona adiknya.

Terdengar suara pintu dibuka, Seijuurou masuk ke dalam ruangan lalu berdiri di samping anaknya.

Sejuurou menepuk kepala Seishirou "Itu adalah hadiahmu, Apa kau senang punya adik ?" Ucap Seijuurou melihat putra Sulungnya.

"Ung, aku senang sekali Otou-san, dia adik yang sangat manis " Seishirou mengatakan dengan tersenyum senang.

Seijuurou berjongkok, mensejajarkan tubuhnya demi menatap si putra sulung. "Dengar, sekarang kau sudah jadi seorang kakak, jadilah contoh yang baik untuk adikmu, jaga dia dan ibumu ketika ayah sedang tidak ada. Apa kau mengerti ?"

"Aku mengerti, Otou-san." Seishirou mengangguk mantab, terdapat kesungguhan di sorot matanya. Membuat ayahnya tersenyum bangga.

"Bagus, itu baru seorang Akashi."

.

.

Seishirou begitu menyayangi adiknya. Dia selalu menjaganya tak Membiarkan si adik lepas dari pandangannya. Begitu pula si adik yang sangat sayang dengan kakaknya. Meskipun masih bayi tapi dia merasa kesepian saat sang kakak sedang jauh darinya. Bahkan ada kalanya mereka tidur berdua.

Saat pulang sekolah menjadi saat yang paling dinanti untuk si putra sulung Akashi, karena dapat bermain sepuasnya dengan si adik. Begitu pintu mobil di buka Seishirou langsung berlari masuk untuk menemui adiknya.

"Sei-chan..." ucapan 'Tadaima' menjadi terlupakan berganti menjadi nama adiknya yang di teriakkan pertamakali.

"Ayayayaaa" Sang adik merangkak riang menuju kakaknya. Usianya baru tujuh bulan. Jadi hanya gumaman khas bayi lah baru bisa di keluarkan dari mulut mungilnya.

Bokong kecil didaratkan pada karpet lembut kualitas tinggi, tangannya mengeluarkan sesuatu dari tas sekolahnya.

"lihat, nii-san punya sesuatu untukmu." Seishirou menyerahkan mainan Yang diterima dengan gembira oleh adiknya.

"Darimana kau dapatkan itu Shirou-kun ?" Ucap Tetsuya yang membawa tumpukan baju kotor. Kalau untuk menjamin kebersihan baju anak-anaknya Tetsuya memilih mencucinya sendiri.

"Tadi Riko-sensei yang memberikannya, Okaa-san. "

"Oh." Tetsuya kemudian berlalu membiarkan Seishirou menemani adiknya main.

Pagi hari Tetsuya mengantar Seijuurou dan Seishirou hingga pintu depan, dengan si kecil di gendongan. Dia baru saja bangun tidur.

"Tou-chaan," Tangan mungil bergerak-gerak seakan memanggil ayahnya. Seiji sudah memasuki tahap berjalan, dia juga berbicara walaupun baru bisa mengatakan tou-chan, kaa-chan, dan nii-chan. Tapi itu sudah sangat bagus untuk anak seusianya.

"Aku berangkat, Tetsuya." Seijuurou berpamitan lalu mencium kening Tetsuya.

"Hm, hati-hati di jalan, " ucap Tetsuya membalas suaminya.

Kemudian beralih mencium kening anak bungsunya. "Jangan nakal yaa, jangan menyusahkan ibumu. "

Seijuurou hampir tergelak melihat pemandangan di hadapannya. Melihat duo biru muda yang menatapnya dengan tatapan datar dengan bola mata bulat yang serupa. Membuat mereka terlihat begitu menggemaskan. Seijuurou juga tak bosan untuk mengacak-acak rambut si bungsu. Membuat si bayi menggembungkan pipinya kesal.

"Sei-chan, nii-san berangkat sekolah dulu yaa." Seishirou berpamitan setelah mencium pipi bulat adiknya.

melihat kakaknya yang akan pergi, mata bayi itu mulai berkaca-kaca, kemudian pipinya digembungkan dan bibirnya mengerucut imut, sebelum akhirnya tangisnya pecah "Hueeee, Nii-chan... Hueeee... "

"Aku akan segera kembali sei-chan. jaa-ne, " ucap Seishirou melambaikan tangan pada adik kecilnya yang baru berusia lima belas bulan. Kemudian dengan berat hati masuk ke dalam mobil yang sama dengan ayahya untuk berangkat sekolah.

Tetsuya menghembuskan nafas lelah, adegan sok dramatis ini selalu terulang setiap pagi. Setelah mobil keluar dari halaman, mereka berduapun masuk ke dalam mansion besar dan mewah itu.

.

.

.

Saat akhir pekan adakah waktu yang tepat untuk menghabiskan waktu dengan keluarga. Seijuurou mengajak keluarganya ke arena ice skating yang baru dibuka. Ini pertama kalinya bagi Seishirou bermain ice skatting. Setelah sepatu dipasang Seishirou dan ayahnya menuju tengah arena, sementara Tetsuya menunggu di tepi bersama Seiji.

"Otou-san... " Seishirou berdiri dengan kaki gemetar, sambil memegangi tangan ayahnya, eksekspresinya juga diliputi keraguan.

"Tidak apa-apa, berjalanlah pelan-pelan, Otou-san akan memegangimu."

"Otou-san, Jangan di foto." Seishirou merengut sebal kerena ayahnya yang memotret dirinya. Saat dia sedang susah payah menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh ayahnya malah iseng memfotoi dirinya.

"Hahaha.. Baik.. Baik... Pfftt. Tapi kau lucu sekali berekspresi seperti itu, sama seperti saat kau pertama kali belajar jalan.

"Ughh.. Otou-san menyebalkan " ucap Seishirou sambil mengembungkan pipinya kesal.

Sementara Seijuurou masih tertawa puas karena berhasil mengabadikan ekspresi anaknya yang tidak biasa. Menjahili anaknya adalah hobi barunya setelah punya anak. Selain menjahii Tetsuya. Tapi bedanya Seijuurou sangat suka menjahili Tetsuya di ranjang.

Melihat seorang Akashi Seijuurou yang tertawa lepas seperti itu adalah hal yang langka. Dan mungkin tidak akan dia tunjukkan dengan orang lain. Tetsuya tentu sangat bersyukur dapat menyaksikan pemandangan yang menghangatkan hatinya. Bisa membuat orang yang selalu dingin itu merasakan hangatnya kasih sayang keluarga. Mengingat betapa kesepiannya Seijuurou setelah kepergian ibunya dan ayahnya yang selalu sibuk.

.

.

Hari sudah mulai gelap saat mereka berjalan pulang. Seishirou tidak mau berhenti sebelum dia benar-benar bisa berjalan diatas es dengan sepatu dengan alas seperti pisau di bawahnya.

Belum lagi dengan Seiji yang menangis minta di turunkan ketika mereka melewati taman untuk bermain anak.

Mereka pulang setelah makan di salah satu restoran keluarga. Karena lokasi dan rumah mereka tidak terlalu jauh , sehingga mereka memilih untuk berjalan kaki. Tentu dengan pengawal yang mengawasi mereka dari jauh.

Seijuurou jadi teringat masa saat dia masih dalam tahap pendekatan dengan Tetsuya. Dulu saat pulang sekolah dia sering mengantar pujaan hatinya pulang dengan jalan kaki karena Tetsuya yang keras kepala tidak mau diantar dengan mobil. Mereka berjalan sambil mengobrol banyak hal. Melewati sungai yang memantulkan cahaya senja. Seojuurou pikir itu romantis. Dia jadi ingin suatu hari mengajak Tetsuya berjalan berdua tanpa anak mereka. Meskipun sepertinya itu mustahil karena anak-anak mereka samasekali tidak mau ditinggal. Tapi itulah kenikmatan menjadi orang tua.

"Dia tidur ?" Tetsuya bertanya pada suaminya yang menggendong Seishirou di punggungnya.

"Hm, Dia terlalu lelah " Seijuurou terkekeh sambil melirik anak pertamanya.

"Seiji-kun juga" mata biru Tetsuya melihat ke arah bayi yang terlelap sambil mengemut jempolnya dalam dekapan gendongannya.

"Sei-kun, terima kasih ya..."

"Untuk apa ?"

"Karena Sei-kun mau menemani mereka bermain, padahal kau sangat sibuk "

"Akulah yang seharusnya berterima kasih padamu Tetsuya"

Mata Seijuurou menatap langit yang bertabur bintang "kau telah melengkapiku, menyempurnakan hidupku hingga menjadi lebih bermakna."

"Aku tidak tahu apa jadinya aku kalau tidak bertemu denganmu." pandangannya beralih pada sosok biru muda di sampingnya. Dilengkapi dengan senyum menawan.

"Tentu saja kau jadi presiden direktur Akashi Corp." Jawab Tetsuya dengan wajah polosnya.

"Tapi aku hanya akan seperti Tubuh tanpa jiwa, Tetsuya. Seperti sebuah robot yang telah diprogram manusia, hanya bergerak sesuai data yang di masukkan. Karena kaulah alasanku bertahan dan kalian lah alasanku hidup."

Wajah Tetsuya memerah mendengar pengakuan Seijuurou. Tetsuya semakin memeluk erat anak kedua yang digendongnya, menenggelamkan kepalanya hingga separuh wajahnya tertutup kepala Seiji.

"Kau terlalu berlebihan Sei-kun." Tetsuya bercicit pelan.

"Memangnya apa yang tidak berlebihan jika itu tentangmu, Tetsuya."

Tetsuya memilih tidak menanggapi gombalan suaminya yang menurutnya tidak baik untuk jantungnya.

"Tapi Sei-kun adalah orang yang tangguh. Kau pantas bahagia Sei-kun. "

Tetsuya mengatakannya dengan senyum yang sangat menawan. Membuat Seijuurou tak berkedip saking terpesonanya. Dia selalu jatuh cinta pada isterinya.

"Kau membuatku ingin cepat sampai rumah dan mengajakmu ke kamar, Tetsuya."

Wajah blushing yang sudah susah payah dia hilangkan kini kembali dengan warna yang lebih merah. "uh.. Sei-kun hentai ! Menyebalkan !

Tetsuya berjalan lebih cepat meninggalkan Seijuurou dengan pipi yang sedikit digembungkan dan bibir mengerucut mirip seperti anak-anaknya ketika merajuk.

Seijuurou hanya tertawa melihat tingkah lucu istrinya. Membuatnya terlihat begitu manis dimatanya, lalu mempercepat langkahnya menyusul Tetsuya.

Mereka terus berjalan sambil menggendong anak-anak mereka menyusuri jalanan yang ramai dengan orang yang menghabiskan waktu akhir pekan. Entah itu dengan teman atau pasangan.

Kemudian berpapasan dengan pasangan muda yang sepertinya sedang melewati malam minggu sambil mendorong stroller. Didalamnya terdapat dua orang bayi Yang memiliki wajah yang serupa. Mereka terlihat lucu ketika didandani dengan baju yang sama.

"Tetsuya, sepertinya punya anak kembar menyenangkan juga."

.

.

END

.

.

AN :

Dengan begini hutang saya lunas ya..

('-')a

Maaf kalo tidak sesuai ekspektasi.. XD dan maaf juga kalau postingnya lama. Semua gara-gara aktifitas dunia nyata yang nyaris tidak memberi jeda. Kalo siang sibuk kalo malam ngantuk XD

Kalo sempet saya akan nulis cerita buat ulang tahun Tetsuya. Kalo gk sempet ya ini jadi fic buat ulang tahun cuya XD

Kritik dan saran selalau diharapkan untuk

Pembelajaran saya kedepan. Untuk semakin memperbaiki ff saya yang jauh dari kata sempurna ini.

Akhir kata terima kasih kalo ada yang membaca wkwkwk

Salam

miichan.