(A/N): Info sedikit.

Disini gak ada penyerangan kyuubi, Naruto lahir dalam keadaan sebagai Jinchuuriki Kyuubi. Disini juga gak ada pembantaian clan Uchiha.

Umur Naruto dan Sasuke 6 tahun.


Only Friend Who Could

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Advanture & Friendship

Rating : T

Warning : OOC, Typo, gaje, de el el


"Kaa-san boleh tidak aku hari ini main kerumah Naruto?" ucap bocah yang berumur sama dengan Naruto yaitu 6 tahun.

"Boleh, tapi bersama Kaa-san ya. Kebetulan Kaa-san juga ingin bertemu Kushina-chan." ucap seorang ibu yang sangat mirip dengan Ibunya, yang membedakan hanyalah model rambutnya.

"Oke, Sasu tunggu luar ya Kaa-san." ucapnya dan dijawab dengan anggukan dari Ibunya.

Tak lama setelah itu meka sampai di rumah yang mereka tuju, sebenarnya masih tinggal berapa langkah lagi untuk sampai. Karena seorang bocah yang bernama Sasuke itu sudah tak sabar untuk bermain besama temannya itu, dia langsung berlari mendekati rumah temannya itu meninggalkan Ibunya yang bernama Mikoto.

Sesampai didepan pintu masuk rumah Naruto, Sasuke terlihat bingung dengan keadaan pintu rumah yang tidak tertutup melainkan pintu tersebut terbuka lebar. Karena terlalu bingungnya dengan keadaan yang sangat berbeda, Sasuke sampai tidak tau kalau Mikoto sudah dari tadi berada di samping Sasuke dan memperhatikannya dengan bingung.

"Sasu kenapa melamun?." tanya Mikoto. Sedangkan orang yang dipanggil langsung tersadar dari lamunannya.

"Eh? Hehe ketauannya? Sasu hanya heran kok Kaa-san, tumben sekali rumah Naruto terbuka seperti ini dan sepi" ujar Sasuke yang menceritakan isi pertanyaannya yang sempat hinggap dipikirannya.

"Iya kamu benar, tumben sekali. Lebih baik kita masuk saja dulu untuk menanyakan kepada Kushina-chan" ucap Mikoto dan dijawab dengan anggukan dari Sasuke.

Mikoto dan Sasuke masuk kedalam rumah sambil meneriaki nama-nama penghuni rumah ini.

"Kushina-chan..." panggil Mikoto.

"Dobe.." panggil Sasuke. Saat Sasuke ingin memanggil lagi, niatnya tertahan ketika dia melihat Kushina yang terbaring dilantai. Mikoto juga menyadarinya dan langsung menghampiri Kushina, sedangkan Sasuke mencari Naruto diruangan lain. Dia mulai khawatir dengan sahabatmya setelah melihat Kushina yang terbaring dilantai tak seperti biasanya.

Mikoto terus berusaha membangunkan Kushina. Hingga akhirnya Kushina sudah mulai sadar. Sasuke yang baru kembali dari lantai atas langsung menghampiri Mikoto dan Kushina.

"Na..ru..to" ucap Kushina yang sudah kuat untuk berbicara walaupun masih terbata-bata

"Apa yang terjadi Kushina?"

"Me...reka..hiks..mengambilnya..."

"Siapa mereka itu? Apa yang diambilnya? Dan dimana Naruto?" pertanyaan beruntunpun langsung di keluarkan Mikoto.

"Lebih baik bibi Kushina biarkan dulu dia lebih tenang supaya bibi Kushina tidak terlalu tertekan untuk menjawab pertanyaan Kaa-san, ini Sasu bawa minum untuk bibi Kushina" Mikoto mengambil gelas yang ada ditangan Sasuke dan memberikan kepada Kushina.

"Apa sekarang sudah lebih baik Kushina-chan?" tanya Mikoto dengan lebih tenang agar tidak membuat Kushina mejadi panik lagi.

"Sudah lebih baik, terima kasih Mikoto-chan, Sasuke-kun" jawab Kushina sambil membangunkan dirinya dari pangkuan Mikoto untuk mengambil posisi duduk.

"Sekarang ceritalah padaku apa yang sebenarnya terjadi?"

"Naruto diculik!"

"APA?" teriak kedua orang yang bermarga Uchiha itu.

"Sasuke, cepat kau ke kantor Hokage. Beritahu Yondaime Hokage tentang ini!" perintah Mikoto. Sasuke hanya mengangguk sebagai pertanda 'iya' dan langsung berlari meninggalkan rumah keluarga sahabatnya itu.

Banyak pertanyaan-pertanyaan yang terus menghantui Sasuke, 'Siapa yang menculik Naruto?', 'Apa mau orang itu?', 'Kenapa mesti Naruto?' dan masih banyak lagi pertanyaan yang ada dipikirannya yang belum ada satupun jawaban yang pastas untuk semua pertanyaannya.

Ketika sampai di gerbang Hokage, Sasuke tak langsung masuk karena ada ANBU yang menghalangi jalannya.

"Ada perlu apa anda datang kesini, Sasuke-san?" tanya seorang ANBU itu yang tak dikenali Sasuke karena wajahnya yang tertutup topeng.

"Aku ada perlu dengan Hokage-sama"

"Maaf, saat ini dia tak bisa diganggu"

"Ini lebih penting dari pekerjaannya!" ujar Sasuke dengan nada sedikit tinggi.

"Sekali lagi maaf Sasuke-san, Hokage-sama sedang sibuk yang boleh masuk hanya orang-orang yang dipanggil atau yang ingin melaporkan misinya" ucap ANBU itu dengan santainya.

"Kalau ku beri tau bahwa Naruto diculik, apa kalian tetap tak memberi tahu ini kepada Hokage-sama?" tanya Sasuke yang sudah geram terhadap kedua ANBU yang ada dihadapannya ini.

"Tentu saja kami akan memberitahunya karena Naruto anaknya, tapi ini hanya bercandakan? Jadi kami tak akan memberitahunya"

Oh Kami-sama, jangan sampai Sasuke yang masih berumur 6 tahun harus membangkitkan sharingannya karena dua ANBU bodoh ini. Mereka ANBU, tapi kenapa mereka tak bisa membedakan mana ekspresi bercanda dan mana ekspresi serius. Sasuke sudah sangat geram dengan dua ANBU ini.

"AKU TAK BERCANDA! AKU SERIUS!" teriak Sasuke sambil menatap tajam kedua ANBU tersebut. Mereka langsung mengalihkan perhatiannya ke arah Sasuke atau melihat lebih detail arti ekspresi Sasuke. Kedua ANBU itu saling bertatap sebentar kemudian salah satu dari mereka langsung menghilang dengan sushinnya. Sepertinya ANBU itu mulai percaya dengan apa yang dikatakan Sasuke.

"Baiklah kami percaya, kami sudah memberi tau kepada Hokage-sama. Sekarang kembalilah" tanpa basa basi Sasuke sudah berlari meninggalkan tempat tadi, mungkin juga karena sudah tak mau berurusan dengan ANBU menyebalkan itu.

Sasuke's POV:

Kenapa terjadi lagi? Kenapa harus Naruto? Siapa yang menculik Naruto? Siapapun pelakunya, aku janji akan membunuh sipenculik itu dan membawa sahabatku pulang. Aku tak mau kejadian itu terulang kembali.

FLASHBACK -2 tahun lalu-

"Lempar bolanya kearahku" ucapku

"Ini! Tangkap!" ucap Naruto tak kalah semangat

Karena terlalu semangat, alhasil bolanya terlalu tinggi terlempar hingga aku tak dapat menjangkau bolanya.

"Yah Sasuke, kamu gimana sih? Sekarang bolanya masuk kehutan itu kan" sesal Dobe

"Kamu tuh yang lemparnya terlalu tinggi jadinya aku tak bisa menangkapnyakan" ucapku yang tak kalah kesal. Lagipula aku tak salah, yang melempar terlalu tinggikan dia tapi aku yang disalahin.

"Sudah-sudah jangan bertengkar, lebih baik kita cari bolanya" ucap temanku juga yang bernama Sora. Dia itu memang seumuran denganku dan Naruto tapi Sora sudah seperti kakak bagiku dan Naruto, karena sikapnya yang seperti orang dewasa.

Jika kita bertengkar, Sora yang melerainya dan kadang dia memarahi kita apabila itu hanya masalah sepele.

"Kau yakin Sora? Kitakan dilarang masuk kehutan terlarang itu?" ucap Naruto yang ekspresinya takut. Dalam hati aku juga berkata sama seperti Naruto.

"Iya aku yakin, lagipula aku juga yakin bolanya hanya dipinggir hutan tak mungkin masuk terlalu jauh kedalam hutan" kata-kata Sora membuat ketakutanku hilang sepertinya Naruto juga begitu.

Tapi setelah masuk kehutan, rasa takut itu kembali. Kulihat Naruto, dia terlihat ketakutan sama seperti tadi. Lalu pandanganku beralih ke Sora, sepertinya dia juga sama seperti ku dan Naruto. Padahal dia tadi begitu yakin akan keputusannya.

"Lebih baik kita berpencar. Sasuke kekiri, Naruto kekanan dan aku mencari sekitar sini" Aku mengangguk paham dan mulai berpencar.

"Mana sih bolanya?" aku harus cepat menemukannya supaya cepat keluar dari hutan menyeramkan ini hiii~

Bugh.

"Ayo liat sini weeee... ayo kejar aku"

Refleks, ku lihat kearah sumber suara, ternyata itu Sora dan... itu... seekor singa! Dan singa itu berada tepat dibelakangku! Dan kenapa Sora malah mengejek singa itu?

"Apa yang kau lakukan Sora? Dia itu kan singa liar" ucapku panik.

"Apa kau tak sadar kalau dia itu hampir memakanmu? Sekarang cepat lari dari hutan ini dan lupakan tentang bolanya" perintah Sora kepadaku.

"Lalu bagaimana dengan kau?"

"Sudah cepat lari aku baik-baik saja"

"Tapi nanti kau..."

"CEPAT LARIII...!"

Dengan sekuat tenaga, aku terus berlari walaupun sebagian tenagaku sudah terkuras karena terlalu terkejut melihat singa jantan dewasa berada dekat sekali denganku. Masih berlari menjauhi tempat singa itu tadi. Bayangkan raja hutan berada dihadapanmu dan kau tak membawa apa-apa pasti yang ada dipikiranmu lari, begitu juga denganku.

"Awww" rintihku sakit. Apa sekarang aku menabrak yang lebih menyeramkan dari singa tadi?

"Apa yang kau lakukan sih Teme? Kalau lariliat-liat dong! Dan kenapa kau berlari seperti orang ketakutan? Kau takut ya?" tanya Naruto sambil memberikan senyum mengejeknya. Aku benci itu. Tapi syukurlah yang ku tabrak itu Naruto dan bukan hal yang aneh.

"Nanti saja aku jelaskan yang penting kita keluar dulu dari hutan yang mengerikan ini" langsung ku tarik saja tangan Naruto untuk mengikutiku menjauh dari hutan jika tidak aku yakin si Dobe ini akan bertanya hal-hal yang sangat merepotkan.

Akhirnya aku sampai diluar hutan. Aku bernafas lega. Tapi itu hanya sebentar, hingga pertanyaan Naruto yang membuatku kembali sesak dan jantungku seperti berhenti berdetak.

"Kau kenapa ketakutan seperti itu sih Teme? Oh iya ngomong-ngomong dimana Sora?" aku baru ingat tentang Sora. Sora dalam bahaya! Sora masih berumur 4 tahun, tak mungkin dia selamat melawan singa itu. Kenapa aku bodoh sekali dengan begitu saja meninggalkan Sora sendirian?

'Baka baka baka..! Kenapa aku meninggalkannya sendirian?'

"Oyy Teme, aku bertanya padamu Sasuke Uchiha"

"So...ra..."

FLASHBACK END

Normal POV:

Sejak saat itu tak pernah lagi terdengar kabar tentang Sora. Hokage juga telah mengerahkan pasukan ANBU, salah satu ANBU menemukan sobekan baju terakhir yang dipakai Sora dengan bercak darah disekitar lokasi itu. Tapi hanya itu saja, tak ada lagi. Dan Hokage menyatakan bahwa Sora sudah tewas.

Sungguh saat mendengar pernyataan itu Sasuke sangat menyesal, menyesal karena ia telah meninggalkan temannya yang sedang dalam keadaan berbahaya pada saat itu. Karena kejadian dia tak mau lagi hal tersebut terulang kembali. Dia tak mau sahabatnya-Naruto- hilang. Ia akan melindunginya walaupun nyawa taruhannya.

Sampai dirumah Naruto, dia melihat Kushina yang masih menangis. Tak lama setelah itu Minato datang dan langsung menghampiri Kushina kemudian menenangkannya dari tangisannya.

To Be Continued


Hai Minna! Gimana dengan chap ini? Baguskah atau sebaliknya?

Mohon reviewnya ya Minna! Jika ada kesalahan, typo atau lainnya review aja ya sekalian pembelajaran buatku. Buat yang udah review, nanti ya Ahaya balasnya soalnya sekarang lagi buru-buru

Arigatou buat yang udah baca, follow, fav, dan reviewnya :D