RE-PLAY

Chapter 2


A NARUTO FanFiction

With standart disclaimer applied

Alternative Universe (AU) Out of Character (OoC) Typo(es) DLDR!, etc.

Happy Reading!

Hope You Like!


[Normal]

Seorang pria berhelaian hitam klimis sedang bersandar di gerbang Hidden Leaf High School, mata hitamnya tengah memandang dua orang gadis berbeda helaian yang berjalan beriringan.

"Hai nona-nona, dari mana saja kalian?" Pemuda itu bertanya pada kedua gadis yang tadi ditatapnya ketika kedua gadis itu berada didepannya.

Ino tersenyum lalu menjawab

"Tentu saja dari latihan menari, Sai-kun." Sakura mendengus geli saat memperhatikan kedua orang itu.

"Aku duluan ya." Sakura tak ingin mengganggu keduanya, dia berjalan sembari sedikit menunduk untuk memeriksa isi tas selempangnya.

Brak

"Aw!" Sakura berteriak cukup keras, dia terjatuh dan beberapa isi tas selempangnya berceceran. Dia segera merapikan isi tasnya dan dia rasa orang yang ditabraknya juga ikut membantu membereskannya, Sakura lebih mementingkan isi tasnya dibanding melihat siapa orang yang membantunya membereskannya.

Orang yang membantunya memberikan uluran tangannya pada Sakura untuk membantu Sakura berdiri. 'Tangannya... cukup besar, apa dia laki-laki?' pikir Sakura.

Sakura masih menunduk saat dia telah berdiri, orang yang menolongnya memberikan beberapa kertas milik Sakura yang tadi berceceran, dan Sakura mengambilnya.

"Ara... dihari pertama sudah menabrak seorang gadis eh?" Sai datang saat Sakura telah memasukkan semua barang yang berceceran.

Merasakan kehadiran Sai dan Ino dia menoleh kearah samping kirinya dan memang mendapati dua sahabatnya disana. Sakura lalu menoleh kearah orang yang membantunya, mata hijaunya sedikit terpaku pada orang itu.

"Ah, aku lupa mengatakannya dia―"

"Uchiha... Sasuke?" ketiga orang itu menatap Sakura heran.

"Eh." Sakura tersadar dari keterpakuannya pada orang dihadapannya yang ternyata seorang pemuda, Sakura memandang kedua sahabatnya yang terlihat kaget, saat itu juga Sakura sadar tadi dia mengucapkan sebuah nama.

"M-maaf aku harus keperpustakaan untuk mengembalikan buku," Sakura mengucapkannya dengan cepat, dia melirik sebentar kearah mata pemuda dihadapannya.

"Dan terima kasih." Lanjutnya dan setelahnya dia langsung pergi meninggalkan tempat itu.

Ketiga orang disana masih cukup terkejut.

"Kau memberitahukan namaku padanya? Sai?" Pemuda yang ternyata bernama Uchiha Sasuke itu bertanya pada Sai.

"Tidak, ah belum. Aku belum memberitahunya bahkan Ino juga belum kuberitahu, aku hanya mengatakan ada anak baru dan dia sahabat lamaku." Ucap Sai panjang lebar. Sasuke menoleh kebelakang dan menatap kearah punggungnya.

Puk

Tangan Sai berada dibahu kanan Sasuke.

"Ada satu hal yang harus kau ketahui tentangnya." Sasuke dapat melihat sebuah keseriusan dimata Sai.


Cklek

"Dasar bodoh, kenapa kau mengucapkan nama itu," Sakura menggerutu pada dirinya sendiri sembari memasuki sebuah ruangan.

"Bahkan aku tidak tahu siapa Uchiha Sasuke itu." Lanjutnya sembari menghampiri sebuah piano di sudut tempat itu.

Dia meraba tuts tuts piano itu tanpa berkeinginan menekannya, dia lalu mengeluarkan buku sketsanya serta sebuah pensil dan duduk disebuah kursi didepan tuts tuts piano itu. Dan akhirnya dia mulai menggores pensil itu diatas kertas kosong buku sketsanya dan dia menggoresnya di tempat yang baginya hening meski dia tahu diluar ruangan itu sangat ramai.

Dia tersenyum goresan samar samar itu sebentar lagi jadi, dia melirik sebentar kearah jam tangannya, kedua iris hijaunya membulat.

"Sial aku terlambat." Dan bersamaan dengan umpatan itu dia berlari keluar ruangan itu dan mulai menuju kelasnya.


Cklek

Suara itu cukup membuat atensi banyak orang kearah orang yang membukanya. Sakura sebagai pelaku pembuka pintu itu menatap sekeliling kelas sebelum akhirnya terpaku pada dua orang didepannya dalam jarak kurang dari tiga meter.

"A-ano Sumimasen Sensei, saya terlambat." Sakura menunduk sembari memandang kearah Senseinya. Senseinya sendiri hanya menghela napas.

"Tak mendengar bel berbunyi lagi nona Haruno? Baiklah duduklah kekursimu." Sakura langsung masuk kedalam dan berjalan menuju kursinya setelah gurunya itu menyelesaikan kata-katanya.

"Uh... dia mengganggu perkenalan pemuda tampan itu."

"Dasar pengganggu."

Sekiranya itulah beberapa umpatan yang dilontarkan untuk Sakura, dan meski begitu rasanya umpatan mereka akan sia-sia saja.

"Baiklah, aku akan memperkenalkan murid baru kelas ini..."


"Sakura, kau yakin tidak ikut?" Sakura menggelengkan kepalanya dan mengangkat buku sketsanya yang tertutup keatas.

Ino menghela napas saat itu juga lalu dia tersenyum dan berpamitan pada Sakura.

Sakura mulai berdiri dan mengeratkan Hodie yang melekat dikepalanya lalu berjalan keluar kelas tanpa mempermasalahkan tatapan beberapa murid padanya.

Dia berjalan menuju ruangan yang tadi dikunjunginya. Ruang musik.

Beberapa anak kelas tiga menatap Sakura dengan pandangan yang aneh, melihat beberapa tatapan orang padanya Sakura hanya menghela napas. Dia jadi teringat saat dia pertama kali pindah kesekolah ini, semua orang menganggapnya bodoh karena tak dapat mendengar apa yang mereka katakan padanya. Tentu saja, bagaimana dia bisa memahami penjelasan guru jika dia tak dapat mendengar. Awalnya juga cukup sulit untuk masuk kesekolah ini, beberapa guru juga mempermasalahkannya. Dia begitu kagum pada ayahnya yang dapat meyakinkan pihak sekolah bahwa tanpa mendengar pun dia dapat mengerti penjelasan guru.

Dia cukup merasa kesepian selama sebulan disana dia belum mendapat teman karena kebanyakan murid memilih untuk tidak berteman dengannya dikarenakan kekurangannya yang satu itu. Namun ketika seorang murid menyapanya dengan senang hati dan senyuman manis diwajahnya serta tak lupa mata biru cemerlang yang bersinar, dia tak lagi merasa kesepian disana. Selama ini yang Sakura tahu hanya Ino, Sai dan Ayahnya lah yang sangat mengerti dirinya.

Cklek

Dia menggeser pintu ruang musik itu, sedari tadi dia menunduk saat berjalan dan setelah membuka pintunya dia mendongak dan matanya bergulir kearah piano yang berada disudut ruangan dekat dengan sebuah jendela besar yang memperlihatkan taman ditengah sekolah.

Dia terkejut saat menemukan sosok Sasuke disana, Sasuke duduk dikursi yang tadi diduduki Sakura dan saat ini Sasuke juga menatapnya.

"Ma-maaf aku tak tahu ada orang disini."Sakura menunduk memutuskan kontak mata diantara keduanya, Sakura akan menutup pintunya jika saja Sasuke tak mengatakan sesuatu.

"Tunggu." Sakura memang tak dapat mendengarnya namun dia seperti merasakannya. Sakura medongak kearah Sasuke yang duduk didepan Piano itu.

Tatapan Sasuke seolah menyuruhnya untuk masuk. Sakura berjalan sampai dia berdiri tepat disebelah piano itu.

"Apa yang dikatakan Sai itu benar?" Sakura mengerutkan dahinya, Sasuke menyadari kenapa Sakura mengerutkan dahinya.

Tangan kanan Sasuke mengarah kearah telinganya dan jari telunjuknya mengarah kearah telinganya, Sakura mulai paham dan dia mendengus geli.

"Kau tak perlu melakukan hal itu. Kau tahu, hal itu membuatku sedikit terluka." Sasuke terkejut dengan perkataan Sakura, dia lalu menatap Sakura seolah dia meminta maaf.

"Tak perlu meminta maaf, aku hanya bercanda. Kau tahu aku malah merasa apa yang kau lakukan tadi itu sedikit menggelikan." Sakura sedikit terkekeh saat mengatakannya. Sakura melihat tangan kiri Sasuke yang menekan tuts piano, lalu mataya bergulir menatap Sasuke.

"Kau... bermain piano?" Sakura bertanya dan itu membuat Sasuke sadar dari lamunan yang sama sekali tak disadarinya. Sasuke mengangguk.

"Jadi... tadi kau bermain?" Sasuke kembali mengangguk.

"Bisa kau ulang permainanmu?"

"Kenapa?" Sasuke memandang Sakura heran. Dan Sakura menyadarinya.

"Karena aku ingin, aku memang tak bisa mendengarnya tapi aku bisa merasakannya." Sakura tersenyum kepada Sasuke, tatapan Sakura juga menyiratkan sebuah permohonan.

'Permainan musik tak harus selalu di dengarkan tapi dirasakan. Kau tahu Sasuke, terkadang aku dapat merasakan manisnya sebuah musik dan terkadang juga aku bisa merasakan pahitnya sebuah musik'

Kata-kata itu kembali terngiang ditelinga Sasuke.

'Aku menemukannya... Aniki'


To Be Continue


Makasih buat Review, fav, maupun follnya. itu sangat berharga.

saya harap gak ada typo kali ini, dan maaf kalau pendek.

Jepara, 05-06-2015