Prev
Teringan sesuatu ia lalu menyambar jass yang tadi ia taruh di kursi. Gotcha! Ia menemukan sebuah dompet kulit yang bahkan mungkin harga dompet ini lebih mahal dari biaya makannya selama seminggu.
Jung Yunho.
Jung Corp?
'kau harus bertanggung jawab, Jung'
.
.
.
Tittle : Kim Jaejoong In Jung Fams
Genre : family, drama, romance, a little bit Hurt
Rated : M (bahaya! Anak kecil dilarang baca. Kalau mau baca boleh aja sih. Tapi bukan tanggung jawab saya bila terjadi serangan jantung mendadak, hipertensi, gangguan pada ibu hamil! *forget it*)
Cast : Jung (Kim) Jaejoong, Jung Yunho, Jung (Choi) Siwon, Kim Junsu, Park Yoochun, Go Ara (forget her-_-), Jung (Shim) Changmin
Pairing : YunJae as always!, WonJae, YooSu,and….. YunRa '...'
WARNING : boyslove, yaoi, hurt,
Chap 2
My Life Was Change
-One week leter-
Sinar hangat matahari pagi malai berusaha masuk melalui celah-celah tirai jendela kamar seorang namja cantik yang masih betah berada di alam mimpinya. Jam sudah menunjukan pukul 6.30 AM waktu setempat. Tapi namja cantik tersebut belum juga membuka matanya.
"eeuunngg aegya umm bangun aegy." Namja paruh baya yang kita tau adalah ayah dari namja cantik yang masih terlelap a.k.a Kim Jaejoong berusaha membangunkan anaknya.
"uugh appa. Hoaam.. ne Joongie bangun." Jaejoong tersenyum manis. Senyum yang hanya ia unjukkan untuk appanya. Bahkan Junsu sangat jarang melihat senyum tulus sahabatnya itu. Jaejoong yang Junsu kenal sekarang adalah Jaejoong yang berbeda semenjak ibunya meninggal.
"mandi. Aegya cepat mandi ne. eomma sudah membuatkan sarapan eungh" sang appa membelai rambut Jaejoong sayang.
Tes. Tetes bening kesedihan jatuh dari kelopak mata Jaejoong.
"aegy. Aegy eungh uljimayo aegya" sang appa mengusap pipi Jaejoong. Menghapus air mata itu dari pipi mulusnya.
"ne. hiks. Joongie mandi dulu ne, appa." Jaejoong dengan segera melesat ke kamar mandi. Ia tidak akan kuat jika sudah menatap muka bahagia appanya saat berbicara tentang eommanya.
Sang appa ke luar kamar Jaejoong dan segera menuju meja makan untuk menunggu anaknya selesai mandi dan segera sarapan.
.
Jaejoong diam di depan pintu gerbang SMA Shinki tempatnya sekolah. Buikannya iya tidak mau masuk, bukan. Hanya saja pintu itu sudah tertutup rapat. Yang artinya sudah sangat terlambat bagi Jaejoong untuk masuk ke dalam sekolahnya itu.
"KIM JAEJOONG! TERLAMBAT LAGI?!" dengan muka garang guru piket sekolah Jaejoong menegur Jaejoong yang sedang bengong di depan.
"mianhae Saenim. Saya terlambat bangun. Appa sa.." tidak. Percuma saja dia bercerita. Toh ia sudah sangat sering terlambat. Alasan yang sesungguhnya pun tak akan dipercayanya.
"silahkan berdiri disana sampai pelajaran kedua berakhir Kim." Setelah mengatakan ultimatumnya, guru itu meninggalkan Jaejoong sendiri di depan pintu sekolah.
TIN TIN
Jaejoong menoleh kebelakang. Senyum bahagia ia pasang di wajahnya. Mobil yang membunyikan klason tadi akan membantunya masuk ke dalam sekolah.
"Jaejoong-ah! Kau terlambat lagi?" setelah jendela mobil dengan lambing banteng emas itu terbuka, pemiliknya menegur Jaejoong. Jung Siwon. Ingat? Bartender kemarin. Ialah penolong Jaejoong kali ini.
"iya hyung. Aku terlambat bangun hehe" Siwon keluar dari mobilnya.
"mau jalan-jalan atau masuk ke dalam?" Siwon memberikan pilihan seperti biasa. Mereka sering begini. Bolos atau …..
"aku mau masuk saja hyung. Ada test sekarang. Aku tak mau mengerjakannya di hadapan guru pembimbingku hhhh" Siwon memilhatkan wajah kecewananya. Ia tak jadi kencan hari ini. Padahal ia sangat senang melihat Jaejoong terlambat.
Kedua namja menawan ini bergegas menuju belakang sekolah. Kebiasaan mereka juga kalau Jaejoong ingin melompat masuk ke dalam sekolah.
"hyung siap?" Jaejoong melepas tas dan sepatunya dan melemparnya ke dalam halaman belakang sekolah.
"ne naiklah." Siwon membungkuk agar Jaejoong bisa naik ke punggungnya.
Jaejoong namja yang kuat. Beringas bahkan terkesan preman walaupun wajahnya cantik, polos dan penuh kedamaian. Dengan perlahan ia naik ke punggungnya Siwon dan segera memanjat tembok yang sudah ia pahat agar bisa ia panjat. Sungguh cerdik.
"gomawoyo hyung" sebelum melompat ke dalam sekolah, ia menyempatkan diri untuk berterimakasi kepada orang yang sangat baik padanya ini. Ia bukan orang yang tak tau diri.
"sampai jumpa my princess." Jelas saja kata itu hanya terucap dalam hati Jung Siwon. Siwon tak mau membuat Jaejoong merasa tak nyaman bila ia tau Siwon menyukainya.
.
Jaejoong mendaratkan kakinya di spot yang tidak tepat. Akibatnya kaki mulusnya agak lecet dan terkilir.
"aakkhh. Holly shit. Kakiku appoyo." Jaejoong duduk sejenak di atas tanah. Tak peduli celananya akan kotor. Kakinya sakit sekali sekarang.
"uh? Tas ku mana?" setelah memakai sepatunya dengat sedikit meringis. Ia mencari keberadaan tasnya. Ia merangkak untuk mencari keberadaan tasnya di semak-semak. Shit. Jam pertama sudah mau selesai. Ia tak boleh melewati jam kedua.
"OH SHIT! KEMANA TASKU, BRENGSEK!" karena kesal Jaejoong berteriak mengumpat dengan kasar.
"EKHEM!" terdengar suara deheman dari belakang namja cantik itu.
Badan Kim Jaejoong menegang seketika. Ia sangat mengenal suara deheman ini. Bahagaimana tidak? Ia hamper seminggu 6 kali bertemu orang yang berada di belakannya ini. Hanya hari minggu yang di pastikan mereka tidak akan bertemu.
Kim Jaejoong tamat riwayatmu ….
"KIM JAEJOONG!"
Seorang namja tampan dengan seriusnya sedang memeriksa hasil kerja anak tajamnya seakan mengisyaratkan kalau ia tidak mau di ganggu. Bahkan kopi yang sudah sejak tadi di sediakan di atas mejanya tak di huraukannya sampai kopi itu dingin.
Sebenarnya di balik serius ekspresinya itu, ada bayang seseorang yang sangat jelas rupanya diingatannya. Tapi ia bingung. Apa ia sungguh-sungguh menyetubuhi pria itu? Bukan-bukan. Ia tau ia bukan hanya menyetubuhinya. Tetapi memperkosanya. Shit.
BRAK
"oppa~ good morning." Seorang atau sesosok yeoja –ueks-cantik-ewh- tiba-tiba masuk ke dalam ruangan namja mata musang yang sedang bekerja itu aka Jung Yunho.
Seakan hanya angin lalu, Jung Yunho hanya menganggap yeoja yang berteriak tadi adalah jin . Go Ahra. Yeoja dengan pakaian minim bahan itu terlihat merengut kesal melihat tunangannya tidak menghiraukannya. Ia malah lebih tertarik dengan laporang di atas mejanya. Dalam hati ia berpikir apa dia kurang cantik? –iya-
"oppa! Hari ini Gucci merilis tas baru. Ayo oppa belikan aku! Tas itu hanya ada 100 buah di dunia. Oh gosh hanya 100. Aku pasti akan sangat di pandang jika memilikinya." Kata Go Ahra antusias. Ia sangat suka memeras calon suaminya itu *CALON* eh maksud author, ia sangat suka dengan brended terkenal itu. Maka dari itu ia tak boleh ketinggalan.
"aku sibuk Ahra-ah. Kau beli saja sendiri." Tanpa menoleh kearah Ahra, Yunho menjawab dengan menaruh sebuah kartu berwarna hitam di atas mejanya.
"oppa selalu saja sibuk." Dengan wajah kesal yeoja itu menyambar kartu hitam milik Jung Yunho dan segera berlalu dari ruangan itu.
Tapi sebelum itu…
"bye oppa. Cup" Ahra mengecup bibir Jung Yunho. Ewh~
Blar
"aish. Selalu seenaknya saja." Go Ahra memang selalu seenaknya. Pakaian seenaknya. Ucapan seenaknya. Tingkah lakupun seenaknya. Hanya lihat saja jika ia di depan Jung Umma. Pasti ia akan berbeda 180 derajat. Wanita ular.
Jika bukan karena ia anak yang penurut, sudah pasti ia akan menolak Go Ahra. Tapi karena ibunya memaksa, dan Siwon pun tak mau. Apa boleh buat?
.
A few day leter.
"hyungie-ah. Kenapa wajahmu pucat? Apa kau sudah sarapan tadi?" Junsu menatap sahabatnya kuatir. Lihat saja wajah putih pucat Jaejoong yang sekarng bertambah pucat. Menyeramkan. Bahkan tadi ia sempat mengeluarkan cairan bening. Ia mual.
"sudah. Mungkin karena tadi aku di suruh membersihkan toilet." Jaejoong merebahkan kepalanya di ata meja dan memejamkan matanya.
"aish hyung. Kau ini makanya jangan terlambat lagi. Kau sudah sering mendapat hukuman tapi masih saja membolos. Kalau bea siswamu di cabut bagaimana?" Junsu hanya bisa memandang sabatnya sendu.
"tidak akan. Sudah, ocehanmu membuatku mual." Jaejoong meminum airnya agar mualnya hilang.
"kau sudah seperti ibu hamil saja. Wajah pucat, mudah lelah dan mual di pagi hari hahahaha biasanya kan kau tak pernah lelah jika disuruh membersikan toilet saja."
"uhuk uhuk." Jaejoong kaget mendengar ucapan Junsu sampai ia tersedak. Junsu membuat Jaejoong kembali ketakutan. Hamil. NO WAY!
Tapi sudah sebulan ini ia sering mual-mual walau yang keluar hanya cairan bening asam saja. Ia sangat tahu kalau yang ia alami sama seperti gejala orang hamil. Tapi ia namja! Tak mungkin hamil. Tapi….
"pelan-peolan hyung." Junsu menepuk punggung Jaejoong agar ia tidak terbatuk-batuk lagi. Hyungnya ini aneh sekali.
"kau ini jangan bicara yang aneh-aneh" Jaejoong memukul kepala Junsu dengan penuh kasih saying.
"appo hyung." Junsu merajuk dengan memajukan bibirnya.
"apa? Mau lagi?" Jaejoong sudah siap untuk memukul Junsu lagi.
"eh aniya hyung.. hehe tidak lagi kok." Kata Junsu cengengesan "kenapa hyung tidak kedokter saja? Akhir-akhir ini kau sering seperti ini hyung"
"diam kau" Jaejoong memejamkan matanya lagi. Hatinya gelisah. Takut. Tiba-tiba ia teringat akan wajah appanya. Ia ingin nangis sekarang. Tapi ia tak akan memperlihatkan air matanya. BIG NO.
Seakan tersadar. Ia ingat akan sesuatu. Dompet? Jung Corp? Jung Yunho? Presdir Jung?
.
Sekarang dunia Jaejoong bahkan langitnya pun serasa runtuh di hadapannya. Seakan tidak ada lagi tempat untu ia bernafas. Tidak ada tempat untuk ia berpijak. Ia serasa jatuh ke dalam lubang hitam kesakitan tak berdasar.
Di kursi taman itu Jaejoong menangis sendiri. Setelah memastikan ayahnya tidur. Diam-diam Jaejoong pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaannya. Dokter terkejut. Apa lagi dirinya. Di tangannya sebuah kertas yang tidak diinginkan bertengger manis. Kertas berstampel Rumah sakit berisi.
Kim Jaejoong
17 Tahun
Male Pregnant
Positive
Rasanya ia ingin menangis. Tetapi di mana ia akan bersandar? Rasanya ia ingin teriak. Tapi suaranya seakan hilang. Rasanya ia ingin membunuh dirinya yang tak berguna ini. Tapi siapa yang akan menjaga appanya? Dan apa ia tega membunuh janin yang bahakan belum melihat indah dunia. Seburuk - buruknya tabiat Kim Jaejoong. Ia tidak akan pernah membunuh orang terlebih itu adalah anaknya sendiri.
Jaejoong menangis dalam diam. Ia tidak peduli akan sekitar. Ia bahkan tidak peduli kalau ada seorang namja yang mendekat ke arahnya. Hingga..
"ekhem. Jaejoong-ah?" Jaejoong mendongak untuk melihat siapa yang memanggilnya. Matanya melebar ketika melihat Siwon ada di depannya. Ia cepat – cepat menyembunyikan surat rumah sakit yang ada di tangannya.
"Siwon hyung? Sedang apa disini?" Jaejoong menghilangkan gugupnya dengan sedikit berbasa – basi.
"aku tadi lewat sini dan tidak sengaja melihatmu sendiri." Siwon duduk di sebelah Jaejoong "ada apa?"
"aniyo. Gwaenchana" hening terjadi setelah itu. Siwon tidak berani bertanya lebih jauh karena takut akan melukai perasaan namja cantik di sebelahnya.
Seakan teringat sesuatu Siwon menghadap ke Jaejoong, ingin mengatakan sesuatu tetapi ia ragu. Mumpung bertemu dengan namja itu, ia harus segera menyampaikan ini sebelum terlambat.
"Joongie-ah"
"ne hyung?" Jaejoong menghadap kearah Siwon. Jaejoong menangkap kalau Siwon ingin mengatakan sesuatu tapi ia ragu. "katakana. Jangan sungkan."
"lusa. Datanglah ke rumahku. Aku ingin mengundangmu ke acara makan malam keluarga ku."
"ne hyung …" Jaejoong menjawab seadanya. Tapi tunggu… "mwo? Makan malam keluarga? Kenapa aku harus ikut?" dasar Jaemma lola.
"ne Jae. Kumohon. Datanglah" Siwon memelas.
"tapi hyung, itu acara keluarga kan? Aku bukan bagian dari keluarga mu"
"tapi aku mengundangmu. Ini hanya agar orang tuaku tau kalau aku di luar berteman dengan orang seperti apa?"
"baiklah. Kita lihat saja nanti"
Sebenarnya itu hanya akal-akalan Siwon untuk mengundang Jaejoong. Sebenarnya….
*flashback*
"ya! Jung Siwon. Kau mau kemana? Menemui kekasihmu? Yunho bilang kau sudah memiliki kekasih" kata Mrs. Jung galak. Terlihan Yunho mengeluarkan smirk mengejeknya.
"mwo?" Siwon hanya bisa membeo
"bawalah kekasihmu besok lusa. Awas kalau sampai tidak mengenalkannya kepada umma."
*end*
Jaejoong mematut penampilannya di depan cermin. Perfect~ hari ini ia akan membuat sejarah tak terlupakan. Melabrak seseorang? Ahaha. Itu akan sangat menarik.
Namja cantik itu sudah siap dengan penampilan kantoran. Jas mahal, kemeja mahal tanpa dasi agar membuatnya tidak terlihat tua. Celana halus dan sepatu hitam mengkilap. Kalau ia memakai baju kasual walau baju itu fashionable sekalipun, apa ia akan di biarkan masuk Jung Corp? sepertinya tidak.
Dengan langkah percaya diri, Jaejoong menghampiri meja sekertaris Presdir jung.
"bisa saya bantu tuan?" kata sekertaris cantik itu ramah.
"aku ingin bertemu Jung eh tuan Jung." Hamper saja Jaejoong salah bicara. Pabbo pabbo.
"tapi tuan sedang tidak bisa di ganggu, maaf" huh? Jaejoong menatap sekaertaris itu curiga. Ini kan jam makan siang? Apa mungkin Jung Yunho sedang keluar? Eh apa Jaejoong peduli? TIDAK. Ia segera masuk walau sudah di halangi.
Ceklek
Mata Jaejoong dan si sekertaris seketika membulat melihat dua orang berbeda jesis sedang berperang bibir. Jaejoong segera memeluk perutnya seakan – akan ia tidak ingin anaknya melihat sang appa sedang berciuman dengan orang lain.
"maaf tuan. Tuan ini memaksa masuk" sekertaris itu menunduk takut.
"ya! Siapa kau?" Jaejoong reflek menutup telingfanya. Gila dasyat banget suara ni cewek?
"ya! Ahjuma tidak perlu berteriak!" Jaejoong balas berteriak. Emosinya sering labil. Biasa ibu .
"mw.." "cukup. Kau keluar sekertaris Jang. Ahra ya cepat pergi dari kantorku" ultimatum keluar dari bibir hati namja tampan pemilik ruangan itu.
"buahahahahahahaha. Ku kira kau pacarnya. Tapi kau diusir olehnya? Oh gosh ini sangat lucu" Jaejoong tertawa ketika melihat Yunho mengusir yeoja yang tadi di pangkuannya.
"ya! Aku ini.."
"cukup ahra. Segera pergi. Kau berhenti tertawa." Suasana ruangan itu menjadi hening seketika setelah Go Ahra dan si sekerteris keluar dan menyisakan YunJae.
"silahkan duduk tuan" dengan sopan Yunho mengajak Jaejoong untuk duduk. Jaejoong tertegun atas kelakuan Yunho.
"ne gomapta." Setelah jaejoong duduk di sofa di ruangan itu. Dan Yunho sudah duduk di single sofanya. Jaejoong perlahan membuka jas mahal yang di pakainya. Yunho memandang Jaejoong heran. Sedari tadi orang di depannya lebih banyak menunduk.
Set
Setelah jas itu terbuka Jaejoong melemparnya ke muka Jung Yunho yang terhormat. Yunho syok dengan kelakuan orang yang bahkan tak ia tahui namanya itu.
"remember me Jung?" Jaejoong melepas wig ramput hitam rapinya. Memperlihatkan rambut aslinya yang berwarna coklat almond.
"apa yang kau lakukan hah? Dan kau siapa?" ingin marah rasanya. Tetapi melihat mata bulat itu rasanya susah untuk membentak.
"ternyata kau lupa. Apa kau lupa sudah berapa kali menumpahkan cairanmu di hole-ku di dalam kamar mandi yeoja Mirotic Club?" Tanya Jaejoong santai. Ia ingin menampar namja Jung ini sekarang juga. Tetapi ia tahan nafsunya.
"app..pa? ka-u?" Yunho seketika gugup. Ternyata orang yang ia perkosa lebih menawan dari yang ia bayangkan *plak-_-
Jaejoong melempar surat rumah sakit bukti ia hamil kea rah wajah Yunho sekali lagi. Mata Yunho membulat lebar melihat isi kertas ditangannya.
"kau namja mana bisa hamil!" Yunho tidak suka di bohongi. Ia merasa di tipu sekarang.
"kau tak percaya? Aku tidak butuh kau percaya. Aku butuh tanggung jawabmu, brengsek" emosi Jaejoong. Dengan beringan Jaejoong memukuli wajah Jung Yunho. Yunho yang tak ingin wajahnya babak belur dengan segera mendorong Jaejoong hingga jatuh.
"aakkhh brengsek kau jung! Kau bisa melukai anak ku!" jaejoong meringis kesakitan. Sakitnya tiada tara. Tidak pernah ia merasakan sakit seperti ini. Perutnya seperti di remas – remas. Ia bahkan sampai meringkuk.
"heii kau jangan bercanda." Tidak di pungkiri kalau Yunho panic melihat keadaan namja cantik di depannya.
Tidak ingin melihat namja di depannya menanggung sakit lebih lama, Yunho segera menggendong Jaejoong dan membawanya ke rumah sakit. Ia tidak peduli dengan seluruh karyawannya yang memandang ke arahnya.
-RS-
Jung Yunho duduk dengan resah di depan ruang gawat darurat tempat namja yang belum ia ketahui namanya di tangani.
Ceklek
Yunho segera menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu. "kau suaminya? Ikut aku"
Yunho tidak terlalu memperdulikan ucapan sang dokter. Ia segera mengikuti dokter itu.
"kandungannya kuat. Tadi hanya terjadi sedikit guncangan. Hamper saja ia ke guguran. Jagalah istrimu dengan baik"
"mwo dia sungguhan hamil?!" mulut Yunho ternganga lebar.
"apa kau tidak tahu?"
"eh ani bukan begitu"
Dokter itu menatap Yunho curiga. Apa ia suaminya?
.
Yunho memandang namja cantik yang sedang duduk di bangku taman rumah sakit ragu. Ia butuh kejelasan. Tapi ia ragu untuk menemuinya.
"tamat riwayatmu Jung. Kau menghamilinya? Hhh"
