Discleamer : Gundam Seed © BANDAI
Pairing(s) : Athrun X Kira
Rated : T
WARNING : AU, Maybe OOC, Shou-ai, BoyXBoy, Typo. Don't Read If Don't Like..
.
.
.
Enjoy!
.
.
.
Chapter 2 : Kira Yamato
"Bagaimana keadaannya, sensei?" Tanya Athrun, pada seorang wanita berambut coklat bernama Ramius Murrue.
Ramius tersenyum pada Athrun, "Keadaanya tidak apa-apa. Syukurlah yang terbentur bukan bagian tengkorak belakang. Jadi, tidak membahayakannya,"
Athrun terdiam. Perlahan mata emeraldnya menatap sekilas pada pemuda berambut coklat yang kini terbaring di atas ranjang UKS itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Athrun-kun? Kalian tidak habis berkelahi kan?" tanya Ramius, sembari duduk di kursi yang tersedia di ruang UKS itu.
"Tentu saja tidak, sensei. Aku hanya menemukannya sudah tergeletak di lantai toilet," jawab Athrun bohong.
"Kira, Kira Yamato."
"Eh?"
"Nama pemuda yang kau tolong itu, Kira Yamato," ucap Ramius, sembari bangkit dari kursinya. Lalu menghampiri ranjang Kira.
"Anda mengenalnya, sensei?" Tanya Athrun.
"Ya. Sensei mengenal Kira-kun dengan cukup baik," gumamnya, sambil mengelus lembut rambut Kira.
"Ano.. sensei,"
Ramius menoleh pada Athrun yang dibelakangnya, "Ya?"
"Sepertinya, saya harus kembali ke kelas. Kalau Yamato-san sudah sadar, titipkan salam saya untuknya," ujar Athrun sambil menoleh pada Kira sekilas. Lalu kembali menatap Ramius.
"Tentu," sahut Ramius.
Athrun tersenyum sambil menunduk sekilas. Lalu beranjak dari ruangan itu, sebelum ia memegang knop pintu..
"Athrun-kun," Panggil Ramius.
Athrun menoleh, " Ya?"
"Terimakasih telah menolong Kira-kun," ucapnya sambil tersenyum.
Athrun balas tersenyum sambil mengangguk. Lalu beranjak pergi dari ruangan serba putih itu.
Tak lama Athrun pergi. Kira pun tersadar. Iris mata violet itu belum bisa terlalu fokos dengan apa yang dilihatnya. Ia pun mengerjapkan matanya beberapa kali hingga matanya terbiasa dengan cahaya di ruangan itu.
"Syukurlah kau sudah sadar. Bagaimana perasaanmu, Kira-kun?" tanya Ramius, pada pemuda bermata violet itu.
Kira menolehkan kepalanya pada Ramius yang berada disampingnya itu, "...sensei."
OOOOOoooooOOOOO
.
Athrun melangkah dengan sedikit tergesa-gesa menuju kelasnya. Maklum, dia sudah terlambat hampir 20 menit. setelah sampai dikelasnya sendiri. Athrun menghela nafas. lalu mengetuk pintu kelasnya itu.
Tak berapa lama, pintu itu terbuka. Athrun siap lahir batin kena 'ceramah' dari gurunya karena terlambat masuk kelas. Sedikit malu juga mungkin, karena ini pertama kalinya ia terlambat masuk kelas.
"Lho, Athrun? Dari mana saja kau?"
"Dearka? Apa yang kau lakukan?" tanya Athrun heran. Karena yang membukakan pintu kelas adalah Dearka.
"Yei, ini anak malah tanya balik, lagi."
"Badgiruel-sensei belum datang?" tanya Athrun sambil memasuki kelasnya.
Dearka mengikuti Athrun dari belakang, "Beruntunglah kau, Athrun! Sensei horrible itu tidak ada sekarang,"
Athrun duduk dikursinya, "Jam kosong?"
Dearka duduk dengan santai di atas meja samping meja Athrun, "Yup! Hei, kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Kau darimana saja?"
"UKS," jawab Athrun singkat.
Dearka menautkan alis heran, "UKS? Kau sakit?"
"Yaa.. aku habis mengantarkan seseorang,"
"Seseorang? Apakah salah satu penggemar fanatikmu yang pingsan setelah melihatmu?" gurau Dearka, sambil terkikik kecil.
"Hahaha.. bukan. Hanya seseorang yang aku temukan pingsan di toilet," jawab Athrun sedikit berbohong.
"Pingsan? Laki-laki dong?"
"Ya, iyalah. Mana mungkin aku menemukan wanita di toilet pria kan?"
Dearka tertawa kecil, "Hahaha.. siapa tahu salah satu penggemarmu yang nekat kan?"
Athrun menggeleng pasrah melihat candaan dari temannya itu, "Kau ini.."
"Seharusnya kau jangan kembali, Zala. Jadi, aku bisa menulis alfa di buku absen,"
Muncul deh, biang kerok satu. Batin Athrun dan Dearka kompak.
"Maaf, ya. Kalau ini tidak sesuai dengan harapanmu, Yzak," sindir Athrun sambil menoleh pada Yzak yang kini di samping Dearka.
Yzak menggerutu, "Lain kali, aku akan benar-benar menulis alfa kalau kau terlambat lagi!"
"Sayangnya tidak akan lagi, kok," tantang Athrun.
"Shut up! Kalian ini, tak bisakah akur kalau bertemu?" lerai Dearka.
"Tidak," jawab Yzak tegas, sembari menatap Athrun kesal.
"Hahh.. yare-yare.." gumam Dearka pasrah.
"Dearka, Yzak," panggil Athrun.
Merasa dipanggil. Mereka berdua pun menoleh, "Apa?"
"Di angkatan kita, apa ada yang bernama Kira Yamato?" tanya Athrun.
Dearka dan Yzak saling pandang dengan heran,
"Ha, Kira Yamato?" sahut Dearka.
Athrun mengangguk, "Ya, Kira Yamato. Kalian kenal?"
"Tak biasanya kau bertanya tentang seseorang, Athrun?" tanya Dearka heran, "Memangnya ada urusan apa kau dengan anak yang bernama Kira Yamato itu?"
"Tidak. Aku hanya penasaran saja."
"Kau penasaran karena dia murid baru yang jadi bahan pembicaraan dewan guru, Zala?" timpal Yzak tiba-tiba. Seketika Athrun dan Dearka menatap Yzak dengan penasaran.
"Kau tahu, Yzak?" tanya Athrun.
"Sedikit," ucap Yzak dengan senyum penuh arti terpampang diwajahnya.
OOOOOooooOOOOO
-UKS-
"Sebaiknya kau istirahat saja, Kira-kun. Nanti akan kuizinkan kepada guru di kelasmu," saran Ramius, saat melihat Kira beranjak dari ranjang UKS.
Kira menggeleng pelan, "Tidak. Arigatou, sensei," tolak Kira halus. "Aku sudah lebih baik sekarang," lanjutnya dengan senyum dibibirnya.
Ramius menggeleng pasrah. Dia tahu, Kira adalah anak yang sedikit keras kepala. Jadi, percuma saja kalau mau menghentikannya. Pada dasarnya, Kira memang paling tidak mau menyusahkan orang lain.
"Ya sudah. Kau boleh masuk ke kelasmu," ujar Ramius, sambil merogoh saku jas kerjanya, "Ini. Surat izin masuk kelas. Sensei sudah menduga kalau kau akan tetap kembali ke kelas, " Ramius memberi Kira sebuah kertas, Kira menerimanya sambil tersenyum, "Arigatou, sensei. Permisi." Ujarnya sambil menunduk sekilas.
"Kira-kun," panggil Ramius.
"Ya, sensei?"
Ramius tersenyum, "Temui Athrun-kun nanti. Karena dia yang membawamu kesini tadi,"
"Ha'i." Jawab Kira sambil mengangguk.
OOOOOooooOOOOO
"Hahh.." Athrun menghela nafas, sambil menatap keluar jendela kelasnya. Pembicaraannya dengan Yzak dan Dearka tadi masih sangat mengganggu dipikirannya, 'Kenapa aku jadi tertarik pada Yamato-san. Padahal aku sama sekali tidak mengenalnya,' pikir Athrun heran. 'Tapi, matanya itu..'
"Kalau kau mau tahu tentangnya, tanyakan saja pada junior kesayanganmu itu. toh, mereka berdua sekelas,"
Sepintas Athrun teringat perkataan Yzak padanya, "Jadi, dia kelas 11," Athrun menopang dagunya dengan sebelah lengan, "Sekelas dengan Nicol, ya."
OOOOOooooOOOOO
Kira menghela nafas sebelum mengetuk pintu kelasnya. Merasa cukup, ia pun mulai mengetuk pintu bewarna coklat didepannya itu. Tak lama, bunyi khas pintu di buka terdengar. Menampakkan seorang pria berambut pirang tengah menatap Kira.
"Bisa dijelaskan, kenapa kau terlambat, Yamato-kun?" suara baritonnya terdengar di telinga Kira. Pemuda berambut coklat itu tampak gugup. Sebelum menjawab pertanyaan gurunya itu. Kira kembali menghela nafas pelan.
"Gomenasai, Sensei. Saya habis dari UKS. Dan ini, surat izinnya." Ucap Kira sembari memberikan sebuah kertas pada gurunya itu,
"Oh. Seharusnya, kalau kau sakit istirahat saja di UKS. Jangan terlalu memaksakan diri," ucap sang guru.
Kira menggeleng pelan, "Saya sudah lebih baik, sensei. Kalau begitu, apa saya boleh masuk ke kelas?"
Sang guru, atau kita sebut saja Mu ini. terdiam. Membuat Kira yang berhadapan dengannya jadi canggung.
"Ano, sensei," panggil Kira. Mu menyipitkan matanya dan beralih mendekatkan wajahnya pada wajah muridnya itu. Kira tersentak kaget menyadari wajahnya hanya berjarak beberapa cm dari wajah gurunya itu.
"Wajahmu kenapa di plester seperti itu, Yamato-kun?" tanya sang guru pirang itu.
Reflek, Kira menyentuh sudut bibirnya yang di plester, "I-ini.. sama sekali tidak apa-apa. tadi hanya terpelesat di toilet dan terbentur dengan lantai," ujar Kira bohong.
Mu mengangguk mengerti, lalu menegakkan kembali tubuhnya, "Kau ini.." ujar Mu sambil menggelengkan kepala, "Baiklah, sekarang kau boleh masuk." Ujar Mu.
Kira mengangguk, lalu mengekor Mu masuk kedalam kelas.
"Baiklah. Kita lanjutkan kembali pelajaran kita!" seru Mu pada murud-murid dalam kelas itu.
"Ha'i, Sensei!"
"Kira, kau dari mana saja?" tanya Tohru, sambil menepuk pundak Kira dari belakang.
Kira menoleh sedikit ke belakang, "UKS," ujar Kira singkat.
Tohru mengerjapka matanya heran, "UKS?" yang dijawab Kira hanya anggukkan kepala. Lalu, Kira pun kembali berkonsentrasi dengan apa yang sekarang dijelaskan oleh sang guru di papan tulis.
OOOOOooooOOOOO
-Orb Senior High School. At 15.00 pm-
Tak terasa, bel jam terkhir berbunyi dengan keras. Menandakan kegiatan mengajar hari ini telah usai. Para murid yang mendengar itu, mendesah lega dan bersiap-siap akan pulang. Satu persatu kelas dibubarkan. Hanya meninggalkan siswa yang bertugas untuk piket di kelas.
"Kira, kami duluan." Pamit Tohru dan Sai.
"Iya. Hati-hati," sahut Kira. Yang kebetulan petugas piket hari itu.
Kira beranjak untuk menghapus papan tulis yang baru saja digunakan tadi.
"Yamato-san." Panggil seseorang.
Kira menoleh, "Ya?"
"Bisa bantu aku menaikkan bangku-bangku ini? supaya lebih mudah untuk di bersihkan oleh yang lain nanti, " pinta seseorang pemuda berambut hijau.
Kira mengangguk, "Baiklah, Nicol-san."
"Arigatou,"
OOOOOooooOOOOO
Tanpa terasa pukul sudah menunjukkan waktu 15.30 sore. Merasa tugasnya sudah selesai hari ini, Kira pun berbenah untuk segera pulang. Bersama dengan petugas piket lainnya, Kira pun meninggalkan kelasnya.
"Aku duluan, Yamato-san." Sahut Nicol dengan ramah.
Kira tersenyum, "Iya, hati-hati, Nicol-san."
"Ya, Jaa.."
"Jaa.."
Setelah melihat Nicol pergi dengan sebuah mobil bewarna hitam mewah. Kira pun menghembuskan nafas lelah. Hari ini, banyak hal yang tak diduganya terjadi. Padahal belum ada 5 bulan ia pindah kesini, ia sudah mendapat berbagai macam hal, contohnya tadi, ia diperlakukan secara kasar oleh seniornya, bahkan hampir di rape pula. Dan tentu saja. Ia tidak lupa dengan pertolongan Athrun padanya saat di toilet tadi.
"Besok, aku harus berterimakasih pada, Zala-senpai, " ungkap Kira
Kira pun melangkah menjauhi gerbang sekolah. Rasanya tak sabar sampai apartement sederhana miliknya, dan menikmati ranjangnya yang hangat dan lembut. Sepertinya dengan tidur, dapat mengurangi keletihannya. Sungguh, hari ini benar-benar hari yang melelahkan bagi Kira.
Tin! Tin!
Entah mengapa, mendengar bunyi klakson mobil, membuat Kira menghentikan langkah. Dan menoleh ke aras samping kanannya. Sukses mendapati sebuah mobil Mercedes Benz mewah bewarna silver berhenti tepat disampingnya.
Perlahan kaca mobil pun terbuka. Menampakkan sang pengendaranya. Kira terpaku.
"Za-Zala-senpai?"
"Yo! Sendirian?" tanya sang empu mobil yang ternyata Athrun.
"A-ah, iya. A-no.. terimakasih sudah menolongku tadi pagi. Sekali lagi terimakasih, Zala-senpai." Ucap Kira sambil menunduk sekilas.
Athrun tertawa pelan mendengar penuturan Kira, membuat Kira mengerutkan alisnya bingung, "Hahaha.. kau tahu? Kau sudah mengucapkan terimakasih kepadaku hampir 5 kali,"
"Sou ka?" tanya Kira polos, sembari memiringkan kepalanya bingung. Tak menyadari, jika wajahnya kini tampak manis dengan ia bersikap begitu.
Deg!
'Ukh, kenapa perasaanku jadi berdebar seperti ini?' pikir Athrun, sambil menatap wajah polos Kira. 'Sikapnya polos sekali.'
"Zala-senpai, Doushita?" tanya Kira.
Athrun tersadar dari lamunannya, dan menggelengkan kepala, "Hahaha.. tidak apa-apa. Ini sudah terlalu sore. Lebih baik, kau kuantarkan pulang," tawar Athrun.
"Ti-tidak, terimakasih. Aku berterimakasih atas kebaikkan anda, Zala-senpai. Saya tidak ingin merepotkan anda," tolak Kira halus.
"Siapa yang direpotkan? Toh, aku yang menawarimu. Malah aku kecewa, lho.. kalau kau menolaknnya." Jawab Athrun.
"Gomenasai, Zala-senpai!" ujar Kira sembari menunduk sekilas.
"Aku tak akan menerima permintaan maafmu, sebelum kau menerima tawaranku, bagaimana?."
"Eh?" Kira tampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya, ia mengangguk pelan.
Athrun tersenyum, "Kalau begitu, naiklah." ucap Athrun.
Mau tidak mau. Karena terlanjur mengangguk yang artinya menerima, Kira melangkah ke arah pintu mobil yang sebelahnya. Setelah membukanya, ia pun segera naik ke dalam mobil mewah itu.
Melihat pemuda berambut coklat itu sudah duduk tenang di jok sampingnya, dan sudah memakai sabuk pengaman. Athrun bertanya, "Alamatmu, dimana?"
"Ah, gomen, zala-senpai. Di St. Avanueas IX. Apartement Delta,"
"Athrun,"
"Eh?"
"Panggil saja Athrun. Secara pribadi. Aku lebih suka orang memanggilku Athrun," ungkap Athrun.
Kira mengangguk mengerti, "Ba-baik, Athrun-senpai,"
Athrun menghela nafas pelan, "Baiklah, kita pulang,"
"Iya,"
Disepanjang perjalanan, Athrun dan Kira hanya saling terdiam. Diantara mereka hanya terdengar suara lantunan lagu yang di putar dari radio mobil. Bosan dengan suasana canggung seperti ini, Athrun membuka suara, "Oya, namamu, siapa?" ujar Athrun basa-basi. Padahal sudah tahu, tapi lebik enak langsung tanya pada orangnya kan?
Kira tampak tesentak, "Gomen, seharusnya aku memperkenalkan diriku dari awal,"
"Hahaha.. tidak apa-apa. Jadi namamu?"
"Kira, Kira Yamato. Salam kenal Athrun-senpai." Ucap Kira, sambil menundukkan kepalanya sekilas.
Athrun balas tersenyum, sembari melihat Kira dari ekor matanya, "Salam kenal, Kira."
Mereka kembali terdiam.
"Apartement? Kau tinggal sendirian? Orang tuamu?" tanya Athrun,
"Iya. Aku tidak tahu apa-apa tentang mereka. Karena sejak kecil, aku tinggal di panti asuhan," ungkap Kira.
"Ah, gomen! Aku menanyakan hal yang tidak-tidak padamu, Kira." Ujar Athrun merasa bersalah. Dan cukup terkejut dengan pengakuan Kira.
Kira menggeleng, "Tak apa. Tapi, aku masih memiliki adik yang selalu mengunjungiku,"
"Adik? Kenapa tidak tinggal bersama?"
"Iya, itu karena, dia sudah diadopsi orang lain. Saat kami masih di panti asuhan dulu,"
Athrun terdiam. Dalam hatinya, ia merutuki kebodohannya sendiri karena telah menanyakan hal yang tidak-tidak tentang Kira. 'Apa yang kau tanyakan bodoh? Memangnya kau ini siapanya Kira?' rutuknya dalam hati.
"Maaf, aku menanyakan hal pribadi padamu, Kira. Padahal kita baru saling mengenal," Sesal Athrun.
"Tak apa. Aku senang. Athrun-senpai mau mendengarkan masalahku," ujar Kira sambil tersenyum.
Athrun membalas senyuman itu, "Diluar dugaan. Kau pemuda yang hebat, Kira," gumam Athrun pelan.
"Eh? Apa Athrun –senpai mengatakan sesuatu?" Tanya Kira.
"Hahaha.. tidak, kok."
"O-oh.. "
Mereka kembali terdiam.
Entah mengapa keheningan diantara mereka, membuat Kira merasa mengantuk. Mungkin karena ia memang letih, dan ingin tidur. Ditambah AC mobil yang sejuk menerpanya dengan aroma terapi yang menjadi pengharum mobil itu, serta jok mobil yang lembut dan empuk membuat ia makin merasa nyaman.
"Kudengar, kau baru pindah kesini 5 bulan yang lalu. Kalau boleh tahu, sebelumnya kau tinggal di kota mana?" tanya Athrun mencari topik yang lain, sambil tetap fokus pada jalanan yang ditelusuri mobilnya.
"Plant." Jawab Kira singkat.
"Ohh.. Plant. Kota yang cukup jauh dari Orb." Komentar Athrun singkat, "Kurahap, kau suka berada di Orb, Kira." Lanjutnya, 'Kecuali kejadian tadi pagi, sih.' Tambahnya dalam hati.
"Iya," gumam Kira.
"Kurasa, kita bisa jadi teman dekat, Kira,"
"Hmm.."
"Sebelumnya, maaf aku tanyakan ini padamu. Tadi pagi, apa yang membuatmu bisa berurusan dengan mereka bertiga?" tanya Athrun.
Tidak ada jawaban.
"Kira?"
"…"
"Kira?"
"…"
Merasa aneh karena Kira tak kunjung menjawab pertanyaanya. Athrun reflek menghentikan mobilnya, dan langsung menoleh ke arah jok sampingnya, dimana Kira berada.
"Ki.." vakum Athrun. Ketika ia menangkap sosok Kira yang kini tertidur pulas di jok mobilnya. Tanpa sadar, Athrun tersenyum melihat wajah polos Kira yang tertidur. "Dia pasti lelah," gumam Athrun. Lalu, ia pun membuka blazer hitam miliknya. Dan menyampirkannya pada Kira.
"Engh.." erang Kira, sambil menggeliat nyaman.
Athrun kembali tersenyum, "Polos sekali,"
Dan Athrun pun, kembali menjalankan mesin mobilnya.
OOOOOooooOOOOO
-Orb Production House-
"Yak, bagus! Pandangan matanya coba tetap fokos ke depan kamera. Yak, bagus! Oke, Selesai. Kerja bagus, Lacus-san!" seru seorang photografer rumah produksi itu, pada seorang gadis cantik berambut pink.
"Arigatou, Chiba-san." Kata Lacus, sambil tersenyum.
"Ok, kita break 15 menit!"
"Yoaaa.." koor para kru di sana.
Lacus berjalan menghampiri kursinya, ia pun menghela nafas setelah duduk di kursi itu. "Apa Athrun tidak datang hari ini, Chiba-san?" tanyanya pada sang photogafer yang sedang melap kamera miliknya.
"Athrun? Sepertinya tidak. Mungkin karena hari ini, dia tidak ada jadwal pemotretan. Makanya dia tidak datang." Jawab Chiba.
"Oh.. begitu, ya." Gumam Lacus.
"Oya! Ku dengar, kau menolak tawaran bermain film itu ya, Lacus-san?"
"Iya."
Chiba mendekati Lacus, "Lho, kenapa? Bukannya itu tawaran yang cukup bagus?"
Lacus tersenyum, "Aku hanya ingin berkonsentrasi pada dunia tarik suara dan modeling. Untuk bermain film, aku belum kepikiran. Lebih dari itu, menyanyi dan menjadi model adalah duniaku sekarang. Dan bisa memberikan yang terbaik untuk para penggemar adalah kepuasan tersendiri untukku," ujar Lacus dengan mata yang berbinar senang.
Chiba tertawa pelan, "Aku bangga memiliki aktris sepertimu, Lacus-san. ayo, berjuang bersama-sama!" seru Chiba.
Lacus mengangguk, "Ha'i."
OOOOOooooOOOOO
"Kira, bangun. Sudah sampai." Ujar Athrun, sambil mengguncang pelan bahu Kira. Sebenarnya, Athrun tak tega membangunkan Kira yang tampaknya kelelahan. Tapi, apa boleh buat. Dia harus tetap membangunkan Kira.
Menerima guncangan pelan dibahunya, perlahan mata bewarna violet itu pun terbuka.
"Athrun-senpai?" gumamnya, sambil mengerjapkan matanya berulang kali.
Athrun tersenyum, "Sudah sampai,"
Seketika, Kira terbangun. Lalu menoleh ke arah jendela. "Go-gomenasai. Aku ketiduran."
"Tak apa. Tampaknya kau memang lelah, Kira."
"I-iya.." saat itu, Kira baru menyadari ada sebuah blezer yang tersampir di tubuhnya, dan pandangan matanya teralih pada Athrun yang hanya mengenakkan kemeja putih, "Anu.. ini milik Athrun-senpai?" tanya Kira.
"Ah, yeah. Tadi, sepertinya kau kedinginan," kata Athrun.
"Arigatou, Athrun-senpai. Hari ini, aku banyak menyusahkanmu."
"Tidak usah sungkan. Bukankah, sekarang kita teman?"
Kira mengangguk, "Iya. Kalau begitu. Sampai jumpa besok," ucap Kira, sembari bersiap akan turun.
"Iya, sampai jumpa besok, Kira." Setelah mendengar ucapan itu dari Athrun, Kira turun dari mobil Athrun. Dan beranjak masuk ke gedung apatementnya.
"Kira!" panggil Athrun,
Kira menoleh pada Athrun yang berada dalam mobil, "Ya?"
Athrun tersenyum, "Besok kau akan ku jemput."
"Eh? Ta-tapi.."
"Tak ada tapi-tapian. Besok akan ku jemput jam 7 pagi, sampai jumpa." Dengan itu, Athrun menghidupkan mesin mobilnya, dan beranjak pergi dari sana. Meninggalkan Kira yang terpaku di depan gedung apartementnya.
"Athrun-senpai.." gumamnya pelan. Entah mengapa, Kira merasakan hal aneh pada hatinya. Yang ia sendiri tidak tahu apa penyebabnya apa. Tak beberapa lama kemudian, ia pun segera masuk ke dalam gedung apartementnya itu.
OOOOOooooOOOOO
-TBC-
OOOOOooooOOOOO
A/N: Nyaaa...~ akhirnya bisa update ini chap 2...! ! gomen, kalau update-nya lama. Coz' tugas skul numpuk #orz#.. jadinya, Cuma waktu dikit buat bikin fic.. gomen.. =_='a –bows-
Sekali lagi, gomen kalau ceritanya tambah gaje, typo yang luput dari pengeditan, or alurnya kecepatan.. semoga tidak mengecewakan... ^^v
-Balasan Review-
#Via-SasuNaru
-Hehehe.. Sou ka? Syukurlah kalau Via-san suka.. ^^. Ini dah update! Semoga terhibur... :D
#Namichiha yuu-chan
-Nyaaa..~ Syukurlah kalau Yuu-chan senang sama fic ini.. Yeah, pendapatnya sama! #tos# padahal, pair AthrunKira kan so sweat. Sayangkan kalau gak dijadiin fic.. hehehe.. #d'hajar rame2#
Eh? Di fave? O.o'... Sankyuuu.. –Bows-
Hahaha.. ini udah update! Semoga terhibur... XD!
#Megami Mayuki
-Wahahaha... –hug back-
Nyaaa...~ makasih atas pujiannya, Mayuki-chan... ^^
Sou ka? Adegan Athrun nolong Kira manis.. Sebenarnya, Naru gak tega Kira-chan digituin sama 3 orang itu. Mana hampir di rape lagi.. T^T.. Tapi, demi kelancaran cerita terpaksa deh... =.='a #d'injek freedom#
Nyaaa..~ sankyuu udah di fave.. ini dah update! Semoga terhibur...
#Pearl Jeevas
-Wahahaha.. –gakbisangomongapa2-
Nyaaa...~ jujur ini review terpanjang yang pernah Naru terima selama menjadi author..#alah
Hahaha.. Athrun genit? –lirik Athrun yang lagi ngasah golok(?)-
Huhuuhu..Sebenarnya, Naru gak tega Kira-chan digituin sama 3 orang itu. Mana hampir di rape lagi.. T^T.. Tapi, demi kelancaran cerita terpaksa deh... =.='a #d'basoka freedom#
Diterusin? O.O.. Hehehe.. maunya juga gitu.. #d'kubur idup2 ma Athrun# XDD
Iya, bisa dibilang ini baru prolog aja.. ^^. Jadi, gomen kalau ada yang gaje disini..-bows-
Nyaaa.. itu rahasia! #d'lempar granat#
Iya, ini udah update! Semoga terhibur.. XDD
PS: Ayo, buat! Naru dukung, Paerl-san! ! ! Ramaikan fandom ini dengan fic Shou-ai..! #d'keroyok massa#
#Zizi Kirahira Hibiki 69
-Nyaaa..~ Sankyuu… -hug-
Ini udah update! Semoga terhibur... :3
#Aihsire Atha
-Nyaaaa...~ Atha-san juga fujoshi, Hore! ! #d'sumpel#
Iya, Naru juga setuju.. ini kan Cuma fanfic.. Unleash Your Imagination.. hehehe.. jadi, sah-sah saja kan kalau ada fic shou-ai. Toh, kalau fic shou-ai dilarang, harusnya dari awal kan semenjak ffn ini di buat? Jadi, selama gak ada larangan buat fic shou-ai, sah-sah saja kan? #curcol#
Tidak juga, Atha-san.. Naru pernah sekali baca fic AthunKira indo (walau angsty..T^T).. karena udah baca fic itu, Naru jadi terdorong buat publish fic ini.. hehehe..^^v
Ini udah update! Semoga terhibur...XDD
=Yosh! Sekian untuk chapter ini..! ! mohon Review-nya…. –mabur- XDD!=
