Yo, minna-san! Kembali lagi dengan author (sok) kawakan ini. Ada reviewer yang bingung, karena memang prolog saya sangat tidak jelas dan aneh seaneh penulisnya (Itachi menertawakan di sebrang), tak apa, semuanya akan baik-baik saja seiring cerita ini mulai berjalan J Oh ya, ini Canon, alur maju mundur kayak setrikaan, tambahan OC untuk menunjang cerita, dan seperti yang saya katakan, tokoh OC utama agak Mary Sue (I've warned you). No flame, karena saya yakin para flamer pasti tahu dengan arti kalimat 'tidak suka, jangan dibaca', kan sudah diperingatkan J

Disclaimer: Sekali lagi, Naruto always by Masashi Kishimoto


Beberapa tahun yang lalu...

Chapter 1

Seorang gadis kecil berlari di antara kerumunan pasar. Matanya tampak sembab, menahan air mata. Ia menghambur menuju rumahnya, masuk ke lab Rei, lalu seketika menempel pada kaki Rei yang sedang sibuk.

"PAMAN REEEEEIIIII!"Runa – nama gadis kecil itu – memandang pria beriris hitam itu, mengadu. "Mereka mengejekku pendeeeeekkk dan hitam!"

Rei tertegun. Ia memang tak menciptakan gadis ini secara sempurna dalam bentuk fisik. Ia menghela nafas, dengan hati agak jengkel juga, karena penelitiannya terganggu. Tapi, ia tercenung seketika melihat wajah Runa yang tampak sembap.

"Runa, siapa maksudmu dengan 'mereka'?"

"M-mereka, anak-anak dari klan Uchiha..."

Klan itu lagi, Rei mendesah. Apa sebegitu bencinya mereka pada hasil penelitiannya? Ia tahu, klan Uchiha memang sempat menentang keinginan Rei untuk menciptakan generasi terbaik dengan meminta salah satu gen Uchiha selain beberapa gen lainnya yang telah mendapat restu dari masing-masing klan. Tentu saja Rei bersikeras, sampai salah seorang Uchiha akhirnya memberikannya. Tapi, apa sekarang? Hasil penelitiannya bukanlah barang, tapi manusia, memiliki hati juga. Ia sudah belasan kali mendengar nada iri dan tatapan tak suka dari klan tersebut saat mereka tahu kemampuan anak ini di akademi. Andai mereka ingin menyalahkan, salahkan dirinya, bukan Runa.

Klan Uchiha, seperti biasa, selalu tak ingin terkalahkan.

"Baiklah, beri tahu aku..." Rei menarik tangan Runa, mengajaknya duduk di sebuah kursi panjang. "Apa yang sebenarnya terjadi? Jelaskan secara rinci."

"Kami berlatih biasa pada awalnya, tapi entah mengapa tanpa disangka salah seorang dari mereka melemparku dengan kerikil lalu mengatakan bahwa aku tak pantas mendapatkan mata ini...mereka bilang aku hanyalah barang penelitian tak sempurna, karena kulitku hitam dan tubuhku pendek..."

Rei facepalm.

"Sudah kubilang jangan aktifkan sharingan jika bertarung dengan mereka. Mereka iri dengan kemampuanmu!"

"Aku kesal pada mereka! Mereka mengeroyokku! Aku perempuan, sendiri, sementara mereka berlima! Mereka tidak jantan!" pekik gadis kecil itu. Matanya memerah, memperlihatkan tiga tomoe miliknya. Rei terpekur.

Mata itu terbentuk dari kebencian.

"Kalau begitu, mengapa kau tak melawan mereka?" tanya Rei. "Bukankah kau murid yang terkenal pintar saat di akademi?"

"Ya,"

"Kalau begitu lawan mereka. Serang mereka. Beri mereka pelajaran yang pantas."

"Melawan mereka? Tapi...bagaimanapun mereka teman-temanku."

"RUNA! Mereka BUKAN teman-temanmu! Tak ada teman yang akan menghina temannya sendiri! Mereka tak menganggapmu teman!"

"Jadi aku harus melawan mereka?"

"Ya. Jangan tumbuhkan panyak perasaan melankolismu, karena kekuatan dalam darahmu, dalam matamu terutama, berasal dari kebencian..." Rei menepuk bahu gadis kecil tersebut. "Mulai saat ini, berlatihlah lebih keras lagi."

Runa memandang Rei dengan kepala tengadah, mengangguk kuat-kuat.

Ya, ia harus lebih kuat.

.

.

.

'Jangan tumbuhkan perasaan melankolismu, karena kekuatan dalam darahmu, dalam matamu terutama, berasal dari kebencian...'

Kalimat itu terngiang di telinganya. Sudah dua tahun berlalu, dalam waktu-waktunya yang ia habiskan untuk berlatih dan menjalankan misi. Ia sudah chuunin di usianya yang ke 9 tahun ini. Ia tersenyum sendiri, mengiyakan kalimat Rei. Benar, ia memang bertambah kuat karena kebencian.

SRAK.

CRAK CRAK!

Anak laki-laki berambut hitam itu mengangkat tangannya, setengah kaget saat melihat dua shuriken menancap di pohon dimana tempat ia bersembunyi. Ia memandang gadis kecil itu dengan tatapan tak percaya.

"Wow, wow, tenang. Kenapa kau? Aku bukan penjahat."

"Tak ada penjahat yang mengaku dirinya penjahat," kata gadis itu, masih memunggungi anak lelaki itu, berjongkok di pinggir danau sambil memainkan pasir yang mengambang.

"Tapi memang aku bukan penjahat...eh, kau Runa kan?"

Runa beranjak berdiri, lalu menoleh. Kedua mata hitamnya memandang anak lelaki berwajah tampan itu.

"Ya, ada apa?"

"Sebenarnya tidak ada apa-apa sih," anak lelaki itu tersenyum, berjalan mendekati Runa, mengulurkan tangannya. "Kenalkan, aku Itachi."

"Uchiha," lanjut Runa memandang model pakaian Itachi. "Maaf, aku tak ada niat berkenalan denganmu."

Itachi ternganga. Ia membeku melihat gadis itu malah membiarkan dirinya berdiri dengan mengulurkan tangan dengan bodohnya.

"Aku sempat mendengar tentangmu..." Itachi berjalan mendekati Runa, berdiri di sebelahnya. "Aku minta maaf karena klan kami tampaknya menaruh kebencian padamu."

"Jangan berlagak baik padaku."

"Mereka iri dengan kemampuanmu..." sahut Itachi seolah tak peduli dengan ucapan Runa barusan. "Mereka merasa tersaingi karena kau bisa menguasai kemampuan yang belum tentu anak-anak mereka dapat kuasai saat seumurmu..."

"Yang tolol itu mereka," sahut Runa. "Mereka bukannya tak bisa, tapi mereka kurang kebencian."

Itachi melirik pada gadis itu, "kebencian?"

"Kau dari klan Uchiha murni, pasti lebih tahu tentang itu kan?" Runa menatapnya. "Kebencian adalah sumber kekuatan klanmu."

"Kau juga masih satu darah dengan kami, Runa..."

"Jangan sebut aku bagian dari kalian!" Runa menatap Itachi dengan sharingan yang teraktivasi. "Aku tak pernah menghina, mengatai orang, atau melempari orang dengan batu kerikil! Aku tak akan pernah menganggu orang yang tak mengangguku."

Itachi melipat tangannya ke dada, "heh, jadi itu alasanmu?"

Runa berbalik, berjalan memunggunginya, menjauhi Itachi. "Bukan urusanmu."

"PENDEEEEEKKKK!" sebuah suara mengagetkan keduanya. Tiga orang pria berkacak pinggang dari atas pohon yang tak jauh dari mereka sembari memainkan tomat dengan satu tangannya.

"Pendek?" Itachi melongo.

"Kalian lagi," Runa mendongak, lalu mendesah. "Terserah kalian sajalah."

SYUT...PLAK.

Satu tomat terlempar dan tak mengenai sasaran. Gadis itu menghindar, sementara Itachi hanya tertegun memandang tomat tersebut.

Itu makanan kesukaan adikku, batinnya kuyu.

. ?docid=35288745"Kau tak melawan kami hah?"

"Aku takut," Runa menggumam. "Aku takut berakhir dengan membunuh salah satu dari kalian."

"Jadi kau serius tak mau melawan kami seperti biasanya? Dasar cengeng."

SYAT.

"Kemana gadis itu?" Itachi memandang sekitar.

TEP.

DEP.

"Jadi kalian pikir aku cengeng, heh?" Runa dengan tiba-tibanya berdiri di belakang anak tersebut, menarik lehernya dengan tangan kanan , mengacungkan kunainya di leher salah satu anak yang melemparinya tomat. "Coba sekali lagi kau bilang aku cengeng."

Itachi kaget. Sudah dia atas pohon lagi?

"R-Runa...k-kami t-ak s-serius..."

"Katakan itu di akhirat, sobat..."

"RUNA!" sebuah suara mengagetkan Runa. Itachi kini berdiri di belakang Runa, menyentuh bahunya. "Lepaskan dia."

Runa mendesah kesal, lalu melepas anak lelaki tersebut. Kedua temannya yang berada di dahan lain sudah memandang mereka dengan kaki gemetaran.

"Kak Itachi!" pekik anak lelaki tadi saat tahu suara tersebut. Ia berbalik memandang salah seorang yank di klan Uchiha yang sangat disegani.

"Jangan ganggu dia, Hideki..." Itachi memandang Hideki dengan senyum tipis. "Dia temanku."

"Maafkan aku, Kak Itachi..."

"Kau juga, Junichi, Katsuo..." Itachi menoleh memandang dua anak lain di dahan yang berbeda. "Pulanglah."

"B-baik, Kak Itachi..."

Ketiga anak itu mengangguk, lalu menghilang dari pandangan. Itachi meloncat turun, diikuti dengan Runa yang memandang pria yang melangkah lebih dahulu di depannya dengan hati yang mencelos.

"T-terima kasih, Itachi-san," kata Runa. Hatinya – entah mengapa – bergetar aneh saat lelaki di itu menyebutkan bahwa Runa adalah temannya.

"Sama-sama..." ia berbalik, memandang Runa. "Bagaimana kalau kita membeli dango?"

Runa terbelalak, "hah?"

Runa tersenyum memandangi 3 bulatan kue beras itu. Itachi memandangnya dengan aneh.

"Kau kenapa?"

"Seumur aku hidup, baru kali ini aku bisa menikmati perasaan yang damai meski hanya dengan makan dango," katanya pelan.

"Memangnya kenapa?"

"Aku sempat berpikir bahwa aku merasa demikian karena...aku makan dango bersamamu..." Runa melanjutkan memakan kue bola tersebut. Itachi tertegun sejenak, sebelum akhirnya tersenyum. Digapainya kepala Runa, dan ditepuknya pelan.

"Kalau begitu, kita harus sering membeli kue dango dan makan bersama, bagaimana?"

"Asal kau yang membayar..." Runa terkikik. Itachi tersenyum dengan sunggingan tipisnya, yang selalu berhasil membuat gadis kecil itu meleleh.

"Kau lucu, Runa-chan," katanya pelan. "Bisa saja kubawakan dango, tapi jangan melempariku dengan shuriken lagi ya?"

Runa tertawa, meski pipinya merona malu, mengulang memori ketika mereka pertama kali bertemu.

"Aku akan membawa onigiri dan kau membawa dango atau sebaliknya, dan kita makan bersama saat ada waktu, disini..." katanya. "Karena hanya di dahan pohon ini kita bisa melihat warna langit yang indah saat matahari tenggelam!"

Runa memandang matahari yang mulai tenggelam, lalu mengangguk. "Baiklah!"

.

.

.

Runa POV

Sejak itu kami sering bertemu saat kami tak ada misi. Kami sama-sama suka dango dan onigiri, sebuah kesamaan yang menyenangkan. Saat kami bertemu, biasanya kami saling membawa makanan. Aku membawa onigiri, dan ia membawa dango, atau sebaliknya. Tak jarang juga kami berlatih bersama. Kuakui ia memang hebat dalam segala hal, dan itu yang membuatku kagum padanya. Saat aku bersamanya, seringkali watak asliku keluar. Aku seringkali memasang topeng kebencian dan dingin di depan orang, tapi tidak dengannya.

Ia terlalu tulus untuk diperlakukan demikian.

Aku mengaguminya. Kejeniusannya, kesopanannya, watak baik hatinya, termasuk ehem, ketampanannya. Kadang aku merasa bangga saat aku bisa berjalan berdua dengannya sementara banyak anak gadis seumuranku berteriak-teriak iri padaku karena tak bisa berjalan bersama Itachi. Haha, untuk yang satu ini jangan salahkan aku. Kami memang didekatkan oleh keadaan dan takdir.

Nah, takdir.

"Kazuo, bagaimanapun kau harus berlatih ninjutsu medis lagi..." Arata, sensei tim kami, memandang Kazuo dengan pandangan serius. "Runa tak bisa ninjutsu medis dan lebih ahli dalam pertarungan, sementara kau lemah dalam stamina."

"Kenapa malah aku yang lebih ditekan untuk menjadi tenaga medis di tim ini?" Kazuo mengepalkan tangannya, lalu menudingku yang kini menikmati dango. "Harusnya kau yang jadi ninja medis!"

"Guru Arata sudah menyebutkan penyebabnya kepadamu kan, tadi?" tanyaku singkat.

"Sudahlah, guru Arata benar, Kazuo," Satoru memandang Kazuo dengan tenang. "Runa memang lebih pintar dalam bertarung dibandingkan kau. "Akui saja kelemahanmu, dan kita tak perlu ribut-ribut seperti ini."

"Ta-tapi..."

"Sudahlah," Guru Arata menepuk bahu Kazuo. "Turuti saja permintaanku. Ini demi kesuksesan tim kita juga."

Kami terdiam sejenak. Aku melempar tusuk sango itu ke tempat sampah.

"Baiklah, sampai sini dulu latihan kita," Guru Arata mengakhiri perjumpaan kami dengannya. "Sampai ketemu lagi besok."

Sosoknya menghilang, meninggalkan kami bertiga. Akhirnya kedua anak itu meninggalkanku sendiri yang masih menikmati kesendirian di training field ini. Saat itu, tak sadar seseorang menepuk bahuku dengan lembut, membuatku menoleh. Itachi tampak mengenakan seragam ANBU miliknya, memandangku lembut seperti biasanya.

"Menungguku, Runa?"

"Haha, tahu saja kau," aku tersenyum.

"Aku bawa onigiri," katanya dengan senyuman tipis.

"Kebetulan, aku lapar," aku berjalan, mencari spot yang cocok untuk menikmati makanan yang ia bawa, lalu akhirnya meloncat menaiki sebuah dahan pohon. Itachi ikut meloncat, lalu duduk di dahan itu bersamaku. Ia menyodorkan kotak berisi onigiri tersebut, lalu ikut makan bersamaku.

"Aku hanya menyisakan dua tusuk dango," kataku singkat, memberikan dua tusuk dango tersebut pada Itachi. Ia menerimanya.

"Bagaimana rasanya menjadi ANBU?"

"Melelahkan," sahutnya singkat. Ya, ia baru saja diangkat menjadi seorang ANBU. "Berminat menjadi anggota ANBU juga? Kalau kau berminat, kurasa aku bisa merekomendasikanmu."

"Dengar, usiaku baru 11 tahun, memiliki pemikiran yang tua sebelum waktunya, dan pemalas."

"Meski pemalas, kemampuanmu hampir sama dengan anggota ANBU."

"Hehe. Belum terpikirkan jauh untuk menjadi bagian dari skuad tersebut," aku menggeleng, lalu melahap onigiriku.

"Baguslah. Lagipula, aku tak mau kau terluka..."

Aku menoleh padanya. Perasaan apa ini, yang tiba-tiba muncul di hatiku?

Ia tersenyum tipis padaku, "ayo, lanjutkan makanmu."

Aku tercenung. Ia tak mau aku terluka?

"Hm, hari ini aku tak bisa lama-lama denganmu, adikku mengajakku bermain," Itachi membersihkan tangannya. "Terima kasih dangonya, Runa."

Ia mengacak-acak rambutku, lalu meloncat turun. Di bawah, ia tersenyum, melambaikan tangannya padaku. Aku mengangguk, melemparkan senyumku padanya. Sesaat kemudian tubuhnya melesat meloncati atap-atap rumah penduduk.

Ia...mengelus kepalaku?

.

.

.

Saat itu, hari sudah gelap. Matahari sudah menuju peraduannya, dan kini langit berganti warna sehitam beludru yang dipenuhi bintang. Runa melangkahkan kakinya dengan ringan menuju rumahnya – yang juga rumah Rei – yang kini tampak lebih berantakan. Runa memicing, mencari sosok lelaki yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri, dan tersentak mendapati pria itu dalam keadaan yang kacau juga.

"Paman Rei? Paman kenapa?"

"Tadi Fugaku datang kemari," katanya pelan. "Ia menanyakan soal kau."

"Aku?" Runa melepas sepatu ninjanya. "Fugaku? Fugaku...pemimpin klan Uchiha itu?"

"Kadang kau tolol," Rei melempar gulungan di mejanya. "Memangnya Fugaku Uchiha ada berapa?"

"Kau hanya bilang Fugaku, bukan Fugaku Uchiha...yang namanya Fugaku jumlahnya banyak di Konoha no Sato ini..."

Pelipis Rei berkedut. Kejeniusan gen Uchiha memang benar-benar mengalir dalam darah anak buatannya ini.

"Lalu ada apa?" tanya Runa ingin tahu.

"Menegur agar kau tak berteman dengan anaknya," Rei mendekatkan wajahnya pada Runa. "Kau berteman dengan Itachi?"

Mata Runa terbelalak. "Bagaimana ia bisa tahu? Dan kenapa aku tak boleh berteman dengannya?"

"Entahlah," Rei mengangkat bahu, menjauhkan kepalanya dari kepala Runa. Ia tak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Runa, tak mau menambah rasa sakit hati lagi pada gadis yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.

"Jangan sembunyikan rahasia itu dariku..." Runa memandang Rei. "Beritahu aku!"

Rei menghela nafas. Satu kejelekan anak ini, seorang pemaksa. Dan tak ada yang bisa menolak keinginannya ketika ia sudah memaksa.

"Ia mengatakan, kau akan membawa pengaruh buruk pada Itachi. Itachi adalah anak kebanggaannya," sahut Rei, memandang Runa.

Runa tersenyum tipis, meski di hatinya sebuah emosi menggunduk penuh kebencian. "Sudahlah, tak penting. Ngomong-ngomong, Paman sudah masak? Aku lapar."

"Belum. Sebaiknya kita makan diluar saja..." Rei mengambil jubahnya. "Ayo berangkat."

Runa mengangguk. Diambilnya sebuah jubah yang agak kecil, lalu dikenakannya sepatu ninja miliknya. Setelah keluar, Rei mengunci pintu. Saat itu memang agak dingin. Mereka berjalan pelan, sembari sesekali Rei menceritakan beberapa penelitiannya yang gagal. Malam itu memang agak ramai meski lebih dingin. Banyak orang-orang mengenakan pakaian tebal, hanya untuk sekedar menghangatkan badan. Manik hitam milik Runa sesekali bergerak melihat orang-orang yang berhilir mudik. Saat itu matanya terpaku pada sosok yang tak asing di matanya. Dua pria besar yang mengenakan pakaian jonin, tampak mengobrol.

Dia, dia...

Fugaku Uchiha, batin Runa dengan penuh benci.

Keduanya berjalan, sementara pria yang dipandangnya berjalan dari arah berlawanan. Mata Runa bersirobok dengan sang pemimpin klan Uchiha itu, lalu Runa memalingkan mukanya.

Lelaki itu, ya, lelaki itu yang melarangnya berteman dengan Itachi. Runa tersenyum dalam hati. Apa salahku sehingga aku tak bisa bersahabat dengan anak sulungnya? Apa karena aku tidak sehebat mereka? Atau karena aku bukanlah seorang manusia yang terlahir alami seperti anak-anak mereka, yang lahir di antara kehebatan klan murni mereka yang selalu membuatnya jengah.

"Kau kenapa, Runa?" tanya Rei, mengagetkan Runa.

"T-tidak..." Runa memandang Rei. "Ngomong-ngomong, paman tahu pria yang ada di sebelah paman Fugaku tadi?"

"Maksudmu yang ada di sebelah Fugaku tadi? Dia Yuichi, sahabat baik Fugaku. Mereka sangat akrab."

"Hm..." Runa mengangguk. Akrab ya. Ingin rasanya ia punya teman akrab.

Langkah mereka terhenti di sebuah kedai, dan keduanya duduk. Mereka memesan okonomiyaki, dan dua minuman hangat untuk menghangatkan tubuhnya.

"Ngomong-ngomong soal Yuichi, dialah orang yang mendonorkan DNA-nya padamu..." ucap Rei singkat. "Ia adalah salah satu anggota Uchiha yang menyetujui pembuatanmu."

"J-jadi, d-dia ayahku?" Runa kaget. Saat itu pesanan mereka telah datang, dengan asap mengepul, terhidang di meja.

"Ah, bagaimana ya..." Rei menggaruk pipinya. "Tidak bisa disebut demikian. Gen mu berasal dari berbagai DNA. Mungkin memang gen Yuichi mendominasi karena ia juga seorang yang jenius di klannya dan kau mewarisi Sharingan, tapi sulit menyebut ia sebagai ayahmu secara genetik. Kau tercipta kompleks..."

Runa tercenung.

"...seperti okonomiyaki, campuran yang kompleks juga..." Rei menunjuk makanan itu, tertawa kecil.

"Lucu sekali, paman Rei," Runa tertawa garing.

"Sudahlah, ayo makan dulu..."

Runa mengangguk, dan menikmati makanan tersebut.

.

.

.

"Runa," panggil Rei saat Runa membaca buku. "Jawab aku jujur, apa kau marah saat dilarang Fugaku untuk berteman dengan Itachi?"

Tangan Runa mengencang. Diletakkannya buku itu di meja, "siapa yang tak marah jika sahabat yang sudah kau anggap segalanya itu harus dipisahkan karena alasan yang tidak realistis?"

"Jadi kau pikir, alasan Fugaku memisahkanmu dengan Itachi sangat tak realistis?"

"Ya, karena ia satu-satunya orang yang bisa kuanggap sahabat..." Runa menunduk. "Aku tak mungkin memengaruhinya."

Rei menyeringai, "kebencianmu pada klan tersebut sudah cukup memberinya alasan."

Runa mengangguk, "mereka selalu merendahkanku. Ya! Pandangan mereka, tatapan benci mereka, yang menganggap dirinya paling sempurna!"

"Mereka iri padamu, sobat..." Rei tersenyum kecil.

Runa merasa hatinya panas. Selama ini, seumur hidupnya, ia diajari Rei untuk tidak banyak bicara, tak banyak berkomentar, termasuk membunuh perasaannya sendiri. Tapi, mengapa rasa dendamnya pada orang-orang tersebut juga tak hilang? Selama ini, hanya Itachi, yang mampu membuatnya sesaat dalam perasaan damai dan tenang. Tapi, saat mengingat tatapan tak suka dan omongan pedas dari para orang tua berklan Uchiha itu, ia ingin sekali meremas mereka satu-satu.

"Kau, pernah mendengar salah satu kekuatan di atas sharingan?"

"Tidak, memang ada?" Runa memandang Rei.

"Ada. Mangekyou sharingan. Hanya saja mata ini unik, karena...mata ini...diperoleh setelah membunuh sahabat terdekat atau anggota keluarga sendiri," Rei membuka sebuah agenda, membaca. "Hanya saja, penggunaan yang sering akan menyebabkan kebutaan."

"..."

"Di atasnya lagi adalah eternal mangekyou sharingan," Rei membalik salah satu halaman agendanya. "Mata ini diperoleh dengan cara mencangkokkan mata saudara atau anggota keluarga sendiri ke mata kita."

"Aku tak mungkin mendapatkannya," Runa memalingkan wajahnya ke arah lain, menatap lantai. "Aku tak punya anggota keluarga."

Puk. Buku agenda itu tertutup

Rei menyeringai, dengan pandangan penuh arti, "kau yakin?"

"Kau ini yang menciptakanku, kau lebih tahu aku, Tuan Ilmuwan..."

"Yuichi Uchiha."

Aku mendongak tak percaya.

"Kali ini, aku memaksamu."

"Ta-tapi, dia...dia yang membuatku ada! Bagaimana mungkin aku membunuhnya!"

"Runa, kau ini memang tak tahu terima kasih," Rei menghela nafas. "Kau pikir aku senang mengurus seorang gadis cengeng yang tiap saat mengadu tanpa maksud?"

"A-apa maksudmu?" Runa memandang Rei yang kini memandangnya bengis.

"Kau ini memang sengaja kuciptakan!"

Mata gadis itu terbelalak. Dipandangnya Rei yang kini menyilangkan kakinya. "Sengaja?" cicitnya dengan suara tertahan.

"Kau diciptakan untuk menjadi seorang pembunuh. Pembunuh bayaran. Kelak kau akan menjadi seorang pembunuh bayaran yang menjadi ladang uangku."

Runa tersentak. Ia berdiri, berjalan mundur. Otaknya memberi isyarat kabur, dan kakinya melangkah mundur. Saat ia berjalan tubuhnya kaku. Semua anggota tubuhnya tak bisa digerakkan.

Ada apa dengan tubuhku, batin Runa dengan wajah kaget. Seluruh tubuhnya tak bisa digerakkan.

"Aku sudah memasang segel untukmu. Kau tak akan bisa lari dariku. Selama aku hidup, kau tak akan bisa kabur dariku. Saat kau mulai berniat untuk kabur dariku, maka segel itu otomatis membuat seluruh tubuhmu tak bisa digerakkan. Kau tak bisa memerangkapku dalam genjutsumu semua cara yang kau lakukan tidak akan ada gunanya padaku."

"S-sejak k-kapan kau memasangnya?" Runa memandang pria itu dengan wajah geram. Ia hanya bisa bicara dan berkedip, tapi tubuhnya tak bisa digerakkan sama sekali.

"Sejak kau lahir."


Jangan gebuk saya! Saya mohon jangan gebuk saya kalau cerita ini ngaco, saya pasrah. Mentok ide sampe situ. Kalau lebay atau apapunlah, mbuh! Minta review nya aja, asal jangan di flame, saya ogah sama flame. Gampang emosi *jiah ketauan emosian*

Akhir kata, terima kasih sudah membacanya. ^^

Baiklah, saya butuh semangat ceman-ceman. Tolong dukung saya terus agar terus melanjutkan fic abal ini. Makasih sudah baca. Review pelis ^^