Hikari: Om kishi Sasuke kasih ke aku aja ya, plis.. plis.. plisss…*Puppy eyes*

Kishimoto: siapa ya? Ngak kenal tuh.

Hikari: *sweatdroped

Rate: T (17) ahem..

Pairing: Sasuhina sligh *….

Gendre: romance/general

Warning: AU, OOC, Typo dan kawan-kawan, gaje, dll, dkk, etc. DON'T LIKE? DON'T READ! Sudah saya peringatin.

Happy reading^^

.

Young Lady~

Namanya Uchiha Sasuke, siswa Konoha-gakuen yang terkenal suka ikut dalam perkelahian antar siswa dan yang paling sering menimbulkan korban. Dan disuatu hari itu, untuk pertama kalinya kami bertemu dimana aku terjebak ke dalam dunianya yang menyeramkan dan sulit di mengerti.

Di waktu itu, pukul 05.30 p.m, di pertengahan musim dingin, suhu udara yang mencapai -5 derajat serta hujan salju membuat seluruh tubuhku kedinginan sampai ke tulang rusuk. Dengan hanya berbekal mantel tebal, syal pemberian ibu beberapa tahun silam dan payung tua berwarna biru tua, aku melangkah melewati jalanan sempit menuju apartemen tempatku tinggal.

Bukannya sok berani, namun hanya jalanan yang sedikit becek dan berbau aneh inilah satu-satunya jalanku untuk mencapai tempatku tinggal. Mengabaikan suasana hening yang hanya terisi oleh teriakan burung gagak yang menandakan senja mulai berganti malam, aku terus memaksakan kaki yang dilapisi sepatu bootku untuk berpijak secepat yang aku bisa.

Hingga suara keributan yang entah datang dari mana membuatku mulai panik. Tidak hanya disitu, ternyata dari arah berlawanan juga terdengar suara keributan yang akhirnya membuatku benar-benar panik. Sadar jika aku berada di posisi berbahaya, aku hanya bisa berdiri menyudut sambil menggenggam erat tangkai payungku.

Tak seberapa lama, suara teriakan orang-orang yang masih berseragam sekolah itu kian mendekat dengan membawa senjata balok kayu dan sebagainya.

"Kyaa…." Tak dapat berbuat banyak, aku hanya bisa berteriak sekeras yang kubisa sambil berlutut dan menutup kepalaku dengan kedua tangan saat kedua kubu saling baku hantam tanpa ampun tepat didepan mataku. Seumur hidupku, ini kali pertama aku menyaksikan secara langsung perkelahian sebenarnya. Bahkan payung yang tadi kubawa telah rusak akibat terinjak-injak oleh mereka.

Lelehan air mata membuat penglihatanku agak buram, teriakanku bahkan terdengar seperti dengungan saat mereka mengeluarkan suara yang jauh lebih keras ditambah dengan suara benturan senjata yang mereka gunakan. Seolah itu mimpi buruk, salah seorang dari mereka tiba-tiba memandang tidak suka kearahku dan mengarahkan balok kayu yang dibawanya.

"Kau pasti salah satu orangnya Sasuke, heh.. habislah kau!"

Lensa lavenderku perlahan semakin mengecil saat benda berat itu semakin mendekat mengayun kearahku.

~buk,

~Normal POV~

.

"Khe, tidak berguna."

Hinata mematung ditempatnya, tanpa bisa berkata apa-apa. Bibirnya terkunci dengan rapat bahkan saat orang yang hendak memukulnya tanpa sebab tiba-tiba menegang dan tersungkur dibawah kakinya dengan posisi membungkuk dan menunjukkan ekspresi kesakitan. 'Tuhan masih menyayangiku,' batinnya bersyukur lalu pandangannya beralih pada seseorang bertubuh jangkung yang berdiri dengan kaki kanan yang masih berada di udara dan kedua tangan yang ia selipkan didalam saku celanya.

Sepertinya orang itu yang sudah menolongnya tadi, masih di suasana tawuran yang mulai tak seimbang, Hinata menunduk dengan sesegukan kecil yang keluar dari pita suaranya. Laki-laki dengan gaya rambut emo itu menundukkan tubuhnya sejajar dengan Hinata, memiringkan kepalanya hendak menemukan wajah gadis yang menangis di tengah perkelahian antar kelompok tanpa perduli sekitarnya.

"Kau bodoh," ujarnya datar. Hinata memalingkan wajahnya, ekspresinya menegang saat seseorang dari belakang hendak memukul laki-laki yang kita tahu adalah Sasuke menggunakan batu besar.

"A_"

Sebelum Hinata menyelesaikan kalimatnya, dengan cepat Sasuke sudah memutar kakinya seolah melayang dan menendang kaki orang yang sudah babak belur itu hingga membuatnya terjatuh dengan benturan keras. "Bereskan mereka," ujar Sasuke dengan tatapan tajam dan datar, dan tanpa perlu diperintah dua kali seluruh gerombolan yang tadinya ramai kian menghilang saat mereka semua mengejar sisa musuh yang masih mampu berlari.

Pandangan Sasuke kembali pada gadis yang menatapnya diam tanpa berkedip, di terpa cahaya merah kejinggaan musim dingin, Sasuke menemukan sepasang bola mata obsidian yang sewarna dengan bunga lavender. Mata itu..

Sasuke masih sangat ingat dengan tatapan polos dan sendu yang selalu ditunjukkan gadis kecil yang pernah membuatnya merasa kehilangan untuk yang kesekian kalinya. Dan tatapan itu, juga ada pada gadis ini, mata yang sama, ekspresi yang sama.

"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Sasuke, tangan kanannya menekan lembut lengan kiri Hinata yang tampak bingung bercampur takut. Dengan tatapan penuh tanda tanya, mata onyx itu terus berkeliaran disekitar wajah gadis mungil yang semakin merapatkan dirinya kedinding.

"K-kau ini siapa?" ujar Hinata dengan suara bergetar ketakutan.

Mata berkaca-kaca yang ditunjukkan Hinata menyebabkan tekanan pada lengannya sedikit-demi sedikit mulai mengendur hingga Sasuke benar-benar melepaskan pegangannya. Kemudian Sasuke menjatuhkan duduknya, mengubah posisinya dengan duduk melipat sebelah kakinya disebelah Hinata yang masih tidak memahami situasi saat ini.

Hening,

Bibir Hinata mulai membiru akibat kedinginan, diam-diam gadis itu mencuri pandang dengan menolehkan kepalanya kearah Sasuke yang mendadak diam mirip patung. "Kau Hinata," Hinata nyaris terlonjak dari duduknya, "aku benar kan?" tambah Sasuke.

"Eh, kau.. mengenalku?" Hinata tanpa sadar terpesona saat menatap wajah Sasuke yang sekarang terlihat lebih jelas saat pria berseragam acak-acakan itu menyibakkan poni yang menutupi sebagian keningnya. Kulit pucatnya tampak bersih tanpa setitik noda dan jerawat, rahangnya tampak kokoh dengan bibir tipis dan merah alami, belum lagi hidungnya yang seolah diukir oleh tangan Tuhan. Sobekan ringan di ujung bibirnya justru menambah ketampanannya yang terlihat sempurna.

'keren..' batin Hinata berteriak.

"Bukan mengenalmu," tatapan tajam Sasuke membuat Hinata terpaku sambil merona, bahkan gadis polos itu tidak sadar saat laki-laki bermarga Uchiha ini mendekatkan wajahnya "Aku…" tangan Sasuke terulur menyentuh dagu milik Hinata, "terikat denganmu." Setelah itu sebuah kecupan ringan di bibir kebiruan Hinata membuat setengah dari kesadaran Hinata mulai menghilang dan ia sukses jatuh pingsan saat sadar ciuman pertamanya direbut oleh seseorang yang baru ditemuinya, atau mungkin yang bisa ia ingat.

….

….

….

Namanya Uchiha Sasuke, pengusaha muda di Tokyo yang memegang prestasi sebagai salah satu eksekutif tersukses yang memiliki saham hampir di seluruh distrik perusahaan di Jepang dan bahkan merambah hingga luar negeri. Jangan tanya kenapa seseorang yang dulunya menyandang gelar 'berandal' bisa menjadi salah satu orang tersukses saat ini, cukup dengan harta keluarganya, dan sedikit menggunakan kejeniusan yang dimilikinya, ia mampu berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain. Bagi kebanyakan orang, Sasuke adalah sosok pria sempurna yang memiliki segalanya.

Tapi bagiku, dia adalah iblis yang patut untuk dijauhi. Benar, Uchiha Sasuke itu adalah iblis, iblis yang menggunakan topeng malaikatnya untuk menarik perhatian orang lain. Yang apabila kau tengah berurusan dengannya, maka jangan harap kau akan lepas dari jeratannya. Dan kau 'mungkin' akan mengalam hal yang sama sepertiku, ya aku… telah masuk dalam selimut kehidupannya.

Seingatku, dia hanya bocah SMU manja yang selalu membuat masalah dengan tawuran antar geng. Dia yang selalu datang ke tempatku kerja dan membuat seisi café heboh karena kedatangannya yang sering disambut bak pangeran berkuda putih. Dan diantara semua ingatan itu, tak ada satupun ingatan akan masa kecilku bersamanya.

"Kau tak pernah mau mengingatku." Ia selalu mengucapkan kalimat datar itu setiap kali aku bertanya kenapa ia datang. Ia jarang berbicara, namun aku selalu tak bergutik tiap kali ia mulai bertindak. Ia terlahir sebagai pria kaya, tampan, genius dan bisa mendapatkan apapun yang di inginkannya. Bahkan ia bisa mendapatkan gadis-gadis muda yang jauh lebih baik dariku, tapi aku tetap tak mengerti kenapa ia selalu menginginkanku dengan berbagai cara yang sulit dibayangkan.

"Kau sedang apa?"

Hinata buru-buru menutup buku bersampul tebal berwarna coklat tua dengan tulisan 'My Dearest Diary' di depan mejanya saat melihat sosok Sasuke melongok dari arah kamar mandinya dengan hanya menggunakan handuk yang melilit disekita perutnya dan mengulum sikat gigi miliknya. Sesegera mungkin gadis indigo itu memutar tubuhnya melihat keadaan Sasuke saat ini.

"S-Sasuke~, k-ka-kau tidak so-sopan!" pekik Hinata dengan pipi super merah.

"Aku? Memangnya apa salahku?" tanya Sasuke pura-pura polos, ia tak lagi mengulum sikat gigi milik 'kekasihnya' yang sudah ia geletakkan begitu saja.

"C-cepat pakai pakaianmu!" perintah Hinata terburu-buru.

"Apa? Tadi kau bilang apa?" ujar Sasuke lagi, Hinata dapat merasakan jantungnya berdetak tak karuan saat mendengar langkah ringan Sasuke yang kian mendekatinya. "Hei, kenapa kau diam?" suara serak Sasuke terdengar lagi seolah tengah menggoda si gadis pemalu.

"Hi na ta~" Hinata menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya saat mendengar Sasuke memanggil namanya dengan nada menggoda.

"AAA… AKU TIDAK DENGAR~ LALALA…" Hinata bernyanyi tak jelas pura-pura tak mendengar tiap kata yang diucapkan Sasuke barusan. Selang beberapa detik, sepasang lengan kekar melingkari bahu Hinata, dapat gadis itu rasakan dada telanjang Sasuke yang menempel pada punggung berlapis sweater cream miliknya.

"S-Sa_"

"Jika kau tak bisa mendengarnya, kau bisa merasakannya." Ujar Sasuke lembut dan pelan seolah tengah berbisik di depat telinga gadis yang kini tengah merona. Hinata dapat merasakan nafas hangat milik Sasuke disekitar tengkuknya karena kini Sasuke tengah menyandarkan dagunya pada bahu gadis itu serta suara detak jantung milik Sasuke yang terasa menenangkan.

Inilah yang membuat Hinata begitu tak bergutik. Sasuke tipikal orang yang tak banyak berbicara, namun setiap tidakan yang ia lakukan dapat membuat Hinata seperti kucing kecil yang penurut.

Hinata memaksakan diri membuka kelopak matanya yang terasa berat saat pantulan cahaya matahari menyeruak masuk melalui celah jendela yang tirainya telah terbuka sebelumnya. Suara kicauan burung diluar sana menjadi penyemangat Hinata untuk memulai paginya hari ini.

Memorinya mendadak kembali memutar kejadian semalam, sontak pipinya kembali merona. Oke, kalian jangan berfikir hal-hal yang negative terlebih dulu. Kejadian semalam sama sekali tidak ada hubungannya dengan sesuatu ber-rateM, Sasuke memang suka seenaknya menginap diapartemen Hinata, namun mereka tidak tidur dalam satu kamar. Baiklah, mereka memang satu kamar, tapi mereka tidak tidur dalam satu ranjang.

Setelah mengenakan sandal tidur berbentuk rubah lucu, gadis indigo itu melangkah menuju kalender yang tertempel di dekat meja riasnya. Disana tertempel sebuah memo kecil dengan tulisan khas anak laki-laki yang Hinata yakin hasil tangan Sasuke.

"Aku meeting, ada pria tua licik yang harus ku urus. Nanti kutelfon.

Ps: temui Obito, dia tau apa yang sudah kuperintahkan untukmu!

~U. Sasuke~"

Hanya pesan singkat, namun mampu membuat putri lavender yang baru membuka matanya tersenyum tipis. Hinata tidak tahu kapan pertama kalinya mereka berpacaran, bahkan seingatnya Sasuke tak pernah sekalipun menyatakan cinta padanya atau memintanya untuk menjadi kekasihnya. Hanya saja cara Sasuke memperlakukan Hinata yang jauh berbeda dengan gadis-gadis pada umunya yang menjadi pembeda bagi hubungan mereka. Ya, hanya Hinata yang pernah mengecap manis bibir Sasuke, hanya Hinata yang pernah mendapat sentuhan lembut Sasuke, hanya Hinata yang diperlakukan secara protektive oleh Sasuke dan hanya Hinata lah yang sanggup membuat Sasuke kuat namun lemah pada saat yang sama.

Kuat dalam menghadapi masalah hidupnya dan lemah akan diri Hinata yang selalu ia butuhkan seolah Sasuke candu akan keberadaan gadis pemalu ini.

Dilain hal, Hinata merasa Sasuke adalah sosok pria aneh yang tanpa ia sadari telah lama mengisi ruang kosong di hatinya. Terkadang Hinata merasa sedih dan menyesal mengapa ia tak dapat mengingat masa lalunya saat masih berada di panti asuhan dulu.

Sekeras apapun Hinata berusaha mengingatnya, namun secuil memory yang tersimpan diotaknya, tak ada satupun yang dapat ia ingat. Ia ingat saat ia berada di panti asuha dulu, ia ingat teman-temannya yang lain, ia ingat saat seorang wanita berambut hitam bermata merah bersama suaminya yang datang dan ingin mengadopsinya, namun ia tidak ingat seorang bocah bernama Uchiha Sasuke diantara ingatan lainnya saat itu.

Mengulurkan tangannya menyentuh memo tersebut, Hinata memejamkan matanya, menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. "Aku janji… aku pasti akan mengingatmu!" ujarnya berbisik menatap sendu tulisan yang ada didepannya.

….

;;;;

;;;;

;;;;;

;;;

"Halo, ah.. Obito-san? Baik, aku akan segera kesana.."

Hinata melangkahkan kakinya menuju stasiun untuk segera menemui Obito sesuai perintah Sasuke pada memo yang ia tinggalkan, dalam perjalanan singkat itu Hinata sisa menyebrangi zebracross yang akan membawanya pada tempat tujuannya.

Setelah lampu berubah hijau tanda pejalan kaki, pada langkah keempatnya Hinata dikejutkan oleh sebuah sepeda motor yang dikendarai oleh seseorang yang wajahnya tertutupi helm besar.

Ckiitt….

Bukan hanya Hinata, beberapa pejalan kaki yang bersamanya juga ikut terkejut akibat ulah si pengendara yang terkesan ugal-ugalan. Merasa kesal, Hinata meluapkan kemarahannya dengan menghampiri si pengendara motor besar berwarna merah maroon itu.

"Apa anda tidak bisa berkendara dengan lebih baik? Anda tidak lihat tanda disana? Ada banya orang di sini, anda bisa melukai seseorang nantinya?" ujar Hinata berusaha tegas.

Si pengendara tak menjawab, ia hanya bergerak untuk membuka helmnya dan menampakkan wajahnya yang terlihat merasa bersalah. Keadaan mendadak hening, semua orang tampak terpesona melihat si pengendara yang ternyata seorang wanita.

Helaian rambut berwarna pink muda sebahu tergerai saat helm yang dikenakannya terbuka sepenuhnya. Mata emerland si pengendara wanita itu tampak begitu indah.

"Maaf, aku sungguh-sungguh minta maaf. Tadi itu memang salahku!" ujar sang pengendara sopan.

"S-Sakura-chan?" ujar Hinata terpesona.

"Eh, Kau ini… Hinata-senpai?"

"Ahaha… senpai sama sekali tidak berubah, tetap seperti saat terakhir kita bertemu." Suasana sejuk musim semi terasa menghangat saat Hinata dan Sakura menikmati pertemuan tiba-tiba mereka dengan menghabiskan waktu menikmati secangkir teh jahe di café kecil.

"B-benarkah? Sakura-chan sendiri s-sangat jauh be-berbeda dengan dulu.." Hinata setengah tertunduk dengan pipi merona sambil memainkan kedua telunjuknya.

"Hmm, kalau seperti ini tidak akan ada yang tahu jika usia Hinata-senpai itu sudah 24 tahun." goda Sakura dengan senyum di bibirnya. "ne, apa Hinata-senpai sudah memiliki kekasih?" tambah Sakura semakin menggoda sang gadis pemalu.

"S-Sakura-chan…" pipi Hinata kian merona saat bayangan wajah dingin Sasuke terlintas dibenaknya.

"Ah, jadi dugaanku benar? Siapa, siapa?" tanya Sakura penasaran. Saat Hinata akan membuka mulutnya dering ponselnya tiba-tiba berbunyi. Seletalh mengecek ponselnya, Hinata segera memekik keras.

"Ah, aku lupa!" ucap Hinata bangkit dari duduknya.

"Ada apa senpai?" tanya Sakura ikut panik.

"T-tidak ada, aku hanya lupa jika aku punya janji d-dengan orang lain.. aku harus segera pergi, oh ya, terima kasih tehnya.." ujar Hinata sedikit membungkukkan badannya dan buru-buru berlari. Sakura hanya menatap kepergian gadis yang pernah menjadi seniornya saat masih di Highschool dulu.

Sakura terdiam, senyum yang sejak tadi ia pajang bersama Hinata perlahan memudar. Meraih cangkir yang tadi di gunakan Hinata, ia menghirup aroma jahe yang sudah tak hangat lagi, menyesapnya sedikit kemudian ia kembali meletakkan cangkir ditangannya tadi.

"Terima kasih? Heh, kita lihat apa kau juga akan mengatakannya nanti." Gumam Sakura dengan seringai di bibir mungilnya.

;;;;

;;;

;;;;

;;;

;;;;

Hinata berhenti saat ia sampai di sebuah gerbang raksasa yang jadi penghubung mansion Uchiha, sambil terengah-engah setelah tadi ia sempat berlari gadis itu membungkuk sambil memegang dadanya untuk menormalkan detak jantungnya.

"Nona.."

Hinata mendongak saat mendapati sosok Obito telah berdiri di hadapannya dengan ekspresi datar. Buru-bur gadis itu menegakkan tubuhnya dan meminta maaf pada Obito atas keterlambatannya.

"Sungguh, saya sangat menyesal. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi!" ucap Hinata sungguh-sungguh. Obito tak merespon, dia hanya memberi isyarat dengan mengangguk kecil.

"Tuan sudah menunggu anda sejak tadi."

"A-apa? Dia sudah d-datang?" bisik Hinata dengan suara pelan.

"Hn." Hinata memiringkan tubuhnya, mengintip kebelakang Obito dan mendapati Sasuke berdiri melipat tangan dengan ekspresi yang,

"M-menakutkan.." gumam Hinata mendapati tampang Sasuke yang terlihat tak bersahabat.

"Ponselmu tak dapat kuhubungin."

"Be-benarkah?" tanya Hinata mengecek ponsel putih miliknya, "Ah, ternyata baterai-nya habis." Tambahnya saat melihat layar ponselnya yang mati. Sasuke menghela nafas, ia menyuruh Obito untuk pergi dan membawa Hinata pergi bersamanya.

"K-kenapa?" ujar Hinata berontak saat Obito akan membawanya, "berhentilah m-mengaturku." Tambahnya dengan ekspresi kesal. Sasuke berbalik, menatap tajam Hinata yang kian menciut saat mendapati mata kelam Sasuke yang seolah akan menelannya.

"K-kau selalu saja seenaknya." Hati Hinata berteriak ingin berhenti, namun bibirnya terus mengeluarkan kalimat yang ada dipikirannya. "kau tak pe-pernah memikirkan perasaanku, kau s-selalu memerintahku ini dan itu.. k-kau pikir aku ini a-apa? Bonekamu?"

"Jika kau memang tidak suka, pergilah!" ujar Sasuke dingin dan datar.

Otak Hinata serasa membeku, bibirnya terkunci rapat seolah ada lem kuat yang menahannya. Dadanya serasa sesak saat Sasuke meninggalkannya begitu saja tanpa menoleh sedikitpun, kurang dari 10 detik wajah Hinata sudah basah oleh air mata.

"Hiks…" isakan kecil keluar dari bibir Hinata, sudah lebih dari 30 menit ia seperti ini. Matanya telah sembab dan memerah, bahkan gadis indigo itu belum meninggalkan mansion dan memilih duduk berjongkok pinggir gerbang mansion. Wajah memerahnya ia sembunyikan dibalik lipatan tangannya yang juga sudah basah.

"Nona, sebaiknya anda pulang dulu… mungkin Sasuke-sama sedang ada masalah, jadi ia perlu menenangkan diri." Kata Obito, ia kasihan melihat keadaan Hinata yang terlihat menyedihkan saat ini.

"Hiks…" Hinata tetap tidak mau, ia tidak perduli jika kakinya saat ini terasa pegal karena terlalu lama berjongkok. "Sa-suke b-bodoh, hiks.. Sasuke sudah membuangku." Ujar Hinata sarkatis.

"Sasuke-sama tidak bermaksud begitu,"

"Huh?"

"Hn, Sasuke-sama tidak membuang anda." Ujar Obito dengan senyum tipis, "Sebenarnya saya tidak boleh mengatakan ini, tapi tadi Sasuke-sama sangat menghawatirkan anda saat ponsel anda tidak dapat dihubungi."

"Be-benarkah?"

"Hm.. lagi pula sebenarnya tadi Sasuke-sama berencana untuk membuatkan kejutan untuk anda."

"Ke-kejutan?" tanya Hinata penasaran, kini ia tak lagi menangis dan hanya ada suara sesegukan kecil.

"Itu benar, Sasuke-sama bukan orang yang mudah menunjukkan rasa simpatinya pada seseorang dengan mudah. Jadi mohon anda memahami sifatnya." Pinta Obito sopan. Hinata mengangguk sekali, ia buru-buru berdiri dan meringis saat merasakan nyeri di kedua betisnya setelah terlalu lama berjongkok.

"Apa anda baik-baik saja?" tanya Obito khawatir.

"Ti-tidak apa-apa. S-sekarang di mana Sasuke?" ujar Hinata menolak halus bantuan Obito.

"Saya rasa beliau ada di ruang kerjanya." Hinata mengangguk mengerti lalu berlari memasuki mansion, tapi sebelum Obito hendak berbalik Hinata sudah kembali lagi dan memberikan satu pelukan pada Obito.

"Arigatou, Obito-san." Ujar Hinata tulus, Obito membalas senyum Hinata. Entah mengapa dia jadi mengingat adiknya saat melihat wajah manis Hinata yang selalu berbuat baik dan sopan padanya.

"Sama-sama, Nona."

"Sasuke!" Hinata menggebrak pintu ruang kerja Sasuke, ekspresinya berubah cerah saat mendapati Sasuke berdiri di dekat jendela membelakanginya. Perlahan ia masuk kedalam ruangan bernuansa classic itu mendekati Sasuke.

"Kau belum pergi rupanya?" tanya Sasuke dingin.

"Aku…" Hinata menunduk, "Maaf.." kali ini Hinata berdiri disebelah Sasuke, tangannya terulur menyentuh kaca jendela yang memperlihatkan pemandangan sore hari. "aku mengaku salah."

"Baguslah."

"Tapi aku kan_" Hinata tak jadi melanjutkan kalimatnya saat onyx Sasuke menatapnya, bukan tatapan tajam, hanya tatapan ingin tahu yang berubah melembut.

"Tetaplah seperti ini." Ucap Sasuke menyentuh pipi merona Hinata, lalu Hinata mendekat dan memeluk Sasuke seerat yang ia mampu. menyembunyikan wajah memerahnya di dada hangat yang selalu terbuka untuknya.

"Oh iya, sebaiknya jangan kau ulangi lagi. Mengerti!"

"U-ulangi apa?" tanya Hinata tak mengerti.

"Memeluk orang sembarangan. Jangan sampai gara-gara kau aku harus memecat pelayan terbaikku." Goda Sasuke lagi.

"Apa? S-sasuke, -kau ini…" pekik Hinata merengut.

Untuk pertama kalinya, Hinata dapat melihat Sasuke tertawa. Meski tawa yang ia miliki tak seheboh teman-temannya yang lain, namun hanya suara tawa sunyi milik Sasuke yang dapat membuat hatinya meleleh seperti sekarang.

"O-oh ya, tadi Obito-san bilang k-kau akan memberiku ke-kejutan.. –kejutan apa i-itu?" tanya Hinata malu-malu. Mendadak ekspresi Sasuke berubah menegang dengan rona tipis di wajahnya. Hei, tunggu dulu, apa Hinata tidak salah lihat? Sasuke sedang blushing?

"S-Sasuke…"

Sasuke menggaruk pipi kanannya, "I-itu…" dan bahkan ia juga gagap? Apa karena terlalu sering bersama Hinata, Sasuke jadi ketularan kebiasaannya juga?

;;;;

;;;

;;;;;

;;;;;

~YOU~

TBC*

Peace^^V *dilempar bakiak*

Muahahaha….*ketawa nista, saya telat update*plak.

Kyaa, Sasupyon blushing!*teriak-teriak heboh. Hayo… yang bisa nebak dengan tepat alasan kenapa Sasuke bisa ber-blushing ria gitu bakal author buatin fic spesial deh! \^_^ /

Iyap, Sakura muncul sebagai antagonis…

Sakura: bilang aja deh kalo lo ngak suka sama gue!*inner berapi-api.

Author: b-bukan begitu, Sakura-chan ngak selamanya jahat kok *masang muka innocent.

Sakura: bener ya, awas kalo enggak gue shanarro mampus lo.

Author: *nelen ludah

Right, apa ceritanya masih kurang jelas? Kalo boleh dibilang, jalan cerita fic ini belum sepenuhnya terungkap*?* nanti bakal ada penjelasan kok kenapa Hinata ngak bisa inget sama Sasuke, dan masalah Hyuuga…

*author bingung, mungkin masih jauh kali yak? *plakplakplak*

Akhir kata review plis^^

Salam HikarikawaiiChan~

Bow#